Minggu, 18 September 2016

Makhluk-Pengumpul; Sebuah Refleksi Tentang Manusia

Manusia pada dasarnya adalah makhluk-pengumpul
Sumber: Koleksi pribadi, 2016

Jika mendengar istilah makhluk-pengumpul banyak dari kita akan langsung teringat dan mengkaitkannya dengan fase awal peradaban manusia sebelum hidup menetap dengan sistem bertani, yakni mengumpulkan makanan dan berburu (food gathering and hunting). Mengumpulkan makanan merupakan salah satu perilaku yang dilakukan manusia sebagai makhluk-pengumpul yang bertujuan untuk mempertahankan keberlanjutan hidupnya. Tidak semua perilaku mengumpulkan-sesuatu yang dilakukan manusia didasari dorongan naluri sebagaimana perilaku mengumpulkan makanan karena manusia merupakan makhluk sempurna yang dibekali akal dan hati. Karena akal dan hati jua, perilaku mengumpulkan-sesuatu yang dilakukan manusia menjadi sangat kompleks sebab melibatkan dimensi internal dirinya yang sangat dalam hampir tak berbatas-dasar.

Melalui tulisan ini saya hendak menyampaikan sebuah pandangan bahwa kita sebagai manusia merupakan makhluk-pengumpul. Perilaku mengumpulkan-sesuatu telah dilakukan sejak manusia pertama di alam dunia hingga kini dan dalam rentang waktu yang begitu panjang tersebut, perilaku mengumpulkan-sesuatu tidak hilang dalam gerak zaman. Kebertahanan perilaku mengumpulkan-sesuatu dalam gerak zaman menandakan bahwa perilaku tersebut bermakna bagi kehidupan manusia dan dibutuhkan bagi keberlanjutan kehidupannya. Pola perilaku yang terus berulang dalam putaran zaman tanpa putus menjadikannya lekat pada diri manusia dan menjadi bagian yang mendasar dalam kediriannya. 

Tulisan ini merupakan hasil refleksi saya terhadap beberapa kasus dan sepenggal pengalaman yang dikuatkan dengan contoh sederhana yang sudah jamak kita lakukan atau kita jumpai pada realitas keseharian yang bisa jadi tak sempat direfleksikan. Sebagai sebuah pandangan hasil refleksi, saya mendorong setiap pembaca untuk melakukan refleksi ke dalam diri agar mendapatkan kebenaran dan sifat general dari pandangan saya. Tentu saja sebagai sebuah pandangan pribadi, tulisan ini terbuka untuk dielaborasi, dikembangkan, dikritisi dan diuji agar menjadi ajeg sebagai sebuah pemikiran.