Rabu, 19 April 2017

Kesadaran Berarsitektur; Landasan Bagi Manusia Menghadirkan Arsitektur

A. Arsitektur dan Kesadaran Manusia

Menempatkan arsitektur sebagai bagian dari kebudayaan manusia yang pada hakikatnya adalah perwujudan dari kebutuhan manusia untuk mempertahankan diri dan menjalani kehidupannya di dunia memberikan konsekuensi logis bahwa arsitektur tidak dapat dilepaskan dari aspek manusia sebagai subyek pelaku kerja-kreatif-budaya. Tersedia dua argumentasi untuk mendukung kebenaran pandangan ini yang merupakan asumsi dasar pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam. Pertama, kehadiran arsitektur mensyaratkan kehadiran manusia yang membutuhkan. Tanpa kehadiran manusia dan tanpa adanya kebutuhan manusia terhadap arsitektur, maka arsitektur tidak akan hadir. Kedua, kebutuhan manusia terhadap arsitektur tidak secara otomatis menjadikan arsitektur hadir begitu saja tanpa kerja yang dilakukan manusia untuk menghadirkan arsitektur yang menjadi kebutuhannya.

Kelekatan yang sangat kuat antara manusia dan arsitektur menjadikan pemahaman terhadap fenomena arsitektur haruslah didasari pemahaman terhadap fenomena manusia sebagai agen-aktif kebudayaan yang memiliki kebutuhan terhadap arsitektur dan secara aktif berupaya memenuhi kebutuhannya. Manusia yang berkebutuhan dan bekerja memenuhi kebutuhannya ialah manusia yang mengenali kebutuhan dan mengenali kerja yang dilakukannya. Singkatnya, manusia yang berkesadaran. Tanpa kesadaran, manusia tidak akan dapat mempertahankan diri dan menjalani kehidupannya di dunia karena ia tidak mengenali diri, hidup yang sedang dijalani, kebutuhan dan tidak mampu melakukan kerja untuk memenuhi kebutuhan.

Berdasarkan pandangan di atas, hadirnya arsitektur mensyaratkan manusia yang berkesadaran karena dengan kesadarannya ia dapat mengenali kebutuhan dan melakukan kerja untuk memenuhinya. Dari sinilah pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam menentukan langkah awal untuk memahami fenomena arsitektur dan menghadirkan arsitektur, yakni dimulai dari mengenali dan membentuk kesadaran manusia Muslim dalam berarsitektur yang bersumberkan dari Islam. Ini berarti pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam memulai kerja-kreatif-budaya bukanlah dengan melakukan kerja keteknikan untuk menghadirkan objek arsitektur, tetapi dengan melakukan kerja pendidikan manusia karena kehadiran Arsitektur Islam mensyaratkan terlebih dahulu hadirnya manusia Muslim yang berkesadaran Islam.