Minggu, 03 Juni 2018

Rumusan Definisi Pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam (2); Meretas Jalan

B. Meretas Jalan

Rumusan definisi Arsitektur Islam yang melandasai pendekatan Psiko-Kultural didasari dua asumsi yang telah saya sampaikan dan jelaskan dalam tulisan berjudul “Meretas Jalan Tengah; Pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam”, yakni (1) Arsitektur Islam sebagai hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim memiliki wujud gagasan, perilaku (fungsi) dan artefak yang bersumberkan dari Islam; dan (2) antara manusia Muslim sebagai subjek dengan Arsitektur Islam sebagai objek terikat secara psikologis melalui makna yang melekat pada ketiga wujud arsitektur yang menumbuhkan rasa kepemilikan oleh manusia Muslim terhadap Arsitektur Islam yang diciptanya. Berdasar dua asumsi tersebut saya mengajukan definisi bahwasanya yang dimaksud dengan Arsitektur Islam adalah lingkungan binaan hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim, meliputi wujud gagasan, perilaku dan artefak, yang menempatkan Wahyu sebagai asas, sumber inspirasi dan panduan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dan mewadahi dirinya seutuhnya meliputi dimensi lahir dan bathin.

Definisi yang saya ajukan beserta asumsi yang mendasarinya bersandarkan pada hubungan antara Islam dan arsitektur yang dapat ditinjau dari sisi objektif dan sisi subjektif. Sehingga untuk dapat memahami secara utuh keterkaitan antara definisi Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural dengan asumsi yang mendasarinya, haruslah dipahami hubungan antara Islam dan arsitektur yang merupakan jembatan penghubung antar kedua aspek tersebut. Dimulai dari sisi objektif, bahwa dalam pendekatan Psiko-Kultural dibedakan antara Islam sebagai Dien dan Islam sebagai Peradaban atau Tamaddun dengan arsitektur merupakan salah satu unsur pembentuknya. Keduanya tidaklah berhadap-hadapan saling bertolak belakang dan saling meniadakan dalam relasi dualisme. Pada dasarnya keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena Islam sebagai Dien merupakan sumber bagi penciptaan Peradaban Islam, sehingga tanpa Islam tidak akan dapat dicipta dan tidak akan dapat hadir Peradaban Islam, sebagaimana dapat dipahami dengan akal bahwasanya tanpa sumber, maka tidak akan dapat dihadirkan segala sesuatu yang berasal dari atau dinisbatkan kepada sumber tersebut. 

Perbedaan antara Islam sebagai Dien dan Islam sebagai Peradaban terdapat pada kedudukannya berdasarkan hirarki kebenaran yang membentuk ciri khas masing-masing. Sebagai sumber bagi penciptaan Peradaban Islam, Islam sebagai Dien yang berlandaskan pada Al-Qur’an, Sunnah dan penjelasan para ulama yang berwibawa mengenai keduanya menyandang kebenaran yang bersifat mutlak, sehingga menempati kedudukan lebih tinggi daripada Peradaban Islam yang menyandang kebenaran relatif. Maksud dari kebenaran mutlak yang dimiliki Islam sebagai Dien ialah kebenaran yang tidak terikat dimensi ruang dan waktu karena kebenaran yang berasal dari Allah berada di atas keduanya. Dengan kebenarannya tersebut, Islam sebagai Dien menjadi relevan dan berlaku untuk setiap ruang kehidupan dan sepanjang waktu yang digulirkan Allah. Sementara maksud dari kebenaran relatif yang disandang Peradaban Islam ialah kebenaran yang bersifat kontekstual atau kebenaran yang terikat dimensi ruang dan waktu dikarenakan kedudukannya sebagai hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim dalam rangka ikhtiar memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupannya di alam dunia menjadikannya tidak dapat dicipta di luar dimensi ruang dan waktu. Dikarenakan terikat dengan dimensi ruang dan waktu, proses penciptaan Peradaban Islam dipengaruhi beragam faktor keduniaan meliputi (1) tingkat keimanan manusia Muslim yang berbanding lurus dengan tingkat pemahamannya terhadap Islam sebagai Dien; (2) kemampuan akal; (3) alam budaya; (4) tradisi arsitektur; (5) kondisi lingkungan hidup; (6) tantangan kehidupan yang tengah dialami; dan (7) kontak peradaban yang tengah dijalin.

Arsitektur Islam dalam pendekatan Psiko-Kultural terdiri dari dua bagian, yakni (1) ilmu pengetahuan mengenai lingkungan binaan; dan (2) objek lingkungan binaan yang terbentuk dari wujud gagasan, perilaku (fungsi) dan artefak. Antara keduanya berlaku hubungan timbal balik di mana untuk menghadirkan Arsitektur Islam sebagai objek lingkungan binaan membutuhkan Arsitektur Islam sebagai ilmu pengetahuan melalui kerja-amali secara deduktif dan sebaliknya, dari kehadiran Arsitektur Islam sebagai objek lingkungan binaan dapat dihadirkan ilmu pengetahuan Arsitektur Islam melalui kerja-keilmuan secara induktif. Lalu di mana kedudukan Arsitektur Islam di antara Islam sebagai Dien dan Islam sebagai Peradaban? Arsitektur Islam sebagai ilmu pengetahuan memiliki landasan filosofis yang merupakan bagian dari Islam sebagai Dien dan memiliki bangunan teoritik yang merupakan bagian dari Islam sebagai Peradaban. Sementara Arsitektur Islam sebagai objek lingkungan binaan memiliki wujud gagasan dan sebagian wujud perilaku yang merupakan bagian dari Islam sebagai Dien dan memiliki sebagian lagi dari wujud perilaku dan wujud artefak yang merupakan bagian dari Islam sebagai Peradaban yang merupakan kumpulan dari hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim. Sehingga Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural memiliki bagian yang menyandang kebenaran mutlak yang melintasi batasan ruang dan waktu karena merupakan bagian dari Islam sebagai Dien serta terdapat bagian yang menyandang kebenaran kontekstual yang terikat pada batasan ruang dan waktu karena merupakan bagian dari Islam sebagai Peradaban.