Rabu, 14 Maret 2018

Menafsir Sudalmiyah Rais

Pada hari Ahad tertanggal 3 Desember 2018, Masjid Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang dihadirkan di lingkungan Kampus 2 diresmikan. Pada hari itu disampaikan oleh Dr. Sofyan Anif selaku Rektor UMS perihal nama yang diberikan dan disandang, yakni Masjid Sudalmiyah Rais. Setelah sambutan dari Rektor, acara peresmian Masjid Kampus UMS yang dibalut dalam agenda Hari ber-Muhammdiyah dilanjutkan dengan Tausiyah dari Prof. Amien Rais yang menyoroti peran Muhammadiyah pada hari kini dan suatu fenomena yang beliau istilahkan dengan ‘A State Above a State’ alias negara di atas negara untuk menjelaskan terdapatnya sekelompok kecil pemilik modal yang memiliki kedudukan di atas negara karena memiliki kuasa ekonomi untuk menyetir dan mengarahkan jalannya pemerintahan dengan tujuan memuluskan kepentingan ekonominya. Dua contoh disampaikan Prof. Amien Rais untuk membuktikan terdapatnya fenomena ‘A State Above a State’, yakni Freeport dan pembangunan Kota Meikarta oleh pengembang swasta. Prof. Din Syamsuddin tercatat sebagai tokoh ketiga yang naik ke atas mimbar untuk membacakan doa dan ditutup oleh Prof. Yunahar Ilyas sebagai perwakilan dari Pengurus Pusat Muhammadiyah untuk secara formal meresmikan Masjid Sudalmiyah Rais. Rangkaian acara ditutup dengan lantunan adzan dan shalat jama’ah pertama di Masjid Sudalmiyah Rais yang secara tradisi merupakan milik umat Islam dalam meresmikan Rumah Allah, sebagai penanda sekaligus pengingat bahwa tujuan pendirian masjid adalah semata untuk bersujud kepada-Nya.

Gambar: Masjid Sudalmiyah Rais di lingkungan Kampus 2 UMS
Sumber: Dokumentasi pribadi, 2018

Terdapat dua hal yang menarik untuk disoroti mengenai Masjid Sudalmiyah Rais. Yang pertama mengenai penamaan Masjid Kampus 2 UMS yang dari segi penamaannya dinisbatkan kepada ibunda Prof. Amien Rais. Dijelaskan oleh beliau pada acara peresmian, bahwa penamaan Masjid Sudalmiyah Rais dikarenakan peran dan jasa Ibu Sudalmiyah Rais sebagai salah satu tokoh pendiri UMS. Prof. Amien Rais hendak menggiring persepsi publik agar tidak terjadi penafsiran liar yang mengkaitkan penamaan Masjid Sudalmiyah Rais dengan agenda politik Muhammadiyah atau UMS apalagi pandangan dan arah politik beliau secara pribadi. Seakan beliau hendak menegaskan, memanglah penamaan Masjid Sudalmiyah Rais memiliki kaitan erat dengan identitas dan kesejarahan UMS, bukan yang lain. Tetapi seorang Amien Rais pun tidak mampu mengarahkan dan membatasi pemikiran seluruh manusia karena pada saat dan pasca peresmian, beberapa kali saya mendapati obrolan yang mempersoalkan penamaan Masjid Sudalmiyah Rais yang diduga memiliki motif politik, terlebih jika dikaitkan dengan substansi Tausiyah yang disampaikan oleh Prof. Amien Rais pada acara peresmian.

Saya rasa-rasa menggelitik juga soal penamaan Masjid Sudalmiyah Rais. Bukan dugaan motif politik karena bagi saya persoalan tersebut tidak menarik untuk dibincangkan, selain karena bukan lingkup bidang keilmuan yang saya geluti. Ketergelitikan saya dikarenakan dua hal. Pertama, jarang sekali untuk sebuah masjid atau bahkan mungkin ini yang pertama kalinya sebuah Masjid Kampus diberi nama dari seorang tokoh Muslimah, bukan tokoh Muslim sebagaimana lazimnya. Selama ini ruang masjid diidentikkan dengan pria, pun begitu dengan ruang pendidikan. Persepsi demikian terbentuk secara sosiologis karena adanya perintah bagi pria untuk beribadah shalat wajib di masjid, sedangkan terdapat anjuran bagi wanita untuk melaksanakan shalat di ruang-ruang pribadi. Sementara untuk ruang pendidikan tidak dapat dipungkiri dari segi budaya masih saja terdapat pembatasan akses bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan hingga tingkatan tertinggi. Sehingga memang memiliki nalarnya sendiri secara sosiologis dan budaya terbentuknya tradisi pemberian nama masjid dan universitas dari seorang tokoh Muslim.

Dalam lingkungan sosial dan budaya demikian menjadi menarik bagi saya hadirnya sebuah masjid yang dari segi penamaannya dinisbatkan kepada seorang tokoh Muslimah, terlebih masjid di lingkungan universitas. Fenomena ini menjadi semakin menarik dan menggelitik saya jika diamati kecenderungan pemberian nama bangunan-bangunan baru di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan nama tokoh Muslimah, seperti Gedung Rektorat UMS diberi nama Siti Walidah yang merupakan istri dari Kiai Dahlan, Rumah Sakit Gigi dan Mulut UMS diberi nama Soelastri dan Masjid Kampus 2 sebagaimana telah saya sebutkan diberi nama Sudalmiyah Rais. Menyaksikan fenomena demikian yang seharusnya dipersoalkan, diperbincangkan dan bisa jadi butuh untuk dikaji melalui kegiatan penelitian adalah landasan berpikir yang digunakan UMS dalam pemberian nama bangunan baru di lingkungannya berkaitan dengan pemikiran Islam yang diusung, termasuk berkenaan dengan arah dan agenda pendidikannya.

Persoalan mengenai penamaan Masjid Sudalmiyah Rais sebagaimana saya paparkan di atas bukanlah merupakan inti dari tulisan ini yang hendak mengulas Masjid Sudalmiyah Rais sebagai objek arsitektur. Poin yang menjadi tujuan dari tulisan ini ialah berkenaan dengan perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais yang terangkum dalam pertanyaan, “Mengapa bentuknya seperti itu?” “Apa maksud dari bentuknya yang demikian itu?”. Menjadi lebih menarik lagi pertanyaan tersebut ketika dikaitkan dengan konteks lokasi masjid yang berada di lingkungan pendidikan Islam, “Apa hubungan antara perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais dengan identitas UMS sebagai Universitas Islam yang berada di bawah kepemilikan Persyarikatan Muhammadiyah?” Memanglah makna dari bentuk fisik Masjid Sudalmiyah Rais, bahkan setiap unsur pembentuknya, telah disampaikan oleh Dr. Sofyan Anif selaku Rektor UMS pada acara peresmian. Tetapi informasi tersebut tidaklah cukup dikomunikasikan sekali saja, apalagi disampaikan dalam sebuah acara yang bersifat terbatas. Sebab itu menjadi wajar jika dalam lingkup civitas UMS pun tidak seluruhnya mengetahui apalagi memahami maksud dari perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais, terutama dari kalangan mahasiswa yang dari segi jumlahnya merupakan pengguna terbanyak Masjid Kampus. 

Mengapa jawaban untuk pertanyaan semisal di atas begitu penting? Dan apa urgensinya sehingga harus dikomunikasikan secara berkelanjutan? Sebelum manusia mengambil keputusan untuk terlibat dan melangsungkan kegiatan di dalam ruang dengan menampakkan perilaku selama berkegiatan, manusia mutlak membutuhkan persepsi mengenai ruang yang merupakan penilaian terhadap kualitas ruang secara kognitif dan afektif. Persepsi yang dimiliki manusia terhadap suatu ruang dibentuk oleh informasi yang didapatkannya dan atau pengalamannya selama menggunakan ruang. Yang pertama mengandaikan manusia terlebih dahulu memiliki persepsi sebelum menggunakan ruang, sedangkan yang kedua mengandaikan terbentuknya persepsi seiring intensitas dan kualitas menggunakan ruang. Tafsir resmi dari pihak berwenang UMS mengenai perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais yang disampaikan pada acara peresmian yang telah lalu menempati kedudukan sebagaimana poin pertama, yakni ditujukan untuk membentuk persepsi pengguna sebelum berkegiatan di dalam Masjid Sudalmiyah Rais. Sementara pada saat ini dalam kondisi ruang masjid telah difungsikan dan telah rutin dilangsungkan kegiatan di dalamnya, tafsir resmi yang disampaikan oleh pihak berwenang UMS secara berkelanjutan ditujukan untuk membentuk persepsi-dasar pengguna yang seiring waktu akan mengalami penyempurnaan dan penguatan. Dengan begitu, pengguna memiliki landasan guna mengambil keputusan untuk berkegiatan dan berperilaku di dalam Masjid Sudalmiyah Rais. 

Komunikasi yang dilakukan oleh pihak berwenang UMS akan membentuk persepsi yang bermakna bagi pengguna, dalam artian dapat diterima karena berkaitan dengan identitas dirinya sebagai umat Islam, civitas UMS dan Persyarikatan Muhammadiyah. Semakin bermakna komunikasi yang disampaikan akan semakin dalam menyentuh dimensi psikologis pengguna yang mendorong tumbuhnya rasa memiliki terhadap ruang yang digunakannya. Sebaliknya, komunikasi tidak dapat diterima oleh pengguna dalam dua kondisi. Kondisi pertama, komunikasi yang disampaikan bermuatan identitas Islam, UMS dan Persyarikatan Muhammadiyah, tetapi pengguna tidak menghayati identitasnya sebagai seorang Muslim, civitas UMS dan atau warga Muhammadiyah sehingga komunikasi yang ditujukan kepadanya tidak bermakna bagi dirinya karenanya mengalami penolakan. Pada kondisi kedua berlaku keadaan sebaliknya, komunikasi yang disampaikan tidak berkesesuaian dengan identitas pengguna yang memiliki kesadaran diri sebagai seorang Muslim, civitas UMS dan warga Muhammadiyah, sehingga sebagaimana kondisi pertama pun mengalami penolakan karena dirasakan tidak bermakna. 

Yang dimaksud dengan komunikasi pada bahasan di atas meliputi (1) substansi yang dikomunikasikan; dan (2) cara-cara penyampaiannya. Substansi yang dikomunikasi merupakan jawaban terhadap pertanyaan mengenai perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais, sementara cara-cara penyampaiannya dapat dilakukan dengan teknik verbal maupun grafis. Dikaitkan dengan bahasan sebelumnya, ditolaknya komunikasi dari pihak berwenang UMS sebagaimana kondisi pertama akan membuka celah terjadinya kegiatan dan perilaku yang tidak dikehendaki di dalam Masjid Sudalmiyah Rais. Cara penyelesaiannya, selain komunikasi terus dilakukan secara berkelanjutan harus diiringi dengan mendidik pihak pengguna agar memiliki kesadaran diri sebagai umat Islam, civitas UMS dan atau warga Muhammadiyah, sehingga dapat menerima komunikasi yang ditujukan kepadanya. Sementara pada kondisi kedua, penolakan terhadap komunikasi disebabkan substansi yang disampaikan.

Substansi komunikasi mengenai perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais yang pada hakikatnya merupakan pesan dari pihak berwenang UMS kepada pengguna memiliki dua unsur, yakni (1) unsur penanda yang merujuk pada unsur-unsur arsitektur Masjid Sudalmiyah Rais; dan (2) unsur petanda yang merupakan makna atau maksud dibalik unsur-unsur arsitektur yang bersifat fisik. Penolakan terhadap komunikasi yang disampaikan oleh pihak berwenang UMS sebagaimana pada kondisi kedua bisa berarti dua hal. Pertama, unsur petanda yang dikomunikasikan memanglah tidak bermakna bagi pengguna karena tidak memuat identitas Islam, UMS dan Persyarikatan Muhammadiyah. Kedua, terjadi hubungan tidak logis antara unsur penanda dengan unsur petanda. Setiap unsur arsitektur Masjid Sudalmiyah Rais merupakan wadah bagi makna yang akan dilekatkan padanya. Setiap wadah memiliki lingkup tertentu karenanya tidak dapat dimasuki oleh sembarang makna. Ketidakcocokan antara wadah dengan makna yang dilekatkan padanya akan menyebabkan ketidaklogisan komunikasi yang dilakukan. Contoh saja, warna hitam yang dimaknai sebagai simbol kesucian pastilah dinilai tidak logis karena putih sebagai penanda memiliki cakupan yang tidak memungkinkan untuk dilekatkan makna keberanian. Sehingga dalam poin kedua ini, penolakan terhadap komunikasi disebabkan ketidaklogisan pesan, padahal bisa jadi makna yang disampaikan telah memuat identitas Islam, UMS dan Persyarikatan Muhammadiyah.

Ketidaklogisan hubungan antara unsur penanda dan petanda yang menyebabkan kebingungan pihak penerima pesan, sehingga pesan tidak dapat diterima olehnya, seringkalinya disebabkan produksi makna tidak beriringan dengan produksi perwujudan fisik arsitektur, dalam artian setiap keputusan desain yang berkaitan dengan bentukan fisik arsitektur tidak didasari pertimbangan makna yang akan dilekatkan padanya. Bisa jadi rencana desain telah selesai dan disetujui, kemudian barulah dicari-cari makna yang akan dilekatkan pada desain tersebut. Atau dalam kondisi yang lebih buruk lagi, objek arsitektur telah berdiri, barulah mencari makna yang dikehendaki. Jika yang pertama masih dapat dilakukan tarik-ulur antara bentukan fisik dengan makna yang akan dilekatkan dengan terus melakukan penyesuaian selama proses pembangunan, pada kondisi kedua hampir tidak dapat dilakukan penyesuaian penanda, karenanya terbuka peluang lebih lebar untuk terjadinya ketidaklogisan komunikasi daripada kondisi pertama tadi.

Untuk komunikasi mengenai perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais agar dapat diterima, selain persoalan substansi komunikasi, yang harus diperhatikan selanjutnya adalah cara-cara komunikasi yang dilakukan. Dalam lingkup arsitektur, komunikasi dapat dilakukan secara verbal maupun grafis. Dalam konteks pembahasan tulisan ini kedua cara dapat dimanfaatkan secara kreatif untuk menjangkau seluas mungkin pengguna Masjid Sudalmiyah Rais yang memiliki keragaman dari aspek umur, status, tingkat pendidikan dan jenis kelamin. Komunikasi verbal dapat disampaikan dengan cara mengadakan acara talkshow di area Masjid Sudalmiyah Rais dengan menghadirkan pihak perancang, pihak berwenang UMS dan pihak analis atau acara bernuansa pagelaran budaya yang juga mengambil tempat di lingkungan Masjid Sudalmiyah Rais di mana komunikasi verbal disampaikan melalui pembacaan syair, musikalitas puisi dan semisalnya. Sementara komunikasi grafis dapat disampaikan dengan mengadakan pojok pameran dan publikasi desain Masjid Sudalmiyah Rais di salah satu sisi ruang Masjid Sudalmiyah Rais dan Masjid Fadlurrahman atau melakukan pembagian publikasi desain berukuran saku pada momen-momen tertentu seperti pada pelaksanaan Shalat Jum’at di mana kegiatan civitas UMS terkonsentrasi di dua masjid kampus UMS.

Pertanyaannya, apa yang akan terjadi jika komunikasi yang dilakukan oleh pihak berwenang sebagai tafsir resmi terhadap perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais mengalami penolakan? Atau apa yang terjadi jika komunikasi sama sekali tidak dilakukan? Mengingat kedudukan persepsi adalah fundamental bagi manusia untuk menggunakan dan berkegiatan di dalam suatu ruang, maka untuk mengisi kekosongan informasi sebagai pembentuk persepsi, pengguna akan melakukan tafsir-subjektif terhadap perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais berdasarkan identitas dan latarbelakang diri masing-masing. Konsekuensinya akan bermunculan keragaman hasil tafsir yang bisa jadi bernilai baik dari sudut pandang pihak berwenang UMS dan bisa jadi pula bernilai sebaliknya. Yang harus diwaspadai, keragaman hasil tafsir akan membentuk keragaman persepsi yang merupakan asas bagi munculnya keragaman kegiatan dan perilaku. Suatu saat jika terjadi kegiatan yang tidak sesuai dan perilaku yang tidak beradab di ruang Masjid Sudalmiyah Rais pastilah disebabkan persepsi yang tidak dikehendaki dan patutlah ditelusur sebab musababnya hingga persoalan komunikasi menyampaikan makna perihal perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais.

Saya melihat dua celah yang dapat dimasuki untuk dilakukannnya tafsir subjektif berkaitan dengan perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais. Salah satu celah akan menghasilkan penafsiran yang bernilai baik dan celah lainnya akan menghasilkan penafsiran dengan nilai sebaliknya. Perbedaan hasil tafsir dan nilainya dikarenakan kompleksitas unsur-unsur arsitektural Masjid Sudalmiyah Rais yang terbentuk dari (1) unsur bercorak Timur Tengah yang diwakili unsur kubah pada atap serta pelengkung pada pintu masuk dan penghubung antar kolom; (2) unsur bercorak lokalitas yang diwakili bentuk atap limasan; dan (3) unsur bercorak kontemporer yang diwakili bentuk tubuh bangunan. Ketiga ragam corak unsur arsitektur tersebut dijalin menjadi satu komposisi perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais yang selalu terbuka untuk ditafsirkan beragam. 

Saya akan menelusuri kemungkinan hasil penafsiran-subjektif dimulai dengan memasuki celah pertama. Memasuki celah ini akan didapati hasil penafsiran yang bernilai baik karena dilandasi pandangan bahwasanya keragaman corak unsur arsitektur membentuk komposisi yang harmonis di mana setiap unsur saling bersepadu membentuk kesatuan wujud fisik Masjid Sudalmiyah Rais. Harmonisasi perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah dapat ditafsirkan dengan (1) keberlanjutan kesejarahan yang ditandai dengan unsur bercorak Timur Tengah sebagai tanda bagi masa lalu dan unsur bercorak Kontemporer sebagai tanda bagi masa kini; dan (2) keberakaran pada pusat yang berada ‘di sana’ merujuk pada wilayah diutusnya Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam untuk menyampaikan Islam kepada seluruh umat manusia yang ditandai dengan unsur bercorak Timur Tengah yang terhubung dengan tempat kehadiran yang merujuk pada wilayah ‘di sini’ yang ditandai dengan unsur lokalitas. Merangkai keduanya akan membentuk hasil penafsiran mengenai perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais yang secara fungsional merupakan ruang khas milik Islam; yakni (1) kebenaran Islam bersifat lintas waktu dan ruang di mana yang kini terhubung dengan yang lalu dan yang ‘di sini’ terhubung dengan yang ‘di sana’; dan (2) Islam yang hadir ‘di sini’ dari segi substansi dan asasnya adalah sama; otentik dengan Islam yang berasal dari pusat jauh ‘di sana’. Hasil tafsir demikian menegaskan bahwasanya Islam ialah satu; tidak terdapat varian Islam, di mana Islam yang satu tersebut dengan kebenaran tunggal yang bersifat lintas ruang dan waktu, mewujud dalam corak budaya yang beraneka ragam, sebagaimana ditampakkan keragaman unsur corak arsitektur yang yang membentuk perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais.

Keberlanjutan kesejarahan menjadi bermakna bagi warga Muhammadiyah dikaitkan dengan agenda Islam Berkemajuan yang diusung oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Dalam suatu seminar bertajuk Al-Qur’an dan Sains yang dihelat di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta beberapa tahun lalu, Prof. Yunahar Ilyas menyatakan bahwa Islam Berkemajuan yang berorientasi ke depan dicapai dengan cara menengok ke belakang yang merujuk pada masa hidup Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Berarti berdasarkan pada pernyataan beliau, Muhammadiyah hendak bergerak maju di atas lintasan waktu masa kini yang bersambung dengan masa lalu. Sementara bagi civitas UMS, keberlanjutan kesejarahan bermakna keterhubungan dengan khazanah ilmu pengetahuan masa lalu, terutama yang telah dirumuskan oleh generasi pendahulu umat Islam. Sehingga kerja keilmuan yang dilakukan UMS pada masa kini tidaklah dimulai dari titik nol karena merupakan kelanjutan dari kerja keilmuan yang telah dilakukan generasi pendahulu. Dengan begitu, keberlanjutan kesejarahan sebagai hasil penafsiran-subjektif terhadap perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais bermakna keberlanjutan Islam dan ilmu pengetahuan serta keterhubungan antara keduanya. Tampaknya inilah yang tersirat dari slogan yang diusung UMS, “Wacana Keilmuan dan Keislaman”. 

Sedangkan keberakaran pada pusat ‘di sana’ yang terhubung dengan tempat kehadiran ‘di sini’ menjadi bermakna bagi warga Muhammadiyah dikaitkan dengan strategi dakwah kultural yang diusung Persyarikatan Muhammadiyah sebagaimana tertuang dalam sebuah buku yang dikeluarkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tahun 2004 silam di mana dalam gerak dakwahnya, Persyarikatan Muhammadiyah berupaya memperhatikan potensi manusia beserta dengan lingkungan budaya setempat yang melingkupinya. Secara konseptual, strategi dakwah kultural berarti menginternalisasikan Islam yang berasal dari pusat ‘di sana’ ke dalam lingkungan budaya setempat ‘di sini’. Pun begitu bagi civitas UMS, keberakaran menjadi bermakna dikaitkan dengan pendidikan yang pada hakikatnya merupakan dakwah untuk memberadabkan manusia, meliputi dakwah kepada diri sendiri, kepada sesama civitas UMS, kepada manusia yang hadir di sekitar lingkungan UMS dan lebih luas lagi kepada manusia yang dapat dijangkau oleh UMS dari segi keruangan.

Hasil penafsiran-subjektif berbeda sepenuhnya dari segi substansi maupun nilai jika memasuki celah kedua yang dilandasi pandangan bahwasanya tiga corak unsur arsitektur Masjid Sudalmiyah Rais membentuk komposisi yang kacau dan semrawut karena antar unsur tidak memiliki kait hubungan dan terkesan ditumpuk begitu saja tanpa panduan dan pengikat. Komposisi yang kacau paling mungkin untuk ditafsirkan sebagai kebingungan akibat ketidakjelasan tujuan dan tidak dimilikinya panduan. Simpulan tafsir demikian mendapatkan penguat dari keberadaan koridor lengkung di sisi kiri dan kanan Masjid Sudalmiyah Rais yang dari aspek bentuknya bisa jadi dipandang tidak selaras dengan bentuk bangunan utama masjid, bahkan mengaburkan orientasi kiblat, dan dari segi fungsinya bisa jadi dipandang membingungkan karena pada sisi dalam koridor terdapat jalur sirkulasi dengan ketinggian permukaan lebih rendah, sehingga akan mengundang pertanyaan, apakah koridor lengkung tersebut diperuntukkan untuk jalur sirkulasi atau digunakan untuk mewadahi kegiatan tertentu?

Hasil penafsiran sebagaimana di atas bernilai tidak baik yang jika dikaitkan dengan Persyarikatan Muhammadiyah akan dipahami sebagai kebingunan menentukan arah dakwah, terutama dalam ranah pemikiran. Apakah Muhammadiyah tetap pada lintasan Modernis ataukah berpindah pada lintasan Neo-Tradisionalis atau malah menyebrang ke lintasan Neo-Modernis? Dan jika dikaitkan dengan UMS sebagai institusi perguruan tinggi Islam akan dipahami sebagai kebingungan dalam arah pendidikan yang diusungnya. Tentu saja hasil penafsiran demikian tidak dikehendaki karena tidak saja menyangkut nama baik UMS dan kehormatan Persyarikatan Muhammadiyah, tetapi juga harga diri umat Islam dan kemuliaan Islam karena dari segi kesejarahan dan kontribusinya, UMS merupakan salah satu wajah pendidikan Islam di Indonesia dan Persyarikatan Muhammadiyah merupakan salah satu rumah-bersama bagi umat Islam di Indonesia dan motor penggerak Peradaban Islam di Indonesia.

Ikhtiar yang dapat diusahakan untuk menutup celah kedua agar tidak terbentuk persepsi yang bernilai tidak baik di dalam diri pengguna masjid adalah dengan melakukan komunikasi dari pihak berwenang UMS yang berkedudukan sebagai tafsir resmi mengenai perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais. Perlu dicatat, substansi komunikasi tidak saja harus bermakna bagi pengguna, tetapi juga memiliki kepejalan dan fleksibilitas yang cukup agar tersisa ruang penafsiran-subjekif bagi setiap pengguna untuk mendaku tafsir resmi sebagai miliknya secara psikologis. Hanya dengan mekanisme inilah tafsir resmi dapat diterima dan dapat bermakna bagi banyak manusia yang setiap dirinya adalah khas. Dengan mekanisme ini pula tafsir resmi akan dapat mengalami perkembangan dalam batas-batas yang diizinkan seiring perubahan zaman, sehingga perwujudan fisik Masjid Sudalmiyah Rais beserta dengan makna yang dilekatkan padanya dapat terus relevan seiring lintasan zaman. Tentulah kita semua menghendaki kehadiran Masjid Sudalmiyah Rais untuk jangka waktu yang tidak sebentar, mungkin untuk beratus tahun ke depan. Untuk itu dibutuhkan satu tafsir dan ruang kosong secukupnya agar dapat merentang ke zaman depan!

Allahu a’lam bishawab.
Bertempat di Kartasura pada Jumadil Akhir 1439 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar