Kamis, 15 Oktober 2015

Gerak-Diam; Renungan Pergantian Tahun

13 Oktober 2015 seiring tenggelamnya mentari yang menyebabkan meronanya wajah langit, umat Islam menyambut datangnya Tahun Baru Islam dengan berbagai cara yang tak lepas dari nuansa ke-Islam-an seperti pengajian, muhasabah, berdoa bersama. Sebagai sebuah penanda waktu, pergantian tahun memiliki manfaat yang sangat penting bagi manusia yakni menjaga kesadarannya akan waktu. Hilang kesadaran terhadap waktu menjadikan manusia hanyut dalam arus kehidupan hingga tiba-tiba ia mendapati waktunya di alam dunia telah berakhir tanpa sebelumnya memumpuk amal shalih apalagi merintis perjuangan. Selain manfaat eksistensialnya, penanda waktu pergantian tahun memiliki manfaat praktis memudahkan manusia menjalani kehidupannya dan mengatur berbagai urusannya serta manfaat ilmu pengetahuan yang memungkinkan lahirnya beragam bangunan ilmu terkait dengan bahasan waktu.

Manusia telah sejak lama –mungkin sejak Nabi Adam berada di muka bumi- membuat penanda-penanda waktu dengan berbagai pendekatan dan dasar penetapan. Hampir setiap peradaban dan keyakinan memiliki dasar yang berbeda-beda dalam menetapkan penanda waktu. Contoh saja dalam bilangan harian, umat Islam menetapkan penanda waktu berdasarkan waktu shalat sehingga seluruh geraknya sepanjang hari mengacu pada waktu shalat. Penetapan penanda waktu harian berdasarkan waktu shalat tidak saja bertujuan untuk mengatur berbagai urusan umat Islam sepanjang hari, tapi yang terpenting menjaga kesadaran umat Islam terhadap statusnya sebagai hamba ALLAH dan tujuan hidupnya untuk semata beribadah kepada ALLAH.

Jika dahulu umat Islam menjadikan waktu shalat sebagai penanda waktu harian, kini di masa kehidupan modern banyak kalangan umat Islam menetapkan penanda waktu berdasarkan aktivitasnya bekerja yakni mulai bekerja-jam istirahat-selesai bekerja atau masuk kantor-istirahat jam kantor-pulang kantor. Perubahan penanda waktu mempengaruhi kesadaran subjek terhadap waktu yang perlahan akan merubah pandangannya tentang waktu bahwa waktu adalah kerja, waktu adalah uang, waktu adalah keuntungan materi. Kesadaran demikian memunculkan amal mendahulukan kerja daripada ibadah yang seringkali tampak dari menunda waktu shalat bahkan meninggalkan shalat demi urusan kerja, uang dan keuntungan materi. Lamban laun kesadaran terhadap statusnya sebagai hamba ALLAH beralih pada kesadaran statusnya sebagai manusia pekerja. Lalu apa yang menyebabkan terjadinya perubahan penanda waktu? Persoalan tersebut sangat kompleks untuk dibahas dalam tulisan singkat ini sebab melibatkan begitu banyak faktor dan lagipula di luar pokok bahasan tulisan ini.

Selain dalam bilangan hari, setiap peradaban dan keyakinan memiliki penanda waktu yang berbeda dalam bilangan tahun terkait dengan dasar penetapan awal tahun. Penanggalan Islam menjadikan peristiwa hijrah Rasul Muhammad shalallahu alaihi wa sallam dari tanah Mekah ke Madinah sebagai penanda waktu awal tahunnya. Penetapan penanda waktu awal tahun Penanggalan Islam bukanlah tanpa hikmah yang mendalam, bukanlah atas dasar suka-suka apalagi ketidak-sengajaan. Mengapa hijrah yang merupakan peristiwa penuh kepayahan dijadikan acuan penanda waktu tahunan? Mengapa bukan kelahiran Rasul Muhammad yang merupakan kelahiran manusia terbaik, penutup dan penghulu kenabian? Atau mengapa bukan peristiwa turunnya wahyu pertama yang diterima Rasul Muhammad yang merupakan penanda tugas kenabian? Atau mengapa bukan peristiwa Fathu Makkah yang merupakan puncak kemenangan dakwah Rasul Muhammad?

Hijrah secara bahasa berarti perpindahan. Perpindahan mensyaratkan gerak. Tak disebut perpindahan jika tanpa adanya gerak. Oleh kebanyakan manusia gerak dipahami sekedar perpindahan secara fisik dari suatu tempat ke tempat lain. Gerak secara takrif harfiahnya memang perpindahan yang sifatnya fisik-materi sebagaimana hijrah yang dilakukan oleh Rasul Muhammad shallahu alaihi wa sallam. Tak sesempit makna harfiahnya, gerak jika dipahami secara kiasan akan mencakup pula perpindahan yang sifatnya non-fisik-immateri seperti perpindahan dari bodoh menjadi berilmu. Kalaulah direnungkan, berangkat dari makna gerak secara kiasan, pada hakikatnya Islam adalah hijrah hingga dicapainya keselamatan.

Penanda waktu Tahun Baru Islam berdasarkan gerak hijrah Rasul Muhammad shalallahu alaihi wa sallam mengajarkan umat Islam kesadaran akan gerak. Manusia menurut Islam tidak saja memiliki dimensi fisikal lahiriyah, tapi juga non-fisikal ruhaniyah. Berdasarkan konsep manusianya, gerak dalam Islam tidak hanya mencakup gerak lahiriyah untuk memenuhi perannya sebagai wakil ALLAH di muka bumi seperti memerangi kemaksiatan, mengentaskan kemiskinan, memeratakan kesejahteraan, menegakkan keadilan, memberantas kebodohan, membersihkan pemerintahan, melestarikan lingkungan dan sebagainya. Tapi Islam –sebagimana dicontohkan secara kaffah oleh Rasul Muhammad shalallahu alaihi wa sallam- terlebih dahulu menghendaki dilakukannya gerak ruhaniyah dari ingkar menjadi iman, dari iman menjadi takwa hingga pada puncaknya mencapai derajat ihsan. Gerak keimanan senantiasa beriringan dengan gerak keilmuan sebab dalam Islam syarat bagi iman ialah ilmu. Contoh saja tidak sah syahadat seorang Muslim jika tidak memahami syahadatnya yang berarti mensyaratkan ilmu. Dari sinilah dipahami posisi iman-ilmu yang sangat sentral dalam Islam yang merupakan prasyarat dari gerak lahiriyah.

Rasul Muhammad shalallahu alaihi wa sallam mencontohkan tidak saja gerak horizontal yang disebut hablum min al-naas yang merupakan gerak lahiriyah tapi juga gerak vertikal yang disebut hablum min ALLAH yang merupakan gerak ruhaniyah. Dalam Islam keduanya adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Menghilangkan salah satunya akan memunculkan gerak yang pincang hingga pada akhirnya tersungkur jatuh. Begitulah kita dapati kondisi umat Islam kini yang geraknya terpincang-pincang dan bahkan telah banyak yang jatuh sebab gerak lahiriyah tak didahului gerak ruhaniyah maupun gerak ruhaniyah yang tak melahirkan gerak lahiriyah. Gerak lahiriyah tanpa didasari gerak ruhaniyah akan memunculkan kerusakan yang lebih besar dan tidak ada kerusakan yang lebih besar daripada keingkaran dan kejahilan. Sementara gerak ruhaniyah tanpa diiringi gerak lahiriyah adalah bentuk penolakan terhadap statusnya sebagai wakil ALLAH di muka bumi.

Kesatuan antara gerak ruhaniyah dan gerak lahiriyah adalah perwujudan dari kesatuan status manusia sebagai hamba ALLAH dan wakil ALLAH. Untuk menjadi wakil haruslah terlebih dahulu menjadi hamba dari yang diwakilkannya. Hal ini mengisyaratkan bahwa umat Islam terlebih dahulu harus melakukan gerak ke dalam diri (interior) sebelum melakukan gerak ke luar diri (eksterior). Begitulah hikmah dari rukun Islam yang diawali dengan syahadat yang merupakan gerak ke dalam diri untuk menghijrahkan dirinya. Tanpa syahadat maka amal yang lainnya pun tidak bernilai ibadah. Tidak lain gerak ke dalam diri merupakan pintu masuk sebelum mengemban status sebagai wakil ALLAH. 

Gerak memang penuh kepayahan sebagaimana hijrah yang dilakukan Rasul Muhammad shalallahu alaihi wa sallam. Begitulah hakikat kehidupan manusia di alam dunia yang sekedar lewat sebagai seorang pejalan untuk kembali pulang pastilah penuh dengan kepayahan di sepanjang jalan yang ditempuhnya. Kepayahan yang menghadang dalam gerak horizontalnya untuk memakmurkan bumi dan kepayahan yang menyergap dalam gerak vertikalnya untuk mencapai maqamat demi maqamat hingga tersingkapnya hijab. Gerak mendaki hingga kepayahan tak terelakkan lagi yang akan ALLAH hapuskan dengan tenangnya jiwa, manisnya iman, dan jernihnya pandangan. Hingga nanti ALLAH menghentikan gerak para pejalan dan menyeru, hai jiwa yang tenang kembalilah pulang dan masukkan ke dalam barisan hamba-Ku. 

Layaknya sebuah gerak haruslah diselingi dengan diam sejenak sekedar mengambil nafas sebagaimana gerak hijrah yang dilakukan Rasul Muhammad shalallahu alaihi wa sallam pun mengambil waktu untuk diam beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Sebab gerak tanpa jeda akan memunculkan kelelahan yang teramat sangat, gerak tanpa perhitungan dan kehilangan arah mencapai tujuan, sehingga gerak dan diam adalah kesatuan. Gerak tanpa diam adalah kehancuran dan diam tanpa gerak adalah kematian. Gerak membutuhkan diam begitupula diam merupakan awal dari gerak. Tapi bukan diam yang pasif, diam yang stagnan dan statis. Diam dalam Islam pun adalah diam yang bergerak, diam yang aktif, diam yang produktif-konstruktif yang disebut muhasabah.

Datangnya Tahun Baru Islam disambut dengan diam sejenak oleh umat Islam dalam bentuk muhasabah untuk kembali meneguhkan kesadarannya terhadap waktu, kesadarannya terhadap gerak, kesadarannya terhadap peran dan tujuan hidup. Muhasabah untuk menghayati gerak hijrah Rasul Muhammad, untuk mengevaluasi geraknya selama setahun yang lalu, mengambil pelajaran dan menyiapkan rencana gerak yang matang di tahun yang baru. Kesatuan gerak-diam melahirkan gerak yang khusyuk, gerak yang teratur, gerak yang bermartabat. Itulah mengapa datangnya Tahun Baru Islam tak disambut dengan gegap gempita, pesta pora dan hura-hura yang merupakan penanda dari gerak yang tak beraturan, kacau, dan disorientasi. 

Tak terasa umat Islam telah memasuki tahun ke 1437. Bilangan yang menunjukkan berpisah jarak waktu generasi kini dengan hijrahnya Rasul Muhammad shalallahu alaihi wa sallam. Bilangan yang menunjukkan pula durasi gerak umat Islam dalam upayanya menebarkan rahmat bagi seluruh alam.

Sebagai akhir, selamat menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1437 Hijrah Nabi.

Selamat bermuhasabah untuk bergerak. Sebagaimana disiratkan Muhamad Iqbal dalam Javid Nama bahwa hidup adalah adanya kemauan untuk terus berusaha dan menunjukkan dirinya ada, sedang kematian adalah ketidakmauan untuk maju dan berusaha. Begitulah, gerak adalah hidup.

Allahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Malang pada Muharram 1437 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar