Sabtu, 30 Desember 2017

Konsep Kota Barat dan Kota Islam; Sebuah Perbandingan Pusat-Ruang Kota

Menurut pendekatan Fungsionalisme, kota diibaratkan sebagai sebuah organisme yang memiliki organ-organ di mana setiap organ memiliki fungsinya masing-masing yang spesifik untuk menopang kelangsungan hidup organisme tersebut. Dalam konteks ruang kota, kota itu sendiri secara keseluruhan diibaratkan sebuah organisme yang memiliki organ berupa ruang ekonomi, politik, sosial, ekologi, pendidikan, peribadatan dan lain sebagainya di mana setiap ruang memiliki fungsinya masing-masing yang spesifik untuk keberlangsungan hidup suatu kota, bagaikan organ jantung, hati, paru-paru dan organ lainnya penyusun organisme bernama manusia yang masing-masingnya memiliki fungsi tersendiri berkaitan dengan kelangsungan hidup tubuh manusia. Namun begitu, keberadaan organ-organ pembentuk kota tidak serta merta menjadikan suatu kota hidup karena dibutuhkan denyut nadi yang menggerakkan organ-organ tadi. Tanpa denyut, organ-organ yang dimiliki kota tidak berguna karena tidak memiliki daya gerak yang membuatnya hidup. 

Masih menurut pendekatan Fungsionalisme, setiap organ pembentuk kota saling terhubung membentuk struktur ruang kota dengan sebuah atau beberapa organ berkedudukan sebagai pusat-ruang kota yang berperan sebagai sumber denyut nadi bagi organ-organ lainnya. Denyut nadi yang dimaksud merupakan metafora dari daya gerak yang menggerakkan dan menggetarkan organ-organ lain pembentuk ruang kota untuk berfungsi dan secara bersama-sama memberi kehidupan bagi kota. Jika pusat-ruang kota sebagai sumber denyut nadi mengalami masalah, maka akan mempengaruhi kinerja organ-organ lainnya. Pada kondisi ini suatu kota sedang menderita sakit yang ditandai dengan memburuknya kehidupan kota di mana tingkat keparahan sakitnya tergantung pada tingkat masalah yang dialami pusat-ruang kota. Jika pusat-ruang kota tidak lagi dapat mendenyutkan ruang-ruang lainnya dikarenakan masalah yang diidap sudah sangat parah, maka suatu kota dapat berakhir dengan kematian. Begitupula sebaliknya, sehingga sehat dan tidaknya suatu kota dapat ditelusur dari kondisi pusat-ruang kota yang menegaskan pentingnya kedudukan pusat-ruang kota bagi ruang-ruang lainnya dan bagi kota itu sendiri agar memiliki kehidupan. Pertanyaannya adalah, organ apakah yang berkedudukan sebagai denyut nadi kota?

Penentuan sumber denyut nadi kota berasaskan pada pandangan-alam warga kota yang berkuasa terhadap ruang kota, baik individu maupun kelompok, baik dari kalangan pengusaha, cendikiawan maupun pemerintah. Dengan kuasa yang dimilikinya dalam bentuk kepemilikan ruang, modal dan wewenang politik, seseorang maupun kelompok membentuk ruang kota sesuai dengan pandangan-alam yang tertanam di dalam dirinya terkait struktur diri, tujuan hidup, kebutuhan hidup dan cara-cara untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga suatu ruang kota mencerminkan pandangan-alam yang mendasari kehadirannya, termasuk dalam penentuan pusat-ruang kota. Dengan demikian perbedaan pandangan-alam akan mengakibatkan perbedaan struktur ruang kota serta variabel dan indikator kesehatan ruang kota. Berdasar pandangan ini, kota yang diibaratkan sebagai organisme tidaklah hadir begitu saja secara mandiri, tetapi kehadiran dan perwujudannya sangat bergantung kepada manusia sebagai pencipta ruang binaan, sebagaimana sebuah organisme yang kehadirannya sangat bergantung kepada Sang Pencipta.

Secara arsitektural, pusat-ruang kota sebagai sumber denyut nadi kehidupan kota dapat diidentifikasi dari tiga unsur pembentuknya, yakni (1) intensitas penggunaan ruang; (2) perwajahan ruang; dan (3) akses ruang. Pusat-ruang kota memiliki intensitas penggunaan ruang paling tinggi dibandingkan ruang-ruang lainnya dikarenakan merupakan pusat kehidupan kota dan pusat kegiatan warga kota. Sementara di antara ruang lainnya, pusat-ruang kota memiliki perwajahan ruang dengan karakter visual paling kuat, baik dari segi bentuk, skala, dimensi, warna dan unsur lainnya, sehingga menjadikannya sebagai vocal-point ruang kota yang membentuk wajah dominan dan citra suatu kota. Dan yang terakhir, pusat-ruang kota memiliki akses ruang paling terintegrasi dengan ruang-ruang lainnya dikarenakan intensitas penggunaan ruang yang tinggi menuntut pusat-ruang kota dapat diakses dari berbagai arah oleh warga kota. Jumlah akses menuju pusat-ruang kota tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas akses dalam arti tidak selalu paling mudah diakses karena memiliki resiko paling tinggi terjadinya kemacetan disebabkan tingginya intensitas kegiatan. Ketiga unsur dengan karakter demikian secara objektif bertujuan untuk menegaskan pusat-ruang kota sebagai ruang yang memiliki kedudukan paling penting bagi kehidupan kota dan secara subjektif bertujuan membentuk persepsi kolektif warga kota agar mampu mengidentifikasi pusat-ruang kota dan menjadikannya sebagai ruang yang paling diingat di dalam kota yang dihidupinya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mekanisme gerak kota dikaitkan dengan hubungan antara pusat-ruang sebagai sumber denyut nadi dengan organ-organ lainnya? Menurut pendekatan Fungsionalisme, hubungan antara pusat-ruang kota dengan ruang-ruang lainnya berlaku hubungan saling mempengaruhi dan bersifat siklis yang terdiri dari tiga proses. Proses pertama, kegiatan yang terjadi di pusat-ruang kota akan mendenyutkan kehidupan kota dengan mendorong terjadinya kegiatan di dalam ruang-ruang lainnya. Proses kedua, kegiatan yang terjadi di ruang-ruang lain tersebut sebagai akibat dari kegiatan di pusat-ruang kota kembali mengarah ke pusat-ruang kota, sehingga memperkuat denyut nadi pusat-ruang kota berupa peningkatan intensitas kegiatan. Proses ketiga, peningkatan intensitas kegiatan di pusat-ruang kota mendorong terjadinya perluasan ruang diikuti dengan peningkatan akses ruang secara kuantitas maupun kualitas agar peningkatan kekuatan denyut nadi dari pusat-ruang kota dapat menjangkau dan melayani skala ruang yang lebih luas. Tiga proses ini terus berulang yang menjadikan suatu kota terus mengalami perkembangan, baik dalam arti kualitas ruang kota yang berkorelasi dengan kualitas kehidupan warga kota maupun dalam arti kuantitas ruang kota, yakni perluasan wilayah kota.


Gambar 1: Mekanisme gerak kota berdasarkan pendekatan Fungsionalisme
Sumber: Analisa, 2017

Dalam tulisan ini dengan menggunakan pendekatan Fungsionalisme saya hendak mengulas struktur ruang kota menurut konsep Kota Barat dan konsep Kota Islam serta membandingkan keduanya, terutama terkait dengan aspek pusat-ruang kota sebagai pembentuk ciri khas Kota Barat dan Kota Islam yang masing-masingnya akan dibahas secara terpisah dalam tulisan ini. Perbandingan keduanya diperlukan sebagai kacamata untuk melihat, memahami dan mengulas fenomena tarik menarik denyut ruang kota yang secara laten menggambarkan benturan pandangan-alam antar kelompok warga kota yang memiliki kuasa untuk membentuk dan menggerakkan ruang kota. Memahami fenomena tarikan denyut spasial ruang kota bertujuan untuk merumuskan strategi spasial agar warga kota dapat menguasai dan menggerakkan ruang kota berdasarkan pandangan-alam yang tertanam di dalam dirinya. Bagi internal umat Islam, tujuannya tidak lain untuk menguasai tarikan denyut spasial agar ruang kota yang dihuninya menjadi lekat dengan identitas Islam dan mencerminkan pandangan-alam Islam. Pada akhirnya bagi umat Islam, tujuan menguasai denyut nadi kota adalah untuk menciptakan ruang kehidupan yang diridhai Allah layaknya Madiinatun Nabi. Untuk persoalan yang terakhir, akan saya bahas dalam tulisan tersendiri sebagai kelanjutan dari tulisan ini. 

A. Konsep Kota Barat

Dalam konsep Kota Barat yang penerapannya secara historis saya batasi pada masa Modern hingga masa kini yang dikenal dengan masa Posmodern, organ yang berkedudukan sebagai sumber denyut nadi bagi kehidupan kota adalah ruang ekonomi. Penetapan ruang ekonomi sebagai sumber denyut nadi kota tidak berlaku universal untuk semua kota di Dunia Barat maupun kota di belahan dunia lain yang terpengaruh kuat oleh Dunia Barat karena terdapat perbedaan karakter pusat-ruang kota antara kota di negara maju dan kota di negara berkembang. Kota di negara maju menempatkan ruang ekonomi sebagai sumber denyut nadi kota karena di dalam kota ini dapat diselenggarakan pasar dengan seminimal mungkin kontrol dari ruang politik, sehingga secara spasial seringkali dilakukan pemisahan tegas antara ruang ekonomi dengan ruang politik. Sedangkan kota di negara berkembang yang berkedudukan sebagai pusat-ruang kota adalah ruang politik dikarenakan seluruh aspek kehidupan warga kota, terutama kegiatan ekonomi, masih sangat membutuhkan dan bergantung pada peran pemerintah sebagai pembuat kebijakan, penarik serta penghubung dengan pemodal asing dan sebagai pelaku kegiatan ekonomi, sehingga seringkali ruang politik berdampingan erat bahkan terintegrasi dengan ruang ekonomi. 

Ruang ekonomi sebagai sumber denyut nadi kota dalam konsep Kota Barat menempatkan capaian ekonomi sebagai variabel untuk mengukur kondisi kota. Jika baik capaian ekonomi suatu kota, maka kondisinya dinyatakan sehat. Variabel ekonomi untuk menentukan tingkat kesehatan suatu kota terdiri dari variabel yang sifatnya abstrak dan variabel yang sifatnya fisik. Variabel abstrak terdiri dari tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat produksi, distribusi dan konsumsi, tingkat pendapatan perkapita penduduk, tingkat investasi dan perputaran modal dan sebagainya. Sementara variabel fisik terdiri dari intensitas kegiatan yang terjadi di ruang ekonomi, perwajahan ruang ekonomi dan akses serta jaringan ruang ekonomi. Dari variabel fisik tersebut terbentuk prinsip arsitektural bahwa semakin tinggi intensitas kegiatan ekonomi dan semakin kuat karakter perwajahan ruangnya serta semakin luas terhubung dengan ruang-ruang lainnya, maka semakin kuat denyut nadi ekonomi menopang keberlangsungan kehidupan kota, dan berarti semakin sehat pula kondisi kota tersebut.

Mekanisme gerak kota yang terjadi dengan ruang ekonomi sebagai sumber denyut nadi kota dapat digambarkan sebagai berikut. Pada proses pertama, kegiatan yang terjadi di ruang ekonomi akan mendenyutkan ruang-ruang lainnya, seperti ruang politik, ruang sosial, ruang pendidikan dan sebagainya. Dilanjutkan pada proses kedua, kegiatan yang terjadi di dalam ruang-ruang tersebut akibat denyut yang berasal dari ruang ekonomi akan memperkuat denyut nadi ruang ekonomi berupa peningkatan intensitas kegiatan. Contoh sederhananya, ruang ekonomi mendenyutkan ruang pendidikan untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) dengan keterampilan sesuai spesifikasi yang dibutuhkan ruang-ekonomi. Denyut tersebut berarti aliran modal dari ruang ekonomi yang memungkinkan ruang pendidikan melangsungkan kegiatannya. Selanjutnya ketersediaan SDM sebagaimana dibutuhkan ruang ekonomi diserap untuk keberlangsungan kegiatan dan peningkatan intensitas kegiatan ekonomi, sehingga capain ekonomi dapat ditingkatkan. Sampai di sini gerak kota memasuki proses ketiga di mana peningkatan intensitas kegiatan ekonomi mendorong dilakukannya perluasan ruang ekonomi dan peningkatan akses untuk memperluas pengaruh pusat-ruang kota.

Mekanisme gerak kota di atas menjelaskan bahwa tanpa denyut yang berasal dari ruang ekonomi, ruang-ruang lainnya tidak memiliki kehidupan, sehingga ruang-ruang lainnya sangat bergantung kepada ruang ekonomi sebagai pusat-ruang kota. Sementara di sisi lain, ruang ekonomi pun membutuhkan ruang-ruang lainnya berdasarkan peran masing-masing ruang dikaitkan dengan kegiatan ekonomi. Tetapi ketergantungn ruang ekonomi terhadap ruang selainnya tidak sekuat hubungan sebaliknya, terlebih pada masa kini ketergantungan ruang ekonomi terhadap ruang selainnya semakin lemah setelah ditemukan dan berkembangnya teknologi mesin-cerdas yang memungkinkan gerak di ruang ekonomi dapat dilakukan dengan jumlah SDM seminimal mungkin. Bahkan pada masa yang akan datang tidak tertutup kemungkinan ruang ekonomi akan bersifat otonom tanpa memiliki ketergantungan dengan ruang-ruang lainnya karena seluruh kerja manusia diambil alih oleh mesin-cerdas yang akan semakin menegaskan kedudukannya sebagai pusat-ruang kota dan sebaliknya ketergantungan ruang-ruang lainnya terhadap ruang ekonomi akan semakin kuat dan bersifat mutlak.

Kedudukan, formasi dan perwujuan arsitektural ruang ekonomi sebagai pusat-ruang berdasarkan konsep Kota Barat tidaklah bersifat statis karena mengalami perubahan serta perkembangan seiring gerak zaman. Secara historis perubahan dan perkembangan tersebut dapat diidentifikasi berdasarkan model Kota Barat sejak zaman modern hingga kontemporer yang terdiri dari Kota Modern, Kota Modern-Lanjut dan Kota Posmodern. Dimulai dari yang pertama, Kota Modern menerapkan model pembangunan Economic Development yang mengandalkan ruang ekonomi berwujud pabrik-pabrik skala besar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. Di Dunia Barat, Kota Modern mulai tumbuh pada Revolusi Industri karena kegiatan ekonomi yang berorientasi produksi massal baru dimungkinkan ketika mesin ditemukan dan digunakan dalam proses produksi serta dilakukannya Kolonialisme untuk mendapatkan dan menguasai bahan baku murah di wilayah jajahan. Sementara di belahan dunia lain yang terpengaruh Dunia Barat, terutama wilayah bekas jajahan, Kota Modern yang bergantung pada kegiatan ekonomi pabrik mulai tumbuh setelah berakhirnya Perang Dunia II yang merupakan fase maraknya negara-negara jajahan meraih kemerdekaan, termasuk Indonesia. Hanya membutuhkan waktu singkat bagi negara yang baru merdeka untuk menyerap dan meniru mode pembangunan yang diterapkan Dunia Barat dengan tujuan untuk membangkitkan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi pasca kolonialisasi. Percepatan pertumbuhan ekonomi bagi negara baru merdeka ditujuan untuk mencapai stabilitas politik, sehingga secara spasial pada kota di negara berkembang kegiatan ekonomi merupakan pendukung dari kegiatan politik, tidak sebaliknya sebagaimana terjadi pada kota di negara maju di mana kegiatan ekonomi justru menentukan arah dari kegiatan politik. 

Gambar 2: Kerja ekonomi di ruang pabrik yang berorientasi produksi massal sebagai pusat kegiatan dalam kehidupan warga Kota Modern. 

Pembangunan yang berasaskan faham Modernisme menyebabkan kerusakan di berbagai bidang kehidupan. Salah satu masalah yang disadari paling awal adalah masalah lingkungan akibat eksploitasi SDA untuk memenuhi angka produksi pabrik yang terus mengalami peningkatan seiring perluasan distribusi. Negara berkembang yang dahulunya merupakan negara jajahan penyedia bahan baku murah mengalami kerusakan alam yang hingga kini pun masih belum teratasi, bahkan setelah merdeka pun masih tetap berperan sebagai penyedia bahan baku murah untuk kota-kota industri besar di negara maju. Akibatnya ruang kota mengalami penurunan kualitas lingkungan hidup yang berpengaruh terhadap kualitas kehidupan warga kota. Penyebabnya tidak lain adalah polusi udara, air, tanah dan suara yang berasal dari ruang pabrik, terlebih posisinya sebagai pusat-ruang kota semakin mempercepat penyebaran polusi ke seluruh penjuru kota. Sebab ini pembangunan Economic Development dengan tujuan tunggal mencapai pertumbuhan angka ekonomi dinilai telah gagal, walaupun di satu sisi memberikan peningkatan kehidupan ekonomi, tetapi di sisi lain menyebabkan kerusakan lingkungan yang tidak dapat ditoleransi.

Gambar 3: Kota Tianying di Cina (atas) dan Kota New Delhi di India (bawah) dengan pusat-ruang kota berwujud ruang pabrik.

Terdapat dua faham yang melakukan kritik terhadap Modernisme dan berupaya menanggulangi kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh Modernisme. Yang pertama adalah faham Modernisme-Lanjut (Late-Modernism) sebagai kelanjutan dari faham Modernisme. Faham ini berpandangan bahwasanya Modernisme tidaklah gagal dan salah secara keseluruhan karena terdapat bagian-bagian baik yang harus dipertahankan dari Modernisme. Faham Modern-Lanjut melakukan kritik internal terhadap Modernisme dengan cara memperbaiki bagian-bagian yang buruk dan menyempurnakan bagian-bagian yang dinilai baik. Dalam bidang pembentukan dan pembangunan kota, faham Modernisme-Lanjut menerapkan model pembangunan Economic-Environmental Development sebagai kritik terhadap model pembangunan Economic Development yang diusung oleh Modernisme di mana capain ekonomi tetap menjadi tujuan utama, tetapi kali ini aspek lingkungan menjadi pertimbangan dalam menentukan kebijakan, strategi dan kegiatan ekonomi.

Secara spasial, dalam Kota Modern-Lanjut ruang ekonomi tetap menduduki posisi sebagai pusat-ruang kota. Yang membedakannya dengan Kota Modern adalah dalam pembangunan kota dan perwujudan fisik arsitekturalnya memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan hidup, di antaranya dengan memberi perhatian pada keberadan ruang terbuka hijau. Dari sini terbentuk formasi pusat-ruang Kota Modern-Lanjut di mana ruang ekonomi terintegrasi dengan ruang ekologi yang ditandai dengan hadirnya taman kota maupun hutan kota di sekitar ruang ekonomi dan ruang-ruang lainnya. Perbedaan selanjutnya dengan Kota Modern adalah untuk mengukur kondisi kota tidak saja berdasarkan variabel ekonomi, tetapi juga berdasarkan variabel ekologi yang di antaranya meliputi luasan ruang terbuka berbanding dengan luasan ruang terbangun, kondisi air tanah, penggunaan bahan ramah lingkungan, tingkat penggunaan energi ruang terbangun. Penetapan dua variabel tersebut untuk mengukur kondisi Kota Modern-Lanjut berdasarkan pada model Economic-Environmental Development yang menghendaki pertumbuhan dan perkembangan ekonomi harus selalu beriringan dengan peningkatan kualitas lingkungan hidup kota. Tidak akan bermakna capaian angka ekonomi jika dalam upaya mencapainya malah menyebabkan kerusakan lingkungan yang berakibat pada menurunnya kualitas kehidupan kota.

Gambar 4: Kota Sao Paulo di Brazil (atas) dan Kota Seoul di Korea Selatan (bawah) dengan pusat-ruang kota berwujud ruang perkantoran yang merupakan perluasan kegiatan ekonomi produksi di bidang jasa.

Gambar 5: Kota Osaka di Jepang (atas) dan Kota Seoul di korea Selatan (bawah) yang menjadikan ruang terbuka hijau sebagai pengikat ruang ekonomi perkantoran.

Perbedaan ketiga antara Kota Moden-Lanjut dengan Kota Modern adalah terjadinya perluasan kegiatan ekonomi. Dalam Kota Modern-Lanjut, ruang pabrik tetap dipertahankan sebagai ruang ekonomi, tetapi posisinya bergeser menempati wilayah-pinggiran kota agar secara spasial berjauhan dari ruang-ruang lainnya untuk meminimalkan pengaruh polusi dan pencemaran dari ruang pabrik terhadap kualitas kehidupan warga kota secara luas. Menggantikan posisi ruang pabrik, ruang ekonomi yang menempati lokasi-lokasi strategi di wilayah-dalam kota diduduki oleh ruang perkantoran dan perbelanjaan modern. Kehadiran ruang perkantoran di Kota Modern-Lanjut yang bergerak di bidang jasa merupakan perluasan kegiatan ekonomi dalam aspek produksi yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada ruang pabrik yang terspesialisasi melakukan produksi barang, sementara kehadiran ruang perbelanjaan modern merupakan perluasan kegiatan ekonomi yang berorientasi pada aspek konsumsi. Perbedaan terakhir antara kedua kota ialah mengenai ruang dominan yang mendominasi wajah kota. Dalam Kota Modern yang mendominasi wajah kota adalah ruang pabrik, sedangkan dalam Kota Modern-Lanjut yang mendominasi wajah kota adalah ruang perkantoran. Ruang pabrik tidak lagi mendominasi wajah kota dikarenakan posisinya bergeser menempati wilayah-pinggiran kota dan secara kuantitas mengalami penurunan dibandingkan seiring pesatnya pertumbuhan ruang perkantoran yang menandai pergeseran dari ekonomi produksi barang menjadi ekonomi produksi jasa. 

Selain Modernisme-Lanjut, faham kedua yang melakukan kritik dan berupaya menggantikan Modernisme ialah faham Posmodernisme. Tidak sebagaimana Modernisme-Lanjut yang melakukan kritik internal dan merupakan kelanjutan dari Modernisme, Posmodernisme justru mengambil posisi sebagai anti-tesis terhadap Modernisme berdasarkan penilaian bahwasanya Modernisme telah mengalami kegagalan disebabkan keseluruhan bagiannya buruk, sehingga tidak terdapat satu bagian pun dari Modernisme yang dapat diterima dan dipertahankan. Walaupun mengambil posisi sebagai anti-tesis, dalam pembentukan dan pembangunan kota yang menerapkan model Sustainable Development, faham Posmodernisme tetap menetapkan ruang ekonomi sebagai pusat-ruang kota. Perbedaannya dengan dua kota sebelumnya adalah Kota Posmodern memiliki tiga ruang pembentuk pusat-ruang kota, yakni ruang ekonomi, ruang sosial dan ruang ekologi yang ketiganya terintegrasi untuk memberi kehidupan pada kota dengan cara secara bersama-sama mendenyutkan ruang-ruang lainnya.

Kehadiran ruang sosial sebagai pusat-ruang Kota Posmodern didasari pandangan bahwasanya Modernisme tidak saja menyebabkan bencana lingkungan disebabkan eksploitasi alam untuk mendapatkan bahan baku produksi, tetapi juga menyebabkan bencana kemanusiaan karena untuk memenuhi angka produksi dilakukan dengan melakukan eksploitasi pekerja dalam bentuk jam kerja yang tinggi, upah kerja yang rendah, ketiadaan jaminan kerja dan lingkungan kerja yang tidak sehat. Eksploitasi manusia yang terjadi di ruang ekonomi mempengaruhi kualitas kehidupannya di ruang-ruang lain. Beban kegiatan ekonomi yang tinggi menyebabkan keretakan rumah tangga di ruang hunian dan runtuhnya soliditas masyarakat di ruang sosial serta meningkatnya kegiatan di ruang kesehatan akibat lingkungan kota yang tidak sehat. Dihadirkannya ruang sosial sebagai sumber denyut nadi Kota Posmodern merupakan upaya menumbuhkan kembali vitalitas sosial warga kota agar tercipta kehidupan sosial yang plural, selain ruang ekologi yang bertujuan untuk mengatasi berbagai kerusakan lingkungan dan ruang ekonomi karena bagaimanapun sebuah kota tidak dapat bergerak jika tidak memiliki kekuatan ekonomi yang menopang seluruh gerak ruang-ruang lainnya.

Gambar 6: Kota Las Vegas (atas) dan Kota New York (bawah) di Amerika Serikat dengan perwajahan didominasi ruang ekonomi konsumsi berwujud ruang hiburan dan ruang perbelanjaan modern.

Perbedaan selanjutnya antara Kota Posmodern dengan dua kota sebelumnya terdapat pada formasi dan perwujudan fisik pusat-ruang kota. Dilihat dari aspek formasinya, Kota Posmodern dengan tiga ruang terintegrasi sebagai sumber denyut nadi kota tidak saja mengalami perluasan pusat-ruang secara dimensional, tetapi juga secara fungsional. Konsekuensi logisnya terdapat pada dua hal. Pertama, intensitas kegiatan di pusat-ruang kota semakin tinggi, sehingga menuntut kuantitas dan kualitas akses yang semakin tinggi agar tidak terjadi kemacetan yang dapat menyebabkan terhambatnya bahkan terhentinya kegiatan di pusat-ruang kota. Kedua, dengan bertambahnya pusat-ruang kota secara fungsional maka bertambah pula variabel untuk mengukur kondisi Kota Posmodern, yakni terdiri dari variabel ekonomi, ekologi dan sosial. Sehingga dalam Kota Posmodern, sehatnya kondisi kota tidak saja bersandarkan pada capaian ekonomi dan kondisi lingkungan hidup, tetapi juga capaian sosial. Tidaklah bermakna capaian ekonomi jika tidak beriringan dengan capaian sosial dan lingkungan hidup.

Sementara dilihat dari aspek perwajahannya, pusat-ruang kota Kota Posmodern memiliki kesamaan perwujudan fisik dengan Kota Modern-Lanjut di mana ruang pabrik mengalami pergeseran menempati wilayah-pinggiran kota, sedangkan ruang ekonomi di wilayah-dalam kota ditempati ruang perkantoran dan ruang perbelanjaan modern. Perbedaannya terdapat pada dominasi ruang perbelanjaan modern yang menempati ruang ekonomi di wilayah-dalam kota sebagai akibat dari pergeseran orientasi kegiatan ekonomi dalam pandangan faham Posmodernisme yang menekankan pada aspek konsumsi. Sementara ruang sosial yang menjadi ciri khas pusat-ruang Kota Posmodern berwujud ruang-ruang komunal, baik di dalam bangunan maupun di luar bangunan, yang diperuntukkan untuk bertemu, saling mengenal dan berkomunikasinya antar warga kota dari berbagai kelas ekonomi, kedudukan sosial, etnis, ras dan agama sebagai upaya menciptakan kehidupan kota yang plural dari segi sosial kemasyarakatannya. Untuk menyatukan warga kota dalam ruang sosial yang sama, ruang komunal dibentuk dengan citra hiburan karena dalam pandangan Posmodernisme, hanya ruang demikian yang memungkinkan warga kota untuk berkumpul tanpa memandang status sosial, ekonomi, ras, etnis dan agama.

Tiga ruang pembentuk pusat-ruang Kota Posmodern secara formasi spasial dapat terpisah atau melebur menjadi satu bentukan ruang baru. Formasi terpisah ditandai dengan batas-batas tegas yang memisahkan antara ruang ekonomi, ruang ekologi dan ruang sosial. Walapun ketiga ruang tersebut terpisah secara fisik, tetapi terintegrasi melalui akses sirkulasi agar warga kota dapat berkegiatan di tiga ruang yang merupakan pusat-ruang kota sebagai kesatuan proses kegiatan. Contoh penerapan model formasi ini adalah ruang perkantoran yang dipisahkan dari ruang perbelanjaan dengan keberadaan ruang terbuka hijau berupa taman kota di antara keduanya. Sedangkan formasi melebur merupakan ciri khas Kota Posmodern yang tidak dimiliki dua kota sebelumnya di mana ruang perbelanjaan, ruang perkantoran, ruang ekologi dan ruang sosial melebur menjadi sebuah ruang baru. Salah satu perwujudan ruang dengan formasi melebur adalah Mall yang tidak hanya mewadahi kegiatan jual-beli, tetapi juga mewadahi kegiatan sosial dan memiliki ruang ekologinya sendiri yang terintegrasi dengan ruang ekonomi dan ruang sosial. Keuntungan yang didapatkan warga kota dari formasi ruang melebur adalah dapat melakukan ragam kegiatan sekaligus di dalam satu ruang tanpa harus melakukan mobilisasi spasial berpindah antar bangunan, sehingga kegiatan yang dilakukan menjadi lebih efisien.

Gambar 7: Kota Batu Malang dengan perwajahan didominasi ruang rekreasi sekaligus ruang sosial yang terintegrasi dengan ruang Masjid.

Ruang ekonomi dalam konsep Kota Barat, walaupun seiring gerak zaman mengalami perubahan dan perkembangan, tetapi kedudukannya tetap tidak tergoyahkan sebagai pusat-ruang kota. Hal ini berangkat dari pandangan-alam Barat Modern mengenai manusia yang diistilahkannya dengan Homo Economicus dan pandangan-alam Barat Posmodern yang memandang manusia sebagai Homo Ludens. Homo Economicus ialah pandangan bahwasanya hakikat kehidupan manusia adalah persoalan ekonomi. Pandangan ini bersandarkan pada pengenalan bahwasanya hakikat manusia adalah tubuh dan tubuh manusia memiliki serangkaian kebutuhan untuk mempertahankan kehidupannya. Pemenuhan kebutuhan tubuh manusia dicapai dengan melakukan kerja ekonomi yang bersifat pragmatis dalam artian kerja yang berguna bagi manusia adalah yang dapat memenuhi kebutuhan ekonominya sebagai syaat untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya. Sehingga dalam pandangan Homo Economicus, pemenuhan kebutuhan ekonomi, kerja ekonomi dan capaian ekonomi bersifat primer untuk mempertahankan kehidupan dirinya yang tidak lebih dari tubuh.

Cara pandang demikian terhadap manusia mengandaikan bahwa hidup manusia lekat dengan perjuangan untuk memiliki dan menguasai sumber daya dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi. Prinsipnya, siapa yang mampu memiliki dan menguasai sumber daya, maka ialah yang mampu memenuhi kebutuhan ekonominya. Berdasarkan pada pandangan inilah Kota Modern dan Kota Modern-Lanjut dibentuk untuk mewadahi manusia yang orientasi kehidupannya adalah memenuhi kebutuhan ekonomi yang tercermin dari keberadaan ruang ekonomi produksi untuk melakukan kerja ekonomi dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi, baik dengan cara menjual tenaga dan waktu bagi pekerja maupun dengan cara menjual barang hasil produksi bagi pemilik ruang ekonomi serta keberadaan ruang ekonomi konsumsi untuk memenuhi kebutuhan tubuh manusia terhadap barang-barang yang diperlukannya dalam rangka menjaga keberlangsungan hidup.

Disebabkan keterbatasan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, maka peluang terjadinya konflik antar manusia untuk memperebutkan sumber daya selalu mungkin terjadi dan terbuka lebar. Dalam konteks spasial ruang kota, perebutan ruang ekonomi terjadi di antara pemilik modal untuk menguasai pusat-ruang kota dengan cara memiliki ruang ekonomi seluas mungkin. Sehingga pihak penguasa kota dalam Kota Modern dan Modern-Lanjut merupakan pihak yang memiliki modal paling besar yang dapat diidentifikasi dari luasan, perwajahan dan akses ruang ekonomi yang dimilikinya di pusat-ruang kota. Dengan kata lain, siapa yang memiliki pabrik maupun perkantoran terbesar di pusat-ruang kota dengan perwajahan paling kuat secara karakter visual dan terhubung dengan akses paling luas, maka dialah penguasa sumber daya kota dan secara spasial menguasai ruang kota yang memiliki kuasa mendenyutkan ruang-ruang lainnya untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.

Berbeda asas filosofis dengan Kota Modern dan Kota Modern-Lanjut, Kota Posmodern dibentuk berasaskan pandangan-alam bahwasanya manusia merupakan Homo Ludens yang hakikat kehidupannya adalah bermain-main untuk mencapai kesenangan. Berbeda dengan Homo Economicus yang bersandarkan pada rasionalitas dalam memenuhi kebutuhan ekonominya, Homo Ludens memenuhi kebutuhan ekonomi dengan melepaskan hasrat secara berterusan yang mendapatkan realisasinya dalam kegiatan konsumsi. Oleh karena itu Homo Ludens menuntut kerja ekonomi yang dilakukan memiliki dimensi kesenangan dan setiap pemenuhan kebutuhan ekonomi memiliki dimensi kenikmatan. Contoh sederhana soal kegiatan makan, bagi Homo Economicus yang dipentingkan adalah makanan itu sendiri sebagai sumber daya yang harus dimiliki agar kegiatan makan dapat dilakukan sehingga kebutuhan tubuh terhadap makan dapat dipenuhi. Sedangkan bagi Homo Ludens, persoalan makan tidak cukup hanya dengan memiliki sumber daya karena kegiatan makan tidak saja berkaitan dengan makanan itu sendiri, tetapi makanan tersebut haruslah nikmat dikecap lidah, nikmat dipandang, nikmat disentuh dan semisalnya. Dimensi kesenangan dan kenikmatan ini menjadi primer dalam kehidupan Homo Ludens.

Perwujudan konsep Homo Ludens secara spasial dalam Kota Posmodern adalah ruang kota, terutama pusat-ruangnya, erat dengan citra hiburan, kesenangan dan kenikmatan karena yang dibutuhkan manusia terhadap ruang kota tidak saja ruang itu sendiri yang digunakannya untuk melangsungkan kegiatan, tetapi juga perwujudan fisiknya secara visual sebagai stimulus untuk warga kota mencapai kenikmatan inderawi dan emosional. Atas dasar pandangan ini Kota Posmodern tampil dalam perwujudannya yang rekreatif sebagai ciri khas kegiatan ekonomi konsumsi yang menjadi orientasi kehidupan warga kotanya. Citra ini berbeda dengan Kota Modern dan Kota Modern-Lanjut yang dalam pembentukan kotanya memiliki pertimbangan rasionalitas, sehingga menampilkan citra formal dan efisien yang merupakan ciri khas kegiatan ekonomi produksi.

Demikianlah konsep Kota Barat meliputi formasi pusat-ruang kota, perwajahan dan mekanisme gerak ruang kota serta perwujudannya secara historis dalam model Kota Modern, Kota Modern-Lanjut dan Kota Posmodern yang dibentuk oleh pandangan-alam Barat mengenai manusia. Pertanyaan selanjutnya adalah seperti apa konsep Kota Islam yang berasaskan pandangan-alam Islam mengenai manusia? Apakah dari aspek sumber denyut nadinya memiliki kesamaan dengan Kota Barat ataukah memiliki ciri khas yang membedakannya dengan kota selainnya? Lalu di manakah letak kesamaan dan perbedaannya dengan konsep Kota Barat sebagaimana telah dijelaskan pada bagian ini? 

B. Konsep Kota Islam

Sebelum dijelaskan mengenai penerapan pendekatan Fungsionalisme untuk menjelaskan konsep Kota Islam, terlebih dahulu harus dijelaskan mengenai konsep kebahasaan untuk menyebut kota dalam pandangan-alam Islam karena di dalamnya termuat variabel dan indikator Kota Islam yang menjadi dasar dari bentukan struktur Kota Islam. Dalam tradisi Islam, secara kebahasaan kota disebut dengan Madiinah yang dipertentangkan dengan Qaryah yang berarti desa. Dalam penjelasannya nanti, konsep Madiinah inipun akan berkaitan erat dengan konsep manusia menurut pandangan-alam Islam, sehingga pembandingannya dengan konsep Kota Barat yang berasaskan pada pandangan-alam Barat mengenai manusia dapat dilakukan karena memiliki kesejajaran. Lalu bagaimana makna Madiinah dan Qaryah menurut pandangan-alam Islam?

Prof. Syed Naquib Al-Attas memaparkan bahwasanya konsep Madiinah berkaitan erat dengan konsep Diin. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menyatakan, secara istilah Madiinah merupakan bentuk kata tempat (ism al-makan) dari Diin di mana secara historis kata Diin lebih dahulu terbentuk daripada kata Madiinah. Sementara secara maknanya, Syed Naquib Al-Attas menyatakan “al-Madiinah disebut dan dinamakan demikian karena di sanalah Diin yang benar-benar tegak untuk umat manusia. Di sana orang yang beriman menghambakan diri di bawah otoritas dan kuasa hukum Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, di sanalah kesadaran akan keberhutangan dengan Allah mengambil bentuknya yang pasti dan cara serta kaidah pembayarannya yang disetujui mulai diterangkan dengan jelas”. Makna Madiinah demikian, selain merujuk pada aspek kebahasaannya, Syed Naquib Al-Attas juga merujuk aspek historisnya pada sejarah hidup Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang telah merubah nama Yatsrib menjadi Madiinah dan belakangan lebih dikenal dengan nama Madiinatul Nabiy. Bagi Syed Naquib Al-Attas, hijrah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dari Mekah ke Madinah dan bermukimnya beliau beserta para sahabat di Madinah serta dibangunnya pertama kali masyarakat Muslim di sana merupakan era baru dalam sejarah manusia. Dari pernyataan Syed Naquib Al-Attas tersebut, Madinah secara historis dapat diartikan sebagai ruang kehidupan yang telah wujud di dalamnya masyarakat Muslim pertama sebagai warga kotanya.

Dari segi kebahasaan sudah terlihat perbedaan secara diametral antara konsep Kota Islam dengan konsep Kota Barat. Yang pertama menggunakan istilah Madiinah untuk penyebutan kota yang berkaitan erat dengan Diin di mana yang dimaksud dengan Diin tidak lain adalah Islam yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Sedangkan yang kedua memiliki beberapa istilah untuk menyebut kota berdasarkan jumlah penduduk yang bermukim di dalamnya, yakni Town untuk menyebut kota dengan jumlah penduduk 20.000-50.000 orang, City untuk jumlah penduduk 50.000-100.000 orang dan Metropolitan untuk jumlah penduduk lebih dari 100.000 orang. Dari peristilahan yang digunakan, konsep Kota Islam sangat lekat dengan dimensi spiritualitas sedangkan konsep Kota Barat sangat lekat dengan dimensi sosiologis-demografis. 

Dalam penjelasannya mengenai konsep Madiinah, Syed Naquib Al-Attas mengkaitkannya dengan keberhutangan yang merujuk pada makna Diin, yakni keadaan berhutang. Beliau melandaskan makna tersebut pada Daana yang merupakan kata kerja dari Diin. Pertanyaannya, hutang apa yang dimaksud? Dan kepada siapa manusia berhutang? Syed Naquib Al-Attas menjelaskan bahwasanya manusia telah berhutang kepada Allah karena Allah sebagai Sang Pencipta dan Sang Pemelihara telah menjadikan manusia ada setelah sebelumnya tidak ada. Dengan kata lain, manusia berhutang keberadaan dirinya kepada Allah di mana sebelumnya manusia dalam status tidak ada. Manusia tidak dapat menisbatkan keberadaan dirinya kepada kedua orangtuanya, bahwa orangtuanyalah yang menjadikannya ada dari tidak ada, karena dirinya mengetahui bahwa kedua orangtuanya pun memiliki hutang yang sama kepada Allah. 

Selanjutnya Syed Naquib Al-Attas menyatakan bahwa manusia dalam keadaan berhutangnya kepada Allah berada dalam kerugian yang sangat dikarenakan dirinya tidak memiliki apapun, sebab segala sesuatu tentang dirinya, apa yang ada pada dirinya dan darinya, seluruhnya adalah milik Allah sebagai Sang Pencipta Yang Memiliki segala sesuatu. Lalu dengan apa manusia membayar hutangnya kepada Allah sementara dirinya tidak memiliki apapun? Syed Naquib Al-Attas menyatakan, bahwa hanya dengan dirinyalah manusia dapat membayar hutangnya, yakni dengan mengembalikan dirinya kepada Allah Yang Memiliki dirinya secara mutlak. Beliau berkata, “mengembalikan hutang bermakna dirinya dalam keadaan berkhidmat atau menghambakan diri kepada Allah. Untuk merendahkan dirinya di hadapan-Nya, maka seorang manusia yang terbimbing dengan benar secara tulus dan sadar mengabdikan dirinya hanya kepada Allah dengan mematuhi Perintah-Nya, Larangan-Nya, Peraturan-Nya dan dengan demikian ia menghidupkan Hukum-Nya”. 

Selain itu Syed Naquib Al-Attas dalam menjelaskan konsep Madiinah mengkaitkannya dengan penghambaan diri di bawah otoritas dan kuasa hukum. Maksud dari perkataan beliau sangat berkaitan dengan penejelasan sebelumnya di mana dalam keadaan berhutang, manusia semestinya menundukkan dirinya, yakni berserah dan taat kepada hukum dan aturan berhutang dan kepada pemberi hutang yang tidak lain adalah Allah. Berdasarkan penjelasan ini, Syed Naquib Al-Attas menyatakan bahwa kata Diin yang memiliki kaitan erat dengan kata Danaa yang berarti keadaan berhutang menggambarkan dalam alam fikiran suatu kehidupan bermasyarakat yang diatur dengan hukum, peraturan, keadilan dan otoritas. Secara spasial kondisi demikian adalah ciri khas dari kehidupan kota yang merupakan ruang hidup bersama bagi kumpulan individu manusia dengan seperangkat peraturan dan hukum untuk mencapai kehidupan yang adil. Pandangan ini mendapatkan legitimasinya dari segi kebahasaan sebagaimana dinyatakan oleh Syed Naquib Al-Attas bahwa terdapat keterkaitan erat antara Diin, Daana dan Madiinah dengan Maddana yang bermakna membangun, membina kota, membangun peradaban, memurnikan, memanusiakan. 

Berdasarkan penjelasan konsep Madiinah dari aspek kebahasaannya, secara arsitektural Madiinah dapat diartikan sebagai ruang kehidupan dalam wujud kota di mana manusia yang menghuninya memiliki kesadaran akan status dirinya yang berhutang kepada Allah. Di dalam ruang kota yang disebut Madiinah itulah manusia berupaya membayar hutang melalui penyerahan dan penghambaan dirinya kepada Allah dengan cara-cara yang dikehendaki oleh-Nya. Sehingga Madiinah sebagai ruang hidup dan berkehidupan dalam skala individu dihuni oleh manusia yang terhubung erat dengan Allah dalam hubungan antara pihak yang berhutang dengan pihak pemberi hutang dan dalam skala sosial kemasyarakatan merupakan kumpulan individu yang diatur oleh perintah, peraturan dan hukum yang ditetapkan oleh Allah. Singkatnya, Madiinah adalah ruang kota di mana Diin diterapkan dari skala individu-personal hingga skala sosial-komunal. Dari penjelasan ini dapat ditentukan variabel dan indikator Kota Islam bukanlah aspek ekonomi dengan indikator kemajuan capaian ekonomi sebagaimana konsep Kota Barat, tetapi aspek kualitas diri manusia dengan indikator keshalihan diri secara menyeluruh meliputi keshalihan pribadi dan keshalihan sosial.

Dengan variabel dan indikator di atas, untuk mengukur kondisi kesehatan Madiinah bukanlah melalui capaian-capaian ekonomi yang berbanding lurus dengan monumentalitas dan kemegahan perwujudan fisik ruang-ruang kotanya, terkhusus pusat-ruang kota yang merupakan sumber denyut nadi bagi kehidupan kota, tetapi dengan cara mengetahui tingkat keshalihan warga kotanya. Jika terpenuhi indikator tersebut, maka suatu kota disebut dengan Madiinah, walaupun dari segi lokasi berada di wilayah pedalaman dengan akses yang tidak mudah dan dari segi perwujudan fisiknya sangat sederhana layaknya perkampungan. Sebaliknya, suatu kota yang dirancang tidak berdasarkan pada variabel dan indikator Madiinah dan dalam kehidupan kota tersebut tidak berupaya memenuhi indikator keshalihan manuia, walaupun kota tersebut merupakan bagian dari negara adi-kuasa dengan akses yang begitu mudah dari berbagai penjuru arah, memiliki teknologi terkini, menjadi pusat pengkajian IPTEK, merupakan salah satu kota di dunia dengan pertumbuhan ekonomi terbaik, dan perwujudan ruang-ruangnya berupa arsitektur terkini, maka dalam pandangan-alam Islam kota demikian tidaklah dapat disebut Madiinah, tetapi disebut dengan Qaryah yang secara kebahasaan berarti desa. Ruang hidup yang ditempati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat disebut Madiinah karena kualitas manusia yang menghuninya, walaupun dari capaian ekonomi, luas wilayah dan pewajahan arsitekturnya tidak dapat dibandingkan dengan Persia maupun Romawi. Sedangkan dua kota yang terakhir disebut dengan Qaryah tidak lain karena manusia yang menghuninya ingkar kepada kebenaran yang datang dari Allah, walaupun pada zamannya kedua kota tersebut merupakan tolak ukur kemajuan bagi kota-kota lainnya. 

Berdasarkan penjelasan konsep Madiinah secara kebahasaan dan historis, pendekatan Fungsionalisme yang notabene dirumuskan oleh kalangan Barat untuk memahami struktur ruang kota tidak dapat diserap begitu saja. Hal pertama yang harus disesuaikan adalah pengandaian kota sebagai organisme di mana dalam pendekatan Fungsionalisme yang tidak dapat dilepaskan dari pandangan-alam Barat, organisme yang dimaksud adalah sebuah entitas berdimensi fisik. Pengandaian ini tidak dapat diterima dalam pandangan-alam Islam karenanya tidak dapat diterapkan untuk memahami struktur ruang Madiinah. Berdasarkan maknanya yang khas dan darinya diderivasi variabel dan indikator Madiinah, ruang kota Madiinah hanya tepat jika diandaikan dengan manusia sepenuhnya yang memiliki dimensi fisik berupa tubuh dan dimensi metafisik berupa jiwa dan ruh, sehingga struktur kota Madiinah sebagai organisme merupakan cerminan dari struktur manusia penguninya yang memiliki organ fisik dan organ metafisik. Terjemahannya secara arsitektural, kota Madiinah tidak saja dibentuk oleh ruang-ruang untuk manusia memenuhi kebutuhan tubuhnya, tetapi juga memiliki ruang-ruang untuk manusia memenuhi kebutuhan jiwa dan ruhnya. 

Mengandaikannya dengan diri manusia sepenuhnya menjadikan struktur kota Madiinah berbeda dengan konsep Kota Barat yang hanya dibentuk oleh ruang-ruang untuk manusia memenuhi kebutuhan tubuhnya berdasarkan pandangan-alamnya terhadap organisme. Oleh karena itu dalam Kota Modern dan Kota Modern-Lanjut, ruang ibadah yang merupakan kebutuhan bagi jiwa dan ruh manusia yang bersifat metafisik tidak diakomodasi kehadirannya. Kalaupun tersedia ruang ibadah, kehadirannya bersifat sporadis karena tidak merupakan bagian dari perencanaan pembentukan kota, sehingga kehadiran ruang ibadah seringkali menempati ruang-ruang sisa yang tidak strategis. Selain itu dikarenakan perwujudan fisiknya tersembunyi dan secara karakter visual kalah kuat dibandingkan ruang ekonomi maka ruang ibadah tidak mampu membentuk wajah dan citra ruang kota. Kota-kota di Indonesia yang menjadikan Kota Modern atau Kota Modern-Lanjut sebagai model pembentukan spasial perkotaannya memperlihatkan dengan jelas permasalahan ini di mana ruang ibadah tidak ditempatkan pada ruang-ruang strategis yang mudah dikenali dan dilalui oleh warga kota dalam kegiatan kesehariannya serta tidak pula ditempatkan sebagai fungsi utama di pusat-ruang kota. 

Dalam Kota Posmodern, keberadaan ruang ibadah mendapatkan perhatian dalam pembentukan kota berasaskan pada pandangan-alam Posmodernisme yang mengakui kebermanfaatan agama bagi manusia. Bagi Homo Ludens, pengakuannya terhadap peran agama hanyalah sebatas dimensi penanda berkaitan dengan simbol-simbol identitas keagamaan, sehingga dalam pandangan Homo Ludens ruang ibadah tidak lebih dari arena permainan identitas keagamaan. Salah satu perwujudannya secara arsitektural berdasarkan pandangan demikian adalah ruang ibadah yang terintegrasi dan merupakan kesatuan dari ruang-ruang hiburan seperti ruang wisata dengan kedudukan ruang ibadah untuk menarik kedatangan wisatawan. Untuk mencapai tujuan tersebut, perwajahan ruang ibadah dibentuk oleh citra hiburan hingga lepas dari kesan spiritual dan sakral. Fenomena ini mulai muncul di Indonesia di mana kehadiran ruang Masjid diperuntukkan pula sebagai objek wisata bagi kalangan umum untuk mewadahi kegiatan foto-foto, mengamati kota dari ketinggian melalui minaret Masjid, tamasya di taman masjid yang seluruh kegiatan tersebut jauh dari suasana religiusitas dan spiritualitas. 

Pembentukan struktur dan formasi pusat-ruang Madiinah sebagai denyut nadi kota untuk memenuhi indikatornya berdasarkan pada struktur diri manusia yang terdiri dari dimensi fisik dan metafisik di mana dimensi metafisik yang meliputi jiwa dan ruh menempati kedudukan lebih tinggi karena merupakan hakikat diri manusia. Atas dasar ini, sumber denyut nadi bagi kehidupan Madiinah adalah ruang Masjid dan ruang pendidikan yang keduanya merupakan ruang-ruang untuk manusia memenuhi kebutuhan spiritual. Dikaitkan dengan indikator Madiinah, penetapan ruang Masjid dan ruang pendidikan sebagai sumber denyut nadi Madiinah memiliki landasan teologis dan historis. Secara teologis, keshalihan warga kota sebagai indikator Madiinah mensyaratkan dimilikinya iman dan keimanan mensyaratkan dikuasainya ilmu dikarenakan untuk menumbuhkan iman dibutuhkan ilmu, sehingga tanpa ilmu tidak dimungkinkan hadirnya iman dalam diri seseorang. Setelah tumbuhnya iman dalam diri, sebagai syarat diakuinya keberimanan seseorang, iman haruslah ditampakkan dalam wujud perilaku. Pandangan ini menegaskan bahwasanya terdapat keterkaitan yang kuat antara keimanan yang bersemayam di dalam hati seseorang dengan perilaku yang bersifat lahiriyah. Berdasarkan pandangan ini pula tingkat keimanan seseorang dapat diukur melalui perilaku yang ditampakkannya dikarenakan perilaku merupakan cerminan dari kondisi keimanan seseorang. Dengan ditetapkannya perilaku sebagai tolak ukur, maka indikator Madiinah menjadi semakin konkret dibandingkan indikator keshalihan warga kota yang masih terbilang abstrak, sehingga dapat dijadikan panduan dalam perencanaan kota dan alat ukur dalam penelitian yang bersifat evaluatif.

Keshalihan tidaklah sekedar mencakup perilaku yang baik. Ilmu yang menumbuhkan iman pada mulanya akan merubah kondisi bathin seseorang menjadi baik. Dari kondisi bathin yang baik barulah dimungkinkan lahirnya perilaku yang baik. Tidak dimungkinkan terwujudnya perilaku yang baik secara lahiriyah jika kondisi bathin seseorang tidak baik, sehingga tidak dapat diterima akal sehat jika seseorang menyatakan telah berbuat kebaikan tetapi dirinya tidak beriman dan tidak pula dapat diterima akal sehat jika seseorang mengaku beriman tetapi keimanannya tidak ditunjukannya dalam perilaku kesehariannya atau perilaku yang ditampakkannya bertentangan dengan pengakuan keimanan yang dilontarkannya. Dari sini dapat ditarik simpulan bahwasanya keshalihan meliputi kebaikan bathin dan kebaikan lahir, kebaikan perilaku bathin dan kebaikan perilaku lahir. Singkatnya, yang dimaksud dengan keshalihan dalam pandangan-alam Islam adalah baiknya kondisi manusia secara keseluruhan. 

Kembali pada pembahasan pusat-ruang Madiinah. Secara arsitektural, iman dan ilmu sebagai syarat keshalihan ditandai dengan keberadaan ruang Masjid dan ruang pendidikan. Ruang masjid merupakan ruang khas milik umat Islam sebagai perwujudan keimanannya kepada Allah yang ditujukan untuk mewadahi kegiatan ibadah, baik dalam arti sempit meliputi ibadah maghdah maupun dalam arti luas di mana kegiatan pendidikan merupakan bagian darinya dan ruang pendidikan untuk mewadahi kegiatan yang berkaitan dengan ilmu dan pengajaran. Konsep keshalihan secara teologis yang diterjemahkan secara spasial dalam ruang kota menjadi ruang Masjid dan ruang pendidikan telah direalisasikan oleh Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam di dalam Madiinah. Pada awalnya, Masjid Rasul difungsikan sebagai tempat melangsungkan kegiatan ibadah yang mensyaratkan iman dan kegiatan pendidikan yang merupakan syarat bagi tumbuhnya iman. Kedua kegiatan tersebut; beribadah dan menuntut ilmu, diwadahi dalam ruang yang sama karena saling berkaitan untuk membentuk keshalihan manusia, selain dikarenakan Rasulullah Shallallahu Alihi Wassalam dan para sahabat datang ke Madiinah dalam kondisi berhijrah yang menyebabkannya tidak memiliki sumber daya cukup untuk menghadirkan ruang dalam jumlah yang memadai.

Gambar 8: Kota Madinah tahun 1917 (atas) dan Kota Yerusalem tahun 1890 (bawah) yang merupakan kota suci bagi umat Islam dengan perwajahan didominasi ruang Masjid yang juga mewadahi kegiatan pendidikan sebagai pusat-ruang kota.

Seiring gerak umat Islam membangun peradabannya, ruang Masjid mengalami perluasan dengan hadirnya ruang kelas untuk mewadahi kegiatan pendidikan, sehingga ruang yang diperuntukkan untuk ibadah maghdah terpisah secara tegas dengan ruang pendidikan, tetapi keduanya masih berada di dalam area Masjid. Pada fase selanjutnya, ruang pendidikan menjadi ruang mandiri di luar Masjid dan terpisah secara tegas dengan ruang Masjid yang disebut dengan Madrasah dan Kulliyah, walaupun keduanya tetap terintegrasi kuat melalui akses sirkulasi yang saling terhubung dan jarak yang berdekatan. Dari kesejarahannya tersebut, terdapat tiga formasi ruang Masjid dan ruang pendidikan yang dapat digunakan untuk keperluan masa kini dalam membentuk formasi pusat-ruang Madiinah sesuai dengan kebutuhan dan konteks kehidupan masing-masing ruang kota, yakni (1) ruang Masjid dan ruang pendidikan yang saling melebur; (2) ruang pendidikan di dalam ruang Masjid; dan (3) ruang Masjid dan ruang pendidikan yang saling terpisah secara fisik tetapi terintegrasi melalui jalur sirkulasi dan jarak yang berdekatan.

Jika dikaji dengan pendekatan historis yang merujuk pada gerak kehidupan Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, pusat-ruang Madiinah selain ruang Masjid dan ruang pendidikan ialah ruang hunian. Penerapan ruang hunian sebagai pusat-ruang Madiinah mendapatkan legitimasinya dari tauladan Rasulullah Shallallahu Alihi Wasallam. Persoalan pertama yang diperhatikan dan diselesaikan oleh beliau Shallallahu Alaihi Wasallam sebelum mendirikan ruang Masjid yang juga difungsikan sebagai ruang pendidikan adalah menjamin para sahabat Muhajirin memiliki ruang hunian dengan cara mempersaudarakannya dengan sahabat Anshar. Prioritas Rasulullah tentu saja beralasan dikarenakan ruang hunian merupakan kebutuhan mendasar dan mendesak yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Bagi tubuh manusia, ruang hunian berfungsi untuk melindunginya dari berbagai ancaman dan marabahaya seperti hujan yang terlampau deras dan sinar matahari yang menyengat serta untuk melakukan kegiatan berkaitan dengan kebutuhan tubuh seperti tidur dan bersuci atau membersihkan tubuh. Sementara bagi jiwa manusia, dimilikinya ruang hunian menjadikan dirinya tenang karena hunian merupakan ruang privasi yang dibutuhkan oleh setiap jiwa manusia, terlebih bagi kalangan sahabat Muhajirin yang baru saja berhijrah tanpa membawa harta benda bahkan sanak keluarga, sehingga kebutuhan terhadap ruang hunian dan persaudaraan menjadi semakin mendesak untuk dipenuhi agar jiwanya kembali tenang.

Tidak hanya sekali Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengutamakan terpenuhinya kebutuhan ruang hunian yang mempertegas kedudukan ruang hunian dalam pandangan beliau. Seiring bertambahnya jumlah manusia yang memeluk Islam dan berkhidmat ikut serta dalam perjuangan dakwah dan seiring banyaknya umat Islam yang menyusul beliau hijrah ke Madiinah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk kedua kalinya berupaya memenuhi kebutuhan ruang hunian bagi sahabatnya dengan menyediakan ruang di bagian belakang Masjid yang disebut ruang Shuffah untuk tempat bermukim sementara bagi para sahabat yang belum memiliki ruang hunian. Jadilah ruang Masjid pada masa hidup Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak saja untuk melaksanakan ibadah dan pendidikan, tetapi juga untuk bermukimnya para sahabat.

Terdapat dua argumentasi lagi untuk mendukung penetapan ruang hunian sebagai pusat-ruang Madiinah. Pertama, dalam struktur sosial umat Islam, keluarga adalah lembaga sosial terkecil. Struktur ini berbeda dengan pandangan-alam Barat yang memiliki dua titik ekstrim di mana yang satu memandang masyarakat sebagai yang utama sementara individu barulah mendapatkan makna kehadirannya jika menjadi bagian dari masyarakat, sedangkan titik lainnya memandang individu sebagai yang utama sementara masyarakat merupakan ancaman bagi individu untuk mencapai kebebasan. Dalam pandangan-alam Islam, Allah menghadirkan manusia di alam dunia melalui sebuah keluarga yang merupakan ruang sosial pertama bagi dirinya mendapatkan pendidikan dan penanaman iman. Argumentasi pertama ini berkaitan dengan argumentasi kedua bahwa ruang hunian berdasarkan konsep keluarga menurut pandangan-alam Islam merupakan ruang ibadah dan ruang pendidikan pertama bagi setiap diri manusia. 

Sebagai pembentuk pusat-ruang Madiinah, ruang hunian memiliki hubungan yang erat dengan ruang Masjid dan ruang pendidikan untuk membentuk keshalihan warga kota. Ruang hunian membentuk keshalihan manusia sejak dirinya hadir di alam dunia hingga diperbolehkan berkegiatan di ruang Masjid dan ruang pendidikan yang merupakan pintu bagi dirinya memasuki kehidupan sosial dengan menjadi bagian dari umat Islam untuk mengambil peran sebagai wakil Allah di muka dunia. Dengan hubungan demikian yang didasarkan pada peran setiap ruang bagi manusia seiring pertumbuhan dirinya, ruang hunian, ruang Masjid dan ruang pendidikan secara simultan membentuk keshalihan manusia sejak lahir hingga wafatnya di dalam ruang kehidupan yang disebut Madiinah. 

Sebagai pusat-ruang Madiinah, perwajahan ruang masjid dan ruang pendidikan memiliki karakter visual paling kuat dari segi luasan ruang, bentuk, skala, warna, dan unsur lainnya, sehingga paling kuat membentuk citra Madiinah sebagai kota spiritual. Sementara ruang hunian yang walaupun merupakan pusat-ruang kota, tetapi perwajahannya sederhana disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing penguhinya. Perbedaan perwajahan pusat-ruang Madiinah didasari dua hal. Pertama, hakikat kehidupan kota adalah kehidupan individu di dalam sebuah komunitas manusia, bukan kehidupan seorang diri maupun kehidupan dalam lingkup keluarga. Tidaklah dikatakan sebagai ruang kota jika sebuah ruang kehidupan hanya dihuni oleh seorang individu maupun sebuah keluarga karena ciri khas kehidupan kota adalah kehidupan komunal yang selalu membuka peluang terjadinya keberagaman individu maupun komunitas manusia sebagai bagian dari penghuni kota. Atas dasar pandangan ini ruang masjid dan ruang pendidikan yang merupakan ruang publik dan diperuntukkan untuk mewadahi kegiatan warga kota secara komunal memiliki karakter visual yang kuat untuk menandakan kedudukannya sebagai pusat-ruang dalam lingkup kehidupan kota. Sedangkan ruang hunian merupakan ruang privat bagi kehidupan individu atau keluarga, sehingga tidak cukup kuat untuk dijadikan sebagai penanda ruang dalam lingkup kehidupan kota.

Kedua, berkaitan dengan kondisi psikologis umat Islam. Ruang masjid dan ruang pendidikan secara psikologis dimiliki komunal oleh umat Islam, walaupun secara syariat statusnya adalah wakaf yang berarti hak kepemilikannya dikembalikan kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Memiliki sementara peran manusia sebatas mengelola, merawat dan menggunakan ruang sebagaimana dikehendaki oleh Allah sebagai pemilik ruang. Karakter visual ruang masjid dan ruang pendidikan yang kuat dan mendominasi wajah kota secara internal ditujukan untuk menumbuhkan kebanggan umat Islam terhadap Islam, peradaban dan ruang kehidupan yang dimilikinya secara komunal, sedangkan secara eksternal ditujukan untuk menampilkan kehormatan dan kemuliaan umat Islam di hadapan umat-umat lainnya. Sedangkan ruang hunian yang merupakan ruang milik individu memiliki perwajahan yang sederhana dimaksudkan untuk menghindari tumbuhnya sikap sombong dengan merendahkan kedudukan seseorang hanya berdasarkan kualitas ruang huniannya yang merupakan ancaman bagi kesatuan umat Islam sebagai sebuah komunitas yang diikat oleh kesamaan keyakinan untuk menghambakan diri sepenuhnya hanya kepada Allah.

Mekanisme pusat-ruang Madiinah mendenyutkan ruang-kota yang merupakan proses pertama dari gerak kota terdiri dari dua tahap yang diawali dari ruang hunian sebagai tahap pertama pembentukan keshalihan warga kota kemudian dilanjutkan dengan tahap kedua di dalam ruang Masjid dan ruang pendidikan. Tanpa ruang hunian tidak akan tersedia SDM untuk menggerakkan ruang Masjid dan ruang pendidikan dan tanpa keduanya tidak akan tersedia SDM untuk menggerakkan ruang-ruang lainnya di dalam Madiinah. Dari pusat-ruang Madiinah akan terbentuk manusia shalih yang mengamalkan keshalihannya sebagai daya penggerak ruang ekonomi, politik, sosial, lingkungan hidup dan ruang-ruang lainnya. Selajutnya kegiatan yang terjadi di ruang-ruang tersebut memberikan kontribusi positif terhadap pusat-ruang Madiinah yang memperkuat denyut nadi kota. Sebagai contoh, seorang Muslim yang shalih dan berkegiatan di ruang ekonomi dri hasil kerja ekonomi yang didapatkannya akan memperkuat ruang hunian melalui pemberian nafkah yang halal dan baik kepada keluarganya serta memperkuat ruang Masjid dan ruang pendidikan melalui pemberian infaq untuk peningkatan intensitas kegiatan yang terjadi di kedua ruang tersebut. Jika gerak ini dilakukan secara komunal oleh umat Islam yang berkegiatan di berbagai ruang kehidupan, akan menyebabkan peningkatan intensitas kegiatan di pusat-ruang Madinah, sehingga mendorong dilakukannya perluasan ruang yang merupakan proses ketiga dari gerak kota.

Gambar 9: Kota Edirne (atas) dan Kota Istanbul (bawah) merupakan dua ibukota Turki Utsmani dengan perwajahan didominasi ruang Masjid dan ruang pendidikan sebagai pusat-ruang kota.

Manusia yang terdidik jiwa dan ruhnya sejak di ruang hunian dan dilanjutkan di ruang Masjid dan ruang pendidikan akan dapat memenuhi kebutuhan tubuhnya sesuai dengan kedudukan tubuh bagi dirinya yang tidak lebih sebatas kendaraan untuk menghambakan diri kepada Allah. Oleh karena itu bagi setiap diri Muslim, kehidupan ekonomi, politik dan lain sebagainya bersifat sekunder sebagai penunjang bagi kebutuhan jiwanya untuk selalu dekat dengan Pencipta. Secara spasial terjemahannya dalam ruang Madiinah adalah ruang-ruang selain pusat-ruang kota tersebar sesuai kebutuhan manusia di sepanjang akses hunian-Masjid-pendidikan agar memudahkan warga kota melakukan mobilisasi dari ruang-ruang lainnya menuju pusat-ruang. Dengan mekanisme gerak demikian pada akhirnya seluruh ruang pembentuk Madiinah akan lekat dengan iklim spiritualitas Islam yang dialirkan dari ruang hunian, ruang Masjid dan ruang pendidikan.

C. Penutup

Demikianlah penjelasan mengenai konsep Kota Barat dan Kota Islam yang menekankan pada aspek pusat-ruang kota yang meliputi formasi, perwajahan, akses dan mekanisme gerak ruang kota, asas filosofis yang mendasari penentuan pusat-ruang kota serta derivasinya dalam ranah variabel dan indikator kesehatan kota. Sebagai penutup tulisan ini, perbedaan antara konsep Kota Barat dan konsep Kota Islam akan ditampilkan dalam bentuk tabel di bawah ini:

Tabel 1: Perbedaan antara konsep Kota Barat dan Kota Islam
Sumber: Analisa, 2017

*Saya mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada ustadz Anton Ismunanto atas diskusi yang berharga mengenai konsep Madiinah dan perbedaannya dengan Qaryah, sehingga saya dapat menyelesaikan tulisan ini dengan berbekal ilmu yang mencerahkan pandangan. Semoga Allah sebagai Al-Haqq senantiasa menunjuki dan menuntun beliau kepada kebenaran serta memberi beliau nikmat ilmu yang bermanfaat.

Allahu a’lam bishawab.
Bertempat di Kartasura pada Rabiul Akhir 1439 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar