Jumat, 13 Januari 2017

Nilai-Sosial Dalam Kehidupan Ekonomi; Dari Menegakkan Hingga Keruntuhan (Bagian 1)

Mendapatkan sesuatu dengan cara menukarkannya dengan sesuatu yang lain mungkin sudah dilakukan manusia sejak pertama kali hidup berkelompok. Dahulu untuk mendapatkan barang yang dibutuhkannya, manusia memenuhinya dengan cara saling tukar menukar barang yang disebut barter. Dapat dijelaskan secara singkat, barter merupakan cara memenuhi kebutuhan terhadap barang melalui kepemilikan orang lain yang didapatkan dengan cara memberikan barang yang dibutuhkan orang tersebut. Ilustrasinya begini, agar terjadi barter antara saya dan anda, maka disyaratkan saya membutuhkan barang yang anda miliki dan begitupula anda membutuhkan barang yang saya miliki, kemudian saya dan anda bersepakat saling menukarkan barang untuk memenuhi kebutuhan masing-masing terhadap barang. Dengan demikian barter terjadi dalam koridor saling membutuhkan barang yang dimiliki masing-masing pihak yang terlibat dalam transaksi yang didasarkan atas nilai-guna barang. 

Selanjutnya terjadi pergeseran cara untuk mendapatkan barang. Nilai-guna barang yang mendasari praktik barter digantikan dengan nilai-tukar di mana barang dinilai dari aspek ekonomi yang diterjemahkan menjadi harga tertentu yang harus dibayarkan pembeli untuk mendapatkan barang yang dibutuhkannya sebagai pengganti biaya produksi, distribusi dan keuntungan penjual, sehingga untuk mendapatkan barang, pihak pembeli diharuskan memiliki alat tukar yang diterima keabsahannya oleh penjual. Transaksi demikian merubah cara manusia mendapatkan barang dan merubah pula cara pandang manusia terhadap barang. Barang, bagi penjual adalah sarana untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang berarti semakin banyak barang dijual dan semakin tinggi harga barang, maka semakin besar keuntungan didapatkan. Tidak sampai di sana, terjadi kembali pergeseran cara manusia mendapatkan barang. Kali ini mengenai cara menjual barang dengan mendorong munculnya keinginan pembeli secara berterusan untuk memiliki barang yang dijual. Daya tarik pembeli terhadap barang ditumbuhkan melalui nilai-tanda yakni, menyematkan kualitas yang berasal dari luar barang guna membentuk citra barang yang dijual, sehingga pembeli menginginkan barang bukan lagi untuk nilai guna praktisnya, tetapi untuk membentuk citra dirinya melalui kepemilikan barang. Tujuannya tidak lain adalah untuk meningkatkan keuntungan ekonomi yang didapatkan pihak penjual barang.

Dalam tulisan ini saya tidak bertujuan untuk mengkaji permasalahan di atas yang telah banyak dibahas oleh para pemikir, sebut saja Karl Marx yang mendedah nilai-tukar barang sementara Jean Baudrillard melakukan kritik terhadap pisau analisa yang digunakan Karl Marx dengan menggunakan nilai-tanda barang. Melalui tulisan ini saya hendak memperkenalkan nilai-sosial dalam upaya memenuhi kebutuhan terhadap barang yang luput dibahas oleh para pemikir tersebut. Jika nilai-guna merupakan kemanfaatan barang secara praktis, nilai-tukar merupakan sejumlah nominal yang harus dibayarkan untuk mendapatkan barang dan nilai-tanda merupakan kualitas dari luar barang yang disematkan pada barang untuk membentuk citra barang, maka nilai-sosial adalah kemanfaatan sosiologis yang didapatkan pihak yang terlibat dalam transaksi.

Nilai-sosial bukanlah nilai yang intrinsik terdapat di dalam barang, tetapi nilai di luar barang yang terbentuk dari cara dipertukarkannya barang. Adanya nilai-sosial menjadikan pertukaran barang atau transaksi jual-beli yang merupakan kehidupan ekonomi memiliki kait hubung dengan kehidupan sosial di mana antara keduanya berlaku hubungan resiprokal, dalam artian kedekatan sosial dapat mendorong terjadinya transaksi dan sebaliknya, transaksi dapat menguatkan jalinan sosial. Selain dalam konteks yang positif, keberadaan nilai-sosial juga dapat digunakan untuk memahami fenomena keterpisahan kehidupan ekonomi dari kehidupan sosial yang menyebabkan terjadinya transaksi jual-beli justru melemahkan jalinan sosial bahkan meruntuhkan ikatan sosial. Inilah manfaat konseptual dari nilai-sosial, yakni untuk memahami fenomena perilaku ekonomi dari sudut pandang sosial. Dalam ranah ini saya menggunakan pendekatan kualitatif, di mana nilai-sosial yang tinggi diartikan transaksi yang terjadi berdampak positif terhadap jalinan sosial sedangkan bernilai rendah diartikan transaksi yang terjadi berdampak negatif terhadap jalinan sosial.

Untuk keperluan rekayasa sosial melalui perilaku ekonomi, dibutuhkan pengkajian nilai-sosial dengan pendekatan kuantitatif guna mengontrol secara terukur perubahan sosial yang dikehendaki. Inilah manfaat praktis dari nilai-sosial, yakni untuk mengajegkan kondisi sosial melalui perilaku ekonomi maupun untuk mendorong terjadinya transformasi sosial melalui perubahan perilaku ekonomi. Dalam tulisan ini saya berupaya membahas nilai-sosial secara konseptual dengan berbagai tingkatannya, sehingga tulisan ini terdiri dari empat bagian yang saling berhubungan. Bagian pertama, kedua dan ketiga membahas nilai sosial dari tingkatan tinggi, menengah hingga keruntuhannya, sementara bagian keempat yang merupakan bagian terakhir dari tulisan ini membahas prinsip-prinsip nilai-sosial yang dapat dirumuskan dengan cara membandingkan tiap tingkatan nilai-sosial. Sedangkan untuk kemanfaatan praktis nilai-sosial tidak dapat saya lakukan karena ketiadaan otoritas ilmu pada diri saya berkaitan dengan ranah tersebut.

A. Menegakkan Nilai-Sosial

Saya awali tulisan ini dengan membahas nilai-sosial dengan tingkatan yang tinggi di mana transaksi yang dilakukan memiliki pengaruh positif terhadap jalinan sosial pihak yang terlibat. Terbentuknya nilai-sosial yang tinggi dikarenakan terpenuhinya dua syarat dalam transaksi yang dilakukan yakni, (1) pihak yang terlibat telah saling mengenal dan terikat dalam jalinan sosial; dan (2) dalam proses transaksi terjadi komunikasi dua arah yang intens dan bermakna bagi pihak yang terlibat. Syarat pertama menjadi prasyarat bagi syarat kedua karena komunikasi personal dua arah baru dapat terjadi jika pihak yang terlibat telah memiliki kedekatan sosial. Berdasarkan syarat demikian, terbentuknya nilai-sosial yang tinggi dalam tukar menukar barang atau transaksi jual-beli mensyaratkan pihak yang terlibat dalam transaksi memiliki ikatan jalinan sosial, sehingga komunikasi dua arah yang intens dan bermakna dapat berlangsung sepanjang proses transaksi.

Gambar 1: Relasi antara penjual dan pembeli dalam transaksi dengan nilai-sosial tinggi
Sumber: Analisa, 2017

Cara pemenuhan kebutuhan terhadap barang yang memenuhi syarat di atas adalah barter dan jual-beli tradisional. Dalam barter, pihak yang akan melakukan pertukaran barang disyaratkan memiliki pengetahuan tentang (1) siapa pihak yang memiliki barang yang dibutuhkannya; dan (2) barang apa yang dimilikinya dan dibutuhkan oleh pihak lain yang dilibatkannya dalam transaksi pertukaran barang. Berdasarkan kedua syarat tersebut, barter dilakukan dengan asas saling membutuhkan satu sama lain untuk memenuhi kebutuhannya terhadap barang. Dengan bahasa yang lain, terjadinya tukar menukar barang didorong kebutuhan terhadap barang yang dipenuhi melalui hubungan sosial dengan pihak lain. Dilibatkannya jalinan sosial menjadikan asas saling percaya mendasari transaksi tukar menukar barang, sebab seseorang yang membutuhkan suatu barang memiliki kepercayaan atau diharuskan percaya bahwa pihak yang terikat jalinan sosial dengannya dapat memberikan barang yang dibutuhkannya. Inilah ciri khas transaksi barter yang sangat bergantung dengan jalinan sosial dalam pemenuhan kebutuhan terhadap barang. 

Barter yang dalam kehidupan masa kini telah ditinggalkan, sehingga menjadi asing bagi banyak orang, pernah saya praktikkan secara langsung di desa nenek dalam skala yang kecil sekedar untuk memenuhi kebutuhan bumbu dapur karena kebutuhan terhadap barang yang lain telah dapat dipenuhi oleh kehadiran ruang warung di lingkungan desa. Warga desa telah terbiasa bahkan mentradisi mempraktikkan tukar menukar barang hasil kebun halaman rumahnya. Tukar menukar barang dapat terjadi, bahkan mentradisi, karena antara warga desa telah saling mengenal dalam jangka waktu yang lama hingga bergenerasi, sehingga memiliki hubungan sosial yang sangat dekat layaknya keluarga dan memiliki tingkat saling percaya yang tinggi antar satu dengan lainnya. Selain itu warga desa memiliki pengetahuan perihal hasil kebun setiap warga yang terikat jalinan sosial dengannya dan pengetahuan perihal kebutuhan masing-masing warga berdasarkan pengalaman hidup bersama di dalam ruang permukiman yang sama dalam jangka waktu yang lama. Modal sosial dan modal pengetahuan tersebutlah yang meniscayakan keberlangsungan tradisi tukar menukar barang hingga saat ini di desa nenek saya, walaupun seiring zaman skala dan intensitasnya semakin berkurang sebab mulai bermunculannya warung yang mempraktikkan jual-beli tradisional.

Selain barter, transaksi untuk memenuhi kebutuhan terhadap barang dengan nilai-sosial yang tinggi adalah jual-beli tradisional. Yang saya maksud jual-beli tradisional ialah proses transaksi jual-beli secara tatap muka antara pembeli dan penjual yang melibatkan komunikasi dua arah yang intens dan bermakna bagi keduanya. Cara transaksi demikian masih dipraktikkan hingga kini di dalam ruang warung yang kecenderungannya berada di lingkungan permukiman atau berdekatan dengan area permukiman. Komunikasi dua arah dalam proses transaksi jual-beli tradisional dibuka oleh pembeli dengan mengucapkan salam yang dilanjutkan dengan ucapan khas setempat untuk menyampaikan tujuan kedatangan seperti “Bu, tumbas”. Selanjutnya komunikasi yang diawali oleh pembeli ditanggapi oleh penjual dengan membalas salam, menanyakan kabar dan menanyakan barang yang dibutuhkan.

Komunikasi intens antara pembeli dan penjual selama proses transaksi jual-beli terjadi karena tata atur ruang warung yang menjadi ciri khas spasial yang mewadahi jual-beli tradisional. Ciri khas pertama adalah terhubungnya ruang warung dengan ruang hunian, khususnya warung yang berada di lingkungan permukiman, sehingga penjual tidak setiap saat berada di dalam warung yang mendorong pembeli untuk mengawali komunikasi agar pemilik warung keluar dari ruang huniannya dan menghampiri pembeli. Kedua, proses jual-beli terjadi di dalam ruang yang tersekat tegas antara area pembeli dan area penjual di mana barang yang dijual terdapat di area penjual, sehingga pembeli harus menyampaikan kebutuhannya secara verbal kepada penjual agar diambilkan barang yang dikehendakinya. Dengan ciri khas spasial demikian, komunikasi dua arah terjadi sepanjang proses jual-beli, dari awal hingga berakhirnya transaksi, dan komunikasi yang terjadi dikatakan bermakna karena pihak yang terlibat dalam transaksi terikat jalinan sosial.

Tukar menukar barang dan jual-beli tradisional yang melibatkan jalinan sosial menjadikan berlakunya preferensi sosial sebagai pendorong terjadinya transaksi. Melanjutkan contoh pada bagian di atas, nenek saya ketika akan melakukan barter akan memilih seseorang yang memiliki hubungan sosial paling dekat dengan beliau di antara warga desa lainnya untuk dilibatkan dalam transaksi. Begitupula saat akan membeli barang di warung, di antara sekian warung yang tersebar di desa akan dipilih warung yang pemiliknya memiliki kedekatan hubungan sosial dengan beliau, walaupun terdapat warung yang berjarak lebih dekat dengan ruang-huniannya. Barulah jika di warung langganannya tidak terdapat barang yang dibutuhkan, nenek akan mendatangi warung lain yang juga dipilihnya berdasarkan kedekatan sosial dengan pemilik warung.

Preferensi sosial dalam jual-beli tradisional membentuk modal sosial setiap warung yang menjadikan setiap ruang transaksi memiliki pelanggannya masing-masing. Modal sosial warung tidak berdasarkan pada kedekatan spasial dengan ruang warung, tetapi berdasarkan kedekatan sosial dengan pemilik warung, sehingga dimungkinkan terdapat pelanggan dari jarak yang jauh dengan ruang jual-beli tetapi rutin mengadakan transaksi di ruang tersebut, begitupula sebaliknya terdapat pihak yang berdekatan dengan ruang jual-beli tetapi tidak pernah sekalipun mengadakan transaksi karena memiliki preferensi sosial yang berbeda dalam memilih ruang transaksi untuk memenuhi kebutuhannya terhadap barang. 

Selain itu, modal sosial yang di dalamnya terdapat jalinan sosial dan preferensi sosial juga berfungsi untuk menjaga iklim jual-beli yang sehat. Mempengaruhi pelanggan warung lain untuk dialihkan menjadi pelanggan di warung miliknya dianggap perbuatan yang tidak dapat dibenarkan dan hampir dapat dipastikan berdampak buruk terhadap jalinan sosial antar pemilik warung hingga terjadinya pemutusan hubungan sosial. Bagi pihak yang akan membuka warung baru di lingkungan permukimannya pun akan menjadikan modal sosial yang dimilikinya sebagai pertimbangan untuk memilih jenis barang yang akan diperjual-belikan agar di satu sisi tidak menyaingi pemilik warung lain yang terikat jalinan sosial dengan dirinya dan di sisi lain barang yang akan dijual dibutuhkan oleh warga yang berada dalam jangkauan sosialnya.

Syarat bagi terbentuknya nilai-sosial yang tinggi sebagaimana direalisasikan dalam praktik tukar menukar barang dan jual-beli tradisional, membentuk ciri khas transaksi. Ciri khas pertama, keuntungan sosial lebih diutamakan daripada keuntungan ekonomi. Berlakunya preferensi sosial untuk memutuskan pihak yang dilibatkan dalam transaksi menunjukkan bahwa keuntungan sosial lebih diprioritaskan daripada keuntungan ekonomi atau untuk mencapai keuntungan ekonomi dilalui dengan terlebih dahulu mencapai keuntungan sosial, walaupun harus menempuh jarak lebih jauh dan harus membayar nilai-nominal lebih tinggi yang dalam perhitungan ekonomi dipandang sebagai perilaku yang tidak menguntungkan. Berdasarkan ciri khas pertama ini, dalam transaksi dengan nilai-sosial yang tinggi tidak sekedar terjadi perpindahan kepemilikan barang dari satu pihak ke pihak yang lain, baik melalui transaksi barter maupun jual-beli tradisional, tetapi juga terjadi pemupukan kedekatan sosial dan penebalan jalinan sosial antara pihak yang terlibat dalam transaksi.

Ciri khas kedua yang merupakan turunan dari ciri khas pertama ialah pihak yang terlibat dalam transaksi merasa ridha dengan transaksi yang dilakukan. Keridhaan tampak dari pertukaran barang yang hampir selalu tidak setara dari segi kuantitas maupun nominalnya, seperti untuk mendapatkan 5 siung bawang putih ditukarkan dengan 3 buah cabe rawit. Di kampung nenek saya, ukuran bagi pertukaran barang didasarkan pengalaman beberapa generasi yang karena telah berulang kali dipraktikkan seakan menjadi konsensus sosial atau lebih tepatnya pemakluman sosial. Pertukarang barang yang tidak setara dari segi kuantitas dan nilai nominalnya dapat dimaklumi karena dua hal, yakni (1) pihak yang terlibat pertukaran barang terikat dalam jalinan sosial; dan (2) pihak yang terlibat memandang barang sebatas nilai-guna, yakni kemanfaatan barang secara praktis untuk memenuhi kebutuhannya. Kedua belah pihak merasa ridha terhadap transaksi yang berlangsung sejauh barang yang didapatkan mencukupi kebutuhannya. 

Dalam transaksi jual-beli tradisional, rasa ridha pihak penjual yang terikat jalinan sosial dengan pembeli menjadikan persoalan hutang atau bahkan menggratiskan barang yang dijualnya dapat dilakukan, walaupun menurut logika ekonomi perilaku tersebut justru menunda keuntungan ekonomi bahkan merugikan. Contoh untuk pembahasan ini saya temui langsung di ruang Burjo seputaran lingkungan kos saya di Yogyakarta yang dikarenakan kedekatan hubungan sosial antara penjual sekaligus pemilik Burjo dengan beberapa mahasiswa menjadikan persoalan hutang jamak ditemui dan lumrah dilakukan. Perhitungan ekonomi tentu akan menghambat perilaku demikian, tetapi bagi pihak penjual, kalangan mahasiswa yang dekat secara sosial dengannya dirasa telah banyak membantu seperti menemani begadang di malam hari karena ruang Burjo memang dikenal buka sepanjang hari alias 24 jam sehari atau membantu penjual melayani pembeli pada saat Burjo ramai. Dengan demikian perilaku memberikan hutang bahkan menggratiskan barang yang dijualnya kepada pihak tertentu mendapatkan pembenarannya dalam logika sosial, bukan logika ekonomi. 

Ciri khas ketiga yang masih merupakan turunan dari ciri khas pertama dan mendukung ciri khas kedua adalah kejujuran dalam transaksi. Perilaku mencurangi salah satu pihak yang terlibat dalam transaksi dapat ditekan karena jalinan sosial yang mendasari transaksi. Perbuatan mencurangi timbangan, menutupi kondisi barang yang cacat, berbohong mengenai informasi barang yang dijual, membayar dengan uang palsu atau melakukan pencurian barang sedapat mungkin dihindari karena dapat berdampak buruk pada hubungan sosial dengan salah satu pihak yang terlibat transaksi. Bagi masyarakat yang masih mempraktikkan tukar menukar barang, untuk menekan munculnya perilaku tidak jujur dilakukan dengan mekanisme pengucilan sosial, yakkni tidak lagi melakukan pertukaran barang dengan pihak yang telah melakukan perilaku tidak jujur dalam transaksi sampai sanksi sosial yang lebih berat seperti pemutusan hubungan sosial. Bagi masyarakat yang mempraktikkan jual-beli tradisional, sanksi sosial dilakukan dengan cara tidak lagi menjadi pelanggan pihak penjual yang melakukan perbuatan tidak jujur sampai pada pemutusan transaksi jual-beli yang dilakukan secara komunal oleh pihak yang memiliki ikatan jalinan sosial dengan pelaku. Jika yang menjadi pelaku adalah pembeli, maka sanksi sosial dilakukan oleh penjual berupa penolakan mengadakan transaksi jual-beli dengan pihak tersebut. Jika dilakukan serentak oleh ikatan sosial antar pejual, maka pembeli yang telah berlaku tidak jujur dalam transaksi jual-beli akan mengalami tekanan yang sangat kuat karena tidak mampu memenuhi kebutuhannya terhadap barang akibat tidak bersedianya pihak penjual melakukan transaksi. 

Sanksi sosial menjadi kontrol terhadap perilaku transaksi dan sedapat mungkin dihindari oleh pihak yang terlibat transaksi, baik penjual maupun pembeli karena berakibat buruk pada keuntungan sosial yang berkaitan dengan dimensi kejiwaannya dan keuntungan ekonomi yang berkaitan dengan dimensi jasmaninya. Inilah dua hal yang menjadikan kejujuran dijunjung tinggi dalam transaksi dengan nilai-sosial yang tinggi, yakni jalinan sosial dan sanksi sosial. Dalam kasus tertentu mekanisme sanksi sosial dapat diabaikan jika penjual maupun pembeli menghadapi tekanan yang lebih kuat daripada tekanan jalinan sosial, yakni desakan kebutuhan ekonomi, seperti mencurangi timbangan, menggunakan bahan yang berbahaya untuk pangan, menutupi kecatatan barang yang dilakukan oleh penjual dan pencurian atau menggunakan alat pembayaran yang tidak sah oleh pembeli.

Tekanan kebutuhan ekonomi berkaitan dengan konteks lingkungan di mana transaksi dilakukan. Pada masa dahulu transaksi jual-beli tradisional dipraktikkan di lingkungan pedesaan dengan kondisi kehidupan yang sederhana, kebutuhan hidup yang minim dan jalinan sosial yang kuat, sehingga keuntungan sosial dapat diprioritaskan dan kejujuran dapat dipraktikkan yang mendorong munculnya keridhaan pihak yang terlibat dalam transaksi. Berbeda dengan masa kini di mana transaksi jual-beli tradisional dipraktikkan di lingkungan perkotaan dengan kondisi kehidupan yang kompleks, kebutuhan hidup yang tinggi dan jalinan sosial yang renggang, sehingga menyebabkan keuntungan ekonomi yang didapatkan penjual tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maupun dialami oleh pembeli karena ketiadaan kepemilikan alat tukar yang sah untuk memenuhi kebutuhannya terhadap barang. Dalam kondisi sulit demikian kejujuran tidak mudah untuk dipertahankan sebab desakan kebutuhan hidup menuntut diprioritaskannya keuntungan ekonomi. Terjadilah pergeseran ciri khas pertama jual-beli tradisional yang berorientasi keuntungan sosial menjadi berorientasi keuntungan ekonomi dengan meminggirkan bahkan menyingkirkan keuntungan sosial.

Perilaku tidak jujur dalam transaksi memicu reaksi dari jalinan sosial yang mengikat penjual dan pembeli. Dalam kondisi normal, ketidak-jujuran yang dilakukan oleh penjual maupun pembeli menyebabkan goncangan sosial yang mendorong salah satu pihak menggunakan mekanisme sanksi sosial. Kondisi sebaliknya dapat terjadi jika modal sosial yang dimiliki penjual maupun pembeli dapat merasakan atau turut mengalami kesempitan kehidupan ekonomi sebagaimana dialami oleh pelaku, sehingga memaklumi tindakan pelaku yang dipandang sebagai upaya untuk sekedar menyambung hidup. Tetapi harus dipahami bahwa pemakluman, terlebih yang berkorelasi dengan pemaafan, tidak dapat terus dilakukan yang pada umumnya hanya berlaku untuk kasus pertama karena dibatasi oleh dua hal, yakni (1) kehendak pihak yang dikenai perilaku untuk mencapai keuntungan ekonomi; dan (2) jalinan sosial yang memiliki peran sebagai pengontrol perilaku yang dinilai di luar kepatutan dalam transaksi, sehingga kecenderungannya tidak akan terjadi pemakluman jika muncul kembali perilaku serupa oleh pelaku yang sama.

Ciri khas keempat yang merupakan ciri khas terakhir dan yang mengikat ketiga ciri khas sebelumnya adalah personalitas transaksi. Transaksi yang terjadi melibatkan dua individu yang saling mengenal, terikat dalam jalinan sosial dan memiliki kedekatan hubungan sosial. Tidak ada pihak yang dipandang liyan, asing atau anonim. Dikaitkan dengan ciri khas ketiga, kejujuran menempati kedudukan yang penting dalam transaksi yang didasari personalitas dikarenakan kejujuran lebih mudah dilakukan dalam transaksi di mana pihak yang terlibat memiliki kedekatan hubungan sosial dan begitupula personalitas transaksi dapat dijaga keberlangsungannya jika antara pihak yang terlibat senantiasa mampu berperilaku jujur. Pemakluman terhadap ketidak-jujuran salah satu pihak yang terlibat dalam transaksi bukanlah merupakan pemakluman terhadap perilaku yang dinilai buruk, tetapi pemakluman terhadap pelaku yang dikenalinya secara personal. Pemakluman niscaya dilakukan karena dalam transaksi yang diliputi personalitas melibatkan seluruh fakulti yang dimiliki manusia sebagai subyek pelaku transaksi yang utuh, termasuk dimensi perasaannya.

Gambar 2: Personalitas dalam ruang warung ditampakkan dari foto pemilik dan keluarga yang diperlihatkan kepada pembeli. Sebuah warung pecel di Sragen.
Sumber: Dokumentasi pribadi, 2017

Pemakluman terhadap pihak yang berperilaku di luar kepatutan tidak akan memunculkan keridhaan dalam transaksi yang dilakukan, baik bagi pihak yang dikenai perilaku maupun bagi pelaku karena keridhaan hanya dapat dicapai melalui transaksi yang didasari kejujuran, diliputi personalitas dan berorientasi keuntungan sosial. Dari sini dapat ditarik dua prinsip berkaitan dengan ciri khas transaksi dengan nilai-sosial yang tinggi. Pertama, keempat ciri khas merupakan satu kesatuan di mana jika salah satu ciri khas tidak hadir maka menyebabkan ketidak-hadiran atau paling tidak mempengaruhi ciri khas lainnya. Kedua, nilai-nilai luhur mutlak diperlukan dalam melakukan transaksi untuk menjamin kestabilan perilaku pihak yang terlibat, karena nilai-sosial yang tinggi berikut dengan syarat dan keempat ciri khasnya membutuhkan kestabilan jalinan sosial yang dicapai melalui kestabilan personal seluruh pihak yang terlibat dalam transaksi dan terikat dalam jalinan sosial. 

Keempat ciri khas transaksi dengan nilai-sosial yang tinggi membentuk struktur latar bagi berlangsungnya transaksi di mana unsur manusia menempati latar-depan, unsur barang menempati latar-tengah dan unsur ruang menempati latar-belakang. Dalam struktur latar berlaku oposisi biner di mana latar-depan menduduki posisi paling tinggi, sedangkan latar-belakang menduduki posisi paling rendah. Unsur manusia menempat latar-depan dikarenakan unsur barang tidak akan hadir secara fisikal maupun psikologis di dalam kesadaran manusia jika tidak terdapat manusia yang membutuhkannya. Dengan demikian transaksi dengan nilai-sosial yang tinggi mengisyaratkan bahwa upaya pemenuhan kebutuhan terhadap barang tidak diperbolehkan mengsubordinasi manusia, mereduksinya bahkan menghancurkan kemanusiaan yang dimilikinya. 

Gambar 3: Struktur latar bagi transaksi dengan nilai-sosial tinggi
Sumber: Analisa, 2017

Diposisikannya unsur ruang sebagai latar-belakang dalam tukar menukar barang maupun transaksi jual-beli tradisional dikarenakan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap transaksi. Rendahnya kualitas ruang warung yang tampak dari keterbatasan dimensi ruang, penghawaan yang tidak memadai, bahan semrawutnya pengaturan barang yang dijual tidak menjadi penghalang bagi pembeli untuk mendekat, memasuki dan melakukan transaksi jual-beli dengan pemilik warung disebabkan yang menjadi daya tarik utama terjadinya transaksi adalah unsur manusia. Dengan kata lain preferensi sosial yang berasal dari unsur manusia menekan preferensi spasial yang berasal dari unsur ruang sebagai daya dorong terjadinya transaksi.

Demikianlah penjelasan nilai-sosial yang tinggi yang pada masa kini tengah menghadapi tantangan dari jual-beli modern yang semakin tumbuh dengan cepat dan meluas, khususnya yang terjadi di lingkungan perkotaan. Perubahan cara jual-beli yang diikuti dengan perubahan ruang transaksi mempengaruhi tingkatan nilai-sosial yang terbentuk dan pada akhirnya mempengaruhi jalinan sosial yang mengikat penjual dan pembeli. Pada bagian selanjutkan saya akan membahas jual-beli modern yang membentuk nilai-sosial menengah berikut dengan syarat, ciri khas dan struktur latar yang menaungi transaksinya serta goncangan yang menyebabkan menurunnya tingkatan nilai-sosial dalam pemenuhan kebutuhan terhadap barang. Dengan dibahasnya jual-beli modern akan dapat dikenali tantangan ekonomi dan sosial yang dialami manusia kini yang tidak lagi adalah tantangan bagi kemanusiaannya. 

B. Goncangan Terhadap Nilai-Sosial

Runtuhnya nilai-sosial dalam upaya pemenuhan kebutuhan terhadap barang disebabkan tidak terpenuhinya syarat-syarat yang diperlukan, yakni (1) hubungan sosial antara pihak yang terlibat mendasari terjadinya transaksi jual-beli yang sarat dengan (2) komunikasi dua arah yang intens dan bermakna. Transaksi yang tidak memenuhi kedua persyaratan tersebut adalah jual-beli moden yang diwadahi dalam ruang mini-market hingga skala super-market. Dengan cara membandingkan, dapat dirumuskan syarat terjadinya transaksi jual-beli modern adalah (1) transaksi yang terjadi tidak didasari hubungan sosial antara pemilik barang atau penjual dengan pembeli; dan sebagai konsekuensinya (2) tidak terjadi komunikasi dua arah yang intens dan bermakna antara pihak yang terlibat. Selain kedua syarat tersebut yang merupakan pembalikan dari transaksi jual-beli tradisional, transaksi jual-beli modern juga memiliki syarat ketiga, yakni penjual yang merupakan pemilik barang tidak hadir di dalam ruang transaksi yang diwakilkan oleh pegawai sebagai pihak ketiga yang dipekerjakannya, sehingga tidak dimungkinkan terjadinya komunikasi antara penjual dan pembeli. Praktik jual-beli modern sebagaimana didasari ketiga syarat tersebut telah kita alami dalam kehidupan sehari-hari pada masa kini, bahkan bagi banyak dari kita transaksi modern tidak mungkin lagi untuk dihindari karena telah menjadi kebutuhan, kebiasaan bahkan gaya hidup. 

Proses terjadinya transaksi jual-beli modern dapat saya sampaikan secara singkat dan umum sebagai berikut. Pihak pembeli memasuki ruang transaksi dan langsung menuju ke area barang untuk mengambil sendiri barang yang dibutuhkannya. Setelahnya dilakukan perhitungan harga oleh penjual atau pihak yang mewakilinya di area kasir untuk mengetahui nilai-nominal yang harus dibayarkan oleh pembeli. Proses transaksi jual-beli demikian memungkinkan pengunjung mengambil barang dan langsung keluar dari ruang transaksi tanpa menghampiri ruang kasir yang dalam bahasa kita disebut dengan tindakan pencurian. Untuk mencegah terjadinya perilaku tersebut, dilakukan tata keruangan yang membentuk ciri khas spasial transaksi jual-beli modern. Ciri khas keruangan pertama ialah area kasir diletakkan di bagian depan ruang transaksi, yakni berdekatan dengan pintu akses masuk agar penjual atau pegawai dapat mengawasi perilaku pengunjung di area barang dan mengetahui keluar masuknya pengunjung ke ruang transaksi. Kedua, ruang transaksi diperlengkapi dengan seperangkat teknologi yang bertujuan memudahkan penjual mengawasi perilaku pengunjung, seperti kamera CCTV di setiap sudut ruang sampai segel elektronik yang akan berbunyi jika pengunjung mengambil barang dan langsung keluar ruang transaksi tanpa membayarnya di area kasir. Terkesan bahwa proses transaksi jual-beli modern diliputi kecurigaan dan kewaspadaan pihak penjual kepada pengunjung yang memasuki ruang transaksi. Persoalan tersebut akan saya bahas lebih lanjut pada bagian ketiga tulisan ini.

Jual-beli modern dikaitkan dengan nilai-sosial dapat dibedakan menjadi dua tipe dengan tingkatan nilai-sosial yang berbeda disebabkan perbedaan syarat, ciri khas dan struktur latar bagi berlangsungnya transaksi jual-beli. Tipe pertama adalah ruang transaksi yang dimiliki personal-pribadi dengan model persebaran terbatas berdasarkan keberadaan modal sosial. Sedangkan tipe kedua adalah ruang transaksi yang dimiliki korporasi dengan model persebaran meluas membentuk jaringan ritel tanpa didasari kepemilikan modal sosial. Sebagai batasan agar tulisan ini tidak terlalu panjang dan rumit, saya hanya akan membahas transaksi jual-beli modern yang diwadahi dalam ruang mini-mart. Selain untuk memudahkan saya sendiri, pembahasan dalam skala ruang super-market membutuhkan analisa yang berbeda, sehingga membutuhkan tulisan tersendiri yang diperuntukkan khusus untuk membincangkannya.

Tipe pertama jual-beli modern memiliki nilai-sosial menengah yang disebabkan oleh dua hal. Pertama, hanya memenuhi satu dari tiga syarat jual-beli modern. Tipe pertama saya kategorikan ke dalam jual-beli modern karena cara transaksi yang dipraktikkan, bukan berdasarkan syarat-syarat yang melatar-belakangi transaksi. Kedua, memenuhi seluruh syarat jual-beli tradisional. Jadi, tipe pertama ini mempraktikkan proses transaksi jual-beli modern dengan syarat-syarat transaksi jual-beli tradisional yang menjadikan nilai-sosialnya tidak runtuh, walaupun tingkatannya tidak bisa setinggi nilai-sosial dalam jual-beli tradisional sebagai akibat dipraktikkannya proses transaksi jual-beli modern.

Tingkatan nilai-sosial menengah dalam transaksi jual-beli modern tipe pertama dikarenakan transaksi yang berlangsung didasari jalinan sosial, tetapi dengan tingkat intensitas komunikasi yang tidak setinggi jual-beli tradisional. Untuk yang pertama, jalinan sosial menjadi dasar dilakukannya transaksi karena ruang mini-mart berada di lingkungan sosial pemilik ruang. Pada banyak kasus, ruang mini-mart tipe pertama merupakan perkembangan dari warung yang mewadahi jual-beli tradisional. Pemilik ruang mengalami perkembangan kehidupan ekonomi yang memampukannya melakukan perubahan ruang warung menjadi tipe mini-mart untuk meningkatkan intensitas jual-beli sebagai upaya meningkatkan keuntungan ekonomi.

Perubahan ruang warung menjadi ruang mini-mart diikuti dengan mobilisasi modal sosial yang awalnya menjadi pelanggan warung beralih menjadi pelanggan mini-mart, sehingga transaksi yang dilakukan tetap didasari jalinan sosial yang mengikat penjual dan pembeli. Untuk yang kedua, menurunnya intensitas komunikasi yang bermakna bagi pihak yang terlibat dalam transaksi disebabkan dipraktikknnya jual-beli modern di mana penjual dan pembeli hanya dapat berkomunikasi pada dua fase selama proses jual-beli, yakni (1) saat pembeli memasuki ruang transaksi; dan (2) saat penjual dan pembeli bertemu di area kasir. Sedangkan ketika pembeli berada di area barang terdapat jarak spasial antara pembeli dengan penjual yang menjadi hambatan untuk dilakukannya komunikasi. Inilah goncangan pertama terhadap nilai-sosial yang menjadikan nilai-sosial dalam transaksi jual-beli modern tipe pertama tidak dapat menyamai tingkatan nilai-sosial jual-beli tradisional karena kehilangan satu fase komunikasi dalam proses transaksi.

Transaksi jual-beli modern tipe pertama yang melibatkan jalinan sosial antara penjual dan pembeli menjadikan berlakunya preferensi sosial. Bagi pembeli, preferensi sosial tetap menjadi dorongan untuk melakukan transaksi jual-beli di ruang mini-mart karena memiliki kedekatan hubungan sosial dengan pemilik ruang. Bagi penjual, preferensi sosial digunakan oleh pemilik ruang untuk mengembangkan usaha ekonomi yang dimilikinya dengan cara menambah jumlah ruang transaksi. Model perkembangan demikian, yakni persebaran ruang transaksi berbeda dengan ruang warung yang menggunakan model perkembangan perluasan ruang transaksi. Kecenderungannya, kehadiran warung diawali dengan dimensi ruang yang kecil dikarenakan keterbatasan modal pemilik, sehingga tidak jarang pula memanfaatkan bagian ruang-hunian yang dialih-fungsikan menjadi warung, seperti teras, carport atau halaman depan hunian. Seiring perkembangan usaha, warung mengalami perluasan dimensi ruang atau pemindahan ruang berdasarkan kedekatannya dengan ruang hunian pemilik dan tetap berada di lingkungan modal sosial pemilik ruang.

Berbeda dengan warung, ruang mini-mart tipe pertama menggunakan model persebaran ruang dengan penentuan perletakan ruang berdasarkan persebaran modal sosial pemilik mini-mart yang dipandang sebagai calon pembeli potensial. Dari sudut pandang sosial-ekonomi, mendekati modal sosial dalam pemilihan lokasi persebaran ruang mini-mart dapat diartikan sebagai upaya menjamin keberlangsungan transaksi jual-beli yang terjadi di ruang mini-mart. Di sisi lain, menghadirkan mini-mart di lingkungan yang asing bagi penjual, yakni lingkungan tanpa modal sosial dipandang sebagai upaya penuh resiko karena dapat menyebabkan rendahnya tingkat transaksi jual-beli yang justru kontradiksi dengan tujuan persebaran ruang transaksi untuk mencapai keuntungan ekonomi yang lebih besar. Dapat artikan pula ketiadaan modal sosial sebagai ketiadaan calon pembeli potensial, sehingga keberadaan modal sosial menjadi syarat bagi kehadiran persebaran ruang mini-mart.

Persebaran ruang mini-mart dapat mempengaruhi nilai-sosial karena pihak penjual tidak dapat hadir secara serentak di seluruh ruang mini-mart yang dimilikinya. Dengan demikian persebaran ruang mini-mart menjadi pendorong terpenuhinya syarat ketiga jual-beli modern, yakni diwakilkannya pihak penjual oleh pihak ketiga yang dipekerjakannya untuk terlibat secara langsung dalam proses transaksi jual-beli dengan pembeli. Jika penjual diwakilkan oleh pegawai yang memiliki kedekatan hubungan sosial dengan dirinya dan dengan modal sosial ruang mini-mart, maka tingkatan nilai-sosial dapat dipertahankan karena antara pihak yang terlibat dalam jual-beli terikat dalam jalinan sosial. Jika kondisi tersebut terpenuhi, walaupun pihak penjual tidak selalu hadir di dalam ruang jual-beli, pegawai yang dipekerjakannya dapat berperan sebagai perpanjangan dirinya dengan pembeli secara ekonomi maupun sosial. Tetapi jika yang terjadi adalah sebaliknya di mana pegawai sebagai pihak ketiga dalam transaksi jual-beli tidak memiliki jalinan sosial dengan pihak penjual dan modal sosial ruang mini-mart, maka terjadi goncangan nilai-sosial yang dapat berakibat runtuhnya nilai-sosial sebagaimana terjadi pada jual-beli modern tipe kedua yang akan saya jelaskan pada bagian selanjutnya dari tulisan ini.

Mekanisme pemilihan pegawai untuk mempertahankan transaksi jual-beli dengan tingkatan nilai-sosial menengah adalah dengan mengandalkan jaringan sosial yang dimiliki penjual, yakni dengan mempekerjakan orang yang memiliki kedekatan hubungan sosial dengannya. Mekanisme lain adalah melalui rekomendasi pihak lain yang memiliki kedekatan hubungan sosial dengan penjual sebagai penjamin atas kemampuan kerja pihak yang direkomendasikannya. Di sini menunjukkan preferensi sosial tidak saja dilibatkan dalam transaksi jual-beli antara pihak penjual dan pembeli serta penentuan lokasi persebaran ruang transaksi, tetapi juga mempengaruhi mekanisme pemilihan pegawai yang secara ekonomi dan sosial berperan sebagai penghubung antara penjual dengan pembeli. Inilah ciri khas pertama jual-beli modern tipe pertama, yakni personalitas transaksi jual-beli.

Gambar 4: Relasi antara penjual, pegawai dan pembeli dengan nilai-sosial menengah
Sumber: Analisa, 2017

Ciri khas kedua dan ketiga, yakni kejujuran dan keridhaan dalam transaksi memiliki kesamaan dengan ciri khas jual-beli tradisional, sebagaimana ciri khas pertama di atas disebabkan terpenuhinya syarat jual-beli tradisional dalam jual-beli modern tipe pertama. Pembahasan mengenai kejujuran antara penjual dan pembeli telah saya sampaikan pada bagian pertama tulisan ini. Sedangkan antara pihak penjual dan pegawai, kejujuran direalisasikan dengan memenuhi kewajiban dan hak masing-masing yang utamanya bukan disebabkan keduanya terikat perjanjian kerja yang berkekuatan hukum, tetapi lebih kuat dikarenakan kedua pihak memiliki kedekatan sosial yang berperan sebagai pemberi tekanan agar keduanya dapat berlaku jujur. Dengan kejujuran, pihak penjual tidak akan mengeksploitasi pegawai yang dipekerjakannya dan pegawai pun akan bekerja dengan baik sesuai dengan standar yang dikehendaki penjual sebagai pihak pemberi kerja.

Hingga saat ini memang saya belum pernah mendapati jual-beli modern yang memberikan kelonggaran kepada pembelinya untuk dapat berhutang, walaupun memiliki hubungan dekat dengan penjual. Realisasi keridhaan dalam jual-beli model tipe pertama beberapa kali saya saksikan dalam perwujudan memberi potongan harga atau pembulatan harga ke bawah kepada pembeli yang memiliki kedekatn sosial dengan penjual. Saya sendiri pernah merasa ridha dengan harga barang yang lebih mahal dibandingkan mini-mart lainnya karena kedekatan hubungan sosial antara saya dengan penjual. Keridhaan pun berlaku antara penjual dan pegawai. Realisasinya mewujud dalam banyak cara, di antaranya yang pernah saya dapati adalah pihak penjual merasa ridha kepada pegawainya yang berkali-kali dalam waktu berdekatan meminta izin untuk menghadiri acara keluarga atau meminta izin selama sepekan penuh sebelum hari pernikahannya. Dari sisi pegawai, keridhaan hadir ketika pegawai memaklumi keterlambatan pembayaran gaji yang menjadi haknya dikarenakan kondisi penjualan tengah lesu atau penjual tengah mengalami musibah yang menjadikannya tidak dapat memenuhi kewajiban tepat waktu.

Ciri khas keempat dari jual-beli modern tipe pertama adalah tarikan antara keuntungan sosial dan keuntungan ekonomi. Tarikan tidak dapat dihindari disebabkan orientasi jual-beli modern tipe pertama untuk meningkatkan keuntungan ekonomi dengan cara memanfaatkan jalinan sosial yang dimiliki. Jika orientasi ekonomi menguasai jalannya transaksi, maka berakibat pada subordinasi jalinan sosial yang sebatas dimanfaatkan untuk menghasilkan keuntungan ekonomi. Akibatnya adalah runtuhnya ciri khas kedua dan ketiga di atas, bahkan mengancam ciri khas pertama dikarenakan orientasi ekonomi semata dapat mengaburkan subjek yang dilibatkan dalam transaksi. Tetapi jika sebaliknya yang berlaku, yakni orientasi sosial yang menguasai, maka dapat memunculkan pemakluman yang berlebihan dari penjual terhadap pegawai dan pembeli yang tentu saja akan mempengaruhi keuntungan ekonomi yang didapatkannya. Tarikan antara keduanya harus dalam kondisi seimbang dan stabil, agar tidak terjadi daya tarik yang doniman dan menihilkan salah satu keuntungan, sehingga dalam transaksi jual-beli didapatkan keuntungan sosial sekaligus keuntungan ekonomi dengan kadar yang berbeda untuk setiap transaksi.

Keempat ciri khas jual-beli modern tipe pertama membentuk struktur latar bagi terjadinya transaksi. Dalam transaksi jual-beli tradisional, struktur latar bersifat tetap dan stabil, sehingga tingkatan nilai-sosial yang terbentuk pun stabil. Dengan logika yang sama, ketidak-stabilan struktur latar menyebabkan goncangan nilai-sosial. Inilah penyebab kedua goncangan nilai-sosial pada jual-beli modern tipe pertama dikarenakan ketidak-stabilan struktur latar yang disebabkan oleh tarikan antara unsur ruang yang merupakan kekuatan utama ruang mini-mart dan unsur manusia untuk menempati latar-depan. Dikaitkan dengan tarikan orientasi jual-beli, unsur ruang mewakili orientasi keuntungan ekonomi sedangkan unsur manusia mewakili orientasi keuntungan sosial. Untuk mencapai keuntungan ekonomi, jual-beli modern tipe pertama tidak mengandalkan unsur barang karena barang semata tidak memiliki daya tarik yang cukup untuk mempengaruhi pembeli memasuki ruang transaksi. Oleh karena itu kualitas render ruang mini-mart dibuat jauh melampui ruang warung yang bertujuan untuk memperkut daya spasial untuk menarik pembeli. 

Jika unsur ruang menempati latar-depan sedangkan unsur manusia menempat latar-belakang, maka terjadi keruntuhan nilai-sosial sebab jual-beli yang terjadi semata berorientasi keuntungan ekonomi dengan menyingkirkan keuntungan sosial. Tarikan antara unsur ruang dan unsur manusia diupayakan tidak sampai mengsubordinasi apalagi meniadakan salah satu unsur karena dalam jual-beli modern tipe pertama, pihak penjual membutuhkan preferensi spasial yang berasal dari unsur ruang dan preferensi sosial yang merasal dari unsur manusi yang tidak lagi untuk meningkatkan intensitas jual-beli sebagai upaya meningkatkan keuntungan ekonomi. Bagi pembeli yang memiliki jalinan sosial dengan penjual, maka preferensi sosial sudah cukup menjadi dorongan baginya untuk memasuki ruang transaksi dan melakukan jual-beli. Berbeda dengan pembeli yang tidak memiliki jalinan sosial dengan penjual, seperti seseorang yang tengah dalam perjalanan menuju kantor dan kebetulan melewati ruang mini-mart untuk memenuhi kebutuhannya terhadap barang, preferensi spasial dapat digunakan untuk menarik pembeli memasuki ruang transaksi dan melakukan jual-beli. Ini berarti unsur ruang dan unsur manusia menempati latar-depan secara bersamaan untuk memperluas jangkauan pelayanan mini-mart agar dapat menyasar pembeli yang beragam.

Gambar 5: Struktur latar bagi transaksi dengan nilai-sosial menengah
Sumber: Analisa, 2017

Demikian yang dapat saya jelaskan berkaitan dengan jual-beli modern tipe pertama dengan nilai-sosial menengah yang disebabkan oleh dua goncangan, yakni (1) hilangnya satu fase komunikasi dalam proses transaksi; dan (2) ketidak-stabilan struktur latar bagi transaksi. Pada bagian selanjutkan yang merupakan bagian ketiga dari tulisan ini akan dibahas jual-beli modern tipe kedua berikut dengan syarat, ciri khas dan struktur latar bagi transkasinya serta berbagai goncangan yang menyebabkan keruntuhan nilai-sosial. Ketiadaan nilai-sosial dalam upaya pemenuhan terhadap barang tidak saja berdampak buruk bagi pembeli dan pegawai yang dipekerjakan, tetapi juga merugikan penjual yang mempraktikkan jual-beli tradisional dan jual-beli modern tipe pertama. Inilah permasalahan yang tengah kita hadapi saat ini di mana carut-marutnya kehidupan sosial didalangi oleh pelaku ekonomi.


Allahu a’lam bishawab.
Bertempat di Kartasura pada Rabiul Akhir 1438 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar