Sabtu, 28 Mei 2016

Membendung Masjid, Menghadang Jama’ah

Pernahkah kita bertanya, mengapa masjid kian hari kian sepi?!

A. Pembuka.

Syaikh Yusuf Qaradhawi, seorang ulama masa kini yang dihormati umat Islam di seluruh dunia, dalam bukunya yang telah diterjemah ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Tuntunan Membangun Masjid” memberikan nasihat agar umat Islam memperhatikan kemudahan akses bagi jama’ah untuk mendatangi masjid. Beliau menyatakan (2000: 32),
“Di antara tuntunan yang penting dalam membangun masjid dalam Islam adalah lokasi masjid itu cocok dan tepat bagi jama’ah shalat. Misalnya, dengan dibangun di tengah-tengah desa atau di tengah perkampungan. Bukan di ujung desa sehingga memberatkan penduduk yang berada di ujung lainnya untuk pergi ke masjid itu”.
Kemudahan akses dapat dijabarkan meliputi (1) lokasi masjid; dan (2) sirkulasi masjid yang terdiri dari (a) sirkulasi menuju masjid; dan (b) sirkulasi di dalam masjid. Dimulai dari yang pertama, penentuan lokasi masjid harus memperhatikan jaraknya dari ruang-ruang kegiatan umat Islam sebagai basis sosial ruang masjid. Aspek jarak terdiri dari jarak ruang secara objektif berdasarkan alat ukur kuantitatif dan jarak ruang secara subjektif-psikologis umat Islam penyokongnya. Jarak yang jauh secara objektif menurut perhitungan alat ukur, bisa jadi dirasakan dekat secara persepsi-subjektif dan begitupula sebaliknya. Semisal jarak-objektif ruang hunian dari masjid sejauh 1 km dirasakan dekat secara psikologis atau jauh tergantung dari kondisi lingkungan dan cara berkehidupan yang dipraktikkan.

Kecenderungannya masyarakat yang hidup di perkotaan memiliki persepsi jarak yang berbeda dengan yang hidup di pedesaan apalagi daerah pedalaman disebabkan perbedaan cara berkehidupan. Bagi masyarakat perkotaan, jarak 1 km dipersepsikan dekat karena telah terbiasa menggunakan kendaraan bermotor dalam aktivitas sehari-hari dengan jarak tempuh puluhan kilometer. Sementara bagi masyarakat pedesaan, jarak yang sama dirasa jauh karena lebih terbiasa menggunakan sepeda atau berjalan kaki dalam aktivitas kesehariannya. Implikasinya, masjid yang berlokasi di wilayah perkotaan dapat memiliki radius pelayanan lebih luas dikarenakan kemampuan aksesibilitas umat Islam penyokongnya dibandingkan masjid yang berlokasi di wilayah pedesaan dan pedalaman.

Aspek subjektif-psikologis yang patut diperhitungkan dalam penentuan lokasi masjid selain jarak-subjektif ialah kegiatan keseharian umat Islam penyokongnya secara umum. Aspek kegiatan keseharian umat Islam menjadi data masukan guna mencari titik temu dengan data jarak-subjektif. Sebagai contoh, umat Islam yang hidup dan berkehidupan di perkotaan memiliki jarak-subjektif yang relatif jauh, tapi memiliki intensitas kegiatan yang tinggi. Jarak ruang berkegiatan dengan ruang masjid walaupun secara subjektif dipersepsikan dekat, tapi karena memiliki aktivitas harian yang padat dengan waktu jeda yang sempit dapat menjadi penghalang untuk mendatangi masjid karena rasa lelah, terlebih selepas pulang bekerja. Untuk itu penentuan lokasi masjid dengan memperhatikan aspek jarak-obyektif, jarak-subjektif dan kegiatan keseharian umat Islam penyokongnya secara umum bertujuan menentukan jarak-optimal ruang masjid dari ruang-ruang lainnya dengan cara mencari titik temu dan kompromi antara ketiga variabel tersebut.

Penentuan radius pelayanan masjid berdasarkan jarak-objektif dan jarak-subjektif dimaksudkan untuk mencapai integrasi ruang dengan ruang-ruang berkegiatan umat Islam yang berada di dalam radius pelayanan masjid agar ruang masjid dapat dan mudah diakses dari ruang hunian, ekonomi, politik, pendidikan dan lainnya. Dalam skala yang lebih luas, radius pelayanan masjid menentukan sebaran masjid agar seluruh ruang berkegiatan umat Islam tidak lepas dari pelayanan masjid dan terhubung dengan masjid. Begitulah seharusnya masjid, menjadi penyatu ruang-ruang lainnya dengan posisinya sebagai pusat ruang, sehingga cahaya Islam dapat keluar dari masjid dan menyinari seluruh ruang. 

Kedua, sirkulasi masjid harus memenuhi syarat kenyamanan fisik dan psikologis pengguna. Tingkat kenyamanan fisik yang disyaratkan didasarkan aspek pengguna yang akan menentukan bentuk, dimensi, bahan, dan posisi sirkulasi masjid. Jika merujuk kepada Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, beliau memotivasi seluruh kalangan umat Islam untuk mendatangi masjid tanpa memandang usia, jenis kelamin dan kondisi fisik-tubuh mereka, sehingga sirkulasi ruang masjid harus dapat dan mudah diakses oleh seluruh kalangan tersebut. Tidak banyak masjid memiliki sirkulasi yang ramah bagi anak kecil, lansia dan pemilik keterbatasan fisik merupakan penanda rendahnya perhatian umat Islam terhadap permasalahan ini. 

Selain kenyamanan fisik, bentuk sirkulasi masjid juga harus memperhatikan kenyamanan psikologis pengguna. Nilai-nilai Islam yang berkaitan dengan aturan dan hubungan antara pria-wanita menjadikan aspek psikologis umat Islam berkaitan dengan lawan jenis harus diperhatikan dalam merancang sirkulasi masjid. Berdasarkan standar perancangan, lebar jalur sirkulasi 1,5 meter dapat digunakan oleh 2 orang yang berpas-pasan, tapi tidak demikian bagi kenyamanan psikologis umat Islam. Pria dan wanita yang berpas-pasan di jalur sirkulasi selebar 1,5 meter menimbulkan ketidak-nyamanan psikologis, terutama bagi wanita. Untuk itu harus disediakan jarak-jeda antara pengguna. Jarak jeda ini harus dikaji karena berkaitan dengan aspek subjektivitas-psikologis pengguna. Bisa jadi di suatu komunitas umat Islam jarak-jeda tersebut berkisar 1 meter, sehingga untuk dapat digunakan 2 orang berpas-pasan minimal jalur sirkulasi membutuhkan lebar 2,5 meter. Bisa jadi di komunitas lain akan berbeda dikarenakan sensitivitas psikologis yang mempengaruhi jarak-jeda berbeda-beda berdasarkan beragam faktor yang sangat kompleks.

Idealnya masjid memiliki jalur sirkulasi terpisah bagi pria dan wanita. Kondisi di lapangan tidak selalu bisa mencapai idealitas tersebut, selain karena perhatian umat Islam yang masih rendah juga faktor keterbatasan lahan di wilayah perkotaan mengakibatkan banyak masjid hanya memiliki sebuah jalur sirkulasi yang diperuntukkan untuk pria sekaligus wanita. Tidak sedikit pula masjid memiliki lebar jalur sirkulasi yang tidak memadai, sehingga seringkali antara pria dan wanita terpaksa berpas-pasan saling sentuh, terutama pada momen masjid terisi penuh jama’ah seperti ibadah shalat Tarawih dan shalat dua hari raya menjadikan perilaku berdesak-desakan hampir tidak dapat dihindari. Belum lagi jika memperhatikan kenyamanan psikologis anak-anak, lansia dan pemilik keterbatasan fisik menjadikan sirkulasi masjid membutuhkan kajian tersendiri yang mendalam dan serius.

Sebenarnya sebuah jalur sirkulasi yang diperuntukkan untuk pria sekaligus wanita tidaklah masalah, asalkan lebarnya mencukupi. Tentu hal tersebut mensyaratkan pengguna masjid seluruhnya telah mencapai tingkat ketakwaan yang baik, sehingga perilaku lahir dan bathinnya telah tunduk sesuai dengan kehendak Allah. Pada faktanya tidak begitu. Sebagai wujud kehati-hatian karena tidak semua kondisi ketakwaan pengguna masjid dalam tingkat yang baik yang menjadikan terbuka peluang terjadinya perbuatan yang tidak diinginkan, maka alangkah baiknya masjid memiliki jalur sirkulasi yang terpisah bagi pria dan wanita sebagai bentuk ikhtiar arsitektural untuk menghindari munculnya kemungkaran dan kerusakan. Kaidahnya, menolak keburukan lebih utama daripada mengambil manfaat. Oleh karena itu mencegah kemungkaran dengan menyediakan dua buah jalur sirkulasi lebih diutamakan daripada mengambil manfaat dana pembangunan masjid yang lebih murah. 

B. Kondisi Kini.

Realitas keseharian kita sekarang telah begitu jauh dari idealitas sebagaimana dikehendaki Allah dalam wahyu-Nya. Dari variabel lokasi, kecenderungan pemilihan lokasi masjid hanya memperhatikan ketersediaan lahan kosong dan nilai ekonomis lahan tanpa memperhatikan lokasi dan jaraknya dari ruang-ruang berkegiatan umat Islam, radius pelayanan serta persebaran ruang masjid, sehingga integrasi ruang tidak tercapai. Tidak diperhatikannya sebaran masjid menyebabkan terdapat wilayah yang memiliki jumlah masjid begitu banyak dan menumpuk pada satu titik, sehingga tidak semua ruang-ruang berkegiatan umat Islam dalam wilayah tersebut dalam radius pelayanan masjid. Malah memunculkan perebutan jama’ah antar masjid sebab lokasi yang berdekatan sedangkan jumlah basis sosial yang terbatas. 

Di sisi sebaliknya, penentuan lokasi ruang berkegiatan umat Islam sedikit sekali yang menjadikan variabel kedekatan jarak dan kemudahan akses menuju ruang masjid sebagai poin yang penting dan utama, terutama ruang perkantoran dan ekonomi. Dengan begitu tidak bisa dielakkan fenomena Penjauhan-Ruang menurut istilah saya. Ruang masjid menjauhi ruang berkegiatan umat Islam dan begitu pula sebaliknya. Antar ruang saling membelakangi diri menampakkan punggung, tak ingin saling mengenal apalagi berhubungan. Sebagai contoh saja, begitu banyak perumahan dibangun tapi tidak memiliki kedekatan dengan ruang masjid yang dapat dijangkau oleh penghuninya. Jika begini terus, integrasi ruang hanya sekedar khayal!

Tidak kalah ruwet, sirkulasi masjid juga masih jauh dari idealitas. Dikaitkan dengan lokasi, berdasarkan studi kasus yang saya temui secara langsung terdapat beberapa perumahan memiliki kedekatan jarak dengan masjid. Masalahnya tidak tersedia sirkulasi menuju masjid tersebut, sehingga penghuni perumahan tidak dapat mengaksesnya. Kalaupun ingin mengakses masjid harus melalui sirkulasi memutar bahkan memasuki perumahan lain yang menyebabkan jarak tempuh secara objektif semakin jauh. Tentu akan mempengaruhi jarak-subjektif kalangan penghuni dan pada akhirnya lebih memilih untuk beristirahat di rumah daripada mendatangi masjid. 

Di lain tempat dengan permasalahan berbeda, begitu banyak masjid berkapasitas besar mencapai 2.000-4.000 jama’ah di lingkungan permukiman hanya memiliki lebar akses sirkulasi menuju masjid 3 sampai 4 meter dengan permukaan tanah atau bebatuan. Penentuan lokasi masjid tidak memperhitungkan kapasitas maksimal ruang masjid dengan kapasitas akses sirkulasi menuju ruang masjid. Di banyak kasus yang saya temui, permasalahan ini berawal dari pencarian lahan kosong untuk pembangunan masjid dengan syarat harga serendah mungkin. Lahan kosong dengan akses sirkulasi 3 sampai 4 meter dengan kualitas permukaan yang buruk dan posisi yang agak terpencil dipilih tidak lain karena harga yang murah. Setelah masjid dibangun pun tidak terdapat upaya untuk memperbaiki kondisi akses sirkulasi tersebut apalagi memperlebarnya jika memungkinkan, malah masjid menjadi beban baru yang otomatis mengganggu kenyamanan warga sekitar. Puncak ketidak-nyamanan bagi jama’ah masjid dan warga sekitar dirasakan setiap hari Jumat saat serentak jama’ah keluar masjid dengan mengendarai kendaraan bermotornya masing-masing. Tidak saja menimbulkan kemacetan, tapi juga polusi suara, polusi udara dan semakin memperparah kondisi permukaan jalur akses sirkulasi. Pemasalahan semacam ini riskan memunculkan konflik horizontal antar umat Islam antara pihak pengurus masjid, jama’ah masjid dan warga sekitar masjid. Terlebih jika terdapat warga non Muslim di sekitar ruang masjid menjadikan potensi konflik sosial semakin rawan.

Sirkulasi di dalam masjid pun tidak lepas dari permasalahan. Selain permasalahan yang bersifat teknis seperti bentuk sirkulasi yang tidak ramah bagi semua kalangan pengguna, dimensi yang sempit, ketidak-jelasan sirkulasi pria dan wanita sampai bahan yang tidak nyaman, terdapat juga permasalahan yang sifatnya asasi yakni penerapan prinsip ruang ibadah agama lain. Yang sedang menjadi trend di kalangan umat Islam kini ialah perancangan masjid secara monumental dengan menempatkannya di posisi tapak yang tinggi dan dibebaskan secara visual dari berbagai objek yang mengganggu agar masjid dapat terlihat-bebas dari segala arah dan kejauhan. Kesan yang ingin dimunculkan bagaikan ruang masjid di atas gunung atau bukit yang tinggi agar secara visual mendominasi. 

Ruang ibadah agama lain yang dirancang monumental dengan menempatkannya pada posisi yang tinggi bagaikan bak di atas gunung berangkat dari dualisme ruang-sakral dan ruang-profan. Ruang-sakral menempati hirarki lebih utama daripada ruang-profan, sehingga ditempatkan di posisi yang lebih tinggi untuk menegaskan hirarkinya sekaligus untuk menegaskan perbedaan dan batas-batas ruangnya dengan ruang-profan. Konsekuensi secara praktis dari landasan filosofis demikian, ruang ibadah memiliki jalur sirkulasi menanjak ke atas yang menuntut untuk dinaiki setapak demi setapak dengan perlahan. Untuk memotivasi pengguna, paling tidak agar tidak merasa lelah apalagi jika jumlah anak tangga untuk mencapai ruang ibadah mencapai ratusan, dibutuhkan pendorong bagi jiwa yakni makna yang dirumuskan berdasarkan ajaran agama untuk memberi arti aktivitas yang dilakukan. Kemudian makna tersebut dibakukan dan disakralkan agar tidak berubah, terjaga pewarisannya dan memiliki daya pengaruh-psikologis-spiritual yang semakin kuat. Dengan begitu, rasa lelah dan ketidak-nyamanan jasad mengakses ruang ibadah dapat ditekan dengan memberi stimulus kepada jiwa melalui makna-spiritual yang diproduksi.

Di dalam buku yang sama sebagaimana telah saya kutip di awal tulisan ini, Syaikh Yusuf Qaradhawi mengisyaratkan agar umat Islam tidak menerapkan prinsip perancangan ruang ibadah agama lain terhadap masjid. Beliau menyatakan (2000: 32),
“Kita harus memperhatikan bahwa masjid bukanlah gereja. Gereja dapat dibangun di ujung kampung, bahkan hal itu sengaja dilakukan untuk menampilkan dan mensosialisasikan keberadaan gereja itu kepada masyarakat. Karena orang butuh pergi ke gereja hanya satu hari saja dalam seminggu, yaitu pada hari Minggu, sehingga keberadaan gereja itu di ujung perkampungan biasanya tidak memberatkan jama’ah gereja itu. Sedangkan masjid begitu dibutuhkan oleh individu muslim setiap hari, sebanyak lima kali untuk menunaikan shalat lima waktu secara berjama’ah”.
Walaupun secara spesifik Syaikh Yusuf Qaradhawi membandingkan gereja dan masjid, tapi pernyataan beliau dapat dipahami secara umum bahwa masjid berbeda dengan ruang ibadah agama lain disebabkan perbedaan peribadatan yang diwadahi. Perbedaan peribadatan tersebut berasal dari perbedaan yang lebih asasi lagi yakni perbedaan sistem keyakinan. Dengan kata lain, setiap ruang ibadah umat beragama adalah representasi dari sistem keyakinannya, begitu juga dengan masjid yang idealnya merepresentasikan sistem keyakinan Islam secara menyeluruh. Perancangan masjid harus berdasarkan landasan filosofis, prinsip, tujuan dan maksud didirikannya masjid berdasarkan wahyu Ilahi dan tuntunan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam serta para pendahulu yang shalih. 

Ruang masjid dengan berbagai fungsi yang dicontohkan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam menjadikannya tidak dapat dikategorikan sebagai ruang-sakral maupun ruang-profan. Ruang masjid adalah ruang-sakral sekaligus ruang-profan dan ruang-profan sekaligus ruang-sakral karena tidak hanya aktivitas ibadah maghdah saja yang diwadahi, tapi juga mewadahi berbagai aktivitas ibadah dalam arti yang sangat luas, sehingga tidak tepat menerapkan prinsip perancangan monumental dengan menempatkannya di posisi lahan yang tinggi karena akan memberatkan pengguna. Berdasarkan pernyataan Syaikh Qaradhawi di atas, syarat kemudahan jama’ah menggunakan sirkulasi masjid berdasarkan intensitas umat Islam mendatangi dan menggunakan ruang masjid. Berbeda dengan intensitas umat agama lain menggunakan ruang ibadahnya tidak setiap hari, sehingga bentuk sirkulasi yang menanjak akibat dari landasan filosofis ruangnya secara psikologis tidaklah memberatkan. 

Ruang masjid yang diposisikan di lahan yang tinggi, selain tidak berkesesuaian dengan filosofi ruang masjid juga memiliki resiko kecelakaan yang tinggi bagi pengguna sebab perilaku terburu-buru para jama’ah menuju ruang shalat ketika iqamah dikumandangkan. Sirkulasi menanjak membutuhkan banyak energi untuk mengaksesnya, terlebih jika dalam kondisi buru-buru, sehingga dapat merusak kualitas shalat jama’ah karena nafas yang tersenggal-senggal sehingga tidak dapat fokus. Selain itu, bentuk sirkulasi demikian juga tidak ditujukan untuk lansia, anak kecil dan pengguna yang memiliki keterbatasan fisik. Tidak ada cara selain meninggalkan prinsip perancangan demikian dan kembali menerapkan prinsip perancangan integrasi ruang guna mewujudkan integrasi sosial.

C. Penutup

Permasalahan ruang masjid zaman kini yang telah sekilas saya paparkan di atas sudah begitu jamak kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Bagaikan dibendungnya ruang masjid dari ruang-ruang berkegiatan umat Islam, sehingga umat Islam dihadang agar sibuk berkutat di dalam ruang berkegiatannya dan tidak membanjiri ruang masjid. Dampaknya masjid menjadi sepi dan tidak dimakmurkan oleh umat Islam penyokongnya. Faktor yang selalu dibahas dan dijadikan biang keladi sebagai penyebab sepinya ruang masjid tidak lain ialah faktor tingkat takwa umat Islam yang rendah. Memang benar, bahkan faktor takwa adalah faktor utama sekaligus faktor kunci, tapi bukanlah satu-satunya faktor.

Selain faktor takwa, penyebab sepinya ruang masjid ialah faktor lokasi dan sirkulasi masjid. Pernyataan saya ini dikuatkan oleh pernyataan Syaikh Yusuf Qaradhawi berikut (2000: 33),
“Saya sering menemukan masjid-masjid besar yang dapat menampung lebih dari dua puluh ribu orang, tapi dibangun di tempat-tempat yang tidak didiami oleh penduduk, sehingga masjid itu hanya diisi oleh beberapa ratus orang saja. Hal itu terjadi karena ketidaktepatan dalam memilih tempat untuk mendirikan masjid.”
Jika dikaji lebih mendalam akan diketahui keterkaitan antara faktor takwa, lokasi dan sirkulasi ruang masjid. Tingkat takwa yang rendah dikuatkan dengan hadirnya faktor lokasi dan sirkulasi masjid yang tidak mendukung semakin menguatkan umat Islam untuk tidak mendatangi ruang masjid. Tingkat takwa yang tidak stabil pun jika bertemu dengan kedua faktor tadi akan menjadikan orang tidak istiqamah mengunjungi masjid, kadang datang dan kadang tidak datang karena alasan lelah atau jauh. Dari sini kita mengetahui jarak-subjektif selain dibentuk oleh kondisi lingkungan dan cara berkehidupan umat Islam, juga dipengaruhi oleh tingkat ketakwaannya. Jarak-objektif 10 km untuk mendatangi ruang masjid dengan medan yang terjal dan tak bersahabat sekalipun akan terasa dekat jika di dalam dada bersemayam takwa yang kuat. 

Agar masjid ramai dan dimakmurkan oleh jama’ahnya haruslah memperhatikan berbagai faktor penyebab permasalahan yang mengjangkiti. Tidaklah cukup hanya mengadakan pengajian yang bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan umat Islam, tapi juga harus merintis integrasi ruang masjid dengan ruang-ruang berkegiatan umat Islam dan sirkulasi yang memudahkan umat Islam untuk datang dan menggunakan ruang masjid. Di sinilah terbuka kesempatan dilakukannya integrasi aksi antara para ahli di bidang ilmu Islam dengan para ahli di bidang arsitektur. Sebagai penutup, tulisan ini dapat disimpulkan ke dalam diagram di bawah ini:

Sumber: Analisa pribadi

Sekarang mari kita hancurkan bilik penghadang agar tembok bendungan tak lagi mampu menampung terjangan air bah umat Islam membanjiri ruang masjid. Dengan ini kita mengawali kebangkitan Peradaban Islam! 

Allahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Kartasura pada Sya’ban 1437 Hijrah Nabi

4 komentar:

  1. Terimakasih Pak Andika atas ilmu yang sudah di share untuk kita. semoga ilmu bisa bermanfaat dan bisa memberikan karya-karya lagiuntuk ke depan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat untuk semuanya.

      Hapus
  2. Jazakallah khairan Pak Andika atas ilmunya, saya sangat tertarik dengan bahasan arsitektur Islam. dan blog Pak Andika ini menjadi salah satu bahan bacaan saya. Semoga selalu di istiqomahkan dalam mentransfer ilmu-ilmunya. Saya sangat berharap bisa berdiskusi dengan Pak Andika.

    muhamad fajar sidik
    mahasiswa pendidikan teknik arsitektur UPI

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah. Terima kasih untuk apresiasinya mas, wa jazakallahu khairan katsiran.

      Sila bisa silaturahim melalui akun Facebook saya, mas. Semoga kedepannya saya bisa berkunjung ke UPI agar bisa bertemu langsung.

      Hapus