Sabtu, 04 Maret 2017

Paranoia; Musuh Bagi Akal Dan Jiwa

Paranoia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan penyakit jiwa yang membuat penderitanya berpikir aneh-aneh yang bersifat khayal. Masih menurut sumber yang sama, paranoia diartikan dengan penyakit khayal. Merujuk pada sumber kamus yang berbeda, yakni Cambridge Advance Learner’s Dictionary, paranoia diartikan sebuah perasaan ekstrim dan tidak beralasan (an extreme and unreasonable feeling). Walaupun dengan narasi yang berbeda untuk mendefinisikan paranoia, pada hakikatnya kedua sumber tersebut saling mendukung. Penyakit khayal sebagaimana dimaksud KBBI memiliki kesejajaran makna dengan ‘unreasonable’ menurut sumber kedua. Begitupula dengan penggolongan paranoia sebagai penyakit jiwa menurut sumber pertama berkaitan dengan perasaan yang bersifat ekstrim menurut sumber kedua.

Menurut saya paranoia adalah hasil adukan antara kebencian dan ketakutan dalam kadar yang berlebih disebabkan ketiadaan penahan bagi perasaan tersebut. Berbeda dengan adukan antara kebencian dan keberanian atau kecintaan dan ketakutan di mana salah satu menjadi penahan bagi yang lain; keberanian dapat mengakhiri kebencian dan kecintaan menjadikan ketakutan penuh kenikmatan. Adanya penahan menjadikan perasaan yang dialami tidak mencapai paranoia. Sebagai sebuah perasaan emosional sekaligus kondisi kejiwaan, paranoia memiliki sebab-sebab pendorong yang merupakan wilayah keilmuan psikologi untuk memaparkan dan menjelaskan persoalan ini. Di antara dua sebab yang menjadi pendorong paranoia sejauh dapat saya pahami adalah (1) trauma di masa lalu; dan (2) hentakan atau kejutan kuat psikologis yang dialami.

Adukan antara kebencian dan ketakutan dalam kadar berlebihan menyebabkan kekhawatiran, amarah sekaligus perasaan tertekan. Seluruhnya bertentangan dengan kinerja akal yang mensyaratkan ketenangan, ketelitian, kebebasan dan kondisi emosi yang stabil. Singkatnya paranoia adalah kondisi kejiwaan di mana akal tidak mengambil peran karena syarat-syarat yang dibutuhkan bagi kinerja akal tidak terpenuhi. Untuk dapat dipahami lebih mendalam pertentangan antara keduanya haruslah dipahami mekanisme kerja akal dalam menghadapi realitas yang terdiri dari dua proses, yakni (1) memahami realitas; dan (2) menilai realitas. Realitas yang saya maksud dalam tulisan ini hanya mencakup realitas fisik keseharian manusia, sehingga kinerja akal untuk memahami dan menilai realitas metafisik tidak akan menjadi perhatian saya.

A. Menghadapi Realitas Dengan Akal

Proses pertama dari kerja akal dalam menghadapi realitas adalah memahami realitas yang sebenarnya terjadi atau realitas faktual, tanpa melibatkan interpretasi maupun penilaian dari pengamat. Realitas fisik-faktual berarti dipahaminya realitas fisik sebagaimana adanya realitas tersebut berdasarkan data yang didapatkan akal melalui fakulti panca indera yang merupakan penghubung akal dengan realitas fisik sekaligus sebagai alat pencerap data bagi akal. Untuk dapat memahami realitas, pengamat membutuhkan jumlah data yang cukup dan kualitas data yang mencapai derajat benar, baik dengan cara menyaksikan langsung peristiwa yang diamati, mendapatkan kesaksian dari narasumber atau melalui tayangan media cetak, media elektronik maupun media digital. Dengan demikian ketersediaan data serta kemampuan mendapatkan dan menjamin kebenaran data yang merupakan ranah metodologis menjadi syarat bagi pengamat untuk dapat memahami realitas fisik secara faktual, selain syarat kesehatan panca indera serta ketenangan jiwa dan ketajaman akal.

Data untuk menjelaskan realitas fisik terdiri dari dua jenis, yakni (1) data fisik; dan (2) data narasi atau lebih lumrah disebut data non fisik. Data fisik dibutuhkan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi secara deskriptif. Untuk mendapatkan data fisik, pengamat membutuhkan panca indera yang sehat agar dapat mencerap data dengan baik. Keterbatasan kemampuan panca indera untuk mencerap data dapat diperkuat dengan menggunakan instrumen teknologi seperti alat rekam dan alat ukur yang berarti menambah syarat yang harus dipenuhi untuk memahami realitas, yakni kemampuan menggunakan instrumen dan validitas instrumen yang digunakan. Sementara keterbatasan kemampuan manusia untuk selalu hadir menyaksikan langsung setiap peristiwa menjadikan pengamat membutuhkan pihak kedua yang terpercaya sebagai penyampai berita mengenai apa yang sebenarnya terjadi berdasarkan penyaksiannya.

Selain data fisik, memahami realitas fisik-faktual juga dibutuhkan data narasi untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi secara analitik. Pencarian data fisik dan data narasi dapat dilakukan simultan maupun dilakukan berurutan dimulai dari data fisik terlebih dahulu. Data narasi didapatkan pengamat melalui wawancara dengan narasumber terpercaya dan memiliki otoritas untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi. Dalam menentukan narasumber, akal membutuhkan sumber nilai sebagai penyedia standar, syarat dan kriteria narasumber yang dapat dipercaya. Bersandarnya akal kepada sumber nilai membuka ruang terjadinya perbedaan pemahaman terhadap realitas fisik yang disebabkan perbedaan kepemilikan data narasi sebagai konsekuensi perbedaan standar dalam menentukan narasumber yang dapat dipercaya. Di sinilah pencarian data dan data itu sendiri menjadi tidak bebas nilai atau kosong dari nilai karena melibatkan sumber nilai tertentu. Konsekuensi yang tidak dapat dihindari dari dilibatkannya sumber nilai dalam pengumpulan data adalah keberpihakan pengamat pada salah satu sumber nilai yang diyakininya benar dengan berpihak kepada narasumber tertentu yang diyakininya terpercaya dan memiliki otoritas untuk menjelaskan peristiwa.

Setiap data yang dicerap panca indera, akal akan melakukan kerja kategoris untuk mengelompokkan data berdasarkan jenis data atau substansi data dan disusul kerja analisis untuk menghubungkan setiap data guna memilah data yang berkesesuaian maupun bertentangan. Kinerja akal selanjutnya adalah melakukan kerja abstraksi untuk menarik prinsip yang membentuk realitas fisik, sehingga didapatkan gambaran mental yang jelas dan menyeluruh mengenai realitas fisik yang diamati. Inilah akhir dari proses pertama dari kerja akal yang menjadi syarat bagi akal untuk melakukan proses kedua, yakni menilai realitas fisik-faktual yang telah dipahami.

Dalam proses penilaian realitas fisik-faktual, kerja akal dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, kebenaran memahamis realitas. Salah dalam memahami realitas fisik sudah dipastikan akan menghasilkan penilaian yang salah. Sebagai contoh, seorang pengamat memahami sebuah peristiwa bahwa si A mencuri buah mangga dari kebun miliknya berdasarkan data fisik buah mangga di keranjang sepeda yang sedang dinaiki si A. Berdasarkan pemahaman tersebut pengamat memutuskan penilaian bahwa si A bersalah karena telah melakukan pencurian. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah ketika si A lewat di bawah pohon mangga milik pengamat, mangga yang telah masak jatuh tepat di keranjang sepeda yang dinaikinya. Penyebab kesalahan pengamat adalah hanya memahami realitas fisik berdasar data fisik belaka, tanpa memiliki data narasi dari pengamat lain yang menyaksikan peristiwa maupun dari si A sebagai pelaku dalam peristiwa.

Kedua, penilaian terhadap realitas fisik-faktual dipengaruhi sumber nilai yang digunakan untuk menilai. Bagi saya tidak setiap sumber nilai adalah sah dan mencapai derajat benar karena dalam keyakinan saya sebagai Muslim, satu-satunya sumber nilai yang benar adalah Islam. Berbeda dengan saya yang menganut paham Monisme, di pihak yang berseberangan terdapat penganut paham Pluralisme yang secara filosofis menyatakan sah dan mengakui kebenaran dari banyak sumber nilai dengan cara menempatkan seluruh sumber nilai dalam kedudukan sederajat. Sebagai sebuah pemikiran filsafat, Pluralisme tidak dapat diterima secara psikologis karena setiap orang secara subyektif akan condong pada salah satu sumber nilai dan mendudukkannya di atas sumber nilai yang lain. Dengan demikian secara psikologis tidak akan dapat dicapai kesejajaran seluruh sumber nilai sebagaimana dikehendaki Pluralisme karena bertentangan dengan fitrah manusia.

Setiap sumber nilai memiliki perbedaan syarat dan kriteria benar-salah yang menjadi ciri khasnya dan tidak dimiliki oleh sumber nilai yang lain. Contoh yang dapat saya paparkan adalah praktik prostitusi di area Dolly Surabaya sebelum ditertibkan. Realitas fisik-faktual terjadinya praktik prostitusi akan dibenarkan, sehingga keberadaannya diterima dan diperbolehkan jika menggunakan timbangan paham Hedonisme. Penilaian demikian tidak lain karena keberadaan prostitusi berkesesuaian dengan tujuan hidup manusia yang diyakini benar oleh paham Hedonisme, yakni mencapai kenikmatan jasadiyah yang berterusan dan tidak terbatas. Begitupula bagi penganut paham Kapitalisme akan menilai kegiatan prostitusi yang terjadi adalah benar dan sah dilakukan karena menghasilkan keuntungan materi yang besar dalam jangka waktu yang singkat. Sedangkan menurut Islam, apapun alasan yang mendasari terjadinya praktik prostitusi serta untuk kepentingan apapun, prostitusi dinilai salah dan membiarkannya adalah kesalahan.

Walaupun setiap sumber nilai memiliki standar benar-salah yang khas, tidak berarti konflik adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari dan bersifat mutlak karena dalam banyak sumber nilai terdapat titik singgung dan kesamaan penilaian untuk beberapa persoalan. Melanjutkan contoh di atas, tidak hanya Islam yang menilai salah terjadinya praktik prostitusi, agama-agama lain pun memberikan penilaian yang sama yang dapat digunakan sebagai asas bersama menjalin kerjasama antara umat Islam dengan umat beragama lain untuk menolak keberadaan prostitusi dan merubah realitas fisik-faktual yang tidak ideal tersebut menjadi berkesesuaian dengan idealitas. Dari bahasan ini dapat ditarik dua poin penting. Pertama, terdapat dua lapis korespondensi dikaitkan dengan data dan sumber nilai. Lapis korespondensi pertama adalah kebenaran realitas fisik yang diamati berkaitan dengan data sebagai dasar memahami realitas. Benar dalam lapis ini berarti realitas fisik yang diamati benar-benar terjadi dan benar-benar dipahami sebagaimana adanya. Sementara lapis korespondensi kedua adalah kesesuaian realitas fisik dengan sumber nilai. Ini berarti tidak setiap realitas fisik yang faktual adalah benar menurut timbangan suatu sumber nilai.

Kedua, memahami realitas fisik-faktual merupakan kegiatan yang bertujuan, yakni untuk melakukan penilaian dan penilaian pun memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan terhadap realitas fisik-faktual agar berkesesuaian dengan idealitas maupun untuk memandu realitas fisik-faktual agar senantiasa berasaskan sumber nilai yang diyakini benar. Berdasar pandangan tersebut, sumber nilai tidak saja menyediakan sistem nilai, tetapi juga tujuan berikut dengan cara untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Dalam Islam, tujuan memahami dan menilai realitas adalah untuk merealisasikan kehendak Allah di alam realitas fisik melalui kerja dakwah dengan seperangkat strategi, aturan, cara dan alat yang dibenarkan Islam. Inilah puncak dari kerja akal yang merupakan fakulti khas milik manusia yang merupakan nikmat besar dari Allah kepada manusia; makhluk yang diciptakan-Nya dalam wujud sempurna.

Proses kerja akal dalam menghadapi realitas fisik sebagaimana telah dipaparkan di atas dapat diringkas dalam bentuk diagram di bawah ini:

Proses kerja akal dalam menghadapi realitas fisik
Sumber: Analisa, 2017

B. Jenis dan Tingkatan Paranoia

Paranoia bertentangan dengan akal karena menyalahi proses dan prinsip kerja akal. Tidak sebagaimana akal yang runut dalam menghadapi realitas, paranoia membaliknya dengan melakukan penilaian sebelum memahami realitas. Penilaian dalam paranoia bersumberkan dari kebencian dan ketakutan berlebih terhadap suatu objek amatan, sehingga pengidap paranoia telah memiliki penilaian yang membentuk alam mental dan kondisi psikologisnya sebelum berhadapan dengan realitas. Selain dalam proses penilaian, paranoia juga bekerja dalam proses memahami realitas di mana bias-bias kebencian dan ketakutan yang dirasakan pengidap menjadi penghalang baginya untuk dapat memahami realitas sebagaimana adanya.

Berdasarkan perlakuannya terhadap realitas fisik, menurut saya paranoia dapat dibedakan menjadi tiga jenis. Paranoia jenis pertama memahami realitas fisik yang diamati dengan menggunakan data dari realitas yang berbeda dengan cara mencabut data dari konteksnya dan dipindahkan untuk menjelaskan realitas yang berbeda. Paranoia jenis pertama ini banyak diidap oleh pengkaji Islam dari kalangan Barat yang bertujuan untuk mendiskeditkan Islam. Kesimpulan yang ditarik di awal bahwa Islam adalah agama teror dan sumber dari terorisme mempengaruhi cara Barat memperlakukan realitas fisik yang dihadapinya. Secara realitas-faktual memang benar terjadi terorisme atas nama agama, yakni pelaku terorisme yang mengakui bahwa tindakannya dilatarbelakangi ajaran agama dan merupakan perwujudan dari ketaatannya terhadap agama. Yang menjadikannya salah adalah data pengakuan dari pelaku teror oleh kalangan Barat dipindahkan untuk menjelaskan Islam. Di sini terjadi pemindahan data yang seharusnya digunakan untuk menjelaskan fenomena terorisme yang mengatasnamakan agama, tetapi malah digunakan untuk menjelaskan agama itu sendiri.

Selain pemindahan data, dalam paranoia jenis pertama juga terjadi pembatasan data yang berarti pembatasan narasumber. Didorong rasa kebencian dan ketakutan yang berlebihan kepada Islam, kalangan pengkaji Islam dari Barat hanya mengambil data yang berkesesuaian dengan penilaiannya, yakni data dari pelaku teror yang menatasnamakan Islam. Sementara data yang berasal dari para ulama terkemuka yang memiliki otoritas untuk menjelaskan Islam dan meluruskan kesalahan pandangan Barat terhadap Islam tidak diindahkan dan ditolak karena tidak berkesesuaian dengan penilaian yang diyakininya benar.

Berbeda dengan paranoia jenis pertama, dalam paranoia jenis kedua terjadi konstruksi realitas di dalam alam mental pengidapnya yang diyakininya sebagai realitas faktual. Jika paranoia jenis pertama bersandar pada data, walaupun antara data tidak memiliki kait hubungan dengan realitas fisik yang menyebabkan pengidapnya salah memahami realitas yang diamatinya, maka dalam paranoia jenis kedua ini tidak memiliki sandaran realitas fisik-faktual. Kebencian dan ketakutan berlebih terhadap suatu objek amatan, terutama jika sosok personal maupun identitas komunitas yang menjadi objek amatan memiliki track-record yang baik, lurus, bersih dan tidak bercacat, mendorong pengidap paranoia jenis kedua untuk mengkonstruksi realitas palsu yang melibatkan objek amatan. Dengan demikian paranoia jenis kedua bersandarkan pada realitas yang hanya terdapat di dalam alam mental pengidapnya karena realitas tersebut tidak pernah benar-benar terjadi secara faktual.

Objektifikasi realitas hasil konstruksi memiliki hambatan, yakni tidak tersedianya data-data faktual yang mendukung kehadirannya. Sebab itu pengidap paranoia jenis kedua menjejalkan realitas palsu hasil konstruksinya ke dalam aliran realitas fisik-faktual dengan cara menyambungkan setiap ujung realitas palsu dengan realitas faktual dengan skema faktual-palsu-faktual maupun palsu-faktual-palsu. Dengan mekanisme tersebut relitas hasil konstruksi mendapatkan pijakannya pada realitas fisik-faktual dan dapat hadir di atas serpihan data-data faktual. Cara ini oleh pengidap paranoia jenis kedua ditujukan agar orang lain turut meyakini bahwa realitas palsu hasil konstruksinya adalah faktual; benar-benar terjadi. Untuk yang terakhir, terlebih jika realitas palsu ditujukan untuk diyakini benar oleh massa dengan jumlah yang besar dan sebaran yang luas, dibutuhkan daya dorong yang kuat dengan cara (1) penyampaian berita realitas palsu yang dilakukan dengan intensitas yang tinggi agar menjadi akrab bagi massa; dan (2) penyampai berita merupakan sosok yang dipercaya oleh massa dan memiliki kedudukan di tengah massa seperti kalangan akademisi, tokoh agama, tetua masyarakat, kepala pemerintahan dan sejenisnya.

Kasus yang dapat diketengahkan sebagai contoh dari paranoia jenis kedua ini adalah kriminalisasi. Kriminalisasi merupakan tuduhan yang dialamatkan kepada seseorang tanpa didasarkan data yang benar di mana seseorang dijerat dakwaan terhadap suatu peristiwa yang tidak pernah terjadi dan tidak pernah dilakukannya. Untuk menjerat seseorang tidak dapat dilakukan dengan berbekal realitas palsu semata karena ranah hukum adalah ranah bukti faktual. Oleh sebab itu peristiwa palsu hasil konstruksi dihubungkan dengan realitas faktual agar kehadirannya mendapatkan pijakan data-fata faktual dan terkesan keduanya merupakan kesatuan aliran realitas fisik-faktual yang organis, sehingga dapat diperkarakan dalam ranah hukum. Selain itu, pelaku kriminalisasi membutuhkan massa yang diarahkannya dengan cara menyampaikan berita oleh sosok yang memiliki kedudukan dan otoritas seperti badan penegak hukum maupun wakil pemerintah melalui corong-corong media dengan intensitas tinggi yang bertujuan untuk menjamin validitas faktualitas realitas hasil konstruksi secara sosial dan untuk menekan pihak yang dikriminalkan secara psikologis, sosiologis dan politis agar mengakui tuduhan yang dialamatkan kepadanya adalah benar. Diposisikannya massa sebagai penjamin faktualitas rekayasa hasil konstruksi, sehingga berlaku prinsip suatu realitas benar jika diyakini benar oleh massa, menjadikan pihak yang dikriminalisasikan tidak saja harus melawan pihak pelaku kriminalisasi, tetapi juga melawan massa.

Terakhir, paranoia jenis ketiga memiliki dua tingkatan dengan mekanismenya masing-masing dalam menghadapi realitas. Tingkatan pertama, penilaian ditarik dengan penolakannya terhadap realitas fisik-faktual. Dalam tingkatan ini realitas fisik hadir, tetapi ditolak untuk dipahami karena data-data penjelas bertentangan dengan penilaian yang diyakininya benar sebagai dasar untuk menolak kehadiran realitas itu sendiri. Sementara dalam tingkat kedua yang memiliki kedudukan lebih tinggi, penilaian terhadap suatu realitas fisik-faktual digunakan untuk menilai realitas yang tidak ada. Berbeda dengan tingkatan sebelumnya, dalam tingkatan ini realitas yang dinilai tidak hadir, sehingga penilaian tidak memiliki sandaran realitas. Persamaan keduanya sekaligus yang membedakannya dengan paranoia jenis lainnya adalah paranoia jenis ketiga ini sepenuhnya bersandarkan pada penilaian emosional tanpa sandaran realitas, baik karena penolakannya terhadap kehadiran realitas maupun karena realitas yang diacunya tidak ada.

Contoh yang dapat dihadirkan untuk menjelaskan paranoia ketiga adalah penolakan terhadap realitas jilbab berdasarkan penilaian bahwa jilbab adalah bentuk diskriminasi terhadap wanita. Penilaian tersebut membentuk cara pandang pengidap paranoia jenis ketiga terhadap jilbab bahwa setiap wanita yang berjilbab merupakan korban diskriminasi tanpa bersedia mendengarkan penjelasan dari pihak muslimah pengguna jilbab karena penolakannya untuk memahami realitas faktual. Contoh yang lain ialah penilaian bahwasanya Islam adalah sumber terorisme, sehingga pengidap paranoia jenis ketiga akan melakukan penolakan pada segala sesuatu yang berkaitan dan merupakan ciri khas Islam, seperti al-Qur’an, masjid, cadar, poligami, jihad bahkan keberadaan umat Islam tanpa memberi kesempatan kepada kaum Muslimin untuk menjelaskan agama yang dianutnya.

Pandangan dan penilaian seorang pengidap paranoia jenis ketiga terhadap Islam pernah saya saksikan langsung. Ia katakan pengharaman Islam terhadap babi sama sekali tidak beralasan karena baginya daging babi merupakan daging paling enak di antara daging lainnya. Begitupula pengharaman Islam terhadap minuman beralkohol yang menurutnya bertentangan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa minuman berakohol dalam kadar yang tepat justru bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Di lain kesempatan ia mengatakan bahwa ajaran Islam mengenai kewajiban mengenakan jilbab bagi wanita malah menjadikan wanita tampak buruk karena menutupi rambut yang merupakan mahkota kewanitaannya. Berdasarkan pandangan demikian ia menolak Islam sebagai realitas keagamaan karena dinilainya ajaran Islam bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai universal seperti soal rambut wanita. Jika dilanjutkan akan menjadi sangat panjang pemaparan seluruh pandangan pengidap paranoia jenis ketiga terhadap Islam maupun terhadap obyek amatan lainnya. Oleh sebab itu saya cukupkan sampai di sini karena saya anggap contoh di atas telah dapat membantu untuk memahami apa yang saya maksud dengan paranoia jenis ketiga.

Ketiga jenis paranoia memiliki tingkatan yang berbeda berdasarkan kadar kebencian dan ketakutan yang secara kualitatif dapat diketahui dari daya khayal yang dialami pengidap. Di sini berlaku prinsip semakin kuat kadar kebencian dan ketakutan akan menimbulkan daya khayal yang semakin kuat pula. Pada paranoia jenis pertama, daya khayal menjadikan pengidap meyakini benar pemahamannya terhadap suatu realitas fisik berdasarkan data yang berasal dari konteks berbeda. Pada paranoia jenis kedua, daya khayal menjadikan pengidap meyakini realitas hasil konstruksinya di dalam alam mental sebagai faktual. Sementara pada paranoia jenis ketiga, daya khayal menjadikan pengidap meyakini benar penilaiannya terhadap realitas yang ditolaknya untuk dipahami yang menjadi dasar baginya untuk menolak kehadiran realitas hingga pada tingkat menilai realitas yang tidak ada.

Paranoia jenis ketiga menempati tingkatan paranoia tertinggi karena pengidapnya merasakan kebencian dan ketakutan terhadap realitas yang tidak ada. Kuatnya kadar kebencian dan ketakutan menarik pengidapnya memasuki alam khayal hingga pijakannya terlepas dari realitas fisik di mana dirinya hadir. Di bawah tingkatan paranoia jenis ketiga adalah paranoia jenis kedua kemudian paranoia jenis pertama yang menempati tingkatan terbawah. Kedua paranoia terakhir menduduki tingkatan di bawah paranoia jenis ketiga karena masih terikat dengan realitas fisik. Yang membedakan keduanya adalah kekuatan memijak realitas fisik di mana paranoia jenis kedua meleburkan antara realitas fisik yang faktual dengan realitas mental yang palsu, sedangkan paranoia jenis pertama mencampur-baurkan antara satu realitas fisik dengan realitas fisik lainnya. Dari sini dapat ditarik prinsip kedua yakni, semakin lemah pijakan pada realitas fisik maka semakin tinggi tingkatan paranoia.

C. Umat Islam dan Paranoia

Tujuan dari tulisan ini adalah sebagai kerangka berpikir untuk menghadapi realitas fisik keseharian berdasar akal sehat dan sebagai dorongan bagi umat Islam pada khususnya untuk senantiasa melakukan muhasabah diri sebab bisa jadi diri kita di hari ini tengah terjangkit paranoia tanpa sadar. Kebencian dan ketakutan berlebih terhadap realitas fisik yang belakangan hari menyibukkan umat Islam adalah tanda bahwa jangan-jangan memang benar diri kita sedang terjangkit paranoia. Di antara banyak persoalan yang menyibukkan umat Islam, dalam tulisan ini saya hendak mengangkat satu persoalan yang menurut saya urgen dibahas karena kuatnya tanda-tanda paranoia yang telah tampak dan begitu cepatnya menjadi pembicaraan intens di kalangan pelajar Muslim, mahasiswa Muslim, intelektual Muslim hingga para tokoh agama Islam, yakni persoalan kebangkitan Partai Komunis Indonesia.

Anggapan bahwa terjadi kebangkitan Partai Komunis Indonesia bersandarkan pada realitas faktual munculnya simbol PKI di berbagai tempat di Indonesia. Oleh sebagian umat Islam, realitas faktual kemunculan simbol PKI yang terjadi pada masa kini dipahami dengan menggunakan data-data PKI yang terikat dengan konteks ruang dan waktu masa lalu. Ini adalah paranoia jenis pertama karena terjadi mekanisme pemindahan data secara konteks kewaktuan untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi pada masa kini dan pembatasan narasumber untuk menjelaskan realitas fisik yang diamati di mana tidak dilibatkannya pembuat simbol untuk menjelaskan latar belakang dan tujuan perbuatannya.

Pengidap paranoia jenis pertama meyakini benar pemahamannya bahwa memang terjadi kebangkitan PKI berdasarkan kemunculan simbol PKI dengan menggunakan data-data dari konteks waktu yang berbeda. Paranoia tidak menyisakan ruang kritis yang merupakan peran akal, sehingga diri pengidapnya tidak memiliki daya skeptis untuk mempertanyakan apakah memang terdapat kaitan antara realitas fisik-faktual PKI pada masa lalu dengan realitas kemunculan simbol PKI pada masa kini, sehingga data dari masa lalu dapat digunakan untuk menjelaskan realitas fisik yang hadir pada masa kini? Apakah pembuat simbol PKI adalah penganut ideologi Komunisme dan merupakan orang PKI? Apakah perbuatannya didorong oleh ideologi yang diyakininya benar, sekedar perbuatan iseng atau suruhan dari orang lain agar terjadi kegaduhan massa?

Kehadiran simbol PKI pada masa kini tanpa penjelas dari pembuat simbol adalah sekedar penanda yang kosong dari makna. Penanda yang kosong dari makna menjadikannya sangat mudah dimasuki makna-makna lain yang bukan berasal dari pembuat simbol. Dalam kasus simbol PKI, penanda kosong sangat mudah dimasuki makna yang mengacu pada kesejarahan simbol. Inilah yang terjadi pada pihak yang mengalami trauma terkait PKI pada masa lalu yang menyebabkan dirinya mengalami keterkejutan kuat saat menyaksikan kemunculan kembali simbol PKI pada masa kini, sehingga mendorong dirinya memahami kemunculan simbol PKI dengan makna yang bersumberkan dari pengalamannya pada masa lalu saat mengalami pergumulan dengan PKI. Bagi generasi muda yang tidak mengalami peristiwa PKI secara langsung, pemaknaan serupa dengan generasi tua merupakan hasil dari pembentukan ingatan kolektif yang dilakukan Orde Baru terkait kekejaman PKI, sehingga dilakukan pemaknaan dengan menggunakan data-data masa lalu untuk memahami kemunculan kembali simbol PKI pada masa kini. 

Kemunculan simbol PKI di ruang publik
Sumber: www.detik.com, 9 Februari 2017

Kemunculan simbol PKI pada masa kini hanya memuat data fisik sebatas untuk menjelaskan deskripsi formal bentuk simbol. Tanpa data narasi dari pembuat simbol, kehadiran simbol PKI tidak dapat dijelaskan secara menyeluruh. Secara metodis, keterbatasan data menjadi hambatan untuk dipahami realitas fisik secara benar, sehingga harus dilakukan penangguhan penilaian. Penangguhan bukan berarti penolakan karena keberadaan data fisik menyatakan bahwa realitas tersebut adalah faktual dari segi kehadiran fisiknya, hanya saja belum dapat dipahami dengan menyeluruh karena ketiadaan kepemilikan data narasi yang benar. Langkah yang harus dilakukan adalah menyimpan data fisik dan melakukan pencarian data narasi dari sumber yang benar, yakni pembuat simbol dan membandingkannya dengan kesaksian pelaku-pelaku lainnya, data kesejarahan dan kasus-kasus serupa untuk mencapai kebenaran data.

Paranoia jenis pertama telah meningkat kadarnya menjadi paranoia jenis kedua dengan hembusan isu bahwa PKI telah bangkit dan menyusup ke dalam tubuh pemerintah. Isu tersebut yang menjadi pemicu meningkatnya kadar kebencian dan ketakutan harus diuji dari dua sisi. Pertama, terkait data yang mendasari kesimpulan bahwa PKI memang telah bangkit dan menyusup ke dalam tubuh pemerintah. Siapa sajakah orang-orang yang membangkitkan PKI dan siapa sajakah agen-agennya di dalam tubuh pemerintah? Bagaimana cara kebangkitannya? Bagaimana pula caranya menyusup ke dalam tubuh pemerintah? Apa tujuan dari kebangkitannya? Lalu apa agenda-agendanya? Data yang didapatkan selain kuantitasnya harus mencukupi, yakni sampai dicapai kecocokan antar data sehingga saling menguatkan, juga harus memenuhi kualitas terkait dengan sumber data. Apa sumber data yang digunakan? Siapa saja sosok penyampai data? Apakah sosoknya memenuhi syarat sebagai narasumber terpercaya? Apakah antar narasumber terpercaya saling menguatkan atau malah saling memberi data yang berbeda?

Jika aspek kuantitas dan kualitas data tidak dapat dicapai validitasnya, maka isu yang dihembuskan merupakan realitas hasil konstruksi di dalam alam mental pembuat isu dan sama sekali tidak berdasar data yang dapat menjelaskan dan menyatakannya sebagai realitas faktual yang benar-benar terjadi. Yang menjadi masalah adalah, realitas yang statusnya masih diragukan disampaikan kepada massa umat Islam dengan daya dorong yang kuat, yakni melalui penyampaian yang intens di berbagai pengajian, seminar, institusi pendidikan dan media oleh sosok-sosok yang dipandang dan dihormati oleh umat Islam secara luas. Untuk meyakinkan massa umat Islam pada khususnya terhadap kebangkitan PKI dan penyusupannya ke dalam tubuh pemerintah, isu tersebut dihubungkan dengan data fisik-faktual, seperti kemunculan simbol PKI di berbagai ruang publik tanpa tindakan tegas dari pemerintah, kecenderungan pemerintah saat ini yang mendekat dan bekerjasama dengan Cina yang dipahami sebagai perwujudan paham Komunisme dalam lingkup negara, kedatangan pekerja imigran Cina di berbagai daerah di Indonesia yang seakan dibiarkan oleh pemerintah, desain baru mata uang Republik Indonesia yang dinilai meniru mata uang Cina sampai kemiripan simbol BI dengan simbol PKI. Sampai di sini saya tidak akan menyebut isu ini sebagai realitas palsu karena dalam menghadapi sebuah isu lebih tepat jika mendudukkan sebagai realitas yang masih diragukan, sehingga posisinya di tempatkan di antara benar dan salah hingga dapat dibuktikan kepalsuan atau kefaktualannya.

Pada akhirnya paranoia yang diidap umat Islam terhadap persolan kebangkitan PKI telah mencapai derajat paranoia jenis ketiga yang merupakan paranoia tingkat tertinggi karena melibatkan kebencian dan ketakutan yang paling kuat di antara paranoia lainnya. Realitas faktual PKI di masa lalu direduksi hingga tersisa serpihan data-data fisik yang digunakan sebagai dasar untuk menilai realitas masa kini. Contoh saja fragmen permusuhan PKI dengan ulama dijadikan dasar membangun nalar bahwa siapapun yang memusuhi ulama pada hari ini maka ia adalah PKI. Begitupula penilaian sebagian umat Islam terhadap kalangan penganut liberalisme agama di tubuh umat Islam yang dicap sebagai PKI karena keduanya dipahami memiliki kesamaan, yakni menolak hukum agama. Penilaian tersebut tidak benar dan tidak berdasar sama sekali karena realitas yang dinilainya tidak pernah ada sebab penganut liberalisme agama bukanlah PKI bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Komunisme yang diyakini benar oleh PKI. Kawan saya sendiri adalah pengidap paranoia jenis ketiga ini. Ia menyatakan bahwa Syiah adalah PKI karena permusuhannya dengan para sahabat Nabi. Jelas ini sama sekali tidak berdasar, baik secara kesejarahan, teologis maupun realitas faktual pada masa kini. Kebencian dan ketakutannya yang berlebih terhadap Syiah di satu sisi dan PKI di sisi lain menjadikannya menilai realitas Syiah sebagai PKI yang merupakan konsekuensi dari penolakannya untuk memahami Syiah dan PKI berdasarkan data-data yang benar. 

Spanduk penyamaan penganut paham liberalisme agama dengan PKI
Sumber: www.bbc.com, 3 Juni 2016

Dari tulisan ini dapat disimpulkan bahwa, sekali lagi, paranoia adalah musuh bagi akal dan jiwa manusia. Bagi akal, paranoia yang mengjangkiti sebagian umat Islam terkait isu kebangkitan PKI menjadikannya tidak dapat melakukan pencarian data dengan benar sesuai kaidah ilmiah untuk memahami realitas yang sebenarnya tengah terjadi dan melakukan penilaian terhadap realitas dengan timbangan yang benar. Akibatnya terjadi penilaian serampangan dengan memvonis banyak pihak sebagai PKI atau memiliki kait hubungan dengan PKI tanpa berdasar data sama sekali. Sementara bagi jiwa, paranoia menjadi sebab kondisi emosional umat Islam yang sangat tidak stabil karena dipenuhi kebencian dan ketakutan yang berlebihan, sehingga caci maki, ujaran kebencian dan perkataan kasar lainnya mudah dilontarkan dalam menyampaikan pandangannya menyoal kebangkitan PKI. Tentu ini adalah kondisi yang tidak sehat dibiarkan berlarut-larut karena untuk dapat keluar dari keterpurukan dan menyongsong kebangkitan Peradaban Islam mutlak dibutuhkan akal yang tajam serta jiwa yang bersih dan terang.

Sebagai penutup dari tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa kita sebagai umat Islam harus mengindari titik ekstrim dalam menyikapi suatu peristiwa. Isu menyoal kebangkitan PKI dengan berbagai indikasinya dan berbagai persoalan lainnya harus disikapi dengan kewaspadaan, bukan paranoia yang merupakan sikap ekstrim dalam menghadapi realitas dan acuh tak acuh yang merupakan sikap ekstrim lainnya. Paranoia menjadikan umat Islam larut dalam isu hingga kehilangan akal sehat dan ketenangan jiwanya, sementara acuh tak acuh adalah bentuk kemalasan, keteledoran dan ketidak-seriusan yang kesemuanya bertentangan dengan Islam. Sementara kewaspadaan menghendaki umat Islam melakukan penjarakkan terhadap isu yang diamatinya, sehingga dapat menjaga kesadarannya secara penuh dan menggunakan seluruh fakulti serta potensi yang dimilikinya sebagai manusia untuk memahami realitas fisik dengan benar dan menilainya dengan benar pula.

Kewaspadaan menuntut umat Islam terus melakukan pencarian data yang benar dari sumber yang benar agar realitas fisik yang sedang dihadapinya dapat dipahami dengan benar. Dengan bermodalkan pemahaman yang benar terhadap realitas, umat Islam dapat menghadapinya dengan strategi yang matang dan solusi yang tepat, tidak terburu-buru serta seluruh resiko dan konsekuensi telah diukur dengan presisi. Inilah yang seharusnya dilakukan umat Islam sebagai umat beragama mayoritas di Indonesia yang diharapkan dapat menjadi tauladan bagi umat-umat lainnya dalam menghadapi realitas keseharian. Dengan menjaga kewaspadaan, umat Islam akan mendapatkan kemuliaan dan tentu saja pada akhirnya akan menjaga nama baik Islam itu sendiri. Tidak ada yang lain, inilah obat bagi paranoia!

Allahu a’lam bishshawab.
Bertempat di Kartasura pada Jumadil Akhir 1438 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar