Minggu, 03 Juni 2018

Rumusan Definisi Pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam (2); Meretas Jalan

B. Meretas Jalan

Rumusan definisi Arsitektur Islam yang melandasai pendekatan Psiko-Kultural didasari dua asumsi yang telah saya sampaikan dan jelaskan dalam tulisan berjudul “Meretas Jalan Tengah; Pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam”, yakni (1) Arsitektur Islam sebagai hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim memiliki wujud gagasan, perilaku (fungsi) dan artefak yang bersumberkan dari Islam; dan (2) antara manusia Muslim sebagai subjek dengan Arsitektur Islam sebagai objek terikat secara psikologis melalui makna yang melekat pada ketiga wujud arsitektur yang menumbuhkan rasa kepemilikan oleh manusia Muslim terhadap Arsitektur Islam yang diciptanya. Berdasar dua asumsi tersebut saya mengajukan definisi bahwasanya yang dimaksud dengan Arsitektur Islam adalah lingkungan binaan hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim, meliputi wujud gagasan, perilaku dan artefak, yang menempatkan Wahyu sebagai asas, sumber inspirasi dan panduan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dan mewadahi dirinya seutuhnya meliputi dimensi lahir dan bathin.

Definisi yang saya ajukan beserta asumsi yang mendasarinya bersandarkan pada hubungan antara Islam dan arsitektur yang dapat ditinjau dari sisi objektif dan sisi subjektif. Sehingga untuk dapat memahami secara utuh keterkaitan antara definisi Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural dengan asumsi yang mendasarinya, haruslah dipahami hubungan antara Islam dan arsitektur yang merupakan jembatan penghubung antar kedua aspek tersebut. Dimulai dari sisi objektif, bahwa dalam pendekatan Psiko-Kultural dibedakan antara Islam sebagai Dien dan Islam sebagai Peradaban atau Tamaddun dengan arsitektur merupakan salah satu unsur pembentuknya. Keduanya tidaklah berhadap-hadapan saling bertolak belakang dan saling meniadakan dalam relasi dualisme. Pada dasarnya keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena Islam sebagai Dien merupakan sumber bagi penciptaan Peradaban Islam, sehingga tanpa Islam tidak akan dapat dicipta dan tidak akan dapat hadir Peradaban Islam, sebagaimana dapat dipahami dengan akal bahwasanya tanpa sumber, maka tidak akan dapat dihadirkan segala sesuatu yang berasal dari atau dinisbatkan kepada sumber tersebut. 

Perbedaan antara Islam sebagai Dien dan Islam sebagai Peradaban terdapat pada kedudukannya berdasarkan hirarki kebenaran yang membentuk ciri khas masing-masing. Sebagai sumber bagi penciptaan Peradaban Islam, Islam sebagai Dien yang berlandaskan pada Al-Qur’an, Sunnah dan penjelasan para ulama yang berwibawa mengenai keduanya menyandang kebenaran yang bersifat mutlak, sehingga menempati kedudukan lebih tinggi daripada Peradaban Islam yang menyandang kebenaran relatif. Maksud dari kebenaran mutlak yang dimiliki Islam sebagai Dien ialah kebenaran yang tidak terikat dimensi ruang dan waktu karena kebenaran yang berasal dari Allah berada di atas keduanya. Dengan kebenarannya tersebut, Islam sebagai Dien menjadi relevan dan berlaku untuk setiap ruang kehidupan dan sepanjang waktu yang digulirkan Allah. Sementara maksud dari kebenaran relatif yang disandang Peradaban Islam ialah kebenaran yang bersifat kontekstual atau kebenaran yang terikat dimensi ruang dan waktu dikarenakan kedudukannya sebagai hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim dalam rangka ikhtiar memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupannya di alam dunia menjadikannya tidak dapat dicipta di luar dimensi ruang dan waktu. Dikarenakan terikat dengan dimensi ruang dan waktu, proses penciptaan Peradaban Islam dipengaruhi beragam faktor keduniaan meliputi (1) tingkat keimanan manusia Muslim yang berbanding lurus dengan tingkat pemahamannya terhadap Islam sebagai Dien; (2) kemampuan akal; (3) alam budaya; (4) tradisi arsitektur; (5) kondisi lingkungan hidup; (6) tantangan kehidupan yang tengah dialami; dan (7) kontak peradaban yang tengah dijalin.

Arsitektur Islam dalam pendekatan Psiko-Kultural terdiri dari dua bagian, yakni (1) ilmu pengetahuan mengenai lingkungan binaan; dan (2) objek lingkungan binaan yang terbentuk dari wujud gagasan, perilaku (fungsi) dan artefak. Antara keduanya berlaku hubungan timbal balik di mana untuk menghadirkan Arsitektur Islam sebagai objek lingkungan binaan membutuhkan Arsitektur Islam sebagai ilmu pengetahuan melalui kerja-amali secara deduktif dan sebaliknya, dari kehadiran Arsitektur Islam sebagai objek lingkungan binaan dapat dihadirkan ilmu pengetahuan Arsitektur Islam melalui kerja-keilmuan secara induktif. Lalu di mana kedudukan Arsitektur Islam di antara Islam sebagai Dien dan Islam sebagai Peradaban? Arsitektur Islam sebagai ilmu pengetahuan memiliki landasan filosofis yang merupakan bagian dari Islam sebagai Dien dan memiliki bangunan teoritik yang merupakan bagian dari Islam sebagai Peradaban. Sementara Arsitektur Islam sebagai objek lingkungan binaan memiliki wujud gagasan dan sebagian wujud perilaku yang merupakan bagian dari Islam sebagai Dien dan memiliki sebagian lagi dari wujud perilaku dan wujud artefak yang merupakan bagian dari Islam sebagai Peradaban yang merupakan kumpulan dari hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim. Sehingga Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural memiliki bagian yang menyandang kebenaran mutlak yang melintasi batasan ruang dan waktu karena merupakan bagian dari Islam sebagai Dien serta terdapat bagian yang menyandang kebenaran kontekstual yang terikat pada batasan ruang dan waktu karena merupakan bagian dari Islam sebagai Peradaban.

Arsitektur Islam sebagai bagian dari sekaligus pembentuk Peradaban Islam karena menyandang kebenaran yang bersifat relatif-kontekstual meniscayakan hadirnya keberagaman yang hampir tanpa batas disebabkan kombinasi dari beragam faktor yang mempengaruhi manusia Muslim sebagai subjek kerja-kreatif-budaya. Oleh karena itu generasi yang hidup pada zaman kini dapat menyaksikan keberagaman wujud Arsitektur Islam dalam kedudukannya sebagai bagian dari Peradaban Islam sepanjang dan seluas wilayah Peradaban Islam sejak masa hidup Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam hingga masa kini. Sehingga Arsitektur Islam sebagai bagian dari Peradaban Islam bersifat dinamik-evolutif, dalam artian terus mengalami perkembangan secara gradual dan berkelanjutan dari wujudnya yang sederhana menjadi semakin kompleks. Bukti yang mendukung pernyataan tersebut ialah terjadinya peningkatan kualitas dan kompleksitas arsitektural sepanjang perkembangan Arsitektur Islam dari masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam hingga masa kini dan secara fungsional terjadi peningkatan kuantitas yang ditandai dengan hadirnya tipologi arsitektur yang tidak didapati pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. 

Di dalam keragaman perwujudan Arsitektur Islam sebagai bagian dari Peradaban Islam, terdapat landasan filosofis yang menyatukan seluruh hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim di bidang lingkungan binaan yang hadir di berbagai ruang kehidupan dan zaman, yakni Islam sebagai Dien yang merupakan sumber bagi penciptaan Arsitektur Islam. Sehingga pada ranah landasan filosofisnya Arsitektur Islam bersifat statik, dalam artian tidak mengalami perkembangan apalagi perubahan karena kebenaran-mutlak yang dimiliki Islam sebagai Dien bersifat final dan ideal. Walaupun terdapat perkembangan pada beberapa bagiannya, perkembangan tersebut tidak dapat dipahami sebagai perubahan yang berbeda secara keseluruhan dari bagian terdahulu, tetapi merupakan perkembangan dari bagian-bagian intinya melalui metodologi yang disepakati oleh kalangan ulama yang berwibawa, sehingga menjadikannya mendekati derajat kebenaran mutlak. Pertanyaannya, apa yang termuat dalam landasan filosofis Arsitektur Islam yang bersumberkan dari Islam sebagai Dien dalam penciptaan arsitektur? Atau apa yang disediakan oleh Islam sebagai Dien dalam penciptaan Arsitektur Islam? 

Terhadap pertanyaan di atas, menurut pendekatan Psiko-Kultural, Islam sebagai Dien menyediakan aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi dalam penciptaan Arsitektur Islam oleh manusia Muslim. Dimulai dari yang pertama, sebagai sumber ontologi, Islam sebagai Dien menyediakan pandangan-alam yang termuat dalam konsep-konsep kunci khas Islam untuk digunakan manusia Muslim dalam kerja-kreatif-budaya mencipta Arsitektur Islam. Inilah yang saya maksud dengan Islam sebagai asas pada definisi yang saya ajukan karena kedudukan pandangan-alam berada dalam ranah landasan filosofis yang paling dasar atau fundamen. Terdapat dua jenis konsep kunci khas Islam dalam konteks kerja-kreatif-budaya menghadirkan Arsitektur Islam dilihat dari sifatnya. Yang pertama adalah konsep kunci yang bersifat mendasar untuk semua objek arsitektur meliputi konsep Tuhan, konsep manusia, konsep alam, konsep penciptaan, konsep kehidupan, konsep kebahagiaan dan semisalnya. Sementara yang kedua adalah konsep kunci yang bersifat khusus karena berkaitan dengan aspek fungsional objek arsitektur yang hendak dicipta, semisal objek arsitektur untuk mewadahi fungsi kebugaran berkaitan dengan konsep kesehatan; objek arsitektur untuk mewadahi fungsi pendidikan berkaitan dengan konsep pendidikan dan konsep ilmu; objek arsitektur untuk mewadahi fungsi bermukim berkaitan dengan konsep keluarga jika lingkupnya rumah tinggal dan konsep sosial jika lingkupnya permukiman.

Sebagai sumber epistemologi, Islam menyediakan isyarat-isyarat bagi perumusan ilmu pengetahuan Arsitektur Islam serta sumber inspirasi bagi penciptaan Arsitektur Islam. Yang pertama, Islam menyediakan isyarat-isyarat yang jika diteliti lebih lanjut akan dapat dihasilkan ilmu pengetahuan arsitektur yang khas Islam. Salah satunya ialah isyarat yang disampaikan Allah dalam Surah al-Hijr (15): 80-84 mengenai kaum Tsamud yang mendiami sebuah kota bernama Al-Hijr. Kemampuan yang diberikan Allah kepada kaum Tsamud menjadikan mereka dapat mengukir gunung menjadi rumah yang aman untuk didiami, tetapi ketika mereka mendustakan risalah kenabian yang dibawa oleh Nabi Shaleh Alaihissalam, maka rumah-rumah mereka yang kokoh sekalipun tidak dapat melindungi mereka dari kemurkaan Allah. Begitupula dengan isyarat Allah dalam Surah Al-Qashash (28): 38 mengenai Firaun yang mendustakan risalah kenabian Nabi Musa dengan memerintahkan seorang arsitek bernama Haman untuk membakar tanah liat dan mendirikan bangunan yang tinggi agar Firaun dapat melihat Tuhannya Musa. Dari kedua isyarat tersebut dapat dirumuskan model perkembangan arsitektur yang khas Islam yang berbeda dengan model perkembangan linier-progresif yang mendasari Arsitektur Modern maupun model perkembangan patahan-kontekstual yang mendsaari Arsitektur Posmodern.

Yang kedua, Islam menyediakan inspirasi berupa ide-ide arsitektural dalam penciptaan Arsitektur Islam sebagai objek lingkungan binaan seperti termuat dalam Surah Al-Insaan (76): 12-14 mengenai keindahan Jannah yang dipenuhi dengan pepohonan rindang sehinga penghuninya tidak merasakan teriknya matahari maupun rasa dingin yang menyengat. Inspirasi demikian dapat menjadi gagasan arsitektural untuk mewujudkan lingkungan binaan yang asri. Inilah yang saya maksud dengan Islam sebagai sumber inspirasi untuk perumusan ilmu pengetahuan maupun penciptaan Arsitektur Islam dalam definisi yang saya ajukan yang menempatkan aspek epistemologi sebagai landasan konseptual karena memuat ide-ide arsitektural.

Sebagai sumber aksiologi, Islam menyediakan tujuan dan tata nilai dalam penciptaan Arsitektur Islam. Aspek tujuan telah termuat secara tekstual dalam definisi yang saya ajukan, yakni terdapat dalam kalimat “untuk memenuhi kebutuhan dirinya”. Penjelasan mengenai kebutuhan manusia Muslim terhadap lingkungan binaan yang bersumberkan dari Wahyu telah saya sampaikan pada tulisan terdahulu dengan judul “Kelayakan Menghadirkn Arsitektur Berdasarkan Pendekatan Psiko-Kultural”. Yang perlu untuk kembali ditampilkan dalam tulisan ini mengenai tujuan dihadirkannya Arsitektur Islam ialah untuk kebahagiaan manusia, yakni kebaikan sebagaimana dikehendaki Allah yang termuat di dalam Wahyu. Tujuan tersebut menjadikan Arsitektur Islam berbeda dengan Arsitektur Modern yang memiliki tujuan ‘arsitektur untuk arsitektur’ dan ‘arsitektur untuk pertumbuhan ekonomi’ maupun dengan Arsitektur Posmodern yang memiliki tujuan arsitektur untuk manusia dengan menyerahkan sepenuhnya kepada subjektifitas manusia yang bersifat relatif.

Islam sebagai sumber tata nilai dalam penciptaan Arsitektur Islam mengacu pada hukum-hukum Syariat yang bersumberkan dari Wahyu meliputi wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram terkait suatu persoalan mengenai lingkungan binaan. Salah satu penerapan tata nilai Islam dalam bidang lingkungan binaan adalah diharamkannya mengambil sebidang tanah milik perseorangan maupun lembaga secara paksa oleh pihak penguasa ekonomi yang bekerjasama dengan pihak penguasa politik. Dengan tata nilai yang bersumberkan dari Islam sebagai Dien, Arsitektur Islam memiliki batas-batas yang jelas sebagaimana dikehendaki oleh Allah yang memiliki tujuan sekaligus hikmah untuk mencegah terjadinya kerusakan pada agama, jiwa, akal, keturunan, harta dan alam. Inilah yang saya maksud dengan Islam sebagai panduan dalam definisi yang saya ajukan yang menempatkan dimensi aksiologi sebagai landasan praktikal karena berkaitan secara langsung dengan kegiatan keilmuan, perancangan, pembangunan hingga penggunaan arsitektur oleh manusia Muslim. 

 Gambar 1: Arsitektur Islam dan hubungannya dengan Islam sebagai Dien dan Peradaban.
Sumber: Analisa, 2018.

Dari sisi subjektif diri manusia Muslim yang mencipta Arsitektur Islam dengan menggunakan Islam sebagai sumber yang menyediakan aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi, ikhtiar yang dilakukannya bisa jadi bernilai benar dan bisa jadi salah. Benar dan salah yang dimaksud berbeda pengertian untuk ranah yang berbeda berkaitan dengan hirarkinya. Dalam ranah landasan filosofis Arsitektur Islam yang merupakan bagian dari Islam sebagai Dien, benar dan salah bernilai haq dan bathil karena berkaitan secara langsung dengan keimanan. Kesalahan dalam ranah ini bersifat fatal, sehingga bisa jadi mendapat ganjaran dosa dari Allah karena dua hal. Pertama, rendahnya tingkat keimanan manusia Muslim, sehingga keimanan di dalam dirinya tidak mampu menjadi landasan bagi kerja-kreatif-budaya yang dilakukan. Kedua, tingkat keimanan yang baik, tetapi tidak digunakan oleh manusia Muslim sebagai landasan dalam kerja-kreatif-budaya yang dilakukan. Persoalan ini lazim disebut split-personality atau keterbelahan personal di mana kerja-kreatif-budaya yang dilakukan manusia Muslim tidak melibatkan dimensi keimanan Islam yang diakuinya benar-mutlak, tetapi malah didasari dengan landasan yang bersumberkan dari selain Islam. Secara metodologis, keterpisahan antara keimanan di dalam hati dan kerja-kreatif-budaya yang berpijak pada intuisi dan akal disebabkan tidak adanya jembatan yang menghubungkan keduanya yang dalam tradisi Islam terdiri dari ilmu Kalam, Filsafat Islam, Tasawuf dan Fikih. 

Sementara dalam ranah Arsitektur Islam yang merupakan bagian dari Islam sebagai Peradaban, benar dan salah bernilai tepat (shawwab) dan tidak tepat (khatha’) karena berkedudukan sebagai ijtihad. Dalam ranah ini, kesalahan yang dilakukan dalam kerja-kreatif-budaya menghadirkan Arsitektur Islam mendapatkan satu pahala sebagai ganjaran dari Allah karena manusia Muslim sebagai subjek telah mengerahkan seluruh daya upaya yang dimilikinya untuk melakukan ijtihad. Pandangan ini mengharuskan manusia Muslim sebagai subjek dari kerja-kreatif-budaya mencipta Arsitektur Islam (1) memiliki otoritas di bidang lingkungan binaan; dan (2) memiliki pemahaman Islam sebagai Dien yang memadai, terutama mengenai hal-hal yang berkaitan dengan arsitektur dan keterkaitan antara Islam dan arsitektur. Kedua poin tersebut merupakan syarat yang harus dipenuhi setiap diri manusia Muslim untuk secara intelektual dapat melakukan ijtihad dan secara sosial diperbolehkan mencipta Arsitektur Islam. Oleh karenanya tidak setiap diri manusia Muslim dapat dan diperbolehkan melakukan kerja-kreatif-budaya di bidang Arsitektur Islam dan tidak setiap kerja-kreatif-budaya yang dilakukan merupakan ijtihad jika salah satu saja syarat untuk melakukannya tidak terpenuhi.

Dua syarat untuk dapat melakukan ijtihad di bidang Arsitektur Islam membawa pada dua konsekuensi. Konsekuensi pertama, hanya manusia Muslim yang dapat melakukan kerja-kreatif-budaya mencipta Arsitektur Islam karena ijtihad merupakan ibadah yang mensyaratkan pelakunya memiliki iman Islam. Manusia yang tidak beriman Islam, maka tidak terbuka pintu baginya untuk melakukan ijtihad karena tidak mengakui kebenaran Islam sebagai Dien yang merupakan sumber bagi penciptaan Arsitektur Islam dan tanpa pengakuan terhadap kebenaran sumber Islam, maka tidak mungkin dapat dicipta dan dihadirkan Arsitektur Islam. Konsekuensi kedua, sebagai ijtihad yang bisa jadi benar dan bisa jadi salah, maka lingkungan binaan yang dicipta manusia Muslim belum tentu sesuai dengan idealitas Islam, karenanya tidak setiap lingkungan binaan yang dicipta manusia Muslim dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Islam. 

Berdasar pembahasan di atas, dalam pendekatan Psiko-Kultural diterima dan digunakan istilah Arsitektur Islam dan Arsitektur Muslim dengan maknanya masing-masing, sehingga dalam penggunaannya tidak dapat dipertukarkan begitu saja tanpa memperhatikan kedudukan masing-masing istilah tersebut. Dalam pendekatan Psiko-Kultural, istilah Arsitektur Islam bersifat objektif-idealistik. Dikatakan objektif karena sebagai ilmu pengetahuan dan objek lingkungan binaan mencerminkan Islam yang merupakan sumber bagi penciptaannya, sekaligus menjadikannya ideal karena merujuk pada sumber tersebut. Walaupun dalam penciptaan Arsitektur Islam mensyaratkan hanya dapat diwujudkan oleh manusia Muslim sebagai subjek, tetapi kedudukannya sebagai hasil kerja-kreatif-budaya bersifat objektif, dalam artian membentuk realitas di luar diri subjek penciptanya, tetapi tidak bersifat otonom atau terpisah secara mandiri dari diri manusia Muslim. Sampai di sini akan muncul pertanyaan, apakah Arsitektur Islam yang dicipta oleh manusia Muslim dapat digunakan oleh manusia dengan keyakinan selain Islam? Secara singkat dapat saya jawab, Arsitektur Islam memiliki unsur bersifat umum yang dapat digunakan oleh seluruh umat manusia tanpa memandang identitas keyakinannya, serta memiliki pula unsur bersifat khas Islam yang hanya dapat digunakan oleh manusia Muslim. Mengenai kedua unsur tersebut bukanlah tujuan dari tulisan ini untuk saya menjelaskannya, oleh karenanya saya cukupkan dengan jawaban tersebut dan menunda penjelasannya pada tulisan mendatang.

Berdasarkan pada definisi yang saya ajukan beserta asumsi yang mendasarinya serta sandarannya pada hubungan antara Islam dan arsitektur yang ditinjau secara objektif maupun subjektif, maka dapat dirumuskan tiga kriteria atau indikator atau syarat Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural. Syarat pertama, dicipta oleh manusia Muslim yang telah memenuhi syarat untuk melakukan ijtihad di bidang lingkungan binaan, sehingga dalam kerja-kreatif-budaya yang dilakukannya melibatkan keimanan Islam yang diakuinya benar dengan menjadikannya sebagai sumber bagi penciptaan Arsitektur Islam. Syarat kedua, sebagai hasil kerja-kreatif-budaya, ketiga wujud pembentuknya yang terdiri dari wujud gagasan, wujud perilaku (fungsi) dan wujud artefaknya berasaskan, berpandukan dan terinspirasi dari Islam atau dengan kata lain menjadikan Islam sebagai sumber ontologi, epistemologi dan aksiologi, sehingga lingkungan binaan yang dicipta manusia Muslim mencapai idealitas Islam dan mencerminkan Islam secara keseluruhannya. Dan syarat ketiga, terdapatnya ikatan psikologis yang kuat dan dalam antara manusia Muslim sebagai subjek dengan lingkungan binaan yang diciptanya melalui makna yang bersumberkan dari Islam dan dilekatkan pada ketiga wujud pembentuk arsitekturnya. 

Sementara istilah Arsitektur Muslim dalam pendekatan Psiko-Kultural bersifat subjektif-relatif. Dikatakan subjektif karena merujuk pada diri manusia Muslim sebagai pelaku kerja-kreatif-budaya di bidang lingkungan binaan. Sedangkan dikatakan relatif karena berlandaskan pada teologi Islam, keimanan manusia Muslim dapat mengalami kenaikan maupun penurunan yang menyebabkan kualitas dirinya bersifat dinamik, yakni senantiasa mengalami perubahan kondisi di mana pada suatu waktu dapat mencapai tingkatan kualitas tertinggi, sehingga dimungkinkan diciptanya Arsitektur Islam yang bersifat objektif-idealistik dan pada waktu yang lain kualitas dirinya mengalami penurunan drastis hingga tak tersisa sedikitpun keimanan dalam hati, sehingga arsitektur yang diciptanya jauh dari idealitas Islam bahkan bisa jadi bertentangan dengan Islam. 

Dengan pemahaman di atas, kategori Arsitektur Muslim akan memuat beragam kualitas lingkungan binaan sebagai cerminan dari keragaman dan kedinamisan kualitas diri manusia Muslim sebagai subjek kerja-kreatif-budaya meliputi lingkungan binaan dengan kualitas ideal karena berasaskan, berpandukan dan terinspirasi dari Islam sebagai Dien maupun jauh dari idealitas sumber sumber-sumber Islam. Berdasarkan pada konsep kualitas diri manusia Muslim yang bersifat dinamik, maka dibutuhkan batasan bagi istilah Arsitektur Muslim agar tidak menimbulkan kebingungan maupun penafsiran serampangan yang menjadi pembenar dikategorikannya seluruh hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim di bidang lingkungan binaan sebagai Arsitektur Muslim, baik sebagai ilmu pengetahuan maupun objek rancangan, padahal tidak satupun dari ketiga wujudnya yang bersumberkan dan berkesesuaian dengan Islam, sehingga menjadikannya bertentangan dengan Islam dan sama sekali tidak mencerminkan Islam. 

Dalam pendekatan Psiko-Kultural, batasan Arsitektur Muslim sebagai kategori untuk menyatakan suatu lingkungan binaan merupakan bagian darinya atau tidak terdiri dari dua syarat. Syarat pertama, subjek penciptanya ialah manusia Muslim yang berada di dalam batas-batas keIslaman sebagaimana telah ditetapkan Syariat. Begitu seorang Muslim keluar dari batas-batas yang telah ditetapkan Syariat bagi dirinya, maka keIslamannya dinyatakan batal dan identitasnya sebagai Muslim harus ditanggalkan. Konsekuensinya hasil kerja-kretif-budaya yang dilakukannya di bidang lingkungan binaan tidak dapat dikategorikan sebagai Arsitektur Muslim dan jika mencapai idealitas Islam pun tidak dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Islam. Syarat kedua, tujuan diciptanya lingkungan binaan oleh manusia Muslim ialah untuk memenuhi kebutuhan dirinya sebagai seorang Muslim yang berkesadaran Islam dengan indikator salah satu dari ketiga wujud arsitektur yang diciptanya bersumberkan dari Islam, sehingga secara objektif menjadikannya dalam batas minimal tetap mencerminkan Islam. Begitu suatu lingkungan binaan dicipta tanpa didasari kesadaran diri yang bersumberkan dari Islam yang dibuktikan dari tidak satupun dari ketiga wujudnya bersumberkan dari Islam, maka tidak dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Muslim, walaupun subjek penciptanya dinyatakan sebagai seorang Muslim. Dengan demikian, hasil kerja-kreatif-budaya di bidang lingkungan binaan barulah dapat dinyatakan sebagai bagian dari Arsitektur Muslim jika memenuhi kedua syarat tersebut. Salah satu saja dari syarat tersebut tidak terpenuhi, maka suatu lingkungan binaan tidak dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Muslim.

Dua contoh dapat saya hadirkan untuk memahami dua syarat di atas yang membentuk batas bagi istilah Arsitektur Muslim. Contoh pertama adalah sebuah arsitektur masjid yang dicipta oleh seseorang yang mengaku sebagai manusia Muslim tetapi meyakini bahwasanya shalat tidaklah dihukumi wajib bagi umat Islam, sehingga dapat ditinggalkan begitu saja. Di satu sisi, secara tipologi-fungsional, arsitektur masjid merupakan lingkungan binaan khas milik umat Islam yang membedakannya dari umat lain, sehingga tidak ada keraguan untuk menyatakannya sebagai Arsitektur Muslim dan jika berasaskan, berpandukan dan terinspirasi dari Islam, maka tidak ada pula keraguan untuk menyatakannya sebagai Arsitektur Islam. Tetapi jika merujuk pada subjek, keyakinannya tersebut merupakan salah satu pembatal keIslaman, sehingga dapat mengeluarkannya sebagai bagian dari komunitas umat Islam. Jika oleh kalangan ulama yang berwibawa dan memiliki otoritas, diri subjek dihukumi telah batal keIslamannya, maka arsitektur masjid yang diciptanya tidak dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Muslim, apalagi Arsitektur Islam, karena tidak memenuhi syarat pertama dari batasan kategori Arsitektur Muslim walaupun, secara objektif lingkungan binaan yang diciptanya memiliki kualitas yang baik.

Pertanyaannya, harus seperti apa hasil kerja-kreatif-budaya sebagaimana contoh di atas ditanggapi dan diperlakukan? Dan bagaimana kedudukannya jika tidak dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Muslim? Dalam pendekatan Psiko-Kultural, seluruh hasil kerja-kreatif-budaya di bidang lingkungan binaan yang dilakukan oleh kalangan manusia sebagaimana contoh di atas, begitupula dengan arsitektur masjid atau arsitektur khas milik umat Islam lainnya yang dicipta oleh manusia non Muslim, kedudukannya sebatas sebagai ‘bahan mentah’ yang harus diolah oleh manusia Muslim dengan cara mendakunya secara psikologis agar dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Muslim atau Arsitektur Islam jika dalam proses mendaku terjadi penyesuaian ketiga wujud pembentuknya, sehingga berasaskan, berpandukan dan terinspirasi dari Islam. Di sinilah peran dan pentingnya asumsi kedua yang mendasari pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam yang memiliki tiga langkah bagi manusia Muslim untuk mendaku lingkungan binaan yang dicipta oleh kalangan manusia di luar komunitasnya.

Langkah pertama, menolak seluruh makna yang dilekatkan pada ketiga wujud pembentuk lingkungan binaan oleh subjek penciptanya, sehingga arsitekturnya menjadi kosong dari makna atau menjadi ‘bahan mentah’. Langkah kedua, melakukan penyesuaian ketiga wujud pembentuk lingkungan binaan agar berkesesuaian dengan Islam. Dan langkah ketiga, melakukan produksi makna yang bersumberkan dari Islam dan melekatkannya pada wujud pembentuk lingkungan binaan. Dengan tiga langkah tersebut yang merupakan proses mendaku secara psikologis, manusia Muslim seiring berkegiatan di dalam lingkungan binaan tersebut berikhtiar memindahkannya dari alam kesadaran subjek pencipta ke dalam alam kesadaran dirinya sebagai manusia Muslim yang berkesadaran Islam. Dari pembahasan ini dapat ditarik syarat ketiga dari istilah Arsitektur Muslim, yakni terdapatnya rasa kepemilikan manusia Muslim terhadap suatu lingkungan binaan, baik sebagai individu maupun komunitas, dikarenakan wujudnya mencerminkan identitasnya sebagai manusia Muslim dan terdapatnya makna yang bersumberkan dari Islam yang mengikat dirinya secara psikologis dengan lingkungan binaan tersebut. 

Contoh kedua adalah manusia Muslim sebagai subjek kerja-kreatif-budaya mencipta suatu lingkungan binaan yang dari aspek fungsionalnya tidak diafirmasi oleh Islam, seperti Klub Malam karena mewadahi kegiatan yang dilarang oleh Islam atau mencipta suatu lingkungan binaan dengan fungsi pendidikan yang dari wujud gagasannya bertentangan dengan Islam karena hanya diperuntukkan untuk kalangan pemilik ekonomi atas atau mencipta suatu lingkungan binaan yang dari wujud artefaknya tidak dapat dibenarkan oleh Islam karena terinspirasi dari lekuk tubuh wanita. Dalam persoalan ini, walaupun lingkungan binaan tersebut dicipta oleh manusia Muslim yang tidak sampai membatalkan keIslamannya karena bisa jadi dilakukannya atas dasar tekanan pekerjaan sementara dalam hatinya mengakui bahwa perbuatan tersebut salah menurut nilai Islam atau dikarenakan ketidakpahamannya sebab tidak memahami Islam dengan baik, tetap tidak dapat dinyatakan sebagai bagian dari Arsitektur Muslim karena tidak sesuai dengan syarat kedua, bahwa diciptanya lingkungan binaan ialah untuk memenuhi kebutuhan manusia Muslim yang berkesadaran Islam. Dari cara pandang ini dapat ditarik pemahaman bahwa segala sesuatu dalam bidang lingkungan binaan yang tidak diafirmasi oleh Islam atau bertentangan dengan Islam, maka bukan merupakan kebutuhan manusia Muslim karena tidak sesuai dengan kesadaran dirinya yang bersumberkan dari Islam.

Ketika manusia Muslim mencipta lingkungan binaan sebagaimana contoh kedua di atas, dirinya dalam kondisi tidak digerakkan oleh kesadaran sebagai manusia Muslim yang terikat dengan pandangan-alam, sumber kebenaran, tujuan serta nilai-nilai Islam. Atau ketika seseorang melakukan hal tersebut, ditanggalkannya identitas dirinya sebagai manusia Muslim yang bisa jadi disebabkan rendahnya kualitas diri atau sedang mengalami fase di mana kondisi keimanannya mengalami penurunan. Hal demikian merupakan keniscayaan merujuk pada pandangan Islam bahwasanya manusia memiliki kebebasan memilih yang terikat dengan konsep pahala dan dosa sebagai konsekuensi terhadap kebebasan memilih yang diberikan Allah kepadanya, sehingga menurut pandangan Islam, dimungkinkan bagi seseorang menanggalkan kesadaran dirinya sebagai manusia Muslim ketika melakukan kerja-kreatif-budaya yang menjadikan lingkungan binaannya tidak sedikitpun mencerminkan Islam, bahkan bertentangan dengan Islam.

Jika suatu lingkungan binaan memenuhi tiga syarat di atas, maka dapat dinyatakan sebagai bagian dari Arsitektur Muslim dan karenanya merupakan bagian dari Peradaban Islam. Dari pembahasan di atas mengenai Arsitektur Muslim dapat ditarik dua prinsip. Prinsip pertama, terdapat kaitan yang erat antara Arsitektur Muslim dan Arsitektur Islam secara konseptual dan metodologis. Secara konseptual, Arsitektur Islam merupakan puncak idealitas Arsitektur Muslim. Dengan perkataan lain, Arsitektur Islam merupakan hasil terbaik dari lingkungan binaan yang dicipta oleh manusia Muslim dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Sehingga, Arsitektur Islam pastilah merupakan bagian dari Arsitektur Muslim, tetapi tidak sebaliknya karena tidak seluruh lingkungan binaan yang menjadi bagian dari Arsitektur Muslim memiliki kualitas ideal. Sementara secara metodologis, kait hubungan antara Arsitektur Muslim dan Arsitektur Islam membentuk langkah-langkah untuk menilai hasil kerja-kreatif-budaya manusia Muslim di bidang lingkungan binaan. Langkah pertama ialah menilai apakah lingkungan binaan yang dicipta manusia Muslim dapat dinyatakan bagian dari Arsitektur Muslim atau tidak berdasarkan syarat-syaratnya. Jika dinyatakan merupakan bagian dari Arsitektur Muslim, maka lingkungan binaan tersebut memasuki langkah kedua untuk menilai apakah dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Islam atau tidak berdasarkan syarat-syaratnya pula.

Prinsip kedua, berdasarkan definisi Arsitektur Islam dan Arsitektur Muslim serta kait hubungan antara keduanya, dalam pendekatan Psiko-Kultural tidak terjadi pemisahan antara aspek subjek dan objek karena kehadiran subjek menjadi syarat bagi kehadiran objek di mana kualitas subjek menentukan kualitas objek dan oleh karenanya idealitas objek sangat bergantung pada idealitas subjek. Dengan demikian dalam pendekatan Psiko-Kultural, suatu lingkungan binaan untuk dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Islam yang bersifat objektif-idealistik haruslah menjadi bagian dari Arsitektur Muslim yang merujuk pada diri manusia Muslim sebagai subjek dari kerja-kreatif-budaya.

Gambar 2: Kait hubungan antara Arsitektur Islam dan Arsitektur Muslim.
Sumber: Analisa, 2018.

Dalam pendekatan Psiko-Kultural, saya tidak menggunakan istilah Arsitektur Islami berdasarkan tiga argumentasi. Pertama, istilah tersebut sejak awal dihadirkannya sudah membingungkan jika dihadapkan dengan istilah Arsitektur Islam, terlebih jika pembedaan antara keduanya tidak sebanding karena pengertian yang diberikan kepada istilah Arsitektur Islam bersifat tekstual dengan pengertian Islam adalah arsitektur atau arsitektur yang beragama Islam, sedangkan untuk istilah Arsitektur Islami diberikan pengertian yang bersifat konseptual, sehingga penolakan terhadap istilah Arsitektur Islam dan pengajuan istilah Arsitektur Islami tidak berdasarkan penalaran yang matang. Kedua, istilah Arsitektur Islami hanya digunakan oleh kalangan yang menolak penggunaan istilah Arsitektur Islam, sehingga tidak terdapat kebutuhan bagi saya untuk menggunakan istilah tersebut karena pendekatan Psiko-Kultural menerima penggunaan istilah Arsitektur Islam dengan makna yang telah saya tetapkan pada penjelasan di atas. Dan ketiga, pengertian Arsitektur Islami bermuatan aspek aksiologi yang hanya merupakan satu dari tiga aspek wujud lingkungan binaan dalam pengertian Arsitektur Islam yang saya ajukan, sehingga secara substansial, dalam pendekatan Psiko-Kultural tidak lagi dibutuhkan istilah Arsitektur Islami. Kalaupun digunakan istilah Islami yang dilekatkan pada arsitektur dalam pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam dengan pendekatan Psiko-Kultural, penyebutan tersebut merujuk pada penerapan aspek aksiologi Arsitektur Islam. 

Berakhir sudah bagian kedua dari tulisan ini yang memuat definisi Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural berdasarkan asumsi yang mendasarinya. Pada bagian selanjutnya dari tulisan ini saya akan melakukan pembandingan definisi antara definisi yang telah saya ajukan pada bagian ini dengan ragam definisi yang telah saya jabarkan pada bagian pertama dengan tujuan objektif untuk mendapatkan definisi terbaik yang mampu menggambarkan dengan tepat hubungan antara Islam dan arsitektur, sehingga diharapkan dapat diterima dan disepakati penggunaannya oleh kalangan pewacana dan pengkaji Arsitektur Islam di Indonesia pada khususnya. Dan secara subjektif pembandingan tersebut bertujuan untuk membuktikan bahwa definisi yang saya ajukan memiliki kualitas terbaik di antara selainnya. Dengan demikian akan turut memperkuat struktur pendekatan Psiko-Kultural yang tengah saya rumuskan sebagai pendekatan Arsitektur Islam yang paling ajeg, rigid dan kokoh di antara pendekatan lainnya. Sebagai penutup, pembahasan pada bagian ini akan dirangkum dalam bentuk tabel yang memuat istilah, sifat, definisi, ciri khas serta syarat-syaratnya yang melandasi pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam.

Tabel: Ragam istilah beserta maknanya masing-masing yang melandasi
pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam

Allahu a’lam bishawab.
Bertempat di Kartasura pada Ramadhan 1439 Hijrah Nabi




Tidak ada komentar:

Posting Komentar