Sabtu, 19 November 2016

Seni Islam di Antara Idealitas dan Realitas; Tanggapan Terhadap Abdul Jabbar

Pandangan Muhammad Abdul Jabbar yang saya kutip dan sarikan dalam tulisan ini bersumberkan dari makalah beliau dalam sebuah buku antologi berjudul “Fine Art in Islamic Civilization” yang diterbitkan oleh The University of Malaya Press Kuala Lumpur pada tahun 1981. Buku tersebut telah diterjemah ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Seni Di Dalam Peradaban Islam” yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Bandung pada tahun 1988. Dalam tulisan ini saya menggunakan buku terjemah Bahasa Indonesia di mana makalah yang ditulis oleh Muhammad Abdul Jabbar merupakan makalah pengantar bagi seluruh makalah di dalam buku tersebut dengan judul “Kedudukan Seni Dalam Kebudayaan Islam”, karenanya memuat lingkup bahasan yang paling luas di antara makalah lainnya yang spesifik membahas salah satu jenis seni dalam Seni Islam. 

Sebelum masuk pada substansi bahasan tulisan ini, sekilas akan saya sampaikan profil intelektual Abdul Jabbar. Muhammad Abdul Jabbar lahir pada tahun 1944 dan meraih gelar Doktor dari Fakultas Pengkajian Timur Universitas Cambridge pada tahun 1971 saat berusia 27 tahun. Saat menulis buku yang saya jadikan pegangan dalam tulisan ini, yakni pada usianya yang ke 37 tahun, Abdul Jabbar menjabat sebagai Profesor Madya di Fakultas Pengkajian Islam Universitas Kebangsaan Malaysia. Buku tersebut disusun dan dieditori oleh Abdul Jabbar dengan melibatkan beberapa nama besar di bidang pengkajian Seni Islam sebagai kontributor, di antaranya adalah K.A.C Creswell dan Ismail Raji’ Faruqi, yang menunjukkan keluasan jejaring keilmuan yang dimiliki Abdul Jabbar.

Tulisan ini saya bagi menjadi tigas bagian. Pada bagian pertama memuat pandangan Muhammad Abdul Jabbar mengenai idealitas dan realitas Seni Islam. Fokus tersebut penting untuk ditekankan karena dalam makalah sepanjang 19 halaman yang ditulisnya, Muhammad Abdul Jabbar menyajikan beragam fokus bahasan sebagai pengantar bagi setiap makalah di dalam buku tersebut. Pada bagian kedua memuat tanggapan saya terhadap pandangan Muhammad Abdul Jabbar. Saya berupaya menyampaikan tanggapan yang konstruktif dengan melakukan sintesa antara pandangan saya sendiri dengan pandangan Abdul Jabbar, sehingga tidak meniadakan seluruh pandangan Abdul Jabbar maupun menerima keseluruhnya tanpa sikap kritis. Saya kira inilah sikap yang adil dalam menanggapai suatu pandangan dan pemikiran. Dan bagian ketiga merupakan bagian penutup yang memuat perenungan dan relevansi pandangan Abdul Jabbar dan pandangan saya untuk kebutuhan hidup umat Islam pada masa kini. 

Kamis, 06 Oktober 2016

Wujud-Gagasan Arsitektur Islam Dalam Pendekatan Psiko-Kultural

A. Pengantar

Setelah dalam tulisan terdahulu yang berjudul “Upaya Meretas Jalan Tengah; Pendekatan Psiko-Kultural Dalam Arsitektur Islam” saya memaparkan sekilas dua proposisi yang menjadi sandaran bagi pendekatan Arsitektur Islam yang saya rumuskan, dalam beberapa tulisan mendatang saya akan menjabarkan kedua proposisi tersebut agar pemikiran Arsitektur Islam dengan pendekatan Psiko-Kultural dapat dipahami dengan benar dan jelas sebagaimana saya kehendaki.

Proposisi pertama yakni, Arsitektur Islam sebagai hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim memiliki wujud gagasan-perilaku-artefak yang bersumberkan dari Islam dan merupakan satu kesatuan struktural, didasari dua asumsi yang saling terkait. Asumsi pertama, Arsitektur Islam merupakan hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim, baik dalam lingkup individu maupun komunal. Posisinya sebagai hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim perlu ditekankan agar dapat dipahami perbedaan kedudukan antara Arsitektur Islam dan Islam serta kait hubungan antara keduanya. Yang pertama berkedudukan sebagai hasil cipta budaya manusia Muslim, sedangkan yang kedua berkedudukan sebagai Diin yang diwahyukan Allah kepada Rasul Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Islam sebagai Diin merupakan sumber serta asas bagi penciptaan wujud Arsitektur Islam yang menjadikan Islam memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada Arsitektur Islam. Hubungan demikian menjadikan Arsitektur Islam mutlak membutuhkan Islam untuk dapat hadir karena yang dicipta mutlak membutuhkan sumber penciptaannya.

Kedudukan Arsitektur Islam sebagai hasil kerja-kreatif-budaya selain mensyaratkan kehadiran Islam sebagai sumber dan asas bagi penciptaan Arsitektur Islam juga mensyaratkan kehadiran manusia Muslim sebagai pelaku kerja budaya yang menghadirkan Arsitektur Islam dari sumber Islam. Inilah yang menjadi asumsi kedua dari proposisi pertama yang mendasari pendekatan Psiko-Kultural dalam Arsitektur Islam. Dalam asumsi kedua, manusia Muslim didudukkan sebagai subjek-aktif dengan kepemilikan Islam di dalam dirinya melakukan kerja-kreatif-budaya untuk menghadirkan wujud Arsitektur Islam dari ranah gagasan, perilaku dan artefak.

Minggu, 18 September 2016

Makhluk-Pengumpul; Sebuah Refleksi Tentang Manusia

Manusia pada dasarnya adalah makhluk-pengumpul
Sumber: Koleksi pribadi, 2016

Jika mendengar istilah makhluk-pengumpul banyak dari kita akan langsung teringat dan mengkaitkannya dengan fase awal peradaban manusia sebelum hidup menetap dengan sistem bertani, yakni mengumpulkan makanan dan berburu (food gathering and hunting). Mengumpulkan makanan merupakan salah satu perilaku yang dilakukan manusia sebagai makhluk-pengumpul yang bertujuan untuk mempertahankan keberlanjutan hidupnya. Tidak semua perilaku mengumpulkan-sesuatu yang dilakukan manusia didasari dorongan naluri sebagaimana perilaku mengumpulkan makanan karena manusia merupakan makhluk sempurna yang dibekali akal dan hati. Karena akal dan hati jua, perilaku mengumpulkan-sesuatu yang dilakukan manusia menjadi sangat kompleks sebab melibatkan dimensi internal dirinya yang sangat dalam hampir tak berbatas-dasar.

Melalui tulisan ini saya hendak menyampaikan sebuah pandangan bahwa kita sebagai manusia merupakan makhluk-pengumpul. Perilaku mengumpulkan-sesuatu telah dilakukan sejak manusia pertama di alam dunia hingga kini dan dalam rentang waktu yang begitu panjang tersebut, perilaku mengumpulkan-sesuatu tidak hilang dalam gerak zaman. Kebertahanan perilaku mengumpulkan-sesuatu dalam gerak zaman menandakan bahwa perilaku tersebut bermakna bagi kehidupan manusia dan dibutuhkan bagi keberlanjutan kehidupannya. Pola perilaku yang terus berulang dalam putaran zaman tanpa putus menjadikannya lekat pada diri manusia dan menjadi bagian yang mendasar dalam kediriannya. 

Tulisan ini merupakan hasil refleksi saya terhadap beberapa kasus dan sepenggal pengalaman yang dikuatkan dengan contoh sederhana yang sudah jamak kita lakukan atau kita jumpai pada realitas keseharian yang bisa jadi tak sempat direfleksikan. Sebagai sebuah pandangan hasil refleksi, saya mendorong setiap pembaca untuk melakukan refleksi ke dalam diri agar mendapatkan kebenaran dan sifat general dari pandangan saya. Tentu saja sebagai sebuah pandangan pribadi, tulisan ini terbuka untuk dielaborasi, dikembangkan, dikritisi dan diuji agar menjadi ajeg sebagai sebuah pemikiran. 

Sabtu, 18 Juni 2016

Ramadhan; Sangkala Kematian Posmodernisme

A. Manusia-Hasrat Posmodernisme

Sebagai sistem budaya yang sedang mendominasi, kerusakan demi kerusakan yang diakibatkan Posmodernisme hampir tidak dapat dihindari oleh manusia di berbagai belahan dunia. Di antaranya ialah umat Islam yang tidak dapat menghindar dari dampak buruk Posmodernisme sebab sifatnya yang hegemonik dan bertentangan dengan asas-asas keyakinan Islam di satu sisi dan ketidak-mampuan umat Islam merumuskan dan mempraktikkan sistem budaya alternatif yang memungkinkannya dapat keluar dari alam budaya Posmodernisme di sisi yang lain. Kerusakan terbesar yang diakibatkan sistem budaya Posmodernisme, dengan demikian turut dirasakan umat Islam, ialah krisis kemanusiaan akibat menggeser hakikat manusia dari manusia-religius menjadi manusia-hasrat. Inilah akar dari berbagai kerusakan lain yang diakibatkan Posmodernisme. 

Gilles Deleuze dan Felix Guattari, sepasang filosof asal Prancis mengandaikan sistem budaya Posmodernisme bagaikan mesin hasrat. Sebuah mesin yang terus memompa hasrat manusia untuk mencapai kenikmatan yang bersifat permukaan. Posmodernisme hanya mampu menawarkan kenikmatan-permukaan karena perhatiannya pada tubuh yang merupakan muara bagi aliran hasrat. Agar tubuh menjadi pusat bagi manusia, maka jiwa yang merupakan hakikat manusia terus menerus disibukkan untuk memenuhi kebutuhan tubuh hingga terjerat pada tubuh dan tunduk pada kendali hasrat untuk mengurusi tubuh. Jiwa kehilangan kendalinya terhadap tubuh dan beralih pada hasrat sebagai pemegang kendali penuh bagi tubuh dan jiwa manusia.

Sabtu, 28 Mei 2016

Membendung Masjid, Menghadang Jama’ah

Pernahkah kita bertanya, mengapa masjid kian hari kian sepi?!

A. Pembuka.

Syaikh Yusuf Qaradhawi, seorang ulama masa kini yang dihormati umat Islam di seluruh dunia, dalam bukunya yang telah diterjemah ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Tuntunan Membangun Masjid” memberikan nasihat agar umat Islam memperhatikan kemudahan akses bagi jama’ah untuk mendatangi masjid. Beliau menyatakan (2000: 32),
“Di antara tuntunan yang penting dalam membangun masjid dalam Islam adalah lokasi masjid itu cocok dan tepat bagi jama’ah shalat. Misalnya, dengan dibangun di tengah-tengah desa atau di tengah perkampungan. Bukan di ujung desa sehingga memberatkan penduduk yang berada di ujung lainnya untuk pergi ke masjid itu”.
Kemudahan akses dapat dijabarkan meliputi (1) lokasi masjid; dan (2) sirkulasi masjid yang terdiri dari (a) sirkulasi menuju masjid; dan (b) sirkulasi di dalam masjid. Dimulai dari yang pertama, penentuan lokasi masjid harus memperhatikan jaraknya dari ruang-ruang kegiatan umat Islam sebagai basis sosial ruang masjid. Aspek jarak terdiri dari jarak ruang secara objektif berdasarkan alat ukur kuantitatif dan jarak ruang secara subjektif-psikologis umat Islam penyokongnya. Jarak yang jauh secara objektif menurut perhitungan alat ukur, bisa jadi dirasakan dekat secara persepsi-subjektif dan begitupula sebaliknya. Semisal jarak-objektif ruang hunian dari masjid sejauh 1 km dirasakan dekat secara psikologis atau jauh tergantung dari kondisi lingkungan dan cara berkehidupan yang dipraktikkan.

Kecenderungannya masyarakat yang hidup di perkotaan memiliki persepsi jarak yang berbeda dengan yang hidup di pedesaan apalagi daerah pedalaman disebabkan perbedaan cara berkehidupan. Bagi masyarakat perkotaan, jarak 1 km dipersepsikan dekat karena telah terbiasa menggunakan kendaraan bermotor dalam aktivitas sehari-hari dengan jarak tempuh puluhan kilometer. Sementara bagi masyarakat pedesaan, jarak yang sama dirasa jauh karena lebih terbiasa menggunakan sepeda atau berjalan kaki dalam aktivitas kesehariannya. Implikasinya, masjid yang berlokasi di wilayah perkotaan dapat memiliki radius pelayanan lebih luas dikarenakan kemampuan aksesibilitas umat Islam penyokongnya dibandingkan masjid yang berlokasi di wilayah pedesaan dan pedalaman.

Sabtu, 21 Mei 2016

Makan Merek; Aktivitas Merusak Akal

Sumber: diunduh dari akun Facebook Dr. Budi Handrianto.

Siang hari yang terik pada tanggal 19 Mei 2016 berseliweran di beranda akun Facebook saya sebuah gambar antrian manusia mengular hingga ke tepi jalan raya untuk membeli dua lusin roti bermerek-global dengan harga khusus sejumlah Rp. 100.000. Saya tidak hendak membincangkan keaslian gambar tersebut, lokasi terjadinya atau penjelasan faktual tentang apa yang sebenarnya terjadi menurut sudut pandang pelakunya. Toh di zaman sekarang fenomena serupa sering terjadi dalam realitas keseharian, bahkan sudah dianggap lumrah sehingga tidak perlu lagi dipertanyakan apalagi digugat keberadaannya. Mulai dari antrian menonton bioskop, membeli gadget terbaru di hari pertama peluncurannya, mendapatkan produk edisi khusus dengan stok terbatas dan masih banyak lagi fenomena serupa. 

Bagi yang mendapatinya dan melihatnya secara langsung, mungkin sedikit orang saja yang dapat berpikir kritis lalu bertanya apa yang dipikirkan orang-orang yang sedang mengantri tersebut? Apa motivasi yang mendorong munculnya aktivitas demikian? Apa tujuannya kalaupun aktivitas tersebut bertujuan? Apa yang hendak didapatkan, apakah sekedar roti atau sesuatu selain roti? Lebih banyak lagi tidak dapat berpikir kritis dan saat melihat fenomena tersebut malah mendorong dirinya untuk turut menjadi bagian, ikut mengantri mendapatkan produk yang ditawarkan. Bagi sebagian orang fenomena tersebut adalah medan magnet yang menarik dirinya begitu kuat, sementara bagi sebagian yang lain justru mementalkan dirinya bagaikan bertemunya dua kutub magnet yang sama. 

Selasa, 23 Februari 2016

Fenomena Jilbab Halal; Menebar Bujuk Rayu dan Rasa Takut

Perkembangan Kapitalisme menjadi Kapitalisme-lanjut (late-capitalism) diikuti pergeserannya dari ranah produksi yang didorong Revousi Industri meluas hingga ke ranah konsumsi yang didorong Revolusi Informasi dan Komunikasi. Konsumsi yang dimaksud tidak saja berarti menggunakan suatu produk yang bersifat fisikal-konkret seperti makanan, minuman, pakaian dan sejenisnya, tapi juga diartikan secara abstrak seperti simbol, status, kepuasan dan sejenisnya. Mengkonsumsi makanan cepat saji tidak saja menghabiskan makanan itu untuk mengisi perut, tapi juga mengkonsumsi simbol-simbol masyarakat urban-modern yang dilekatkan kepadanya seperti kecepatan dan keringkasan. Begitu juga mengkonsumsi pakaian tidak saja untuk menutupi dan melindungi tubuh, tapi juga mengkonsumsi merk dagang yang menandakan status kepemilikan ekonomi atas yang dilekatkan pada pakaian tersebut. Begitulah cara kapitalisme-lanjut yang kini menembus batas geografi dengan memanfaatkan media informasi dan komunikasi mendulang keuntungan materi melalui konsumsi.

Kegiatan konsumsi adalah konsekuensi dari adanya kebutuhan. Konsumsi berdasarkan kebutuhan bersifat sementara dan berbatas, sebab saat kebutuhan telah terpenuhi maka kegiatan konsumsi akan berhenti sampai kebutuhan tersebut muncul kembali. Jadi antar kegiatan konsumsi terdapat jeda. Sementara Kapitalisme-lanjut menghendaki kegiatan konsumsi yang berterusan tanpa jeda agar keuntungan terus mengalir. Oleh karenanya kebutuhan digeser menjadi keinginan yang didorong kemunculannya oleh hasrat. Hasrat manusia tidak bertepi yang tidak akan habis selagi terus dipompa, sehingga kegiatan konsumsi yang berterusan dimungkinkan dapat terus hadir tanpa rasa puas yang menghentikannya. Di sinilah teknologi informasi dan komunikasi berperan untuk memancing munculnya hasrat yang dijadikan sebagai bahan bakar keinginan mengkonsumsi. 

Senin, 25 Januari 2016

Menguliti Estetika Formal (Barat); Upaya Konstruksi Pendekatan Estetika Islam -Bagian.2-

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berupaya mengetengahkan persoalan, apakah Estetika Formal dapat digunakan sebagai pendekatan dalam Estetika Islam dengan menguliti Estetika Formal untuk menemukan titik kritis dan persinggungannya dengan Estetika Islam. Tentu pandangan saya belumlah selesai, bahkan dibanyak bagian argumentasi yang saya sampaikan tidak memadai, sehingga terbuka lebar ruang kritik, sanggahan dan masukan dari pihak yang lebih menguasai dan otoritatif dalam topik bahasan ini. Berikut adalah analisis saya:

Pertama, pendekatan tunggal. Estetika Formal yang lahir dari rahim Peradaban Barat Modern memiliki sifat hegemonik yang ditopang oleh struktur oposisi-biner, yakni hanya mengakui Estetika Formal sebagai satu-satunya pendekatan yang sah dan ilmiah sambil merendahkan pendekatan estetika lain dengan menjustifikasinya sebagai tidak ilmiah, subyektif, mistik, primitif dan sejumlah label merendahkah semisalnya. Pengukuhannya sebagai pendekatan tunggal merupakan sikap penolakan Estetika Formal terhadap sumber kebenaran-keindahan selain yang diakuinya. Berarti Estetika Formal tidak mengakui kebenaran-keindahan di luar saluran kebenaran rasio dan pancaindra.

Muatan epistemologis Estetika Formal memiliki perbedaan dengan Islam. Dalam Epistemologi Islam, wahyu Ilahi menempati posisi puncak sebagai saluran kebenaran diikuti dengan ilham yakni hikmah yang diberikan langsung oleh ALLAH tanpa perantara ke dalam diri hamba yang dipilih-Nya. Sementara rasio dan pancaindra diakui sebagai saluran yang dapat menghantarkan manusia kepada kebenaran, tapi menempati tingkat saluran kebenaran setelah wahyu dan ilham disebababkan sifat partikular dan keterbatasannya mencerap realitas.

Menguliti Estetika Formal (Barat); Upaya Konstruksi Pendekatan Estetika Islam -Bagian.1-

Pandangan saya terkait dengan aspek estetika dalam Arsitektur Islam yang tertuang dalam tulisan ini mulai mendapatkan bentuk tulisannya setelah saya terlibat dalam diskusi di sebuah forum online yang tengah membincangkan topik serupa. Diskusi tersebut ingin menjawab pertanyaan, adakah perbedaan antara Estetika Islam dengan estetika selainnya? Lebih spesifik, adakah perbedaan antara estetika dalam Arsitektur Islam dengan estetika yang diterapkan dalam arsitektur selainnya? Sepenuhnya saya menyadari pandangan saya berkaitan dengan topik ini belumlah matang dan belumlah pantas untuk dipublikasikan secara luas, bahkan di banyak bagiannya masih normatif sehingga tidak dapat dipraktikkan secara operasional oleh kalangan praktisi desain (arsitektur). Karenanya tulisan ini harus diposisikan sebatas sebagai pembuka dan pendorong munculnya diskusi yang lebih serius dan mendalam, tidak lebih dari itu.

Baik dalam diskusi tersebut dan dalam tulisan ini saya tidak bertujuan untuk menjawab pertanyaan mendasar estetika sebagai salah satu cabang filsafat yakni “Apa itu indah?” yang merupakan persoalan ontologis. Dalam rangkaian tulisan ini saya hendak menstrukturkan pendekatan-pendekatan yang memungkinkan dalam Estetika Islam, yang berarti lebih pada persoalan epistemologis. Dengan diketahui pendekatan-pendekatan yang memungkinkan dalam Estetika Islam, maka akan dapat diketahui kesejajaran dan perbedaan antara Estetika Islam dengan estetika selainnya, begitupula estetika dalam Arsitektur Islam dengan estetika yang diterapkan dalam arsitektur selainnya.

Saya ingin mengawali rangkaian tulisan ini dengan suatu telaah terhadap pendekatan arus-utama dalam perbincangan, pengkajian dan pengajaran estetika, termasuk dalam lingkup Arsitektur Islam, yakni pendekatan Estetika Formal. Saya dapat mengatakannya sebagai pendekatan arus-utama karena di banyak institusi pendidikan tinggi termasuk institusi pendidikan Islam, pendekatan Estetika Formal disampaikan dan digunakan sebagai pendekatan tunggal dalam pengajaran dan pengkajian Arsitektur (Islam). Pendekatan tunggal Estetika Formal digunakan tidak saja dalam ikhtiar mewujudkan objek arsitektur yang berasaskan nilai-nilai Islam, tapi juga untuk membaca dan menafsir aspek estetika objek arsitektur sepanjang Peradaban Islam.