Senin, 25 Januari 2016

Menguliti Estetika Formal (Barat); Upaya Konstruksi Pendekatan Estetika Islam -Bagian.2-

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berupaya mengetengahkan persoalan, apakah Estetika Formal dapat digunakan sebagai pendekatan dalam Estetika Islam dengan menguliti Estetika Formal untuk menemukan titik kritis dan persinggungannya dengan Estetika Islam. Tentu pandangan saya belumlah selesai, bahkan dibanyak bagian argumentasi yang saya sampaikan tidak memadai, sehingga terbuka lebar ruang kritik, sanggahan dan masukan dari pihak yang lebih menguasai dan otoritatif dalam topik bahasan ini. Berikut adalah analisis saya:

Pertama, pendekatan tunggal. Estetika Formal yang lahir dari rahim Peradaban Barat Modern memiliki sifat hegemonik yang ditopang oleh struktur oposisi-biner, yakni hanya mengakui Estetika Formal sebagai satu-satunya pendekatan yang sah dan ilmiah sambil merendahkan pendekatan estetika lain dengan menjustifikasinya sebagai tidak ilmiah, subyektif, mistik, primitif dan sejumlah label merendahkah semisalnya. Pengukuhannya sebagai pendekatan tunggal merupakan sikap penolakan Estetika Formal terhadap sumber kebenaran-keindahan selain yang diakuinya. Berarti Estetika Formal tidak mengakui kebenaran-keindahan di luar saluran kebenaran rasio dan pancaindra.

Muatan epistemologis Estetika Formal memiliki perbedaan dengan Islam. Dalam Epistemologi Islam, wahyu Ilahi menempati posisi puncak sebagai saluran kebenaran diikuti dengan ilham yakni hikmah yang diberikan langsung oleh ALLAH tanpa perantara ke dalam diri hamba yang dipilih-Nya. Sementara rasio dan pancaindra diakui sebagai saluran yang dapat menghantarkan manusia kepada kebenaran, tapi menempati tingkat saluran kebenaran setelah wahyu dan ilham disebababkan sifat partikular dan keterbatasannya mencerap realitas.

Diakuinya rasio dan pancaindra sebagai saluran kebenaran menjadikan Estetika Islam memiliki pendekatan formal, tapi tidak berarti pendekatan formal dalam Estetika Islam dapat dipertukarkan dengan Estetika Formal walaupun pasti keduanya memiliki kesejajaran atau persinggungan disebabkan kesamaan saluran kebenaran yang digunakan. Selain itu berdasarkan struktur epistemologi yang mendasarinya, pendekatan formal Estetika Islam tidak berkedudukan sebagai pendekatan tunggal sebagaimana dalam Estetika Formal dikarenakan memiliki pula pendekatan teologi yang bersumberkan pada wahyu Ilahi dan pendekatan eksistensial yang bersumberkan pada ilham, dan tidak menempati hirarki posisi tertinggi di antara pendekatan estetika lainnya.

Estetika Islam lebih luas dan lebih dalam dibandingkan Estetika Formal. Sebab saluran kebenaran yang diakuinya, Estetika Formal berhenti pada tataran realitas fisik obyek estetika, yakni sebatas realitas yang dapat dicerap pancaindra dan dapat ditangkap rasio manusia. Sementara Estetika Islam selain berkaitan dengan realitas fisik obyek estetika melalui saluran kebenaran rasio dan pancaindra, juga berkaitan dengan realitas non-fisik atau dibalik realitas fisik dari obyek estetika melalui saluran kebenaran wahyu Ilahi dan ilham.

Struktur-hirarkis saluran kebenaran yang mendasari Estetika Islam menjadikan realitas non-fisik obyek estetika menempati posisi yang lebih tinggi daripada realitas fisiknya, tapi tidak berarti realitas fisik obyek estetika tidak penting. Bagaikan sebuah wadah yang menyimpan permata di dalamnya, nilai sebuah wadah ditentukan dari nilai isi yang disimpannya. Dengan demikian pendekatan formal Estetika Islam memiliki kesamaan dengan Estetika Formal yakni berkaitan dengan wujud fisik obyek estetika, tapi bagi Estetika Formal wujud fisik obyek estetika adalah yang utama dan satu-satunya. Sementara dalam pendekatan formal Estetika Islam, wujud fisik obyek estetika dihadirkan bukan untuk dirinya sendiri, tapi sebagai wadah bagi isi. Wadah barulah mendapatkan kebermaknaannya jika memuat isi berharga di dalamnya.

Kedua, klaim universalitas. Bagi Estetika Formal, universalitas berarti homogenitas estetika. Dengan pendekatan tunggal, universalitas dapat dicapai dan dipaksakan sehingga dapat dihasilkan obyek estetika yang homogen dari ranah gagasan-abstrak hingga ranah fisikal-konkret. Homogenitas dicapai melalui monolog yakni dialog satu arah tanpa ruang interupsi dengan mengambil posisi sebagai penafsir tunggal untuk menutup peluang munculnya ragam penafsiran yang berbeda terhadap standarisasi yang ditetapkan. Hanya dengan cara demikian dapat dicapai kesamaan standar estetika antara obyek hasil kreasi umat Islam dengan umat lain, dan antara obyek hasil kreasi umat Islam di Indonesia dengan umat Islam di Rusia. Contoh mudah saja universalitas arsitektur masjid yang diharuskan berkubah sebagai syarat sahnya. Kondisi homogenitas demikianlah yang dikehendaki Estetika Formal.

Universalitas yang berarti homogenitas estetika menjadikan Estetika Formal lebih menyerupai ideologi daripada sebuah kajian estetika sebagai ilmu pengetahuan. Dalam Islam, estetika adalah bagian dari Kebudayaan Islam, bukan Islam itu sendiri sebagai Dien dan bukan merupakan ideologi yang ditujukan untuk dipertentangkan dengan pendekatan estetika lain. Karenanya tidak tepat jika mengkaji dan mengajarkan Estetika Islam secara doktriner sebagaimana meniru cara Estetika Formal dengan menghilangkan keterbukaan dan menutup ruang kritis. Estetika Islam ialah paradigma estetika sebagai ilmu pengetahuan yang menjadikan wahyu Ilahi sebagai sumber, panduan dan inspirasi melalui tafsir dan takwil. 

Estetika Islam tidak berkehendak mencapai homogenitas estetika sebagaimana dipahami dalam Estetika Formal. Kedudukannya sebagai ilmu pengetahuan yang merupakan bagian dari Kebudayaan Islam meniscayakan lahirnya keragaman perwujudan dan ekspresi pendekatan formal Estetika Islam antar komunitas umat Islam sebagai representasi dari keragaman ciri khas komunitas umat Islam, baik keragaman secara sinkronik yang dipisahkan batas geografi maupun diakronik yang dipisahkan lapisan waktu.

Keniscayaan akan keragaman kerapkali mensyaratkan relativitas kebenaran agar setiap keragaman mendapatkan ruang untuk tampil tanpa adanya klaim kebenaran tunggal-mutlak yang menjadi ancaman bagi keragaman. Sementara Estetika Formal mengusung kebenaran mutlak untuk dapat tampil sebagai pendekatan tunggal dan meniadakan keragaman, dalam Estetika Islam tidak terjadi dikotomi antara mutlak dan relatif, antara yang universal dan partikular, antara tunggal dan jamak. Dilihat dari sumbernya yakni wahyu Ilahi, pendekatan formal Estetika Islam memiliki sifat kebenaran tunggal-universal-mutlak, sementara dilihat dari hasil tafsir dan takwil terhadap wahyu Ilahi yang menghasilkan rumusan estetika hingga mewujud obyek estetika memiliki sifat kebenaran jamak-partikular-relatif. Dengan konstruksi demikian dapat dipahami keberadaan keragaman rumusan dan ekspresi estetika formal di kalangan komunitas umat Islam yang lahir dari sumber yang satu, yakni wahyu Ilahi.

Sebagai contoh, pendekatan formal Estetika Islam sebagaimana Estetika Formal, berupaya mencapai komposisi yang harmonis melalui keteraturan unsur-unsur pembentuk obyek. Yang membedakan antara keduanya ialah dasar dari penetapan tersebut. Dalam pendekatan formal Estetika Islam, untuk mencapai keindahan maka obyek hasil kreasi manusia haruslah mengikuti kriteria keindahan yang telah dihamparkan ALLAH. Keteraturan unsur-unsur pembentuk obyek dalam pendekatan formal Estetika Islam didasarkan atas tafsir dan takwil terhadap ayat-ayat ALLAH bahwa alam semesta memiliki keteraturan yang telah ditetapkan ALLAH menurut suatu ukuran tertentu. Darinya didapatkan pemahaman bahwa keteraturan adalah keindahan dan sebaliknya ketidak-teraturan berarti ketidak-indahan. 

Keteraturan unsur-unsur pembentuk obyek untuk mencapai komposisi yang harmonis diterjemahkan dan diekspresikan secara beragam antar komunitas umat Islam. Keragaman ekspresi tersebut disebabkan oleh faktor yang kompleks, salah duanya ialah keluasan akal dan kedalaman rasa. Bisa jadi dalam komunitas A keteraturan diterjemahkan dengan irama yang statis dan bisa jadi dalam komunitas B diterjemahkan dengan irama yang dinamis. Baik statis maupun dimanis keduanya memiliki keteraturan, hanya saja perwujudannya berbeda. Statis tidak sekedar perulangan, tapi perulangan yang didasarkan atas suatu perhitungan tertentu. Dinamis pun didasarkan perhitungan tertentu untuk membatasinya agar tidak kacau dan lepas dari keteraturan. Keragaman ekspresi obyek hasil kreasi umat Islam tersebut memiliki sifat kebenaran jamak-partikular-relatif, sehingga hasil kreasi komunitas A tidak lebih baik daripada hasil kreasi komunitas B dikarenakan terikat dengan konteksnya masing-masing. Begitupula tak bijak jika hasil kreasi komunitas A dipaksakan untuk dapat berlaku di komunitas B. 

Keragaman penafsiran, persepsi dan ekspresi dalam pendekatan formal Estetika Islam merupakan rahmat yang menjadikan khazanah Estetika Islam sangat kaya dan luas yang lahir dan memancar dari sumber yang satu yakni wahyu Ilahi. Api tidak selalu harus berwarna merah dan berkesan panas sebab ALLAH sendiri telah mendinginkan api yang membakar tubuh Nabi Ibrahim. Atau warna hijau tidak harus selalu bermakna alami sebab ALLAH mengabarkan surga-Nya dipenuhi dengan warna hijau yang boleh saja dimaknai kemenangan sebagaimana warna penutup kepala hijau yang dikenakan Rasul Muhammad shalallahu alaihi wa sallam ketika memasuki Kota Mekah saat Hari Pembebasan.

Ketiga, relasi independen antara subyek dan obyek. Relasi independen tidak hanya antara subyek pengamat dengan objek amatan, tapi juga antara seniman sebagai subyek yang aktif berkreasi dengan objek hasil kreasi. Dalam Estetika Formal, klaim obyektivitas tidak saja berlaku pada diri subyek yang mengamati, tapi juga pada diri subyek yang berkreasi. Dimensi subyektif tidak berperan dalam diri subyek yang sedang mengamati maupun dalam diri subyek yang sedang berkreasi. Relasi independen antara subyek yang berkreasi dengan obyek hasil kreasi bertujuan untuk menjadikan obyek yang dihasilkannya bebas nilai, dalam artian tidak memuat suatu nilai dan keyakinan tertentu. Sehingga obyek yang dihasilkan bukan merupakan representasi dari nilai, keyakinan dan pandangan-alam yang melekat dalam diri subyek yang berkreasi.

Untuk dapat dihasilkan obyek yang bebas dari nilai dan keyakinan tertentu, sebagaimana dalam proses pengamatan untuk menetapkan status estetika suatu obyek, obyektivitas antara diri subyek yang berkreasi dengan obyek hasil kreasi dicapai dengan menjarakkan antara keduanya melalui jembatan teoritik yang diklaim bersifat universal, sehingga dapat berlaku dan digunakan oleh subyek tanpa batasan sekat ras, etnis dan keyakinan. 

Islam sebagai sebuah keyakinan melekat di dalam diri subyek dan menjadi pengarah serta pendorong bagi seluruh amalan subyek, baik amalan batin maupun amalan lahir. Hal tersebut meniscayakan selama proses berkreasi terjadi ‘pemindahan’ nilai ke dalam objek sebab subyek tak dapat menanggalkan keyakinan, nilai dan pandangan-alam Islam yang melekat pada dirinya. Sehingga obyek menjadi tidak bebas nilai dan obyek hasil kreasinya menjadi representasi atau cerminan dari keyakinan, nilai-nilai dan pandangan-alam Islam yang melekat pada diri subyek yang berkreasi. Selain itu, pemindahan nilai dari diri subyek ke dalam obyek menjadikan keindahan yang terdapat di dalam obyek tidaklah inheren berasal dari obyek itu sendiri sebagaimana dalam pandangan Estetika Formal, tapi berasal dari diri subyek yang aktif berkreasi.

Agar dimungkinkan terjadinya ‘pemindahan’ nilai dari diri subyek ke dalam obyek selama proses berkreasi, maka jembatan teoritik yang berfungsi sebagai pemisah antara subyek dan obyek dengan membuat jarak antara keduanya untuk menjamin obyektivitas sebagaimana dipahami dalam Estetika Formal tidak dapat diterima secara konseptual dalam Estetika Islam. Sebagai sarana untuk memindahkan ‘nilai’ dari subyek ke obyek, jembatan teoritik dalam pendekatan formal Estetika Islam berfungsi untuk menghubungkan antara ranah gagasan-abstrak yang terdapat dalam diri subyek dengan ranah obyek kreasi yang bersifat fisikal-konkret. Dalam pendekatan formal Estetika Islam, jembatan teoritik berfungsi sebagai penghubung antara subyek dengan obyek, bukan pemisah, sehingga relasi antara subyek dan obyek tidaklah independen tapi saling terikat satu dengan lainnya. 

Jembatan teoritik yang berfungsi sebagai penghubung antara ranah gagasan-abstrak dengan ranah fisikal-konkret tidak bersifat universal sebagaimana dalam pandangan Estetika Formal. Jembatan teoritik tersebut juga melekat padanya nilai dan keyakinan dari pihak yang merumuskan, sebagaimana jembatan teoritik dalam khazanah Estetika Formal yang melekat padanya nilai, keyakinan dan pandangan-alam Barat Modern. Begitu pentingnya posisi jembatan teoritik dalam pendekatan formal, menjadikan ketersediaan jembatan teoritik yang berasaskan Islam merupakan prasyarat dan prioritas yang harus segera dipenuhi agar pendekatan formal Estetika Islam dapat diterapkan. Pendekatan formal Estetika Islam dengan begitu sangat bergantung pada khazanah jembatan teoritik yang dimilikinya. 

Mekanisme ‘pemindahan’ nilai dari diri subyek ke dalam obyek melalui jembatan teoritik menjadikan pendekatan formal Estetika Islam tidak mengenal dikotomi obyektivisme dan subyektivisme. Unsur subyektif dan obyektif saling jalin tak putus selama proses kreasi dan pengamatan dilakukan. Dikatakan subyektif sebab subyek aktif selama ‘pemindahan’ nilai ke dalam obyek dan ‘menangkap’ nilai di dalam obyek. Dan dikatakan obyektif sebab keindahan terdapat di dalam obyek setelah ‘dipindahkan’ dari diri subyek melalui jembatan teoritik sebagai penghubungnya. 

Keempat, kaitan keindahan dengan moral. Konsekuensi dari relasi independen antara subyek dan obyek menyebabkan dalam Estetika Formal aspek moral menjadi tidak relevan dalam perbincangan, pengkajian dan praktik estetika. Klaim bahwa obyek estetika adalah bebas dari nilai dan keyakinan menjadikan tidak ada keterkaitan antara moralitas dengan keindahan dikarenakan bagi Estetika Formal keindahan bersifat obyektif sementara moral bersifat subyektif yang melekat padanya nilai-nilai, sehingga harus disingkirkan dari medan estetika yang menjadikan keindahan menurut Estetika Formal ialah keindahan tanpa timbangan moral. Dipisahkannya obyek estetika dari aspek moral menyebabkan estetika terpisah dari kehidupan manusia sehari-hari yang mensyaratkan moral untuk mencapai keteraturan. Karena itu lumrah kita temui sesuatu yang dipandang bermoral oleh masyarakat tapi dipandang tidak estetis oleh kalangan ahli Estetika Formal dan begitupula sebaliknya. Pandangan tersebut memungkinkan kevulgaran dan kecabulan obyek disematkan status sebagai obyek estetika.

Keindahan tanpa moral tidak mendapatkan ruangnya dalam Estetika Islam. Dalam pandangan Islam, subyek yang aktif berkreasi menghadirkan obyek maupun subyek yang melakukan pengamatan terhadap obyek merupakan amalan yang memiliki batas-batas dan harus didasarkan nilai-nilai Islam yang berkaitan dengan amalan tersebut. Sebab lekatnya aspek kebaikan dan keindahan dalam pandangan Islam, suatu obyek estetika hasil kreasi umat Islam tidak saja merepresentasikan nilai-nilai keindahan menurut Islam, tapi juga nilai-nilai kebaikan yang termuat dalam Islam. Indah berarti baik dan baik berarti indah, keduanya bagaikan dua sisi mata koin yang tidak dapat dipisahkan apalagi dilepaskan dan dibuang salah satunya.

Kelima, tujuan dihadirkannya obyek estetika. Estetika Formal yang terpisah dari kehidupan sehari-hari manusia sebagai konsekuensi dari dipisahkannya estetika dari moral menjadikan tujuan dihadirkannya obyek estetika bukanlah untuk kemanfaatan kehidupan manusia secara praktis, tapi untuk estetika itu sendiri yang mahsyur dikenal dengan istilah l’art pour l’art. Tidak ada tujuan di luar estetika dan lebih tinggi dari estetika itu sendiri. Tujuan demikian menyebabkan secara sosial-ekonomi obyek estetika bukanlah merupakan kebutuhan mendasar manusia. Obyek estetika menjadi kebutuhan hidup tersier yang hanya dapat diakses dan dimiliki oleh kalangan masyarakat ekonomi menengah-atas, begitupula dengan keindahan yang hanya menjadi hak milik segelintir kalangan. Sementara kalangan yang berseberangan disematkan label buta-estetika yang menyebabkan seluruh obyek hasil kreasinya tidak dapat dikategorikan sebagai obyek estetika. 

Pendekatan formal estetika Islam walaupun berkaitan dengan perwujudan fisik obyek estetika sebagaimana Estetika Formal, tapi memiliki perbedaan tujuan sebab isi yang diwadahinya. Dalam Estetika Islam, tujuan dihadirkannya obyek estetika ialah untuk menggugah jiwa dan kesadaran subyek agar tumbuh keimanan dan rasa syukur kepada ALLAH serta menjadikannya semakin memahami diri dan kehidupannya sebagai hamba ALLAH dan wakil ALLAH di muka bumi. Tujuan demikian menjadikan obyek estetika dalam Estetika Islam berhubungan erat dan bermanfaat bagi kehidupan manusia secara praktis-keseharian. Sehingga keindahan merupakan hak bagi seluruh lapisan umat Islam untuk memiliki dan mencerapnya, bukan monopoli segelintir kalangan. 

Kontraditif memang, Estetika Formal yang mengusung kebenaran-keindahan universal justru membatasi hak kepemilikan keindahan untuk segelintir kalangan. Berdasarkan tujuannya, Estetika Formal memiliki sifat eksklusif-hegemonik sementara pendekatan formal Estetika Islam memiliki sifat inklusif-pluralistik. Inklusif yang dimaksud ialah terbuka bagi seluruh lapisan dan kalangan umat Islam, dan pluralistik yang dimaksud ialah keberagaman perwujudan dan ekspresi obyek estetika hasil kreasi umat Islam. Sementara kaitan sifat inklusif Estetika Islam dengan subyek pengamat dari kalangan non-Muslim membutuhkan pembahasan tersendiri yang bukan menjadi fokus dari rangkaian tulisan ini. 

C. Kesimpulan

Lima poin titik kritis Estetika Formal dan persinggungannya dengan pendekatan formal Estetika Islam semampu yang dapat saya pikirkan sebagaimana telah saya paparkan di atas menjadikan pendekatan formal Estetika Islam berbeda secara diametral dengan Estetika Formal yang sarat dengan nilai, keyakinan dan pandangan-alam Barat Modern. Perbedaan asasi antara keduanya tidak berarti menjadikan pencapaian dan khazanah Estetika Formal harus ditolak seluruhnya oleh umat Islam. Sifat ilmu pengetahuan yang terbuka meniscayakan terjadinya komunikasi ilmiah antar komunitas ilmu yakni saling transfer dan mempelajari khazanah ilmu. Tapi tidak serta merta Estetika Formal diserap, digunakan dan diajarkan begitu saja oleh umat Islam tanpa melalui mekanisme ‘pembersihan’ dan ‘penyesuaian’.

Sikap keterbukaan secara kritis adalah strategi kebudayaan terbaik yang dapat mendorong perkembangan ilmu pengetahuan secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan dan memposisikan keyakinan, nilai dan pandangan-alam sebagai penyaring dan menjaga khazanah ilmu pengetahuan dari generasi pendahulu sebagai kekayaan peradaban. Sementara sikap mengisolasi diri dari khazanah keilmuan yang lahir dari rahim peradaban lain menyebabkan stagnasi dan kejumudan, sebaliknya sikap membuka diri seluas-luasnya menyebabkan ketergelinciran dan kehancuran.

Berikut adalah ringkasan dari titik kritis dan persinggungannya dengan Estetika Islam:

Sumber: Analisis pribadi, 2016

Langkah kedepan perlu segera dirumuskan Estetika Islam sebagai paradigma ilmu estetika, dimulai dari pendekatan formal Estetika Islam. Kesejajarannya dengan Estetika Formal diharapkan dapat dengan segera menggantikannya sebagai pendekatan tunggal dan menggesernya sebagai arus-utama dalam pengkajian dan pengajaran estetika di institusi pendidikan Islam. Untuk itu aspek penting dari pendekatan formal Estetika Islam perlu untuk segera dirumuskan dan disediakan yakni khazanah jembatan teoritik yang menjadi prasyarat agar dapat dipraktikkan. Pertanyaannya sekarang, siapakah yang hendak menyambut dan memikul amanah ini?

Untuk lebih memudahkan memahami bahasan yang telah saya paparkan dalam 2 tulisan bersambung ini, sebelum masuk pada kerangka Estetika Islam yang coba saya usulkan, pada tulisan mendatang saya akan mencoba menkontekskannya langsung dengan arsitektur sehingga perbincangan estetika secara konseptual dapat langsung mendapatkan perwujudan fisiknya dalam bentuk arsitektur. Semoga ALLAH memudahkannya bagi saya. 

Allahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Malang pada Rabiul Awal 1437 Hijrah Nabi
Diselesaikan di Kota Mataram pada Rabiul Akhir 1437 Hijrah Nabi

1 komentar: