Sabtu, 18 Juni 2016

Ramadhan; Sangkala Kematian Posmodernisme

A. Manusia-Hasrat Posmodernisme

Sebagai sistem budaya yang sedang mendominasi, kerusakan demi kerusakan yang diakibatkan Posmodernisme hampir tidak dapat dihindari oleh manusia di berbagai belahan dunia. Di antaranya ialah umat Islam yang tidak dapat menghindar dari dampak buruk Posmodernisme sebab sifatnya yang hegemonik dan bertentangan dengan asas-asas keyakinan Islam di satu sisi dan ketidak-mampuan umat Islam merumuskan dan mempraktikkan sistem budaya alternatif yang memungkinkannya dapat keluar dari alam budaya Posmodernisme di sisi yang lain. Kerusakan terbesar yang diakibatkan sistem budaya Posmodernisme, dengan demikian turut dirasakan umat Islam, ialah krisis kemanusiaan akibat menggeser hakikat manusia dari manusia-religius menjadi manusia-hasrat. Inilah akar dari berbagai kerusakan lain yang diakibatkan Posmodernisme. 

Gilles Deleuze dan Felix Guattari, sepasang filosof asal Prancis mengandaikan sistem budaya Posmodernisme bagaikan mesin hasrat. Sebuah mesin yang terus memompa hasrat manusia untuk mencapai kenikmatan yang bersifat permukaan. Posmodernisme hanya mampu menawarkan kenikmatan-permukaan karena perhatiannya pada tubuh yang merupakan muara bagi aliran hasrat. Agar tubuh menjadi pusat bagi manusia, maka jiwa yang merupakan hakikat manusia terus menerus disibukkan untuk memenuhi kebutuhan tubuh hingga terjerat pada tubuh dan tunduk pada kendali hasrat untuk mengurusi tubuh. Jiwa kehilangan kendalinya terhadap tubuh dan beralih pada hasrat sebagai pemegang kendali penuh bagi tubuh dan jiwa manusia.