Sabtu, 30 Desember 2017

Konsep Kota Barat dan Kota Islam; Sebuah Perbandingan Pusat-Ruang Kota

Menurut pendekatan Fungsionalisme, kota diibaratkan sebagai sebuah organisme yang memiliki organ-organ di mana setiap organ memiliki fungsinya masing-masing yang spesifik untuk menopang kelangsungan hidup organisme tersebut. Dalam konteks ruang kota, kota itu sendiri secara keseluruhan diibaratkan sebuah organisme yang memiliki organ berupa ruang ekonomi, politik, sosial, ekologi, pendidikan, peribadatan dan lain sebagainya di mana setiap ruang memiliki fungsinya masing-masing yang spesifik untuk keberlangsungan hidup suatu kota, bagaikan organ jantung, hati, paru-paru dan organ lainnya penyusun organisme bernama manusia yang masing-masingnya memiliki fungsi tersendiri berkaitan dengan kelangsungan hidup tubuh manusia. Namun begitu, keberadaan organ-organ pembentuk kota tidak serta merta menjadikan suatu kota hidup karena dibutuhkan denyut nadi yang menggerakkan organ-organ tadi. Tanpa denyut, organ-organ yang dimiliki kota tidak berguna karena tidak memiliki daya gerak yang membuatnya hidup. 

Masih menurut pendekatan Fungsionalisme, setiap organ pembentuk kota saling terhubung membentuk struktur ruang kota dengan sebuah atau beberapa organ berkedudukan sebagai pusat-ruang kota yang berperan sebagai sumber denyut nadi bagi organ-organ lainnya. Denyut nadi yang dimaksud merupakan metafora dari daya gerak yang menggerakkan dan menggetarkan organ-organ lain pembentuk ruang kota untuk berfungsi dan secara bersama-sama memberi kehidupan bagi kota. Jika pusat-ruang kota sebagai sumber denyut nadi mengalami masalah, maka akan mempengaruhi kinerja organ-organ lainnya. Pada kondisi ini suatu kota sedang menderita sakit yang ditandai dengan memburuknya kehidupan kota di mana tingkat keparahan sakitnya tergantung pada tingkat masalah yang dialami pusat-ruang kota. Jika pusat-ruang kota tidak lagi dapat mendenyutkan ruang-ruang lainnya dikarenakan masalah yang diidap sudah sangat parah, maka suatu kota dapat berakhir dengan kematian. Begitupula sebaliknya, sehingga sehat dan tidaknya suatu kota dapat ditelusur dari kondisi pusat-ruang kota yang menegaskan pentingnya kedudukan pusat-ruang kota bagi ruang-ruang lainnya dan bagi kota itu sendiri agar memiliki kehidupan. Pertanyaannya adalah, organ apakah yang berkedudukan sebagai denyut nadi kota?

Penentuan sumber denyut nadi kota berasaskan pada pandangan-alam warga kota yang berkuasa terhadap ruang kota, baik individu maupun kelompok, baik dari kalangan pengusaha, cendikiawan maupun pemerintah. Dengan kuasa yang dimilikinya dalam bentuk kepemilikan ruang, modal dan wewenang politik, seseorang maupun kelompok membentuk ruang kota sesuai dengan pandangan-alam yang tertanam di dalam dirinya terkait struktur diri, tujuan hidup, kebutuhan hidup dan cara-cara untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga suatu ruang kota mencerminkan pandangan-alam yang mendasari kehadirannya, termasuk dalam penentuan pusat-ruang kota. Dengan demikian perbedaan pandangan-alam akan mengakibatkan perbedaan struktur ruang kota serta variabel dan indikator kesehatan ruang kota. Berdasar pandangan ini, kota yang diibaratkan sebagai organisme tidaklah hadir begitu saja secara mandiri, tetapi kehadiran dan perwujudannya sangat bergantung kepada manusia sebagai pencipta ruang binaan, sebagaimana sebuah organisme yang kehadirannya sangat bergantung kepada Sang Pencipta.

Secara arsitektural, pusat-ruang kota sebagai sumber denyut nadi kehidupan kota dapat diidentifikasi dari tiga unsur pembentuknya, yakni (1) intensitas penggunaan ruang; (2) perwajahan ruang; dan (3) akses ruang. Pusat-ruang kota memiliki intensitas penggunaan ruang paling tinggi dibandingkan ruang-ruang lainnya dikarenakan merupakan pusat kehidupan kota dan pusat kegiatan warga kota. Sementara di antara ruang lainnya, pusat-ruang kota memiliki perwajahan ruang dengan karakter visual paling kuat, baik dari segi bentuk, skala, dimensi, warna dan unsur lainnya, sehingga menjadikannya sebagai vocal-point ruang kota yang membentuk wajah dominan dan citra suatu kota. Dan yang terakhir, pusat-ruang kota memiliki akses ruang paling terintegrasi dengan ruang-ruang lainnya dikarenakan intensitas penggunaan ruang yang tinggi menuntut pusat-ruang kota dapat diakses dari berbagai arah oleh warga kota. Jumlah akses menuju pusat-ruang kota tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas akses dalam arti tidak selalu paling mudah diakses karena memiliki resiko paling tinggi terjadinya kemacetan disebabkan tingginya intensitas kegiatan. Ketiga unsur dengan karakter demikian secara objektif bertujuan untuk menegaskan pusat-ruang kota sebagai ruang yang memiliki kedudukan paling penting bagi kehidupan kota dan secara subjektif bertujuan membentuk persepsi kolektif warga kota agar mampu mengidentifikasi pusat-ruang kota dan menjadikannya sebagai ruang yang paling diingat di dalam kota yang dihidupinya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mekanisme gerak kota dikaitkan dengan hubungan antara pusat-ruang sebagai sumber denyut nadi dengan organ-organ lainnya? Menurut pendekatan Fungsionalisme, hubungan antara pusat-ruang kota dengan ruang-ruang lainnya berlaku hubungan saling mempengaruhi dan bersifat siklis yang terdiri dari tiga proses. Proses pertama, kegiatan yang terjadi di pusat-ruang kota akan mendenyutkan kehidupan kota dengan mendorong terjadinya kegiatan di dalam ruang-ruang lainnya. Proses kedua, kegiatan yang terjadi di ruang-ruang lain tersebut sebagai akibat dari kegiatan di pusat-ruang kota kembali mengarah ke pusat-ruang kota, sehingga memperkuat denyut nadi pusat-ruang kota berupa peningkatan intensitas kegiatan. Proses ketiga, peningkatan intensitas kegiatan di pusat-ruang kota mendorong terjadinya perluasan ruang diikuti dengan peningkatan akses ruang secara kuantitas maupun kualitas agar peningkatan kekuatan denyut nadi dari pusat-ruang kota dapat menjangkau dan melayani skala ruang yang lebih luas. Tiga proses ini terus berulang yang menjadikan suatu kota terus mengalami perkembangan, baik dalam arti kualitas ruang kota yang berkorelasi dengan kualitas kehidupan warga kota maupun dalam arti kuantitas ruang kota, yakni perluasan wilayah kota.


Gambar 1: Mekanisme gerak kota berdasarkan pendekatan Fungsionalisme
Sumber: Analisa, 2017

Dalam tulisan ini dengan menggunakan pendekatan Fungsionalisme saya hendak mengulas struktur ruang kota menurut konsep Kota Barat dan konsep Kota Islam serta membandingkan keduanya, terutama terkait dengan aspek pusat-ruang kota sebagai pembentuk ciri khas Kota Barat dan Kota Islam yang masing-masingnya akan dibahas secara terpisah dalam tulisan ini. Perbandingan keduanya diperlukan sebagai kacamata untuk melihat, memahami dan mengulas fenomena tarik menarik denyut ruang kota yang secara laten menggambarkan benturan pandangan-alam antar kelompok warga kota yang memiliki kuasa untuk membentuk dan menggerakkan ruang kota. Memahami fenomena tarikan denyut spasial ruang kota bertujuan untuk merumuskan strategi spasial agar warga kota dapat menguasai dan menggerakkan ruang kota berdasarkan pandangan-alam yang tertanam di dalam dirinya. Bagi internal umat Islam, tujuannya tidak lain untuk menguasai tarikan denyut spasial agar ruang kota yang dihuninya menjadi lekat dengan identitas Islam dan mencerminkan pandangan-alam Islam. Pada akhirnya bagi umat Islam, tujuan menguasai denyut nadi kota adalah untuk menciptakan ruang kehidupan yang diridhai Allah layaknya Madiinatun Nabi. Untuk persoalan yang terakhir, akan saya bahas dalam tulisan tersendiri sebagai kelanjutan dari tulisan ini.