Selasa, 04 Desember 2018

Menafsir Arsitektur Masjid Raya Al-Muttaqun; Mendulang Makna Menangkap Pesan

Arsitektur yang baik ialah arsitektur yang mampu memenuhi kebutuhan tubuh dan jiwa manusia. Arsitektur yang hanya memenuhi kebutuhan tubuh atau jiwa saja, tidaklah dapat dikatakan baik karena hanya mewadahi setengah diri manusia yang memiliki tubuh dan jiwa di mana keduanya rupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sepanjang manusia menjalani hidup dan berkehidupan di alam dunia. Arsitektur yang hanya mewadahi tubuh, akan menyebabkan krisis pada jiwa manusia karena tidak mampu memenuhi apa-apa yang menjadi kebutuhan bagi jiwa. Sebaliknya, arsitektur yang hanya mewadahi jiwa, akan menyebabkan marabahaya bagi tubuh manusia karena tidak mampu memberi perlindungan. 

Pertanyaannya, arsitektur seperti apa yang mampu memenuhi kebutuhan tubuh dan jiwa manusia? Jawaban atas pertanyaan ini merupakan syarat-syarat arsitektur yang ideal atau arsitektur yang dapat dikatakan baik. Untuk memenuhi kebutuhan tubuh manusia, arsitektur harus mampu melindungi tubuh dari berbagai kondisi yang dapat menyebabkan kematian bagi manusia, seperti bencana alam, serangan binatang buas maupun serangan dari sesama manusia; memberi keamanan agar tubuh tidak terluka; memenuhi tuntutan kenyamanan bagi tubuh dari aspek ergonomik, suhu ruangan, pencahayaan, dan akustik; dan mudah digunakan sehingga tubuh manusia tidak dituntut bekerja maksimal sepanjang berkegiatan di dalam suatu objek arsitektur. Sementara untuk memenuhi kebutuhan jiwa manusia, arsitektur diharuskan tampil dalam perwujudan yang indah untuk memuaskan jiwa manusia yang menyukai segala sesuatu yang indah; mencerminkan identitas pemilik dan/atau pengguna, sehingga pemilik dan/atau pengguna merasa memiliki suatu objek arsitektur; menjaga kehormatan pemilik dan/atau pengguna; dan memuat pesan-pesan yang bermakna bagi pemilik dan/atau pengguna.

Selasa, 02 Oktober 2018

Dimensi Suara Dalam Ruang; Tinjauan Psikologi Arsitektur


Rangkaian suara yang harmonis dapat mempengaruhi kondisi batin pendengarnya. Perhatikan saja pendengar musik yang semula sedih tiba-tiba senang, yang semula marah dapat menjadi tenang. Perubahan emosional tersebut tidak lain disebabkan lantunan musik mempengaruhi kondisi batin pendengarnya. Tidak hanya mempengaruhi kondisi batin, suara juga merupakan determinan terhadap perilaku pendengarnya dikarenakan terdapatnya kait hubungan yang erat antara kondisi batin seseorang dengan perilaku yang ditampakkannya. Munculnya perilaku membutuhkan motif dan daya dorong yang berasal dari kondisi batin, sehingga dengan mempengaruhi kondisi batin pendengarnya, suara turut pula mempengaruhi perilaku pendengarnya. Perlu digaris-bawahi bahwa hubungan kausalitas tersebut tidak bernilai mutlak karena manusia memiliki kemampuan dan kebebasan untuk menampakkan perilaku yang berbeda dengan kondisi batinnya, seperti diri yang sedih ditampakkannya sedang berbahagia. Kemampuan inilah yang menjadikan manusia begitu rumit dan kompleks untuk dipahami.

Keterkaitan suara yang dicerap dengan kondisi batin dan perilaku pendengarnya dapat dengan mudah ditemui dan dipahami pada dunia hiburan malam yang identik dengan suara musik disko. Karakter suara musik disko mempengaruhi kondisi batin pendengarnya agar riang dan menjaga dirinya agar tidak mengantuk yang mendorong munculnya perilaku jingkrak-jingkrak dan goyang tubuh mengikuti irama suara. Suara musik disko tidak diperuntukkan untuk mempengaruhi kondisi batin pendengarnya agar khusyuk dan menampakkan perilaku diam-tenang. Ini menandakan setiap karakter suara memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap kondisi batin pendengarnya yang pada akhirnya akan mendorong memunculkan perilaku yang berbeda pula.

Suara yang bersepadu dengan rangkaian kata memiliki daya yang memungkinkan untuk menjangkau seluruh lapisan dimensi batin pendengarnya, sehingga daya pengaruh yang dimilikinya pun semakin kuat di mana unsur suara menyasar dimensi emosional sementara unsur kata menyasar dimensi terdalam dari kondisi batin pendengar. Hubungan antara suara dan kata dapat dianalogikan sebagai kendaraan dan pengendara, yakni suara merupakan kendaraan bagi kata untuk dapat memasuki dimensi terdalam kondisi batin pendengar. Dari analogi tersebut terbentuk dua prinsip yang mengikat suara dan kata. Pertama, kata sebagai pengendara menentukan kendaraan yang hendak digunakannya untuk dapat memasuki dimensi terdalam kondisi batin pendengar. Dengan demikian, karakter dan substansi kata menentukan karakter suara yang mengiringinya, sehingga kata yang bersumberkan dari Wahyu memiliki ciri khas suara yang patut mengiringinya, yakni suara yang berkesesuaian dengan batas-batas yang telah ditetapkan oleh Islam. Kedua, ketidaksesuaian antara suara dan kata menyebabkan menurunnya daya pengaruh keduanya dalam mempengaruhi kondisi batin pendengar, bahkan dalam beberapa kondisi dapat menyebabkan terjadinya polusi suara yang akan dibahas lebih lanjut pada bagian selanjutnya dari tulisan ini.

Minggu, 12 Agustus 2018

Pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam; Asumsi Dasar dan Penamaan (Bagian 1)

Ditilik secara paradigmatik, ketiga pendekatan arus-utama dalam pengkajian dan perancangan Arsitektur Islam, sebagaimana telah saya jabarkan dalam tulisan berjudul “Tiga Pendekatan Arus-Utama Arsitektur Islam” memiliki titik-fokus yang berbeda dalam memandang, memahami dan mendekati fenomena arsitektur dari perspektif Islam, disebabkan perbedaan dalam asumsi yang mendasari masing-masing pendekatan. Pendekatan Formal menetapkan titik fokus pada wujud fisik, pendekatan Nilai pada nilai-nilai di balik wujud fisik, sedangkan pendekatan Perilaku pada fungsi dan perilaku yang diwadahi di dalam wujud fisik arsitektur. Kelemahan digunakannya titik-fokus tunggal oleh ketiga pendekatan arus-utama Arsitektur Islam ialah terjadinya reduksi fenomena arsitektur karena berlaku padanya nalar A atau B atau C. Nalar demikian tidak akan mampu memahami Arsitektur Islam secara menyeluruh sebagai proses sekaligus hasil kerja-kreatif-budaya serta sebagai bagian dari Peradaban Islam yang menjadikannya bersifat sangat kompleks karena melibatkan seluruh unsur kebudayaan dan terikat dengan seluruh aspek kehidupan manusia Muslim. Karenanya dengan nalar A atau B atau C, ketiga pendekatan arus-utama Arsitektur Islam dengan titik fokus tunggal yang ditetapkannya tidak akan mampu menangkap dan memahami fenomena Arsitektur Islam sebagai bagian dari fenomena kehidupan manusia Muslim dan Peradaban Islam. 

Berangkat dari kelemahan secara paradigmatik tiga pendekatan arus-utama Arsitektur Islam, saya berikhtiar untuk merumuskan pendekatan baru dalam pengkajian dan perancangan Arsitektur Islam yang saya namakan dengan pendekatan Psiko-Kultural. Pendekatan Arsitektur Islam yang saya ajukan dari satu aspek dapat digolongkan ke dalam pendekatan Filosofis karena antara keduanya memiliki kesamaan dalam beberapa asumsi dasar serta konsep-konsep penyusunnya. Tetapi jika ditinjau secara paradigmatik, pendekatan Arsitektur Islam yang saya ajukan merupakan lompatan sintesa sebagai hasil dari dialektika ilmiah yang melibatkan tiga pendekatan arus-utama Arsitektur Islam, sehingga secara substansi memiliki kesamaan sekaligus perbedaan yang bersifat asasi dengan ketiga pendekatan arus utama yang menjadikannya tidak dapat digolongkan ke dalam salah satunya. 

Keterlibatan saya dalam pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam menjadikan saya tidak dapat menghindar dari mekanisme dialektika ilmiah untuk mempertahankan kebenaran pendekatan Psiko-Kultural. Untuk mencapai tujuan tersebut, bentuk penulisan yang saya gunakan memuat kritik terhadap pendekatan lain untuk menunjukkan kelemahan-kelemahannya, sekaligus mengajukan argumentasi yang mendukung kebenaran pendekatan Psiko-Kultural untuk menegaskan keunggulannya dibandingkan pendekatan selainnya. Pendekatan yang saya ajukan juga tidak dapat menghindar dari mekanisme perkembangan ke dalam maupun ke luar sebagai konsekuensi yang harus diterima atas keterlibatannya dalam medan dialektika. Oleh karenanya, tulisan ini haruslah didudukkan sebagai proses awal yang selalu terbuka pintu untuk mengalami perubahan, pengurangan maupun penambahan pada masa yang akan datang, dan selalu terbuka keniscayaan untuk mengalami keterbelahan pemikiran seiring terbentuknya modal sosial pengusung pendekatan Psiko-Kultural, sebagaimana telah pula dialami pendekatan-pendekatan selainnya, tidak terkecuali tiga pendekatan arus-utama Arsitektur Islam. 

Sebagai langkah awal dari kerja keilmuan yang harus saya lakukan dalam merumuskan pendekatan Arsitektur Islam, tulisan ini memuat dua poin bahasan, yakni rumusan asumsi yang mendasari pendekatan Psiko-Kultural dan penjelasan mengenai penamaan Psiko-Kultural sebagai identitas pendekatan yang saya ajukan. Persoalan asumsi dasar terlebih dahulu saya ketengahkan sebelum persoalan penamaan, karena penamaan Psiko-Kultural berkaitan erat dengan asumsi yang mendasarinya. Sehingga dengan menjelaskan terlebih dahulu asumsi dasar diharapkan dapat memudahkan pembaca untuk memahami penamaan yang saya tetapkan. Bersambung pada tulisan mendatang akan dilanjutkan dengan perumusan definisi Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural yang termuat di dalamnya persoalan istilah-istilah khusus yang digunakan, variabel dan kriteria atau indikator Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural. 

Minggu, 03 Juni 2018

Rumusan Definisi Pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam (2); Meretas Jalan

B. Meretas Jalan

Rumusan definisi Arsitektur Islam yang melandasai pendekatan Psiko-Kultural didasari dua asumsi yang telah saya sampaikan dan jelaskan dalam tulisan berjudul “Meretas Jalan Tengah; Pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam”, yakni (1) Arsitektur Islam sebagai hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim memiliki wujud gagasan, perilaku (fungsi) dan artefak yang bersumberkan dari Islam; dan (2) antara manusia Muslim sebagai subjek dengan Arsitektur Islam sebagai objek terikat secara psikologis melalui makna yang melekat pada ketiga wujud arsitektur yang menumbuhkan rasa kepemilikan oleh manusia Muslim terhadap Arsitektur Islam yang diciptanya. Berdasar dua asumsi tersebut saya mengajukan definisi bahwasanya yang dimaksud dengan Arsitektur Islam adalah lingkungan binaan hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim, meliputi wujud gagasan, perilaku dan artefak, yang menempatkan Wahyu sebagai asas, sumber inspirasi dan panduan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dan mewadahi dirinya seutuhnya meliputi dimensi lahir dan bathin.

Definisi yang saya ajukan beserta asumsi yang mendasarinya bersandarkan pada hubungan antara Islam dan arsitektur yang dapat ditinjau dari sisi objektif dan sisi subjektif. Sehingga untuk dapat memahami secara utuh keterkaitan antara definisi Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural dengan asumsi yang mendasarinya, haruslah dipahami hubungan antara Islam dan arsitektur yang merupakan jembatan penghubung antar kedua aspek tersebut. Dimulai dari sisi objektif, bahwa dalam pendekatan Psiko-Kultural dibedakan antara Islam sebagai Dien dan Islam sebagai Peradaban atau Tamaddun dengan arsitektur merupakan salah satu unsur pembentuknya. Keduanya tidaklah berhadap-hadapan saling bertolak belakang dan saling meniadakan dalam relasi dualisme. Pada dasarnya keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena Islam sebagai Dien merupakan sumber bagi penciptaan Peradaban Islam, sehingga tanpa Islam tidak akan dapat dicipta dan tidak akan dapat hadir Peradaban Islam, sebagaimana dapat dipahami dengan akal bahwasanya tanpa sumber, maka tidak akan dapat dihadirkan segala sesuatu yang berasal dari atau dinisbatkan kepada sumber tersebut. 

Perbedaan antara Islam sebagai Dien dan Islam sebagai Peradaban terdapat pada kedudukannya berdasarkan hirarki kebenaran yang membentuk ciri khas masing-masing. Sebagai sumber bagi penciptaan Peradaban Islam, Islam sebagai Dien yang berlandaskan pada Al-Qur’an, Sunnah dan penjelasan para ulama yang berwibawa mengenai keduanya menyandang kebenaran yang bersifat mutlak, sehingga menempati kedudukan lebih tinggi daripada Peradaban Islam yang menyandang kebenaran relatif. Maksud dari kebenaran mutlak yang dimiliki Islam sebagai Dien ialah kebenaran yang tidak terikat dimensi ruang dan waktu karena kebenaran yang berasal dari Allah berada di atas keduanya. Dengan kebenarannya tersebut, Islam sebagai Dien menjadi relevan dan berlaku untuk setiap ruang kehidupan dan sepanjang waktu yang digulirkan Allah. Sementara maksud dari kebenaran relatif yang disandang Peradaban Islam ialah kebenaran yang bersifat kontekstual atau kebenaran yang terikat dimensi ruang dan waktu dikarenakan kedudukannya sebagai hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim dalam rangka ikhtiar memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupannya di alam dunia menjadikannya tidak dapat dicipta di luar dimensi ruang dan waktu. Dikarenakan terikat dengan dimensi ruang dan waktu, proses penciptaan Peradaban Islam dipengaruhi beragam faktor keduniaan meliputi (1) tingkat keimanan manusia Muslim yang berbanding lurus dengan tingkat pemahamannya terhadap Islam sebagai Dien; (2) kemampuan akal; (3) alam budaya; (4) tradisi arsitektur; (5) kondisi lingkungan hidup; (6) tantangan kehidupan yang tengah dialami; dan (7) kontak peradaban yang tengah dijalin.

Arsitektur Islam dalam pendekatan Psiko-Kultural terdiri dari dua bagian, yakni (1) ilmu pengetahuan mengenai lingkungan binaan; dan (2) objek lingkungan binaan yang terbentuk dari wujud gagasan, perilaku (fungsi) dan artefak. Antara keduanya berlaku hubungan timbal balik di mana untuk menghadirkan Arsitektur Islam sebagai objek lingkungan binaan membutuhkan Arsitektur Islam sebagai ilmu pengetahuan melalui kerja-amali secara deduktif dan sebaliknya, dari kehadiran Arsitektur Islam sebagai objek lingkungan binaan dapat dihadirkan ilmu pengetahuan Arsitektur Islam melalui kerja-keilmuan secara induktif. Lalu di mana kedudukan Arsitektur Islam di antara Islam sebagai Dien dan Islam sebagai Peradaban? Arsitektur Islam sebagai ilmu pengetahuan memiliki landasan filosofis yang merupakan bagian dari Islam sebagai Dien dan memiliki bangunan teoritik yang merupakan bagian dari Islam sebagai Peradaban. Sementara Arsitektur Islam sebagai objek lingkungan binaan memiliki wujud gagasan dan sebagian wujud perilaku yang merupakan bagian dari Islam sebagai Dien dan memiliki sebagian lagi dari wujud perilaku dan wujud artefak yang merupakan bagian dari Islam sebagai Peradaban yang merupakan kumpulan dari hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim. Sehingga Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural memiliki bagian yang menyandang kebenaran mutlak yang melintasi batasan ruang dan waktu karena merupakan bagian dari Islam sebagai Dien serta terdapat bagian yang menyandang kebenaran kontekstual yang terikat pada batasan ruang dan waktu karena merupakan bagian dari Islam sebagai Peradaban.

Selasa, 29 Mei 2018

Rumusan Definisi Pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam (1); Mengurai Ragam Definisi

Hingga hari ini persoalan yang hampir selalu mengundang perdebatan di antara kalangan pewacana dan pengkaji Arsitektur Islam, bahkan sepertinya tidak akan berakhir dan dicapai kesepakatan dalam waktu dekat adalah persoalan definisi. Contoh saja yang hingga hari ini masih menjadi perdebatan ialah perihal istilah Arsitektur Islam ataukah Arsitektur Islami yang lebih tepat digunakan untuk menggambarkan hubungan antara Islam dan arsitektur. Terdapat dua hal yang menjadikan persoalan pendefinisian menyulut perdebatan berlarut dan panjang. Pertama, definisi didasari asumsi-asumsi yang diyakini benar-mutlak oleh kalangan pengusungnya, meliputi hubungan antara Islam dan Arsitektur, kedudukan Islam dalam hubungannya dengan Arsitektur, serta kedudukan manusia dan alam dalam hubungan yang terjalin antara Islam dan Arsitektur.

Penilaian benar-mutlak terhadap asumsi yang mendasari definisi yang diajukan masing-masing kalangan tidak dapat dihindari karena kedudukannya sebagai landasan filosofis menjadikan persoalan pendefinisian hampir tidak dapat dihindari untuk tidak menyentuh aspek keimanan yang merupakan dimensi psikologis paling dalam diri manusia. Keimanan yang saya maksud tidak harus diartikan secara Teologi, tetapi meliputi pula pengertiannya secara eksistensial yang menjadikan sesuatu begitu bermakna bagi kehidupan seseorang atau semacam sebuah perasaan keyakinan yang begitu mendalam dan diyakini benar. Perkara keimanan dan yang terkait dengannya erat dengan pandangan bahwasanya kebenaran bersifat mutlak dan tunggal, sehingga tidak dapat diterima adanya kebenaran lain atau kebenaran yang beragam di luar asumsi yang diyakininya sebagai satu-satunya kebenaran. Selain itu, terlibatkan dimensi psikologis menjadikan perdebatan yang terjadi berlangsung alot dan berkepanjang karena bermuatan emosional. Setiap kritik terhadap definisi yang diajukan dianggap sebagai bentuk penentangan terhadap asumsi yang mendasari dan berarti merupakan pengingkaran terhadap keimanan yang diyakininya mutlak-benar.

Kedua, definisi beserta asumsi yang mendasarinya berkedudukan sebagai landasan filosofis yang merupakan pondasi bagi bangunan ilmu. Berarti tanpa definisi dan begitupula tanpa asumsi-asumsi yang mendasarinya, maka tidak tersedia pondasi untuk mendirikan bangunan ilmu. Dalam ranah praktik, kerja penelitian dan perancangan arsitektur tidak dapat dilakukan jika tidak tersedia definisi. Oleh karena itu kedudukan definisi begitu penting dan mutlak dibutuhkan sebab tanpanya tidak akan wujud ilmu pengetahuan maupun teknologi arsitektur. Sebagai pondasi, definisi tidak saja berfungsi menopang bangunan ilmu agar ajeg dan tidak roboh, tetapi juga memberi corak dan warna terhadap bangunan ilmu yang didirikan di atasnya. Dengan cara pandang ini, diajukannya beragam definisi Arsitektur Islam beserta asumsi yang mendasarinya menandakan keragaman corak dan warna Arsitektur Islam. Keragaman tersebut ditinjau dari sosiologi pengetahuan membentuk dua hal, yakni (1) keragaman mazhab atau pendekatan dalam pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam; dan (2) modal sosial masing-masing pendekatan, baik personal maupun dalam bentuk komunitas keilmuan.

Ditinjau dari kedua poin di atas, perdebatan menyoal definisi terjadi karena masing-masing modal sosial dengan pelibatan dimensi psikologis paling dalam dirinya menghendaki pendekatan yang diusung, definisi yang dipegang dan asumsi yang diyakininya benar dapat diterima sebagai satu-satunya kebenaran dan sebagai satu-satunya pendekatan yang sah dalam pengkajian Arsitektur Islam. Untuk mencapainya berlaku mekanisme dua proses perdebatan ilmiah yang harus dilalui oleh setiap kalangan yang terlibat yang lebih dikenal dengan dialektika ilmu, yakni (1) mengajukan serta mempertahankan definisi yang diyakininya benar dari gugatan pihak lain dengan menyediakan argumentasi yang memadai dan kokoh; serta (2) melakukan kritik terhadap definisi selainnya untuk memperlihatkan dan membuktikan kelemahan-kelemahan yang terdapat didalamnya sekaligus untuk menegaskan kelebihan definisi yang diajukan.

Dengan latar belakang di atas, dalam tulisan ini saya hendak mengajukan definisi yang melandasi secara filosofis pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam. Keterlibatan saya dalam perdebatan definisi Arsitektur Islam tidak dapat dihindari disebabkan keterlibatan saya sebelumnya dengan merumuskan dan memperkenalkan pendekatan baru untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang saya dapati dalam ragam pendekatan Arsitektur Islam, paling tidak yang telah dikenal luas dan merupakan pendekatan arus utama di dalam pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam di Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, tidak tersedia jalan bagi saya selain melibatkan diri dalam mekanisme dialektika ilmiah. Sehingga untuk meyakinkan kalangan pewacana dan pengkaji Arsitektur Islam bahwa pendekatan Psiko-Kultural yang saya usung adalah benar begitupula dengan definisi serta asumsi yang mendasarinya, maka langkah yang harus saya lakukan adalah mengajukan definisi kemudian melakukan kritik terhadap definisi lain yang telah diajukan sekaligus menegaskan kelebihan definisi yang saya ajukan.

Pada bagian pertama tulisan ini saya akan memaparkan empat definisi beserta modal sosial pengusungnya yang telah dikenal luas dan sejauh ini diterima oleh pewacana dan pengkaji Arsitektur Islam di Indonesia. Selanjutnya pada bagian kedua, saya akan mengajukan definisi berikut dengan asumsi yang mendasari dan argumentasi yang mendukung sebagai landasan pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam. Dan pada bagian ketiga atau bagian terakhir dari tulisan ini saya akan membandingkan definisi yang saya ajukan pada bagian kedua dengan definisi yang saya paparkan pada bagian pertama untuk menegaskan kelebihan dari definisi yang saya ajukan.

Rabu, 14 Maret 2018

Menafsir Sudalmiyah Rais

Pada hari Ahad tertanggal 3 Desember 2018, Masjid Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang dihadirkan di lingkungan Kampus 2 diresmikan. Pada hari itu disampaikan oleh Dr. Sofyan Anif selaku Rektor UMS perihal nama yang diberikan dan disandang, yakni Masjid Sudalmiyah Rais. Setelah sambutan dari Rektor, acara peresmian Masjid Kampus UMS yang dibalut dalam agenda Hari ber-Muhammdiyah dilanjutkan dengan Tausiyah dari Prof. Amien Rais yang menyoroti peran Muhammadiyah pada hari kini dan suatu fenomena yang beliau istilahkan dengan ‘A State Above a State’ alias negara di atas negara untuk menjelaskan terdapatnya sekelompok kecil pemilik modal yang memiliki kedudukan di atas negara karena memiliki kuasa ekonomi untuk menyetir dan mengarahkan jalannya pemerintahan dengan tujuan memuluskan kepentingan ekonominya. Dua contoh disampaikan Prof. Amien Rais untuk membuktikan terdapatnya fenomena ‘A State Above a State’, yakni Freeport dan pembangunan Kota Meikarta oleh pengembang swasta. Prof. Din Syamsuddin tercatat sebagai tokoh ketiga yang naik ke atas mimbar untuk membacakan doa dan ditutup oleh Prof. Yunahar Ilyas sebagai perwakilan dari Pengurus Pusat Muhammadiyah untuk secara formal meresmikan Masjid Sudalmiyah Rais. Rangkaian acara ditutup dengan lantunan adzan dan shalat jama’ah pertama di Masjid Sudalmiyah Rais yang secara tradisi merupakan milik umat Islam dalam meresmikan Rumah Allah, sebagai penanda sekaligus pengingat bahwa tujuan pendirian masjid adalah semata untuk bersujud kepada-Nya.

Gambar: Masjid Sudalmiyah Rais di lingkungan Kampus 2 UMS
Sumber: Dokumentasi pribadi, 2018

Terdapat dua hal yang menarik untuk disoroti mengenai Masjid Sudalmiyah Rais. Yang pertama mengenai penamaan Masjid Kampus 2 UMS yang dari segi penamaannya dinisbatkan kepada ibunda Prof. Amien Rais. Dijelaskan oleh beliau pada acara peresmian, bahwa penamaan Masjid Sudalmiyah Rais dikarenakan peran dan jasa Ibu Sudalmiyah Rais sebagai salah satu tokoh pendiri UMS. Prof. Amien Rais hendak menggiring persepsi publik agar tidak terjadi penafsiran liar yang mengkaitkan penamaan Masjid Sudalmiyah Rais dengan agenda politik Muhammadiyah atau UMS apalagi pandangan dan arah politik beliau secara pribadi. Seakan beliau hendak menegaskan, memanglah penamaan Masjid Sudalmiyah Rais memiliki kaitan erat dengan identitas dan kesejarahan UMS, bukan yang lain. Tetapi seorang Amien Rais pun tidak mampu mengarahkan dan membatasi pemikiran seluruh manusia karena pada saat dan pasca peresmian, beberapa kali saya mendapati obrolan yang mempersoalkan penamaan Masjid Sudalmiyah Rais yang diduga memiliki motif politik, terlebih jika dikaitkan dengan substansi Tausiyah yang disampaikan oleh Prof. Amien Rais pada acara peresmian.