Rabu, 19 April 2017

Kesadaran Berarsitektur; Landasan Bagi Manusia Menghadirkan Arsitektur

A. Arsitektur dan Kesadaran Manusia

Menempatkan arsitektur sebagai bagian dari kebudayaan manusia yang pada hakikatnya adalah perwujudan dari kebutuhan manusia untuk mempertahankan diri dan menjalani kehidupannya di dunia memberikan konsekuensi logis bahwa arsitektur tidak dapat dilepaskan dari aspek manusia sebagai subyek pelaku kerja-kreatif-budaya. Tersedia dua argumentasi untuk mendukung kebenaran pandangan ini yang merupakan asumsi dasar pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam. Pertama, kehadiran arsitektur mensyaratkan kehadiran manusia yang membutuhkan. Tanpa kehadiran manusia dan tanpa adanya kebutuhan manusia terhadap arsitektur, maka arsitektur tidak akan hadir. Kedua, kebutuhan manusia terhadap arsitektur tidak secara otomatis menjadikan arsitektur hadir begitu saja tanpa kerja yang dilakukan manusia untuk menghadirkan arsitektur yang menjadi kebutuhannya.

Kelekatan yang sangat kuat antara manusia dan arsitektur menjadikan pemahaman terhadap fenomena arsitektur haruslah didasari pemahaman terhadap fenomena manusia sebagai agen-aktif kebudayaan yang memiliki kebutuhan terhadap arsitektur dan secara aktif berupaya memenuhi kebutuhannya. Manusia yang berkebutuhan dan bekerja memenuhi kebutuhannya ialah manusia yang mengenali kebutuhan dan mengenali kerja yang dilakukannya. Singkatnya, manusia yang berkesadaran. Tanpa kesadaran, manusia tidak akan dapat mempertahankan diri dan menjalani kehidupannya di dunia karena ia tidak mengenali diri, hidup yang sedang dijalani, kebutuhan dan tidak mampu melakukan kerja untuk memenuhi kebutuhan.

Berdasarkan pandangan di atas, hadirnya arsitektur mensyaratkan manusia yang berkesadaran karena dengan kesadarannya ia dapat mengenali kebutuhan dan melakukan kerja untuk memenuhinya. Dari sinilah pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam menentukan langkah awal untuk memahami fenomena arsitektur dan menghadirkan arsitektur, yakni dimulai dari mengenali dan membentuk kesadaran manusia Muslim dalam berarsitektur yang bersumberkan dari Islam. Ini berarti pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam memulai kerja-kreatif-budaya bukanlah dengan melakukan kerja keteknikan untuk menghadirkan objek arsitektur, tetapi dengan melakukan kerja pendidikan manusia karena kehadiran Arsitektur Islam mensyaratkan terlebih dahulu hadirnya manusia Muslim yang berkesadaran Islam.

B. Struktur Kesadaran

Dengan penalaran yang saya gunakan dalam tulisan ini untuk memahami hubungan antara manusia dan arsitektur haruslah dimulai dengan memahami kesadaran manusia yang membuahkan kebutuhan terhadap arsitektur dan mendorong dirinya melakukan kerja menghadirkan arsitektur. Kesadaran terbentuk melalui pengenalan dan pengenalan mensyaratkan ilmu untuk dapat mengenali, sementara ilmu erat kaitannya dengan kebenaran karena tujuan ilmu ialah mencapai kebenaran. Dengan demikian kesadaran memiliki kait hubungan dengan ilmu dan kebenaran. Ilustrasinya begini, seseorang menyadari dirinya hadir bukan karena pertama ia merasa dirinya hadir, tetapi karena ia yakin bahwa dirinya hadir. Keyakinan bahwa dirinya hadir menandakan ia telah mencapai kebenaran sebagai buah dari pengenalan terhadap kehadiran dirinya berdasarkan ilmu yang kemudian membentuk kesadarannya sebagai manusia.

Kesadaran penuh dicapai manusia melalui pengenalan secara bertahap di mana pengenalan pada tahap sebelumnya merupakan pijakan bagi manusia untuk mencapai pengenalan tahap selanjutnya. Pengenalan pertama yang harus dicapai manusia adalah pengenalan terhadap dirinya. “Apa diriku ini dan siapakah diriku?” “Apa hakikat diriku ini?” “Darimana aku berasal?” “Bagaimana aku dapat hadir di sini?” “Apakah aku diciptakan?” “Jika aku diciptakan, siapakah Penciptaku?” Deretan pertanyaan tersebut dilontarkan manusia kepada dirinya sendiri yang bertujuan untuk mencapai kepastian mengenai dirinya. Tanpa kepastian mengenai dirinya, manusia tidak dapat melangkah pada tahap pengenalan selanjutnya karena seluruh pengenalan selanjutnya bersandarkan dan berasaskan pada pengenalan mengenai hakikat kediriannya sebagai manusia.

Pengenalan manusia terhadap dirinya selalu beriringan dengan pengenalan manusia terhadap entitas yang mengitari dirinya karena kepastian mengenai diri dicapai manusia dengan mengenali perbedaan antara dirinya, binatang, tumbuhan dan ada-ada yang lain di sekelilingnya, baik fisik maupun metafisik. Pada tahap ini pula manusia mencapai pengenalan terhadap Pencipta yang menghadirkan dirinya di alam dunia. Secara metodologis terdapat dua jalan untuk mencapai kepastian pada tahap pengenalan pertama, yakni (1) mengenali diri terlebih dahulu untuk mengenali entitas lain di luar dirinya; atau (2) mengenali entitas di luar diri terlebih dahulu untuk mengenali dirinya. Akhir dari pengenalan tahap ini adalah manusia mengenali seluruh ada-ada yang diyakininya hadir, termasuk dirinya dan hubungan antara ada-ada tersebut dengan dirinya.

Setelah mencapai pengenalan terhadap dirinya, manusia beranjak pada pengenalan berikutnya berkaitan dengan kehadiran dirinya di alam dunia. “Untuk apa aku hidup?” “Untuk apa aku hadir di sini di dunia?” “Apa tujuan kehadiranku?” adalah sederetan pertanyaan yang menuntut segera dicari jawabannya karena manusia membutuhkan kepastian akan arah, tujuan dan alasan kehadirannya di dunia agar dapat menjalani kehidupannya dengan jelas dan bermakna. Pengenalan tujuan hidup bersandarkan pada pengenalan terhadap diri karena suatu tujuan agar dapat dan memungkinkan untuk dicapai oleh manusia haruslah berkesesuaian dengan dirinya. Manusia yang mengenali dirinya sebatas tubuh yang bersifat fisikal, maka tujuan hidup yang dikenalinya pun sebatas persoalan materi-fisik yang mampu dicapai oleh dirinya yang hanya tubuh. Pengenalan terhadap dirinya yang hanya tubuh menjadi penghalang bagi manusia untuk mengenali dan mencapai tujuan hidup yang bersifat transenden dan melampaui fisik-materi.

Selanjutnya, setelah mencapai kesadaran terhadap tujuan hidupnya, manusia memasuki pengenalan terhadap kehidupannya. “Apa saja kebutuhanku untuk dapat hidup dan mempertahankan hidup?” “Mengapa aku membutuhkan hal tersebut?” “Jika kebutuhan itu tidak terpenuhi, apa akibatnya bagiku?” ialah sederet pertanyaan untuk memberi manusia kepastian mengenai apa yang harus dilakukannya untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya di dunia. Pengenalan manusia terhadap kebutuhan hidupnya didasarkan pengenalan terhadap diri dan pengenalan terhadap tujuan hidup. Yang pertama, pengenalan terhadap kebutuhan hidup terkait erat dengan pengenalan manusia terhadap dirinya karena pada hakikatnya kebutuhan merupakan mekanisme diri manusia untuk mempertahankan hidup. Manusia yang mengenali dirinya sebatas tubuh, maka kebutuhannya sepanjang hidup di dunia hanya seputar persoalan tubuh untuk mempertahankan kehidupan bagi tubuhnya. Sementara manusia yang mengenali dirinya ialah jiwa dan tubuh, maka kebutuhan hidupnya terdiri dari kebutuhan bagi jiwa dan kebutuhan bagi tubuh di mana pemenuhan terhadap kebutuhan jiwa merupakan prioritas karena merupakan hakikat dirinya sebagai manusia.

Kedua, pengenalan manusia terhadap kebutuhan hidup terkait erat dengan tujuan hidupnya yang dapat dijelaskan dari dua sisi. Sisi pertama, kebutuhan yang didasari tujuan hidup menjadikan kebutuhan tersebut bermakna sehingga mendorong manusia untuk melakukan kerja memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan yang tidak sejalan dengan tujuan hidup menjadikannya tidak bermakna bagi manusia, sehingga tidak dapat diterima olehnya secara psikologis dan tidak dapat mendorong manusia untuk melakukan kerja. Sebagai misal manusia yang memiliki tujuan hidup memiliki kekayaan materi terbanyak di antara manusia lainnya, maka menjadi bermakna bagi dirinya segala kebutuhan hidup berkaitan dengan penambahan angka nominal kepemilikan harta. Sebaliknya menjadi tidak bermakna bagi dirinya kebutuhan bersedekah kepada faqir miskin yang secara zhahir merugikan dirinya karena mengakibatkan berkurangnya angka nominal harta yang dimiliki.

Sisi kedua, tujuan hidup selalu berarti suatu tempat atau suatu kondisi yang berada ‘di sana’ yang menjadikan tujuan hidup selalu menuntut gerak manusia untuk mendekat dan mencapainya. Kebutuhan hidup tidak lain ialah jalan yang dimiliki manusia untuk mencapai tujuan hidup yang terletak ‘di sana’. Dengan begitu pengenalan yang benar terhadap kebutuhan hidup menjadi penting bagi manusia, bukan saja untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya di dunia, tetapi juga untuk mencapai tujuan hidupnya. Sebaliknya, salah mengenali kebutuhan hidup mengakibatkan diri manusia tidak mampu mempertahankan kehadirannya di dunia dan mengakibatkan dirinya tidak mampu mencapai tujuan hidup. Pernyataan ini dapat dijelaskan secara psikologis bahwa seseorang yang berhasil memenuhi kebutuhan hidup merasakan dirinya semakin dekat atau telah mencapai tujuan hidupnya. Sebaliknya, kegagalan memenuhi kebutuhan hidup dirasakan oleh manusia sebagai kegagalan mencapai tujuan hidup yang menyebabkan dirinya merasa kehidupan yang tengah dijalaninya tidak lagi bermakna bahkan menuntut untuk diakhiri.

Kebutuhan hidup menuntut untuk dipenuhi karena berkaitan dengan kehadiran dan pemertahanan diri manusia di dunia. Setelah mengenali kebutuhan hidupnya, manusia memasuki tahap pengenalan terhadap cara yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya. “Bagaimana caraku memenuhi kebutuhanku?” “Apa yang aku miliki untuk memenuhi kebutuhan hidupku?” “Apa yang patut aku lakukan dan tidak patut aku lakukan untuk memenuhi kebutuhan itu?” merupakan rangkaian pertanyaan yang tidak sekebar berdimensi teknis-praktis menyoal bagaimana caraku memenuhi kebutuhan, tetapi lebih utamanya berdimensi filosofis-metodologis menyoal cara seperti apa yang seharusnya aku lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada tahap pengenalan inilah manusia memasuki medan etika karena cara-cara yang dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak saja menyoal dirinya sendiri, tetapi selalu bersinggungan dengan ada-ada lain di sekitarnya, termasuk keberadaan manusia lainnya.

Pemenuhan kebutuhan hidup berkaitan dengan dua hal, yakni (1) apa yang dapat digunakan atau dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan; dan (2) bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup. Dimulai dari yang pertama, persoalan ‘apa’ yang dapat digunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya meliputi potensi internal dan potensi eksternal yang bersandarkan pada pengenalan manusia terhadap dirinya. Potensi internal merupakan saluran epistemologis yang inheren terdapat di dalam diri manusia yang dikenali dan diakuinya sebagai bagian dari dirinya. Sedangkan potensi eksternal merupakan seluruh entitas di luar diri manusia yang dikenali dan diakui keberadaannya berdasarkan pengenalan manusia terhadap potensi internal dirinya. Manusia yang hanya mengenali panca indera sebagai saluran epistemologis merupakan dasar bagi dirinya untuk mengakui bahwa di luar dirinya hanya terdapat entitas fisik yang mampu diserap panca indera. Entitas yang tidak dapat diserap panca indera diyakininya tidak hadir atau tidak ada, sehingga tidak dapat dimanfaatkan olehnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kedua, potensi yang dimiliki manusia berkaitan dengan persoalan ‘bagaimana’ yang merupakan kerja konkret manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Cara-cara yang memungkinkan dilakukan manusia berdasarkan pada saluran epistemologis yang diakuinya sah karena cara ialah teknik yang merupakan turunan dari saluran epistemologis untuk berhubungan dengan realitas fisik, dalam konteks bahasan ini ialah untuk memanfaatkan atau mengolah potensi eksternal yang terdapat di sekeliling diri manusia sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak sembarang cara dapat dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebtuhannya karena upaya pemenuhan kebutuhan hidup selain bersandarkan pada pengenalan terhadap diri juga bersandarkan pada pengenalan terhadap tujuan hidup dikarenakan upaya pemenuhan kebutuhan hidup tidak saja untuk mempertahankan kehidupan, tetapi juga merupakan gerak manusia mendekati dan mencapai tujuan hidupnya. Tujuan hidup menyediakan batas-batas bagi kerja yang dilakukan manusia berkaitan dengan cara apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukannya. Dengan begitu suatu cara dinyatakan benar jika dapat memenuhi kebutuhan sekaligus berkesesuaian dengan tujuan hidup dan sebaliknya, suatu cara dinyatakan salah karena tidak sesuai dengan tujuan hidup walaupun dapat digunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Demikianlah tahapan-tahapan pengenalan yang membentuk kesadaran manusia. Manusia yang telah mencapai seluruh tahapan pengenalan dikatakan telah memiliki kesadaran penuh yang meliputi kesadaran terhadap diri, tujuan hidup, kebutuhan hidup dan cara-cara memenuhi kebutuhan hidup. Dengan kesadaran penuh, manusia dapat menjalani kehidupannya dengan jelas, pasti dan bermakna, walaupun belum tentu benar dikarenakan persoalan benar dan salah dalam pembentukan kesadaran manusia ditentukan oleh jawaban atas setiap pertanyaan pengenalan yang disediakan oleh sistem keyakinan yang dianut. Setiap pertanyaan pengenalan yang dilontarkan dan dihadapi manusia bersifat alamiah yang ditanamkan Allah di dalam diri semua manusia tanpa terkecuali, sedangkan sistem keyakinan yang dianut manusia meliputi agama, sistem filsafat, ideologi dan sejenisnya sebagai sumber jawaban atas pernyataan pengenalan merupakan pilihan manusia sebagai makhluk yang memilik kebebasan.
Gambar 1: Tahapan pengenalan manusia mencapai kesadaran penuh
Sumber: Analisa, 2017

Secara faktual dalam kehidupan kesehariannya manusia mendapati beragam sistem keyakinan dengan jawaban yang saling berbeda untuk setiap pertanyaan sebagai ciri khas yang dimiliki masing-masingnya. Pertanyaan yang dapat diajukan adalah di antara keberagaman sistem keyakinan yang didapati manusia dalam kehidupannya, apakah tidak dimungkinkan seluruhnya benar atau beberapa di antaranya adalah benar? Kebenaran selalu identik dengan ketunggalan karena ketunggalan identik dengan kepastian dan kejelasan yang menjadi ciri khas kebenaran. Pernyataan ini dapat dibuktikan secara subjektif dan objektif. Secara subjektif manusia membutuhkan kebenaran karena manusia membutuhkan kepastian dan kejelasan yang disediakan oleh kebenaran, termasuk sebagai penyedia jawaban yang pasti dan jelas atas setiap pertanyaan pengenalan yang dihadapinya. Karenanya secara psikologis manusia cenderung hanya meyakini benar dan menganut satu sistem keyakinan sebagai sumber pembentuk kesadaran dirinya dan mendudukkan sistem keyakinan yang diyakininya benar tersebut di atas sistem keyakinan lainnya. Manusia tidak dapat meyakini benar lebih dari satu sistem keyakinan atau seluruh sistem keyakinan karena alih-alih memberikan dirinya kepastian dan kejelasan, justru menyebabkan kebingungan, ketidakjelasan dan ketidakpastian bagi dirinya.

Selain itu di antara keberagaman sistem keyakinan yang ditemui manusia dalam kehidupan kesehariannya, justru tidak menjadikannya semakin merasa yakin bahwa seluruhnya adalah benar, sehingga mendorong dirinya untuk memilih salah satu di antara sekian banyak sistem keyakinan yang tersedia. Memilih merupakan upaya mengerahkan seluruh daya potensi yang dimiliki manusia karenanya jika seluruh sistem keyakinan adalah benar maka manusia tidaklah perlu memilih, dalam artian dirinya dapat dengan mudah berganti dan berpindah sistem keyakinan kapanpun diinginkannya, tetapi secara faktual hal tersebut bertentangan dengan kondisi eksistensial manusia yang menandakan secara subjektif manusia hanya mampu menerima kebenaran tunggal dengan meyakini benar satu sistem keyakinan dan menolak sistem keyakinan lain untuk dinyatakan sebagai benar.

Pertanyaan selanjutnya yang dapat diajukan adalah apa yang menjadi timbangan objektif bahwa suatu sistem keyakinan adalah benar atau salah? Banyak manusia pada hari ini akan setuju jika Komunisme adalah salah. Timbangan yang digunakan untuk memutuskan bahwa Komunisme adalah sistem keyakinan yang salah dan begitu pula dengan banyak sistem keyakinan lainya ialah sistem keyakinan yang didalamnya inheren terdapat kebenaran. Dengan demikian timbangan kebenaran untuk menilai sistem keyakinan haruslah memenuhi tiga syarat. Pertama, sistem keyakinan hanya dapat ditimbang dan dinilai oleh sesama sistem keyakinan karena yang dinilai maupun yang menilai harus berada dalam kategori yang sama. Kedua, kebenaran yang termuat di dalam timbangan bukanlah hasil konstruksi manusia atau rekayasa subjektif manusia yang mengharuskannya memiliki kebenaran yang bersifat adi-manusia dan mutlak-benar. Ketiga, agar dapat berkedudukan sebagai timbangan bagi sistem keyakinan lainnya, maka sistem keyakinan harus selalu dalam bentuk otentiknya dalam artian tidak mengalami perubahan maupun perkembangan serta berlaku di setiap ruang dan zaman.

Satu-satunya sistem keyakinan yang dapat memenuhi ketiga syarat di atas hanya sistem keyakinan yang berasal dari Allah dalam wujud agama yang dinamakan sendiri oleh-Nya dengan Islam. Hanya dengan mekanisme demikian sistem keyakinan memiliki kebenaran yang objektif dan otentik karena kebenarannya berasal dari Allah yang melampaui diri manusia dan penjagaannya pun telah ditetapkan oleh Allah. Sehingga dapat disimpulkan sistem keyakinan yang benar ialah tunggal yang memiliki kebenaran mutlak dan kebenarannya melampaui ruang dan waktu. Jika manusia memilih sistem keyakinan tersebut sebagai sumber jawaban bagi setiap pertanyaan pengenalan yang dihadapinya, maka akan terbentuk kesadaran yang benar di dalam dirinya. Sebaliknya jika manusia tidak mengakui kebenarannya karena memilih sistem keyakinan lain disebabkan pewarisan dari kedua orangtua, tuntutan lingkungan dan lain sebagainya, padahal di dalam diri setiap manusia telah Allah berikan akal yang berguna baginya untuk mengenali dan memilih kebenaran, maka akan terbentuk kesadaran yang salah dalam dirinya yang menjadikannya tidak mengenali diri, tujuan hidup, kebutuhan dan cara-cara memenuhi kebutuhan dengan benar sebagaimana Allah menetapkan dan menghendakinya bagi seluruh manusia.

C. Kesadaran Berarsitektur

Lalu apa dan seperti apa hubungan kesadaran manusia dengan arsitektur? Kesadaran yang dimiliki manusia memuat kesadaran berarsitektur jika dirinya memiliki kebutuhan terhadap arsitektur. Jika yang terjadi sebaliknya, maka dalam kesadaran dirinya sebagai individu maupun komunal tidak memuat kesadaran berarsitektur yang menjadikannya tidak memiliki khazanah arsitektur dalam wujud gagasan, perilaku maupun artefak. Namun kondisi ini tidaklah mungkin karena arsitektur sebagai bagian dari kebudayaan pada hakikatnya merupakan kebutuhan manusia untuk mempertahankan hidup dan menjalani kehidupannya di dunia, sehingga setiap manusia secara individu maupun komunal pastilah memiliki kesadaran berarsitektur. Hanya saja sejauh mana kesadaran berarsitektur yang dimilikinya tergantung pada kemampuan sistem keyakinan yang dianut untuk menyediakan jawaban atas setiap pertanyaan pengenalan arsitektur yang dihadapi manusia.

Pada tahap pertama pembentukan kesadaran berarsitektur berpijak pada pengenalan manusia terhadap dirinya. Pada tahap ini secara simultan manusia menghadapi pertanyaan “Apakah diriku membutuhkan arsitektur?” “Apa tujuan arsitektur bagiku?” “Arsitektur seperti apa yang aku butuhkan?”. Dengan mengenali dirinya manusia akan mengenali arsitektur sebagai kebutuhan baginya untuk menjalani kehidupannya di dunia. Setelah mengetahui bahwa arsitektur merupakan kebutuhan, dengan berpijak pada pengenalan yang sama manusia akan mengenali wujud arsitektur yang dibutuhkannya. Jawaban atas kedua pertanyaan tersebut menjadi landasan bagi perumusan wujud-gagasan arsitektur yang hendak dihadirkan manusia. Tanpa kesadaran tahap ini manusia tidak akan memiliki khazanah arsitektur yang khas karena wujud-gagasan berakar paling dalam dan terikat paling kuat dengan kesadaran manusia di antara wujud arsitektur lainnya.

Setelah mengenali arsitektur yang dibutuhkannya, manusia memasuki pembentukan tahap kedua kesadaran berarsitektur yang berpijak pada tujuan hidupnya. Pada tahap kedua ini manusia menghadapi pertanyaan “Apa tujuanku berarsitektur?”. Jawaban atas pertanyaan tersebut merupakan motif dan dorongan bagi manusia untuk menghadirkan arsitekturnya dalam wujud-artefak berlandaskan wujud-gagasan yang telah dirumuskannya. Tanpa memiliki kesadaran tahap ini, arsitektur dan upaya menghadirkannya menjadi tidak bermakna bagi manusia karena tidak berkaitan dengan tujuan hidup yang hendak dicapainya. Akibatnya wujud-gagasan tidak akan terealisasi dalam wujud-artefak dan seiring waktu wujud-gagasan akan hilang secara perlahan dari alam mental manusia perumusnya. Sampai pada tahap kesadaran ini, arsitektur tidak saja bertujuan fungsional bagi manusia penghadirnya berkaitan dengan pewadahan dirinya di dalam ruang binaan sebagaimana dipahami dalam kesadaran tahap pertama, tetapi juga bertujuan eksistensial menghantarkan manusia semakin dekat dengan tujuan hidupnya sebagaimana ditunjukkan dalam kesadaran tahap kedua.

Pada tahap ketiga yang merupakan tahap terakhir, manusia beranjak pada pembentukan kesadaran berarsitektur mengenai cara-cara yang patut dilakukannya untuk menghadirkan arsitektur berpijak pada pengenalannya terhadap diri dan tujuan hidupnya. Pengenalan terhadap diri meliputi potensi internal yang inheren terdapat di dalam diri sebagai pemberian Allah kepada manusia meliputi pancaindera, akal dan intuisi serta potensi eksternal yang disediakan oleh Allah untuk manusia meliputi Wahyu sebagai sumber panduan untuk mempergunakan potensi internal dan potensi eksternal, kepemilikan ekonomi, jaringan sosial, pewarisan tradisi, kondisi iklim, ketersediaan sumber alam dan sebagainya. Keduanya merupakan modal untuk digunakan manusia menghadirkan arsitektur yang dibutuhkannya melalui kerja-kreatif-budaya. Pertanyaan yang dihadapi manusia pada tahap ini adalah “Kemampuan apa yang dimiliki diriku untuk menghadirkan arsitektur yang aku butuhkan?” “Apa saja yang tersedia di sekelilingku yang dapat aku gunakan untuk menghadirkan arsitektur?” Sementara berpijak pada pengenalan tujuan hidup menegaskan batas-batas yang harus dipatuhi manusia agar cara-cara menghadirkan arsitektur yang dilakukannya merupakan gerak mendekati tujuan hidup. Di sinilah dimensi etik menjadi pertimbangan dalam menentukan kerja-kreatif-budaya yang harus dilakukan manusia untuk menghadirkan arsitekturnya. Kesadaran berarsitektur tahap ini merupakan landasan untuk merumuskan wujud-perilaku arsitektur guna mengobjektifkan wujud-gagasan menjadi wujud-artefak meliputi kerja-kerja keteknikan meliputi metode perancangan dan metode serta manajemen pembangunan. Tanpa memiliki kesadaran tahap ini manusia tidak akan memiliki kemampuan untuk menghadirkan arsitekturnya dalam wujud-artefak.


Gambar 2: Kesadaran berarsitektur sebagai dasar dalam menghadirkan arsitektur
Sumber: Analisa, 2017

Sebagaimana pembentukan kesadaran, manusia dikatakan memiliki kesadaran berarsitektur secara penuh jika telah melalui seluruh tahapan pengenalan arsitektur, sehingga terbentuk struktur kesadaran berarsitektur di dalam dirinya. Kesadaran berarsitektur yang terbentuk berarti dua hal bagi manusia terkait upayanya menghadirkan arsitektur. Pertama, sebelum mengenali arsitektur yang dibutuhkan dan menetapkan upaya-upaya untuk melakukan kerja-kreatif-budaya menghadirkan arsitekturnya, terlebih dahulu manusia harus mengenali dirinya, tujuan hidupnya dan kebutuhan hidupnya. Kedua, arsitektur dikatakan benar jika memenuhi empat syarat yakni, (1) dibutuhkan oleh manusia penghadirnya; (2) mampu mewadahi diri manusia penghadirnya sebagaimana kesadaran yang dimilikinya berkaitan dengan diri dan hakikat kediriannya; (3) selaras dengan tujuan hidup sehingga mampu membawa manusia penghadirnya semakin dekat dengan tujuan hidupnya; dan (4) cara-cara menghadirkan arsitekturnya menggunakan seluruh potensi yang dimiliki dan berkesesuaian dengan tujuan hidup.

Kepemilikan kesadaran berarsitektur secara penuh memampukan manusia untuk menghadirkan arsitekturnya yang khas secara mandiri. Dikatakan khas karena arsitektur sejak hadir dalam kesadaran di alam mental hingga hadir secara fisik mencerminkan sistem keyakinan yang dianut oleh manusia penghadirnya yang menjadikan arsitektur sejak berwujud gagasan hingga berwujud artefak tidak pernah kosong dari nilai-nilai. Oleh sebab itu adalah sah penyebutan serta peristilahan Arsitektur Islam, Arsitektur Hindu, Arsitektur Kristen, Arsitektur Materialisme dan sebagainya dan adalah sebuah keniscayakan penisbatan arsitektur kepada suatu sistem keyakinan karena manusia membutuhkannya untuk membentuk kesadaran dirinya, termasuk kesadarannya dalam berarsitektur dengan syarat sistem keyakinan yang dimaksud menyediakan jawaban untuk setiap pertanyaan pengenalan yang membentuk kesadaran manusianya dalam berarsitektur. Atas dasar pandangan ini peristilahan yang menisbatkan arsitektur kepada suatu sistem keyakinan tertentu harus dipahami sebagai arsitektur yang kehadirannya didasarkan dan berakar pada kesadaran manusia penganut sistem keyakinan tersebut. Dengan penalaran yang sama Arsitektur Islam dapat dipahami sebagai arsitektur yang kehadirannya didasari kesadaran manusia Muslim yang dibentuk oleh sistem keyakinan Islam.

Manusia yang telah mencapai kesadaran berarsitektur secara penuh dapat menghadirkan arsitekturnya secara mandiri dalam arti tidak membutuhkan jawaban dan arahan dari manusia yang memiliki kesadaran berbeda dengannya mengenai kebutuhannya dalam arsitektur, tujuannya menghadirkan arsitektur dan cara-cara yang patut dilakukannya untuk menghadirkan arsitektur, walaupun perlu dicatat pelibatan manusia lain sebagai individu personal maupun komunitas dalam kerja-kreatif-budaya menghadirkan arsitektur dalam perwujudan artefaknya adalah sebuah keniscayaan yang pada kondisi tertentu tidak dapat dihindari bahkan harus dilakukan karena komunitas manusia tidak dapat menutup apalagi mengisolasi diri dari keberadaan komunitas lainnya sebab saling membutuhkan terkait persoalan-persoalan yang disetujui oleh sistem keyakinan masing-masing dan telah disepakati bersama. Semisal kondisi di mana komunitas umat Islam tidak seorang pun memiliki keahlian di bidang rancang bangun yang mengharuskannya melibatkan komunitas lain untuk menghadirkan artefak arsitektur miliknya.

Arsitektur yang dilandasi kesadaran berarsitektur manusia penghadirnya menjadikan antar komunitas manusia dengan sistem keyakinan yang berbeda tidak dapat saling tukar menukar arsitektur, terutama dalam wujud gagasan dan perilaku, tanpa mempengaruhi kesadaran yang dimiliki dan keyakinan yang dianut. Tukar menukar unsur kebudayaan, termasuk arsitektur adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari oleh komunitas manusia manapun tanpa terkecuali. Tetapi tukar menukar arsitektur sebagai bagian dari kebudayaan tidak serta merta dapat dilakukan begitu saja tanpa suatu mekanisme yang bersifat metodologis agar penyerapan arsitektur dari suatu komunitas diterima oleh kesadaran manusia penyerapnya dan berkesesuaian dengan sistem keyakinan yang dianutnya. Persoalan inipun tidak dapat saya jelaskan dan jabarkan dalam tulisan ini karena merupakan topik tersendiri yang menuntut tulisan khusus mengenainya.

Sebagai penutup dari tulisan ini tersisa sebuah pertanyaan, apakah dimungkinkan menghadirkan arsitektur tanpa didasari kesadaran berarsitektur? Jika dimungkinkan, bagaimana bentukan arsitekturnya dan bagaimana pula kait hubungannya dengan diri manusia penghadirnya? Kondisi sebagaimana dimaksud dalam kedua pertanyaan tersebut dialami oleh manusia yang tidak memiliki kesadaran penuh, baik secara individual maupun komunal. Ketiadaan kesadaran berarsitektur di satu sisi menyebabkannya tidak memiliki kemampuan untuk menghadirkan arsitekturnya secara mandiri sementara di sisi yang lain membentuk inferioritas diri di tengah capaian kemajuan arsitektur oleh komunitas manusia lainnya. Hal tersebut menyebabkannya bergantung kepada komunitas manusia lain yang bahkan berbeda sistem keyakinan dengannya dengan cara menyerap keseluruhan wujud arsitektur yang dinilainya sebagai tolak ukur kemajuan zaman dengan anggapan mekanisme tersebut dapat memperbaiki kondisi kehidupan dan kebudayaan arsitekturnya serta menjadikan komunitasnya mencapai tingkat kemajuan yang sama dengan komunitas pemilik arsitektur yang diserapnya.

Adalah naluri alamiah bagi manusia yang tidak mampu menghadirkan arsitekturnya secara mandiri untuk menggantungkan pengenalannya terhadap kebutuhan arsitektur dan pemenuhan kebutuhan arsitekturnya kepada manusia lain yang mampu melakukannya secara mandiri. Begitupula adalah naluri alamiah bagi manusia yang tengah mencapai puncak kebudayaan arsitektur pada zamannya untuk menyebarluaskan kemajuan arsitektur miliknya agar diterima dan diserap oleh komunitas manusia selainnya untuk mendapatkan pengakuan dan meraih dominasi kebudayaan. Pada titik tertentu, dorongan alamiah kedua belah pihak merupakan sebab terjadinya hegemoni kebudayaan arsitektur yang dilakukan oleh sekalangan manusia kepada mayoritas manusia lainnya, baik dengan cara-cara yang dapat diterima dengan terbuka maupun dengan cara-cara pemaksaan.

Dalam kondisi inferioritas, ketidakmandirian, dan ketidakmampuan menghadirkan arsitekturnya sendiri, manusia tanpa kepemilikan kesadaran berarsitektur secara penuh tidak memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih arsitektur yang diserapnya dari komunitas lain dan secara psikologis tidak mampu mendaku secara penuh arsitektur yang diserapnya karena tidak berakar dalam kesadaran dan sistem keyakinan yang dianutnya. Persis demikianlah kondisi umat Islam di berbagai belahan dunia di antaranya Indonesia, Malaysia, Dubai, Irak sebagaimana dipaparkan oleh Ali A. Alawi dan di berbagai daerah lainnya, bahwa upaya menyerap Arsitektur Modern milik Peradaban Barat oleh umat Islam alih-alih menghasilkan kemajuan, justru yang terjadi ialah pembaratan (westernization) yang menyebabkan terkikisnya identitas, tradisi dan keyakinannya sebagai komunitas Muslim. Penyebabnya tidak lain, sebagaimana dinyatakan Ali A. Alawi dalam bukunya yang berjudul The Crisis of Islamic Civilization, penyerapan dan pembangunan Arsitektur Barat Modern di Dunia Islam dilakukan oleh umat Islam dalam kondisi terputus dari spiritualitas Islam yang merupakan sumber pembentuk kesadarannya sebagai manusia Muslim.

Kondisi yang sama sebagaimana dipaparkan Ali A. Alawi didapati John Freely pada masa akhir kekuasaan Daulah Utsmani. Inferioritas sebab kekalahan demi kekalahan mendorong pihak penguasa Utsmani menyerap begitu saja capaian arsitektur Barat sebagai pihak pemenang peperangan. Freely menggambarkan tumbuhnya arsitektur bergaya Eropa di Istanbul dalam wujud arsitektur masjid yang menerapkan unsur arsitektur gaya Barok dan Rokoko, hadirnya monumen jam dan air mancur menggeser kedudukan masjid sebagai landmark kota dan tumbuhnya rumah peristirahatan mewah seiring bermukimnya masyarakat Barat di Istanbul yang tidak membutuhkan waktu lama untuk ditiru kalangan umat Islam dari pihak penguasa maupun pemilik ekonomi atas. Dalam konteks Utsmani, inferioritas yang mempengaruhi kesadaran berarsitektur umat Islam dapat dipahami melalui tesis yang diajukan oleh Ibnu Khaldun bahwasanya pihak yang kalah akan cenderung mengikuti pihak pemenang untuk menjadi semirip mungkin dengannya dengan cara pihak yang kalah mulai merubah kesadaran dirinya sendiri untuk digantikan dengan kesadaran diri milik pihak pemenang dan mulai menanggalkan kebudayaannya sendiri untuk digantikannya dengan capaian kebudayaan pihak pemenang.

Dampak buruk yang dialami komunitas manusia Muslim akibat menyerap Arsitektur Barat Modern dalam kondisi tidak memiliki kesadaran penuh yang bersumberkan dari Islam, sehingga tidak mampu memilah dan memilih serta mendaku secara penuh arsitektur yang diserapnya, tidak lain dikarenakan Arsitektur Barat Modern berakar dalam kesadaran manusia Barat Modern yang dibentuk oleh paham Materialisme. Materialisme memandang manusia ialah sebatas tubuhnya yang bersifat fisik; kedudukan manusia selain ditentukan oleh ciri fisiknya juga berdasarkan kepemilikannya terhadap materi; hidup manusia hanya berkaitan dengan kehidupan dunia untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi; kebutuhan manusia sepanjang hidup di dunia hanya berkaitan dengan kebutuhan tubuhnya; dan cara-cara untuk memenuhi kebutuhannya tidak terikat dengan batas-batas yang bersumberkan dari nilai-nilai kesucian yang bersifat transenden, sehingga pada titik ekstrimnya memperbolehkan apapun dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang bersifat materi. Berdasar struktur kesadaran tersebut terbentuklah ciri khas Arsitektur Barat Modern yang secara diametral bertentangan dengan Islam.

Tentu saja pertanyaan yang kemudian harus diajukan adalah seperti apa kesadaran manusia Muslim yang dibentuk oleh Wahyu dan seperti apa ciri khas Arsitektur Islam berdasarkan kesadaran Islam yang dimiliki manusia Muslim sebagai penghadirnya? Deretan pertanyaan ini memiliki urgensi untuk dijawab, karena dengan terjawabnya pertanyaan tersebut akan dengan jelas dapat diketahui dan dipahami perbedaan antara Arsitektur Islam dengan arsitektur selainnya serta kedudukan Arsitektur Islam di antara keberagaman arsitektur yang berasaskan kesadaran dan sistem keyakinan selain Islam. Setelahnya langkah awal menghadirkan Arsitektur Islam dapat dilakukan dengan melakukan kerja-rekayasa-manusia melalui pendidikan untuk menghasilkan manusia Muslim yang berkesadaran Islam yang dilanjutkan dengan kerja-rekayasa-teknologi untuk menghadirkan objek Arsitektur Islam secara fisik. Inilah langkah ikhtiar yang seharusnya dilakukan, karena tanpa kesadaran berasitektur yang bersumberkan dari Islam, tidak akan terwujud Arsitektur Islam!

Allahu a’lam bishshawab.

Bertempat di Kartasura pada Rajab 1438 Hijrah Nabi
Ditinjau kembali dan direvisi di Kartasura pada Safar 1439 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar