Minggu, 18 September 2016

Makhluk-Pengumpul; Sebuah Refleksi Tentang Manusia

Manusia pada dasarnya adalah makhluk-pengumpul
Sumber: Koleksi pribadi, 2016

Jika mendengar istilah makhluk-pengumpul banyak dari kita akan langsung teringat dan mengkaitkannya dengan fase awal peradaban manusia sebelum hidup menetap dengan sistem bertani, yakni mengumpulkan makanan dan berburu (food gathering and hunting). Mengumpulkan makanan merupakan salah satu perilaku yang dilakukan manusia sebagai makhluk-pengumpul yang bertujuan untuk mempertahankan keberlanjutan hidupnya. Tidak semua perilaku mengumpulkan-sesuatu yang dilakukan manusia didasari dorongan naluri sebagaimana perilaku mengumpulkan makanan karena manusia merupakan makhluk sempurna yang dibekali akal dan hati. Karena akal dan hati jua, perilaku mengumpulkan-sesuatu yang dilakukan manusia menjadi sangat kompleks sebab melibatkan dimensi internal dirinya yang sangat dalam hampir tak berbatas-dasar.

Melalui tulisan ini saya hendak menyampaikan sebuah pandangan bahwa kita sebagai manusia merupakan makhluk-pengumpul. Perilaku mengumpulkan-sesuatu telah dilakukan sejak manusia pertama di alam dunia hingga kini dan dalam rentang waktu yang begitu panjang tersebut, perilaku mengumpulkan-sesuatu tidak hilang dalam gerak zaman. Kebertahanan perilaku mengumpulkan-sesuatu dalam gerak zaman menandakan bahwa perilaku tersebut bermakna bagi kehidupan manusia dan dibutuhkan bagi keberlanjutan kehidupannya. Pola perilaku yang terus berulang dalam putaran zaman tanpa putus menjadikannya lekat pada diri manusia dan menjadi bagian yang mendasar dalam kediriannya. 

Tulisan ini merupakan hasil refleksi saya terhadap beberapa kasus dan sepenggal pengalaman yang dikuatkan dengan contoh sederhana yang sudah jamak kita lakukan atau kita jumpai pada realitas keseharian yang bisa jadi tak sempat direfleksikan. Sebagai sebuah pandangan hasil refleksi, saya mendorong setiap pembaca untuk melakukan refleksi ke dalam diri agar mendapatkan kebenaran dan sifat general dari pandangan saya. Tentu saja sebagai sebuah pandangan pribadi, tulisan ini terbuka untuk dielaborasi, dikembangkan, dikritisi dan diuji agar menjadi ajeg sebagai sebuah pemikiran. 

A. Kita Adalah Makhluk-Pengumpul.

Topik bahasan ‘mengumpulkan-sesuatu’ mulai terpikirkan saat beberapa pekan yang lalu saya dan istri berbincang mengenai kecenderungan pria untuk memiliki istri lebih dari seorang, sedangkan kecenderungan wanita ketika telah memiliki seorang suami maka telah cukup baginya. Persoalan ini kembali terlintas dalam pikiran saya ketika beberapa pekan yang lalu tanpa sengaja saat memilih dan memilah tumpukan buku di sebuah pasar buku lawas, saya mendengar obrolan antar sesama pemilik kios buku. Salah seorang dari mereka yang merupakan perokok berat dengan tegas menyatakan dukungan agar harga rokok dinaikkan hingga tidak terjangkau olehnya yang memiliki ekonomi menengah bawah. Menurutnya hanya dengan cara demikian kebiasaannya merokok dapat hilang karena keterbatasan ekonomi memaksanya mengambil keputusan rasional demi keberlanjutan kehidupan, yakni lebih penting membeli buku daripada membeli rokok. 

Jika kita ingat kembali masa kecil dahulu atau kita amati dunia anak-anak pada masa kini, mengumpulkan-sesuatu telah lekat dalam keseharian manusia sedari awal kehadirannya di alam dunia. Betapa antusiasnya anak-anak mengumpulkan kelereng, kartu bergambar tokoh kartun atau hadiah dari sebungkus makanan ringan. Seiring bertambahnya umur, perilaku yang sama masih terus kita lakukan dengan intensitas dan objek yang berbeda tanpa mengurangi rasa antusiasnya sebagaimana kita rasakan saat masa kecil dahulu. Perilaku mengumpulkan-sesuatu tidak pernah hilang dari diri kita, bahkan setelah baligh perilaku tersebut kita lakukan dalam keadaan sadar berdasar pertimbangan akal, tidak sebagaimana perilaku serupa pada saat kita kecil yang lebih banyak diputuskan dan dibentuk oleh lingkungan budaya dan lingkungan sosial daripada keputusan personal yang rasional. 

Dikaitkan dengan paragraf pertama, walaupun terkesan kasar, memiliki istri lebih dari satu merupakan perilaku mengumpulkan-sesuatu, dalam hal ini sesuatu yang dikumpulkan adalah wanita yang berstatus sebagai istri. Dalam kasus yang kedua, keputusan rasional pemilik kios buku mengalihkan uang jatah membeli rokok untuk membeli buku juga merupakan perilaku mengumpulkan-sesuatu, yakni mengumpulkan buku untuk menambah jumlah koleksinya maupun untuk dijual di kios miliknya. Berangkat dari dua kasus tersebut, secara induktif saya menarik kesimpulan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk-pengumpul.

Untuk dapat disimpulkan bahwa seluruh manusia adalah makhluk-pengumpul, maka objek yang dikumpulkan harus memiliki batasan yang luas agar mencakup seluruh realitas manusia yang serba beragam dalam kehidupan keseharian. Secara konseptual perilaku mengumpulkan-sesuatu meliputi objek yang bersifat fisikal dan objek non fisikal. Ojek yang bersifat fisikal di antaranya meliputi emas, berlian, uang, hunian, kendaraan, buku dan sebagainya. Sementara objek yang bersifat non fisikal di antaranya gelar akademis, nilai hasil belajar, prestasi, ilmu dan bahkan pahala kebaikan. Tidak mudahnya dipahami bahwa seluruh manusia adalah makhluk-pengumpul disebabkan pandangan kebanyakan manusia bahwa mengumpulkan-sesuatu hanya terbatas pada objek yang bersifat fisikal, sedangkan dalam realitanya tidak semua manusia merupakan pengumpul objek fisikal. Pandangan tersebut dapat dipahami karena mengumpulkan objek fisikal lebih mudah untuk disadari dan diamati oleh pelaku dan pengamat daripada mengumpulkan objek yang bersifat non fisikal. 

Mengumpulkan-sesuatu merupakan perilaku yang bertujuan. Adanya tujuan menjamin keberlangsungan dan keberlanjutan perilaku karena tujuan merupakan motivasi bagi pelaku untuk menjaga bahkan meningkatkan intensitas perilaku mengumpulkan-sesuatu yang dilakukannya. Selain itu, adanya tujuan menjawab pertanyaan yang sangat mendasar terkait dengan motif perilaku, yakni untuk apa manusia mengumpulkan-sesuatu. Dengan adanya tujuan, perilaku mengumpulkan-sesuatu menjadi bermakna bagi pelakunya. Sebab itu tidak mudah melarang atau menghentikan perilaku mengumpulkan suatu objek yang sudah dilakukan seseorang dalam jangka waktu panjang, karena perilaku itu sendiri dan objek yang dikumpulkan bermakna bagi kehidupan pelakunya.

Tujuan mengumpulkan-sesuatu bersumberkan dari keyakinan yang dianut oleh pelaku, begitu pula dengan motif yang melatar belakangi perilaku. Untuk mencapai suatu tujuan hanya dimungkinkan dengan mengumpulkan objek spesifik yang ditentukan pula oleh keyakinan yang dianut pelaku. Keyakinan menjadi sangat sentral karena merupakan sumber bagi motif perilaku, proses perilaku, objek yang dikumpulkan dan tujuan mengumpulkan objek. Dari sini dapat dipahami bahwa perilaku mengumpulkan-sesuatu secara mendasar dimiliki oleh seluruh manusia, tetapi setiap manusia dan komunitas manusia memiliki ciri khasnya sendiri terkait perilaku mengumpulkan-sesuatu disebabkan perbedaan keyakinan yang dianut. 

Perbedaan keyakinan yang dianut manusia menjadikan perilaku mengumpulkan-sesuatu memiliki tujuan yang beragam. Di tengah keberagaman tujuan tersebut terdapat kerangka-umum untuk seluruh tujuan yang berbeda yakni (1) tujuan psikologis; dan (2) tujuan sosial. Secara psikologis, mengumpulkan-sesuatu bertujuan mencapai kepuasan diri melalui perilaku mengumpulkan-sesuatu itu sendiri dan objek yang dikumpulkan. Keduanya dapat menghadirkan kepuasan dikarenakan bermakna bagi diri pelaku. Tujuan kepuasan diri dari mengumpulkan-sesuatu membuktikan bahwa kepuasan tidak dapat dicapai dengan intensitas perilaku yang rendah yang ditunjukkan dengan kepemilikan satu buah objek. Kepuasan diri hanya dapat dicapai melalui akumulasi kepemilikan terhadap sesuatu, semakin banyak sesuatu tersebut dimiliki maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dicapai. Untuk itu dibutuhkan intensitas perilaku mengumpulkan-sesuatu yang tinggi agar semakin banyak objek dapat dimiliki. 

Secara sosial, mengumpulkan-sesuatu bertujuan meraih pengakuan dan status di dalam sebuah komunitas. Perilaku mengumpulkan-sesuatu selalu melibatkan lingkungan sosial sebab dalam proses mengumpulkan suatu objek akan membentuk dan melibatkan relasi sosial yang secara perlahan akan membentuk sebuah komunitas sosial. Dengan demikian, manusia sebagai makhluk-pengumpul selalu menjadi bagian dari sebuah komunitas pengumpul yang dilandasi ketertarikan terhadap objek yang sama. Ditinjau dari tujuan sosialnya, kebermaknaan mengumpulkan-sesuatu tidak saja berasal dari perilaku itu sendiri dan objek yang dikumpulkan, tetapi juga kebermaknaan yang dirasakan pelaku menjadi bagian dari sebuah komunitas pengumpul yang menaunginya.

Perubahan ketertarikan pada objek yang dikumpulkan bisa jadi disebabkan oleh alasan personal karena tidak mampu mencapai kepuasan diri atau disebabkan tidak mampu mendapatkan pengakuan dan status dalam sebuah komunitas pengumpul, sehingga komunitas tersebut tidak lagi bermakna bagi pelaku. Sebab manusia adalah makhluk-pengumpul, maka manusia sepanjang hidupnya hanya berpindah dari satu objek yang dikumpulkan ke objek lain dan dari satu komunitas pengumpul ke komunitas lain. Perubahan ketertarikan pada objek yang dikumpulkan diiringi dengan perpindahan komunitas pengumpul. Ketika seseorang memutuskan untuk berhenti menjadi makhluk-pengumpul, maka seketika itulah dirinya berada di luar komunitas. Seketika itu pula hidupnya menjadi tidak bermakna karena ketiadaan tujuan hidup. Pada titik ini manusia merasakan kekosongan dalam hidup dan ketiadaan semangat untuk menjalani hidup.

Pengakuan dan status dalam sebuah komunitas pengumpul dicapai dengan menjadi pengumpul objek terbanyak di antara anggota lainnya. Upaya mendapatkan pengakuan dan status telah kita perjuangkan sejak kecil dahulu saat berambisi mengumpulkan jumlah kelereng terbanyak dengan cara mengalahkan seluruh anggota komunitas pengumpul kelereng di lingkungan kita atau menjadi pencetak gol terbanyak di dalam komunitas penghobi sepakbola di lingkungan kita. Begitupula pada hari ini produktifitas karya dan capaian prestasi menjadi ukuran dalam komunitas profesi yang tengah kita geluti dari hari demi hari untuk mendapatkan pengakuan dan status sebagai bagian dari komunitas tersebut. Tidak lupa teknologi informasi yang menyediakan ladang baru bagi manusia untuk menjadi pengumpul pertemanan-virtual dan ‘like’ di berbagai media sosial. 

Tujuan mengumpulkan-sesuatu menyedot perhatian, ambisi dan gairah pelakunya, sehingga seluruh sumber daya yang dimiliki dikerahkan untuk mengumpulkan suatu objek yang menjadi ketertarikannya. Pada umumnya manusia hanya memiliki kecenderungan mengumpulkan satu jenis objek. Berarti jika telah memiliki ambisi terhadap suatu objek, maka dirinya tidak lagi memiliki ketertarikan terhadap objek lain. Kalaupun seseorang memiliki ketertarikan terhadap lebih dari satu objek, kecenderungannya antar jenis objek yang dikumpulkan memiliki kait hubungan yang erat. Contoh saja seseorang yang berambisi mengumpulkan buku, maka tidak lagi memiliki ketertarikan untuk mengumpulkan objek yang lain. Kalaupun memiliki ketertarikan dengan objek yang lain, maka objek tersebut memiliki keterkaitan yang erat dengan buku, seperti tanda tangan penulis buku atau foto bersama penulis buku. Mengumpulkan lebih dari satu objek yang tidak memiliki kait hubungan akan memecah perhatian dan ketidak-optimalan penyaluran sumber daya yang dimiliki, akibatnya perilaku mengumpulkan-sesuatu menjadi tidak lagi bermakna bagi diri pelakunya.

Setiap manusia memiliki ketertarikan yang berbeda-beda terhadap suatu objek, begitu pula dengan intensitas mengumpulkan suatu objek yang dipengaruhi oleh faktor (1) keyakinan yang dianut; (2) umur; (3) jenis kelamin; (4) lingkungan budaya; (5) lingkungan sosial; (6) lingkungan geogafis; (7) kemampuan ekonomi; dan (8) kondisi zaman. Kedelapan faktor tersebut saling berkaitan dan membentuk jaringan-faktor di mana setiap faktor memiliki kedudukan dan kadar pengaruh yang berbeda bagi setiap komunitas. Bagi kalangan penganut determinisme lingkungan, faktor lingkungan geografis memiliki pengaruh paling kuat diantara faktor lainnya. Sementara bagi kalangan penganut kulturalisme-struktural, lingkungan budaya menjadi penentu dari objek dan intensitas mengumpulkan objek yang dilakukan. Sedangkan bagi kalangan umat Islam, faktor keyakinan menjadi asas sekaligus pengontrol faktor lainnya. Bagian terakhir inilah yang akan saya jabarkan pada bagian selanjutnya dari tulisan ini. 

B. Makhluk-Pengumpul Dalam Pandangan Islam.

Mengumpulkan-sesuatu sebagai perilaku mendasar manusia tidak ditentang oleh Islam dan Islam tidak berupaya meniadakannya. Untuk memberi keselamatan kepada setiap hamba, Islam mengatur, mengkontrol dan mengarahkan perilaku mengumpulkan-sesuatu agar berkesesuaian dengan fitrah manusia, yakni pada aspek tujuan, motif, objek dan intensitas. Dari aspek tujuannya, Islam menghendaki seluruh perilaku manusia Muslim ditujukan hanya untuk mencapai keselamatan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Perilaku mengumpulkan-sesuatu yang dilakukan setiap hamba di alam dunia harus dihubungkannya dengan alam akhirat karena muara kehidupan dunia adalah akhirat. Untuk itu perilaku mengumpulkan-sesuatu dalam pandangan Islam harus mewujud dalam bentuk amal-shalih agar perilaku tersebut memberi kebermanfaatan bagi diri pelakunya dan bagi lingkungan di sekitarnya.

Tujuan perilaku mengumpulkan-sesuatu yang ditetapkan oleh Islam hanya dapat dicapai berdasar motif beribadah kepada Allah sebagai hamba-Nya dan melakukan perilaku tersebut sebagai upaya memakmurkan dunia sebagai wakil-Nya. Dikaitkan dengan motif perilaku dalam Islam, kepuasan psikologis dari mengumpulkan-sesuatu dicapai ketika seorang hamba merasakan gerak iman mendekat kepada-Nya dan melihat suburnya manfaat yang dirasakan lingkungan sekitar sebab perilakunya. Kedudukan dan pengakuan sosial yang diraihnya tak menjadi tujuan, sekedar wasilah untuk semakin giat beribadah dan menebar kebaikan melalui perilaku mengumpulkan-sesuatu yang dilakukan. 

Untuk mengarahkan seorang hamba agar tetap pada tujuan dan motif perilakunya sekaligus mencegah seorang hamba terjangkit kesombongan sebab pencapaian diri yang berhasil diraih, Islam memiliki mekanisme penyucian jiwa manusia. Di sinilah aspek lahir dan batin seorang hamba bersatu padu beribadah kepada Allah dalam kerangka amal shalih. Laku lahirnya mengumpulkan-sesuatu dan laku batinnya berniat karena Allah semata. Tidak dapat dikatakan sebagai amal shalih jika hanya laku lahir tanpa batin menyertai, walaupun menghasilkan manfaat bagi lingkungan sekitar dikarenakan perilaku mengumpulkan-sesuatu yang dilakukan telah memudharatkan diri pelakunya, yakni terjangkitinya hati dari penyakit. Inilah ciri khas pertama manusia-pengumpul dalam Islam berkaitan dengan konsep perilaku, tujuan berikut motifnya yang membedakan secara asasi perilaku mengumpulkan-sesuatu yang dilakukan manusia Muslim dengan selainnya.

Tujuan mengumpulkan-sesuatu yang telah ditetapkan Islam mensyaratkan objek yang dikumpulkan dan intensitas perilaku yang dilakukan harus berasaskan pada Islam. Dari aspek objek yang dikumpulkan, Islam menyediakan batas-batas bagi seorang hamba. Di dalam batas-batas tersebut terdapat objek yang dihukumi mubah, sunnah hingga wajib. Sedangkan di luar batas-batas tersebut merupakan objek yang memudharatkan diri pelaku dan lingkungan sekitarnya, sehingga dihukumi makruh atau haram. Begitupula aspek intensitas perilaku mengumpulkan-sesuatu, Islam menyediakan batas agar seorang hamba tidak berlebih-lebihan yang dapat menyebabkan keburukan bagi diri pelaku dan lingkungan sekitarnya, seperti melalaikan diri pelaku dari perkara yang wajib dan lebih utama.

Dalam pandangan Islam, antara objek yang dikumpulkan dengan intensitas perilaku mengumpulkan tidaklah berdiri sendiri, tetapi saling terhubung membentuk kesatupaduan. Objek yang dikumpulkan bisa jadi berstatus mubah, tetapi jika intensitas mengumpulkannya melebihi batas maka status hukum perilaku mengumpulkan-sesuatu bisa berubah menjadi makruh bahkan haram. Inilah ciri khas kedua manusia-pengumpul dalam Islam berkaitan dengan objek dan intensitas perilaku mengumpulkan-sesuatu. Ciri khas yang kedua ini haruslah disandarkan pada ciri khas pertama di atas karena bisa jadi secara lahir, objek dan intensitas mengumpulkan-sesuatu yang dilakukan manusia Muslim memiliki kesaman dengan selainnya, tetapi secara batin terdapat perbedaan.

Kedua ciri khas makhluk-pengumpul dalam Islam sebagaimana telah disampaikan di atas, membentuk jalinan struktur kait hubungan di mana ciri khas yang pertama adalah asas bagi yang kedua, sementara ciri khas yang kedua hadir sebagai syarat mencapai yang pertama. Secara praktis, ciri khas makhluk pengumpul dalam Islam berfungsi sebagai variabel untuk memahami dan menilai perilaku mengumpulkan-sesuatu yang dilakukan oleh setiap manusia Muslim, apakah telah sesuai dengan nilai dan batas Islam ataukah melampauinya.

Untuk lebih mudah dipahami, saya akan beralih pada penerapan variabel makhluk-pengumpul dalam pandangan Islam pada beberapa kasus. Dari aspek objeknya, Islam memperbolehkan seorang pria memiliki istri lebih dari satu. Bahasa kasarnya dikaitkan dengan topik tulisan ini adalah mengumpulkan wanita yang berstatus sebagai istri. Itupun tidak semua wanita dapat diperistri karena Islam memiliki syarat wanita yang dapat dinikahi dan tidak dapat dinikahi oleh seorang pria Muslim. Dari aspek intensitas perilakunya agar tidak melebihi batas, Islam menetapkan intensitas memiliki istri bagi seorang pria hanya sejumlah 4 orang istri.

Kedua variabel di atas harus disandarkan pada variabel tujuan dan motif perilaku. Tujuan perilaku poligami tidak lain untuk meraih pahala yang memberatkan timbangan amal shalih pelakunya di akhirat. Perilaku poligami agar mencapai tujuan tersebut haruslah berdasar motif beribadah kepada Allah, bukan atas dorongan hawa nafsu untuk melegalkan dan mencapai kepuasan hubungan seksual. Motif ibadah juga ditujukan untuk menekan munculnya kesombongan dengan merendahkan pihak lain yang tidak mampu memiliki istri lebih dari seorang. Selain motif yang bersifat personal, tujuan akhirat dari perilaku poligami dicapai dengan motif meringankan beban kehidupan pihak wanita karena orientasi poligami dalam Islam adalah untuk memberi manfaat kepada wanita yang diperistri. Sebab itu Islam menetapkan batas yang tinggi agar seorang pria tidak bermudah-mudahan melakukan perilaku poligami dikarenakan tanggungjawab dan amanah yang tidak ringan, yakni syarat mampu berlaku adil terhadap seluruh wanita yang diperistri agar tidak memudharatkan salah satu pihak istri.

Secara konseptual, untuk mengalihkan ambisi seorang pria memiliki istri lebih dari seorang adalah dengan mengarahkan ketertarikannya pada objek selain wanita. Kira-kira inilah tanggapan yang saya sampaikan kepada istri saat kami berbincang tentang kecenderungan pria untuk memiliki istri lebih dari seorang. Sedangkan bagi wanita keinginan untuk memiliki suami lebih dari seorang tidak dibenarkan dalam Islam, sehingga ambisinya untuk mengumpulkan-sesuatu teralihkan pada objek selain pria. Pada umumnya perilaku mengumpulkan-sesuatu yang dilakukan wanita Muslimah ialah seputar pakaian, aksesoris kewanitaan, kosmetik dan lain sebagainya, tidak terkecuali kalangan yang sangat giat mengkampanyekan jilbab syar’i. Hal tersebut wajar selama berkesesuaian dengan nilai dan batasan Islam karena pada dasarnya pria dan wanita adalah makhluk-pengumpul.

Dalam struktur objek yang diperbolehkan untuk dikumpulkan oleh seorang hamba, Islam menetapkan ilmu sebagai objek yang memiliki kedudukan tertinggi di antara objek lainnya dan menempatkan pengumpul ilmu pada kedudukan tertinggi di antara pengumpul objek lainnya. Menetapkan ilmu sebagai puncak dalam struktur objek yang dikumpulkan menunjukkan bahwa Islam menempatkan kedudukan objek non fisik lebih tinggi daripada objek fisik karena objek non fisik berkaitan dengan jiwa yang menjadi hakikat kedirian manusia. Sementara objek fisik berkaitan dengan lahir manusia yang merupakan kendaraan bagi jiwa selama berada di alam dunia. 

Islam yang bertujuan untuk memuliakan dan meninggikan derajat manusia mewajibkan setiap manusia Muslim untuk menjadi pengumpul ilmu sejak baligh hingga jasadnya berakhir di liang lahad, tidak lain karena posisi ilmu sangat asasi dan sentral dalam kehidupan manusia. Tanpa ilmu, seluruh perilaku tidak dapat memenuhi syarat sebagai amal shalih. Karenanya perilaku mengumpulkan-sesuatu yang mewujud amal shalih oleh manusia Muslim mensyaratkan ilmu yang mendasarinya agar tidak menyelisihi nilai dan batasan Islam. Tidak aneh jika memperhatikan kedudukan ilmu yang sangat tinggi dan posisinya yang sangat sentral, kemudian Islam menimbang kedudukan manusia berdasarkan derajat ilmu yang berbuah ketakwaan dalam diri setiap manusia. 

Sepanjang Peradaban Islam, bahkan hingga kini, selalu terdapat manusia Muslim yang berkhidmat mengumpulkan ilmu. Tradisi mengumpulkan ilmu yang diwarisi dari generasi pertama umat Islam hingga zaman kini menjadikan Peradaban Islam identik dengan ilmu, pengembangan ilmu dan pemberadaban manusia. Ambisi manusia Muslim yang begitu besar terhadap ilmu tidak hanya dilampiaskan pada perilaku mengumpulkan ilmu itu sendiri, tetapi juga disalurkan pada perilaku mengumpulkan objek lain yang masih memiliki kait hubungan yang erat dengan ilmu, yakni buku dan guru. Begitu banyak riwayat yang sampai kepada generasi kita perihal jumlah buku dan guru yang dimiliki ulama terdahulu menjadi penanda kedalaman dan ketinggian ilmu yang dikuasai. Pencapaian ilmu yang disokong jumlah buku dan guru yang dimiliki menjadikan sosok-sosok pengumpulnya masih dihormati hingga zaman kini karena menempati kedudukan yang terhormat dalam struktur sosial-teologis masyarakat Muslim yang lekat dengan tradisi mengumpulkan ilmu. 

Ilmu memang memiliki keunikan di antara objek lain yang dapat dikumpulkan manusia. Jika perilaku mengumpulkan-sesuatu selain ilmu mensyaratkan ilmu sebagai dasar agar tidak memudharatkan diri pelaku dan lingkungan sekitarnya, maka para pengumpul ilmu dengan kepemilikan ilmu yang tersimpan di dalam jiwanya menjadikan seiring perilaku yang dilakukan justru semakin meningkatkan kualitas diri pelakunya hingga mencapai tingkatan manusia-paripurna. Sifat ilmu yang demikian menjadikan halus jiwa pengumpulnya yang mewujud dalam kehalusan pikir, wicara dan perilaku. Seseorang yang mengaku sebagai pengumpul ilmu, tetapi justru dijangkiti penyakit hati dan keburukan lahir, maka dipastikan yang dikumpulkannya bukanlah ilmu yang benar sebagaimana pandangan Islam tentang ilmu. 

Makhluk-pengumpul dalam Islam adalah seorang hamba yang giat mengumpulkan bekal selama perjalanan menuju rumahnya di akhirat. Tujuannya tidak lain untuk bertemu kembali dengan Kekasih yang akan menimbang dan menilai objek hasil kumpulannya selama di dunia. Bagi seorang Muslim, setiap objek yang dikumpulkannya terselip harap agar Kekasih ridha, sehingga kepulangannya dinanti. Manusia-pengumpul dalam Islam ialah sosok yang tidak saja dicinta Penciptanya, tapi juga didamba dan disanjung seluruh makhluk di bumi karena objek yang dikumpulkannya tidak hilang sebab kepergian sang pelaku. Objek yang dikumpulkannya terus menebarkan terang bagi yang masih berkutat dengan perilaku mengumpulkan-sesuatu.

Allahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Kartasura pada Dzulhijjah 1437 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar