Kamis, 06 Oktober 2016

Wujud-Gagasan Arsitektur Islam Dalam Pendekatan Psiko-Kultural

A. Pengantar

Setelah dalam tulisan terdahulu yang berjudul “Upaya Meretas Jalan Tengah; Pendekatan Psiko-Kultural Dalam Arsitektur Islam” saya memaparkan sekilas dua proposisi yang menjadi sandaran bagi pendekatan Arsitektur Islam yang saya rumuskan, dalam beberapa tulisan mendatang saya akan menjabarkan kedua proposisi tersebut agar pemikiran Arsitektur Islam dengan pendekatan Psiko-Kultural dapat dipahami dengan benar dan jelas sebagaimana saya kehendaki.

Proposisi pertama yakni, Arsitektur Islam sebagai hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim memiliki wujud gagasan-perilaku-artefak yang bersumberkan dari Islam dan merupakan satu kesatuan struktural, didasari dua asumsi yang saling terkait. Asumsi pertama, Arsitektur Islam merupakan hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim, baik dalam lingkup individu maupun komunal. Posisinya sebagai hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim perlu ditekankan agar dapat dipahami perbedaan kedudukan antara Arsitektur Islam dan Islam serta kait hubungan antara keduanya. Yang pertama berkedudukan sebagai hasil cipta budaya manusia Muslim, sedangkan yang kedua berkedudukan sebagai Diin yang diwahyukan Allah kepada Rasul Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Islam sebagai Diin merupakan sumber serta asas bagi penciptaan wujud Arsitektur Islam yang menjadikan Islam memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada Arsitektur Islam. Hubungan demikian menjadikan Arsitektur Islam mutlak membutuhkan Islam untuk dapat hadir karena yang dicipta mutlak membutuhkan sumber penciptaannya.

Kedudukan Arsitektur Islam sebagai hasil kerja-kreatif-budaya selain mensyaratkan kehadiran Islam sebagai sumber dan asas bagi penciptaan Arsitektur Islam juga mensyaratkan kehadiran manusia Muslim sebagai pelaku kerja budaya yang menghadirkan Arsitektur Islam dari sumber Islam. Inilah yang menjadi asumsi kedua dari proposisi pertama yang mendasari pendekatan Psiko-Kultural dalam Arsitektur Islam. Dalam asumsi kedua, manusia Muslim didudukkan sebagai subjek-aktif dengan kepemilikan Islam di dalam dirinya melakukan kerja-kreatif-budaya untuk menghadirkan wujud Arsitektur Islam dari ranah gagasan, perilaku dan artefak.