Minggu, 12 Agustus 2018

Pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam; Asumsi Dasar dan Penamaan (Bagian 1)

Ditilik secara paradigmatik, ketiga pendekatan arus-utama dalam pengkajian dan perancangan Arsitektur Islam, sebagaimana telah saya jabarkan dalam tulisan berjudul “Tiga Pendekatan Arus-Utama Arsitektur Islam” memiliki titik-fokus yang berbeda dalam memandang, memahami dan mendekati fenomena arsitektur dari perspektif Islam, disebabkan perbedaan dalam asumsi yang mendasari masing-masing pendekatan. Pendekatan Formal menetapkan titik fokus pada wujud fisik, pendekatan Nilai pada nilai-nilai di balik wujud fisik, sedangkan pendekatan Perilaku pada fungsi dan perilaku yang diwadahi di dalam wujud fisik arsitektur. Kelemahan digunakannya titik-fokus tunggal oleh ketiga pendekatan arus-utama Arsitektur Islam ialah terjadinya reduksi fenomena arsitektur karena berlaku padanya nalar A atau B atau C. Nalar demikian tidak akan mampu memahami Arsitektur Islam secara menyeluruh sebagai proses sekaligus hasil kerja-kreatif-budaya serta sebagai bagian dari Peradaban Islam yang menjadikannya bersifat sangat kompleks karena melibatkan seluruh unsur kebudayaan dan terikat dengan seluruh aspek kehidupan manusia Muslim. Karenanya dengan nalar A atau B atau C, ketiga pendekatan arus-utama Arsitektur Islam dengan titik fokus tunggal yang ditetapkannya tidak akan mampu menangkap dan memahami fenomena Arsitektur Islam sebagai bagian dari fenomena kehidupan manusia Muslim dan Peradaban Islam. 

Berangkat dari kelemahan secara paradigmatik tiga pendekatan arus-utama Arsitektur Islam, saya berikhtiar untuk merumuskan pendekatan baru dalam pengkajian dan perancangan Arsitektur Islam yang saya namakan dengan pendekatan Psiko-Kultural. Pendekatan Arsitektur Islam yang saya ajukan dari satu aspek dapat digolongkan ke dalam pendekatan Filosofis karena antara keduanya memiliki kesamaan dalam beberapa asumsi dasar serta konsep-konsep penyusunnya. Tetapi jika ditinjau secara paradigmatik, pendekatan Arsitektur Islam yang saya ajukan merupakan lompatan sintesa sebagai hasil dari dialektika ilmiah yang melibatkan tiga pendekatan arus-utama Arsitektur Islam, sehingga secara substansi memiliki kesamaan sekaligus perbedaan yang bersifat asasi dengan ketiga pendekatan arus utama yang menjadikannya tidak dapat digolongkan ke dalam salah satunya. 

Keterlibatan saya dalam pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam menjadikan saya tidak dapat menghindar dari mekanisme dialektika ilmiah untuk mempertahankan kebenaran pendekatan Psiko-Kultural. Untuk mencapai tujuan tersebut, bentuk penulisan yang saya gunakan memuat kritik terhadap pendekatan lain untuk menunjukkan kelemahan-kelemahannya, sekaligus mengajukan argumentasi yang mendukung kebenaran pendekatan Psiko-Kultural untuk menegaskan keunggulannya dibandingkan pendekatan selainnya. Pendekatan yang saya ajukan juga tidak dapat menghindar dari mekanisme perkembangan ke dalam maupun ke luar sebagai konsekuensi yang harus diterima atas keterlibatannya dalam medan dialektika. Oleh karenanya, tulisan ini haruslah didudukkan sebagai proses awal yang selalu terbuka pintu untuk mengalami perubahan, pengurangan maupun penambahan pada masa yang akan datang, dan selalu terbuka keniscayaan untuk mengalami keterbelahan pemikiran seiring terbentuknya modal sosial pengusung pendekatan Psiko-Kultural, sebagaimana telah pula dialami pendekatan-pendekatan selainnya, tidak terkecuali tiga pendekatan arus-utama Arsitektur Islam. 

Sebagai langkah awal dari kerja keilmuan yang harus saya lakukan dalam merumuskan pendekatan Arsitektur Islam, tulisan ini memuat dua poin bahasan, yakni rumusan asumsi yang mendasari pendekatan Psiko-Kultural dan penjelasan mengenai penamaan Psiko-Kultural sebagai identitas pendekatan yang saya ajukan. Persoalan asumsi dasar terlebih dahulu saya ketengahkan sebelum persoalan penamaan, karena penamaan Psiko-Kultural berkaitan erat dengan asumsi yang mendasarinya. Sehingga dengan menjelaskan terlebih dahulu asumsi dasar diharapkan dapat memudahkan pembaca untuk memahami penamaan yang saya tetapkan. Bersambung pada tulisan mendatang akan dilanjutkan dengan perumusan definisi Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural yang termuat di dalamnya persoalan istilah-istilah khusus yang digunakan, variabel dan kriteria atau indikator Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural.