Rabu, 01 Februari 2017

Nilai-Sosial Dalam Kehidupan Ekonomi; Dari Menegakkan Hingga Keruntuhan (Bagian 2)

C. Runtuhnya Nilai-Sosial

Sebagai kelanjutan dari pembahasan sebelumnya, pada bagian ini akan dibicarakan tipe kedua dari transaksi jual-beli modern, yakni mini-mart yang dimiliki oleh korporasi dengan model persebaran meluas membentuk jaringan ritel tanpa didasari kepemilikan modal sosial. Ruang transaksi yang mewadahi jual-beli modern tipe kedua ini kecenderungannya bukan merupakan perkembangan dari mini-mart tipe pertama atau ruang warung, sehingga kehadirannya membentuk patahan dalam garis perkembangan pemenuhan kebutuhan terhadap barang karena tidak memiliki kait hubungan dengan tipe jual-beli sebelumnya yang dibahas dalam tulisan ini. Dampak dari patahan perkembangan tersebut adalah terjadinya keterputusan aliran nilai-sosial jual-beli modern tipe kedua dari jual-beli tradisional yang menjadikannya memiliki tingkatan nilai-sosial yang rendah bahkan tanpa kepemilikan nilai-sosial karena tidak terpenuhinya syarat-syarat yang dibutuhkan bagi pembentukan nilai-sosial sebagaimana dipenuhi dalam jual-beli tadisional. Dengan demikian, jual-beli modern tipe kedua jika dilihat dari tingkatan nilai-sosial yang terbentuk menempati posisi di bawah jual-beli modern tipe pertama, walaupun keduanya mempraktikkan proses jual-beli yang sama.

Jual-beli tipe kedua dikategorikan dalam jual-beli modern karena memenuhi keseluruhan syarat jual-beli modern dan proses transaksi yang dipraktikkan. Syarat pertama, transaksi yang terjadi tidak didasari jalinan sosial yang mengikat seluruh pihak yang terlibat. Dalam jual-beli tradisional dan jual-beli modern tipe pertama, syarat pertama ini dinilai buruk karena merupakan penyebab keruntuhan nilai-sosial, tetapi sebaliknya justru dinilai baik dalam jual-beli modern tipe kedua dikarenakan berkesesuaian dengan tujuan transaksi untuk meraih keuntungan ekonomi sebanyak-banyaknya. Jalinan sosial dianggap melibatkan perasaan dalam transaksi jual-beli yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi. Oleh karena itu jual-beli modern tipe kedua dalam proses transaksinya berusaha menghindari dan menyingkirkan seluruh hambatan bagi pencapaian keuntungan ekonomi. Syarat pertama tersebut menjadi prasyarat bagi terpenuhinya syarat kedua jual-beli modern, yakni tidak terjadinya komunikasi yang intens dan bermakna di antara pihak yang terlibat dalam transaksi sepanjang terjadinya proses jual-beli. 

Tujuan transaksi jual-beli modern tipe kedua dicapai dengan cara mencapai intensitas jual-beli yang tinggi melalui model persebaran meluas tanpa didasari kepemilikan modal sosial. Di sini jalinan sosial kembali dipandang sebagai hambatan mencapai keuntungan ekonomi karena membatasi persebaran ruang transaksi, sehingga tidak dijadikan syarat dalam persebaran ruang mini-mart. Selain itu, dimungkinkannya ruang mini-mart tipe kedua tersebar luas membentuk jejaring ritel dikarenakan kepemilikan modal usaha yang besar oleh korporasi yang menjadi batasan bagi persebaran mini-mart tipe pertama dengan kepemilikan personal-individual. Dengan tanpa hambatan jalinan sosial dan keterbatasan modal, model persebaran meluas ruang mini-mart tipe kedua menggunakan pendekatan spasial-ekonomi dengan syarat (1) menempati ruang yang mudah dilihat secara visual dan mudah diakses oleh pembeli; dan (2) mendekati keberadaan kerumunan manusia yang secara ekonomi dianggap sebagai calon pembeli potensial. Dua syarat tersebut dapat menjelaskan tumbuh suburnya ruang mini-mart tipe kedua di mana hampir tidak ada ruang yang luput dari kehadirannya dari area privat permukiman hingga area publik sekelas bandara internasional. Inilah strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan ekonomi, yakni melalui penguasaan ruang ekonomi dengan menghadirkan sebanyak mungkin ruang transaksi yang membentuk jaringan seluas mungkin.