Minggu, 12 Maret 2017

Manusia, Arsitektur dan Relasi Keduanya

Manusia mendahului arsitektur, sebab arsitektur sebagai bagian dari kebudayaan manusia mensyaratkan kehadiran manusia mendahului hasil kreasinya. Dari pernyataan tersebut dapat dipahami dua hal. Pertama, arsitektur sebagai bagian dari kebudayaan manusia diartikan arsitektur merupakan hasil kerja-kreatif-budaya manusia yang membedakannya dengan alam sebagai entitas ciptaan Allah sebagai Dzat Yang Maha Pencipta. Dari sini pembedaan keduanya ditegaskan di mana arsitektur adalah ruang binaan, yakni ruang yang dihadirkan, dibina dan dipergunakan oleh manusia, sedangkan alam adalah ruang alami, yakni ruang yang penghadirannya tanpa melibatkan manusia dan mendahului kehadiran manusia di alam dunia. Kedua, arsitektur sebagai bagian dari kebudayaan merupakan ciri khas manusia yang membedakannya dengan binatang. Sarang yang dibuat oleh binatang tidaklah dapat dikategorikan sebagai arsitektur dan tidak dapat dikatakan sebagai bagian dari kebudayaan karena penghadirannya hanya didasari insting tanpa kesadaran diri. Sebab itu sarang binatang selalu hadir dengan perwujudan yang sama tanpa variasi dan tanpa mengalami perkembangan, tidak sebagaimana kehadiran arsitektur oleh manusia dengan perwujudannya yang sangat beragam. 

Kebudayaan merupakan perwujudan pemenuhan kebutuhan manusia untuk dapat mempertahankan diri dan menjalani kehidupannya di alam dunia. Dengan cara pandang ini arsitektur sebagai bagian dari kebudayaan manusia merupakan upaya pemenuhan kebutuhan manusia. Untuk mengenali dan memenuhi kebutuhannya, manusia berpijak pada pengenalannya terhadap diri dan hakikat kediriannya. Arsitektur sebagai kebutuhan manusia berarti penghadirannya ditujukan untuk mewadahi diri manusia sebagaimana ia mengenali dirinya. Manusia yang mengenali dirinya adalah tubuh yang bersifat materi fisikal, sehingga tubuh pula yang menjadi hakikat kediriannya, akan membutuhkan arsitektur untuk mewadahi tidak lebih dari tubuhnya. Sementara manusia yang mengenali dirinya adalah tubuh sekaligus jiwa yang bersifat metafisik akan membutuhkan arsitektur yang berbeda karena dirinya menuntut pemenuhan kebutuhan terhadap arsitektur yang mampu mewadahi jiwanya selain tubuhnya.

Dengan cara berpikir di atas, penghadiran Arsitektur Islam seharusnyalah berpijak pada pandangan-alam Islam mengenai manusia. Penghadiran Arsitektur Islam haruslah berdasarkan pengenalan manusia Muslim terhadap diri dan hakikat kediriannya yang benar, yakni yang bersumberkan dari Wahyu Allah sebagai Dzat yang menciptakannya dan Dzat yang paling mengenali dirinya. Sehingga tidak dapat dihindari pembahasan mengenai arsitektur harus diawali dengan pembahasan mengenai manusia sebagaimana kehadiran manusia mendahului kehadiran arsitektur. Menelisik pandangan-alam Islam mengenai manusia, sebagaimana disampaikan Prof. Syed Naquib Al-Attas, manusia memiliki hakikat ganda atau dwi hakikat, yakni jiwa dan jasad. Menjelaskan pernyataan gurunya tersebut, Prof. Wan Daud menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang terdiri dari jasad dan ruh yang artinya adalah manusia merupakan makhluk jasadiah dan ruhaniah sekaligus. Manusia bukanlah makhluk ruh murni dan bukan pula makhluk jasad murni, melainkan makhluk yang terdiri dari kedua unsur tersebut. Kembali pada pandangan Prof. Al-Attas, manusia yang terdiri dari jiwa dan jasad menjadikannya memiliki dua sifat karena setiap unsur memiliki sifatnya yang khas di mana jasadnya bersifat hayawani dan jiwanya bersifat akali. Jasad dengan sifat hayawani merupakan sumber sifat-sifat tercela pada diri manusia sementara jiwa dengan sifat akali merupakan hakikat manusia yang dirujuk apabila manusia berkata ‘aku’.

Jiwa yang menubuh, inilah yang disebut manusia dalam pandangan-alam Islam karena antara tubuh dan jiwa merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan sepanjang Allah memberi waktu kepada manusia untuk menjalani kehidupannya di alam dunia. Sebagai hakikat, jiwa memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada tubuh. Namun demikian tidak menjadikan tubuh dipandang buruk, tidak berguna dan tidak diindahkan di dalam Islam karena bagaimanapun tubuh adalah nikmat dari Allah kepada manusia agar dirinya dapat hadir di antara entitas-entitas fisik lainnya di alam dunia. Selain dimensi fungsional tersebut, tubuh juga memiliki dimensi teologis bagi manusia yang merupakan amanah dari Allah untuk dijaga dan dipergunakannya dengan baik karena apapun yang diperbuat manusia dengan melibatkan tubuhnya akan diminta pertanggungjawabannya pada Hari Pembalasan di mana tubuh dihadirkan sebagai saksi atas seluruh perbuatan yang dilakukan manusia di alam dunia.

Kedudukan tubuh yang lebih rendah daripada jiwa tidak lain dikarenakan tubuh memiliki sifat hayawani yang berkuasa mencelakakan manusia dengan sifat-sifat tercela. Untuk menghindarinya, Prof. Al-Attas menyatakan, Islam mengajarkan manusia untuk melawan kuasa hayawani yang merupakan musuh dalaman bagi dirinya sampai jiwa akali manusia mampu menguasai tubuh hayawani dan menjadikannya tunduk patuh untuk memenuhi kehendak Allah atas dirinya. Sebaliknya jika jiwa akali mengalami kekalahan dan menjadi tahanan kuasa tubuh hayawani, jiwa akan tunduk patuh kepada tubuh untuk memenuhi segala keinginan tanpa batas yang bersifat kebinatangan. Dalam kondisi ini manusia tak ubahnya binatang yang hanya memperturutkan hawa nafsu. Berdasar pandangan Prof. Al-Attas tersebut Prof. Wan Daud menyatakan, nasib manusia di dunia dan di akhirat tergantung pada kuasa mana yang menguasai dirinya. Jika jiwa akali menguasai diri manusia maka nasibnya akan baik di dunia dan di akhirat, tetapi jika tubuh hayawani yang menguasai diri manusia maka nasibnya akan sebaliknya.

Manusia Muslim yang mengenali diri dan hakikat kediriannya berdasar pandangan-alam Islam membutuhkan arsitektur untuk mewadahi tidak saja tubuhnya, tetapi lebih penting lagi adalah jiwanya yang merupakan hakikat kediriannya sebagai manusia. Tepat di sinilah permasalahan umat Islam pada hari ini yang tidak lagi mengenali dirinya sesuai dengan pandangan-alam Islam yang menyebabkan arsitektur yang dihadirkannya tidak sesuai dengan struktur dan fitrah dirinya yang benar. Permasalahan pelik ini disebabkan oleh dua hal, yakni sebab-dalaman dan sebab-luaran. Sebab-dalaman permasalahan ini ialah keterputusan umat Islam dari khazanah keilmuan dan tradisi Islam. Persoalan mengenai manusia, unsur dan hakikat kediriannya telah selesai dibicarakan dan dirumuskan ulama terdahulu yang dituangkan dalam bidang ilmu Filsafat Islam dan Tasawuf. Perendahan dan penyingkiran keduanya melalui pengharaman untuk mempelajari, menyebarluaskan dan mempraktikkannya menyebabkan umat Islam tidak dapat mengakses bidang ilmu tersebut dan secara perlahan berjarak menjauh hingga mengalami keterputusan pewarisan. 

Sebab-luaran yang berkaitan erat dengan sebab-dalaman di atas ialah pembaratan yang dialami umat Islam. Pembaratan dapat terjadi karena di satu sisi umat Islam mengalami keterputusan pewarisan keilmuan dan tradisi yang menyebabkannya mengalami kekosongan sementara di sisi lain Peradaban Barat Modern yang tengah mendominasi dunia dengan daya pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya mampu mengisi kekosongan yang dialami umat Islam. Sebagaimana komunitas manusia yang tidak memiliki khazanah dan tradisinya sendiri akan terpuruk, merasa rendah diri dan mengalami inferioritas ketika berhadapan dengan khazanah dan tradisi milik komunitas manusia lainnya yang dianggap baik dan maju, begitulah kondisi yang dialami umat Islam ketika berhadapan dengan pencapaian Peradaban Barat Modern, sehingga pembaratan dapat terjadi.

Dalam konteks tulisan ini, pembaratan yang dialami umat Islam diawali dari penerimaan tanpa kritis Arsitektur Barat Modern yang secara perlahan mempengaruhi dan merubah pandangan-alamnya dalam mengenali diri dan hakikat kediriannya. Menggunakan cara berpikir yang sama, Arsitektur Barat Modern berpijak pada pandangan-alam Barat Modern mengenai manusia yang berasaskan pada filsafat Positivisme. Dalam pandangan-alam Positivisme, manusia tidak lebih dari tubuh fisik yang diperlengkapi dengan serangkaian organ, sistem saraf, hormon dan DNA di mana yang terakhir menduduki hakikat kedirian manusia. Pembedaan antara manusia dengan binatang didasarkan pada pembedaan perangkat fisik yang dimiliki keduanya, tanpa melibatkan pembedaan unsur-unsur dalaman karena Positivisme menolak unsur metafisik dan sifat spiritual diri manusia, yakni unsur jiwa dan ruh karena tidak dapat dibuktikan keberadaannya secara materi dan tidak mampu dibuktikan wujudnya secara kuantitatif.

Arsitektur Barat Modern yang berasaskan pandangan-alam Positivisme mengenai manusia ditujukan hanya untuk mewadahi tubuh manusia, sehingga dalam penghadiran arsitekturnya digunakan acuan standar kenyamanan tubuh dan kepuasan panca indera manusia yang terukur secara kuantitatif. Keduanya dicapai dengan penentuan dimensi ruang berdasarkan gerak tubuh, kekuatan struktur untuk melindungi tubuh, kehalusan bahan untuk memberikan kenyamanan indera peraba, pencahayaan serta penghawaan untuk memberikan kenyamanan termal tubuh dan estetika bentuk untuk memberikan kenikmatan indera pengelihatan. Itulah serangkaian prinsip Arsitektur Barat Modern yang berkutat pada pendekatan fungsional, ekonomis dan praktis untuk mencapai tujuannya memenuhi kebutuhan tubuh manusia sebagai pengguna dan penikmat arsitektur.

Arsitektur Barat Modern yang merupakan pencapaian Peradaban Barat Modern yang tengah mendominasi dunia, di tengah inferioritas yang menjangkiti umat Islam, seketika menjadi acuan kemajuan dan standar pembangunan arsitektur di Dunia Islam hingga lingkup komunitas umat Islam yang lebih kecil. Arsitektur yang serba tubuh, di tengah kekosongan khazanah keilmuan dan tradisi yang dialami umat Islam, mempengaruhi kesadaran manusia Muslim mengenai diri dan hakikat kediriannya yang adalah daging dan tulang yang diperlengkapi dengan seperangkat organ fisik. Kepekaan terhadap unsur metafisik dirinya dan sifat spiritualitas kemanusiaannya perlahan memudar karena arsitektur yang dihadirkannya dan ruang-ruang yang dimilikinya tidak bertujuan untuk memenuhi kebutuhan jiwanya.

Penghadiran arsitektur yang serba tubuh ialah pandangan yang lahir dari diri yang dikuasai oleh tubuh hayawani, sehingga dirinya tidak mampu mengenali unsur hakikat kemanusiaannya yang metafisik. Kuasa tubuh hayawani menuntut pemenuhan kebutuhan yang berputar pada persoalan jasadiah sementara jiwa akali yang tertawan kuasa tubuh hayawani menjadikannya tidak mampu mengontrol pelepasan hawa nafsu dan justru menjadi budak bagi sifat hayawani untuk mencapai kepuasannya. Sehingga dapat dipahami berbagai fenomena kerusakan jiwa akibat penghadiran arsitektur seperti rasa sombong, angkuh, riya dan kewajaran sikap hidup mewah. Sekali lagi, permasalahan ini disebabkan karena arsitektur dihadirkan tidak untuk mewadahi jiwa manusia, justru memenjarakannya sebagai budak tawanan.

Gambar: Perkembangan pesat arsitektur di Dubai sebagai salah satu Dunia Islam yang berkiblat kepada Arsitektur Barat Modern.

Kelupaan terhadap diri dan hakikat kediriannya sebagai manusia akibat keterputusan dari khazanah keilmuan dan tradisi serta pembaratan yang dialami akibat pengaruh kuat Peradaban Barat Modern menjadi sebab kesalahan manusia Muslim mengenali kebutuhan dirinya, termasuk salah dalam mengenali kebutuhan arsitekturnya. Penghadiran arsitektur yang salah karena tidak mewadahi jiwa yang merupakan hakikat manusia menurut pandangan-alam Islam adalah merupakan kegilaan, sebagaimana dikatakan Imam Al-Ghazali seperti dikutip oleh Prof. Wan Daud yang menyatakan bahwa kegilaan (junuun) adalah memperjuangkan sesuatu berdasarkan tujuan yang salah. Arsitektur yang gila kiranya tepat dinisbatkan kepada arsitektur yang kehadirannya berdampak buruk terhadap jiwa manusia karena didasarkan konsep manusia yang salah, sehingga tujuan penghadirannya pun salah. 

Kelupaan merupakan sifat dasar manusia. Prof. Syed Naquib Al-Attas yang bersandarkan pada riwayat dari Ibnu Abbas menyatakan, penyebutan manusia dengan insan berasal dari kata nisyaan yang berarti lupa. Kelupaannyalah, menurut Prof. Syed Al-Attas yang menjadi sebab keingkaran manusia dan sifat tercela yang mengarahkannya kepada ketidakadilan (zulm) dan kejahilan (jahl). Prof. Wan Daud menjelaskan, dalam pandangan Prof. Syed Naquib Al-Attas yang dimaksud dengan ketidakadilan (zulm) adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Lawannya adalah keadilan yakni, meletakkan sesuatu pada tempatnya yang benar. Sementara kejahilan (jahl) menurut Prof. Al-Attas adalah kerusakan ilmu atau meyakini benar ilmu yang salah yang akibatnya adalah kesalahan dalam menempatkan segala sesuatu. Untuk mewujudkan keadilan dibutuhkan adab yang oleh Prof. Syed Al-Attas diartikan dengan pengenalan dan pengakuan terhadap realitas bahwasanya ilmu dan segala sesuatu yang ada terdiri dari hirarki yang sesuai dengan kategori-kategori dan tingkatan-tingkatannya. Prof. Wan Daud melanjutkan, pengertian adab dalam pandangan Prof. Al-Attas menunjukkan bahwa segala sesuatu telah berada pada tempatnya masing-masing dalam hirarki wujud, tetapi disebabkan kebodohan dan kesombongannya, manusia mengubah tempat-tempat tersebut sehingga terjadilah ketidakadilan.

Manusia Muslim yang mengenali diri dan hakikat kediriannya sebatas tubuh merupakan kejahilan yang menyebabkan ketidakadilan terhadap dirinya sendiri. Begitupula dengan penghadiran arsitektur sebatas mewadahi tubuh manusia juga merupakan kejahilan yang menyebabkan ketidakadilan terhadap diri manusia. Untuk menyelesaikan permasalahan ini mutlak dibutuhkan adab agar manusia Muslim kembali mengenali diri dan hakikat kediriannya sebagai manusia sesuai derajat dan tempatnya yang benar. Pengenalan diri yang benar akan menghantarkan manusia Muslim pada pengenalan arsitektur yang benar. Prinsip perbaikan tersebut berkesesuaian dengan prinsip relasi manusia dan arsitektur di awal tulisan ini bahwa kehadiran manusia mendahului arsitektur, berarti untuk melakukan perbaikan arsitektur harus diawali dengan melakukan perbaikan diri manusia sebagai entitas yang menghadirkan dan menghidupi arsitektur. 

Manusia yang mengenali dirinya dengan benar akan mencapai pengenalan terhadap Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pencipa dan membawanya pada pengenalan terhadap Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar untuk diibadahi. Kesadaran terhadap diri dan kesadaran terhadap Allah menjadi dasar bagi manusia untuk mengenali tujuan hidupnya di alam dunia, mengenali kebutuhannya selama hidup di alam dunia dan cara-cara yang patut dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya. Salah satu kebutuhan hidup manusia adalah arsitektur yang oleh manusia beradab akan dipenuhi melalui kerja-kreatif-budaya yang penuh adab sebagai ikhtiar memenuhi kebutuhannya secara beradab melalui penghadiran arsitektur yang beradab, yakni arsitektur yang ditujukan untuk mewadahi diri manusia seutuhnya. Hanya arsitektur demikianlah yang dapat dikatakan sebagai bagian dari Kebudayaan Islam yang ciri khasnya adalah kehalusan adab yang bersendikan pada pengesaan Tuhan. 

Setelah diketahui unsur penyusun diri manusia serta hakikat kediriannya dan konsekuensinya terhadap arsitektur, persoalan yang kemudian muncul adalah seperti apakah perwujudan arsitektur yang mewadahi tubuh dan terutama jiwa manusia dan bagaimana pula cara menghadirkannya? Ke arah sinilah pengkajian Arsitektur Islam pendekatan Psiko-Kultural yang hendak saya tuju dengan berpijak pada konsep manusia menurut pandangan-alam Islam.

Allahu a’lam bishshawab.
Bertempat di Kartasura pada Jumadil Akhir 1438 Hijrah Nabi

Daftar Bacaan:
Al-Attas. Syed Muhammad Naquib, 1995, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization. 
Al-Attas. Syed Muhammad Naquib, 2002, Ma’na Kebahagiaan dan Pengalamannya Dalam Islam, Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization.
Al-Attas. Syed Muhammad Naquib, 2011, Islam dan Sekularisme, Bandung: Institut Pemikidan Islam dan Pembangunan Insan.
Wan Daud. Wan Mohd Nor, 2003, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Bandung: Penerbit Mizan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar