Selasa, 29 Mei 2018

Rumusan Definisi Pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam (1); Mengurai Ragam Definisi

Hingga hari ini persoalan yang hampir selalu mengundang perdebatan di antara kalangan pewacana dan pengkaji Arsitektur Islam, bahkan sepertinya tidak akan berakhir dan dicapai kesepakatan dalam waktu dekat adalah persoalan definisi. Contoh saja yang hingga hari ini masih menjadi perdebatan ialah perihal istilah Arsitektur Islam ataukah Arsitektur Islami yang lebih tepat digunakan untuk menggambarkan hubungan antara Islam dan arsitektur. Terdapat dua hal yang menjadikan persoalan pendefinisian menyulut perdebatan berlarut dan panjang. Pertama, definisi didasari asumsi-asumsi yang diyakini benar-mutlak oleh kalangan pengusungnya, meliputi hubungan antara Islam dan Arsitektur, kedudukan Islam dalam hubungannya dengan Arsitektur, serta kedudukan manusia dan alam dalam hubungan yang terjalin antara Islam dan Arsitektur.

Penilaian benar-mutlak terhadap asumsi yang mendasari definisi yang diajukan masing-masing kalangan tidak dapat dihindari karena kedudukannya sebagai landasan filosofis menjadikan persoalan pendefinisian hampir tidak dapat dihindari untuk tidak menyentuh aspek keimanan yang merupakan dimensi psikologis paling dalam diri manusia. Keimanan yang saya maksud tidak harus diartikan secara Teologi, tetapi meliputi pula pengertiannya secara eksistensial yang menjadikan sesuatu begitu bermakna bagi kehidupan seseorang atau semacam sebuah perasaan keyakinan yang begitu mendalam dan diyakini benar. Perkara keimanan dan yang terkait dengannya erat dengan pandangan bahwasanya kebenaran bersifat mutlak dan tunggal, sehingga tidak dapat diterima adanya kebenaran lain atau kebenaran yang beragam di luar asumsi yang diyakininya sebagai satu-satunya kebenaran. Selain itu, terlibatkan dimensi psikologis menjadikan perdebatan yang terjadi berlangsung alot dan berkepanjang karena bermuatan emosional. Setiap kritik terhadap definisi yang diajukan dianggap sebagai bentuk penentangan terhadap asumsi yang mendasari dan berarti merupakan pengingkaran terhadap keimanan yang diyakininya mutlak-benar.

Kedua, definisi beserta asumsi yang mendasarinya berkedudukan sebagai landasan filosofis yang merupakan pondasi bagi bangunan ilmu. Berarti tanpa definisi dan begitupula tanpa asumsi-asumsi yang mendasarinya, maka tidak tersedia pondasi untuk mendirikan bangunan ilmu. Dalam ranah praktik, kerja penelitian dan perancangan arsitektur tidak dapat dilakukan jika tidak tersedia definisi. Oleh karena itu kedudukan definisi begitu penting dan mutlak dibutuhkan sebab tanpanya tidak akan wujud ilmu pengetahuan maupun teknologi arsitektur. Sebagai pondasi, definisi tidak saja berfungsi menopang bangunan ilmu agar ajeg dan tidak roboh, tetapi juga memberi corak dan warna terhadap bangunan ilmu yang didirikan di atasnya. Dengan cara pandang ini, diajukannya beragam definisi Arsitektur Islam beserta asumsi yang mendasarinya menandakan keragaman corak dan warna Arsitektur Islam. Keragaman tersebut ditinjau dari sosiologi pengetahuan membentuk dua hal, yakni (1) keragaman mazhab atau pendekatan dalam pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam; dan (2) modal sosial masing-masing pendekatan, baik personal maupun dalam bentuk komunitas keilmuan.

Ditinjau dari kedua poin di atas, perdebatan menyoal definisi terjadi karena masing-masing modal sosial dengan pelibatan dimensi psikologis paling dalam dirinya menghendaki pendekatan yang diusung, definisi yang dipegang dan asumsi yang diyakininya benar dapat diterima sebagai satu-satunya kebenaran dan sebagai satu-satunya pendekatan yang sah dalam pengkajian Arsitektur Islam. Untuk mencapainya berlaku mekanisme dua proses perdebatan ilmiah yang harus dilalui oleh setiap kalangan yang terlibat yang lebih dikenal dengan dialektika ilmu, yakni (1) mengajukan serta mempertahankan definisi yang diyakininya benar dari gugatan pihak lain dengan menyediakan argumentasi yang memadai dan kokoh; serta (2) melakukan kritik terhadap definisi selainnya untuk memperlihatkan dan membuktikan kelemahan-kelemahan yang terdapat didalamnya sekaligus untuk menegaskan kelebihan definisi yang diajukan.

Dengan latar belakang di atas, dalam tulisan ini saya hendak mengajukan definisi yang melandasi secara filosofis pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam. Keterlibatan saya dalam perdebatan definisi Arsitektur Islam tidak dapat dihindari disebabkan keterlibatan saya sebelumnya dengan merumuskan dan memperkenalkan pendekatan baru untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang saya dapati dalam ragam pendekatan Arsitektur Islam, paling tidak yang telah dikenal luas dan merupakan pendekatan arus utama di dalam pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam di Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, tidak tersedia jalan bagi saya selain melibatkan diri dalam mekanisme dialektika ilmiah. Sehingga untuk meyakinkan kalangan pewacana dan pengkaji Arsitektur Islam bahwa pendekatan Psiko-Kultural yang saya usung adalah benar begitupula dengan definisi serta asumsi yang mendasarinya, maka langkah yang harus saya lakukan adalah mengajukan definisi kemudian melakukan kritik terhadap definisi lain yang telah diajukan sekaligus menegaskan kelebihan definisi yang saya ajukan.

Pada bagian pertama tulisan ini saya akan memaparkan empat definisi beserta modal sosial pengusungnya yang telah dikenal luas dan sejauh ini diterima oleh pewacana dan pengkaji Arsitektur Islam di Indonesia. Selanjutnya pada bagian kedua, saya akan mengajukan definisi berikut dengan asumsi yang mendasari dan argumentasi yang mendukung sebagai landasan pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam. Dan pada bagian ketiga atau bagian terakhir dari tulisan ini saya akan membandingkan definisi yang saya ajukan pada bagian kedua dengan definisi yang saya paparkan pada bagian pertama untuk menegaskan kelebihan dari definisi yang saya ajukan.

A. Mengurai Ragam Definisi

Sejauh ini saya mendapati empat definisi Arsitektur Islam, meliputi istilah dan maknanya, yang telah diterima luas di dalam iklim pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam di Indonesia dengan modal sosialnya masing-masing, baik perseorangan maupun dalam bentuk komunitas ilmiah. Saya akui tidak mudah untuk melakukan kategorisasi secara ketat bahwa definisi A diusung oleh kalangan pertama atau definisi B diusung oleh kalangan kedua, terlebih jika kalangan tersebut tidak secara tegas menyatakan kedudukannya dalam peta wacana dan pengkajian Arsitektur Islam. Pun pada kenyataannya, suatu kalangan dapat menerima lebih dari satu ragam definisi atau definisi yang diajukannya merupakan rangkuman dari banyak definisi lainnya, sehingga menjadikannya dapat digolongkan ke dalam lebih dari satu kelompok modal sosial. Oleh karena itu, dalam tulisan ini menjadi tidak terhindarkan bagi saya untuk melakukan penyederhanaan secara sosiologis dalam rangka melakukan kategorisasi modal sosial dengan melihat kecenderungan dari definisi yang diajukan dan pendekatan yang melatarbelakanginya.

Saya mulai dengan kalangan pertama. Kalangan ini menolak penggunaan istilah Arsitektur Islam untuk mendefinisikan hubungan antara Islam dan Arsitektur. Berdasarkan argumentasi penolakannya, kalangan pertama ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yang salah satunya diwakili oleh Budi Faisal [1], menolak istilah Arsitektur Islam dikarenakan istilah tersebut dapat bermakna tiga hal yang ketiganya dinilai tidak tepat. Pertama, istilah Arsitektur Islam bermakna bahwa Islam adalah arsitektur dikarenakan keduanya berkedudukan sebagai kata benda. Makna ini ditolak karena Islam bukanlah ilmu pengetahuan arsitektur, tetapi merupakan Dien yang diwahyukan kepada Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Kedua, dapat bermakna arsitektur yang beragama Islam. Makna kedua inipun ditolak karena pada dasarnya seluruh ciptaan Allah tunduk berserah diri kepada-Nya yang telah menjadi Sunnatullah, sehingga dalam ranah arsitektur pun tidak diperlukan lagi pembedaan antara Arsitektur Islam dan tidak Islam. Ketiga, istilah Arsitektur Islam juga dapat bermakna arsitektur yang berkembang di tengah masyarakat Muslim. Makna tersebut pun ditolak karena dalam realitasnya, arsitektur yang dihadirkan masyarakat Muslim seringkali tidak memiliki perbedaan dengan arsitektur yang dihadirkan oleh masyarakat non Muslim, sehingga penisbatannya kepada Islam akan menyebabkan berbagai persoalan.

Kelompok kedua dari kalangan pertama yang salah satunya diwakili oleh Munichi Bachroon Edres [2], menolak penggunaan istilah Arsitektur Islam dengan argumentasi bahwasanya secara objektif tidak terdapat arsitektur yang Islam sebagaimana tidak terdapat arsitektur yang kafir sebagai konsekuensi dari struktur biner yang mendasarinya adanya konsep kafir jika terdapat Islam yang bermakna keimanan. Persoalan Islam dan tidak Islam serta iman dan kafir merujuk pada diri manusia sebagai subjek pencipta arsitektur yang kelak akan dimintakan pertanggungjawaban oleh Allah pada Hari Kiamat atas amalan yang telah dilakukannya, termasuk amalannya dalam bidang arsitektur, sehingga penisbatan Islam kepada arsitektur tidaklah tepat karena arsitektur yang berkedudukan sebagai objek hasil amalan manusia tidak akan dihisab pada Hari Kiamat.

Argumentasi kedua yang mendasari kelompok kedua menolak penggunaan istilah Arsitektur Islam adalah terdapatnya pemahaman yang telah diterima secara luas terkait pengertian dari istilah tersebut, yakni arsitektur yang menerapkan simbol-simbol khas Islam seperti kubah, minaret, pelengkung, ornamen dan unsur arsitektural lainnya. Menekankan kembali pada diri manusia sebagai subjek pencipta dan pengguna arsitektur, kelompok kedua menyatakan, secara objektif Islam tidak memiliki simbol, termasuk dalam bidang arsitektur, karena Islam merupakan agama amalan yang memiliki panduan terhadap amalan penganutnya dalam seluruh aspek kehidupannya, tidak terkecuali amalan di bidang arsitektur. Sehingga, sekali lagi, Islam yang merupakan agama amalan hanya dapat dinisbatkan kepada manusia, bukan kepada arsitektur.

Sebagai kelanjutan dari penolakannya terhadap istilah Arsitektur Islam berdasarkan argumentasi di atas untuk menggambarkan hubungan antara Islam dan arsitektur, kalangan pertama menggunakan istilah Arsitektur Islami yang diartikan sebagai arsitektur yang bersifat Islami dengan kedudukan frasa arsitektur sebagai kata benda dan Islami sebagai kata sifat yang berfungsi memberi sifat kepada kata benda yang berada di depannya. Kelompok pertama mendefinisikan Arsitektur Islami sebagai arsitektur yang melalui wujud dan karakter-karakter fisiknya merepresentasikan usaha seseorang atau komunitas Muslim untuk mengamalkan ajaran Islam dalam visi yang menyeluruh (kaffah). Definisi Arsitektur Islami tersebut oleh kelompok pertama disimpulkan sebagai suatu manifestasi fisik yang merupakan refleksi dari cara dan pola hidup Islami. Lebih ringkas, kelompok kedua mendefinisikan Arsitektur Islami sebagai arsitektur yang menerapkan nilai Islam atau Syariat Islam.

Perbedaan antara dua kelompok yang merupakan bagian dari kalangan pertama dalam memahami Arsitektur Islami adalah penekannya pada aspek subjek dan objek. Kelompok pertama dalam mendefinisikan Arsitektur Islami menekankan pada subjek sekaligus objek, sehingga kriteria Arsitektur Islami meliputi kualitas Islami pada diri manusia yang mencipta arsitektur sekaligus kualitas Islami pada objek arsitektur yang dihadirkan. Untuk kualitas Islami pada subjek, kelompok pertama menekankan pada kedudukan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi yang diberi tanggungjawab oleh Allah untuk menjaga kelestarian dan kemakmuran di muka bumi sesuai dengan kehendak-Nya. Sementara untuk membentuk kualitas Islami pada objek, kelompok pertama cenderung menggunakan pendekatan Fikih, walaupun pendekatan Islam yang lain tidak ditolak oleh kelompok ini. Sedangkan kelompok kedua dalam mendefinisikan Arsitektur Islami menekankan pada subjek, yakni kualitas Islami pada diri manusia yang mencipta arsitektur. Model yang seringkali digunakan adalah arsitektur yang rahmatan lil alamin di mana penyifatan rahmatan lil alamin terhadap arsitektur merupakan konsep khas milik Islam yang berada di dalam diri subjek dan direalisasikan melalui amalan. Terlepas dari perbedaan dalam memahami istilah Arsitektur Islami, kedua kelompok bersepakat Arsitektur Islami hanya dapat dihadirkan oleh manusia Muslim.

Kalangan kedua yang salah satunya diwakili oleh Nangkula Utaberta [3], menerima penggunaan istilah Arsitektur Islam untuk menggambarkan hubungan antara Islam dan Arsitektur. Istilah Arsitektur Islam didefinisikan sebagai lingkungan yang berdasarkan atau menerapkan prinsip dasar dan nilai-nilai Islam. Pemaknaan tersebut sekilas memiliki kesamaan dengan definisi Arsitektur Islami yang diusung oleh kalangan pertama, hanya saja berbeda dalam peristilahan yang digunakan. Kesamaan lainnya dengan kalangan pertama adalah penolakan kalangan kedua terhadap simbolisasi yang bersifat arsitektural dalam memahami hubungan antara Islam dan Arsitekur. Kritik tersebut dibahas panjang lebar oleh Nangkula Utaberta dalam berbagai karta ilmiah beliau bersandarkan pada argumentasi bahwasanya simbolisasi tidak memiliki akar pemikiran yang kuat karena hanya merupakan pembentukan citra belaka.

Selain kesamaan, terdapat perbedaan asasi antara kedua kalangan dalam aspek subjek pencipta arsitektur. Kalangan kedua menempatkan Arsitektur Islam sebagai ilmu pengetahuan mengenai lingkungan binaan yang bersifat objektif-universal teruntuk seluruh umat manusia, baik berstatus sebagai Muslim maupun non Muslim [4]. Kalangan kedua dengan definisi yang diusungnya berpandangan bahwasanya Arsitektur Islam sebagai ilmu pengetahuan tidaklah eksklusif milik umat Islam, karenanya kalangan non Muslim pun dapat terlibat dan berkontribusi dalam penciptaan Arsitektur Islam. Yang membedakannya adalah pada aspek tujuan penciptaan Arsitektur Islam yang bagi kalangan non Muslim tidaklah ditujukan untuk syiar Islam karena tujuan tersebut hanya dapat direalisasikan oleh seorang Muslim. Model objek arsitektur yang digunakan kalangan ini untuk mendukung definisinya tersebut adalah Masjid Istiqlal Jakarta yang notabene dirancang oleh Frederich Silaban seorang penganut Kristen. Secara faktual, tidak dapat dipungkiri kontribusi yang diberikan oleh F. Silaban yang notabene merupakan kalangan non Muslim dalam perkembangan dan khazanah Arsitektur Masjid yang merupakan arsitektur khas Islam dari segi tipologi fungsionalnya.

Arsitektur Islam sebagai ilmu pengetahuan lingkungan binaan yang bersifat objekif-universal oleh kalangan kedua disarikan menjadi delapan prinsip [5] sekaligus merupakan indikator untuk menilai suatu objek arsitektur dapat dikategorikan sebagai Arsitektur Islam atau tidak meliputi prinsip (1) pengingatan kepada Tuhan; (2) pengingatan pada ibadah dan perjuangan; (3) prinsip pengingatan pada kehidupan setelah kematian; (4) pengingatan akan kerendahan hati; (5) pengingatan akan wakaf dan kesejahteraan publik; (6) pengingatan terhadap toleransi kultural; (7) pengingatan akan kehidupan yang berkelanjutan; dan (8) pengingatan tentang keterbukaan. Untuk menekankan pemahaman Arsitektur Islam oleh kalangan kedua yang bersifat inklusif, model yang digunakan adalah karya arsitektur hasil cipta Frank Lloyd Wright yang walaupun merupakan kalangan non Muslim, tetapi berkesesuaian dengan nilai-nilai Islam atau berkesesuaian dengan prinsip Arsitektur Islam.

Selain istilah Arsitektur Islam, kalangan kedua juga mengajukan istilah Arsitektur Muslim yang didefinisikannya sebagai lingkungan binaan yang dicipta oleh umat Islam. Jika Arsitektur Islam bersifat ideal-objektif yang memungkinkan non Muslim pun dapat mencapai idealitas Islam dalam bidang arsitektur, maka Arsitektur Muslim bersifat relatif karena berkaitan dengan kualitas diri umat Islam yang bisa jadi ideal dan bisa jadi jauh dari idealitas Islam, sehingga arsitektur yang dicipta umat Islam pun bisa jadi ideal karena menerapkan nilai-nilai Islam dan bisa jadi jauh dari idealitas Islam. Model yang seringkali digunakan kalangan kedua untuk mendukung definisi Arsitektur Muslim yang diajukannya adalah Taj Mahal. Ditinjau dari aspek subjeknya berstatus sebagai umat Islam, tetapi arsitektur yang diciptanya tidak sesuai atau bertentangan dengan nilai-nilai Islam karena meninggikan dan memberi atap pada kuburan yang jelas-jelas dilarang dalam Islam.

Berbeda dengan dua kalangan sebelumnya yang merupakan pewacana dan pengkaji Arsitektur Islam dari kalangan Muslim, kalangan ketiga yang akan saya bahas dalam tulisan ini merupakan pengkaji Arsitektur Islam dari kalangan non Muslim yang diwakili oleh Robert Hillenbrand [6], Cresswell [7] dan Goodfrey [8]. Kalangan ketiga yang notabene berasal dari Negeri Barat dan berbahasa Inggris, dalam kajiannya menggunakan istilah Islamic Architecture yang diterjemahkan oleh pewacana dan pengkaji Arsitektur Islam di Indonesia menjadi Arsitektur Islam. Kalangan ini tidak secara langsung dan spesifik menjelaskan pengertian dari istilah yang digunakannya, tetapi dapat ditangkap dari karya ilmiah yang dituliskan bahwa yang dimaksud dengan Islamic Architecture adalah lingkungan binaan yang dicipta oleh umat Islam di Dunia Islam. Berdasarkan pendekatan kesejarahan yang digunakan kalangan ini dalam pengkajian Islamic Architecture, dapat dipahami bahwa yang dimaksudnya dengan Dunia Islam dalam definisi yang diajukannya ialah keseluruhan wilayah yang pada masa lalu berada di bawah kekuasaan umat Islam sejak periode Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam hingga periode Dinasti Utsmani yang menjadi ujung akhir dari Peradaban Islam sebelum memasuki periode Modern.

Definisi yang diajukan beserta pendekatan yang digunakan kalangan ketiga didasari asumsi bahwasanya arsitektur merupakan ilmu pengetahuan yang sudah seharusnya bersifat objektif, dalam artian pengkajian terhadap lingkungan binaan yang telah dicipta umat Islam dalam suatu fase sejarah peradabannya tidak dipengaruhi oleh bias keyakinan keagamaan yang bersifat subjektif. Untuk mencapai objektivitas, kalangan ketiga menetapkan tiga metode. Pertama, pengkajian dilakukan terhadap artefak arsitektur yang bersifat fisikal-konkret, bukan terhadap gagasan yang melatarbelakangi perwujudan fisik artefaknya. Kedua, pengkajian yang dilakukan bersifat deskriptif untuk mendokumentasikan sejelas dan sedetail mungkin perwujudan fisik arsitektur yang dicipta umat Islam. Dan ketiga, untuk pengkajian yang bersifat analitik digunakan pisau analisa yang dipandangnya bersifat bebas nilai dari bias keagamaan karenanya berlaku universal. Dari metode pertama dan kedua, kalangan ini merumuskan unsur-unsur arsitektural yang dinyatakannya khas Islamic Architecture meliputi kubah, pelengkung, ornamen, iwanat, tipologi ruang hypostyle dan sebagainya. Sedangkan dari metode ketiga dengan berpegang pada kerangka teoritik yang dipandang bebas nilai dan bersifat universal, kalangan ini menetapkan kualitas artefak arsitektur yang dicipta umat Islam.

Selain dari kalangan Orientalis, juga terdapat pengkaji Arsitektur Islam dari kalangan Muslim, di antaranya adalah Abdul Rochym [9] dan Yulianto Sumalyo [10], yang dari aspek definisi, pendekatan dan metode yang digunakan memiliki kesamaan dengan kalangan ketiga di atas. Perbedaannya terdapat pada aspek epistemologi, yakni diakuinya Wahyu yang berasal dari Tuhan oleh pengkaji Arsitektur Islam dari kalangan Muslim yang dipandangnya merupakan sumber motivasi dan inspirasi yang kuat bagi umat Islam dalam mencipta arsitekturnya. Ditinjau dari tahun terbit, sebenarnya karya ilmiah yang dihasilkan kalangan Muslim jauh lebih awal dibandingkan kalangan Orientalis, tetapi bisa jadi disebabkan intensitas pengkajian dan karya ilmiah yang dihasilkannya tidak setinggi kalangan Orientalis dan penyebarannya pun tidak meluas, terbentuk persepsi bahwa pengkaji Arsitektur Islam dari kalangan Muslim terpengaruh oleh kalangan Orientalis. Terlepas dari persoalan ini, pendekatan, metode dan hasil kajian yang dilakukan kalangan ketiga harus diakui turut menyemarakkan dan bahkan menjadi arus utama dalam pengkajian Arsitektur Islam di Indonesia, baik diterima sebagai sebuah pendekatan dengan meyakini benar definisi beserta asumsi yang mendasarinya maupun diterima sebagai sebuah metodologi pengkajian arsitektur yang mensyaratkan dicapainya objektivitas untuk dapat dinyatakan memenuhi kaidah ilmiah.

Kalangan keempat atau kalangan terakhir yang akan saya bahas pada bagian pertama tulisan ini tidak dapat dipisahkan dari kalangan ketiga karena beberapa tokohnya sebagaimana telah saya jabarkan di atas, dapat pula dikategorikan sebagai kalangan keempat. Ciri khas yang membedakan kalangan ini dengan ketiga kalangan sebelumnya adalah digunakannya pendekatan tipologi-fungsional untuk mendefinisikan hubungan antara Islam dan arsitektur yang didasari asumsi bahwasanya unsur paling penting dari arsitektur ialah aspek fungsionalnya berdasarkan pada tujuan diciptanya arsitektur oleh manusia. Oleh karena itu suatu objek arsitektur paling mudah dapat dikenali dari aspek fungsionalnya dan dalam pengkajian arsitektur, suatu objek arsitektur dapat dikategorikan berdasarkan aspek fungsionalnya pula. Walaupun berpegang pada pendekatan yang sama, terjadi perbedaan pendapat di antara kalangan keempat perihal istilah yang digunakan, serta lingkup tipologi yang ditetapkan.

Abdul Rochym dalam karya ilmiah yang sama sebagaimana telah dikutip pada bagian sebelumnya mendefinisikan pula istilah Arsitektur Islam dengan menggunakan pendekatan tipologi fungsional. Darinya didapatkan pengertian bahwasanya Arsitektur Islam terdiri dari tipe arsitektur religi meliputi masjid dan arsitektur non religi dengan batasan kategori masih merupakan rangkaian ungkapan kehidupan Islam meliputi istana, benteng pertahanan dan makam. Hampir sama dalam istilah tetapi lebih luas dalam lingkup tipologi, Robert Hillenbrand dalam karya ilmiahnya yang sama menyatakan bahwasanya Islamic Architecture terdiri dari dua tipe, yakni Islamic Architecture dalam pengertian keagamaan meliputi bangunan peribadatan yang tidak lain adalah masjid dan Islamic Architecture dalam pengertian kebudayaan yang meliputi bangunan sekular seperti caravansarayi, jembatan, kota, madrasah, makam, dan istana. Lebih sederhana dalam lingkup tipologi, John D. Hoag [11] menentukan lingkup Islamic Architecture sebatas pada fungsi masjid dan istana.

Jika diperhatikan terdapat kesamaan antara pengkaji Muslim dan pengkaji Orientalis yang tergolong sebagai kalangan keempat dalam aspek tipe-tipe yang ditentukan sebagai hasil dari abstraksi terhadap realitas kesejarahan umat Islam sepanjang peradabannya, yakni meliputi fungsi peribadatan dengan masjid sebagai bagian darinya dan fungsi selain peribadatan di mana terdapat perbedaan di antara tiga tokoh di atas mengenai objek arsitektur yang menjadi bagian darinya. Menurut saya, perbedaan tersebut tidak dapat dilepaskan dari dua hal. Pertama, disebabkan perbedaan lingkup wilayah dan waktu dalam kajian yang dilakukan di mana dalam setiap wilayah dan periodesasi waktu memiliki ciri khas fungsi arsitektur tertentu yang tidak ditemui di wilayah dan waktu yang lain. Kedua, berkaitan dengan fokus, minat atau ketertarikan personal dari pengkaji.

Selain pada lingkup tipe, perbedaan juga terdapat pada metode yang digunakan oleh kalangan pengkaji Muslim dan Orientalis untuk menentukan lingkup tipologi. Bagi pengkaji dari kalangan Orientalis, lingkup tipologi ditentukan berdasarkan intensitas suatu fungsi arsitektur dihadirkan oleh umat Islam sepanjag sejarah peradabannya. Jika suatu fungsi arsitektur dihadirkan secara berkelanjutan di setiap periode sejarah peradabannya, maka ditetapkan sebagai arsitektur khas Islam dengan menggolongkannya ke dalam salah satu tipe yang telah ditetapkan, apakah termasuk tipe fungsi peribadatan atau non peribadatan. Sebagai contoh, ditemukannya penciptaan arsitektur masjid yang berkelanjutan sepanjang sejarah peradaban umat Islam sejak masa Nabi hingga masa Utsmani menjadi dasar untuk menetapkan arsitektur masjid sebagai khas Islam yang digolongkan sebagai fungsi peribadatan. Sedangkan dasar yang digunakan kalangan pengkaji Muslim selain intensitas hadirnya suatu fungsi arsitektur dalam kurun sejarah Peradaban Islam yang menjadikannya memiliki kesamaan dengan kalangan pengkaji Orientalis, juga mendasarkannya pada Wahyu yang memuat perintah Allah agar manusia melakukan suatu kegiatan yang diwadahi dalam suatu fungsi arsitektur tertentu atau perintah Allah kepada manusia untuk mencipta suatu arsitektur seperti masjid. Keduanya menjadi dasar untuk menetapkan suatu fungsi arsitektur sebagai khas Islam.

Demikianlah pemaparan definisi atau lebih tepatnya ragam definisi Arsitektur Islam beserta asumsi yang mendasarinya. Sebagaimana pada pengantar tulisan ini, keragaman definisi dengan modal sosial pengusungnya menandakan keragaman pendekatan Arsitektur Islam. Dalam pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam, pendekatan yang diusung kalangan pertama dan kedua berdasarkan definisi yang diajukannya dinamakan dengan Pendekatan Nilai dengan ciri khasnya menekankan pada aspek nilai-nilai Islam. Walaupun kedua kalangan tergolong sebagai pengusung Pendekatan Nilai, tetapi antara keduanya memiliki perbedaan yang bersifat mendasar meliputi perbedaan dalam (1) istilah yang digunakan; (2) sifat dan pengertian nilai-nilai Islam; serta (3) metodologi untuk mewujudkan lingkungan binaan yang berdasarkan atau mencerminkan nilai-nilai Islam. Sedangkan, pendekatan yang diusung kalangan ketiga dan keempat berdasarkan metode yang digunakannya dalam pengkajian Arsitektur Islam dinamakan dengan Pendekatan Kesejarahan atau dinamakan pula dengan Pendekatan Formal merujuk pada aspek yang dikaji yang menekankan pada perwujudan fisik arsitektur hasil cipta umat Islam.

Ditilik secara periodesasi yang dapat diamati dari tahun terbit karya ilmiah masing-masing kalangan dan sebagai sebuah dialektika ilmiah terdapat hubungan tesis dan anti-tesis antara Pendekatan Nilai dan Pendekatan Kesejarahan. Dalam konteks zaman Modern, pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam diawali oleh kalangan ketiga dan keempat dengan Pendekatan Kesejarahan yang diusungnya. Pada periode selanjutnya, seiring tumbuhnya kesadaran terhadap hubungan antara Islam dan arsitektur serta semakin meningginya semangat keilmuan di kalangan ilmuwan dan perancang Muslim untuk mengkaji dan merealisasikan Arsitektur Islam, maka mulai dilakukan kritik terhadap Pendekatan Kesejarahan dikarenakan kelemahan-kelemahan yang terdapat didalamnya sebagai langkah yang harus dilalui untuk mengajukan pendekatan baru yang lebih baik dan lebih tepat karena lebih berakar pada sumber-sumber Islam, yakni Pendekatan Nilai.

Di luar keempat kalangan dengan masing-masing definisi yang diajukannya, terdapat dua kalangan lainnya yang mengajukan definisi Arsitektur Islam di dalam pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam di Indonesia, yakni Spahic Omer [12] dan kedua diajukan oleh Aulia Fikriarini dan Luluk Maslucha [13]. Tetapi dikarenakan belum dikenal luas dan modal sosial yang terbentuk belum sebesar empat kalangan di atas, definisi yang diajukan dua kalangan tersebut tidak saya jabarkan secara khusus dalam tulisan ini karena saya menilai belum terdapatnya urgensi untuk membahasnya secra khusus. Pada bagian akhir dari bagian ini saya hanya akan memaparkan secara singkat istilah yang digunakan dan definisi yang diajukan sebatas untuk memperkaya isi dari tulisan ini, sehingga tidak akan saya gunakan dalam pembandingan pada bagian ketiga nanti.

Spahic Omer dalam menggambarkan hubungan antara Islam dan arsitektur menggunakan istilah Islamic Architecture yang diartikannya sebagai arsitektur yang dari aspek fungsinya atau paling tidak dari aspek bentuknya terutama terinspirasi oleh Islam. Dengan demikian, Islamic Architecture dapat berupa sebuah fasilitas maupun bentukan fisik arsitektur yang merupakan aktualisasi dari pesan-pesan Islam. Untuk mewujudkan Islamic Architecture sebagaimana pengertian yang diajukannya, Spahic Omer mensyaratkan hanya dapat dilakukan dengan mendasarkan penciptaan arsitektur pada persepsi Islam terhadap Tuhan, manusia, alam, kehidupan, kematian dan Hari Kiamat. Sehingga, secara praktikal, Islamic Architecture yang dimaksud oleh Spahic Omer ialah arsitektur yang merepresentasikan Islam yang hanya mungkin diwujudkan oleh umat Islam karenanya sekaligus merupakan bagian dari Peradaban Islam.

Selain menggunakan istilah Islamic Architecture, Spahic Omer juga menerima penggunaan istilah Muslim Architecture yang diartikan olehnya sebagai arsitektur yang dirancang, dibangun dan digunakan oleh umat Islam. Jika Islamic Architecture merupakan representasi dari Islam, maka Muslim Architecture merupakan representasi dari semangat dan mentalitas umat Islam. Hubungan antara keduanya dapat dipahami sebagai berikut bahwa setiap Islamic Architecture pastilah dicipta oleh umat Islam, tetapi tidak setiap arsitektur yang dicipta umat Islam dapat dinyatakan sebagai Islamic Architecture. Untuk menegaskan perbedaan di antara keduanya, Spahic Omer menyatakan bahwa Islamic Architecture berada dalam ranah konseptual, sedangkan Muslim Architecture berada dalam ranah empiris yang dapat merujuk pada lokasi, komunitas maupun suatu fase dari perjalanan sejarah yang dialami umat Islam.

Beralih pada definisi lainnya yang diajukan oleh Aulia Fikriarini dan Luluk Maslucha dengan istilah Arsitektur Islam yang diartikannya sebagai cara membangun yang Islami sebagaimana ditentukan oleh hukum Syariah, tanpa batasan terhadap tempat dan fungsi bangunan, tetapi lebih kepada karakter Islaminya dalam hubungannya dengan desain bentuk dan dekorasi. Selain itu, Aulia dan Luluk juga mengetengahkan istilah Arsitektur Muslim yang diartikannya sebagai gaya arsitektur negara-negara Muslim meliputi arsitektur tua dan arsitektur modern, yang diterapkan di negara-negara Muslim, dikerjakan oleh tukang-tukang Muslim, arsitek-arsitek Muslim serta di bawah perlindungan pemerintah Muslim atau di negeri Muslim. Setelah menjelaskan kedua istilah tersebut, keduanya terkesan menolak penggunaan istilah Arsitektur Muslim secara konseptual dengan argumentasi bahwasanya definisi Arsitektur Islam memiliki lingkup yang lebih luas.

Dengan telah dipaparkannya ragam definisi yang diajukan beserta dengan asumsi yang mendasarinya serta posisinya dalam peta pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam, maka berakhir sudah bagian pertama dari tulisan ini. Sebagai penutup akan ditampilkan rangkuman dari bagian pertama tulisan ini dalam bentuk tabel agar lebih memudahkan pembaca untuk mengikuti pembahasan dalam tulisan ini.
Tabel 1: Ragam definisi Arsitektur Islam


Allahu a’lam bishawab.
Bertempat di Kartasura pada Ramadhan 1439 Hijrah Nabi

B. Catatan Kaki

[1] Faisal. Budi, 2012, Kontribusi Arsitektur Islam(i) Dalam Mengatasi Permasalahan Perkotaan, Proseding Seminar Nasional Arsitektur Islam 2, Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

[2] Edres. Munichy, 2017, Ada Apa Dengan Kampung (Islam) Kauman, Seminar Nasional 2017, Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

[3] Utaberta. Nangkula, 2008, Arsitektur Islam; Pemikiran, Diskusi dan Pencarian Bentuk, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

[4] Pernyataan ini diungkapkan oleh Prof. Madya Nangkula Utaberta dalam sebuah diskusi terbuka pada status Facebook beliau tertanggal 22 Februari 2018.

[5] Utaberta. Nangkula, 2013, Rekonstruksi Pemikiran, Filosofi dan Perancangan Arsitektur Islam Berbasiskan Al-Qur’an dan Sunnah, Proseding Seminar Nasional Arsitektur Islam 3, Malang: Universitas Islam Negeri Malang.

[6] Hillenbrand. Robert, 1994, Islamic Architecture; Form, Function and Meaning, Edinburg: Edinburg University Press. Dalam buku ini, Hillenbrand dengan jelas membatasi pengkajiannya dalam lingkup Dunia Islam pada kurun waktu tahun 700 hingga 1700 masehi.

[7] Creswell. K.A.C., 1989, A Short Account of Early Muslim Architecture, British: Scolar Press. Dibandingkan Robert Hillenbrand, kajian yang dilakukan Creswell bersifat lebih sempit dari aspek periodesasi waktu meliputi masa Nabi, Umawiyah dan Abbasiyah.

[8] Goodwin. Godfrey, 2003, A History of Ottoman Architecture, London: Thames & Hudson. Dibandingkan dua sebelumnya, kajian yang dilakukan Godfrey bersifat paling sempit dari aspek lingkup wilayah dan waktu dengan berfokus pada Arsitektur Utsmani dalam lingkup wilayah kekuasaan Utsmani dari sejak berdirinya hingga masa akhir kekuasaannya. Kajian yang dilakukan Godfrey memperlihatkan perkembangan Arsitektur Utsmani dari masa awal pada fase Bursa, masa puncak pada fase Sinan dan Istanbul dan berakhir pada masa akhir yang ditandai dengan masuknya pengaruh Barok-Rokoko dari Negeri Barat ke dalam wilayah kekuasaan Utsmani.

[9] Rochym. Abdul, 1983, Sejarah Arsitektur Islam; Sebuah Tinjauan, Bandung: Penerbit Angkasa. Dalam bukunya ini, Abdul Rochym dengan tegas membatasi kajiannya pada perwujudan fisik arsitektur yang dicipta oleh umat Islam dalam lintasan sejarah Peradaban Islam meliputi masa Nabi, Umawiyah Andalusia, Fathimiyah, Mamluk, Seljuk, Mughal dan Utsmani.

[10] Sumalyo. Yulianto, 2006, Arsitektur Mesjid dan Monumen Sejarah Muslim, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Walaupun kajian yang dilakukan Yulianto Sumalyo hanya terbatas pada arsitektur masjid, tetapi dari aspek wilayah sangat luas hingga mencakup Nusantara dan dari aspek periodesasi waktu yang digunakannya sangat panjang meliputi masa Nabi hingga masa Kontemporer pada abad 21 masehi.

[11] Hoag. John D., 1963, Western Islamic Architecture, New York: George Braziller Inc.

[12] Omer. Spahic, 2009, Islamic Architecture; Its Philosophy, Spiritual Significance and Some Early Developments, Kuala Lumpur: A.S. Noodeen.

[13] Fikriarini. Aulia dan Maslucha. Luluk, 2007, Arsitektur Islam; Refleksi dan Transformasi Nilai Ilahiyah, Malang: UIN-Malang Press.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar