Sabtu, 30 Desember 2017

Konsep Kota Barat dan Kota Islam; Sebuah Perbandingan Pusat-Ruang Kota

Menurut pendekatan Fungsionalisme, kota diibaratkan sebagai sebuah organisme yang memiliki organ-organ di mana setiap organ memiliki fungsinya masing-masing yang spesifik untuk menopang kelangsungan hidup organisme tersebut. Dalam konteks ruang kota, kota itu sendiri secara keseluruhan diibaratkan sebuah organisme yang memiliki organ berupa ruang ekonomi, politik, sosial, ekologi, pendidikan, peribadatan dan lain sebagainya di mana setiap ruang memiliki fungsinya masing-masing yang spesifik untuk keberlangsungan hidup suatu kota, bagaikan organ jantung, hati, paru-paru dan organ lainnya penyusun organisme bernama manusia yang masing-masingnya memiliki fungsi tersendiri berkaitan dengan kelangsungan hidup tubuh manusia. Namun begitu, keberadaan organ-organ pembentuk kota tidak serta merta menjadikan suatu kota hidup karena dibutuhkan denyut nadi yang menggerakkan organ-organ tadi. Tanpa denyut, organ-organ yang dimiliki kota tidak berguna karena tidak memiliki daya gerak yang membuatnya hidup. 

Masih menurut pendekatan Fungsionalisme, setiap organ pembentuk kota saling terhubung membentuk struktur ruang kota dengan sebuah atau beberapa organ berkedudukan sebagai pusat-ruang kota yang berperan sebagai sumber denyut nadi bagi organ-organ lainnya. Denyut nadi yang dimaksud merupakan metafora dari daya gerak yang menggerakkan dan menggetarkan organ-organ lain pembentuk ruang kota untuk berfungsi dan secara bersama-sama memberi kehidupan bagi kota. Jika pusat-ruang kota sebagai sumber denyut nadi mengalami masalah, maka akan mempengaruhi kinerja organ-organ lainnya. Pada kondisi ini suatu kota sedang menderita sakit yang ditandai dengan memburuknya kehidupan kota di mana tingkat keparahan sakitnya tergantung pada tingkat masalah yang dialami pusat-ruang kota. Jika pusat-ruang kota tidak lagi dapat mendenyutkan ruang-ruang lainnya dikarenakan masalah yang diidap sudah sangat parah, maka suatu kota dapat berakhir dengan kematian. Begitupula sebaliknya, sehingga sehat dan tidaknya suatu kota dapat ditelusur dari kondisi pusat-ruang kota yang menegaskan pentingnya kedudukan pusat-ruang kota bagi ruang-ruang lainnya dan bagi kota itu sendiri agar memiliki kehidupan. Pertanyaannya adalah, organ apakah yang berkedudukan sebagai denyut nadi kota?

Penentuan sumber denyut nadi kota berasaskan pada pandangan-alam warga kota yang berkuasa terhadap ruang kota, baik individu maupun kelompok, baik dari kalangan pengusaha, cendikiawan maupun pemerintah. Dengan kuasa yang dimilikinya dalam bentuk kepemilikan ruang, modal dan wewenang politik, seseorang maupun kelompok membentuk ruang kota sesuai dengan pandangan-alam yang tertanam di dalam dirinya terkait struktur diri, tujuan hidup, kebutuhan hidup dan cara-cara untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga suatu ruang kota mencerminkan pandangan-alam yang mendasari kehadirannya, termasuk dalam penentuan pusat-ruang kota. Dengan demikian perbedaan pandangan-alam akan mengakibatkan perbedaan struktur ruang kota serta variabel dan indikator kesehatan ruang kota. Berdasar pandangan ini, kota yang diibaratkan sebagai organisme tidaklah hadir begitu saja secara mandiri, tetapi kehadiran dan perwujudannya sangat bergantung kepada manusia sebagai pencipta ruang binaan, sebagaimana sebuah organisme yang kehadirannya sangat bergantung kepada Sang Pencipta.

Secara arsitektural, pusat-ruang kota sebagai sumber denyut nadi kehidupan kota dapat diidentifikasi dari tiga unsur pembentuknya, yakni (1) intensitas penggunaan ruang; (2) perwajahan ruang; dan (3) akses ruang. Pusat-ruang kota memiliki intensitas penggunaan ruang paling tinggi dibandingkan ruang-ruang lainnya dikarenakan merupakan pusat kehidupan kota dan pusat kegiatan warga kota. Sementara di antara ruang lainnya, pusat-ruang kota memiliki perwajahan ruang dengan karakter visual paling kuat, baik dari segi bentuk, skala, dimensi, warna dan unsur lainnya, sehingga menjadikannya sebagai vocal-point ruang kota yang membentuk wajah dominan dan citra suatu kota. Dan yang terakhir, pusat-ruang kota memiliki akses ruang paling terintegrasi dengan ruang-ruang lainnya dikarenakan intensitas penggunaan ruang yang tinggi menuntut pusat-ruang kota dapat diakses dari berbagai arah oleh warga kota. Jumlah akses menuju pusat-ruang kota tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas akses dalam arti tidak selalu paling mudah diakses karena memiliki resiko paling tinggi terjadinya kemacetan disebabkan tingginya intensitas kegiatan. Ketiga unsur dengan karakter demikian secara objektif bertujuan untuk menegaskan pusat-ruang kota sebagai ruang yang memiliki kedudukan paling penting bagi kehidupan kota dan secara subjektif bertujuan membentuk persepsi kolektif warga kota agar mampu mengidentifikasi pusat-ruang kota dan menjadikannya sebagai ruang yang paling diingat di dalam kota yang dihidupinya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mekanisme gerak kota dikaitkan dengan hubungan antara pusat-ruang sebagai sumber denyut nadi dengan organ-organ lainnya? Menurut pendekatan Fungsionalisme, hubungan antara pusat-ruang kota dengan ruang-ruang lainnya berlaku hubungan saling mempengaruhi dan bersifat siklis yang terdiri dari tiga proses. Proses pertama, kegiatan yang terjadi di pusat-ruang kota akan mendenyutkan kehidupan kota dengan mendorong terjadinya kegiatan di dalam ruang-ruang lainnya. Proses kedua, kegiatan yang terjadi di ruang-ruang lain tersebut sebagai akibat dari kegiatan di pusat-ruang kota kembali mengarah ke pusat-ruang kota, sehingga memperkuat denyut nadi pusat-ruang kota berupa peningkatan intensitas kegiatan. Proses ketiga, peningkatan intensitas kegiatan di pusat-ruang kota mendorong terjadinya perluasan ruang diikuti dengan peningkatan akses ruang secara kuantitas maupun kualitas agar peningkatan kekuatan denyut nadi dari pusat-ruang kota dapat menjangkau dan melayani skala ruang yang lebih luas. Tiga proses ini terus berulang yang menjadikan suatu kota terus mengalami perkembangan, baik dalam arti kualitas ruang kota yang berkorelasi dengan kualitas kehidupan warga kota maupun dalam arti kuantitas ruang kota, yakni perluasan wilayah kota.


Gambar 1: Mekanisme gerak kota berdasarkan pendekatan Fungsionalisme
Sumber: Analisa, 2017

Dalam tulisan ini dengan menggunakan pendekatan Fungsionalisme saya hendak mengulas struktur ruang kota menurut konsep Kota Barat dan konsep Kota Islam serta membandingkan keduanya, terutama terkait dengan aspek pusat-ruang kota sebagai pembentuk ciri khas Kota Barat dan Kota Islam yang masing-masingnya akan dibahas secara terpisah dalam tulisan ini. Perbandingan keduanya diperlukan sebagai kacamata untuk melihat, memahami dan mengulas fenomena tarik menarik denyut ruang kota yang secara laten menggambarkan benturan pandangan-alam antar kelompok warga kota yang memiliki kuasa untuk membentuk dan menggerakkan ruang kota. Memahami fenomena tarikan denyut spasial ruang kota bertujuan untuk merumuskan strategi spasial agar warga kota dapat menguasai dan menggerakkan ruang kota berdasarkan pandangan-alam yang tertanam di dalam dirinya. Bagi internal umat Islam, tujuannya tidak lain untuk menguasai tarikan denyut spasial agar ruang kota yang dihuninya menjadi lekat dengan identitas Islam dan mencerminkan pandangan-alam Islam. Pada akhirnya bagi umat Islam, tujuan menguasai denyut nadi kota adalah untuk menciptakan ruang kehidupan yang diridhai Allah layaknya Madiinatun Nabi. Untuk persoalan yang terakhir, akan saya bahas dalam tulisan tersendiri sebagai kelanjutan dari tulisan ini. 

Sabtu, 25 November 2017

Empat Pendekatan Arsitektur Islam

Dalam Kuliah Umum Filsafat Ilmu pada 1 Oktober 2017 yang lalu di Ma’had Aly Imam Ghazaly Surakarta, Dr. Syamsuddin Arif menyampaikan empat pendekatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang terdiri dari pendekatan (1) Apologi; (2) Historis; (3) Praksis; dan (4) Filosofis. Sebelum dijelaskan keempat pendekatan tersebut, saya akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai apa yang dimaksud dengan Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Secara umum dan singkat, Islamisasi Ilmu Pengetahuan ialah sebuah ikhtiar kerja keilmuan yang dilakukan oleh umat Islam untuk menyerap capaian ilmu pengetahuan yang diproduksi oleh peradaban lain, dalam konteks zaman kini ialah Peradaban Barat Modern, untuk dimilikinya sebagai bagian dari khazanah Peradaban Islam. Tingkat urgensi dilakukannya Islamisasi Ilmu Pengetahua adalah agar ilmu pengetahuan yang diserap tidak bertentangan dan agar berkesesuaian dengan asas keyakinan Islam yang dianutnya, yakni Tauhid, tujuan Islam maupun kebutuhan-kebutuhan umat Islam. 

Empat pendekatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang disampaikan oleh Dr. Syamsuddin Arif dapat digunakan untuk memahami pewacanaan Arsitektur Islam dan sebagai sebuah pemikiran dapat digunakan untuk merumuskan Arsitektur Islam. Pernyataan saya ini memiliki tiga argumentasi. Pertama, Arsitektur Islam berada dalam ranah ilmu pengetahuan Islam atau sains Islam dan bukan merupakan bagian dari Teologi Islam, walaupun antara keduanya tidak dapat dipisahkan dan sangat berkaitan erat. Kedua, perumusan Arsitektur Islam dalam konteks dunia modern saat ini mendapatkan momentum dan tantangan dari Peradaban Barat Modern yang tengah mendominasi keilmuan maupun keprofesian arsitektur di seluruh dunia, sehingga ikhtiar Islamisasi Ilmu Pengetahuan di bidang arsitektur menjadi relevan untuk dilakukan. Ketiga, secara sosiologis dalam pewacanaan dan perumusan Arsitektur Islam, keempat pendekatan tersebut telah digunakan hingga membentuk komunitas pengusungnya masing-masing, baik komunitas formal yang bernaung di bawah suatu institusi perguruan tinggi atau institusi selainnya maupun komunitas imajiner yang merupakan kumpulan berbagai individu yang secara tidak sadar memiliki kesamaan pandangan. 

Dalam tulisan ini akan dijelaskan keempat pendekatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan dalam konteks Arsitektur Islam sebagai ikhtiar saya untuk memetakan pewacanaan Arsitektur Islam yang hingga kini masih berlangsung dan sebagai dasar untuk menyusun serta menawarkan sebuah agenda bersama dalam upaya pewacanaan dan perumusan Arsitektur Islam. Untuk itu tulisan ini terdiri dari dua rangkaian tulisan. Pada tulisan pertama memuat pendekatan Arsitektur Islam berdasarkan empat pendekatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang disebutkan dan dijelaskan singkat oleh Dr. Syamsuddin Arif. Sedangkan penjelasan panjang lebar dan kontekstualisasi pembahasannya dalam bidang arsitektur berasal dari pemahaman saya terkait keempat pendekatan tersebut, baik dari mempelajari buku maupun pengalaman menerapkan dan atau berinteraksi dengan pengusungnya. Dilanjutkan tulisan kedua yang memuat tawaran saya mengenai agenda bersama dalam pewacanaan dan perumusan Arsitektur Islam beserta dengan tahap-tahap, langkah-langkah dan penjelasan yang dibutuhkan.

*****

Sabtu, 23 September 2017

Kelayakan Menghadirkan Arsitektur Berdasar Pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam

Menghadirkan suatu objek arsitektur tidaklah dilakukan begitu saja tanpa alasan apalagi tanpa dasar-dasar yang jelas, tetapi harus melalui serangkaian proses perancangan yang didasari kelayakan terkait dua hal, yakni (1) apakah sebuah objek arsitektur memang layak untuk dihadirkan; dan (2) jika layak, arsitektur seperti apa yang harus dihadirkan. Yang pertama lazim disebut studi kelayakan yang merupakan dasar pembenar dilakukannya proses perancangan untuk menghadirkan suatu obek arsitektur, sedangkan yang kedua merupakan rumusan konsep dasar arsitektur sebagai pondasi bagi seluruh tahapan perancangan dan merupakan jiwa bagi objek arsitektur yang dihadirkan. Dengan studi kelayakan, objek arsitektur memiliki alasan yang shahih dan argumentatif untuk dihadirkan dan dengan konsep dasar setiap bagian pembentuk objek arsitektur yang dihadirkan menjadi dapat dijelaskan karena memiliki narasi yang bermakna bagi pihak pemilik dan pengguna arsitektur.

Dalam pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam, tahap kelayakan menghadirkan arsitektur merupakan wujud-gagasan jika dilihat dari hasilnya, yakni dasar kelayakan dan rumusan konsep dasar, dan merupakan wujud-perilaku jika dilihat dari pihak perancang yang berupaya menghadirkan objek arsitektur melalui lengkah-langkah tertentu dan berdasarkan pertimbangan tertentu pula. Konsep dasar sebagai hasil akhir dari tahapan kelayakan saya istilahkan dengan gagasan-konseptual yang akan diterjemahkan secara derivatif menjadi gagasan-praktis dalam tahapan tranformasi desain sebagai panduan menghadirkan wujud-artefak arsitektur yang dijiwai wujud-gagasan. Inilah ciri khas pendekatan Psiko-Kultural sebagai pemikiran arsitektur di antara pendekatan Arsitektur Islam lainnya yang dirumuskan untuk dapat menghadirkan objek arsitektur yang berasaskan Islam sejak tahap perumusan wujud-gagasan yang terjadi di dalam alam mental perancang hingga penghadiran wujud-artefaknya di alam empirik. Dengan pendekatan Psiko-Kultural, pengkajian dan penghadiran Arsitektur Islam tidak hanya sebatas berkaitan dan mempersoalkan wujud-artefak yang kini merupakan arus utama dalam pewacanaan Arsitektur Islam, tetapi utamanya berkaitan dan mempersoalkan wujud-gagasan yang merupakan landasan bagi wujud artefak.

Pendekatan Psiko-Kultural menekankan aspek wujud-gagasan arsitektur karena secara asasi merupakan pembeda antara Arsitektur Islam dengan selainnya dikarenakan wujud-gagasan berjarak paling dekat dan terikat paling kuat dengan sistem keyakinan Islam di antara dua wujud lainnya yang menjadikan wujud-gagasan Arsitektur Islam yang dirumuskan dengan pendekatan Psiko-Kultural memuat kebenaran, pandangan-alam dan nilai-nilai Islam. Wujud-artefak yang kehadirannya dilandasi wujud-gagasan demikian akan menjadikannya memuat ciri khas Islam, sehingga objek arsitektur yang hadir secara fisik-konkret memiliki legitimasi untuk dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Islam. Di sinilah kedudukan wujud-gagasan dan urgensinya dalam upaya menghadirkan Arsitektur Islam, karena tanpanya wujud-artefak arsitektur tidak akan memiliki legitimasi sebagai objek arsitektur yang Islam dan tidak memiliki asas untuk menjadikannya bermuatan Islam. Atas latar dan permasalahan tersebut, saya berupaya menuliskan langkah-langkah perumusan wujud-gagasan Arsitektur Islam sebagai upaya saya untuk merumuskan pendekatan Arsitektur Islam yang tidak sekedar sebagai pemikiran arsitektur yang bersifat filosofis-abstrak, tetapi juga merupakan kerangka-kerja-arsitektur yang bersifat metodologis-aplikatif untuk menghadirkan objek arsitektur. Inilah ciri khas kedua pendekatan Psiko-Kultural di antara pendekatan Arsitektur Islam lainnya dengan menyeret pewacanaan Arsitektur Islam untuk memasuki dimensi epistemologi dan ontologi agar tidak melulu berkutat pada dimensi aksiologi yang merupakan konsekuensi dari dominasi aspek teknik dalam pewacanaan Arsitektur Islam. 

Sebagaimana yang telah saya sampaikan pada bagian yang lalu, kelayakan menghadirkan objek arsitektur ditentukan berdasarkan (1) layak tidaknya suatu objek arsitektur dihadirkan; dan (2) konsep dasar yang melandasi dan menjiwai kehadiran objek arsitektur. Untuk dapat memahami hubungan kedua poin tersebut dengan benar perlu diketahui dua prinsip yang mendasarinya yakni, (1) keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat ditanggalkan salah satunya. Menanggalkan poin pertama akan menyebabkan upaya menghadirkan suatu objek arsitektur tidak memiliki alasan yang argumentatif dan shahih, sedangkan menanggalkan poin kedua akan menjadikan proses perancangan yang dilakukan tidak memiliki panduan dan objek arsitektur yang dihadirkan tidak dapat dijelaskan; dan (2) keduanya sebagai bagian dari proses perancangan harus dilakukan secara bertahap dan berurutan karena poin pertama merupakan syarat dilakukannya langkah pada poin kedua dan poin kedua merupakan kelanjutan dari langkah pada poin pertama. Dalam tulisan berseri yang dimulai dari poin pertama dalam tulisan ini saya akan menjelaskan secara berurutan kedua poin tersebut yang menentukan kelayakan menghadirkan objek arsitektur berdasarkan pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam.

*****

Dalam pendekatan Psiko-Kultural, kelayakan menghadirkan objek arsitektur didasarkan pada dua prinsip. Prinsip pertama, menghadirkan objek arsitektur harus didasarkan kebutuhan yang berarti terdapat kegiatan dan pelaku kegiatan yang menuntut dihadirkannya ruang binaan untuk mewadahi kegiatan yang dilakukannya. Langkah pertama ini dilandasi asumsi dasar pendekatan Psiko-Kultural bahwa kehadiran manusia mendahului kehadiran arsitektur dan kehadiran arsitektur bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap ruang binaan yang berupaya dipenuhi olehnya melalui kerja-kreatif-budaya. Tanpa kehadiran manusia dan tanpa manusia yang berkebutuhan, maka arsitektur tidak akan hadir. Cara pandang ini menegaskan dua hal, yakni (1) pendekatan Psiko-Kultural menempatkan manusia pada kedudukan yang sentral dalam upaya menghadirkan objek arsitektur; dan (2) unsur utama pembentuk arsitektur ialah ruang yang merupakan sebab utama dihadirkannya arsitektur oleh manusia yang secara fungsional membutuhkan ruang binaan untuk mewadahi kegiatannya.

Yang perlu digarisbawahi dalam prinsip pertama adalah penekanannya pada (1) kebutuhan; dan (2) tuntutan. Kebutuhan berkaitan dengan kegiatan yang akan diwadahi, sedangkan tuntutan berkaitan dengan hubungan antara pelaku, kegiatan dan ruang yang mewadahinya. Saya akan menjelaskannya dimulai dari aspek yang kedua. Penekanannya pada tuntutan berarti suatu kegiatan dapat menjadi dasar kelayakan untuk dihadirkannya suatu objek arsitektur jika belum terdapat ruang binaan yang dapat mewadahinya atau ruang binaan yang telah ada tidak dapat mewadahi kegiatan tersebut karena keterbatasan kapasitas dan atau perbedaan spesifikasi ruang dikarenakan perbedaan persyaratan kegiatan yang diwadahi. Dari pernyataan ini dapat dipahami bahwa adanya suatu kegiatan tidak serta merta dapat dijadikan pembenar untuk menghadirkan suatu objek arsitektur karena harus memenuhi syarat belum terdapatnya ruang binaan untuk mewadahi kegiatan tersebut. 

Contoh yang dapat saya hadirkan untuk menjelaskan penekanan pendekatan Psiko-Kultural pada aspek tuntutan dalam menghadirkan objek arsitektur adalah adanya sekelompok anak muda yang rutin berkegiatan olahraga futsal menuntut agar kegiatannya tersebut diwadahi dalam ruang binaan sementara di lingkungan permukimannya telah terdapat ruang untuk mewadahi kegiatan olahraga basket yang digunakan secara rutin oleh sekelompok anak muda lainnya. Pertanyaannya adalah, apakah dibenarkan menghadirkan ruang binaan untuk mewadahi kegiatan futsal sementara telah terdapat ruang binaan untuk mewadahi kegiatan basket? Sebelum menganalisis kasus tersebut, perlu saya sampaikan kembali bahwa penekanan pendekatan Psiko-Kultural pada aspek tuntutan berkaitan dengan hubungan antara pelaku, kegiatan dan ruang yang mewadahi, sehingga yang perlu diperhatikan tidak saja kegiatan dan ruang, tetapi juga manusia yang memiliki dan berkegiatan di dalam ruang binaan.

Jika ruang yang diperuntukkan untuk mewadahi kegiatan basket memiliki spesifikasi ruang yang sama untuk mewadahi kegiatan futsal dan antara dua kelompok yang berkegiatan dapat dicapai kesepakatan untuk mempergunakan ruang tersebut secara bersama-sama melalui mekanisme pengaturan jadwal penggunaan ruang atau mekanisme lain yang disepakati keduanya, maka dalam pendekatan Psiko-Kultural tidak dapat dibenarkan menghadirkan objek arsitektur baru untuk mewadahi kegiatan futsal. Menghadirkan onjek arsitektur baru untuk mewadahi kegiatan futsal hanya dapat dibenarkan jika yang berlaku adalah sebaliknya, yakni kedua kegiatan memiliki persyaratan kegiatan yang berbeda karenanya menuntut spesifikasi ruang yang berbeda pula, sehingga ruang yang diperuntukkan untuk mewadahi kegiatan olahraga basket tidak mampu mewadahi kegiatan futsal dan atau antara dua kelompok yang berkegiatan tidak dapat mencapai kesepakatan untuk mempergunakan ruang secara bersama-sama. Dalam pendekatan Psiko-Kultural tidak dapat dibenarkan melakukan kegiatan di dalam ruang binaan yang secara legal formal dan atau sosio-kultural dimiliki oleh seseorang atau suatu kalangan tanpa izin atau kesepakatan dengan pihak pemilik, walaupun ruang tersebut memiliki spesifikasi yang sesuai untuk dapat mewadahi kegiatan yang dimaksud karena merupakan perbuatan merampas hak milik pihak lain yang tidak dibenarkan oleh Islam dan sebagai upaya untuk menghindari terjadinya konflik sosial yang sudah pasti akan membawa kemudharatan bagi kalangan yang terlibat. 

Penekanan prinsip pertama pada aspek kebutuhan merupakan rantai penghubung dengan prinsip kedua upaya menghadirkan objek arsitektur berdasarkan pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam bahwa, kegiatan yang akan diwadahi dalam objek arsitektur yang sedang berupaya dihadirkan haruslah diafirmasi oleh atau berasaskan Islam, sehingga yang dimaksud dengan kebutuhan adalah suatu kegiatan yang diizinkan oleh Islam untuk diwadahi dalam ruang binaan. Dengan kata lain, dalam pendekatan Psiko-Kultural upaya menghadirkan suatu objek arsitektur ditentukan oleh status kegiatan yang diwadahi yang harus memenuhi syarat-syarat Islam. Prinsip kedua ini dilandasi asumsi dasar pendekatan Psiko-Kultural yang di satu sisi mengakui sentralitas manusia dalam upaya menghadirkan objek arsitektur, tetapi di sisi lain bersandarkan pada pandangan bahwasanya manusia tidaklah menempati kedudukan sebagai sumber kebenaran tertinggi dalam hirarki kebenaran yang diakui Islam karenanya manusia bukanlah timbangan kebenaran bagi gagasan yang dirumuskannya, perilaku yang dilakukannya dan artefak yang dihadirkannya.

Islam mengakui adanya sumber kebenaran yang kedudukannya lebih tinggi daripada manusia dan melampaui fakulti kebenaran yang dimiliki manusia, yakni Wahyu yang merupakan firman Allah. Berdasarkan tujuan diturunkannya Wahyu oleh Allah kepada manusia yang tidak lain merupakan petunjuk dan jalan bagi manusia untuk mencapai keselamatan, maka agar berorientasi dan selaras dengan kebenaran yang sifatnya mutlak, fakulti kebenaran yang inheren terdapat dalam diri manusia, yakni intuisi, akal dan pancaindera, diharuskan tunduk dan terikat erat dengan Wahyu. Atas dasar pandangan tersebut seluruh gerak gerik manusia, termasuk kegiatan yang dilakukannya, haruslah mendapatkan persetujuan dari Wahyu untuk dinyatakan sebagai benar, sehingga sah menjadi dasar untuk menghadirkan suatu objek arsitektur guna mewadahinya.

Terdapat tiga kondisi kebutuhan manusia yang merupakan dasar menghadirkan objek arsitektur, tetapi tidaklah ketiganya dinyatakan sebagai kebutuhan dalam pendekatan Psiko-Kultural karena tidak diafirmasi oleh Islam sebagai benar. Ketiga kondisi kebutuhan manusia tersebut adalah sebagai berikut:

1. Jika terdapat suatu kegiatan, tetapi tidak dibenarkan oleh Islam untuk dilakukan, maka kegiatan tersebut tidak diperbolehkan untuk diwadahi dalam ruang binaan dan upaya menghadirkan objek arsitektur guna mewadahinya tidaklah dapat dibenarkan. 

2. Jika terdapat suatu kegiatan dan disetujui oleh Islam untuk dilakukan karena tidak bertentangan dan sejalan dengan Islam, maka kegiatan tersebut diperbolehkan untuk diwadahi dalam ruang binaan dan dibenarkan untuk menghadirkan objek arsitektur guna mewadahinya. Bahkan pada kondisi tertentu Islam sangat mendorong umatnya untuk menghadirkan objek arsitektur yang merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia seperti bermukim.

3. Jika suatu kegiatan diperintahkan oleh Allah untuk dilakukan, tetapi hanya segelintir manusia saja dalam suatu komunitas yang melakukannya sedangkan mayoritasnya tidak mengenal bahkan menentangnya, maka menghadirkan objek arsitektur guna mewadahinya tetap diupayakan untuk memperkenalkan kegiatan tersebut kepada kalangan luas agar turut mengamalkannya dan turut berkegiatan di di dalam ruang yang mewadahinya.

Kondisi pertama di atas dalam pandangan Islam tidaklah dinyatakan sebagai kebutuhan manusia karena bertentangan dengan Islam, walaupun mayoritas manusia berkeinginan atau bahkan rutin melakukannya sehingga telah menjadi kebiasaan serta ciri khas diri dan komunitasnya. Dasar dari pernyataan tersebut adalah bahwa seluruh yang diperintahkan Allah sebagai Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang termuat dalam Wahyu pastilah mengandung kebaikan bagi manusia yang menjadikan manusia butuh terhadap seluruh yang diperintahkan Allah untuk mencapai keselamatan dirinya. Sebaliknya, segala sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah pastilah memiliki dampak buruk bagi manusia karena tidak dapat menghantarkannya pada keselamatan diri yang menjadi dasar bagi Islam untuk menyatakannya sebagai bukan bagian dari kebutuhan manusia dengan melarang dan berupaya menjauhkan manusia untuk melakukannya. Ini adalah mekanisme Islam untuk menjaga fitrah kesucian manusia dengan menutup pintu kerusakan dan kemudharatan dari kegiatan buruk yang dilakukannya. Atas dasar ini, dalam suatu wilayah yang menerapkan pandangan-alam Islam mengenai kebutuhan manusia tidak akan ditemui kegiatan yang bertentangan dengan Islam dan tidak pula terdapat objek arsitektur yang mewadahinya.

Contoh untuk menjelaskan kondisi kebutuhan pertama di atas adalah kegiatan hiburan malam berupa kegiatan menggoyangkan tubuh diiringi lagu disko yang dilakukan oleh pria dan wanita di dalam ruang yang sama dengan mengenakan pakaian yang memperlihatkan aurat. Tidak hanya itu, kegiatan demikian sangat berkaitan dan merupakan pintu untuk dilakukannya kegiatan minum minuman berakohol, mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan berzina. Walaupun kegiatan tersebut dilakukan oleh mayoritas manusia dalam suatu wilayah tetaplah tidak dibenarkan oleh Islam untuk dilakukan, sehingga bukanlah merupakan kebutuhan bagi manusia. Atas dasar tersebut tidak dibenarkan untuk mewadahi kegiatan hiburan malam dalam ruang binaan dan tidak dibenarkan menjadikannya dasar untuk menghadirkan objek arsitektur yang mewadahinya semisal klub malam. Kegiatan lainnya yang termasuk kondisi kebutuhan pertama ialah perjudian. Walaupun diminati mayoritas manusia dan dilindungi oleh pemerintah karena menguntungkan dari sisi ekonomi negara, tetaplah tidak dibenarkan oleh Islam untuk dilakukan dan tidak dapat dijadikan pembenar untuk menghadirkan objek arsitektur yang mewadahinya semisal kasino. 

Berdasarkan cara pandang Islam yang menjadi asas pendekatan Psiko-Kultural, persoalan yang muncul dari kondisi pertama ini terdiri dari dua hal. Pertama, bagaimana cara yang dapat dilakukan agar manusia, baik sebagai pribadi maupun komunitas, dalam suatu wilayah hanya melakukan kegiatan yang berasaskan Islam? Kedua, jika dalam suatu wilayah marak dilakukan kegiatan yang bertentangan dengan Islam, bahkan telah menjadi ciri khas komunitas manusia di wilayah tersebut, bagaimana cara yang harus dilakukan untuk menghentikan kegiatan tersebut serta menggantinya dengan kegiatan yang diafirmasi oleh Islam dan bagaimana pula cara untuk menangani objek arsitektur yang mewadahinya? Deretan pertanyaan ini akan saya bahas berdasarkan pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam dalam tulisan yang berbeda karena dibutuhkan penjelasan yang tidak singkat serta agar fokus tulisan ini tidak meluas dan lepas dari tujuan awalnya. 

Di antara ketiga kondisi kebutuhan manusia di atas, dalam pandangan Islam yang dinyatakan sah sebagai kebutuhan manusia hanyalah kondisi kedua dan ketiga. Saya akan menjelaskannya satu persatu dimulai dari kondisi yang kedua. Kebutuhan yang dimaksud dalam kondisi kedua ialah kegiatan yang dilakukan oleh manusia untuk keberlangsungan hidup dan kehidupannya secara personal-individual maupun secara komunal-kolektif sebagai kesatuan komunitas, baik kegiatan tersebut merupakan tradisi yang telah dilakukan dan diwariskan secara turun temurun dari generasi terdahulu maupun merupakan inovasi yang bersifat baharu karenanya belum pernah dilakukan oleh generasi sebelumnya dengan syarat kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan Islam atau selaras dengan Islam. Diakuinya kondisi kedua sebagai kebutuhan manusia oleh Islam menandakan dua hal, yakni (1) Islam mengakui bahwasanya manusia memiliki kehendak untuk berkebutuhan sebagai kemampuan yang diberikan Allah kepada manusia untuk memertahankan kehadirannya di dunia, salah satunya ialah kehendak untuk memiliki kebutuhan akan ruang binaan; dan (2) Islam mengakui bahwasanya tidak seluruh kehendak manusia adalah buruk dan bernilai rendah. Kehendak manusia yang selaras dengan Islam diterima dan dinyatakan bernilai baik oleh Islam, sehingga mendapatkan legitimasi untuk direalisasikan. 

Secara teleologis, kegiatan yang tergolong kondisi kedua bertujuan untuk keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia di alam dunia. Sementara kegiatan yang termasuk di dalamnya tidaklah bersifat statis, dalam artian tidak hanya terbatas pada kegiatan yang dikenal pada masa hidup Rasul dan telah dilakukan oleh Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam serta para sahabatnya yang mulia dikarenakan setiap zaman dan tempat memiliki semangat dan tantangan yang berbeda, sehingga melahirkan kebutuhan yang berbeda pula. Kebenaran pernyataan tersebut dapat ditilik dengan memperhatikan geliat umat Islam sepanjang sejarah peradabannya di mana umat Islam melakukan dan mentradisikan kegiatan-kegiatan yang tidak dikenal pada masa hidup Rasul, tetapi disetujui oleh Islam, yang menjadi dasar dihadirkannya objek arsitektur yang berbeda dan tidak dijumpai pada zaman Rasul. Dasar inilah yang meniscayakan terjadinya perkembangan arsitektur di kalangan komunitas Muslim yang tidak hanya terbatas pada unsur teknologi dan unsur fisik arsitekturalnya saja, tetapi juga pada unsur fungsinya yang membentuk keragaman tipologi fungsi dan susunan ruang sebagai tanggapan terhadap keragaman kegiatan dan persyaratan kegiatan yang diwadahi.

Untuk sekedar menyebutkan satu di antara sekian banyak contoh dari kondisi kedua ini adalah kegiatan jual beli buku yang dilakukan secara beriringan dengan kegiatan membaca dan mengkaji buku sambil menikmati minuman dan makanan ringan yang disediakan. Kegiatan semacam ini tengah marak dilakukan masyarakat urban dari kalangan terdidik yang mendorong tumbuh suburnya kehadiran objek arsitektur yang bersifat baharu dari segi fungsinya, yakni café buku atau café literasi yang pada masa sebelumnya kedua kegiatan tersebut seringkali dipisah pewadahannya dalam objek arsitektur yang berbeda. Tidak diragukan lagi kegiatan yang inovatif dan bersifat baharu tersebut mendapatkan persetujuannya dari Islam, walaupun tidak dikenal pada zaman Rasul, karena selain tidak bertentangan dengan Islam juga karena memuat semangat Islam yang mewajibkan umatnya untuk mencari, mempelajari dan menguasai ilmu sepanjang hayatnya.

Yang terakhir dari ketiga kondisi kebutuhan manusia merupakan kebutuhan yang hanya dimiliki Islam, sehingga menjadi khas miliknya, baik dari aspek kegiatan yang dilakukan maupun objek arsitektur yang mewadahinya. Kegiatan dalam konteks kondisi ketiga ini merupakan perintah dari Allah kepada seluruh manusia yang disampaikan oleh-Nya melalui perantara seorang Rasul. Agar manusia memiliki motif untuk melakukan kegiatan yang diperintahkan Allah kepadanya, Allah menetapkan bahwa kegiatan tersebut jika dilakukan akan dapat menghantarkan manusia mencapai tujuan hidupnya, yakni keselamatan. Sementara agar memiliki dorongan yang kuat, Allah menetapkan pahala bagi manusia yang melakukan dan dosa bagi yang meninggalkan kegiatan-kegiatan yang diwajibkan oleh-Nya kepadanya. Terdapat pula kegiatan yang sangat ditekankan oleh Allah kepada manusia sebagai tambahan kebaikan bagi dirinya walaupun Allah tidak menetapkan konsekuensi dosa bagi manusia yang meninggalkannya. 

Berbeda dengan kondisi kedua, kondisi kebutuhan ketiga bersifat statis karena berkaitan dengan perintah Allah yang tertuang dalam Wahyu dan telah dicontohkan pelaksanaannya oleh Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Atas dasar tersebut, prinsip kondisi ketiga ialah kegiatan yang dinyatakan oleh Islam sebagai kebutuhan manusia sejak masa hidup Rasul, maka akan tetap menjadi kebutuhan manusia hingga kehidupan dunia berakhir. Begitupula dengan kegiatan yang tidak dinyatakan oleh Islam sebagai kebutuhan manusia karena tidak terdapat perintah pelaksanaannya dan tidak dilakukan oleh Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, maka kegiatan tersebut bukanlah merupakan kebutuhan manusia hingga Hari Kiamat dalam pengertian kondisi kebutuhan ketiga. Contoh dari kondisi kebutuhan ketiga ini ialah kegiatan shalat yang diwajibkan oleh Allah untuk dilakukan umat Islam sejumlah lima kali dalam sehari dan shalat-shalat lain yang ditekankan untuk dilakukan sebagai ibadah tambahan bagi manusia.

Jika mayoritas manusia dalam suatu wilayah tidak melakukan shalat karena beranggapan shalat bukanlah kebutuhan hidup baginya, atau bahkan dengan jelas melarang dan menghalang-halangi manusia lainnya untuk melakukan kegiatan shalat, tidaklah dapat dijadikan dasar untuk menggugurkan kedudukan shalat sebagai kebutuhan bagi manusia karenanya upaya menghadirkan ruang masjid untuk mewadahi kegiatan ibadah dalam arti yang luas dan ruang mushala untuk mewadahi kegiatan shalat harus tetap diupayakan oleh segelintir manusia yang telah memiliki kesadaran yang benar mengenai kegiatan shalat dan senantiasa melakukannya dengan syarat dan rukun yang telah ditetapkan Allah. Hal ini dikarenakan Islam tidak saja menekankan dilakukannya kegiatan shalat itu sendiri yang secara teologis dapat dilakukan di seluruh permukaan bumi asalkan memenuhi syarat kesucian, tetapi Islam juga menekankan dihadirkannya ruang binaan guna mewadahinya sebagai perwujudan keimanan manusia kepada Allah sebagaimana termuat dalam Wahyu dan tauladan dari Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Upaya menghadirkan objek arsitektur untuk mewadahi kegiatan yang tergolong kondisi kebutuhan ketiga tanpa didukung pelaku kegiatan secara komunal mendapatkan sandarannya dalam sejarah perjuangan hidup Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang diafirmasi oleh Islam sebagai sumber kebenaran yang sah. Pada masa awal beliau Shallallahu Alaihi Wasallam diutus sebagai Rasul, hanya segelintir manusia dari kalangan Quraisy yang meyakini benar status beliau sebagai utusan Allah dan mengimani Wahyu yang beliau sampaikan di mana di dalamnya termuat perintah untuk menunaikan shalat. Di tengah mayoritas masyarakat yang tidak mengamalkan shalat dan menentangnya, beliau tetap mengamalkan dan berupaya menghadirkan ruang untuk mewadahinya dengan cara alih fungsi sebagian hunian milik seorang sahabat bernama Arqam menjadi Mushala yang terletak jauh dari keramaian kota untuk menjamin keamanan pengguna ruang dari gangguan dan ancaman masyarakat Mekah. Dalam kondisi yang sama, yakni di tengah mayoritas manusia yang tidak meyakini kebenaran Islam, sehingga tidak mengamalkan shalat, hanya saja dengan kondisi keamanan dan politik yang lebih mendukung daripada di Mekah, Rasul menghadirkan ruang masjid pertama dalam Peradaban Islam setelah hijrah beliau ke tanah Madinah. Upaya Rasul menunaikan shalat, mengajarkan serta menghadirkan ruang binaan yang mewadahinya dalam kondisi tersulit sekalipun menunjukkan kedudukan kegiatan tersebut dan objek arsitektur yang mewadahinya sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi.

Objek arsitektur yang dihadirkan berdasarkan kondisi kebutuhan kedua dan ketiga yang dinyatakan sah oleh Islam sebagai kebutuhan manusia di antara tiga kondisi kebutuhan memiliki aspek fungsional dan aspek simbolik. Pada aspek fungsionalnya, kondisi kebutuhan kedua dan ketiga memiliki kesamaan, yakni mewadahi kegiatan manusia untuk beribadah kepada Allah dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang diperintahkan Allah di dalam Wahyu sebagaimana kondisi kebutuhan ketiga maupun kegiatan-kegiatan yang diafirmasi oleh Islam untuk dilakukan berdasarkan timbangan Wahyu sebagaimana kondisi kebutuhan kedua. Kegiatan yang didasari kehendak manusia dan mendapatkan persetujuannya dari Wahyu menandakan kegiatan tersebut diridhai Allah untuk dilakukan, sementara segala yang diridhai Allah ialah merupakan wujud ibadah kepada-Nya. Inilah dasar bagi kondisi kebutuhan kedua untuk dimasukkan ke dalam koridor kegiatan yang ditujukan untuk beribadah kepada Allah, sehingga tidak bisa tidak, objek arsitektur yang dihadirkan berdasarkan pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam hanyalah ruang binaan yang diperuntukkan untuk mewadahi kegiatan ibadah kepada Allah dalam bentuk kegiatan yang diperintahkan, disenangi maupun disetujui oleh-Nya.

Pada aspek simboliknya, antara kondisi kebutuhan kedua dan ketiga terdapat perbedaan. Objek arsitektur yang kehadirannya didasari kondisi kebutuhan kedua menyimbolkan lingkup Islam dalam menjangkau aspek kehidupan umatnya yang tidak saja terbatas pada aspek peribadatan ritual. Kehadiran objek arsitektur guna mewadahi kegiatan ekonomi, semisal pasar, tidak saja bermakna fungsional, tetapi juga merupakan penanda bahwa Islam menjangkau kehidupan ekonomi umatnya. Sementara objek arsitektur yang kehadirannya didasari kondisi kebutuhan ketiga menyimbolkan bahwa dalam suatu wilayah terdapat umat Islam yang menyadari dan merealisasikan perintah-perintah Allah berkaitan dengan kegiatan yang diwadahi. Dengan logika yang termuat dalam pernyataan tersebut dapat diketahui tingkat kualitas umat Islam dalam suatu wilayah dengan mengidentifikasi objek arsitektur yang dihadirkannya. Jika dalam suatu wilayah yang mayoritasnya dihuni umat Islam terdapat objek arsitektur guna mewadahi kegiatan-kegiatan yang diafirmasi oleh Islam serta tersebar merata objek arsitektur guna mewadahi kegiatan yang diperintahkan Allah kepadanya menandakan baiknya kualitas umat Islam dalam wilayah tersebut. Berdasarkan logika yang sama dapat disimpulkan buruknya kualitas umat Islam jika dalam wilayah yang dihuninya didapati maraknya objek arsitektur guna mewadahi kegiatan yang dilarang oleh Islam serta tidak terdapat satupun atau tidak tersebar merata objek arsitektur guna mewadahi kegiatan yang diperintahkan Allah kepadanya. 

Sebagai akhir dari bagian ini, persoalan yang muncul adalah mengenai kedudukan serta prioritas kedua kondisi kebutuhan manusia. Di antara kedua kondisi kebutuhan manusia, manakah yang harus didahulukan untuk direalisasikan dalam perwujudan objek arsitektur? Pertanyaan ini membawa kita pada persoalan yang lebih spesifik, bagaimanakah urutan skala prioritas menghadirkan objek arsitektur berdasarkan kedudukan setiap kondisi kebutuhan manusia? Seperti beberapa pertanyaan sebelumnya, deretan pertanyaan inipun tidak dapat saya jawab dalam tulisan kali ini karena memerlukan analisa yang tidak sederhana dan tidak singkat, sehingga dibutuhkan tulisan tersendiri untuk memaparkannya. Jawaban atas deretan pertanyaan tersebut dapat digunakan sebagai panduan bagi umat Islam untuk menghadirkan objek arsitektur miliknya agar setiap upaya menghadirkan objek arsitektur tidaklah tergolong perbuatan yang sia-sia dan setiap objek arsitektur yang dihadirkan memanglah dibutuhkan oleh manusia. Dengan adanya panduan, persoalan manakah yang terlebih dahulu harus dihadirkan, masjid ataukah hunian, tidak akan lagi membingungkan dan menjadi titik keributan di kalangan internal umat Islam.

*****

Demikianlah dua prinsip yang mendasari upaya menghadirkan objek arsitektur berdasarkan pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam. Berdasar prinsip tersebut dapat dirumuskan langkah-langkah secara berurutan untuk mencapai kelayakan menghadirkan objek arsitektur dengan berpijak pada aspek kebutuhan dan tuntutan. Darinya saya merumuskan dua langkah. Langkah pertama menekankan pada aspek kebutuhan yakni, mengidentifikasi kegiatan dan pelakunya dengan syarat kegiatan tersebut diafirmasi atau diperintahkan oleh Islam sebagai dasar pembenar untuk mewadahinya dalam ruang binaan. Secara metodik dari sisi perancang, kedua kondisi kebutuhan sebagaimana telah saya jabarkan di atas memiliki perbedaan sebagai berikut:

1. Pada kondisi kebutuhan kedua, pihak perancang dituntut untuk melakukan dua langkah kerja dengan menggunakan pola berpikir induksi-deduksi. Pertama, perancang secara induktif melakukan pengamatan untuk mengidentifikasi dan mengenali kegiatan yang tengah dilakukan oleh manusia secara individual-personal maupun komunal. Kedua, perancang secara deduktif melakukan penilaian terhadap kegiatan yang didapatinya pada langkah pertama dengan menenggunakan timbangan Wahyu. Jika Wahyu menyatakan kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan Islam atau berkesesuaian dengan Islam, maka perancang dapat melanjutkannya pada langkah kedua. Tetapi jika Wahyu menyatakannya sebagai kegiatan yang dilarang oleh Islam untuk dilakukan, maka proses perancangan tidak dapat dilanjutkan.

2. Dengan pola berpikir yang berbeda, kondisi kebutuhan ketiga menuntut pihak perancang menggunakan pola berpikir deduksi-induksi. Pertama, perancang secara deduktif melakukan pengkajian Wahyu untuk mengidentifikasi dan mengenali perintah Allah berkaitan dengan kegiatan yang diwajibkan maupun ditekankan oleh-Nya untuk dilakukan manusia. Kedua, perancang secara induktif melakukan pengamatan untuk mengidentifikasi dan mengenali pelaku dari kegiatan yang diperintahkan Allah, baik secara individual maupun komunal. Jika terdapat pelaku, walaupun hanya segelintir manusia saja, maka perancang dapat melanjutkannya pada langkah kedua. Tetapi jika tidak terdapat satupun pelaku di suatu wilayah dan garis waktu tertentu, maka upaya menghadirkan objek arsitektur harus diakhiri karena tidak terdapat satupun manusia yang memiliki kesadaran diri untuk melakukan kegiatan yang diperintahkan Allah kepadanya. Ketiadaan pelaku dan berarti ketiadaan objek arsitektur yang mewadahinya merupakan penanda bahwa tidak terdapat Islam di wilayah dan waktu tesebut. 

Langkah kedua menekankan pada aspek tuntutan yakni, mengidentifikasi kehadiran objek arsitektur yang dapat mewadahi kegiatan sebagaimana dimaksud dalam langkah pertama. Berdasarkan penjelasan pada bagian sebelumnya, terdapat rincian penjelasan dari langkah kedua ini sebagai berikut:

1. Jika dalam suatu wilayah tidak terdapat objek arsitektur yang diperuntukkan untuk mewadahi suatu kegiatan, termasuk objek arsitektur yang telah hadir pada waktu yang lalu tetapi memiliki spesifikasi ruang yang berbeda dikarenakan perbedaan persyaratan kegiatan yang diwadahinya, maka proses menghadirkan objek arsitektur dapat dilanjutkan dan diyatakan sebagai benar untuk dilakukan.

2. Jika dalam suatu wilayah telah terdapat objek arsitektur dengan spesifikasi ruang yang masih memungkinkan untuk dilakukan penyesuaian agar dapat mewadahi kegiatan baru, maka proses menghadirkan objek arsitektur tidak dapat dilanjutkan dan dinyatakan tidak benar untuk dilakukan jika objek arsitektur tersebut tidak lagi digunakan atau dimungkinkan untuk mewadahi kegiatan baru dengan persetujuan pihak pemilik dan atau penggunanya. Jika syarat tersebut terpenuhi maka upaya menghadirkan objek arsitektur harus dialihkan pada upaya menyesuaikan ruang binaan yang telah ada berdasarkan persyaratan kegiatan baru yang akan diwadahi.

3. Jika dalam suatu wilayah telah terdapat objek arsitektur yang diperuntukkan untuk mewadahi suatu kegiatan, tidaklah dibenarkan menghadirkan objek arsitektur baru untuk mewadahi kegiatan yang sama jika secara kapasitas dan fasilitas masih dapat mewadahi kegiatan dan pelakunya. Jika terjadi peningkatan jumlah pelaku, maka yang diprioritaskan adalah melakukan perluasan objek arsitektur yang telah hadir berdasarkan jumlah pelaku terkini, baik secara horizontal maupun vertikal. Poin ketiga ini berlaku untuk kondisi kebutuhan kedua dan ketiga karenanya tidaklah dibenarkan menghadirkan ruang masjid baru di dalam lingkup pelayanan ruang masjid yang telah hadir terlebih dahulu sebagaimana kini marak ditemui kehadiran ruang masjid yang saling berdekatan bahkan bersebelahan.

Kedua langkah di atas merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk menghadirkan objek arsitektur berdasarkan pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam. Jika keduanya terpenuhi, maka suatu objek arsitektur diyatakan layak secara fungsional untuk dihadirkan dan proses perancangan dapat dilanjutkan memasuki tahap perumusan konsep dasar yang akan saya paparkan dalam tulisan mendatang. Tetapi jika syarat pertama tidak terpenuhi, maka proses perancangan tidak dapat dilanjutkan pada langkah kedua dan objek arsitektur yang kehadirannya sedang diupayakan haruslah diurungkan dan dialihkan pada objek arsitektur lain yang tengah dibutuhkan oleh manusia dan tengah dituntut kehadirannya. Tentu saja kelayakan menghadirkan objek arsitektur tidak hanya sebatas kelayakan fungsional. Terdapat pula kelayakan lingkungan, sosial, budaya, kesejarahan dan sebagainya sebagai dasar pembenar dihadirkannya suatu objek arsitektur. Dalam pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam, aspek kelayakan fungsional ditentukan terlebih dahulu daripada aspek kelayakan lainnya yang akan ditentukan pada tahapan perancangan selanjutnya berdasarkan asumsi dasar, bahwa kehadiran arsitektur utamanya bertujuan untuk mewadahi kegiatan manusia atau untuk memenuhi kebutuhan manusia secara fungsional.

Untuk memudahkan memahami kerangka berpikir mencapai kelayakan menghadirkan objek arsitektur berdasarkan pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam, seluruh pembahasan di atas dapat saya tampilkan dalam diagram di bawah ini, sehingga dapat diketahui kait hubungan setiap bagian yang saya paparkan:

Gambar: Kerangka pikir kelayakan menghadirkan objek arsitektur berdasar pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam.
Sumber: Analisa, 1439 Hijrah Nabi.

Dalam pandangan Islam, upaya menghadirkan objek arsitektur tanpa melalui kedua langkah di atas yang menjadikannya tidak memenuhi syarat-syarat kelayakan untuk hadir secara fungsional tidak lain merupakan dorongan hawa nafsu, karenanya tidak dapat dibenarkan. Inilah tepatnya akar berbagai masalah berkaitan dengan ruang binaan yang kini tengah melanda manusia di berbagai wilayah, termasuk Indonesia, tidak lain dikarenakan hadirnya objek arsitektur tanpa dasar kebutuhan yang benar oleh sebab ketidakmampuan manusia penghadirnya untuk menundukkan dan mengontrol hawa nafsunya. 

Allahu a’lam bishawab.

Bertempat di Kartasura, Jawa Tengah
Bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1439 Hijrah Nabi

Jumat, 11 Agustus 2017

Esa Falsafah Saputra, Makna Namamu

Anakku Esa, rangkaian kewajiban pertama Ayah dan Bunda sebagai orangtuamu ketika engkau hadir di alam dunia ialah memberimu nama yang baik dari segi zhahir maupun bathin, yakni nama yang baik lafadznya dan baik pula maknanya. Ayah dan Bunda bersepakat memberimu nama Esa Falsafah Saputra. Di dalam namamu tersebut terkandung makna yang Ayah dan Bunda peruntukkan bagimu untuk membentuk kesadaran dirimu sebagai manusia yang baik. Ayah tahu masa pembentukan kesadaran yang akan engkau lalui masih jauh untuk tiba, nak, karena itu Ayah menuliskan makna namamu dalam tulisan ini kalau-kalau ingatan Ayah dan Bunda semakin melemah seiring bertambahnya usia kami, sehingga jika nanti saatnya tiba, Ayah dan Bunda dengan bantuan tulisan ini akan mampu menceritakan kepadamu mengenai makna namamu secara utuh dan benar; tidak hilang satupun bagiannya dan tidak salah sedikitpun dalam memahaminya. 

Nak, akil baligh merupakan gerbang bagimu untuk memasuki fase kedewasaan di mana engkau sebagai manusia mulai memasuki proses pembentukan kesadaran diri hingga mencapai kesadaran penuh. Pada fase ini secara teologis engkau mulai dibebani kewajiban agama dan secara sosiologis engkau mulai dapat mengambil peran di tengah masyarakatmu. Pada fase ini pula Ayah dan Bunda sebagai orangtuamu, terlebih Ayah sebagai walimu, mengemban kewajiban dari Allah untuk mendampingimu meniti tiap tingkatan kesadaran agar terbentuk kesadaran yang benar dalam dirimu, yakni kesadaran yang bersumberkan dari Islam, hingga engkau mencapai kesadaran penuh yang menandai berakhirnya kewajiban tersebut bagi Ayah dan Bunda. Adapun tingkatan demi tingkatan kesadaran yang harus engkau lalui untuk mencapai kesadaran penuh dimulai dari tingkatan kesadaran (1) diri dan hakikat kedirianmu; (2) tujuan hidupmu; (3) kebutuhan hidupmu; dan (4) cara-cara yang patut engkau lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Inilah empat tingkat kesadaran yang harus engkau capai secara bertahap hingga terbentuk kesadaran penuh dalam dirimu.

Ayah dan Bunda berupaya memberikanmu nama yang mengandung makna diri dan hakikat kedirianmu sebab tingkat kesadaran pertama merupakan tingkat kesadaran yang paling penting, nak, karena merupakan dasar dan pijakan bagimu untuk menapaki tingkat kesadaran selanjutnya. Jika pada tingkat pertama ini terbentuk kesadaran yang benar dalam dirimu, maka engkau memiliki pijakan yang kokoh untuk mencapai kesadaran penuh sebagai manusia Muslim yang berkesadaran Islam. Tetapi jika sebaliknya, nak, terjadi kesalahan dalam pembentukan kesadaran tingkat pertama dalam dirimu, maka engkau tidak akan dapat menjalani hidup dengan benar karena tidak memiliki kesadaran diri yang benar perihal tujuan hidup, kebutuhan hidup dan cara-cara memenuhinya.

Sebelum Ayah menjelaskan makna namamu, terlebih dahulu Ayah akan ceritakan singkat bagaimana Ayah dan Bunda memilihkan nama untukmu, nak. Nama yang kini engkau miliki telah Ayah dan Bunda sepakati jauh sebelum hari kelahiranmu, tepatnya saat engkau menginjak usia 7 bulan di dalam kandungan Bunda. Awalnya Ayah dan Bunda mempersiapkan dua nama untukmu, masing-masingnya nama untuk laki-laki dan perempuan karena hingga detik-detik kelahiranmu, Ayah dan Bunda belum mengetahui jenis kelaminmu. Beberapa saat setelah engkau lahir pada malam hari jam 8 kurang 10 menit dan setelah kondisi Bunda stabil paska menjalani operasi Secar, seingat Ayah sekitar jam 11 malam, Ayah dan Bunda langsung memberimu nama yang telah kami sepakati. Pemberian nama oleh Ayah dan Bunda kepadamu pada hari pertama kelahiranmu berarti dua hal. Pertama, inilah untuk pertama kalinya engkau dibentuk secara sosial yang merupakan salah satu ciri khas kehidupan dunia. Dan kedua, engkau melalui malam pertamamu di alam dunia sebagai manusia yang telah memiliki dua identitas diri, yakni identitas biologis yang merupakan pemberian dari Allah sebagai Penciptamu dan identitas nama yang merupakan pemberian dari kami sebagai orangtuamu.

Untuk pertama kalinya Esa diperlihatkan kepada saya sebagai Ayahnya beberapa saat setelah hadir di alam dunia pada 14 Rajab 1438 Hijrah Nabi yang bertepatan pada 11 April 2017 Masehi pukul 19.50 WIB

Anakku Esa, Ayah dan Bunda memberimu nama yang terdiri dari tiga kata mewakili tiga bagian yang berbeda, yakni Esa merupakan nama depanmu, Falsafah sebagai nama tengahmu dan Saputra menduduki posisi nama belakangmu. Nama depanmu; Esa adalah pemberian dari Bunda. Bunda berkeinginan memberimu nama yang memiliki makna Tauhid atau memiliki kaitan konsep yang erat dengan Tauhid yang merupakan asas keyakinan dalam Islam. Setelah mencari berlarut panjang, sampailah Bunda pada kata Esa yang secara konseptual terikat erat dalam jaringan makna Tauhid. Alasan Bunda memilihkan nama depanmu demikian dan Ayah menyetujuinya adalah karena sebagai seorang Muslim, Tauhid haruslah menempati pusat kesadaran dan merupakan unsur utama pembentuk kesadaranmu yang menjadikannya khas Islam dan secara asasi merupakan pembeda antara kesadaran dirimu dengan kesadaran manusia lain yang menganut keyakinan selain Islam.

Nama tengahmu; Falsafah adalah pemberian dari Ayah, nak. Ayah berkeinginan memberimu nama yang menunjukkan ciri khasmu sebagai manusia. Sampaikan Ayah pada kata Falsafah yang merupakan kemampuan khas milik manusia sebagai satu-satunya makhluk yang berakal. Yang terakhir dari rangkaian namamu ialah Saputra yang merujuk pada diri Ayah sebagai walimu dan merupakan penanda tersambungnya garis nasabmu kepada Ayah. Nama belakangmu adalah buah kesepakatan antara Ayah dan Bunda, nak. Awalnya Ayah memilihkan kata Putri untuk nama belakangmu yang merujuk pada jenis kelaminmu, tetapi Bunda meyakinkan Ayah untuk menetapkan kata Saputra sebagai nama belakangmu. Alasan Bunda yang membuat Ayah menyetujuinya ialah penegasan garis nasab dan perwalian dirimu lebih utama untuk ditunjukkan pada namamu daripada identitas jenis kelamin yang dapat ditunjukkan oleh penanda lainnya, seperti bentuk tubuhmu dan caramu berpakaian. Inilah sekilas cerita bagaimana Ayah dan Bunda memilihkan nama untukmu sebagai pengantar Ayah menjelaskan makna namamu.

*****

Anakku Esa, untuk dapat memahami makna namamu dengan benar, engkau harus mengetahui dua prinsip yang mendasarinya, yakni (1) prinsip kesatuan; dan (2) prinsip hirarki. Prinsip pertama yang mendasari namamu ialah prinsip kesatuan. Setiap kata pembentuk namamu memiliki maknanya masing-masing, nak, tetapi untuk dapat memahami makna namamu dengan benar, ketiga makna yang dimiliki masing-masing bagian pembentuk namamu tidak dapat dipahami secara terpisah. Ketiganya harus engkau pahami sebagai kesatuan makna yang saling berkaitan, sehingga terbentuk makna yang menyeluruh dan melampaui ketiga bagiannya sebagaimana kesatuan selalu berarti keseluruhan.

Kesatuan makna namamu tidaklah tersusun secara linier dari depan ke belakang berdasarkan letak kata pembentuk namamu, tetapi berdasarkan prinsip kedua, yakni prinsip hirarki di mana setiap kata pembentuk namamu memiliki kedudukannya masing-masing berdasarkan derajat makna yang terkandung di dalam setiap kata. Perbedaan kedudukan masing-masing kata pembentuk namamu membentuk struktur di mana nama tengahmu; Falsafah, menempati kedudukan tertinggi di antara dua kata lainnya. Sementara kedudukan kedua dalam struktur namamu ditempati nama depanmu; Esa dan kedudukan ketiga ditempati nama belakangmu; Saputra yang memiliki derajat paling rendah di antara dua kata lainnya pembentuk namamu. Dengan struktur ini engkau akan dapat memahami makna namamu secara menyeluruh dan benar.

Engkau pasti bertanya-tanya mengapa nama tengahmu yang menempati kedudukan tertinggi dalam struktur namamu, bukan nama depanmu sebagaimana lumrah dipahami oleh kalangan umum bahwa depan dapat diartikan dengan kedudukan tertinggi? Ayah dan Bunda memang menyengaja menempatkan nama tengahmu pada kedudukan tertinggi untuk sebuah alasan, nak, bahwa tengah berarti pusat yang dapat engkau pahami dari bentukan namamu dan makna yang dikandungnya. Dari bentukannya, nama tengahmu layaknya sebuah pusat diapit nama depan dan nama belakangmu dalam pola simetris, sebagaimana pusat selalu dikelilingi oleh bagian-bagian yang menginduk kepadanya. Sementara dari makna yang dikandungnya, nama tengahmu mengandung makna jalan untuk memahami nama depan dan nama belakangmu, sehingga menjadikannya memiliki kedudukan yang penting sebab tanpa nama tengahmu, nama depan dan nama belakangmu tidak akan dapat dipahami maknanya sebagaimana pusat selalu merupakan bagian yang paling penting di antara bagian-bagian lainnya.

Dengan menetapkan nama tengahmu sebagai pusat namamu, Ayah hendak menarik perhatianmu agar engkau tidak salah dalam memilih jalan, nak, sebab jalan yang salah tidak akan dapat menghantarkanmu pada tujuan yang benar, karenanya penting bagimu untuk tidak saja mengenali tujuan yang benar, tetapi juga jalan yang benar untuk mencapainya karena kebenaran tidak dapat dicapai selain melalui jalan kebenaran. Jika tujuan-akhir dari memahami makna namamu adalah terbentuknya kesadaran diri yang benar, maka engkau akan mengetahui jalan yang benar untuk mencapainya dengan memahami makna yang terkandung dalam nama tengahmu. Dalam perjalananmu mencapai tujuan-akhir, engkau akan melalui dua tujuan-antara sebagai pijakanmu meluruskan langkah mencapai tujuan-akhir yang masing-masingnya ditempati nama depan dan nama belakangmu berdasarkan makna yang dikandungnya.

Dikaitkan dengan struktur namamu, nama depanmu yang menempati kedudukan kedua merupakan tujuan-antara pertama yang mengandung makna dirimu sebagai manusia religius, sedangkan nama belakangmu merupakan tujuan-antara kedua yang mengandung makna dirimu sebagai manusia yang memiliki dimensi sosial dan psikologi. Penetapan kedudukan nama depan dan nama belakangmu sebagai tujuan-antara berdasarkan pandangan Islam bahwa engkau terlebih dahulu ditetapkan oleh Allah sebagai manusia religius sejak awal penciptaanmu, jauh sebelum engkau hadir di alam dunia yang lekat dengan dimensi sosial dan psikologis. Dasar pernyataan ini akan Ayah paparkan padamu ketika menjelaskan makna namamu, sehingga engkau akan mengetahui kebenarannya. Atas dasar pernyataan tersebut, perjalanmu mencapai tujuan-antara akan membawamu memahami dirimu sebagai manusia religius yang hadir di alam dunia, nak, dan pada akhirnya akan menghantarkanmu pada tujuan-akhir yang hendak engkau capai dari memahami makna namamu.

Kehendak Ayah dan Bunda agar engkau memiliki kesadaran diri yang benar, yakni kesadaran yang bersumberkan dari Islam menjadikan makna jalan dan tujuan-antara yang terkandung dalam namamu harus dipahami berdasarkan pandangan Islam pula. Berarti, untuk memahami makna namamu dengan benar, engkau harus menggunakan Islam sebagai sumber maknanya, nak, karena jika engkau menggunakan sumber makna selainnya, seperti hanya bersandarkan pada kamus atau pemahaman umum yang berlaku di masyarakatmu, maka engkau akan salah memahami makna namamu. Jika engkau menggunakan pemahaman yang salah tersebut untuk membentuk kesadaran maka akan terbentuk kesadaran yang salah pula dalam dirimu. 

Selain persoalan sumber makna, engkau juga harus memahami bahwa antara jalan, tujuan-antara dan tujuan-akhir ialah merupakan kesatuan yang tidak dapat engkau cerai beraikan. Sebuah tujuan tanpa tersedia jalan untuk mencapainya, maka tidaklah dapat disebut sebagai tujuan karena sesuatu ditetapkan sebagai tujuan hanya jika dapat dicapai yang mensyaratkannya memiliki jalan yang dapat menghantarkanmu kepadanya. Tujuan tanpa tersedia jalan untuk mencapainya hanyalah merupakan angan-angan belaka yang sama sekali tidak bermanfaat bagimu dan kehadiranmu. Sementara itu, untuk engkau mencapai tujuan-akhir melalui jalan yang tersedia bagimu haruslah melalui tujuan-antara secara runut dan bertahap karena tujuan-antara kedua hanya dapat dicapai jika engkau telah mencapai tujuan-antara pertama dan tanpa melalui keduanya, engkau tidak akan sampai pada tujuan-akhir. Tujuan-akhir membutuhkan tujuan-antara untuk mempermudah pejalan untuk mencapainya, sedangkan tanpa tujuan-akhir, keberadaan tujuan-antara tidak akan bermakna karena tujuan-antara mencapai finalitasnya dalam tujuan-akhir. Dengan mengenali jalan dan tujuan-antara yang benar dengan menggunakan Islam sebagai sumber makna, maka engkau akan dapat mencapai tujuan-akhir dari memahami makna namamu, yakni terbentuknya kesadaran dirimu yang benar, nak. 

*****

Berdasarkan kedua prinsip yang mendasari namamu, untuk engkau dapat memahami makna namamu dengan benar haruslah diawali dari memahami makna nama tengahmu yang memiliki kedudukan tertinggi dalam struktur namamu di antara kedua kata lainnya pembentuk namamu. Anakku Esa, Falsafah yang merupakan nama tengahmu ialah kata berbahasa Arab yang merupakan serapan untuk kata Philosophia yang berasal dari Bahasa Yunani. Dalam Bahasa Indonesia engkau akan mendapati terjemahannya dalam kata Filsafat. Secara bahasa, falsafah berarti cinta terhadap kebenaran dan kebijaksanaan, dan secara konseptual, falsafah memiliki arti berdimensi ilmu pengetahuan dan metodologis. Dimensi kedua dari pengertian falsafah inilah yang Ayah dan Bunda maksud sebagai makna nama tengahmu, nak, yakni mencapai kebenaran melalui jalan akal.

Ayah dan Bunda sadar memberi nama Falsafah bukanlah tanpa resiko dan polemik sebab pada masa kini, pada saat Ayah menuliskan penjelasan namamu ini, falsafah telah asing bagi kebanyakan kalangan manusia karenanya hampir tidak pernah dibincangkan dalam kehidupan keseharian dan sebagian yang lain memandang buruk falsafah yang menjadi dasar bagi mereka untuk tidak mempelajarinya dan melarang siapapun yang hendak mempelajarinya. Kondisi demikian adalah akibat-akibat yang muncul dari tidak dikenalinya hakikat kediriannya sebagai manusia karena manusia yang mengenali dirinya pastilah akan mengakui kepemilikan akal olehnya, meletakkannya pada kedudukannya yang benar dan mempergunakannya untuk mencapai kebenaran. Dengan kata lain, manusia yang mengenali dirinya dengan benar akan berfalsafah untuk mencapai kebenaran melalui jalan akal. Oleh karena itu Ayah dan Bunda memberimu nama Falsafah agar engkau dapat mempertahankan kesadaranmu sebagai makhluk yang berakal di tengah kondisi zaman yang semakin meninggalkan kemampuan akal dan semakin merendahkan kedudukannya.

Anakku, untuk mencapai kebenaran melalui jalan akal, engkau harus memiliki keberanian untuk (1) mempertanyakan persoalan yang bersifat mendasar; kemudian (2) mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui penalaran yang shahih dan premis yang benar. Sebagai contoh, nak, untuk mencapai kebenaran mengenai hakikat kedirianmu, engkau harus mengawalinya dengan (1) keberanian mempertanyakan “Apa diriku ini dan siapakah diriku?” “Darimana aku berasal?” “Bagaimana aku dapat hadir di sini?” “Apakah aku diciptakan?” “Jika aku diciptakan, siapakah Penciptaku?”; kemudian engkau (2) mencari jawabannya dengan merujuk pada suatu sumber kebenaran sebagai penyedia premis yang benar. Di sinilah engkau akan memahami bahwa pertanyaan yang sama dapat memiliki jawaban yang berbeda berdasarkan sumber jawaban yang diterima dan digunakan oleh masing-masing manusia untuk menjadi rujukan bagi akalnya.

Untuk dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu yang berarti menghantarkanmu pada kebenaran, akal membutuhkan sumber kebenaran lain yang menjadi rujukan baginya. Dalam tradisi Falsafah Barat Klasik, kebenaran hendak dicapai melalui jalan penalaran spekulatif di mana akal merujuk pada dirinya sendiri yang menyebabkannya tidak mampu mencapai kebenaran yang bersifat final dan mutlak. Persoalan ini dapat dibuktikan dengan adanya satu pertanyaan tetapi terdapat beragam jawaban yang saling berbeda dari berbagai kalangan manusia disebabkan perbedaan kemampuan akal masing-masing dari mereka, sehingga menghadirkan jawaban yang saling bertentangan. Sedangkan makna Falsafah yang terkandung dalam namamu sebagaimana Ayah dan Bunda menghendakinya merujuk pada tradisi Falsafah Islam di mana akal sebagai fakulti kebenaran yang inheren terdapat di dalam dirimu diikat erat dengan Wahyu yang merupakan sumber kebenaran yang bersifat final dan mutlak. Sampai di sini Ayah menduga engkau akan bertanya perihal kedudukan manakah yang lebih utama antara akal dan Wahyu? Nak, ingatlah prinsip ini bahwa yang mengikat pastilah memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada yang diikat, sehingga Wahyu sebagai pengikat akal memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan lebih utama daripada akal, tetapi tidak berarti keduanya kontradiktif dan konfrontatif hanya karena akal harus tunduk patuh pada Wahyu yang mengikatnya.

Anakku, tidak ada pertentangan antara Wahyu dan akal karena keduanya merupakan fakulti kebenaran yang saling terhubung dan saling membenarkan. Ayah memiliki argumentasi agar engkau memahami dan menyetujui pernyataan Ayah. Nak, Wahyu dan akal ialah dua fakulti kebenaran yang diberikan Allah kepada manusia agar manusia dapat mencapai dan memahami kebenaran. Sebagai fakulti kebenaran yang keduanya merupakan nikmat dan pemberian dari Allah kepada manusia, tidak dapat dibayangkan jika keduanya saling bertentangan dan saling meniadakan karena jika keduanya saling bertentangan maka salah satu di antaranya keduanya pastilah bukan sumber kebenaran. Pun tidak dapat dibayangkan dua sumber kebenaran menghasilkan kebenaran yang saling bertentangan sebab kebenaran pastilah saling mendukung dan melengkapi satu dengan lainnya dan tidak mungkin antara kebenaran saling bertentangan apalagi saling meniadakan. Agar engkau semakin memahami persoalan ini, Ayah akan merincinya untukmu menjadi beberapa kondisi yang lebih spesifik, nak.

Jika Wahyu ialah sumber kebenaran sedangkan akal tidak, maka dengan apa Wahyu yang ditransmisikan melalui bahasa dapat dipahami? Kalaulah Wahyu tidak dapat dipahami melalui akal, mengapa Allah memberikan akal kepada manusia yang ternyata tidak dapat digunakan untuk memahami firman-Nya? Bukankah Wahyu akan menjadi tidak bermakna bagi manusia karena tidak mampu dipahami olehnya sebagai makhluk yang berakal? Dalam kondisi yang lain, jika akal ialah sumber kebenaran sedangkan Wahyu tidak, maka dengan apa akal dapat mencapai kebenaran yang bersifat pasti benar? Kalaulah jika akal itu sendiri dapat mencapai kebenaran yang pasti benar, mengapa Allah menurunkan Wahyu kepada manusia? Tentukan kondisi ini tidak dapat diterima karena akan menyebabkan salah satunya menjadi tidak berguna bagi manusia dan akan berakhir pada kesimpulan kesia-siaan pada salah satu perbuatan Allah, yakni memberikan akal atau mentanzilkan Wahyu kepada manusia. 

Jika engkau berpikir dengan cermat terkait persoalan ini, engkau akan mendapati satu lagi kondisi, apakah Wahyu dan akal sebagai sumber kebenaran yang sah tidak dapat berdiri sendiri dalam kategori yang berbeda? Nak, jika kedua fakulti kebenaran berada dalam kategori yang terpisah sehingga menjadikannya tidak dapat terhubung dan saling mendukung, maka akan terjadi suatu kondisi di mana salah satu fakulti kebenaran tidak lebih berguna daripada lainnya. Selain itu keterpisahan fakulti kebenaran, alih-alih memberikan manusia kemudahan memahami kebenaran justru akan membingungkan manusia karena pada satu waktu dirinya terpecah dalam beragam saluran kebenaran yang berbeda. Sebagaimana yang telah lalu, kondisi ini pun akan membawa dirimu pada kesimpulan kesia-siaan perbuatan Allah. Dengan demikian tiga kemungkinan kondisi tersebut tidak dapat diterima secara teologi maupun akalmu dan hanya tersisa satu kondisi yang memungkinkan di mana Wahyu dan akal merupakan sumber kebenaran yang sah. Agar keduanya tidak saling kontradiktif dan saling meniadakan, maka satu-satunya kondisi yang dapat diterima akalmu ialah dengan meletakkan keduanya dalam struktur hirarki sumber kebenaran sebagaimana telah Ayah sampaikan.

Anakku Esa, ketika akalmu mempertanyakan hakikat kedirianmu, maka akalmu akan membawamu mengarungi Kalamullah untuk menemukan jawaban dari Penciptamu atas setiap pertanyaanmu, sehingga engkau dapat mengenali hakikat kedirianmu yang benar sebagaimana Penciptamu menghendakinya. Tidak ada jawaban yang lebih benar selain jawaban yang termuat di dalam Wahyu, nak, dan tidak ada pemberi jawaban yang lebih memiliki otoritas selain Dzat yang menciptakanmu. Oleh karenanya penting bagimu untuk mengenali peran akalmu dan mempertajam kemampuannya serta mengakrabi Kalamullah sebagai pengikat bagi akalmu, sehingga engkau akan memiliki jalan yang lapang dan terang untuk menghantarkanmu pada kebenaran makna di balik nama depan dan nama belakangmu yang akan membentuk kesadaranmu. Inilah makna nama tengahmu sebagaimana Ayah dan Bunda menghendakinya. Selain makna, terselip pula harapan selaligus doa Ayah dan Bunda di dalam nama tengahmu agar engkau menjadi manusia yang mencintai kebenaran dan kebijaksanaan di atas kecintaanmu kepada selainnya. 

*****

Anakku Esa, sekarang Ayah akan menjelaskan makna nama depanmu dengan menggunakan jalan Falsafah yang telah engkau pahami maknanya untuk mencapai tujuan-antara pertama dalam perjalananmu yang tidak lain ialah mengenali fitrah penciptaanmu sebagai manusia religius. Untuk menemukan makna nama depanmu; Esa, ajaklah akalmu menyelami kedalaman Surah al-Ikhlas. Pada ayatnya yang pertama engkau akan mendapati firman Allah bahwa Ia adalah Yang Maha Esa. Berangkat dari sinilah makna nama depanmu akan dapat engkau ketahui, nak, tetapi sebelumnya engkau harus memahami terlebih dahulu makna ke-Esa-an Allah yang meliputi dzat, perbuatan dan sifat-sifat-Nya. Ayah akan menjelaskannya satu persatu untukmu kemudian akan Ayah lanjutkan dengan kait hubungan antara ke-Esa-an Allah dengan makna nama depanmu.

Anakku, ke-Esa-an Allah dalam dzat-Nya berarti dua hal. Pertama, dzat Allah bukanlah merupakan kesatuan dari bagian-bagian. Jika premis dzat Allah merupakan kesatuan dari bagian-bagian diterima, maka bagian tersebut bukanlah Allah karena bagian bukanlah keseluruhan dan statusnya tidak sama dengan keseluruhan. Dan jika premis tersebut diterima kebenarannya berarti Allah bergantung pada bagian-bagian penyusun dzat-Nya yang bukan merupakan Diri-Nya. Kondisi ini tidak akan dapat diterima akalmu, nak, karena bertentangan dengan ke-Esa-an Allah dalam dzat-Nya yang bermakna Diri-Nya tidak bergantung pada apapun dan siapapun, tetapi justru merupakan tempat bergantung seluruh entitas selain Diri-Nya sebagaimana difirmankan Allah dalam ayat kedua surah al-Ikhlas.

Yang kedua, ke-Esa-an Allah dalam dzat-Nya berarti Allah merupakan satu-satunya Tuhan yang benar bagi seluruh alam karena itu Allah disebut sebagai Al-Haq, yakni kebenaran itu sendiri. Anakku, jika terdapat lebih dari satu Tuhan yang benar dan setara, maka Ia tidaklah dapat disebut Tuhan karena selain Diri-Nya terdapat dzat lain yang serupa dengan-Nya. Ayah akan mengulur argumentasinya untukmu. Jika terdapat lebih dari satu Tuhan, bagaimana hubungan kedua Tuhan tersebut? Apakah saling berseteru atau saling berbagi kekuasaan atas ciptaan-Nya? Jika berlaku kondisi yang pertama, maka perseteruan antar Tuhan akan menyebabkan ketidakteraturan alam semesta disebabkan perbedaan kehendak keduanya. Lalu bagaimana keteraturan alam dengan hukum-hukumnya yang tetap dapat dijelaskan? Jika berlaku kondisi yang kedua, maka pembagian kekuasaan antara keduanya adalah bukti bahwa keduanya bukanlah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatunya, sehingga tidak layak menyandang status Ketuhanan. Jelaslah akalmu tidak dapat menerima kedua kondisi tersebut, nak, karena status Ketuhanan mensyaratkan ke-Esa-an Tuhan dalam dzat-Nya.

Ke-Esa-an Allah dalam dzat-Nya berkait erat dengan ke-Esa-an Allah dalam perbuatan-Nya yang berarti tidak ada satu entitas pun yang mampu berbuat dan memiliki perbuatan seperti Diri-Nya. Pernyataan ini dapat Ayah jelaskan bahwa Allah sebagai Dzat Yang Maha Esa yang berarti tidak ada suatu entitas pun yang menyamai dan setara dengan-Nya menjadikan perbuatan yang dilakukan Allah hanya khas milik-Nya karena tidak mampu ditiru oleh entitas selain-Nya. Peniruan dalam perbuatan hanya dimungkinkan bagi entitas yang memiliki kesamaan, sedangkan antara Allah dan manusia tidak terdapat irisan kesamaan sedikitpun dalam aspek dzatnya. Salah satu perbuatan yang hanya mampu dilakukan Allah dan khas milik Allah ialah mencipta, yakni menghadirkan sesuatu dari ketiadaan menjadi ada, sehingga Allah menyandang status sebagai Pencipta sementara selainnya termasuk dirimu ialah ciptaan Allah yang menyandang status sebagai makhluk. 

Yang terakhir anakku, ke-Esa-an Allah dalam dzat dan perbuatan-Nya tercermin dalam sifat-sifat yang dimiliki-Nya yang merupakan himpunan dari sifat-sifat terbaik. Nak, sebagai makhluk yang diciptakan Allah, engkau hanya mampu mengenali Allah melalui sifat-sifat-Nya yang disampaikan-Nya kepada manusia melalui Wahyu. Dengan memahami sifat-sifat-Nya, engkau akan mengenali siapa dan bagaimana Allah. Inilah satu-satunya jalan yang disediakan Allah bagimu untuk mengenali Diri-Nya sebab Allah tidak memberi manusia pengetahuan maupun fakulti kebenaran yang memungkinkan manusia untuk mengetahui hakikat dzat-Nya serta tidak pula memberi manusia kemampuan untuk menyaksikan secara zhahir perbuatan-Nya.

Setelah memahami ke-Esa-an Allah, akalmu akan sampai pada kesimpulan bahwa Allah yang merupakan Tuhan Yang Maha Esa bermakna bahwa Allah ialah dzat yang satu dengan kualitas perbuatan dan sifat terbaik yang tiada suatu entitas pun yang mampu menyamai dan setara dengan-Nya sebagaimana difirmankan-Nya dalam ayat terakhir Surah Al-Ikhlas. Pemahaman yang benar akan menjadikanmu mengetahui letak kesalahan pemahaman sebagian kalangan yang memahami ke-Esa-an Allah hanya sebatas dzat-Nya yang satu. Hanya memahami ke-Esa-an Allah sebatas dzat berarti dimungkinkan adanya dzat selain Allah yang memiliki perbuatan dan sifat yang lebih baik dari Allah. Tentu saja kondisi demikian sekali lagi tidak dapat dibenarkan secara teologi maupun akal, nak, karena Allah yang berkedudukan sebagai Tuhan bagi seluruh alam haruslah memiliki perbuatan dan sifat yang hanya dimiliki oleh-Nya sendiri.

Sampai di sini engkau pasti akan bertanya, apa kait hubungan antara nama depanmu; Esa dengan ke-Esa-an Allah? Anakku, Ayah akan menjelaskan satu persatu kaitan antara ke-Esa-an Allah dengan hakikat dirimu. Dengan memahami ke-Esa-an Allah dalam dzat-Nya, engkau akan memahami bahwa kehadiran dirimu sangat bergantung kepada Allah. Allah tanpa dirimu tetapkan Allah dan tetap menyandang status sebagai Tuhan sebab Allah untuk hadir tidak membutuhkan dirimu dan tidak bergantung pada dirimu. Allah tetap kekal sebagai dzat Yang Maha Esa tanpa kehadiran sesuatu pun selain-Nya. Sebaliknya, dirimu tanpa Allah tidaklah mungkin hadir karena engkau tidak memiliki daya kemampuan untuk menghadirkan dirimu sendiri dari ketiadaan menjadi ada. 

Anakku, akalmu tidak akan dapat menentang bahwa dirimu sebagai dzat yang berawal pastilah memiliki akhir. Status demikian menjadikanmu harus senantiasa terikat dan terhubung dengan Allah sebagai satu-satunya dzat penghadir yang kehadirannya tidak berawal dan berakhir. Sebaliknya, terlepasnya ikatan dan hubungan antara dirimu dengan Allah akan menyebabkanmu tidak hadir. Engkau pasti akan mengalami kebingungan, nak, bagaimana bisa seseorang yang telah hadir seketika menjadi tidak hadir ketika dirinya terlepas ikatan dan hubungan dengan Allah sementara engkau menyaksikan dalam kehidupanmu sehari-hari betapa banyak manusia yang ingkar kepada Allah tetapi tetap hadir? 

Begini nak, kehadiranmu sebagai dzat yang selalu bergantung kepada Allah berarti dua hal, yakni (1) engkau butuh bergantung kepada Allah agar dapat hadir secara dzat; dan (2) engkau butuh bergantung kepada Allah untuk dapat hadir dengan benar. Untuk yang pertama, pada kesempatan yang lain Ayah akan menceritakan perihal kehadiranmu yang berawal dari ketiadaan kemudian Allah menghadirkanmu di alam rahim Bunda secara perlahan dan bertahap hingga kini engkau hadir di tengah-tengah kami di alam dunia sebagai keluarga. Satu bukti ini saja seharusnya sudah cukup bagi akalmu untuk meyakini bahwa secara dzat dirimu bergantung kepada Allah karena kehadiranmu bukanlah atas kehendakmu sendiri dan bukanlah atas upaya dirimu sendiri. Sedangkan untuk yang kedua, nak, ketika engkau telah hadir, engkau butuh berterusan mengikat diri dan berhubungan dengan Allah agar terbentuk kesadaran dirimu yang benar, sehingga engkau dapat menjaga kehadiranmu dan tetap hadir dengan benar.

Manusia yang ingkar kepada Allah ialah manusia yang memutuskan ketergantungannya kepada Allah. Manusia dari kalangan ini dapat engkau persaksikan kehadirannya secara dzat, nak, tetapi karena dirinya menolak kehadiran Allah dalam kesadarannya maka ia tidak dapat mengenali dirinya dengan benar. Manusia yang tidak mengenali dirinya tidaklah dapat dikatakan hadir bagi dirinya sendiri yang mengakibatkannya tidak memiliki panduan dan arahan untuk menjalani kehidupannya dengan benar. Bagaimana seseorang dapat dikatakan hadir jika ia tidak menyadari akan dirinya sendiri, walaupun engkau persaksikan kehadirannya secara fisik? Berdasarkan pandangan ini Ayah ingin engkau memahami bahwa hadir bukanlah sekedar kehadiran yang dipersaksikan, tetapi juga hadir yang dijalani dengan benar melalui satu-satunya cara yang memungkinkan, yakni bergantung kepada Allah. 

Anakku, sebagai dzat yang kehadirannya bergantung kepada Allah, kedudukan dirimu merupakan tanda bagi kehadiran dan kekuasaan Allah. Kehadiran tanda hanya bermakna sepanjang merujuk kepada yang ditandainya. Begitupula dirimu, nak, kehadiranmu barulah bermakna jika engkau menempatkan Allah pada pusat kesadaran dirimu yang menjadikan setiap kali engkau mengenali diri dan memahami kehadiran diri, engkau akan selalu merujuk kepada Allah, sehingga pengenalan terhadap diri akan beriringan dengan pemumpukan keimanan kepada Allah. Berdasarkan pandangan ini, nak, manusia yang mengenali dirinya dengan benar dipastikan hanya berasal dari kalangan manusia yang beriman kepada Allah. Sebaliknya, tanda yang tidak merujuk kepada yang ditandai maka kehadirannya tidaklah bermakna sebagaimana kalangan manusia yang memutuskan ketergantungan dirinya dengan Allah akan salah memaknai hidup yang menjadikannya salah dalam menjalani hidup bahkan diliputi ketidakbermaknaan hidup yang akan mendorongnya untuk mengakhiri hidup. 

Anakku Esa, dengan memahami ketergantungan dirimu dengan Allah yang merupakan Dzat Yang Maha Esa, engkau akan memahami bahwa Allah Maha Kuasa atas dirimu. Akalmu akan menyetujui bahwa yang dijadikan tempat bergantung akan mampu berbuat sekehendaknya kepada yang bergantung, tetapi tidak berlaku sebaliknya. Dengan perbuatan-Nya engkau hadir dari ketiadaan dan dengan perbuatan-Nya pula engkau akan kembali menjadi tiada jika Allah menghendaki demikian. Yang harus engkau pahami nak, Allah menciptakanmu bukanlah tanpa tujuan. Jika Allah menciptakan manusia tanpa tujuan, maka manusia tidak akan memiliki tujuan hidup yang menyebabkan manusia akan mengalami ketidakbermaknaan hidup yang dijalaninya. Kalaulah kondisi ini diterima maka sia-sialah kehadiran manusia yang berarti sia-sia pula perbuatan Allah menciptakan manusia. Jika perbuatan Allah sia-sia, maka sia-sia pula kehadiran-Nya. Tentu ini tidak dapat diterima secara teologi maupun akalmu, nak. Oleh karenanya perbuatan Allah menciptakan manusia pastilah bertujuan sebab tidak mungkin Allah melakukan perbuatan yang sia-sia dan tidak mungkin pula kehadiran-Nya sia-sia.

Untuk memudahkanmu memahami tujuan penciptaanmu, Ayah akan menggunakan tamsil yang akan menggugah hatimu sekaligus dapat diterima akalmu. Perhatikan tamsil berikut, nak, Allah ialah Raja bagi seluruh alam, sementara alam ialah seluruh entitas selain-Nya yang merupakan ciptaan Allah. Dari dua pernyataan ini engkau dapat menyimpulkan bahwa Allah ialah Raja bagi seluruh ciptaan-Nya. Mengapa Allah berkedudukan sebagai Raja? Karena Allah menciptakan seluruh yang ada dan memiliki seluruh yang diciptakannya yang menjadikan berkuasa penuh atas segalanya. Tetapi tidak sebagaimana raja dari kalangan makhluk, Allah ialah Raja tanpa sekutu, sehingga seluruh yang diciptakan-Nya hanyalah milik-Nya, tanpa Allah berbagi kepemilikan dengan selain Diri-Nya. Kekuasaan tanpa sekutu yang hanya dimiliki oleh Allah menjadikan segala yang diciptakan dan dimiliki Allah harus tunduk patuh hanya kepada-Nya melalui tata cara yang dikehendaki dan diridhai-Nya. Berdasar tamsil ini, nak, dirimu ialah seorang abdi Allah yang maksud kehadirannya hanya untuk mencintai, mengabdi dan mematuhi seluruh kehendak-Nya. Inilah sebenar-benarnya dan sesuci-sucinya tujuan hidupmu sebagai manusia sebab kehadiran dirimu yang berawal dari ketiadaan barulah dapat diterima oleh akal jika hanya untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan penghadirmu, yakni Allah. Tidaklah dapat diterima akalmu jika engkau yang tidak mampu hadir dengan kuasa dirimu sendiri memiliki tujuan kehadiran sekehendakmu sebagaimana tidak dapat diterima akalmu jika seorang abdi memiliki tujuan yang bukan merupakan tujuan tuannya.

Allah tidaklah sama dengan raja dari kalangan makhluk yang memiliki motif keuntungan pribadi atas ketundukan abdi kepadanya, sehingga engkau sebagai abdi dapat saja memilih untuk membenci dan tidak mematuhi seluruh kehendak raja sebab merasa tiada guna dan tiada untung bagi dirimu mengabdi kepada raja. Anakku, Allah ialah Sang Kekasih yang menduduki singgasana Raja. Allah menetapkan tujuan kehadiran manusia dan memerintahkan manusia untuk memenuhi kehendak-Nya bukanlah untuk keuntungan bagi Allah sendiri karena Allah tidak membutuhkan manusia dan tidak bergantung kepada manusia, sehingga Allah sama sekali tidak membutuhkan kepatuhan dan kebaikan dari abdi-Nya. Sebagai Sang Kekasih, ketetapan Allah ditujukan-Nya hanya untuk kebaikan manusia sebagai makhluk yang paling dikasihi-Nya di antara makhluk lainnya agar manusia mencapai keselamatan. Atas dasar pemahaman ini sudah seharusnya engkau mengabdi kepada Allah dengan suka cita dan penuh kerelaan hati karena pengabdianmu kepada Allah ialah untuk mencapai keuntungan bagi dirimu sendiri, yakni keselamatan.

Engkau pasti akan bertanya-tanya keselamatan apa dan seperti apa yang dimaksud Allah, sehingga engkau harus mengabdikan diri semata hanya kepada Allah? Nak, keselamatan yang dijanjikan Allah bagi abdi-Nya yang tunduk patuh kepada-Nya meliputi tiga tingkatan, yakni (1) keselamatan di dunia yang bermakna engkau dapat patuh dan memenuhi seluruh kehendak Allah yang buahnya ialah kebaikan hidup di dunia; (2) keselamatan di alam kubur yang bermakna engkau dapat beristirahat dengan tenang setelah letih dalam upaya melaksanakan pengabdian kepada Allah sepanjang hidupmu di dunia; dan (3) keselamatan di akhirat yang bermakna engkau dinyatakan oleh Allah sebagai abdi yang patuh, sehingga diberi-Nya nikmat yang tak berkesudahan di dalam Jannah. Inilah tujuan akhir dari penciptaan manusia, nak, yakni keselamatan akhirat di mana terdapat puncak keselamatan tertinggi yang dapat dicapai manusia, yakni ditempatkannya seorang abdi oleh Allah dalam Jannah tertinggi agar dirinya yang merupakan abdi berada sangat dekat dengan Rajanya sekaligus Kekasihnya, dan dari tempat itu pula dirinya dapat melihat wajah-Nya secara berterusan. Jika engkau pahami dengan baik, keselamatan yang dimaksud Allah dan dijanjikan-Nya kepada seluruh manusia yang patuh ialah merupakan kebahagiaan bagi manusia dan tidak ada kebahagiaan melebihi dapat memandang wajah Dzat yang menghadirkanmu dari ketiadaan. 

Dari tiga tingkat keselamatan sebagaimana telah Ayah jelaskan padamu, dalam tulisan ini Ayah hanya akan membincangkan keselamatan tingkat pertama berdasarkan dua pertimbangan. Pertimbangan pertama Ayah, engkau kini tengah menjalani kehidupan dunia, sehingga prioritas bagimu saat ini ialah mencapai keselamatan di dunia; dan pertimbangan kedua, keselamatan di alam kubur dan di akhirat hanya dapat engkau capai jika telah mencapai keselamatan di dunia, oleh karena itu penting bagimu untuk terlebih dahulu mencapai keselamatan tingkat pertama sebelum menapaki tingkat selanjutnya. Lalu pertanyaannya, nak, bagaimana cara yang harus engkau lakukan agar mencapai keselamatan kehidupan dunia? Anakku, untuk dapat mencapai keselamatan kehidupan dunia, terlebih dahulu engkau harus memahami hakikat dunia sebagai dasar bagimu untuk dapat memahami maksud kehadiranmu di dunia, maksud dihadirkannya dunia oleh Allah, apa saja yang harus engkau lakukan sepanjang hidup di dunia dan bagaimana seharusnya engkau menjalani hidupmu di dunia. 

Hakikat dunia tidak lebih dari sebuah ruang ujian yang diperuntukkan Allah kepada seluruh manusia untuk menguji manakah manusia yang menyerahkan dirinya kepada Allah dan manakah manusia yang ingkar kepada Allah dengan memutus ketergantungan dirinya dari Allah. Kehidupan dunia yang sedang engkau jalani saat ini tidak lebih merupakan fase ujian dari Allah kepadamu untuk engkau menunjukkan kepatuhan hanya kepada Allah dengan memenuhi seluruh kehendak-Nya. Dalam konteks ujian inilah Allah menciptakan dan memperuntukkan dunia beserta isinya hanya untuk manusia agar dipergunakannya dalam rangka merealisasikan kehendak-Nya. Maksud dihadirkannya dunia menjadikan manusia menempati kedudukan tertinggi di antara entitas lainnya di alam dunia karena diberi kewenangan oleh Allah untuk memanfaatkannya sekaligus amanah untuk menjaga kelestarian dan kemakmurannya. Inilah pengertian dari kedudukan yang diberikan Allah kepada manusia, termasuk dirimu, sebagai wakil-Nya di muka dunia.

Untuk dapat patuh dan mampu memenuhi seluruh kehendak Allah sebagai jalan mencapai keselamatan dunia, engkau diwajibkan menjadi abdi sekaligus wakil-Nya yang baik, nak. Menjadi manusia yang baik membutuhkan pemahamanmu terhadap ke-Esa-an Allah dalam sifat-sifat-Nya yang merupakan puncak dari sifat kebaikan dan kesucian. Allah sebagai Raja menghendaki sifat-sifat-Nya diserap dan ditampakkan oleh abdi-Nya sebatas kemampuannya sebagai manusia karena pada hakikatnya sifat-sifat Allah hanya milik-Nya yang tidak dapat sepenuhnya dimiliki oleh selain-Nya. Atas dasar pandangan ini nak, manusia yang baik ialah sosok manusia yang mampu menyerap sifat-sifat Allah ke dalam dirinya dan menampakkannya, sehingga dikatakan manusia yang baik merupakan citra Ilahi karena dalam gagasan, tutur ucap dan perilakunya mencerminkan sifat-sifat-Nya yang baik dan suci. Melalui jalan ini engkau akan dapat mencapai tingkatan manusia paripurna anakku, yakni manusia yang kebutuhan hidupnya di dunia hanyalah sebatas persoalan yang berkaitan dengan pengabdian kepada Allah dan pemenuhannya melalui cara-cara yang disetujui dan diridhai Allah. Inilah tingkatan kesadaran terakhir yang harus engkau capai dan engkau miliki sepanjang hidup di alam dunia untuk mencapai keselamatan pada jenjang pertama. 

Anakku Esa, demikianlah makna nama depanmu sebagaimana Ayah dan Bunda menghendakinya. Begitu pentingnya makna nama depanmu dalam pembentukan kesadaranmu sebagai manusia religius dalam pandangan Islam, maka Ayah dan Bunda bersepakat untuk menetapkan nama depanmu sebagai nama panggilanmu di antara kedua kata lainnya pembentuk namamu agar setiap panggilan dan sapaan yang ditujukan kepadamu merupakan pengingat bagimu untuk menjaga kesadaran dirimu perihal hakikat diri, tujuan hidup, kebutuhan hidup dan cara-cara memenuhi kebutuhan hidup yang tidak dapat dilepaskan dari ke-Esa-an Allah. Besar harapan Ayah dan Bunda dan tak henti doa kami kepada Allah agar engkau menjadi manusia yang baik, nak, yakni manusia yang menjadi tanda bagi kehadiran dan kuasa Allah serta menjadi cermin bagi sifat-sifat Allah dan memantulkannya ke seluruh ruang hidupmu agar menjadi terang dan penuh dengan rahmat.

*****

Sampailah tulisan ini pada bagian akhir di mana Ayah akan menjelaskan makna nama belakangmu yang merupakan tujuan-antara selanjutnya setelah engkau mencapai tujuan-antara pertama dengan menggunakan jalan yang sama untuk membuka makna nama depanmu, yakni jalan Falsafah. Pada tujuan-antara pertama, engkau telah memahami makna dirimu sebagai manusia religius dalam pandangan Islam. Dan pada tujuan-antara kedua ini Ayah akan menjelaskan padamu mengenai makna dirimu sebagai manusia religius yang hadir di alam dunia, sehingga menjadikanmu memiliki dimensi sosiologis dan psikologis. 

Anakku Esa, Saputra memuat makna ikatan dirimu dengan Ayah sebagai walimu. Ikatan nasab antara dirimu dan Ayah memiliki arti bahwa Ayah dan tentu saja Bunda terlibat dalam penghadiranmu di alam dunia. Setelah memahami makna nama depanmu, engkau pasti mengalami kebingungan dan bertanya-tanya, jika Allah Maha Kuasa mengapa Allah dalam penghadiran manusia di alam dunia melibatkan manusia lainnya? Bukankah Allah Yang Maha Kuasa mampu menciptakan manusia dari ketiadaan tanpa melibatkan satu pun ciptaan-Nya? Terhadap pertanyaanmu tersebut Ayah dapat memberikan tiga argumentasi, nak. Pertama, dilibatkannya manusia oleh Allah dalam penghadiran manusia lainnya di alam dunia ialah sebagai pembeda antara Allah dan manusia. Kehadiranmu di alam dunia tidaklah hadir begitu saja dari ketiadaan karena dalam penghadiranmu Allah melibatkan seorang pria dan wanita yang menjadi Ayah dan Bundamu. Inilah hukum yang ditetapkan Allah bagi penghadiran manusia di alam dunia, karenanya setiap manusia yang hadir di alam dunia pastilah memiliki kedua orangtua dari kalangan pria dan wanita. Lalu bagaimana dengan manusia pertama yang kehadirannya pastilah tidak melibatkan manusia lainnya, yakni tanpa memiliki orangtua dari kalangan manusia? Dialah Nabi Adam Alaihi Sallam, nak, manusia sekaligus Nabi pertama yang diciptakan Allah dari ketiadaan dengan tangan-Nya tanpa perantara makhluk lainnya. Setelah Nabi Adam hadir, melalui dirinya Alaihi Sallam, Allah menghadirkan pasangan hidup baginya dan dari keduanya Allah menghadirkan manusia lainnya, sehingga Nabi Adam merupakan nenek moyang seluruh manusia dan seluruh manusia setelah keduanya merupakan anak keturunan Adam.

Selain Nabi Adam Alaihi Sallam yang kehadirannya di alam dunia tanpa keterlibatan sepasang manusia yang berkedudukan sebagai orangtua baginya, terdapat seorang manusia lainnya yang dihadirkan Allah di alam dunia tidak sebagaimana manusia pada umumnya. Dialah Nabi Isa Alaihi Sallam yang dihadirkan Allah di alam dunia hanya melalui seorang Bunda tanpa Ayah. Sementara Nabi dan Rasul selain keduanya dihadirkan Allah ke alam dunia melalui sepasang orangtua sebagaimana dirimu, nak, tetapi untuk membedakan kedudukan seorang Nabi dan Rasul dengan kalangan manusia pada umumnya, Allah memberinya mukjizat sebagai bukti atas risalah kenabian yang diembannya. Dengan mengetahui perbedaan cara Allah menghadirkan manusia di alam dunia engkau dapat mengetahui kedudukan dirimu yang berada di bawah para Nabi dan Rasul sebab engkau dihadirkan Allah di alam dunia melalui sepasang orangtua dan tanpa diberi-Nya mukjizat. Tidak akan ada lagi manusia yang menempati kedudukan para Nabi dan Rasul hingga berakhirnya dunia, nak, karena risalah kenabian telah berakhir jauh sebelum engkau hadir di alam dunia dengan diutusnya Nabi sekaligus Rasul terakhir, yakni Rasul Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.

Dasar yang sama dapat engkau gunakan untuk mengetahui perbedaan antara Allah dengan manusia yang merupakan ciptaan sekaligus abdi-Nya, nak. Sebagaimana telah Ayah jelaskan pada makna nama depanmu, Allah ialah Dzat Yang Awal dan Yang Akhir dan tidak ada sesuatupun sebelum Allah. Tidak seperti manusia, Allah tidaklah diperanak dan tidak pula beranak, sebagaimana difirmankan-Nya dalam ayat ketiga surah al-Ikhlash. Jika Allah diperanak maka Diri-Nya tidak dapat disebut sebagai Yang Awal karena telah didahului oleh entitas lain yang menghadirkan Diri-Nya dan tentulah yang menghadirkan Allah lebih pantas menyandang status sebagai Tuhan Seluruh Alam karena yang menghadirkan memiliki kedudukan lebih tinggi daripada yang dihadirkan. Dan jika Allah memiliki anak yang terikat nasab dengan-Nya, maka terdapat irisan kesamaan antara Diri-Nya dengan manusia, yakni memiliki keturunan. Kehadiran keturunan bertujuan untuk melestarikan keberadaan jenisnya secara biologis dan untuk melanjutkan garis darahnya secara sosiologis di mana kondisi tersebut sangat dibutuhkan oleh manusia, sedangkan jika kondisi ini dikenakan kepada Allah maka Diri-Nya tidak dapat disebut sebagai Yang Akhir karena terdapat entitas lain setelah Allah yang terikat dengan-Nya secara biologis maupun sosiologis. Tentulah kondisi tersebut tidak dapat diterima akalmu, nak, dan tidak pula dibenarkan secara teologi.

Masih tersisa satu kondisi dalam persoalan ini, nak. Jika Allah adalah Dzat Yang Awal dan tidak diperanak, maka bagaimana kondisi sebelum kehadiran Allah? Anakku, jika engkau membayangkan sebelum kehadiran Allah yang ada hanyalah kekosongan, harus engkau pahami bahwa kekosongan memiliki dimensi ruang dan waktu yang menjadikannya berbatas ruang dan waktu. Dengan begitu kekosongan merupakan sesuatu dan sesuatu pastilah diadakan atau diciptakan. Kondisi ini tidak dapat diterima akalmu karena dua hal, nak, yakni (1) mengharuskan adanya pencipta selain Allah yang menghadirkan kekosongan karena Allah yang belum hadir belumlah menyandang status sebagai Pencipta; dan (2) mengharuskan kehadiran Allah di dalam kekosongan yang merupakan sesuatu berbatas ruang dan waktu, sedangkan Dzat Allah Yang Maha Esa berada di luar serta melampaui ruang dan waktu. Maka tinggallah satu-satunya kondisi yang dapat diterima akalmu bahwa Allah merupakan ‘ada’ itu sendiri yang mensyaratkan-Nya hadir sejak semula, sebab tanpa ‘ada’ itu sendiri maka ada yang lain menjadi mustahil untuk hadir.

Anakku, argumentasi kedua dari dilibatkannya Ayah dan Bunda oleh Allah dan terikatnya nasab dirimu dengan Ayah merupakan tanda bahwa kehadiranmu di dunia melalui jalan yang dikehendaki Allah, yakni melalui ikatan pernikahan yang sah antara Ayah dan Bunda. Dengan demikian kehadiranmu di alam dunia adalah sah dan dibenarkan menurut syariat-Nya yang menempatkan pernikahan sebagai salah satu fitrah manusia dan tauladan Rasul-Nya serta sah pula menurut budaya dan sosial masyarakatmu yang melazimi hadirnya seorang anak hanya melalui ikatan pernikahan. Inilah penjamin psikologismu untuk hadir dan mempertahankan kehadiranmu di dunia, nak, yang menjadikanmu memiliki kemuliaan dan kehormataan di dalam agama serta di tengah lingkungan sosial-budayamu. 

Ketiga sekaligus argumentasi terakhir yang dapat Ayah sampaikan kepadamu, bahwa Allah menghendaki kehadiran manusia di alam dunia yang masih asing baginya tidaklah seorang diri, tetapi memiliki Ayah dan Bunda sebagai jaminan sosiologis yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Jaminan tersebut berarti dua hal bagimu, anakku. Yang pertama, ikatan nasabmu dengan diri Ayah bermakna bahwa Ayah sebagai walimu dan kepala keluarga memiliki tanggungjawab untuk memberimu perlindungan serta pendidikan, memenuhi kebutuhanmu yang telah ditetapkan-Nya dan menunjukkanmu kepada kebenaran dengan membimbingmu membentuk kesadaran diri yang bersumberkan dari Islam.

Tanggungjawab yang diamanahkan Allah kepada Ayah perihal dirimu memiliki tujuan untuk menjaga kesucianmu hingga engkau memiliki kemampuan untuk menjaganya dimulai saat engkau memasuki fase akil baligh dan pada fase yang sama ujianmu dimulai untuk mencapai keselamatan hidup di dunia, nak. Konsep kesucian diri ini penting untuk engkau pahami di mana menurut pandangan Islam, setiap manusia dihadirkan Allah di alam dunia dalam kondisi suci tanpa mewarisi sedikitpun dosa dari garis nasab yang dimilikinya karena mencipta makhluk merupakan perilaku yang suci oleh Dzat Yang Maha Suci, sehingga hasil dari perilaku tersebut pun bernilai suci. Berdasar konsep ini engkau akan mengetahui letak kesalahan pemahaman sekalangan manusia yang meyakini kehadiran manusia di alam dunia sejak semula dalam kondisi kotor penuh noda. 

Tujuanmu menjaga kesucian diri ialah untuk mencapai keselamatan hidup di dunia sebagaimana suci dapat dimaknai keselamatan dan Ayah telah menjelaskan padamu pada bagian sebelumnya bahwa keselamatan hanya dimungkinkan melalui jalan pengabdian kepada-Nya. Berarti hanya dengan mengabdikan diri kepada-Nya engkau akan dapat menjaga kesucian diri. Sebaliknya, nak, ingkar kepada Allah akan mengotori dirimu karena setiap dosa merupakan noda yang akan memudarkan kesucianmu. Atas dasar konsep kesucian ini Ayah dan Bunda memperbolehkan Eyang Kakung dan Eyang Putri memanggilmu dengan sebutan Safa yang merupakan penggalan dari nama tengahmu; Falsafah, sebab Safa berarti suci yang merupakan fitrah penciptaanmu sebagai manusia agar setiap kali beliau berdua memanggilmu menjadi pengingat bagimu untuk menjaga kesucian diri dari berbagai hal yang dapat mengotorinya.

Ayah mencoba menebak pertanyaan selanjutnya yang akan engkau sampaikan, nak. Jika Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu mengapa Allah tidak secara langsung mengurusi manusia, terlebih khusus mendidiknya, dan malah membebani tanggungjawab tersebut kepada manusia lainnya? Atas pertanyaanmu ini, Ayah pun memiliki tiga argumentasi. Pertama, selayaknya Raja yang tidak dapat ditemui dan berhubungan langsung dengan para abdinya, Allah hanya berhubungan secara langsung kepada manusia pilihan-Nya dari kalangan Nabi dan Rasul. Sebagaimana Raja memiliki juru bicara yang mewakilinya, kalangan manusia terpilih itulah yang diberi tanggungjawab oleh Allah untuk menyampaikan kehendak-Nya kepada seluruh manusia selainnya. Dengan cara tersebut manusia akan memperhatikan firman-Nya karena Allah tidak berbicara secara langsung kepada seluruh manusia dan manusia akan mengikuti serta mencintai manusia pilihan-Nya sebagai penyampai firman-Nya karena hanya melaluinya manusia sebagai abdi dapat mengenal Allah dan memahami kehendak-Nya. 

Kedua, dengan Allah berhubungan secara langsung hanya kepada manusia-manusia pilihannya-Nya dari kalangan Nabi dan Rasul, akan memudahkan manusia untuk memahami dan memenuhi kehendak Allah yang disampaikan dan dicontohkan pengamalannya oleh sesama manusia. Dengan mekanisme ini Allah menutup pintu keraguan manusia yang dapat menyebabkannya ingkar kepada Allah dengan dalih bahwa kehendak-Nya tidak dapat diketahui, dipahami dan dipenuhi oleh manusia, sehingga tiada guna bagi manusia untuk mengenal-Nya dan bergantung kepada-Nya. Berdasarkan ketentuan Allah ini, engkau dapat menarik prinsip nak, bahwa untuk menjadi manusia yang baik yang berarti menjadi abdi Allah yang patuh adalah dengan cara mentauladani dan mengikuti Nabi dan Rasul karena kalangan manusia pilihan-Nya merupakan abdi terbaik dari kalangan manusia karenanya memiliki hubungan paling dekat dengan Raja, cermin paling jernih bagi sifat-sifat Allah, dan telah mencapai keselamatan sebagaimana dijanjikan oleh Allah. Tidaklah seseorang layak untuk engkau jadikan tauladan dalam mencapai keselamatan jika dirinya tidak memenuhi kondisi tersebut. 

Dan argumentasi terakhir dari Ayah, nak, jika Allah secara langsung mendidik seluruh manusia maka keseluruhan manusia akan mencapai keselamatan. Jika seluruh manusia mencapai keselamatan, maka sia-sialah keberadaan dunia yang oleh Allah diperuntukkan sebagai ruang dan waktu ujian bagi manusia. Selain itu jika seluruh manusia mencapai keselamantan, maka bertentangan dengan prinsip ujian yang menghendaki setiap manusia mencapai kelulusan dengan kesadaran, kehendak dan kemampuan dirinya sendiri, sehingga terdapatnya sekalangan manusia yang tidak lulus dalam ujian mencapai keselamatan di dunia adalah sebuah keniscayaan. Jika keberadaan dunia merupakan kesia-siaan, maka sia-sia pula perbuatan Allah menciptakan dunia dan sia-sia pula perbuatan Allah menciptakan manusia dengan seperangkat fakulti kebenaran, kehendak dan potensi yang diberikan Allah agar manusia dapat menjalani fase ujiannya. Lagi-lagi kesimpulan seperti ini tidaklah dapat dibenarkan secara teologi, nak, dan tidaklah pula dapat diterima oleh akalmu.

Bagian akhir dari tulisan ini belumlah selesai sampai Ayah menjelaskan mengenai arti kedua dari jaminan sosiologis yang diberikan Allah kepadamu berupa ikatan nasab dan ikatan keluarga. Anakku, jaminan sosiologis tersebut bagi dirimu merupakan ruang pertama bagimu untuk mencapai kesadaran yang benar serta ruang pertama bagimu untuk mengamalkan kesadaran tersebut sebelum engkau mengamalkannya di dalam ruang yang lebih luas meliputi ruang sosial hingga ruang negara. Dengan demikian jaminan sosial yang diberikan Allah kepadamu meliputi pendamping dirimu, yakni Ayah dan Bunda yang diberi Allah tanggungjawab untuk mempersiapkanmu menjadi manusia yang utuh agar mampu mencapai keselamatan dengan daya upayamu sendiri dan ruang bagimu untuk mempersiapkan diri sebelum memasuki ruang ujian yang akan engkau jalani selepas engkau memasuki fase akil baligh hingga Allah menghendaki berakhirnya kehadiranmu di alam dunia.

Anakku Esa, demikianlah makna nama belakangmu sebagaimana Ayah dan Bunda menghendakinya yang akan membawamu pada pemahaman mengenai hakikat dirimu sebagai manusia religius yang hadir di dalam dunia dengan kepemilikan jaminan sosial dan jaminan psikologis sebagai pemberian dari Allah kepadamu. Ayah dan Bunda berharap, dengan memahami hakikat dirimu sebagai manusia religius, engkau dapat mempergunakan dengan benar kedua jaminan yang engkau miliki, yakni engku gunakan semata untuk mencapai tujuan penciptaanmu. Jika engkau dapat mempergunakannya dengan benar di alam dunia untuk mencapai tingkat keselamatan pertama, engkau pun dapat mempergunakannya untuk mencapai tingkat keselamatan selanjutnya. Ikatan sosial dan psikologis melalui garis nasab akan menjadi penenang di alam kubur dengan lantunan doa dan ampunan kepada Allah dan menjadi penolong di alam akhirat dengan diberi hak syafaat bagi abdi yang dimuliakan oleh Allah, sehingga ikatan keluarga yang mempersatukan kita di alam dunia akan dapat berlanjut hingga di dalam jannah.

*****
Struktur nama dan tujuan memahami makna nama Esa Falsafah Saputra

Selesai sudah tulisan ini, nak, yang berarti selesai sudah setengah kewajiban Ayah dan Bunda memberimu nama dengan memilihkan nama yang baik bagimu dan menjelaskan makna yang terkandung di dalamnya. Kewajiban Ayah dan Bunda memberimu nama barulah berakhir ketika engkau telah memahami makna namamu dengan benar. Oleh karena itu, seluruh upaya yang diperlukan agar engkau dapat memahaminya dengan benar haruslah dipenuhi dan tulisan ini adalah salah satu di antara sekian upaya yang tengah Ayah dan Bunda lakukan. Bagi Ayah dan Bunda, nama yang kami berikan kepadamu ialah doa dari kami kepada Allah teruntuk dirimu semoga sepanjang kehadiranmu di alam dunia senantiasa diberi-Nya petunjuk untuk engkau menjadi manusia yang baik hingga mencapai tingkatan paripurna. Bagi dirimu, nama yang Ayah dan Bunda berikan akan selalu melekat padamu yang ketika engkau pahami dan resapi maknanya serta setiap kali engkau ingat maknanya akan mendorong dirimu menjadi manusia sebagaimana makna namamu dan menjalani kehadiran dilandasi kesadaran diri yang termuat dalam namamu.

Tinggallah kini kewajiban Ayah dan Bunda menjelaskan secara langsung makna namamu kepadamu. Ayah dan Bunda sangat menantikan hari itu datang. Hari di mana engkau telah akil baligh, di suatu sore dalam suasana bercengkerama penuh kehangatan kasih keluarga sambil menikmati teh racikan Bunda diiringi nyanyian daun yang sedang berjumpa dengan angin. Di hari seperti itulah Ayah akan menjelaskannya kepadamu, Anakku. 

Allahu a’lam bishshawab.

Bertempat di Kartasura pada Rajab 1438 Hijrah Nabi, beberapa hari setelah kelahiran Esa
Diselesaikan di Kartasura pada Dzulqa’dah 1438 Hijrah Nabi, tepat pada hari Esa berusia 4 bulan