Kamis, 06 Oktober 2016

Wujud-Gagasan Arsitektur Islam Dalam Pendekatan Psiko-Kultural

A. Pengantar

Setelah dalam tulisan terdahulu yang berjudul “Upaya Meretas Jalan Tengah; Pendekatan Psiko-Kultural Dalam Arsitektur Islam” saya memaparkan sekilas dua proposisi yang menjadi sandaran bagi pendekatan Arsitektur Islam yang saya rumuskan, dalam beberapa tulisan mendatang saya akan menjabarkan kedua proposisi tersebut agar pemikiran Arsitektur Islam dengan pendekatan Psiko-Kultural dapat dipahami dengan benar dan jelas sebagaimana saya kehendaki.

Proposisi pertama yakni, Arsitektur Islam sebagai hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim memiliki wujud gagasan-perilaku-artefak yang bersumberkan dari Islam dan merupakan satu kesatuan struktural, didasari dua asumsi yang saling terkait. Asumsi pertama, Arsitektur Islam merupakan hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim, baik dalam lingkup individu maupun komunal. Posisinya sebagai hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim perlu ditekankan agar dapat dipahami perbedaan kedudukan antara Arsitektur Islam dan Islam serta kait hubungan antara keduanya. Yang pertama berkedudukan sebagai hasil cipta budaya manusia Muslim, sedangkan yang kedua berkedudukan sebagai Diin yang diwahyukan Allah kepada Rasul Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Islam sebagai Diin merupakan sumber serta asas bagi penciptaan wujud Arsitektur Islam yang menjadikan Islam memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada Arsitektur Islam. Hubungan demikian menjadikan Arsitektur Islam mutlak membutuhkan Islam untuk dapat hadir karena yang dicipta mutlak membutuhkan sumber penciptaannya.

Kedudukan Arsitektur Islam sebagai hasil kerja-kreatif-budaya selain mensyaratkan kehadiran Islam sebagai sumber dan asas bagi penciptaan Arsitektur Islam juga mensyaratkan kehadiran manusia Muslim sebagai pelaku kerja budaya yang menghadirkan Arsitektur Islam dari sumber Islam. Inilah yang menjadi asumsi kedua dari proposisi pertama yang mendasari pendekatan Psiko-Kultural dalam Arsitektur Islam. Dalam asumsi kedua, manusia Muslim didudukkan sebagai subjek-aktif dengan kepemilikan Islam di dalam dirinya melakukan kerja-kreatif-budaya untuk menghadirkan wujud Arsitektur Islam dari ranah gagasan, perilaku dan artefak.

Islam yang terdapat di dalam diri manusia Muslim merupakan capaian dari upaya memahami dan menghayati Islam yang diwahyukan Allah kepada Rasul Muhammad serta dijelaskan dan diamalkan oleh beliau Shalallahu Alaihi Wasallam. Manusia Muslim sebagai subjek-aktif senantiasa berupaya mencapai idealitas Islam yang telah ditetapkan oleh Allah melalui pribadi Rasul Muhammad sebagai uswah hasanah. Berdasar cara pandang ini sejarah umat Islam dapat dipandang sebagai sejarah perjuangan mencapai idealitas Islam, baik secara individu maupun komunal. Dalam upaya tersebut tidak setiap individu manusia Muslim mencapai titik idealitas Islam disebabkan perbedaan kadar pemahaman dan penghayatan terhadap Islam, sehingga membentuk perbedaan kadar Islam di dalam diri setiap manusia Muslim.

Dalam Islam, subjek-aktif yang erat dengan konsep gerak dan kerja terangkum dalam istilah amal. Amal yang dilakukan manusia Muslim sangat tergantung pada kadar Islam di dalam diri pelakunya karena amal merupakan wujud eksternalisasi iman sekaligus sebagai wujud pembuktian iman yang bersemayam di dalam hati. Pernyataan tersebut memuat dua prinsip yakni (1) kualitas amal yang dilakukan manusia Muslim berbanding lurus dengan kadar Islam di dalam dirinya; dan (2) kadar Islam di dalam diri manusia Muslim dapat diketahui dari wujud amal yang ditampakkannya. Prinsip pertama membawa pada konsekuensi bahwa setiap penciptaan wujud Arsitektur Islam yang dilakukan oleh manusia Muslim memiliki kualitas yang beragam dan bertingkat-tingkat sesuai dengan kadar Islam di dalam diri penciptanya. Sedangkan prinsip kedua memposisikan wujud Arsitektur Islam sebagai cermin bagi kualitas manusia Muslim penciptanya yang memungkinkan ditelusurinya kadar Islam di dalam diri melalui wujud Arsitektur Islam yang merupakan hasil dari amal yang dilakukan.

Selain kadar Islam di dalam diri, terdapat faktor lain yang mempengaruhi kualitas wujud Arsitektur Islam hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim, yakni kepemilikan ilmu pengetahuan arsitektur dan tradisi praktik arsitektur yang berasaskan, berpandukan dan terinspirasi dari Wahyu Ilahi. Faktor ini merupakan jembatan yang menghubungkan antara Islam yang terdapat di dalam diri manusia Muslim dengan wujud Arsitektur Islam. Ketidak-hadiran atau penolakan terhadap kehadiran faktor tersebut menjadikan Islam yang terdapat di dalam diri manusia Muslim tidak dapat dieksternalisasi melalui mekanisme amal dalam bidang arsitektur. Dari sini dapat ditarik syarat-syarat bagi kehadiran wujud Arsitektur Islam yakni (1) Islam di dalam diri manusia pencipta; dan (2) kepemilikan ilmu pengetahuan arsitektur; serta (3) tradisi praktik arsitektur yang berasaskan, berpandukan dan terinspirasi dari Wahyu Ilahi. Kadar Islam yang tinggi di dalam diri manusia Muslim akan mengalami hambatan untuk dieksternalisasi ke dalam wujud-arsitektur jika tidak didukung oleh kepemilikan dua poin yang terakhir. Sedangkan dua poin yang terakhir membutuhkan poin yang pertama sebagai syarat mutlak dalam penciptaan wujud Arsitektur Islam.

Dalam Islam, amal dapat bernilai baik maupun buruk. Amal yang bernilai baik disebut dengan amal-shalih yang mensyaratkan hadirnya iman dan ilmu yang mendasari amal. Dikaitkan dengan ketiga syarat kehadiran wujud Arsitektur Islam, sebagaimana dipaparkan di atas, penciptaan wujud Arsitektur Islam yang dilakukan manusia Muslim tergolong sebagai amal-shalih karena memenuhi persyaratan sebagai amal-shalih di mana syarat nomer 1 merupakan syarat iman dan syarat nomer 2 dan 3 merupakan syarat ilmu. Berkebalikan dari amal-shalih, amal yang bernilai buruk merupakan amal yang tidak didasari oleh iman atau ilmu atau keduanya. Konsekuensinya, penciptaan wujud arsitektur yang dilakukan oleh manusia Muslim jika tidak memenuhi syarat iman dan ilmu menjadikannya tergolong sebagai amal yang buruk, karenanya wujud arsitektur yang dicipta tidak dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Islam. Ketiadaan salah satu syarat menyebabkan dalam proses penciptaan wujud arsitektur yang dilakukan manusia Muslim tidak melibatkan Islam yang berada di dalam diri penciptanya, sehingga menyebabkan wujud arsitektur yang hadir tidak memuat Islam dan tidak merepresentasikan Islam. Dengan demikian, penciptaan wujud Arsitektur Islam hanya dapat dilakukan melalui mekanisme amal-shalih yang berdasar pada iman dan ilmu.

Gambar 1: Penghadiran Arsitektur Islam melalui mekanisme amal-shalih
Sumber: Analisa, 2016

Kedua asumsi yang mendasari proposisi pertama pendekatan Psiko-Kultural dalam Arsitektur Islam menempatkan unsur manusia Manusia pada posisi yang sentral sebagai subjek-aktif pelaku kerja budaya. Penekanan pada unsur manusia menjadikan pengkajian Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural tidak sebatas dan terbatas pada persoalan wujud-artefak, karena kehadiran fisik arsitektur barulah bermakna jika dikaitkan dengan sosok manusia Muslim penciptanya. Sekilas mengutip pembahasan pada tulisan terdahulu, yakni wujud-gagasan mendahului wujud-artefak dan wujud-perilaku merupakan penghubung antara wujud-gagasan dengan wujud-artefak, semakin menegaskan kedudukan manusia Muslim sebagai unsur yang sentral karena merupakan lokus bagi penciptaan wujud Arsitektur Islam dalam artian penciptaan wujud Arsitektur Islam terjadi di dalam diri manusia Muslim serta wadah bagi wujud-gagasan dan wujud-perilaku Arsitektur Islam. Tanpa didahului oleh wujud-gagasan dan wujud-perilaku, maka wujud-artefak tidak akan hadir. Dengan kata lain, tanpa dilibatkannya unsur manusia Muslim maka Arsitektur Islam tidak akan hadir.

Di mulai dari tulisan ini saya akan menjabarkan satu persatu dari tiga wujud Arsitektur Islam dalam kerangka pendekatan Psiko-Kultural. Pembahasan dimulai dari wujud-gagasan yang bersifat abstrak, dilanjutkan pada tulisan selanjutnya dengan wujud-perilaku yang menengahi antara dua wujud lainnya dan diakhiri dengan tulisan seputar wujud-artefak yang bersifat paling konkret di antara ketiga wujud lainnya. Urutan demikian membentuk alur pembahasan dalam rangkaian tulisan ini yang berawal dari dalam diri manusia menuju lingkungan di luar diri manusia. Pembahasan dalam tulisan ini akan diawali dengan menelisik kait hubungan wujud-gagasan dengan dimensi keimanan manusia penciptanya, dilanjutkan dengan faktor pembentuk wujud-gagasan Arsitektur Islam dan diakhiri dengan struktur wujud-gagasan Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural.

B. Keimanan dan Wujud-Gagasan

Wujud-gagasan terdiri dari gagasan-konseptual dan gagasan-praktis di mana yang pertama adalah sumber bagi yang kedua dan yang kedua adalah turunan dari yang pertama. Gagasan-konseptual merupakan gagasan-dalaman atau gagasan-inti atau gagasan-dasar yang bersifat sangat abstrak sementara gagasan-praktis merupakan gagasan-luaran yang menjembatani antara gagasan-konseptual yang abstrak dengan dunia realitas fisikal yang bersifat konkret. Dalam konteks perancangan arsitektur, gagasan-konseptual disebut dengan ide-awal atau konsep-dasar sementara gagasan-praktis disebut dengan persyaratan atau kriteria perancangan.

Perumusan gagasan-konseptual dilanjutkan dengan menurunkannya ke ranah gagasan-praktis. Semakin rinci gagasan-praktis dapat diturunkan dari gagasan-konseptual, maka semakin mudah gagasan-konseptual direalisasikan ke dalam wujud-artefak arsitektur dan sebaliknya pun semakin mudah ditelusuri akar gagasan yang melatar-belakangi terbentuknya wujud-artefak. Agar bahasan ini lebih mudah dipahami saya akan langsung menjelaskannya dalam contoh sederhana berikut. Semisal, konsep ‘Suci’ berposisi sebagai gagasan-konseptual dalam perancangan Arsitektur Masjid yang diturunkan ke ranah gagasan-praktis menjadi rangkaian kriteria perancangan (1) bentuk geometris murni; (2) bahan alami; (3) warna alami; (4) tekstur halus; dan seterusnya. Tanpa gagasan-praktis, gagasan-konseptual tidak dapat diterjemahkan ke dalam wujud-artefak arsitektur. Begitupula sebaliknya tanpa gagasan-konseptual, gagasan-praktis tidak memiliki akar filosofis, sehingga wujud-artefak yang hadir tidak memiliki daya penjelas dan sandaran.

Penciptaan wujud-gagasan bersandarkan pada suatu sistem nilai yang terbentuk dari suatu sumber nilai. Setiap sumber nilai memiliki nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan yang khas yang menjadi pembeda asasi antara setiap sumber nilai. Dalam perumusan wujud-gagasan arsitektur, sistem nilai berfungsi sebagai batasan agar wujud-gagasan yang dicipta memuat nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan yang diafirmasi oleh sumber nilai, sehingga wujud-gagasan yang dicipta mencerminkan sumber nilai yang digunakan. Dengan demikian, arsitektur menjadi tidak bebas-nilai atau bernilai universal karena dalam ranah wujud-gagasannya memuat nilai-nilai tertentu yang berakar dari sumber nilai tertentu. Dalam konteks Arsitektur Islam, sumber nilai bagi penciptaan wujud-gagasan ialah Wahyu Ilahi yang termuat dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasul Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Wujud-gagasan arsitektur yang dicipta manusia Muslim harus mendapatkan afirmasi dari kedua sumber tersebut, sehingga mencerminkan Islam dan karenanya dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Islam.

Wahyu Ilahi merupakan sumber nilai bagi penciptaan wujud-gagasan Arsitektur Islam sekaligus merupakan sumber keimanan bagi manusia Muslim sebagai pihak pencipta wujud-gagasan. Kesamaan sumber nilai keduanya membawa pada konsekuensi logis bahwasanya penciptaan wujud-gagasan Arsitektur Islam hanya dapat dilakukan oleh manusia Muslim karena hanya manusia Muslim yang meyakini kebenaran sumber nilai Islam. Dari sini didapatkan syarat bagi penciptaan wujud-gagasan Arsitektur Islam, yakni keyakinan terhadap kebenaran sumber nilai Islam yang ditindak-lanjuti dengan pengakuan terhadap kebenarannya melalui penciptaan wujud-gagasan. Tidak dapat dijelaskan manusia non Muslim yang secara teologis dan psikologis tidak memiliki kedekatan dengan sumber nilai Islam sebab tidak meyakini kebenarannya, dapat mencipta wujud-gagasan Arsitektur Islam dari sumber nilai Islam. 

Diposisikannya Al-Qur’an dan Hadits Rasul sebagai sumber nilai bagi penciptaan wujud-gagasan Arsitektur Islam membawa pada tiga konsekuensi. Pertama, Arsitektur Islam hanya dapat dirumuskan, dirancang dan direalisasikan oleh manusia Muslim dikarenakan mensyaratkan pihak penciptanya meyakini kebenaran al-Qur’an dan Hadits Rasul. Tidak diimaninya Wahyu Ilahi yang termuat dalam kedua sumber tersebut berarti tidak diyakini kebenaran sistem nilai yang menjadi batasan bagi perumusan wujud-gagasan. Dampaknya wujud-gagasan Arsitektur Islam tidak dapat dirumuskan karena ketiadaan sumber dan sistem nilai Islam. Absennya wujud-gagasan yang bersumberkan dari Wahyu Ilahi menjadikan wujud-artefak Arsitektur Islam tidak dapat hadir. 

Kedua, manusia Muslim sebagai pihak pencipta wujud Arsitektur Islam tidak dapat meminjam wujud-gagasan-konseptual dari arsitektur selain Islam karena wujud-gagasan-konseptual memiliki jarak paling dekat dengan sumber keimanan pihak penciptanya. Meminjam wujud-gagasan-konseptual arsitektur yang tidak berasaskan pada Al-Qur’an dan Hadits Rasul akan berdampak pada kualitas keimanan manusia Muslim disebabakan antara wujud-gagasan yang dipinjam dan keimanan yang terdapat di dalam dirinya berasal dari sumber yang berbeda, bahkan dampaknya akan semakin merusak jika wujud-gagasan-konseptual arsitektur yang dipinjam berakar dari sumber nilai yang bertentangan dengan Islam.

Dampak lainnya dari meminjam wujud-gagasan-konseptual yang tidak berasaskan pada Wahyu Ilahi adalah munculnya keterbelahan diri (split-personality) pada manusia Muslim, yakni tumbuhnya dua keimanan di dalam dirinya yang bersandarkan pada dua sumber nilai yang berbeda. Di suatu tempat dan waktu tertentu seorang Muslim menggunakan sumber keimanan Islam, sedangkan ketika mencipta wujud arsitektur ia menggunakan sumber keimanan yang berbeda. Keterbelahan diri merupakan akibat dari keterbelahan iman yang mengakibatkan seorang Muslim tidak dapat menggunakan sumber Islam untuk memandang realitas arsitektur dan menggunakan Islam yang berada di dalam dirinya sebagai sumber nilai bagi kebenaran, kebaikan dan keindahan dalam penciptaan wujud arsitektur. 

Ketiga, meminjam wujud-gagasan-praktis yang memiliki perbedaan sumber nilai dengan Arsitektur Islam tidak dapat dilakukan begitu saja. Menyerap wujud-gagasan-praktis oleh antar komunitas manusia dengan kepemilikan sumber nilainya masing-masing yang khas lumrah dilakukan, termasuk oleh kalangan manusia Muslim. Proses pinjam meminjam wujud-gagasan-praktis menjadi bermasalah jika didasari pandangan bahwa wujud-gagasan-praktis adalah bebas-nilai, yakni tidak memuat suatu nilai tertentu dan tidak berkaitan dengan suatu sumber nilai tertentu yang menjadikannya dapat diserap dan digunakan oleh seluruh komunitas manusia tanpa memandang dan mengkaitkannya dengan dimensi keimanan yang diyakini. Pandangan tersebut muncul karena sifat praktis atau siap-pakai dari wujud-gagasan-praktis, sehingga seakan tidak memuat nilai-nilai tertentu yang khas. 

Bagi manusia Muslim, menyerap dan meminjam wujud-gagasan-praktis arsitektur yang berasaskan sumber nilai selain Islam hanya dapat dilakukan melalui mekanisme Islamisasi agar wujud arsitektur yang dipinjam dapat dihubungkan dengan sumber nilai Islam dalam suatu kesatuan struktur Arsitektur Islam. Mekanisme Islamisasi dilakukan dengan cara (1) memisahkan wujud-gagasan-praktis arsitektur dari struktur asalnya; (2) membersihkan wujud-gagasan-praktis dari unsur, konsep kunci dan penjelasan atau tafsiran yang merupakan cerminan dari sumber nilainya; dan (3) memasukkan wujud-gagasan-praktis arsitektur yang diserap ke dalam struktur wujud Arsitektur Islam agar terhubung dengan sumber nilai Arsitektur Islam. Poin bahasan ini perlu untuk dijabarkan lebih lanjut dalam sebuah tulisan tersendiri, oleh karenanya saya cukupkan sampai di sini tanpa memberikan penjelasan yang memadai. 

C. Faktor Pembentuk Wujud-Gagasan

Ciri khas Arsitektur Islam yang tidak dimiliki arsitektur selainnya adalah diakuinya Wahyu Ilahi sebagai sumber nilai yang berkedudukan sebagai asas, panduan, inspirasi dan tauladan bagi penciptaan wujud Arsitektur Islam. Sebagai asas, Wahyu Ilahi menyediakan asumsi-asumsi dasar dalam penciptaan wujud-gagasan Arsitektur Islam berkaitan dengan konsep Allah, manusia, dan alam atau lingkungan. Kait hubungan yang erat ketiga konsep tersebut dengan menempatkan konsep Allah sebagai pusat akan membentuk cara pandang manusia Muslim terhadap arsitektur, sehingga memampukan manusia Muslim untuk menempatkan arsitektur pada kedudukannya yang benar, selain menjadikan manusia Muslim dalam penciptaan wujud Arsitektur Islam akan senantiasa dalam kesadaran bahwa dirinya terikat dan terhubung secara langsung dengan Allah.

Wahyu Ilahi sebagai asas dalam penciptaan wujud-gagasan Arsitektur Islam juga menyediakan konsep-konsep kunci khas Islam seperti misal konsep adil, adab, sa’adah, khalifatullah dan sebagainya. Konsep kunci yang termuat di dalam Wahyu Ilahi menuntut kemampuan manusia Muslim untuk mengeksplorasinya dan menjadikannya sebagai pijakan dalam perumusan wujud-gagasan-konseptual yang kemudian diturunkan ke ranah wujud-gagasan-praktis. Sebagai misal konsep khalifatullah, yakni manusia sebagai wakil Allah di muka bumi yang bertugas untuk menjaga keseimbangan dunia sesuai dengan ukuran-ukuran yang telah ditetapkan oleh Allah. Konsep kunci tersebut dapat digunakan oleh manusia Muslim sebagai pijakan dasar untuk mencipta wujud arsitektur yang hemat energi dan ramah lingkungan. Walaupun akan sampai pada wujud-artefak yang serupa dengan green-architecture atau sustainability-architecture pada umumnya, tetapi memiliki pijakan yang berbeda dengan sistem dan sumber nilai yang berbeda, sehingga memiliki penjelasan dan penafsiran yang berbeda mengenai wujud-artefaknya. 

Sebagai panduan, Wahyu Ilahi menyediakan batas-batas yang diperbolehkan dalam perumusan wujud-gagasan Arsitektur Islam. Di luar batas yang ditentukan oleh Islam maka suatu wujud-gagasan tidak dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Islam. Sebagai contoh, gagasan eksplorasi tubuh wanita untuk mencapai estetika formal arsitektur tidak diafirmasi oleh Islam karena telah keluar dari batas kepatutan yang ditetapkan Islam. Tidak dibenarkan pula gagasan mempertinggi bangunan semata untuk menampilkan citra identitas pemiliknya sebagai penguasa ekonomi karena lekat dengan sifat kesombongan dan menghamburkan harta.

Sebagai sumber inspirasi, Wahyu Ilahi menyediakan berbagai perumpamaan, penggambaran dan pengajaran untuk direnungkan secara mendalam bagi penciptaan wujud-gagasan Arsitektur Islam. Sebagai misal adalah penggambaran tentang surga yang disampaikan Allah di dalam kalam-Nya yang telah berabad-abad menjadi inspirasi manusia Muslim dalam berarsitektur untuk mewujudkan hamparan surga di alam dunia. Atau perumpamaan sarang lebah dan sarang laba-laba di dalam Al-Qur’an yang telah jamak menjadi inspirasi manusia Muslim dalam mencipta Arsitektur Islam. Dalam hal perenungan, Allah menceritakan di dalam Al-Qur’an ketika Firaun memerintahkan Haman membakar tanah liat untuk mendirikan bangunan setinggi mungkin agar dirinya dapat melihat Tuhannya Musa untuk membuktikan bahwa Musa adalah seorang pendusta dan meneguhkan status dirinya sebagai tuhan yang sah bagi kaumnya. Dari berita yang disampaikan Allah tersebut sepatutnya manusia Muslim merenungkan keterkaitan antara arsitektur dan sikap sombong yang mendasari penciptaan asrsitektur sebagaimana menjangkiti Firaun yang menyebabkannya mengingkari Allah sebagai satu-satu Dzat yang haq untuk diibadahi dan mengingkari status kerasulan Musa Alaihi Sallam.

Kedudukan Wahyu Ilahi sebagai tauladan bagi penciptaan wujud-gagasan Arsitektur Islam termuat dalam Hadits Rasul Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam yang berkedudukan sebagai uswah hasanah bagi seluruh manusia Muslim. Sebagai misal tauladan manajerial yang dicontohkan Rasul Muhammad pada saat pembangunan Masjid Nabawi. Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam sebelum melakukan pembangunan masjid terlebih dahulu mengumpulkan para sahabat dan melakukan pembagian kerja sesuai dengan kompetensi yang dimiliki masing-masing sahabatnya, sehingga kerja goyong-royong yang dilakukan tidaklah bersifat sporadis asal tanpa pamrih, tetapi terorganisir dengan rapi. Inilah semangat kolektif dalam Islam yang dicontohkan Rasul dalam pembangunan arsitektur, yakni kerja bersama yang di dasari prinsip profesionalisme dan otoritas.

Wahyu Ilahi adalah salah satu syarat mutlak bagi penciptaan wujud-gagasan Arsitektur Islam selain syarat mutlak lainnya. Bagaikan dua sisi mata koin, Wahyu Ilahi harus dilengkapi dengan ketajaman akal dan kelembutan rasa yang dimiliki manusia Muslim untuk dapat memahami dan menghayati Wahyu Ilahi. Keduanya, yakni (1) Wahyu Ilahi; dan (2) kualitas manusia Muslim yang memiliki ketajaman akal dan kelembutan rasa merupakan syarat mutlak atau faktor-utama bagi penciptaan wujud-gagasan Arsitektur Islam.

Selain untuk memahami dan menghayati Wahyu Ilahi, ketajaman akal dan kelembutan rasa yang dimiliki manusia Muslim dibutuhkan pula untuk memahami faktor-ikutan yang mempengaruhi penciptaan wujud-gagasan Arsitektur Islam yang terdiri dari faktor (1) warisan tradisi arsitektur yang diwarisi manusia Muslim dari generasi sebelumnya; (2) tantangan zaman yang tengah dihadapi; (3) kebutuhan hidup; (4) kondisi lingkungan hidup; dan (5) kontak budaya yang tengah terjalin antara masyarakat Muslim dengan masyarakat lain yang memiliki perbedaan khazanah arsitektur secara asasi. 

Wujud-gagasan-konseptual yang bersasaskan, berpandukan, terinspirasi dan didasari tauladan dari Wahyu Ilahi dalam proses penciptaannya dominan dipengaruhi oleh faktor-utama, yakni hubungan antara manusia Muslim dengan teks yang memuat Wahyu Ilahi. Faktor-ikutan berpengaruh minor sebatas latar bagi manusia Muslim yang mencipta wujud-gagasan-konseptual. Dengan mekanisme penciptaan demikian, wujud-gagasan-konseptual bersifat ideal-subjektif. Ideal dikarenakan melibatkan langsung Wahyu Ilahi yang memuat ukuran ideal Islam sementara subjektif dikarenakan melibatkan kadar keimanan, pemahaman dan penghayatan manusia Muslim terhadap Wahyu Ilahi. Sebab pengaruh minor faktor-ikutan dalam proses penciptaannya, wujud-gagasan-konseptual tidak terikat kuat oleh batas geografis dan waktu. 

Berbeda dengan sebelumnya, wujud-gagasan-praktis dalam proses penciptaannya dominan dipengaruhi oleh faktor-ikutan, sedangkan faktor-utama yakni (1) Wahyu Ilahi berkedudukan sebagai pemandu untuk menyaring dan penyedia batas; serta (2) ketajaman akal dan kelembutan hati berkedudukan sebagai fakulti untuk memahami dan mengambil keputusan. Dengan mekanisme demikian, wujud-gagasan-praktis bersifat kontekstual-relatif. Kontekstual dikarenakan faktor-ikutan yang berpengaruh dominan terikat pada batas geografis dan waktu sementara relatif merupakan konsekuensi logis dari sifat faktor-ikutan yang meniscayakan munculnya keragaman wujud-gagasan-praktis antar manusia Muslim di berbagai daerah dan waktu yang berbeda.

Pengaruh faktor-utama dan faktor-ikutan dalam alur penciptaan wujud-gagasan Arsitektur Islam dapat ditampilkan dalam diagram di bawah ini:

Gambar 2: Faktor dan alur penciptaan wujud-gagasan Arsitektur Islam
Sumber: Analisa, 2016

D. Struktur Wujud-Gagasan

Disusun dalam sebuah struktur berbentuk lingkaran, wujud-gagasan-konseptual menempati area lingkaran-dalam, tepat di luar sumber nilai yang menempati lingkaran-inti. Posisi wujud-gagasan-konseptual dalam struktur menunjukkan jaraknya yang dekat dan senantiasa terhubung dengan sumber nilai karena dalam proses penciptaannya dominan dan secara langsung melibatkan Wahyu Ilahi. Di area luar wujud-gagasan-konseptual terdapat wujud-gagasan-praktis yang menempati lingkaran-luar dalam struktur lingkaran wujud-gagasan Arsitektur Islam. Posisinya dalam struktur menunjukkan hubungannya yang erat dengan wujud-gagasan-konseptual yang merupakan sumber sekaligus sandaran bagi wujud-gagasan-praktis. Di luar lingkaran wujud-gagasan-praktis adalah realitas fisikal-konkret yang dialami manusia dalam kehidupan kesehariannya.

Gambar 3: Struktur wujud-gagasan Arsitektur Islam
Sumber: Analisa, 2016

Lingkaran-inti bersifat stabil karena tidak terikat ruang dan waktu. Sementara wujud-gagasan-konseptual yang menempati area lingkaran-dalam bersifat cenderung stabil, sehingga tidak terikat kuat oleh ruang dan waktu karena terhubung langsung dengan lingkaran-inti yang merupakan sumber nilai Islam. Sedangkan lingkaran-luar yang ditempat oleh wujud-gagasan-praktis bersifat dinamis karena merupakan jembatan antara wujud-gagasan-konseptual dengan realitas fisikal-konkret yang senantiasa mengalami perubahan, sehingga menjadikannya terikat kuat oleh batas geografis dan waktu.

Wujud-gagasan-praktis menempati posisi antara, yakni antara ranah abstrak dan ranah konkret. Posisinya tersebut menjadikan wujud-gagasan-praktis berfungsi pula sebagai pelindung bagi lingkaran-dalam agar tetap cenderung stabil dengan cara menjarakkannya dari realitas fisikal-konkret yang senantiasa berubah. Sebagai pelindung sekaligus jembatan bagi lingkaran-dalam, wujud-gagasan-praktis dituntut untuk terus beradaptasi terhadap perubahan realitas fisikal-konkret dengan tetap terhubung dengan wujud-gagasan-konseptual yang merupakan sumber dan sandaran baginya. Adaptasi yang dilakukan bukan bertujuan untuk mengikuti arus pusaran perubahan realitas fisikal-konkret hingga hanyut dan terlepas dari sumber dan sandarannya, tetapi bertujuan untuk terus-menerus menerjemahkan wujud-gagasan-konseptual ke dalam realitas fisikal-konkret yang terus berubah, sehingga wujud-gagasan-konseptual senantiasa mendapatkan relevansinya untuk dipertahankan.

Berdasar struktur yang telah dipaparkan di atas, antar komunitas manusia Muslim yang terpisah jarak geografis dan jarak waktu niscaya memiliki kesamaan wujud-gagasan-konseptual karena memiliki kesamaan faktor-utama, tetapi diterjemahkan ke dalam wujud-gagasan-praktis yang beragam dikarenakan perbedaan faktor-ikutan. Sebagi contoh gagasan “Suci” untuk ruang masjid ditemui diberbagai komunitas manusia Muslim yang diterjemahkan ke dalam wujud-gagasan-praktis yang saling berbeda, sehingga memunculkan wujud-artefak masjid yang beragam. Dari sini dapat ditarik prinsip, semakin mendekati lingkaran-inti akan semakin mencapai kesatuan, sedangkan semakin menjauhi lingkaran-inti akan semakin mencapai keberagaman. Inilah prinsip ‘yang banyak muncul dari yang satu’ dalam konteks kerja-kreatif-budaya. Satu sumber, asas, panduan, inspirasi dan tauladan menghasilkan wujud Arsitektur Islam yang beragam. 

Demikianlah penjelasan mengenai wujud-gagasan Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural yang saya rumuskan. Sebagai sebuah ikhtiar keilmuan saya berharap tulisan singkat ini dapat menjelaskan keseluruhan gagasan yang tersimpan di dalam benak saya, sehingga wujud-gagasan Arsitektur Islam dalam kerangka pendekatan Psiko-Kultural dapat dipahami dengan benar dan jelas sebagaimana saya kehendaki. Statusnya sebagai sebuah pemikiran belumlah mencapai titik final, sehingga selalu terbuka pintu bagi saya untuk merevisi sebagian bahkan keseluruhan tulisan ini di kemudian hari. Begitupula sebab statusnya tersebut, tulisan ini terbuka untuk ditanggapi, dikritisi, digugat bahkan diadopsi dan dikembangkan oleh pihak lain.

Allahu a’lam bishawab.

Bertempat di Kartasura, Jawa Tengah
Bertepatan pada Tahun Baru Islam 1438 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar