Selasa, 29 Mei 2018

Rumusan Definisi Pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam (1); Mengurai Ragam Definisi

Hingga hari ini persoalan yang hampir selalu mengundang perdebatan di antara kalangan pewacana dan pengkaji Arsitektur Islam, bahkan sepertinya tidak akan berakhir dan dicapai kesepakatan dalam waktu dekat adalah persoalan definisi. Contoh saja yang hingga hari ini masih menjadi perdebatan ialah perihal istilah Arsitektur Islam ataukah Arsitektur Islami yang lebih tepat digunakan untuk menggambarkan hubungan antara Islam dan arsitektur. Terdapat dua hal yang menjadikan persoalan pendefinisian menyulut perdebatan berlarut dan panjang. Pertama, definisi didasari asumsi-asumsi yang diyakini benar-mutlak oleh kalangan pengusungnya, meliputi hubungan antara Islam dan Arsitektur, kedudukan Islam dalam hubungannya dengan Arsitektur, serta kedudukan manusia dan alam dalam hubungan yang terjalin antara Islam dan Arsitektur.

Penilaian benar-mutlak terhadap asumsi yang mendasari definisi yang diajukan masing-masing kalangan tidak dapat dihindari karena kedudukannya sebagai landasan filosofis menjadikan persoalan pendefinisian hampir tidak dapat dihindari untuk tidak menyentuh aspek keimanan yang merupakan dimensi psikologis paling dalam diri manusia. Keimanan yang saya maksud tidak harus diartikan secara Teologi, tetapi meliputi pula pengertiannya secara eksistensial yang menjadikan sesuatu begitu bermakna bagi kehidupan seseorang atau semacam sebuah perasaan keyakinan yang begitu mendalam dan diyakini benar. Perkara keimanan dan yang terkait dengannya erat dengan pandangan bahwasanya kebenaran bersifat mutlak dan tunggal, sehingga tidak dapat diterima adanya kebenaran lain atau kebenaran yang beragam di luar asumsi yang diyakininya sebagai satu-satunya kebenaran. Selain itu, terlibatkan dimensi psikologis menjadikan perdebatan yang terjadi berlangsung alot dan berkepanjang karena bermuatan emosional. Setiap kritik terhadap definisi yang diajukan dianggap sebagai bentuk penentangan terhadap asumsi yang mendasari dan berarti merupakan pengingkaran terhadap keimanan yang diyakininya mutlak-benar.

Kedua, definisi beserta asumsi yang mendasarinya berkedudukan sebagai landasan filosofis yang merupakan pondasi bagi bangunan ilmu. Berarti tanpa definisi dan begitupula tanpa asumsi-asumsi yang mendasarinya, maka tidak tersedia pondasi untuk mendirikan bangunan ilmu. Dalam ranah praktik, kerja penelitian dan perancangan arsitektur tidak dapat dilakukan jika tidak tersedia definisi. Oleh karena itu kedudukan definisi begitu penting dan mutlak dibutuhkan sebab tanpanya tidak akan wujud ilmu pengetahuan maupun teknologi arsitektur. Sebagai pondasi, definisi tidak saja berfungsi menopang bangunan ilmu agar ajeg dan tidak roboh, tetapi juga memberi corak dan warna terhadap bangunan ilmu yang didirikan di atasnya. Dengan cara pandang ini, diajukannya beragam definisi Arsitektur Islam beserta asumsi yang mendasarinya menandakan keragaman corak dan warna Arsitektur Islam. Keragaman tersebut ditinjau dari sosiologi pengetahuan membentuk dua hal, yakni (1) keragaman mazhab atau pendekatan dalam pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam; dan (2) modal sosial masing-masing pendekatan, baik personal maupun dalam bentuk komunitas keilmuan.

Ditinjau dari kedua poin di atas, perdebatan menyoal definisi terjadi karena masing-masing modal sosial dengan pelibatan dimensi psikologis paling dalam dirinya menghendaki pendekatan yang diusung, definisi yang dipegang dan asumsi yang diyakininya benar dapat diterima sebagai satu-satunya kebenaran dan sebagai satu-satunya pendekatan yang sah dalam pengkajian Arsitektur Islam. Untuk mencapainya berlaku mekanisme dua proses perdebatan ilmiah yang harus dilalui oleh setiap kalangan yang terlibat yang lebih dikenal dengan dialektika ilmu, yakni (1) mengajukan serta mempertahankan definisi yang diyakininya benar dari gugatan pihak lain dengan menyediakan argumentasi yang memadai dan kokoh; serta (2) melakukan kritik terhadap definisi selainnya untuk memperlihatkan dan membuktikan kelemahan-kelemahan yang terdapat didalamnya sekaligus untuk menegaskan kelebihan definisi yang diajukan.

Dengan latar belakang di atas, dalam tulisan ini saya hendak mengajukan definisi yang melandasi secara filosofis pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam. Keterlibatan saya dalam perdebatan definisi Arsitektur Islam tidak dapat dihindari disebabkan keterlibatan saya sebelumnya dengan merumuskan dan memperkenalkan pendekatan baru untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang saya dapati dalam ragam pendekatan Arsitektur Islam, paling tidak yang telah dikenal luas dan merupakan pendekatan arus utama di dalam pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam di Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, tidak tersedia jalan bagi saya selain melibatkan diri dalam mekanisme dialektika ilmiah. Sehingga untuk meyakinkan kalangan pewacana dan pengkaji Arsitektur Islam bahwa pendekatan Psiko-Kultural yang saya usung adalah benar begitupula dengan definisi serta asumsi yang mendasarinya, maka langkah yang harus saya lakukan adalah mengajukan definisi kemudian melakukan kritik terhadap definisi lain yang telah diajukan sekaligus menegaskan kelebihan definisi yang saya ajukan.

Pada bagian pertama tulisan ini saya akan memaparkan empat definisi beserta modal sosial pengusungnya yang telah dikenal luas dan sejauh ini diterima oleh pewacana dan pengkaji Arsitektur Islam di Indonesia. Selanjutnya pada bagian kedua, saya akan mengajukan definisi berikut dengan asumsi yang mendasari dan argumentasi yang mendukung sebagai landasan pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam. Dan pada bagian ketiga atau bagian terakhir dari tulisan ini saya akan membandingkan definisi yang saya ajukan pada bagian kedua dengan definisi yang saya paparkan pada bagian pertama untuk menegaskan kelebihan dari definisi yang saya ajukan.