Sabtu, 03 Oktober 2015

Mencari dan Menelusuri Akar; Mulai Menghijaukan Rumput Sendiri

Tulisan ini masih seputar perkara kebersihan sebagai kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Rumput Tetangga Kini Memang Lebih Hijau”. Dalam tulisan ini saya hendak mencari dan menelusuri akar masalah dari tak kunjung terwujudnya lingkungan yang bersih sejauh pengamatan dan pengalaman yang tentu saja tidak dapat digeneralisasi dan diabstrakkan menjadi sebuah ‘kerangka teori’, tapi semoga saja dapat menjadi titik berangkat untuk dikaji kembali secara lebih serius dan mendalam.

Akar pertama, tidak tepatnya solusi yang dirumuskan dan/atau direalisasikan untuk mewujudkan lingkungan yang bersih. Berserakannya sampah di jalanan, taman, dan berbagai ruang lainnya dianggap karena kurangnya fasilitas kebersihan dan pekerja kebersihan. Menapa setelah direalisasikan hingga hari ini tak kunjung terwujud kebersihan yang diharapkan? Saya menduga berdasarkan pengalaman yang lalu, perumusan solusi tersebut hanya didasari anggapan-anggapan semata dan realisasinya lebih kuat didorong kepentingan mengeruk materi dari pengadaan fasilitas dan pekerja kebersihan.

Bisa jadi rumusan solusi tersebut adalah tepat, tapi jika dalam tahap realisasinya berorientasi proyek maka tak akan terwujud kebersihan sebagaimana diidamkan. Bisa jadi pula setelah dilakukan kajian ternyata akar masalahnya bukan pada jumlah fasilitas kebersihan atau jumlah pekerja kebersihan, tapi kemudahan akses menggunakan fasilitas atau desain fasilitas kebersihan yang tidak mudah dilihat dan dipahami fungsinya atau bisa jadi pekerja kebersihan itu sendiri yang kualitasnya harus ditingkatkan lebih cekatan, terampil dan peka. 

Jika yang menjadi akar masalah adalah akses dan desain fasilitas kebersihan, maka menjadi otoritas ahli di bidang desain dan perilaku desain untuk menyelesaikan. Sementara jika yang bermasalah adalah kualitas pekerja kebersihan, maka perlu diadakan pelatihan dan pembinaan. Di sinilah manfaat sebuah studi sehingga identifikasi suatu masalah dan perumusan solusinya tidak berdasarkan perkiraan semata atau berdasar pengalaman segelintir orang yang digeneralisasi apalagi jika diniatkan untuk menumpuk keuntungan. Merumuskan solusi tanpa didasari studi adalah kejahilan, sementara merealisasikan solusi tanpa amanah adalah khianat. 

Akar kedua, tak kunjung terwujudnya lingkungan yang bersih tidak lain disebabkan manusianya itu sendiri sebagai pengguna ruang, pemilik, pengelola dan pengambil kebijakan terkait dengan ruang. Seberapa pun banyaknya fasilitas kebersihan yang disediakan, desain yang direalisasikan dan petugas kebersihan yang disiagakan, jika manusia sebagai pengguna ruang tidak memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan dan pengambil kebijakan ruang tetap berorientasi pada segemercik uang, maka tetap saja sampah akan berserakan hingga kiamat datang. 

Sejauh yang dapat saya pikirkan paling tidak terdapat 4 pangkal masalah terkait dengan manusia sebagai pengguna ruang. Pangkal pertama, ketiadaan rasa memiliki ruang (sense of belonging) yang menumbuhkan anggapan bahwa kebersihan ruang bukanlah urusan dan tanggungjawabnya, terutama ruang-ruang publik yang dianggap milik pemerintah atau suatu lembaga. Urusan tanggungjawab menjaga kebersihan semata dibebankan kepada pemilik atau pengelola ruang. Untuk sekedar mencari tahu tingkat rasa memiliki ruang, beberapa kali saya pernah secara sengaja membuang sampah dalam plastik hitam berukuran sedang di pinggir jalan setapak di taman kota dan lingkungan rumah kos. Saya biarkan selama 1 hingga 2 jam lalu kembali ke tempat yang sama dan hasilnya saya dapati sampah tersebut masih terserak yang berarti tidak ada yang memungut dan membuangnya ke tempat sampah terdekat. Bisa jadi penyebabnya ialah pengguna ruang yang lalu-lalang memang tidak memiliki rasa memiliki ruang. Ia secara sadar melihat dan mengetahui bahwa itu sampah, tapi dibiarkannya saja karena anggapan itu bukan tanggungjawabnya. Atau pada dasarnya memang tidak memiliki kesadaran kebersihan. Ia secara sadar melihatnya tapi dianggapnya bukan sampah dan kalaupun ia mengetahui bahwa yang dilihatnya adalah sampah tapi dianggapnya bukan merupakan masalah. 

Pangkal kedua menyambung bahasan terahir di atas yakni tidak memiliki kesadaran kebersihan. Bagi kalangan ini, bersih dan tidak bersih tidak ada bedanya. Tidur di kasur yang bersih dan rapi lagi harum tidak berbeda dengan tidur di kasur ampek dan kotor. Bersih dan kotor menjadi masalah selera pribadi masing-masing. Kalangan ini memandang kategori bersih dan kotor dalam derajat yang sama, dan pada titik ekstrimnya memandang kategori kotor sebagai superior di atas kategori bersih. Jika bersih secara konseptual telah dijadikan kategori subordinat, dalam realitas empiris keseharian kalangan ini akan cenderung mengotori lingkungan. Harus dipahami pula kalangan ini tidaklah tunggal, tapi hirarkis dari yang hanya mengotori ruang pribadinya hingga yang mengotori ruang publik. 

Pangkal ketiga, berkaitan dengan cara pandang terhadap sampah yang menjadi penyebab utama ketidakbersihan lingkungan yakni ketidaktepatan mengidentifikasi sampah dan bukan sampah. Ketidaktepatan mengidentifikasi sesuatu dapat dilacak dari takrif sesuatu tersebut, dikarenakan takrif yang kabur atau tidak tepat akan berpengaruh terhadap identifikasi yang dilakukan. Menurut KBBI, sampah ditakrifkan dengan barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi dsb; kotoran seperti daun, kertas. Menurut Cambridge Advance Learner’s Dictionary, sampah (garbage) ditakrifkan dengan waste material or unwanted things that you throw away. Antara kedua kamus tersebut tidak memiliki perbedaan asasi dalam mentakrifkan sampah (garbage) yang menekankan pada dua poin, (1) barang tidak dipakai; (2) layak dibuang.

Sekilas takrif sampah (garbage) di atas tidak bermasalah terlebih telah diterima secara umum, tapi jika dicermati akan ditemui kejanggalannya. Jika sampah harus diartikan barang yang tidak lagi dipakai karena tidak lagi berguna sehingga layak untuk dibuang, maka contoh yang dihadirkan KBBI bermasalah sebab kini kertas bekas pun memiliki nilai guna untuk diolah kembali. Memang dalam realitas keseharian akan ditemui kalangan yang menganggap kertas bekas sebagai sampah dan ada pula kalangan yang menganggapnya sebagai berkah. Begitu halnya dengan daun, tak jauh berbeda.

Masyarakat kota kini dan mulai menjalar ke masyarakat desa memandang daun sebagai sampah. Jika menengok setolehan ke masa lalu, para pendahulu kita memandang daun sebagai berkah. Saya masih ingat masa kecil dahulu di Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh, Lumajang melihat mbah memasukkan guguran daun pohon mangga ke lubang tanah kemudian dibiarkan beberapa bulan sebelum dimasukkan bibit pohon ke dalamnya. Siklus hidup daun sebagai sunnatullah untuk menjamin keberlangsungan alam dan manusia tidak lebih hanya berperan sebagai pembantu dan penjaga siklus tersebut. 

Dipandangnya daun sebagai sampah memutus siklus alam yang telah ditetapkan ALLAH. Daun yang berguguran disapu kemudian dimasukkan ke tempat sampah dan berakhir di timbunan sampah lainnya atau dibakar. Bahkan daun sebelum gugur pun telah dipisahkan dari dahan sebelum mengotori lingkungan. Daun yang gugurnya untuk menyuburkan tanah, tak lagi berakhir di tanah. Di sisi yang bersebelahan, bagi kalangan yang telah dijabarkan pada pangkal kedua di atas, guguran daun yang dipandang sebagai sampah mendorongnya untuk membuang sampah jenis lain di ruang yang sama. Jadi tidak perlu heran jika didapati guguran daun berbaur dengan berbagai jenis sampah dari plastik, kertas, hingga sisa makanan. Memilukannya saya mendapati fenomena demikian di berbagai sudut taman universitas berlabel Islam yang idealnya beranggapan menjaga kebersihan lingkungan adalah titah dari langit.

Dipandangnya daun sebagai sampah mempengaruhi pula kualitas seseorang dalam menikmati dunia kehidupannya. Memandang daun sebagai sampah secara tak sadar menjarakkan manusia dari alam sekitarnya yang berakibat pengalaman hidup kesehariannya hampir tak melibatkan alam secara intim dan intens. Jiwanya meranggas sementara tak mampu dikenali sebab musababnya karena dinilai tak ada yang salah dengan caranya memandang guguran daun sebagai sampah. Naik gunung, menyelami kedalaman laut atau menikmati untaian bunga dan daun kertas sebagai pelarian membasuh jiwa sebab tak mampu menyerap keanggunan alam yang sangat dekat dengan kehidupan kesehariannya. 

Guguran daun adalah seni Ilahi teruntuk para hamba menemukan Diri-Nya. Indahnya daun yang berpisah dari dahan diiringi tiupan angin dan pancaran terik mentari, berlomba mencapai tanah memenuhi kehendak-Nya. Warnanya yang kuning menuju merah tak mampu disamai oleh pelukis kondang manapun. Suara merdunya saat terinjak kaki adalah simfoni yang tak dapat dilampaui seorang maestro sekalipun. Guguran daun tidak saja memiliki nilai guna dan jika diolah dengan benar akan bernilai tukar. Tak kalah penting guguran daun memiliki nilai eksistensial yang berpengaruh langsung terhadap kualitas pengalaman hidup keseharian manusia.

Seorang Muslim selayaknya memandang bentangan alam dalam kacamata keimanan sehingga tak dibiarkannya keberadaan alam tanpa mengkaitkannya dengan Rabb pencipta segala. Dengan cara demikianlah seorang Muslim selayaknya memandang guguran daun. Daun yang berguguran adalah sunnatullah yang pasti terdapat hikmah di baliknya bahwa begitulah ALLAH menghendaki makhluknya selama hidup dan berkehidupan di alam dunia. Hidup dan matinya memberi manfaat sebagaimana daun ketika hidup bermanfaat bagi manusia dan ketika gugur pun bermanfaat bagi tanah yang kelak dirasakan oleh generasi penerus para daun. Nilai tafakkur dan nilai eksistensial menjadi dasar penolakanku terhadap kalangan yang mengidentifikasi guguran daun sebagai sampah.

Takrif sampah (garbage) semakin tak mendapatkan kejelasannya jika melihat berbagai gerakan pecinta lingkungan yang mampu memberi nilai manfaat bagi sesuatu yang dipandang sebagai sampah. Contoh saja kotoran sapi, bagi kalangan tertentu malah diburu. Memang kotoran sapi akan disingkirkan dari jalanan, tapi motif untuk menyingkirkannya bukan karena tak berguna, jorok, bau dan mengotori lingkungan semata, tapi juga untuk mendapatkan nilai kemanfaatannya. Begitu pula dengan jenis sampah lainnya yang hampir-hampir kesemuanya telah ditemukan nilai kemanfaatannya yang tak lagi pas jika harus dikatakan dibuang dan tak lagi berguna. Jika begitu, apakah takrif sampah (garbage) dalam kedua kamus yang saya kutip masih dapat dipertahankan? Ataukah harus dikaji kembali dan dirumuskan ulang? Tampaknya menjadi pertanyaan yang harus dicarikan jawabannya oleh ahli terkait agar tak lagi terjadi salah pandang sebab takrif yang menyesatkan.

Pangkal keempat, pendidikan yang mengajarkan manusia untuk berlepas diri dari tanggungjawab menjaga kebersihan dan menyerahkan tanggungjawab tersebut kepada pihak lain yang dibayar untuk menjaga kebersihan lingkungan seperti PRT, cleaning servis, tukang kebun dsb yang melingkupi pendidikan di lingkungan keluarga, lingkungan sosial maupun institusi pendidikan. Poin ini telah saya singgung pada tulisan yang lalu dan saya merasa tidak perlu untuk mengulangi dan menjabarkannya kembali. Jika dicermati, poin keempat inilah yang menjadi kunci dari masalah ketidak-bersihan lingkungan dan memunculkan berbagai akar dan pangkal masalah sebagaimana dijabarkan di atas. Berarti, menyelesaikan pangkal masalah keempat akan berdampak pada penyelesaian akar dan pangkal masalah lainnya, baik secara langsung maupun tak langsung. 

*****

Dari penjabaran di atas, saya baru mampu mengindentifikasi 2 akar masalah dari tak kunjung terwujudnya lingkungan yang bersih yakni (1) tidak tepatnya perumusan solusi dan atau realisasinya; dan (2) kualitas manusia sebagai pengguna, pemilik, pengelola dan/atau pengambil kebijakan terkait ruang. Antara keduanya tidaklah saling terpisah, saling berdiri sendiri dan saling membelakang, tapi saling membentuk struktur jaring masalah ketidak-bersihan lingkungan. Solusi yang tidak tepat disebabkan identifikasi masalah yang tidak tepat; identifikasi masalah yang tidak tepat disebabkan cara pandang yang tidak tepat; cara pandang yang tidak tepat disebabkan nilai-nilai dan keyakinan yang tidak mendukung terwujudnya lingkungan yang bersih. Dari alur berpikir demikian maka kualitas manusia yang merupakan akar masalah 2 merupakan sebab bagi akar masalah 1.

Untuk memudahkan memahami keseluruhan pola pikir saya dalam tulisan ini, dapat melihat pada diagram berikut:

Sumber: Analisis, 2015

Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa kunci dari berbagai akar ketidak-bersihan lingkungan ialah kerusakan pendidikan. Dengan diperbaikinya pendidikan akan berdampak pada perbaikan akar dan pangkal masalah lainnya. Efek dari perbaikan pendidikan dapat dirasakan dalam jangka pendek yaitu (1) tumbuhnya kesadaran terhadap lingkungan yang mendorong munculnya gerakan kebersihan secara komunal; (2) kualitas petugas kebersihan yang cakap, tanggap dna peka; maupun efek jangka panjang yaitu lahirnya generasi penerus yang sadar akan peran dan tujuannya di muka dunia, baik sebagai pengguna, pengelola, pemilik dan/atau pengambil kebijakan terkait dengan ruang.

Perbaikan pendidikan merupakan prioritas utama, sementara prioritas berikutnya didasarkan pada konteks lingkungan yang dihuni oleh suatu komunitas. Bisa jadi perbaikan pendidikan dibarengi dengan pengadaan dan perbaikan desain fasilitas kebersihan. Tentu penyusunan prioritas tersebut haruslah didasari sebuah kajian yang akurat, begitu pula dengan strategi realisasinya yang harus pula memperhatikan konteks kehidupan masyarakat setempat. 

Setelah mendapati dan menelusuri akar, mari kita mulai menghijaukan rumput sendiri!

Allahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Malang pada Dzulhijjah 1436 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar