Sabtu, 25 November 2017

Empat Pendekatan Arsitektur Islam

Dalam Kuliah Umum Filsafat Ilmu pada 1 Oktober 2017 yang lalu di Ma’had Aly Imam Ghazaly Surakarta, Dr. Syamsuddin Arif menyampaikan empat pendekatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang terdiri dari pendekatan (1) Apologi; (2) Historis; (3) Praksis; dan (4) Filosofis. Sebelum dijelaskan keempat pendekatan tersebut, saya akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai apa yang dimaksud dengan Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Secara umum dan singkat, Islamisasi Ilmu Pengetahuan ialah sebuah ikhtiar kerja keilmuan yang dilakukan oleh umat Islam untuk menyerap capaian ilmu pengetahuan yang diproduksi oleh peradaban lain, dalam konteks zaman kini ialah Peradaban Barat Modern, untuk dimilikinya sebagai bagian dari khazanah Peradaban Islam. Tingkat urgensi dilakukannya Islamisasi Ilmu Pengetahua adalah agar ilmu pengetahuan yang diserap tidak bertentangan dan agar berkesesuaian dengan asas keyakinan Islam yang dianutnya, yakni Tauhid, tujuan Islam maupun kebutuhan-kebutuhan umat Islam. 

Empat pendekatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang disampaikan oleh Dr. Syamsuddin Arif dapat digunakan untuk memahami pewacanaan Arsitektur Islam dan sebagai sebuah pemikiran dapat digunakan untuk merumuskan Arsitektur Islam. Pernyataan saya ini memiliki tiga argumentasi. Pertama, Arsitektur Islam berada dalam ranah ilmu pengetahuan Islam atau sains Islam dan bukan merupakan bagian dari Teologi Islam, walaupun antara keduanya tidak dapat dipisahkan dan sangat berkaitan erat. Kedua, perumusan Arsitektur Islam dalam konteks dunia modern saat ini mendapatkan momentum dan tantangan dari Peradaban Barat Modern yang tengah mendominasi keilmuan maupun keprofesian arsitektur di seluruh dunia, sehingga ikhtiar Islamisasi Ilmu Pengetahuan di bidang arsitektur menjadi relevan untuk dilakukan. Ketiga, secara sosiologis dalam pewacanaan dan perumusan Arsitektur Islam, keempat pendekatan tersebut telah digunakan hingga membentuk komunitas pengusungnya masing-masing, baik komunitas formal yang bernaung di bawah suatu institusi perguruan tinggi atau institusi selainnya maupun komunitas imajiner yang merupakan kumpulan berbagai individu yang secara tidak sadar memiliki kesamaan pandangan. 

Dalam tulisan ini akan dijelaskan keempat pendekatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan dalam konteks Arsitektur Islam sebagai ikhtiar saya untuk memetakan pewacanaan Arsitektur Islam yang hingga kini masih berlangsung dan sebagai dasar untuk menyusun serta menawarkan sebuah agenda bersama dalam upaya pewacanaan dan perumusan Arsitektur Islam. Untuk itu tulisan ini terdiri dari dua rangkaian tulisan. Pada tulisan pertama memuat pendekatan Arsitektur Islam berdasarkan empat pendekatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang disebutkan dan dijelaskan singkat oleh Dr. Syamsuddin Arif. Sedangkan penjelasan panjang lebar dan kontekstualisasi pembahasannya dalam bidang arsitektur berasal dari pemahaman saya terkait keempat pendekatan tersebut, baik dari mempelajari buku maupun pengalaman menerapkan dan atau berinteraksi dengan pengusungnya. Dilanjutkan tulisan kedua yang memuat tawaran saya mengenai agenda bersama dalam pewacanaan dan perumusan Arsitektur Islam beserta dengan tahap-tahap, langkah-langkah dan penjelasan yang dibutuhkan.

*****

Pendekatan Apologi dijelaskan oleh Dr. Syamsuddin Arif memiliki dua kata kunci, yakni (1) rasionalisasi; dan (2) ayatisasi. Kedua kata kunci tersebut berdiri di atas dua asumsi dasar. Asumsi pertama, bahwa capaian IPTEK modern memiliki akarnya di dalam Al-Qur’an dan Hadits yang menandakan bahwa Peradaban Barat Modern hanya mengembangkan benih-benih IPTEK yang terdapat di dalam dua sumber utama Islam. Asumsi kedua, bahwa Islam merupakan sistem keyakinan yang benar dan relevan dengan zaman modern karena dapat dijelaskan dan berkesesuaian dengan capaian IPTEK modern. Memang sebagaimana namanya, pendekatan ini dengan dua asumsi dasar tersebut sangat kuat dipengaruhi motif pembelaan umat Islam terhadap Islam sebagai sebuah agama yang berupaya disingkirkan oleh Peradaban Barat Modern dari ranah pengkajian ilmu pengetahuan dan rekayasa teknologi.

Berlandaskan pada dua asumsi dasar di atas, pendekatan Apologi memiliki dua metode yang sekaligus merupakan kata kunci untuk melakukan Islamisasi Ilmu Pengetahuan sebagaimana disebutkan oleh Dr. Syamsuddin Arif. Dimulai dari yang pertama, metode rasionalisasi ialah menjelaskan ajaran dan nilai Islam yang termuat dalam Al-Qur’an dan Hadits secara rasional berdasarkan capaian IPTEK modern. Contoh hasil dari metode rasionalisasi ialah penjelasan rasional rukun wudhu berdasarkan capaian bidang kedokteran modern yang ternyata terbukti memiliki manfaat kesehatan. Begitupula dengan rukun shalat dan cara tidur yang dilakukan oleh Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Yang dikehendaki dari rasionalisasi ajaran dan nilai Islam adalah kesimpulan bahwa Islam tidak sekedar agama sebagaimana penilaian Barat yang erat dengan dimensi magis dan klenik, sehingga dihukumi tidak ilmiah. Umat Islam berupaya melakukan pembelaan bahwasanya Islam merupakan sistem keyakinan yang rasional, sehingga keberadaannya diakui dan diberi ruang untuk mengambil peran dalam kehidupan modern, termasuk dalam pengkajian, pengajaran dan pengamalan di bidang arsitektur.

Sementara metode ayatisasi ialah penyematan ayat Al-Qur’an maupun Hadits pada capaian IPTEK modern. Dengan metode ini umat Islam mendaku IPTEK modern yang diproduksi Peradaban Barat sebagai sah miliknya. Selain itu yang dikehendaki dari metode ini adalah pembuktian bahwasanya Islam tidak saja benar karena dua sumber utama Islam berkesesuaian dan sejalan dengan capaian IPTEK modern, tetapi capaian IPTEK modern memiliki akarnya di dalam dua sumber utama Islam. Contoh hasil dari metode ayatisasi adalah teori kedokteran modern mengenai perkembangan janin manusia dalam kandungan ibu yang disematkan padanya ayat Al-Qur’an mengenai penciptaan manusia. Metode yang sama digunakan pula pada teori Mekanika Kuantum bahkan teori Evolusi Darwinian yang didaku umat Islam dan dinyatakannya memiliki akar di dalam Al-Qur’an dan Hadits dengan menyematkan ayat-ayat yang dinilainya berkaitan. 

Dalam bidang arsitektur, salah satu hasil pendekatan Apologi menggunakan metode rasionalisasi adalah surah Al-Ankabuut ayat 41 yang memuat firman Allah mengenai lemahnya jaring laba-laba dijelaskan secara rasional dengan menggunakan capaian teknologi sistem struktur kabel. Darinya disimpulkan bahwasanya di dalam surat dan ayat tersebut memuat benih-benih ilmu pengetahuan struktur modern yang kemudian dikembangkan oleh Peradaban Barat. Hasil yang lain ialah surah An-Nuur ayat 35 yang dijelaskan secara rasional menggunakan khazanah Fisika Bangunan modern mengenai pencahayaan. Masih banyak sekali hasil dari metode rasionalisasi dalam bidang arsitektur yang bertebaran di berbagai referensi bertajuk Arsitektur Islam yang tidak mungkin saya kutip keseluruhannya di dalam tulisan ini. 

Tidak kalah populer dibandingkan metode rasionalisasi adalah metode ayatisasi dalam perumusan ilmu pengetahuan Arsitektur Islam. Salah satu objek penyematan ayat Al-Qur’an dan Hadits yang menjadi fokus pengusung metode ayatisasi adalah seputar pandangan Vitruvius mengenai tiga unsur pembentuk arsitektur meliputi (1) Utilitas; (2) Firmitas; dan (3) Venustas. Walaupun pandangan Vitruvius tidak dirumuskan pada zaman modern, tetapi tetap relevan digunakan hingga kini yang ditandai dengan masih digunakannya dalam pengajaran arsitektur dan dalam berbagai kerja penelitian, sehingga dapat dipahami jika menjadi fokus bagi pengusung metode ayatisasi untuk mendaku dan memasukkannya menjadi bagian dari khazanah keilmuan Arsitektur Islam. Yang dilakukan untuk itu adalah merubah penamaan setiap unsur pembentuk arsitektur dari Vitruvius penamaannya menjadi berbahasa Arab dan kemudian disematkan ayat Al-Qur’an dan Hadits yang dinilainya berkaitan. Sebagai contoh unsur Venustas dirubah penamaannya menjadi Jamil dan disematkan Hadits dengan redaksi “Innallaha jamilun yuhibbul jamal”.

Pendekatan kedua yang disebutkan oleh Dr. Syamsuddin Arif ialah pendekatan Historis. Beliau menyatakan pendekatan Historis berfokus pada capaian-capaian masa lalu umat Islam di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dengan penekanannya pada kontribusi Peradaban Islam terhadap kebangkitan dan kemajuan Peradaban Barat sebagai penghasil IPTEK modern. Asumsi dasar pendekatan Historis adalah segala capaian IPTEK modern yang dihasilkan Peradaban Barat Modern tidak dapat dilepaskan dari kontribusi umat Islam pada masa puncak kejayaan peradabannya di masa lalu. Oleh karena itu umat Islam yang hidup pada zaman ini merupakan pewaris sah dari capaian IPTEK modern dikarenakan masyarakat Barat hanya melanjutkan kerja keilmuan yang telah dirintis oleh umat Islam pada zaman lalu. Dari asumsi tersebut tampak bahwasanya pengusung pendekatan Historis sangat kuat diliputi motif nostalgia terhadap kejayaan masa lalu Peradaban Islam. Yang dikehendaki selain pengakuan masyarakat Barat terhadap kontribusi umat Islam bagi kemajuan peradabannya adalah pengakuan masyarakat Barat terhadap kedudukan Peradaban Islam yang tinggi sekaligus untuk mengkoreksi berbagai pandangan buruk Barat terhadap umat Islam dan agamanya. 

Contoh hasil dari pendekatan Historis adalah ilmu pengetahuan optik modern yang telah dirintis oleh Ibnu Haytham. Begitupula dalam bidang kedokteran modern yang telah diawali oleh sosok Ibnu Sina, sedangkan dalam bidang robotika telah dirumuskan dasar-dasarnya oleh Al-Jazari. Dalam bidang arsitektur, pendekatan Historis menghasilkan simpulan beragam kontribusi umat Islam terhadap kemajuan Peradaban Barat di bidang arsitektur. Di antaranya adalah kontribusi Mimar Sinan pada sistem struktur kubah modern dan sistem akustik modern. Selain itu yang seringkali disampaikan oleh pengusung pendekatan Historis dalam bidang arsitektur adalah konstribusi umat Islam terhadap teknologi sanitasi kota yang mempengaruhi kualitas kota di Dunia Barat di mana pada abad yang bersamaan, kota-kota Barat belum memiliki sanitasi yang memadai yang menyebabkan berkembangnya berbagai wabah penyakit akibat lingkungan kota yang buruk, kumuh dan tidak bersih. 

Pendekatan ketiga Islamisasi Ilmu Pengetahuan ialah pendekatan Praksis. Menurut Dr. Syamsuddin Arif, pendekatan ini berfokus pada transfer IPTEK modern yang diproduksi Peradaban Barat ke dalam Dunia Islam untuk memenuhi kebutuhan hidup umat Islam yang dalam penggunaannya disesuaikan dengan visi-visi Islam. Kondisi demikian menggambarkan ketergantungan umat Islam kepada Peradaban Barat sebagai penyedia IPTEK modern untuk memenuhi kebutuhannya dihampir seluruh bidang kehidupan, mulai dari transportasi, telekomunikasi, teknologi informasi dan masih banyak lagi. Prof. Ismail Raji Faruqi menilainya sebagai titik terendah Peradaban Islam sepanjang masa dikarenakan pada zaman kini umat Islam tidak mampu memenuhi kebutuhan hampir di seluruh dimensi kehidupannya. 

Terdapat tiga asumsi yang mendasari pendekatan Praksis. Asumsi pertama, bahwasanya ilmu pengetahuan dan teknologi bersifat universal, sehingga dapat dipertukarkan dengan menyesuaikan dimensi aksiologisnya, yakni nilai-nilai yang mendasari penggunaannya. Asumsi kedua, bahwasanya tolak ukur kemajuan peradaban sangat ditentukan dari kepemilikan dan penguasaan IPTEK di mana pada zaman kini yang tengah mengalami kemajuan paling pesat sehingga menjadi tolak ukur kemajuan bagi peradaban lainnya ialah Peradaban Barat Modern. Asumsi ketiga, untuk suatu peradaban dapat maju maka yang harus dilakukan adalah mengikuti peradaban yang paling maju pada masanya melalui transfer IPTEK, sehingga peradaban tersebut turut memiliki dan menguasai IPTEK yang merupakan tolak ukur kemajuan. 

Dalam bidang arsitektur, pendekatan Praksis tampak dari bermunculannya bangunan pencakar langit (sky-scrapper) di Dunia Islam, seperti Dubai, Uni Emirat Arab dan di wilayah lainnya. Bangunan pencakar langit merupakan capaian IPTEK Arsitektur Modern yang serta merta diserap begitu saja oleh umat Islam dalam rangka mengejar ketertinggalan peradabannya dari Dunia Barat. Dengan kepemilikan bangunan tertinggi di dunia, umat Islam hendak menunjukkan kekuatan ekonomi negaranya yang merupakan wakil dari Dunia Islam. Yang dikehendaki secara eksternal adalah agar Dunia Barat tidak memandang rendah Dunia Islam dengan mengakui kesejajaran tingkat kemajuan dan kekuatan ekonomi Dunia Islam dengan Dunia Barat. Sementara secara internal, pihak pemerintah hendak membangun optimisme umat Islam dengan cara menunjukkan kepada rakyatnya bahwa umat Islam dengan keyakinan yang dianutnya mampu mengikuti kemajuan zaman modern.

Yang terakhir dalam pendekatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan ialah pendekatan Filosofi yang dijelaskan oleh Dr. Syamsuddin bahwasanya pendekatan ini berfokus pada rekonstruksi epistemologis dan rekonseptualisasi. Sebelum dijelaskan mengenai keduanya, terlebih dahulu perlu diketahui dan dipahami tiga asumsi dasar pendekatan ini. Asumsi dasar pertama, perwujudan dari kesempurnaan Islam dalam konteks IPTEK adalah Islam sebagai sumber pembentukan Filsafat Sains Islam yang merupakan pondasi bagi kerja keilmuan dan teknologi. Asumsi dasar kedua, yang bersifat tetap dari bangunan IPTEK Islam adalah filsafat sains karenanya tidak terikat pada ruang dan waktu sehingga bersifat stabil, sementara yang bersifat dinamik atau terus mengalami perkembangan adalah IPTEK itu sendiri yang merupakan hasil dari filsafat sains yang bersifat tetap. Asumsi dasar ketiga, makna perkembangan IPTEK dalam pendekatan Filosofis dapat bermakna dua hal, yakni keberlanjutan kerja ilmiah untuk dicapai IPTEK yang ajeg dan pergantian IPTEK yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi zaman. 

Berdasarkan tiga asumsi dasar di atas dapat dipahami maksud dari rekonstruksi epistemologis dan rekonseptualisasi yang merupakan fokus pendekatan Filosofis. Yang dimaksud rekonstruksi epistemologis terdiri dari dua aspek. Pertama, melakukan kritik terhadap saluran epistemologis yang dinyatakan sah dan digunakan dalam produksi IPTEK modern, yakni sebatas mengakui kebenaran yang bersumberkan dari pancaindera dan rasio. Kedua, meneguhkan Wahyu sebagai sumber kebenaran mutlak yang menempati kedudukan tertinggi dalam struktur hirarki kebenaran yang diakui Islam. Dengan demikian rekonstruksi epistemologis bermakna bahwa pendekatan Filosofis menghendaki Wahyu tidak saja difungsikan sebagai sumber nilai yang merupakan dimensi aksiologi IPTEK, tetapi juga sebagai sumber kebenaran yang merupakan dimensi epistemologi dalam produksi ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Sementara yang dimaksud dengan rekonseptualisasi juga terdiri dari dua aspek. Pertama, melakukan kritik terhadap capaian IPTEK modern dalam ranah konsep-konsep kunci yang mendasarinya. Konsep kunci tersebut merupakan asumsi dasar yang dibentuk oleh pandangan-alam Barat Modern, yakni Materialisme, sehingga IPTEK modern yang dibangun di atas landasan konsep-konsep tersebut menjadi tidak bebas nilai dan secara diametral menjadi bertentangan dengan Islam. Kedua, merumuskan konsep-konsep kunci yang dibentuk dari pandangan-alam Islam mengenai wujud sebagai penyaring dalam ikhtiar menyerap IPTEK modern yang dihasilkan oleh Peradaban Barat maupun sebagai pondasi dalam merumuskan IPTEK Islam, termasuk Arsitektur Islam. Rekonseptualisasi sangat berkaitan dengan rekonstruksi epistemologis di mana pada bagian ini Wahyu diteguhkan kedudukannya sebagai sumber pembentukan pandangan-alam Islam yang merupakan dimensi ontologi dalam kerja keilmuan.

Islamisasi Ilmu Pengetahuan dengan pendekatan Filosofis tidak serta merta melakukan transfer IPTEK modern ke dalam tubuh umat Islam sebagaimana pendekatan Praksis, atau melakukan rasionalisasi atau sekedar menyematkan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits pada capaian IPTEK modern sebagaimana pendekatan Apologi, atau melakukan kerja penelitian untuk mengungkap konstribusi kerja keilmuan umat Islam dan capaian IPTEK Islam pada masa lalu terhadap kemajuan Peradaban Barat Modern sebagaimana pendekatan Historis. Sebagai pondasi dilakukannya kerja keilmuan, pendekatan Filosofis menghendaki terlebih dahulu dirumuskannya Filsafat Sains Islam meliputi dimensi ontologi, epistemologi dan aksiologi yang bersumberkan dari Wahyu untuk dapat menghasilkan IPTEK yang khas Islam. Dalam bidang arsitektur, Filsafat Sains Arsitektur Islam, dapat disebut demikian, dalam ranah ontologi menyediakan konsep-konsep kunci yang memuat Tauhid sebagai asas keyakinan Islam sebagai landasan perumusan IPTEK Arsitektur Islam, seperti konsep manusia, konsep alam, konsep keindahan, konsep fungsional dan konsep lainnya seputar bidang keilmuan arsitektur. Dalam ranah epistemologi, Filsafat Sains Arsitektur Islam menyediakan struktur hirarki kebenaran yang dinyatakan sah dalam Islam dan derivasinya dalam ranah aplikatif berupa metodologi arsitektur meliputi metode penelitian, metode perancangan dan metode pembangunan. Dalam struktur hirarki kebenaran tersebut, Wahyu tidak saja didudukkan sebagai sumber kebenaran tertinggi, tetapi juga sebagai sumber inspirasi dalam perumusan IPTEK maupun perancangan Arsitektur Islam. Dan dalam ranah aksiologi, Filsafat Sains Arsitektur Islam menyediakan sistem nilai sebagai batas-batas dalam perumusan IPTEK Arsitektur Islam agar berkesesuaian dengan tujuan Islam, yakni keselamatan, kebahagiaan dan rahmat bagi seluruh ciptaan Allah. 

Satu contoh dapat diutarakan untuk memahami mekanisme Islamisasi Ilmu Pengetahuan pendekatan Filosofis dengan mengangkat kembali pandangan Vitruvius mengenai tiga unsur pembentuk arsitektur. Berbeda secara metode dengan pendekatan Ayatisasi yang melakukan perubahan istilah setiap unsur pembentuk arsitektur menurut Vitruvius menjadi berbahasa Arab dan menyematkan ayat-ayat Al-Qur’an maupun Hadits yang dinilai berkaitan oleh para pengusungnya, pendekatan Filosofis mempertanyakan pandangan Vitruvius tersebut secara asasi. “Apakah Arsitektur Islam terbentuk dari unsur yang sama sebagaimana pandangan Vitruvius?” “Jika tidak, lalu terbentuk dari unsur apa saja Arsitektur Islam?” “Jika ya, seperti apa pandangan-alam Islam terhadap unsur Utilitas, Firmitas dan Venustas? Apakah sama dengan makna yang dimaksud oleh Vitruvius ataukah Islam memiliki makna yang khas mengenai unsur fungsional, kekuatan dan keawetan serta keindahan yang berasaskan Tauhid?”

Secara metode, pendekatan Filosofis memiliki dua proses kerja keilmuan dalam upaya menyerap capaian IPTEK Arsitektur Modern yang dihasilkan Peradaban Barat, yakni proses (1) pembersihan; dan (2) pengislaman. Proses pertama merupakan langkah kritik dengan menganalisa konsep-konsep kunci yang memuat asas-asas keyakinan Peradaban Barat dalam IPTEK Arsitektur Modern yang hendak diserap. Dikaitkan dengan contoh pada bagian sebelumnya, pada langkah ini dipahami konsep-konsep kunci yang mendasari unsur Utilitas, Firmitas dan Venustas berdasarkan pandangan Vitruvius kemudian menimbangnya dengan Tauhid yang mewujud dalam pandangan-alam Islam. Jika berkesesuaian dengan pandangan-alam Islam, maka makna dari Vitruvius diterima dan konsep kunci semula dipertahankan. Sedangkan jika sebaliknya, maka dilakukan pembersihan dengan memisahkan konsep kunci sebagai landasan dengan bangunan keilmuan di atasnya. Dibersihkannya konsep-konsep kunci yang khas Peradaban Barat dalam pandangan Vitruvius menjadikan tiga unsur penyusun arsitektur ‘netral’ karena tidak lagi memuat asas-asas keyakinan Barat mengenai realitas, kebenaran dan nilai. Setelahnya pada proses kedua, capaian IPTEK Arsitektur Modern yang hendak diserap dan telah ‘netral’ dihubungkan dengan Filsafat Sains Arsitektur Islam. Pada langkah ini tiga unsur pembentuk arsitektur menurut Vitruvius yang telah ‘netral’ diletakkan di atas landasan konsep-konsep kunci Islam, sehingga maknanya menjadi lekat dengan pandangan-alam Islam.

Keempat pendekatan Arsitektur Islam masing-masingnya memiliki asumsi dasar dan metode yang berbeda dalam ikhtiar menyerap IPTEK Arsitektur Modern yang merupakan capaian Peradaban Barat Modern. Selain perbedaan dalam asumsi dasar dan metode, keempat pendekatan juga memiliki perbedaan dalam latarbelakang, tujuan yang hendak dicapai dan sifat yang menjadi ciri khasnya. Dimulai dari aspek latarbelakang, pendekatan Ayatisasi, Historis dan Praksis memiliki kesamaan latarbelakang, yakni sikap inferioritas terhadap kemajuan IPTEK Arsitektur Modern yang tengah dicapai Peradaban Barat, hanya saja pendekatan Historis memiliki pandangan yang lebih optimis dibandingkan dua pendekatan lainnya dengan berupaya meneguhkan kontribusi umat Islam melalui capaian IPTEK Islam pada masa lalu terhadap kemajuan Peradaban Barat Modern. Kesamaan latarbelakang menjadikan ketiga pendekatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan di bidang arsitektur tersebut memiliki kesamaan tujuan, yakni untuk mencapai taraf kemajuan Peradaban Islam Kontemporer sebagaimana dicapai Peradaban Barat Modern, bahkan melampauinya.

Taraf kemajuan yang hendak dicapai pendekatan Ayatisasi, Historis dan Praksis tidaklah murni bersifat fungsional, dalam arti kemajuan faktual dalam kepemilikan IPTEK di mana umat Islam pun memiliki IPTEK sebagaimana dimiliki oleh masyarakat Barat, tetapi kemajuan yang dimaksud bermakna ideologis bahwasanya satu-satunya peradaban terbaik dan merupakan solusi bagi seluruh permasalahan manusia hanyalah Peradaban Islam, sedangkan peradaban selainnya, terkhusus Peradaban Barat Modern yang kini tengah mendominasi dunia merupakan sumber dari seluruh permasalahan yang tengah dialami umat manusia. Oleh karena itu kerja Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang dilakukan dengan cara menyerap capaian IPTEK modern ditujukan untuk melawan Barat hingga kalah dan hancur peradabannya, baik secara psikologis maupun fisik. Hal ini dapat dipahami dikarenakan dorongan ideologis menghendaki adanya lawan, sehingga bersifat konfrontatif dan berupaya meniadakan pihak-pihak yang bertentangan. 

Dorongan ideologis yang mengikat tujuan dari kerja keilmuan pendekatan Apologi, Historis dan Praksis memiliki konsekuensi-konsekuensi, baik positif maupun negatif. Tiga di antaranya adalah (1) kerja keilmuan yang dilakukan lekat dengan perasaan cemas, terburu-buru dan merasa terancam seiring capaian demi capaian baru di bidang IPTEK yang berhasil diraih oleh Peradaban Barat; (2) dalam kondisi inferior dan kondisi psikologis sebagaimana poin 1 sebelumnya, kerja keilmuan cenderung dilakukan berdasarkan pada agenda jangka pendek sehingga tidak memiliki keberlanjutan untuk jangka panjang. Di satu sisi hal ini merupakan kelebihan karena hasil kerja keilmuan dapat dicapai dalam jangka pendek, tetapi jika dilihat dalam perspektif jangka panjang justru merupakan kelemahan karena mempertahankan dorongan ideologis untuk waktu jangka panjang serta melakukan kerja keilmuan jangka panjang dengan kondisi psikologis sebagaimana poin 1 tidaklah mudah kalau tidak ingin dikatakan mustahil; dan (3) terutama pendekatan Praksis, alih-alih menyerap IPTEK Arsitektur Modern untuk mengungguli Peradaban Barat, yang terjadi justru terjadinya persaingan antar Dunia Islam. Kasus yang dapat diangkat adalah persoalan pembangunan sky-scrapper sebagaimana telah saya kutip di atas. Kini antar Dunia Islam, terkhusus di wilayah Timur Tengah, terjadi persaingan untuk memiliki bangunan tertinggi di dunia untuk menunjukkan superioritas ekonomi-politik di antara sesama negara berpenghuni mayoritas Muslim. Jika ditarik akar persoalannya tidak dapat dilepaskan dari dua hal, yakni realitas negara-bangsa yang memisahkan kaum Muslimin sebagai kesatuan umat, sehingga ikhtiar menyerap IPTEK modern dari Peradaban Barat terjebak pada egoisme dan kepentingan masing-masing negara serta ketiadaan agenda kerja keilmuan bersama dan ketiadaan sosok yang mampu menyatukan pengusung berbagai pendekatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan.

Di antara keempat pendekatan Arsitektur Islam, pendekatan Filosofis memiliki perbedaan secara asasi dalam aspek latarbelakang dan tujuan dibandingkan dengan ketiga pendekatan lainnya. Kerja keilmuan yang dilakukan pengusung pendekatan Filosofis memiliki latarbelakang memenuhi kebutuhan umat Islam terhadap IPTEK yang berlandas asas-asas keyakinan Islam. Latar belakang tersebut bertujuan untuk menghadirkan kehidupan yang beradab bagi seluruh makhluk, terkhusus bagi seluruh manusia untuk mencapai keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Kehidupan yang beradab diwujudkan dan bertumpu pada amal shalih sementara amal shalih hanya dapat dilakukan jika didasari ilmu yang benar. Di sinilah urgensi Islamisasi Ilmu Pengetahuan menurut pendekatan Filosofis, yakni menyediakan IPTEK yang benar sebagai landasan bagi umat Islam beramal shalih sebagai ikhtiar mewujudkan kehidupan yang beradab.

Dengan tujuannya dan kepemilikan Filsafat Sains Islam yang bersifat tetap dan stabil sebagai landasan kerja keilmuan menjadikan pengusung pendekatan Filosofis tidak dihinggapi perasaan inferior dan terhindar untuk mencapai taraf kemajuan berdasarkan variabel dan indikator Peradaban Barat Modern karena dalam Filsafat Sains Islam termuat konsep kunci mengenai kemajuan dan kemunduran yang berasaskan Tauhid dan bersumberkan Wahyu. Sementara latarbelakang kerja keilmuan untuk memenuhi kebutuhan internal menjadikan pengusung pendekatan Filosofis terhindar dari ledakan ideologis yang mendorong dilakukannya konfrontasi dengan Peradaban Barat, sehingga kerja keilmuan yang dilakukan dapat dilakukan berdasar agenda jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan umat Islam secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Hal ini jika dilihat dari sisi jangka panjang merupakan kelebihan yang dimiliki pendekatan Filosofis sementara jika dilihat dari sisi jangka pendek merupakan kelemahan karena bagaimanapun umat Islam dan umat manusia secara keseluruhan memiliki kebutuhan terhadap ruang binaan yang harus sesegera mungkin dipenuhi. 

Pada aspek pembeda terakhir, yakni aspek sifat, pendekatan Apologi dan Praksis memiliki sifat pasif, sementara pendekatan Historis memiliki sifat aktif-retrogresif dan pendekatan Filosofis memiliki sifat aktif-progresif. Pendekatan Apologi dan Praksis dikatakan memiliki sifat pasif karena dalam kerja keilmuan yang dilakukannya hanya pasif menerima begitu saja IPTEK Arsitektur Modern capaian Peradaban Barat. Pengusung pendekatan Praksis melakukan transfer IPTEK modern tanpa dilakukannya proses memilah dan memilih, sedangkan pengusung pendekatan Apologi dapat dianalogikan sebagai pembawa stempel cap “Islam” yang bertugas mencap capaian IPTEK modern sebagai Sains Islam dan milik umat Islam. Berbeda dengan keduanya, pendekatan Historis dan Filosofis memiliki sifat aktif, hanya saja memiliki perbedaan arah orientasi gerak.

Pengusung pendekatan Historis dalam kerja keilmuannya bersifat aktif melangkah ke belakang untuk mencari capaian-capaian IPTEK arsitektur pada fase sejarah yang dinilainya merupakan puncak kejayaan Peradaban Islam. Orientasi ke belakang dilakukan dengan dasar bahwasanya idealitas Peradaban Islam, termasuk dalam bidang arsitektur, pernah terwujud dan telah terjadi pada masa lalu dan pada kondisi kejayaannya tersebut umat Islam memberikan pengaruh dan kontribusi positif terhadap kebangkitan dan kemajuan Peradaban Barat di mana pada abad yang sama tengah mengalami sebuah fase yang disebut Abad Kegelapan. Gerak aktif ke belakang ini menjerat pengusung pendekatan Historis dalam ikatan nostalgia yang menjadikannya tidak mampu mengikuti gerak perkembangan zaman modern dan realitas kehidupan masa kini.

Yang membedakannya dengan gerak aktif pendekatan Historis, pengusung pendekatan Filosofis dalam kerja keilmuannya melangkah ke belakang untuk kepentingan masa kini dan masa depan dengan dasar pandangan bahwasanya Filsafat Sains Arsitektur Islam yang bersifat tetap dapat melampaui ruang dan waktu. Dengan landasan kerja keilmuan yang tetap dan stabil, pendekatan Filosofis dapat bergerak ke belakang untuk melakukan kontekstualisasi capaian-capaian IPTEK Arsitektur Islam pada masa lalu berdasarkan kebutuhan masa kini dan dapat pula bergerak mengikuti perkembangan zaman dengan menyerap capaian IPTEK arsitektur dari berbagai peradaban, terutama Peradaban Barat Modern agar Peradaban Islam yang terwujud senantiasa konteks dengan realitas kehidupan masa kini karenanya bersifat progresif. Inilah makna kesempurnaan Islam dalam ranah ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana dimaksud pengusung pendekatan Filosofis yang meniscayakan umat Islam memiliki fleksibilitas di atas landasan yang tetap.

Demikianlah penjelasan mengenai empat pendekatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan kontekstualisasinya dalam pengkajian Arsitektur Islam berserta latarbelakang, tujuan dan sifatnya masing-masing, sehingga dapat diketahui persamaan dan perbedaannya serta kelebihan dan kekurangannya. Melanjutkan bahasan pada tulisan ini, pada rangkaian tulisan kedua saya akan menawarkan sebuah agenda bersama bagi pengusung empat pendekatan Arsitektur Islam dalam pewacanaan dan perumusan Arsitektur Islam. Sebagai penutup bagian ini, di bawah ini akan ditampilkan simpulan bahasan tulisan ini dalam bentuk tabel.

Tabel 1: Karakteristik setiap pendekatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Sumber: Analisa, 2017

Allahu a’lam bishawab.
Bertempat di Kartasura pada Rabiul Awal 1439 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar