Jumat, 13 Januari 2017

Nilai-Sosial Dalam Kehidupan Ekonomi; Dari Menegakkan Hingga Keruntuhan (Bagian 1)

Mendapatkan sesuatu dengan cara menukarkannya dengan sesuatu yang lain mungkin sudah dilakukan manusia sejak pertama kali hidup berkelompok. Dahulu untuk mendapatkan barang yang dibutuhkannya, manusia memenuhinya dengan cara saling tukar menukar barang yang disebut barter. Dapat dijelaskan secara singkat, barter merupakan cara memenuhi kebutuhan terhadap barang melalui kepemilikan orang lain yang didapatkan dengan cara memberikan barang yang dibutuhkan orang tersebut. Ilustrasinya begini, agar terjadi barter antara saya dan anda, maka disyaratkan saya membutuhkan barang yang anda miliki dan begitupula anda membutuhkan barang yang saya miliki, kemudian saya dan anda bersepakat saling menukarkan barang untuk memenuhi kebutuhan masing-masing terhadap barang. Dengan demikian barter terjadi dalam koridor saling membutuhkan barang yang dimiliki masing-masing pihak yang terlibat dalam transaksi yang didasarkan atas nilai-guna barang. 

Selanjutnya terjadi pergeseran cara untuk mendapatkan barang. Nilai-guna barang yang mendasari praktik barter digantikan dengan nilai-tukar di mana barang dinilai dari aspek ekonomi yang diterjemahkan menjadi harga tertentu yang harus dibayarkan pembeli untuk mendapatkan barang yang dibutuhkannya sebagai pengganti biaya produksi, distribusi dan keuntungan penjual, sehingga untuk mendapatkan barang, pihak pembeli diharuskan memiliki alat tukar yang diterima keabsahannya oleh penjual. Transaksi demikian merubah cara manusia mendapatkan barang dan merubah pula cara pandang manusia terhadap barang. Barang, bagi penjual adalah sarana untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang berarti semakin banyak barang dijual dan semakin tinggi harga barang, maka semakin besar keuntungan didapatkan. Tidak sampai di sana, terjadi kembali pergeseran cara manusia mendapatkan barang. Kali ini mengenai cara menjual barang dengan mendorong munculnya keinginan pembeli secara berterusan untuk memiliki barang yang dijual. Daya tarik pembeli terhadap barang ditumbuhkan melalui nilai-tanda yakni, menyematkan kualitas yang berasal dari luar barang guna membentuk citra barang yang dijual, sehingga pembeli menginginkan barang bukan lagi untuk nilai guna praktisnya, tetapi untuk membentuk citra dirinya melalui kepemilikan barang. Tujuannya tidak lain adalah untuk meningkatkan keuntungan ekonomi yang didapatkan pihak penjual barang.

Dalam tulisan ini saya tidak bertujuan untuk mengkaji permasalahan di atas yang telah banyak dibahas oleh para pemikir, sebut saja Karl Marx yang mendedah nilai-tukar barang sementara Jean Baudrillard melakukan kritik terhadap pisau analisa yang digunakan Karl Marx dengan menggunakan nilai-tanda barang. Melalui tulisan ini saya hendak memperkenalkan nilai-sosial dalam upaya memenuhi kebutuhan terhadap barang yang luput dibahas oleh para pemikir tersebut. Jika nilai-guna merupakan kemanfaatan barang secara praktis, nilai-tukar merupakan sejumlah nominal yang harus dibayarkan untuk mendapatkan barang dan nilai-tanda merupakan kualitas dari luar barang yang disematkan pada barang untuk membentuk citra barang, maka nilai-sosial adalah kemanfaatan sosiologis yang didapatkan pihak yang terlibat dalam transaksi.

Minggu, 01 Januari 2017

Ruang Kosong Yang Penuh

Dalam ruang yang kosong
Diriku hilang, tertelan

Ku cari, tak ku temu
Ku sadari, hadir dalam semu
Hingga di puncak bersatu
Tampaklah aku

Ruang itu kini penuh
Oleh diriku yang utuh


Oleh: Andika Saputra
Yogyakarta pada Rabiul Awal 1438 Hijrah Nabi