Sabtu, 19 November 2016

Seni Islam di Antara Idealitas dan Realitas; Tanggapan Terhadap Abdul Jabbar

Pandangan Muhammad Abdul Jabbar yang saya kutip dan sarikan dalam tulisan ini bersumberkan dari makalah beliau dalam sebuah buku antologi berjudul “Fine Art in Islamic Civilization” yang diterbitkan oleh The University of Malaya Press Kuala Lumpur pada tahun 1981. Buku tersebut telah diterjemah ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Seni Di Dalam Peradaban Islam” yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Bandung pada tahun 1988. Dalam tulisan ini saya menggunakan buku terjemah Bahasa Indonesia di mana makalah yang ditulis oleh Muhammad Abdul Jabbar merupakan makalah pengantar bagi seluruh makalah di dalam buku tersebut dengan judul “Kedudukan Seni Dalam Kebudayaan Islam”, karenanya memuat lingkup bahasan yang paling luas di antara makalah lainnya yang spesifik membahas salah satu jenis seni dalam Seni Islam. 

Sebelum masuk pada substansi bahasan tulisan ini, sekilas akan saya sampaikan profil intelektual Abdul Jabbar. Muhammad Abdul Jabbar lahir pada tahun 1944 dan meraih gelar Doktor dari Fakultas Pengkajian Timur Universitas Cambridge pada tahun 1971 saat berusia 27 tahun. Saat menulis buku yang saya jadikan pegangan dalam tulisan ini, yakni pada usianya yang ke 37 tahun, Abdul Jabbar menjabat sebagai Profesor Madya di Fakultas Pengkajian Islam Universitas Kebangsaan Malaysia. Buku tersebut disusun dan dieditori oleh Abdul Jabbar dengan melibatkan beberapa nama besar di bidang pengkajian Seni Islam sebagai kontributor, di antaranya adalah K.A.C Creswell dan Ismail Raji’ Faruqi, yang menunjukkan keluasan jejaring keilmuan yang dimiliki Abdul Jabbar.

Tulisan ini saya bagi menjadi tigas bagian. Pada bagian pertama memuat pandangan Muhammad Abdul Jabbar mengenai idealitas dan realitas Seni Islam. Fokus tersebut penting untuk ditekankan karena dalam makalah sepanjang 19 halaman yang ditulisnya, Muhammad Abdul Jabbar menyajikan beragam fokus bahasan sebagai pengantar bagi setiap makalah di dalam buku tersebut. Pada bagian kedua memuat tanggapan saya terhadap pandangan Muhammad Abdul Jabbar. Saya berupaya menyampaikan tanggapan yang konstruktif dengan melakukan sintesa antara pandangan saya sendiri dengan pandangan Abdul Jabbar, sehingga tidak meniadakan seluruh pandangan Abdul Jabbar maupun menerima keseluruhnya tanpa sikap kritis. Saya kira inilah sikap yang adil dalam menanggapai suatu pandangan dan pemikiran. Dan bagian ketiga merupakan bagian penutup yang memuat perenungan dan relevansi pandangan Abdul Jabbar dan pandangan saya untuk kebutuhan hidup umat Islam pada masa kini. 

A. Pandangan Abdul Jabbar

Abdul Jabbar membuka makalahnya dengan pernyataan mengenai kedudukan seni bagi umat Islam,
“Kaum Muslim dari beraneka kebangsaan telah mewujudkan karya-karya bernilai seni sebagai perantara pengungkapan pandangan hidupnya yang khas”. (1988: 1) –miring dan tebal dari saya
Pernyataan di atas menjelaskan bahwa dalam pandangan Abdul Jabbar, seni adalah media bagi umat Islam untuk mengungkapkan pandangan hidupnya yang khas. Kedudukan seni bagi umat Islam disampaikan kembali oleh Abdul Jabbar di tempat yang berbeda,
“Suatu bentuk kesenian menjadi Islami jika hasil seni itu mengungkapkan pandangan hidup kaum Muslim”. (1988: 2) –miring dan tebal dari saya
Pandangan hidup umat Islam yang dimaksud oleh Abdul Jabbar dalam kedua pernyataannya di atas dijelaskannya pada kalimat yang lain,
“Mereka (umat Islam –pen) membangun bentuk-bentuk seni yang kaya yang sesuai dengan perspektif kesadaran nilai Islam dan secara perlahan tapi pasti mengembangkan gaya mereka sendiri serta menambah sumbangan yang asli di lapangan kesenian”. (1988: 1) –miring dan tebal dari saya
Menurut Abdul Jabbar, pandangan hidup umat Islam ialah kesadaran terhadap nilai-nilai Islam yang digunakannya dalam penciptaan Seni Islam. Kedudukan pandangan hidup Islam menjadi sentral dalam pandangan Abdul Jabbar karena ciri khas Seni Islam dibentuk oleh pandangan hidup manusia penciptanya, yang menjadikan seni yang dicipta umat Islam bermuatan nilai-nilai Islam. Pemahaman ini dapat diartikan bahwa dalam proses penciptaan seni terjadi aliran nilai Islam dari diri seniman Muslim kepada seni yang diciptanya. 

Berdasar pernyataan di atas, dalam pandangan Abdul Jabbar, Seni Islam haruslah memenuhi dua syarat, yakni (1) umat Islam yang berpandangan hidup Islam; agar dapat diwujudkan (2) seni yang bermuatan nilai-nilai Islam. Kedua syarat ini menegaskan hubungan erat antara pelaku seni yang merupakan syarat pertama dengan produk seni yang merupakan syarat kedua. Hubungan erat antara kedua syarat menjadikan syarat Seni Islam dalam pandangan Abdul Jabbar bersifat asosiatif atau berpasangan di mana kehadiran syarat pertama akan diikuti oleh kehadiran syarat kedua. Syarat pertama menjadi penting karena berkaitan dengan kehadiran syarat kedua. Kedudukan syarat pertama ini ditegaskan oleh Abdul Jabbar dalam pernyataannya berikut,
“Seni Islam dapat juga diberi batasan sebagai suatu seni yang dihasilkan oleh seniman atau desainer Muslim”. (1988: 2) –miring dan tebal dari saya
Syarat pertama merupakan batasan sekaligus timbangan bagi suatu seni dapat dinyatakan sebagai Seni Islam. Konsekuensi logisnya, tanpa dipenuhinya syarat pertama maka suatu seni berada di luar batas Seni Islam yang menjadikannya tidak dapat dinyatakan sebagai Seni Islam. Sedangkan terpenuhinya syarat kedua hanya dimungkinkan jika dipenuhinya syarat pertama karena syarat kedua hanya dapat hadir di dalam batas syarat pertama.

Seni sebagai media pengungkapan pandangan hidup Islam menjadikannya memiliki muatan materi yang khas Islam. Bagi Abdul Jabbar muatan materi Seni Islam adalah sebagai berikut,
“Para tukang dan seniman Muslim berusaha menampilkan cita Keesaan Tuhan (tauhid) dalam karya seninya”. (1988: 1) –miring dan tebal dari saya
Di tempat yang lain Abdul Jabbar menyatakan,
“Seni Islam adalah seni yang mengungkapkan sikap pengabdian kepada Allah.” (1988: 2) –miring dan tebal dari saya
Bagi Abdul Jabbar, muatan materi Seni Islam berkaitan dengan cita Keesaan Tuhan dan ungkapan pengabdian kepada Tuhan yang ditampilkan dalam media seni. Dengan demikian, Seni Islam dalam pandangan Abdul Jabbar tidaklah merujuk kepada dirinya sendiri. Seni Islam merupakan tanda yang merujuk kepada sesuatu di luar dirinya yang secara hirarki lebih tinggi dan lebih luhur daripada seni itu sendiri. Sampai di sini dapat disimpulkan sementara bahwa Seni Islam menurut Abdul Jabbar adalah seni yang mengungkapkan cita Keesaan Tuhan atau dikenal dengan Tauhid yang merupakan asas Islam dan seni yang mengungkapkan pengabdian kepada Tuhan yang merupakan hakikat tujuan penciptaan manusia dalam Islam, yang hanya dapat dihadirkan oleh seniman Muslim yang berpandangan hidup Islam. 

Islam yang merupakan imbuhan dalam frase Seni Islam, menurut Abdul Jabbar berkedudukan sebagai pusat daya normatif dan sebagai penyedia batas bagi umat Islam dalam berkesenian (1988: 1). Sebagai pusat daya normatif, Islam membentuk pandangan hidup umat Islam, sikap berkesenian dan materi yang diungkapkan dalam media seni. Sedangkan Islam sebagai penyedia batas diungkapkan oleh Abdul Jabbar,
“Islam tidaklah menggariskan bentuk-bentuk seni tertentu, tetapi sekedar memberi pagar lapangan ekspresi.” (1988: 1) –miring dan tebal dari saya
Maksud Abdul Jabbar dalam pernyataannya di atas ialah segala ekspresi berkesenian umat Islam dibenarkan jika berada di dalam batas-batas yang telah ditetapkan Islam. Islam sebagai penyedia batas, bukan justru sebagai pemberi aturan yang ketat, menjadi dorongan bagi umat Islam untuk mengekspresikan pandangan hidupnya yang khas ke dalam media seni yang beragam. Islam didudukkan sebagai penyedia batas juga meniscayakan hadirnya keragaman dalam Seni Islam, yakni keragaman yang berada di dalam batas-batas yang ditetapkan oleh Islam. Inilah isyarat yang hendak disampaikan Abdul Jabbar untuk mengantar pembaca memahami gambaran besar makalah lain di dalam buku yang memuat keragaman jenis Seni Islam dan bentukan Seni Islam.

Gambar 1: Struktur Seni Islam dalam pandangan pertama Abdul Jabbar
Sumber: Analisa, 2016

Pada bagian tulisan selanjutnya Abdul Jabbar menyangsikan pandangannya sendiri, sebagaimana telah saya paparkan di atas, dengan menggugat syarat kedua Seni Islam yang berkaitan dengan muatan materi Seni Islam,
“Secara teoritis memang Seni Islam dapat mengungkapkan konsep Tauhid, tetapi dalam prakteknya apakah Seni Islam selalu menyampaikan pesan Keesaan Tuhan? Menurut pendapat saya tidak demikian.” (1988: 2) –miring dan tebal dari saya
Tidak hanya menyangsikan syarat kedua Seni Islam yang telah ditetapkannya, Abdul Jabbar pada bagian selanjutnya juga meralat syarat pertama Seni Islam yang memiliki kedudukan sentral dalam pandangannya,
“(Seni Islam) dapat juga berupa seni yang sesuai dengan apa yang dibayangkan oleh seorang Muslim, sedangkan seniman yang membuat objek seninya tidak mesti seorang Muslim.” (1988: 2-3) –miring dan tebal dari saya
Kesangsian yang menghinggapi Abdul Jabbar membawa dirinya pada kesimpulan lain bahwa Seni Islam tidak harus merupakan hasil kreasi umat Islam dengan syarat muatan materi yang ditampilkannya sesuai dengan pandangan hidup umat Islam.

Abdul Jabbar membangun argumentasi untuk meneguhkan pandangannya dengan merangkai fragmen kesejarahan umat Islam. Menurut Abdul Jabbar, pada masa abad pertama Peradaban Islam, umat Islam karena keterbatasan yang dimilikinya membutuhkan pekerja-pekerja asing untuk menghasilkan Seni Islam yang dibutuhkan umat Islam. Karena perannya yang tidak sedikit, menurutnya, para seniman non Muslim yang berstatus sebagai dzimmi memainkan peranan yang penting dalam pembentukan Seni Islam (1988: 4). Abdul Jabbar mengutip sebuah contoh untuk menguatkan pendapatnya,
“Bangunan masjid adalah Islami bukan hanya karena bangunan itu terutama direncanakan sebagai tempat menyembah Allah oleh kaum Muslim, tetapi juga karena kenyataan bahwasanya bangunan suci itu mengungkapkan pandangan hidup Islam. Asal-usul kebangsaan atau keyakinan dari sang tukang atau sang seniman dengan sendirinya merupakan segi yang kurang penting dalam ruang lingkup Seni Islam.” (1988: 3) –miring dan tebal oleh saya
Untuk semakin meneguhkan pandangannya, Abdul Jabbar memaparkan konstribusi kalangan non-Muslim dalam membentuk dan mengembangkan Seni Islam. Beliau menyebutkan kontribusi seniman dan pekerja non-Muslim pada karya-karya awal Seni Islam, dalam hal ini berupa objek arsitektur mencakup Masjid Nabawi di Madinah, Masjid Jami’ al-Umawi di Damaskus dan Masjid Qubbat al-Sakhra di Yerusalem (1988: 3). Perluasan Masjid Nabawi pada masa Khalifah al-Walid dari Dinasti Umayyah mempekerjakan 30 orang seniman Koptik dan seniman dari Byzantium dengan jumlah yang sama. Begitupula pada Masjid Jami’ al-Umawi mempekerjakan para seniman dari Byzantium. Sementara untuk membangun Masjid Qubbat al-Sakhra memperkerjakan para seniman dari bangsa Sassania yang juga berasal dari kalangan non Muslim (1988: 3-4).

Pada bagian yang lain dari tulisannya Abdul Jabbar memaparkan peran sentral seniman non Muslim dalam pembentukan ciri khas perwujudan fisik Seni Islam, sehingga Seni Islam mudah dikenali hingga hari ini, yang tidak lain adalah pola geometri yang diperkenalkan oleh seniman bangsa Syria yang berstatus non Muslim (1988: 5). Penjabaran peran seniman dan pekerja non Muslim yang dirangkai oleh Abdul Jabbar memberi kesan bahwa seniman non Muslim tidak sekedar berkedudukan sebagai ahli yang dibayar oleh umat Islam atas hasil kerjanya, lebih dari itu umat Islam memiliki keberhutangan yang tidak sedikit kepada kalangan seniman non Muslim karena atas konstribusinya umat Islam di kemudian hari berhasil mencapai peradaban seni yang tinggi.

Kesangsian terhadap pandangannya sendiri yang telah saya sarikan pada awal tulisan ini, mendorong Abdul Jabbar untuk merumuskan kembali batasan Seni Islam sebagaimana dapat ditangkap dalam pernyataannya berikut,

“Seni Islam adalah seni yang diangankan dan dibiayai oleh orang-orang Arab Muslim, tetapi pengerjaan yang sesungguhnya dikerjakan oleh tenaga-tenaga bayaran non Arab dan sering mereka itu tidak memiliki latar belakang sebagai Muslim.” (1988: 4) –miring dan tebal dari saya

Syarat Seni Islam dalam pandangan kedua Abdul Jabbar adalah (1) dari sisi pihak pembuatnya tidak hanya dibatasi dari kalangan umat Islam; (2) dari sisi muatan materi seni berkesesuaian dengan angan umat Islam; dan (3) sisi pendanaannya dibiayai oleh umat Islam. Dibandingkan dengan syarat Seni yang dinyatakan Abdul Jabbar sebelumnya terjadi penambahan syarat, yakni syarat ketiga berkaitan dengan pihak yang membiayai kegiatan berkesenian hingga dihasilkannya karya seni.

Syarat pertama mengalami perluasan yang awalnya dibatasi hanya dari kalangan umat Islam menjadi tidak lagi mempertimbangkan identitas keagamaan pelaku seni. Variabel keagamaan pelaku seni dipinggirkan untuk digantikan dengan variabel keahlian pelaku seni. Syarat kedua juga mengalami perluasan yang awalnya muatan materi Seni Islam merupakan realisasi dari pandangan hidup Islam yang khas sehingga muatan materi Seni Islam erat seputar cita Keesaan Tuhan menjadi sangat luas melingkupi segala yang berkesesuaian dengan bayangan dan angan umat Islam. Perluasan syarat muatan materi Seni Islam sepatutnya tetap memperhatikan kedudukan Islam sebagai penyedia batas bagi Seni Islam yang tidak dirubah oleh Abdul Jabbar hingga akhir tulisannya, sehingga dapat ditafsirkan bahwa yang dimaksudnya dengan bayangan dan angan umat Islam sepatutnya dipahami pada batas yang ditetapkan oleh Islam, walaupun akan menjadi tidak mudah dipahami demikian karena pada batasan yang terakhir Abdul Jabbar tidak lagi menggunakan kalimat ‘pandangan hidup kaum Muslim yang khas’ yang sejatinya bersumberkan dari Islam. 

Sebagai penutup bagian pertama tulisan ini, berdasar pandangannya yang terakhir, Seni Islam dalam pandangan Abdul Jabbar memuat tiga variabel, yakni pihak pemberi tugas, pihak yang menanggung pembiayaan dan pihak seniman. Umat Islam berkedudukan sebatas pihak pemberi tugas, pengguna karya seni dan pihak yang membiayai kerja seni, sementara pihak seniman dapat diperankan oleh umat Islam maupun kalangan non Muslim. Dengan korelasi antar variabel tersebut Abdul Jabbar berkeyakinan muatan materi seni yang hadir tetap akan berkesesuaian dengan bayangan dan angan umat Islam.

Gambar 2: Struktur Seni Islam dalam pandangan kedua Abdul Jabbar
Sumber: Analisa, 2016

B. Tanggapan Terhadap Abdul Jabbar

Dalam pandangan Abdul Jabbar berkaitan dengan Seni Islam terdapat bagian yang saya setujui yang termuat dalam empat poin berikut. Pertama, Seni Islam merupakan media bagi umat Islam untuk mengekspresikan dan mengungkapkan pandangan hidupnya yang khas, yakni Tauhid. Kedua, konsekuensi dari poin pertama ialah Seni Islam tidak bebas nilai karena memuat nilai-nilai Islam yang berasal dari pandangan hidup Islam yang khas. Ketiga, pandangan hidup Islam menetapkan bahwasanya realitas bertingkat-tingkat. Seni Islam sebagai media pengungkapan pandangan hidup Islam berkedudukan sebagai tanda yang menunjuk kepada realitas yang lebih tinggi yang menjadikan Seni Islam yang merupakan fenomena keduniaan mendapatkan dimensi religius-vertikalnya. Keempat, kedudukan Islam dalam kegiatan berkesenian yang dilakukan umat Islam adalah sebagai penyedia batas bagi sikap dan ekspresi seni yang ditumpahkan. Ekspresi berkesenian oleh umat Islam yang berada di dalam batas-batas Islam dinyatakan sebagai Seni Islam, dan sebaliknya ekspresi yang berada di luar batas tidak dapat dinyatakan sebagai Seni Islam walaupun dicipta oleh seniman Muslim.

Selain terdapat bagian yang saya setujui, terdapat pula bagian yang tidak saya setujui dari pandangan Abdul Jabbar, yakni dipertentangkannya pendekatan idealitas dan realitas dalam mengkonstruk pengetahuan tentang Seni Islam. Melalui teks yang dihadirkannya, saya memahami bahwa bagi Abdul Jabbar antara pendekatan idealitas dan realitas merupakan dua jalan yang tidak akan saling bertemu, berpotongan dan berkesesuaian. Seni Islam berdasar pendekatan realitas adalah sebuah tanggapan yang dilakukan umat Islam terhadap tantangan yang dihadapinya di bidang kesenian, karenanya tidak akan dicapai idealitas disebabkan realitas itu sendiri dipenuhi keterbatasan-keterbatasan yang tidak dapat diatasi dan dilampaui umat Islam. Sedangkan Seni Islam berdasar pendekatan idealitas merupakan sebuah konsep yang hanya hadir secara penuh di alam khayali umat Islam. Seluruh ikhtiar yang dilakukan umat Islam tidak dapat merealisasikan idealitas Seni Islam secara penuh ke dalam realitas fisikal sehari-hari, karenanya akan selalu terdapat jarak antara idealitas dan realitas kesejarahan Seni Islam. Berdasar hal ini Abdul Jabbar harus memilih satu di antara dua pendekatan tersebut yang pada akhirnya beliau memilih pendekatan realitas kesejarahan.

Pergeseran pendekatan yang digunakan Abdul Jabbar dalam memahami Seni Islam; dari pendekatan idealitas berganti menjadi pendekatam realitas, berdasar analisa saya terhadap teks yang dihadirkannya, disebabkan dua hal. Pertama, seni menuntut hadirnya pelaku seni dan objek seni dalam ruang dan waktu, sehingga pembicaraan tentang seni tidak dapat hanya berkutat pada ranah konseptual-ideal-khayali. Jarak yang tidak dapat dijembatani antara idealitas dan realitas kesejarahan menjadikan Abdul Jabbar berpihak pada pendekatan realitas kesejarahan di mana subjek dan objek seni telah dan masih hadir secara fisik. Dengan pendekatan realitas, Abdul Jabbar merumuskan konsep Seni Islam secara induktif berdasar fragmen sejarah sebagai bukti telah mewujudnya Seni Islam dalam lintasan ruang dan waktu yang dilalui umat Islam.

Kedua, pergeseran fokus pada aspek perwujudan fisik seni. Pada pandangannya yang pertama Abdul Jabbar berfokus pada aspek seniman Muslim yang mencipta seni sebagai media untuk mengungkapkan pandangan hidup Islam. Fokus tersebut memuat dua unsur yakni, (1) seniman Muslim sebagai subjek seni; dan (2) muatan materi seni sebagai objek seni, sedangkan perwujudan fisik seni tidak dibicarakannya karena menempati posisi pinggiran yang berkedudukan sebatas pemberi wujud fisik atau selubung terhadap pandangan hidup Islam yang hendak ditayangkan oleh subjek seni. Inilah dua syarat Seni Islam dalam pandangan pertama Abdul Jabbar yang dirumuskannya berdasar pendekatan idealitas. 

Pembalikan struktur Seni Islam terjadi pada pandangan kedua Abdul Jabbar dengan menggeser unsur subjek dan muatan materi seni ke daerah pinggiran dan memasukkan unsur perwujudan fisik seni ke daerah inti. Pergeseran fokus diikuti dengan pergeseran pendekatan yang mendasari pandangan Abdul Jabbar disebabkan unsur perwujudan fisik merupakan unsur seni yang menyejarah yang selalu hadir dalam ruang dan waktu. Unsur perwujudan fisik seni yang menempati daerah inti dalam struktur Seni Islam ditetapkan oleh Abdul Jabbar memiliki kualitas seni-tinggi (high-art) atau yang lebih dikenal dengan istilah seni-halus yang menjadi batasan sekaligus syarat bagi setiap wujud fisik seni yang dihadirkan oleh umat Islam maupun atas permintaan umat Islam. 

Saya mencoba menangkap maksud baik Abdul Jabbar yang menetapkan seni-tinggi (high-art) sebagai kualitas perwujudan fisik Seni Islam yang seakan hendak menyampaikan pesan bahwa dengan kualitas wujud fisiknya yang tinggi, Seni Islam tidak perlu diragukan lagi kehadirannya secara fisikal konkret yang menyejarah dan secara teoritik sebagai bagian dari khazanah ilmu pengetahuan seni dunia. Dengan begitu, tidak diragukan lagi kontribusi Seni Islam terhadap pencapaian peradaban manusia secara keseluruhan dan pengaruhnya bagi peradaban setelahnya. Paling tidak inilah maksud baik yang saya dapati dari remah dan isyarat teks yang dihadirkan Abdul Jabbar.

Dengan pendekatan realitas yang difokuskan pada perwujudan fisik seni yang berkualitas seni-tinggi, Abdul Jabbar menetapkan awal kehadiran dan kesejarahan Seni Islam dimulai dari masa Umayyah dan seterusnya karena pada masa ini telah terpenuhinya kondisi yang dibutuhkan untuk menghadirkan perwujudan fisik Seni Islam berkualitas seni-tinggi. Pertama, ketersediaan preferensi seni. Intensi terhadap seni-tinggi mulai muncul ketika umat Islam hidup di tengah lingkungan kota yang telah mencapai titik puncak peradabannya pada masa lalu, yakni Kota Damaskus. Kehadiran artefak berkualitas seni-tinggi yang tersebar di lingkungan hidupnya membentuk preferensi umat Islam terhadap seni yang ditindak-lanjuti umat Islam dengan mempelajari dan menyerap unsur seni-tinggi dari peradaban lain untuk menghadirkan Seni Islam berkualitas seni-tinggi.

Kedua, ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki keahlian di bidang seni-tinggi. Kondisi ini terpenuhi saat umat Islam hidup di tengah lingkungan masyarakat yang beragam dari berbagai agama dan latar belakang peradaban di mana dalam struktur sosialnya terdapat kelompok seniman. Kondisi ini yang menjadi argumentasi bagi Abdul Jabbar untuk menetapkan bahwasanya Seni Islam dapat dicipta oleh seniman non Muslim untuk menghadirkan Seni Islam berkualitas seni-tinggi karena pada masanya hanya kalangan seniman non Muslim yang memiliki keahlian demikian. Ketiga, ketersediaan harta untuk menghadirkan Seni Islam berkualitas seni-tinggi. Dengan kepemilikan harta, umat Islam memposisikan dirinya sebagai patron bagi perkembangan dan produksi seni yang menyediakan dana sekaligus pemberi tugas kepada pihak seniman non Muslim yang memiliki keahlian di bidang seni-tinggi. 

Dimulainya kehadiran dan kesejarahan Seni Islam dari masa Umayyah hingga seterusnya membawa konsekuensi yang tidak terhindarkan bahwa Seni Islam merupakan fenomena peradaban yang baru bagi umat Islam yang tidak ditemui dan tidak memiliki akarnya dari masa gerak hidup Rasul Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Tidak berarti sepanjang masa hidup Rasul Muhammad, khususnya di tengah umat Islam pada fase Madinah, kosong dari unsur seni. Seni yang hadir pada masa tersebut merupakan seni-rakyat yang kualitasnya dipertentangkan dengan seni-tinggi, sehingga tidak memenuhi kualifikasi Seni Islam yang ditetapkan Abdul Jabbar, termasuk Masjid Quba dan Masjid Madinah yang dihadirkan langsung oleh Rasul Muhammad beserta para sahabatnya. Seni-rakyat adalah suatu tanda belum tumbuhnya sebuah peradaban yang patut diapresiasi dan dibanggakan karena belum mampu memberikan kontribusi bagi peradaban lainnya, sementara seni-tinggi ialah suatu tanda bagi peradaban yang tengah tumbuh pesat hingga mencapai puncaknya, dan inilah yang diinginkan oleh Abdul Jabbar dalam memandang Seni Islam.

Saya tidak sepakat dengan pandangan Abdul Jabbar yang mempertentangkan pendekatan idealitas dengan pendekatan realias dalam memahami Seni Islam. Menurut saya, idealitas Islam terdapat di dalam garis realitas kesejarahan umat Islam. Berarti dalam gerak kesejarahan umat Islam terdapat fase ideal yang menjadi panutan bagi generasi setelahnya. Sepanjang gerak kesejarahan umat Islam, idealitas Islam telah tercapai dan direalisasikan oleh Rasul Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam yang secara langsung mendidik generasi sahabat. Inilah generasi pertama yang merupakan generasi terbaik umat Islam, sehingga menjadi tauladan, tolak ukur kemajuan, keberhasilan dan keselamatan bagi generasi setelahnya. Dengan cara pandang demikian, gerak kesejarahan umat Islam setelah masa generasi pertama (as-saabiquuna al-awwaluuna) hingga tibanya kiamat nanti merupakan perjuangan kembali mencapai dan merealisasikan idealitas Islam.

Dilandasi pandangan di atas, saya hendak menawarkan garis kesejarahan Seni Islam yang berbeda dengan Abdul Jabbar. Jika gerak kesejarahan Seni Islam menurut Abdul Jabbar didasarkan atas kualitas perwujudan fisik seni, maka saya menggunakan gerak kesejarahan umat Islam sebagai dasar bagi garis kesejarahan Seni Islam. Untuk membandingkannya lebih jelas lagi, Abdul Jabbar berfokus pada objek seni yang merupakan produk dari kegiatan berkesenian, sedangkan saya berfokus pada seniman Muslim sebagai subjek seni yang melakukan kegiatan berkesenian. 

Berdasarkan gerak kesejarahan umat Islam, saya membagi garis kesejarahan Seni Islam ke dalam tiga fase, yakni (1) Fase Pembentukan Sistem nilai dan Modal Sosial; (2) Fase Kontak Peradaban; dan (3) Fase Tarikan. Fase pertama Seni Islam melingkupi masa hidup Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam hingga masa Khulafa Rasyidin yang merupakan fase ideal dalam kesejarahan umat Islam. Pada fase ini terjadi dua hal yang saling terkait, yakni (1) terbentuknya sistem nilai Seni Islam seiring turunnya Wahyu Ilahi kepada Rasul Muhammad secara bertahap yang disampaikan dan dipraktikkan langsung oleh beliau Shalallahu Alaihi Wasallam agar dapat dipahami dan dicontoh oleh umatnya; dan (2) keluarnya manusia dari kegelapan sistem nilai yang bersumberkan dari aqidah bathil menuju cahaya sistem nilai Islam yang terang benderang, sehingga muncul kalangan seniman Muslim dalam sejarah umat Islam yang meyakini kebenaran sistem nilai Islam dan menggunakannya dalam kegiatan berkesenian. 

Terbentuknya sistem nilai Islam, hadirnya seniman Muslim dan digunakannya sistem nilai Islam sebagai landasan bagi praktik berkesenian yang dilakukan seniman Muslim menyebabkan terjadinya perubahan pada muatan materi seni. Sebagai contoh, muatan materi seni syair yang dikenal luas masyarakat Arab pada masa fase pertama ialah seputar kemuliaan manusia yang dipandang dari kepemilikan harta dan jumlah keturunannya. Di tangan seniman Muslim, seni syair digubah untuk meledakkan semangat beribadah dan semangat jihad kaum Muslimin, membela kemuliaan kaum Muslimin dan untuk mengekspresikan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Di bidang seni keruangan, umat Islam menghadirkan ruang masjid yang secara konseptual berbeda dengan ruang ibadah umat lainnya. Kehadiran bentuk seni baru yang tidak terdapat padanan pada zamannya tidak lain karena dicipta oleh seniman yang mengikat dirinya pada sistem nilai baru, yakni sistem nilai Islam, yang membentuk cara pandangnya sebagai seniman, caranya mengekspresikan nilai keindahan dan muatan materi seni yang hendak disampaikan. 

Pada fase pertama, perwujudan fisik Seni Islam masih sederhana dengan jenis seni yang masih terbatas karena tidak terpenuhinya kondisi yang dibutuhkan untuk hadirnya seni-tinggi sebagaimana telah saya sampaikan di atas, selain karena beberapa jenis seni diharamkan pada masa awal umat Islam karena terkait dengan kesyirikan yang lekat dalam alam budaya Jahiliyah. Karenanya perwujudan fisik dan jenis seni tidak dapat dijadikan timbangan bagi Seni Islam pada fase ini. Perwujudan fisik Masjid Quba dan Masjid Madinah yang hadir pada fase pertama Seni Islam dengan demikian tidak dapat dinilai dari perwujudan fisiknya, tetapi dari sistem nilai yang mendasarinya dalam konteks pada fase ini tengah terjadi pembalikan sistem nilai di kalangan masyarakat Arab, sehingga dapat diketahui perubahan seni yang terjadi dan pencapaian seni yang diraih umat Islam pada zamannya. 

Fase kedua melingkupi masa Dinasti Umayyah. Di sinilah saya mencoba mendudukkan pandangan Abdul Jabbar berkaitan dengan hadirnya Seni Islam berkualitas seni-tinggi dan peran seniman non Muslim dalam pembentukan Seni Islam. Pada fase ini terjadi tiga hal berikut, (1) proses meningkatkan kualitas seniman Muslim dengan menyerap keahlian seni-tinggi dari kalangan seniman non Muslim; (2) meningkatkan kualitas preferensi seni dengan menyerap unsur seni-tinggi dari peradaban masa lalu yang telah mencapai puncak kejayaannya; dan (3) menyerap ilmu pengetahuan dari peradaban lain, termasuk ilmu pengetahuan seni yang di antaranya berasal dari Peradaban Yunani Kuno dan Mesir Kuno melalui penerjemahan karya tulis ke dalam Bahasa Arab. Singkatnya, fase ini merupakan fase transmisi di mana terjadi perpindahan keahlian seni dari masyarakat non Muslim ke masyarakat Muslim, perpindahan unsur perwujudan fisik seni-tinggi dari peradaban masa lalu yang telah mencapai puncaknya dan perpindahan khazanah ilmu pengetahuan seni dari peradaban sebelumnya ke Dunia Islam.

Saya berbeda pandangan dengan Abdul Jabbar dalam dua hal terkait fase ini. Pertama, Abdul Jabbar menekankan pada peran seniman non Muslim bagi perkembangan Seni Islam, sedangkan saya menekankan pada gerak aktif umat Islam untuk mengembangkan kemampuan berkeseniannya melalui proses belajar kepada seninam non Muslim, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kedua, Abdul Jabbar mengkategorikan objek seni yang dicipta oleh seniman non Muslim sebagai Seni Islam dengan syarat atas permintaan dan dibiayai oleh umat Islam serta berkesesuaian dengan pandangan hidup umat Islam dalam lingkup yang seluas-luasnya. Saya tidak menolak peran seniman non Muslim bagi umat Islam dalam bidang kesenian karena banyak fakta sejarah yang menunjukkan demikian, seperti para tukang dan seniman non Muslim yang diperintahkan oleh Umar bin Abdul Aziz selaku Gubernur Madinah untuk merenovasi Masjid Nabi, tetapi saya tidak mengkategorikan hasil cipta seniman non Muslim sebagai Seni Islam walaupun memenuhi syarat yang diajukan oleh Abdul Jabbar.

Penolakan saya di atas didasarkan dua pertimbangan. Pertimbangan pertama terkait aliran nilai dari pihak seniman non Muslim kepada objek seni yang diciptanya. Pihak seniman non Muslim mengimani sumber kebenaran yang berbeda dengan umat Islam, sehingga berpijak pada sistem nilai yang khas keyakinannya dalam berkegiatan kesenian. Walaupun pihak seniman non Muslim menerima permintaan dari kalangan umat Islam untuk mencipta suatu objek seni yang berkesesuaian dengan pandangan hidup umat Islam, tetap saja pihak seniman non Muslim tidak dapat melepaskan sistem nilai yang dianutnya dalam proses penciptaan objek seni untuk menggantinya dengan sistem nilai yang dianut umat Islam. Kalaupun terwujud objek seni yang berkesesuaian dengan pandangan hidup umat Islam, terdapat perbedaan dalam memandang dan memahami objek seni tersebut antara pihak seniman non Muslim dengan pihak pengamat Muslim. Dengan cara pandang ini, pada hakikatnya yang dilakukan umat Islam bukanlah mencipta objek seni, tetapi menafsir objek seni yang dihadirkan seniman non Muslim agar berkesesuaian dengan pandangan hidupnya. 

Seni Islam berbeda dari seni selainnya sebab secara asasi memiliki perbedaan dalam aspek sumber nilai, yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Muhammad. Kesamaan perwujudan fisik Seni Islam dengan selainnya, seperti unsur kubah sebagai penutup atap, ornamen flora, unsur pelengkung dan sebagainya hanya berada pada ranah fisik-permukaan saja, sedangkan pada ranah fisik-dalaman memiliki perbedaan yang asasi disebabkan perbedaan sumber nilai yang mendasari. Sebagai contoh, ornamen flora telah banyak diwujudkan oleh berbagai peradaban seperti Yunani Kuno dan India, begitu juga Peradaban Islam. Ornamen flora yang dicipta seniman Muslim yang berpandangan hidup Islam, sedari awal proses penciptaannya telah didasari sistem nilai Islam yang menjadikannya memuat nilai Islam dan karenanya mencerminkan Islam. Sampai di sini inilah yang saya maksud dengan Seni Islam, yakni seni yang didasari sumber nilai Islam sejak awal proses penciptaannya oleh seniman Muslim yang berpandangan hidup Islam. 

Pertimbangan kedua terkait dengan status kepemilikan objek seni. Pandangan Abdul Jabbar menyisakan masalah, apakah objek seni yang dicipta oleh seniman non Muslim dimiliki oleh pihak pemesan dan penyokong biaya ataukah pihak seniman yang mencipta. Jika seni direduksi sebatas perwujudan fisiknya, objek seni yang dicipta seniman non Muslim dapat menjadi milik umat Islam melalui pertukaran sejumlah harga berdasar hubungan pemberi tugas-penerima tugas. Tetapi jika seni dilihat lebih luas, yakni sebuah aktivitas meluapkan dan mengekspresikan rasa keindahan melalui penciptaan gagasan, perilaku dan wujud fisik yang estetis serta aktivitas menyerap rasa keindahan dari wujud seni, maka hubungan pertukaran sejumlah harga tidak memadai bagi umat Islam untuk memiliki objek seni yang dicipta seniman Non Muslim. Walaupun objek seni telah berpindah tangan, tetapi secara psikologis-eksistensial tetap menjadi milik pihak seniman karena objek seni terikat kuat dengan pihak pencipta yang menghadirkannya bagaikan hubungan seorang ibu dengan anak yang dilahirkannya. Ini berarti upaya umat Islam menafsir objek seni yang dihadirkan seniman non Muslim agar berkesesuaian dengan pandangan hidupnya bagaikan melakukan adopsi terhadap seorang anak yang dilahirkan oleh ibu yang tidak berasal dari kalangannya sendiri, sehingga betapa pun kerasnya upaya yang dilakukan tetap saja secara psikologis tidak akan dapat menjadikan objek seni tersebut sebagai miliknya secara penuh.

Berdasar pertimbangan di atas, dalam pandangan saya fase kedua garis kesejarahan Seni Islam bukanlah merupakan fase pembentukan wujud fisik objek seni, tetapi fase pembentukan dan peningkatan keahlian umat Islam di bidang seni, baik secara praktis maupun teoritik, sehingga produk akhir dari fase ini ialah kualitas seniman Muslim yang memiliki keahlian di bidang penciptaan seni-tinggi dan kepemilikan sumber ilmu pengetahuan seni dari peradaban lain yang akan digunakannya untuk merumuskan ilmu pengetahuan Seni Islam pada fase selanjutnya. Untuk mengisi kekosongan objek seni berkualitas seni-tinggi yang dicipta seniman Muslim, kehadiran objek seni oleh seniman non Muslim di tengah masyarakat Muslim memang tidak terhindarkan dan justru merupakan sebuah keniscayaan dari terjalinnya komunikasi yang intens dengan masyarakat Muslim sebab seni sebagai unsur peradaban selalu dibutuhkan kehadirannya di tengah masyarakat, tidak terkecuali bagi masyakat Muslim. Dalam konteks inilah saya mendudukkan persoalan penciptaan seni oleh non Muslim atas permintaan dan biaya dari umat Islam, tidak lebih dan tidak kurang, sehingga apresiasi saya terhadap peran seniman non Muslim pun dalam konteks ini, yakni mengisi kekosongan kehadiran objek seni berkualitas seni-tinggi di tengah umat Islam. 

Fase ketiga melingkupi masa Dinasti Abbasiyah hingga setelahnya. Pada fase ini telah tersedia sumber daya manusia Muslim di bidang praktik berkesenian yang memiliki keahlian seni-tinggi dan sumber daya manusia Muslim di bidang ilmu pengetahuan seni sebagai hasil dari proses belajar yang telah dilewati pada fase terdahulu. Ketersediaan sumber daya seniman Muslim menjadikan umat Islam dapat mencipta seni berkualitas seni-tinggi sementara ketersediaan sumber daya ilmuwan, filosof, fuqaha dan teolog serta kepemilikan sumber ilmu pengetahuan dari peradaban sebelumnya menjadikan umat Islam dapat merumuskan ilmu pengetahuan Seni Islam di atas landasan sistem nilai Islam yang telah selesai terbentuk pada fase pertama. Penguasaan ranah praktik berkesenian dan ranah teoritik ilmu pengetahuan Seni Islam menjadikan umat Islam mandiri tanpa kertegantungan dengan pihak lain karena penciptaan Seni Islam berkualitas seni-tinggi dapat dilakukannya sendiri dengan kepemilikan ilmu pengetahuannya sendiri.

Sebagai dampak dari berjalannya beriringan antara penciptaan Seni Islam dan perumusan ilmu pengetahuan Seni Islam, pada fase ketiga terjadi tarikan antara landasan filosofis Seni Islam yang merupakan ranah teoritik dengan perwujudan Seni Islam yang merupakan ranah praktik. Ada kalanya keduanya berkesesuaian di mana kehadiran wujud fisik Seni Islam dibidani oleh ilmu pengetahuan Seni Islam yang dilandasi oleh sistem nilai Islam. Ada kalanya pula keduanya tidak berkesesuaian di mana kehadiran wujud fisik seni oleh seniman Muslim dibidani ilmu pengetahuan seni yang bersumberkan dari sistem nilai selain Islam atau penciptaan seni yang bersandarkan pada landasan filosofis Seni Islam tetapi menggunakan unsur fisik seni dari peradaban lain tanpa proses penyesuaian dan penyerapan ke dalam sistem nilai Islam yang menyebabkan antara landasan filosofis dan perwujudan fisiknya tidak terhubung.

Tarikan yang terjadi pada fase ketiga gerak kesejarahan Seni Islam paling tidak disebabkan tiga faktor, yakni (1) maraknya praktik berkesenian yang beriringan dengan perumusan ilmu pengetahuan Seni Islam, sehingga memungkinkan aspek yang satu berkembang lebih pesat dibandingkan aspek lainnya; (2) meluasnya persebaran Islam yang diikuti dengan perpindahan pusat Peradaban Islam seiring pergantian Dinasti. Persebaran Islam terkait dengan keragaman kondisi hidup, sejarah, sumber daya alam dan kepemilikan budaya umat Islam yang membentuk keragaman keberagamaan di kalangan umat Islam, sehingga memunculkan keragaman seni yang dicipta umat Islam. Ismail Raji’ Faruqi di dalam bukunya berjudul Atlas Kebudayaan Islam menyinggung perihal tarikan seni di Dunia Islam disebabkan faktor ini. Menurutnya pada bagian Timur wilayah Dunia Islam cenderung menghadirkan seni dengan wajah yang mencerminkan ortodoksi Islam, sedangkan pada bagian Barat wilayah Dunia Islam cenderung menghadirkan seni dengan wajah yang mencerminkan pemahaman Islam yang heterodoks; dan faktor (3) perbedaan pandangan yang hampir tidak bisa dijembatani antara kalangan fuqaha, teolog, sufi dan filosof yang tidak bisa dihindari memunculkan parsialitas pemahaman Islam. Dampaknya dalam bidang seni hanya menekankan pada salah satu aspek Islam dalam penciptaan Seni Islam. Kalangan fuqaha berfokus pada perwujudan fisik seni yang berkesesuaian dengan hukum Islam seperti keharaman wujud fisik seni menyerupai makhluk hidup, sementara kalangan teolog berupaya menjabarkan konsep Tauhid secara rasional sebagai asas bagi seluruh aspek kehidupan umat Islam, termasuk kegiatan berkesenian untuk mewujudkan Seni Islam yang mencerminkan cita Tauhid. Dengan pendekatan rasional pula kalangan filosof berfokus pada perumusan prinsip estetika yang sifatnya preskriptif. Berbeda dengan kalangan lainnya, kalangan sufi berfokus pada substansi seni yang memuat pesan-pesan Islam secara esoteris-metaforik untuk mencapai pengalaman spiritual-estetik secara eksistensial.

Tarikan yang terjadi antara aspek filosofis dan perwujudan fisik seni menjadikan tidak setiap seni yang dicipta umat Islam dapat dinyatakan sebagai Seni Islam. Sampai di sini, untuk melengkapi takrif Seni Islam pada fase kedua, Seni Islam merupakan hasil cipta seniman Muslim di mana perwujudan fisiknya berlandaskan pada asas filosofis yang bersumberkan dari Islam. Kebalikannya, seni yang dicipta umat Islam di mana perwujudan fisiknya tidak selaras dengan asas filosofis Seni Islam atau asas filosofis itu sendiri tidak bersumberkan dari Islam, maka seni yang demikian tidak dapat dinyatakan sebagai Seni Islam. Statusnya sebatas sebagai Seni Muslim yang merujuk pada identitas penciptanya. Dengan cara pandang demikian, pada fase ketiga garis kesejarahan Seni Islam terdapat seni yang berkesesuaian dengan idealitas Islam dan seni hasil cipta seniman Muslim yang berjarak dari idealitas Islam. Keduanya merupakan khazanah seni yang dimiliki umat Islam sepanjang gerak kesejarahannya. Demikianlah sejarah patutnya dipahami sebagai gerak yang dinamis, sebab dalam gerak kesejarahannya tidak selalu idealitas Islam mampu dicapai oleh umat Islam, termasuk di bidang penciptaan seni.

Gambar 3: Garis kesejarahan Seni Islam menurut pandangan penulis
Sumber: Analisa, 2016

Demikian tanggapan saya terhadap pandangan kedua Abdul Jabbar dalam aspek ontologi terkait dengan takrif dan syarat Seni Islam dan aspek epistemologi terkait dengan sumber kebenaran dan penciptaan Seni Islam. Pada beberapa hal saya bersepakat dengan Abdul Jabbar dan pada hal lainnya saya memiliki pendapat yang berbeda sebagaimana saya telah jabarkan di atas. Pandangan Abdul Jabbar menurut saya penting untuk diulas dan ditanggapi karena saya pribadi beberapa kali bertemu dan berdiskusi langsung dengan pengajar, peneliti dan mahasiswa penggiat Arsitektur Islam yang memiliki pandangan serupa dengan pandangan kedua Abdul Jabbar. Oleh karenanya tanggapan saya terhadap pandangan Abdul Jabbar yang tertuang dalam tulisan ini sekaligus merupakan tanggapan saya terhadap pandangan serupa di bidang Arsitektur Islam. 

Satu hal yang luput dari tanggapan saya terhadap Abdul Jabbar ialah aspek aksiologi Seni Islam. Pada pandangannya yang pertama Abdul Jabbar telah jelas menyatakan tujuan dari penciptaan Seni Islam adalah merupakan sikap penghambaan seorang Muslim kepada Allah. Saya bersepakat dengan Abdul Jabbar bahwa penciptaan dan penyerapan Seni Islam oleh umat Islam harus dilakukan dalam koridor penghambaan diri kepada Allah yang didasari niat ikhlas dan ilmu yang benar. Dari sini dapat dipahami jika pada pandangannya yang kedua Abdul Jabbar meminggirkan aspek aksiologi Seni Islam sebagai konsekuensi mendudukkan seniman non Muslim sebagai pihak pencipta Seni Islam yang tentu saja tidak didasari penghambaan diri kepada Allah dalam penciptaan objek seni yang dihadirkannya.

Gambar 4: Struktur Seni Islam menurut pandangan penulis
Sumber: Analisa, 2016

Sebagai kesimpulan tanggapan saya, dalam pandangan saya idealitas dan realitas Seni Islam merupakan kesatuan dalam garis kesejarahan Seni Islam di mana pada satu fase keduanya bersinggungan, berpotongan dan berkesesuaian dan pada fase yang lain keduanya terpisah, sehingga terjadi jarak antara idealitas Seni Islam yang berada di alam khayali dengan realitas berkesenian yang dialami umat Islam. Dalam kondisi ini umat Islam sebagai pihak pencipta dan penikmat Seni Islam dengan kepemilikan Islam di dalam dirinya senantiasa melakukan ikhtiar untuk mempersempit jarak antara idealitas dan realitas bahkan menjadikan keduanya melebur dalam kesatuan. Pandangan yang saya pilih mengambil arah jalan yang berbeda dengan Abdul Jabbar yang meyakini bahwasanya antara idealitas dan realitas Seni Islam tidak dapat dijembatani. Sekali lagi, saya tidak bersepakat dengan pandangan tersebut!

C. Penutup

Tiga fase pembentukan Seni Islam bukanlah sekedar gerak kesejarahan yang telah berlalu, tetapi merupakan tahapan-tahapan yang pada dasarnya merupakan strategi peradaban untuk mencapai puncak pencapaian Seni Islam. Pandangan bahwa peradaban akan berulang bukanlah dimaksudkan akan berulang dengan sendirinya oleh daya peradaban itu sendiri, tetapi dengan daya upaya dari manusia pengusungnya. Di sinilah tahapan-tahapan Seni Islam yang telah terjadi pada masa lalu mendapatkan relevansinya untuk sekali lagi digunakan umat Islam sebagai strategi peradaban untuk kembali mencapai puncak pencapaian Seni Islam. 

Fase pertama pembentukan Seni Islam tidak akan pernah terulang sepenuhnya karena pembentukan sistem nilai Islam telah selesai dengan selesainya tugas kerasulan Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Yang akan terus berulang dari fase pertama adalah hijrahnya umat Islam dari sistem nilai yang bertentangan dengan Islam untuk kembali kepada sistem nilai Tauhid. Dalam konteks seni, fase pertama merupakan upaya penyadaran kepada seniman Muslim, peneliti Muslim di bidang kesenian dan pembelajar Muslim di bidang kesenian untuk hijrah epistemologi. Fase kedua merupakan upaya umat Islam meningkatkan kualitas keahliannya mencipta seni sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman dan mempelajari khazanah ilmu pengetahuan seni dari berbagai peradaban, termasuk khazanah ilmu pengetahuan Seni Islam yang telah dirumuskan oleh generasi terdahulu umat Islam. Fase ketiga merupakan upaya seniman Muslim menghadirkan Seni Islam yang paripurna dan pengembangan ilmu pengetahuan Seni Islam yang ajeg lagi mencerahkan yang merupakan pengembangan ilmu pengetahuan Seni Islam yang telah dirumuskan pada masa lalu. Berkaca dari kesejarahan yang telah lalu, pelajaran dari fase ketiga yang dapat diambil bagi generasi kini ialah menghindari terjadinya konflik di kalangan umat Islam agar parsialitas pemahaman Islam dapat dihindari, sehingga dapat dicipta Seni Islam yang mencerminkan Islam secara utuh keseluruhan.

Tiga tahap pembentukan Seni Islam hanya dapat dipahami saling keterkaitannya sebagai satu kesatuan strategi peradaban jika diletakkan dalam kerangka pendidikan. Fase pertama merupakan pendidikan wajib ain bagi setiap Muslim yang melingkupi perkara keimanan, kewajibannya selaku umat Islam dan persoalan halal haram. Fase kedua, seorang Muslim yang telah menyesaikan jenjang fase pertama diizinkan memasuki ranah pendidikan wajib kifayah, salah satunya ialah berkecimpung di bidang kesenian, yang merupakan. Setelah dinilai memiliki otoritas, pembelajar Muslim di bidang kesenian ditetapkan sebagai seniman yang mengemban tugas sebagai wakil Allah di muka bumi dengan beramal di ranah praktik berkesenian maupun ranah teoritik kesenian. Dengan tahapan seperti ini, Seni Islam dihadirkan oleh pribadi Muslim yang berserah diri sepenuhnya sebagai seorang hamba sekaligus memiliki otoritas di bidang Seni Islam, sehingga Seni Islam yang dicipta maupun ilmu pengetahuan Seni Islam yang dirumuskan merupakan cahaya Islam yang ditebar untuk mengusir kegelapan.

Gambar 5: Strategi peradaban untuk kebutuhan masa kini berdasar garis perkembangan Seni Islam menurut pandangan penulis
Sumber: Analisa, 2016

Akan berbeda arah jika garis kesejarahan Seni Islam menurut Abdul Jabbar digunakan dalam konteks hari ini. Di satu sisi umat Islam berposisi sebagai subjek-aktif pemberi tugas dan penyokong biaya untuk menghadirkan Seni Islam, sementara di sisi yang lain umat Islam berposisi sebagai subjek-pasif dalam penciptaan Seni Islam dengan menyerahkan seluruhkan kepada pihak yang memiliki keahlian di bidang seni-tinggi, tidak terkecuali kepada pihak seniman non Muslim. Bergantung kepada keahlian pihak lain menjadikan umat Islam tidak berfokus pada peningkatan kualitas diri agar daya upaya dapat seluruhnya dikerahkan untuk memenuhi pendanaan dan pengembangan preferensi seni. 

Alih-alih terbentuk struktur biner dalam hubungan pemberi-penerima tugas di mana yang pertama memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada yang kedua sehingga dapat mendikte dan mempengaruhi yang kedua, yang terjadi justru sebaliknya di mana pihak penerima tugas mendikte pihak pemberi tugas dikarenakan ketiadaan kepemilikan ilmu di bidang kesenian, sehingga dengan perlahan objek seni yang dihadirkan mempengaruhi cara pandang umat Islam terhadap seni pada khususnya dan terhadap realitas secara keseluruhan. Fenomena demikian tengah terjadi di banyak negara Muslim di berbagai belahan dunia, sebut saja salah satunya ialah Dubai yang celakanya menjadi model bagi tidak sedikit negara Muslim lainnya seperti Indonesia.

Demikianlah satu pertimbangan lagi yang memberatkan saya untuk bersepakat dengan Abdul Jabbar terkait kedudukan umat Islam dan seniman non Muslim yang termuat dalam pandangan keduanya. Dan tampaknya pandangan kedua Abdul Jabbar telah dipraktikkan pada hari ini, baik secara sadar maupun tanpa sadar, yang secara perwujudan fisik telah memukau banyak mata tetapi turut menghadirkan masalah yang tidak sedikit pula, di antaranya peminggiran kalangan ekonomi bawah, perendahan seni rakyat, eksploitasi alam dan terutama kerusakan internal batin umat Islam. Jika ini konsekuensi yang harus diterima dan harga yang harus dibayar untuk perkembangan perwujudan seni yang dikatakan Islam, tentu saja saya tidak bersepakat!

Allahu a’lam bishawab.
Bertempat di Kartasura pada Safar 1438 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar