Minggu, 12 Agustus 2018

Pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam; Asumsi Dasar dan Penamaan (Bagian 1)

Ditilik secara paradigmatik, ketiga pendekatan arus-utama dalam pengkajian dan perancangan Arsitektur Islam, sebagaimana telah saya jabarkan dalam tulisan berjudul “Tiga Pendekatan Arus-Utama Arsitektur Islam” memiliki titik-fokus yang berbeda dalam memandang, memahami dan mendekati fenomena arsitektur dari perspektif Islam, disebabkan perbedaan dalam asumsi yang mendasari masing-masing pendekatan. Pendekatan Formal menetapkan titik fokus pada wujud fisik, pendekatan Nilai pada nilai-nilai di balik wujud fisik, sedangkan pendekatan Perilaku pada fungsi dan perilaku yang diwadahi di dalam wujud fisik arsitektur. Kelemahan digunakannya titik-fokus tunggal oleh ketiga pendekatan arus-utama Arsitektur Islam ialah terjadinya reduksi fenomena arsitektur karena berlaku padanya nalar A atau B atau C. Nalar demikian tidak akan mampu memahami Arsitektur Islam secara menyeluruh sebagai proses sekaligus hasil kerja-kreatif-budaya serta sebagai bagian dari Peradaban Islam yang menjadikannya bersifat sangat kompleks karena melibatkan seluruh unsur kebudayaan dan terikat dengan seluruh aspek kehidupan manusia Muslim. Karenanya dengan nalar A atau B atau C, ketiga pendekatan arus-utama Arsitektur Islam dengan titik fokus tunggal yang ditetapkannya tidak akan mampu menangkap dan memahami fenomena Arsitektur Islam sebagai bagian dari fenomena kehidupan manusia Muslim dan Peradaban Islam. 

Berangkat dari kelemahan secara paradigmatik tiga pendekatan arus-utama Arsitektur Islam, saya berikhtiar untuk merumuskan pendekatan baru dalam pengkajian dan perancangan Arsitektur Islam yang saya namakan dengan pendekatan Psiko-Kultural. Pendekatan Arsitektur Islam yang saya ajukan dari satu aspek dapat digolongkan ke dalam pendekatan Filosofis karena antara keduanya memiliki kesamaan dalam beberapa asumsi dasar serta konsep-konsep penyusunnya. Tetapi jika ditinjau secara paradigmatik, pendekatan Arsitektur Islam yang saya ajukan merupakan lompatan sintesa sebagai hasil dari dialektika ilmiah yang melibatkan tiga pendekatan arus-utama Arsitektur Islam, sehingga secara substansi memiliki kesamaan sekaligus perbedaan yang bersifat asasi dengan ketiga pendekatan arus utama yang menjadikannya tidak dapat digolongkan ke dalam salah satunya. 

Keterlibatan saya dalam pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam menjadikan saya tidak dapat menghindar dari mekanisme dialektika ilmiah untuk mempertahankan kebenaran pendekatan Psiko-Kultural. Untuk mencapai tujuan tersebut, bentuk penulisan yang saya gunakan memuat kritik terhadap pendekatan lain untuk menunjukkan kelemahan-kelemahannya, sekaligus mengajukan argumentasi yang mendukung kebenaran pendekatan Psiko-Kultural untuk menegaskan keunggulannya dibandingkan pendekatan selainnya. Pendekatan yang saya ajukan juga tidak dapat menghindar dari mekanisme perkembangan ke dalam maupun ke luar sebagai konsekuensi yang harus diterima atas keterlibatannya dalam medan dialektika. Oleh karenanya, tulisan ini haruslah didudukkan sebagai proses awal yang selalu terbuka pintu untuk mengalami perubahan, pengurangan maupun penambahan pada masa yang akan datang, dan selalu terbuka keniscayaan untuk mengalami keterbelahan pemikiran seiring terbentuknya modal sosial pengusung pendekatan Psiko-Kultural, sebagaimana telah pula dialami pendekatan-pendekatan selainnya, tidak terkecuali tiga pendekatan arus-utama Arsitektur Islam. 

Sebagai langkah awal dari kerja keilmuan yang harus saya lakukan dalam merumuskan pendekatan Arsitektur Islam, tulisan ini memuat dua poin bahasan, yakni rumusan asumsi yang mendasari pendekatan Psiko-Kultural dan penjelasan mengenai penamaan Psiko-Kultural sebagai identitas pendekatan yang saya ajukan. Persoalan asumsi dasar terlebih dahulu saya ketengahkan sebelum persoalan penamaan, karena penamaan Psiko-Kultural berkaitan erat dengan asumsi yang mendasarinya. Sehingga dengan menjelaskan terlebih dahulu asumsi dasar diharapkan dapat memudahkan pembaca untuk memahami penamaan yang saya tetapkan. Bersambung pada tulisan mendatang akan dilanjutkan dengan perumusan definisi Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural yang termuat di dalamnya persoalan istilah-istilah khusus yang digunakan, variabel dan kriteria atau indikator Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural. 

A. Empat Asumsi Dasar 

Pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam bersandarkan pada empat asumsi dasar. Asumsi dasar pertama menempatkan Arsitektur Islam yang merupakan proses sekaligus hasil dari kerja-kreatif-budaya manusia Muslim sebagai bagian dari Peradaban Islam. Asumsi dasar kedua merinci yang pertama dengan menetapkan empat wujud pembentuk Arsitektur Islam. Dan asumsi dasar ketiga merupakan tuntutan logis dari dua asumsi dasar sebelumnya yang menetapkan manusia Musim sebagai unsur-pusat dalam penciptaan Arsitektur Islam yang didasari atas pandangan-alam Islam mengenai manusia. Sementara asumsi dasar keempat merupakan pengikat tiga asumsi dasar sebelumnya yang memandang keterlibatan dimensi internal manusia Muslim dalam kerja-kreatif-budaya mencipta[1] Arsitektur Islam, sehingga menumbuhkan rasa kepemilikan antara manusia Muslim sebagai pencipta dengan Arsitektur Islam sebagai hasil dari kerja budaya yang dilakukannya melalui makna yang bersumberkan dari Islam dan melekat pada keempat wujud pembentuk arsitekturnya. 

Asumsi dasar pertama: Arsitektur Islam sebagai proses sekaligus hasil dari kerja-kreatif-budaya manusia Muslim merupakan bagian pembentuk Peradaban Islam. 

Dalam pendekaan Psiko-Kultural, Arsitektur Islam merupakan proses sekaligus hasil dari kerja-kreatif-budaya manusia Muslim. Merupakan proses karena penciptaan Arsitektur Islam oleh manusia Muslim merupakan kerja dalam ranah budaya yang melibatkan secara kreatif seluruh potensi internal yang dimilikinya, meliputi (1) Islam itu sendiri yang mempengaruhi seluruh dimensi diri manusia Muslim yang mewujud dalam pandangan-alam (worldview), sumber kebenaran dan nilai-nilai hidup yang diamalkan; (2) dimensi bathin terdiri dari jiwa, akal, dan hati; dan (3) dimensi lahir terdiri dari kelengkapan dan kekuatan anggota tubuh untuk melakukan kerja budaya; serta potensi eksternal yang berada di luar diri manusia Muslim dan berada di dalam penguasaannya, meliputi (1) alam yang diciptakan Allah untuk dipergunakan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia[2]; (2) modal ekonomi; dan (3) modal sosial. Terdapatnya kedua potensi tersebut tidaklah cukup bagi manusia Muslim untuk melakukan kerja-kreatif-budaya mencipta Arsitektur Islam, karena manusia membutuhkan kehendak yang merupakan daya dorong sekaligus daya arah bagi dirinya untuk mengaktualkan potensi internal menjadi aksi mempergunakan potensi eksternal[3]. 

Dalam Surah An-Nahl ayat 80, Allah berfirman, 
“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu)” 
Pernyataan pada paragraf sebelumnya didasari ayat di atas yang memuat syarat dilakukannya kerja-kreatif-budaya mencipta Arsitektur Islam oleh manusia Muslim, yakni (1) terdapatnya kehendak manusia untuk memiliki rumah yang digunakannya untuk tempat tinggal dan diafirmasinya kehendak tersebut oleh Allah; (2) terdapatnya potensi eksternal berupa kulit binatang yang disediakan oleh Allah teruntuk manusia memenuhi kebutuhannya di bidang lingkungan binaan; dan (3) dikenalinya potensi internal yang terdapat di dalam diri manusia yang menjadi landasan baginya untuk mempergunakan alam dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya di bidang lingkungan binaan. Secara singkat, ketiga syarat tersebut adalah (1) terdapatnya kehendak manusia yang diafirmasi oleh Islam; (2) dikenalinya potensi internal; dan (3) dimilikinya potensi eksternal. Selain itu, ayat di atas juga menggariskan prinsip dalam penciptaan Arsitektur Islam, bahwa pengenalan manusia terhadap potensi internal dirinya, yakni memiliki keterbatasan dari segi fisik dan tradisi kehidupan berpindah-pindah yang harus dijalani, menjadi dasar baginya untuk mencipta rumah yang seringan mungkin dengan memanfaatkan kulit binatang sebagai potensi eksternal yang tersedia di sekeliling lingkungan hidupnya agar memungkinkan untuk dibawa berpindah tempat hidup. 

Sementara Arsitektur Islam merupakan hasil karena manusia Muslim dalam melakukan kerja-kreatif-budaya mencipta Arsitektur Islam berorientasi pada hasil berupa perwujudan fisik arsitekturnya yang dibutuhkan manusia untuk dapat mempertahankan hidup dan melangsungkan kehidupannya di alam dunia. Sebagai proses sekaligus hasil dari kerja-kreatif-budaya, Arsitektur Islam merupakan bagian pembentuk Peradaban Islam yang menempatkannya sebagai fenomena keduniaan. Yang dimaksud fenomena keduniaan bukanlah fenomena yang bernilai profan, dalam artian terpisah dan kosong dari nilai-nilai yang bersifat suci dan spiritual, karena pada hakikatnya tujuan penciptaan dan tujuan hidup manusia menurut Islam ialah untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah sebagai Sang Pencipta sebagaimana termaktub di dalam Surah Adz-Dzaariyaat: 56, 
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” 
Dikarenakan tujuan penciptaan manusia ialah mengabdikan diri kepada Allah dengan cara-cara yang dikehendaki oleh-Nya, maka seluruh kegiatan manusia di seluruh bidang kehidupannya pun diharuskan merupakan wujud peribadatan kepada Allah, tidak terkecuali kegiatan manusia di bidang arsitektur. Dalam pandangan teologisnya, Islam membagi ibadah menjadi dua jenis, yakni (1) ibadah maghdah yang merupakan ibadah ritual dengan cara-cara yang telah ditetapkan Allah tanpa terdapat ruang bagi manusia untuk melakukan penetapan dan perubahan; dan (2) ibadah ghairu maghdah yang merupakan ibadah dalam pengertian luas meliputi seluruh kegiatan manusia dan seluruh bidang kehidupan manusia selain peribadatan ritual. Pada jenis ibadah yang kedua ini, Allah memberikan ruang yang luas kepada manusia untuk mempergunakan akalnya guna menetapkan cara-cara yang terbaik baginya untuk mempertahankan hidup dan melangsungkan kehidupan sepanjang cara tersebut tidak menyelisihi batas-batas yang telah ditetapkan oleh-Nya. Segala cara yang berada di dalam batas, maka diafirmasi oleh Islam untuk direalisasikan, sedangkan segala cara yang melebihi batas, maka dilarang oleh Islam karena realisasinya dapat menyebabkan berbagai kerusakan pada kehidupan sekalian makhluk. 

Kerja-kreatif-budaya mencipta Arsitektur Islam, lebih luas lagi, mencipta Peradaban Islam, dalam pandangan Islam merupakan bentuk peribadatan ghairu maghdah, sehingga berlaku syarat-syarat ibadah meliputi (1) niat yang ikhlas yang merupakan persoalan kehendak; dan (2) cara-cara yang dibenarkan oleh Islam yang merupakan persoalan potensi. Berdasarkan pandangan Islam, yang dimaksud dengan Arsitektur Islam sebagai fenomena keduniaan ialah amal manusia Muslim sepanjang hidupnya di alam dunia untuk memenuhi kebutuhannya di bidang arsitektur berdasarkan syarat-syarat dan batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai wujud penyerahan dan penghambaan diri manusia kepada-Nya. Pandangan ini menegaskan bahwa, dalam pandangan Islam, arsitektur sebagai bagian pembentuk Peradaban Islam tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai dan spiritualitas Islam di mana sepanjang proses penciptaannya hingga pada hasilnya merupakan wujud peribadatan manusia Muslim kepada Allah. 

Sebagai bagian dari Peradaban Islam yang merupakan fenomena keduniaan, Arsitektur Islam terikat hukum-hukum kehidupan di alam dunia. Hukum pertama, Arsitektur Islam terikat pada dimensi ruang dan waktu. Maksudnya adalah, kerja-kreatif-budaya yang dilakukan manusia Muslim untuk mencipta Arsitektur Islam dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersifat kontekstual dikarenakan penciptaan Arsitektur Islam oleh manusia Muslim dilakukan pada suatu ruang dan waktu tertentu dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang merupakan tuntutan dari kondisi kehidupan dan tantangan zaman yang tengah dihadapi dan dipenuhi olehnya berdasarkan pengenalan terhadap potensi internal serta ketersediaan potensi eksternal di sekeliling ruang kehidupannya. 

Ditinjau secara metodologis, keterikatan Arsitektur Islam dengan dimensi ruang dan waktu dikarenakan penciptaannya melalui kerja-kreatif-budaya yang berkedudukan sebagai ijtihad. Ijtihad dalam penciptaan Arsitektur Islam oleh manusia Muslim selalu terikat konteks ruang dan waktu yang menjadikan perwujudan arsitekturnya hanya sesuai untuk ruang dan waktu penciptaannya. Dari sini dapat ditarik prinsip bahwasanya kondisi dan tantangan kehidupan yang berbeda akan membentuk perwujudan Arsitektur Islam yang berbeda pula. Sehingga, Arsitektur Islam yang dicipta oleh manusia Muslim di Jawa pada abad 19 tidak serta merta dapat ditiru dan dipindahkan ke Aceh pada abad yang sama, bahkan dicipta kembali oleh manusia Muslim di Jawa pada abad kini dikarenakan perbedaan dalam kondisi kehidupan dan tuntutan zaman yang melingkupinya. Begitupula dengan perwujudan Arsitektur Islam pada masa Abbasiyah, walaupun dinilai oleh banyak kalangan manusia Muslim sebagai puncak kejayaan Peradaban Islam, tetapi tidak menjadikannya dapat diduplikasi begitu saja pada masa kini. 

Hukum kedua merupakan konsekuensi logis dari penciptaan Arsitektur Islam yang terikat dimensi ruang dan waktu, bahwa Arsitektur Islam memiliki perwujudan yang beragam. Keragaman Arsitektur Islam sebagai bagian dari Peradaban Islam, mendapatkan landasannya di dalam Wahyu sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Hujuraat: 13, 
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” 
Pengelompokkan manusia berdasarkan bangsa dan suku merupakan bukti diakuinya keragaman oleh Islam. Namun demikian, keragaman dalam Islam pun harus dipahami dengan tepat agar dapat didudukkan secara benar. Perbedaan dalam aspek bangsa dan suku diafirmasi oleh Islam sepanjang kedudukannya sebagai identitas sekunder, sementara identitas primer yang diafirmasi oleh Islam hanyalah penyerahan diri sebagai seorang Muslim. Perbedaan antara keduanya adalah identitas primer bersifat tetap dan bernilai absolut karena berkaitan dengan tujuan penciptaan dan hidup manusia yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai Sang Pencipta, serta bersifat azali merujuk pada pengenalan dan pengakuan diri manusia terhadap identitasnya sebagai seorang Muslim sejak berada di alam Alastu, sebagaimana termuat dalam Surah Al-A’raaf: 172, 
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." Kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” 
Sedangkan identitas sekunder, walaupun merupakan ketetapan Allah, tetapi bersifat temporal dan bernilai relatif karena hanya merupakan identitas yang disandang manusia sepanjang hidup di alam dunia. Setelah berpindah ke alam kubur, manusia tidak lagi menyandang identitas sekunder. Begitupula dalam kehidupannya di alam akhirat kelak, identitas sekunder sama sekali tidak mempengaruhi dan tidak dapat menjamin keselamatan dirinya di hadapan Allah. Dikaitkan dengan struktur unsur pembentuk manusia, identitas primer merujuk pada unsur kejiwaan manusia yang bersifat metafisik karena dibentuk oleh aspek keimanan yang diyakini benar oleh manusia. Sedangkan identitas sekunder meliputi etnis dan ras merujuk pada unsur tubuh manusia yang bersifat fisik. Berdasarkan pandangan-alam Islam terhadap manusia, identitas primer menempati kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan identitas sekunder dikarenakan unsur jiwa yang dirujuk oleh identitas primer merupakan hakikat diri manusia. Oleh sebab itu, Islam tidak membedakan manusia dan menentukan derajatnya berdasarkan identitas sekunder yang melekat pada dirinya, tetapi berdasarkan identitas primer, yakni kadar ketakwaan dirinya kepada Allah. 

Menganalogikannya dengan struktur identitas manusia sebagaimana di atas, Arsitektur Islam memiliki identitas primer dan sekunder. Identitas primer Arsitektur Islam merupakan unsur-tetap yang melampaui dimensi ruang dan waktu karena bersumberkan dari Wahyu yang memuat substansi Islam, sehingga merupakan unsur yang membentuk ciri khas Arsitektur Islam yang membedakannya dengan arsitektur selainnya. Yang dimaksud dengan substansi Islam yang termuat di dalam unsur-tetap Arsitektur Islam ialah asas keyakinan Islam dan spiritualitas Islam. Sedangkan identitas sekunder Arsitektur Islam merupakan unsur-dinamik yang terikat dimensi ruang dan waktu karenanya bersifat temporer-kontekstual. Identitas sekunder atau unsur-dinamik merupakan ciri khas sekaligus pembeda antar perwujudan Arsitektur Islam yang dicipta oleh manusia Muslim pada suatu ruang dan waktu tertentu. 

Merujuk pada struktur identitas manusia menurut pandangan Islam, unsur-tetap memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada unsur-dinamik karena memuat substansi Islam yang bernilai mutlak-benar. Walaupun demikian tidak berarti unsur-dinamik menjadi tidak penting karena tanpa kehadirannya atau tanpa kehadiran salah satu unsur pembentuknya, Arsitektur Islam tidak akan terwujud. Arsitektur Islam dikatakan wujud jika kedua unsur pembentuknya hadir dan saling terhubung membentuk kesatuan wujud Arsitektur Islam. Kehadiran unsur-tetap tanpa unsur-dinamik menjadikan Arsitektur Islam tidak memiliki akar yang menghubungkannya dengan ruang dan waktu penciptaannya yang menyebabkan penciptaan Arsitektur Islam menjadi tidak berarti karena tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia Muslim yang seiring lintasan ruang dan waktu memiliki tuntutan yang berbeda-beda. 

Sementara itu kehadiran unsur-dinamik tanpa unsur-tetap menyebabkan dua hal. Pertama, tidak terdapat unsur yang mengikat keragaman perwujudan Arsitektur Islam menjadi kesatuan Peradaban Islam. Keragaman wujud peradaban tanpa kesamaan unsur yang menyatukan dan mengikat bertentangan dengan konsep Ummah dan merupakan ancaman terhadap kesatuan manusia Muslim sebagai Ummah karena tanpa unsur-unsur peradaban yang menyatukannya, sekumpulan manusia Muslim tidak memiliki pengikat yang menjadikannya sebagai kesatuan masyarakat Muslim. Kedua, tanpa kehadiran unsur-tetap, suatu perwujudan arsitektur tidak dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Islam karena ketiadaan substansi Islam di dalamnya, sebagaimana manusia tanpa jiwa yang bersyahadat walaupun tubuhnya menampakkan ciri khas Islam, maka tidak dapat ditetapkan sebagai manusia yang beriman. 

Keragaman perwujudan Arsitektur Islam yang merupakan hukum kehidupan dunia mengikat seluruh diri manusia Muslim sebagai subjek kerja-kreatif-budaya. Sementara sikap menolak keragaman, termasuk dalam arsitektur, merupakan sikap menentang hukum kehidupan dunia yang merupakan Sunnatullah, sehingga akan menyebabkan berbagai kerusakan dalam kehidupan manusia Muslim dan peradabannya, karena tidak sejalan dengan cara-cara berlangsungnya kehidupan sebagaimana ditetapkan oleh Allah. Terjadinya berbagai kerusakan sebagai akibat dari sikap menentang Sunnatullah berpangkal pada persoalan ketidakmampuan arsitektur yang dicipta manusia Muslim untuk memenuhi kebutuhan dan menanggapi tantangan kehidupan yang tengah dihadapinya. Sebagai contoh, penerapan unsur kubah di Indonesia yang beriklim tropis dengan berdasarkan pada penolakan terhadap ragam perwujudan atap selain kubah, menimbulkan berbagai masalah seperti biaya perawatan bangunan yang tinggi dan keterputusan tradisi arsitektur dari generasi awal manusia Muslim di Indonesia. 

Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya manusia Muslim dan begitupula dengan Arsitektur Islam memiliki unsur-tetap yang bersifat universal dan unsur-dinamik yang bersifat kontekstual. Berdasar struktur identitas dan sifatnya masing-masing menjadi sah penyebutan Muslim Jawa dengan kedudukan Muslim sebagai identitas primer dan Jawa sebagai identitas sekunder, sebagaimana sah pula penyebutan Muslim Bali, Muslim Padang, Muslim Aceh dan semisalnya. Dalam konteks arsitektur, menjadi sah istilah Arsitektur Islam bergaya Jawa dengan kedudukan Islam sebagai unsur-tetap yang terdapat di dalam seluruh perwujudan Arsitektur Islam, sedangkan Jawa berkedudukan sebagai unsur-dinamik yang membentuk ciri khas perwujudan arsitekturnya yang tidak terdapat pada Arsitektur Islam selainnya. Inilah kedudukan yang benar bagi keragaman dalam Arsiteketur Islam. 

Keragaman Arsitektur Islam dapat dipahami dalam konteks hubungannya dengan dimensi ruang-waktu dan kualitas perwujudan arsitektur. Dalam konteks yang pertama, keragaman perwujudan Arsitektur Islam terjadi secara sinkronik dan diakronik. Secara sinkronik, keragaman Arsitektur Islam terjadi pada ruang kehidupan yang berbeda di dalam lintasan waktu yang sama. Sebagai contoh, antara manusia Muslim yang hidup di Indonesia dan yang hidup di wilayah Timur Tengah, walaupun keduanya berada dalam lintasan waktu abad 21, tetapi memiliki wujud Arsitektur Islam yang berbeda dikarenakan perbedaan kondisi ruang kehidupan yang memiliki karakter dan tantangannya masing-masing. Dan sebaliknya secara diakronik, keragaman Arsitektur Islam terjadi pada ruang kehidupan yang sama di dalam lintasan waktu yang berbeda. Sebagai contoh, Arsitektur Islam di Indonesia memiliki perwujudan yang berbeda antara abad 19 dan abad 21 dikarenakan kondisi kehidupan yang berbeda di antara dua waktu tersebut disebabkan perbedaan zaman yang melingkupinya. 

Dalam konteks yang kedua, keragaman terjadi dalam aspek kualitas perwujudan Arsitektur Islam. Keragaman dalam konteks ini mengindikasikan bahwa dimungkinkan dilakukannya penilaian berdasarkan timbangan nilai yang sama terhadap keragaman perwujudan Arsitektur Islam yang berakar pada ruang dan waktu penciptaannya masing-masing. Dengan timbangan nilai yang disepakati otoritasnya untuk menilai seluruh perwujudan Arsitektur Islam yang beragam, dapat ditetapkan kedudukan setiap perwujudan Arsitektur Islam berdasarkan aspek kualitasnya, sehingga membentuk hirarki kualitas perwujudan Arsitektur Islam. Untuk itu dibutuhkan timbangan nilai yang bersifat universal atau melampaui dimensi ruang dan waktu. Satu-satunya timbangan nilai yang memungkinkan dan memenuhi syarat adalah Wahyu yang merupakan sumber kebenaran tertinggi dalam Islam untuk menilai unsur-tetap dan unsur-dinamik pembentuk Arsitektur Islam, sebagaimana termuat dalam Surah Al-Hujuraat: 13 di atas, bahwa dapat dilakukan penilaian terhadap diri manusia yang terdiri dari beragam bangsa dan suku berdasarkan timbangan takwa. 



Gambar 1: Keragaman perwujudan Arsitektur Islam antara Masjid Kudus (atas) dan Masjid Al-Azhar di Mesir (bawah). 

Dalam pendekatan Psiko-Kultural, secara metodologis, penilaian terhadap Arsitektur Islam didasarkan atas hubungan setiap unsur pembentuknya dengan Wahyu sebagai timbangan nilai. Untuk unsur-tetap pembentuk Arsitektur Islam yang bersumberkan dan dibentuk langsung oleh Wahyu, penilaian terhadapnya didasarkan atas kesesuaiannya dengan Wahyu. Jika bersumberkan dari Wahyu, maka dinilai sebagai Arsitektur Islam, sedangkan jika tidak bersumberkan dari Wahyu, maka tidak dapat ditetapkan sebagai Arsitektur Islam. Sementara untuk unsur-dinamik yang dicipta oleh manusia Muslim melalui mekanisme ijtihad dengan Wahyu sebagai penyedia batas-batas, prinsip-prinsip dan sumber inspirasi bagi kreativitas kerja budaya yang dilakukan, penilaian terhadapnya didasarkan atas kesesuaiannya dengan batas-batas yang telah ditetapkan Wahyu. Untuk dapat ditetapkan sebagai Arsitektur Islam, kedua unsur pembentuk arsitektur harus diafirmasi oleh Wahyu. Jika salah satu saja unsur pembentuknya bertentangan dengan Wahyu, maka tidak dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Islam. 

Hukum ketiga, sebagai bagian dari Peradaban Islam, penciptaan Arsitektur Islam oleh manusia Muslim terikat mekanisme mempelajari dan meminjam unsur arsitektural dari khazanah peradaban lain. Menilik kembali Surah Al-Hujuraat: 13, bahwa tujuan Allah menetapkan manusia terdiri dari berbagai bangsa dan suku ialah untuk saling mengenal, bukan merendahkan dan menjajah atau mengeksploitasi. Dalam konteks kerja-kreatif-budaya, manusia tidak mampu mencipta arsitektur dalam kondisi diri kosong tanpa ketersediaan pengetahuan dan teknologi. Keterbatasan tersebut mensyaratkan dalam penciptaan Arsitektur Islam dikenalinya khazanah arsitektur dari generasi Muslim terdahulu dan atau khazanah arsitektur dari peradaban lain. 

Dikaitkan dengan hukum kedua, keragaman perwujudan Arsitektur Islam selain disebabkan hubungan antara faktor (1) pengenalan manusia Muslim terhadap potensi internal dirinya; dan (2) potensi eksternal yang merupakan kondisi ruang dan waktu penciptaan arsitektur; juga dipengaruhi oleh faktor (3) keterjalinan komunikasi untuk mengenali dan meminjam khazanah arsitektur dari generasi Muslim terdahulu; sesama komunitas Muslim yang hidup sezaman dengan latarbelakang kebangsaan, ras dan suku yang berbeda; dan dari komunitas manusia dengan identitas keagamaan selain Islam. Menyoroti faktor ketiga, meminjam khazanah arsitektur dari peradaban lain bukanlah hal baru dalam proses penciptaan Arsitektur Islam oleh manusia Muslim karena secara historis telah mulai dilakukan sejak masa Umawiyah yang berpusat di Damaskus. Di antaranya adalah unsur kubah serta pelengkung yang dipelajari dan dipinjam manusia Muslim dari Peradaban Romawi, unsur minaret dari kalangan Nashrani dan unsur iwanat dari Peradaban Persia[4]. Dalam lingkup Nusantara, penciptaan Arsitektur Islam tidak dapat dilepaskan dari mekanisme mempelajari dan meminjam khazanah arsitektur milik komunitas agama selain Islam dan atau komunitas budaya lokal. Di antaranya adalah unsur atap tajug sebagai penutup atap Masjid di wilayah Jawa yang dipelajari dan dipinjam manusia Muslim dari arsitektur Meru yang merupakan ruang peribadatan umat Hindu[5]. 

Sebagai hukum kehidupan dunia, mekanisme mempelajari dan meminjam khazanah arsitektur, sebagaimana telah dilakukan generasi pendahulu manusia Muslim, bersifat mengikat karenanya harus pula dilakukan oleh manusia Muslim yang hidup pada masa kini untuk dapat mencipta Arsitektur Islam sesuai dengan kebutuhan hidup dan tantangan kehidupan yang tengah dihadapi. Perbedaannya adalah, generasi Muslim terdahulu meminjam khazanah arsitektur dari peradaban atau komunitas manusia lain dalam kondisi peradaban atau komunitas tersebut sedang mengalami kemunduran atau tidak lagi berperan di dalam kancah sejarah, sehingga komunikasi yang terjalin bersifat satu arah dan berada di bawah kuasa penuh manusia Muslim. Sedangkan manusia Muslim yang hidup pada masa kini harus melakukan mekanisme mempelajari dan meminjam khazanah arsitektur di tengah dominasi dan produktivitas yang tinggi dari Peradaban Barat dalam melakukan kerja-kreatif-budaya mencipta arsitektur. Dalam kondisi demikian, terdapat dua kemungkinan hubungan komunikasi yang terjalin antara manusia Muslim dengan Peradaban Barat. 

Kemungkinan pertama, hubungan yang terjalin bersifat satu arah dengan kuasa penuh dimiliki oleh pihak Peradaban Barat disebabkan dominasi Peradaban Barat yang hendak menyebarluaskan nilai-nilai peradabannya ke seluruh penjuru dunia atas nama Modernisasi (Modernization) dan Pemberadaban (Civilize), dan kelemahan manusia Muslim sebagai kesatuan Ummah yang menyebabkan Peradaban Islam pada masa kini tidak memiliki daya pengaruh yang kuat terhadap peradaban-peradaban lain. Dalam jalinan hubungan ini, orientasi dan pengaruh secara aktif ditentukan dan diberikan oleh Peradaban Barat, sedangkan pihak manusia Muslim bersifat pasif sebagai penerima. Kemungkinan kedua, hubungan yang terjalin bersifat dua arah di mana kedua peradaban yang mengadakan hubungan komunikasi saling mempelajari dan meminjam khazanah arsitektur untuk memperkaya dan mengembangkan peradaban masing-masing. Di antara dua kemungkinan tersebut, penting bagi manusia Muslim untuk memiliki strategi peradaban yang tepat agar dapat mengadakan jalinan komunikasi dengan Peradaban Barat dalam bentuk kemungkinan kedua dan menghindari terjadinya dominasi Peradaban Barat sebagaimana pada kemungkinan pertama. Jika tidak, keterjalinan hubungan komunikasi dengan Peradaban Barat alih-alih memperkaya dan memajukan Peradaban Islam, justru akan menyebabkan kerusakan pada kehidupan manusia Muslim dan peradabannya. 

Sepanjang abad 20 hingga kini, manusia Muslim cenderung menerapkan strategi menutup diri sepenuhnya dari Peradaban Barat atau membuka diri sepenuhnya[6]. Strategi menutup diri menolak untuk menjalin hubungan komunikasi dengan Peradaban Barat sebagai bentuk ikhtiar menghindarkan manusia Muslim dan peradabannya dari keburukan-keburuhan yang inheren terdapat di dalam dan yang disebabkan oleh Peradaban Barat. Penerapan strategi menutup diri pada zaman kini tidak mudah, bahkan hampir tidak mungkin untuk dilakukan serta tidak lagi relevan karena di satu sisi dapat menyebabkan ketertinggalan Peradaban Islam dari Peradaban Barat, termasuk dalam perwujudan arsitekturnya, yang akan berdampak pada penurunan kualitas kehidupan manusia Muslim pada masa kini. Dan di sisi yang lain revolusi teknologi informasi menyebabkan keterhubungan global seluruh komunitas mausia di berbagai belahan dunia, sehingga sikap menutup diri tidak lagi mungkin untuk diterapkan secara penuh karena jalinan hubungan komunikasi secara global menuntut setiap komunitas manusia untuk membuka diri, saling mempelajari dan menyerap informasi melalui komunikasi secara aktif dengan komunitas manusia lainnya[7]. 

Strategi membuka diri sepenuhnya dari Peradaban Barat merupakan kebalikan dari strategi sebelumnya yang menuntut dijalinnya hubungan komunikasi secara penuh dengan Peradaban Barat yang dipandang sebagai tolak ukur kemajuan dan kejayaan peradaban pada zaman kini. Tujuan diterapkannya strategi ini adalah kebangkitan dan kemajuan Peadaban Islam dengan cara menyerap secara keseluruhan khazanah Peradaban Barat Modern, tidak terkecuali dalam bidang arsitektur. Strategi ini alih-alih mendorong kemajuan Peradaban Islam, yang terjadi justru terjadinya hubungan komunikasi satu arah dari pihak Peradaban Barat yang menyebabkan Pembaratan di kalangan manusia Muslim dalam cara pandang, pola pikir, serta gaya hidupnya dan memutus manusia Muslim dari khazanah Arsitektur Islam yang telah dicapai generasi pendahulu karena dinilai tidak lagi relevan dan tidak lagi berdaya guna untuk diterapkan dalam kondisi zaman kini. Pada akhirnya strategi ini menyebabkan manusia Muslim tercabut dari identitas diri dan ciri khas peradabannya serta menyebabkan kerusakan di berbagai bidang kehidupannya. 

Kerugian dan berbagai kerusakan akibat membuka diri sepenuhnya dari Peradaban Barat dialami oleh manusia Muslim di Irak, sebagaimana dipaparkan oleh Ali A. Allawi[8]. Secara fisik, Ali A. Allawi mengakui perwujudan kota dan arsitektur di Irak mengalami kemajuan yang pesat sebagai akibat dari terjalinnya hubungan komunikasi yang erat dan terbuka sepenuhnya antara manusia Muslim di Irak, terutama pihak pemerintah, dengan Peradaban Barat. Tetapi dibalik kemajuan fisik yang pesat, Allawi mendapati manusia Muslim di Irak telah kehilangan otentisitas identitas dan peradabannya serta telah jauh dari orientasi dan tujuan hidupnya. Tidak berbeda jauh dengan manusia Muslim di Irak, kerusakan yang sama dialami pula oleh manusia Muslim di hampir seluruh penjuru dunia yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa Kolonialisme hingga Neo-Kolonialisme oleh Peradaban Barat terhadap Dunia Islam. 

Selain kerusakan diri dan peradaban, kerusakan lain yang dialami manusia Muslim ialah masalah ketimpangan sosial-ekonomi disebabkan pembangunan yang tidak berasaskan pada keadilan karena hanya berpihak pada kalangan pemilik ekonomi atas dan menengah yang merupakan dampak dari iklim Peradaban Barat Modern yang berorientasi ekonomi-sentris dan masalah lingkungan yang merupakan dampak buruk tata cara pembangunan arsitektur yang dipelajari dan diserapnya dari Peradaban Barat. Di antara seluruh kerusakan, yang paling menusuk manusia Muslim sebagai kesatuan Ummah, sebagaimana dinyatakan oleh Ziauddin Sardar[9] ialah perubahan drastis lingkungan binaan di Mekah yang menjadi hambatan bagi manusia Muslim untuk mencapai kedalaman spiritualitas Islam dalam prosesi ibadah Haji. Peradaban Barat tidak menyisakan apapun bagi manusia Muslim yang kini tengah bergelut dengan kerusakan di berbagai bidang kehidupannya, ruang kehidupannya dan ruang Mekah yang merupakan jantung spiritualitas Islam. 

Dalam menjalin hubungan komunikasi dengan peradaban atau komunitas lain, termasuk dengan Peradaban Barat, pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam menerapkan strategi terbuka secara kritis[10], yakni menjalin hubungan dan komunikasi dua arah dengan peradaban atau komunitas lain untuk mencapai dua tujuan. Tujuan pertama, untuk memperkaya khazanah Arsitektur Islam sekaligus memajukan Peradaban Islam dengan tetap mempertahankan otentisitas atau ciri khasnya. Tujuan ini dicapai dengan cara mempelajari khazanah arsitektur yang merupakan bagian dari peradaban lain dengan benar dan menyeluruh, dalam artian dipahami sesuai dengan konteks peradaban asalnya, serta menyerapnya berdasarkan kebutuhan manusia Muslim yang telah ditetapkan dan diafirmasi oleh Islam bagi dirinya melalui metode Islamisasi yang merupakan proses peminjaman unsur arsitektur dari peradaban lain agar berkesesuaian dengan pandangan-alam, sumber kebenaran dan nilai-nilai Islam. Singkatnya, agar unsur arsitektur yang dipinjam manusia Muslim dari peradaban atau komunitas manusia lain sesuai dengan keimanan Islam, identitas diri serta peradaban dan kebutuhannya. Tujuan pertama ini menuntut manusia Muslim untuk produktif dan kreatif, tidak pasif sekedar sebagai penerima. Tujuan kedua, dengan strategi terbuka-kritis, keterjalinan hubungan dan komunikasi dua arah dengan Peradaban Barat merupakan kesempatan bagi manusia Muslim untuk mengambil peran secara aktif dan konstruktif dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di bidang lingkungan binaan sekaligus untuk menampilkan wajah Islam yang solutif sebagai realisasi dari universalitas Islam dan kebenaran mutlak yang dikandungnya. 

Jalinan hubungan dan komunikasi dua arah dengan peradaban dominan mengandung pengertian bahwa kedua belah pihak yang terlibat berada dalam kedudukan yang sederajat, di mana tidak terdapat pihak yang menempatkan diri lebih tinggi dan merendahkan pihak lainnya. Bagi manusia Muslim yang hidup pada zaman kini, keterjalinan hubungan dan komunikasi dua arah dengan Peradaban Barat sebagai peradaban dominan, hanya dapat dicapai jika memenuhi dua syarat, yakni (1) mengakui Islam sebagai satu-satunya kebenaran yang bernilai mutlak untuk mengimbangi klaim Barat terhadap universalitas dan kebenaran mutlak peradabannya; dan (2) menerima seluruh capaian Peradaban Islam dari generasi pendahulu sebagai warisan peradaban yang harus dijaga dan dikontekstualisasikan dengan tuntutan kehidupan zaman kini untuk mengimbangi produktivitas dan capaian Peradaban Barat. Hanya dengan mengakui kebenaran-mutlak Islam dan kebesaran Peradaban Islam, manusia Muslim dapat menempatkan dirinya pada kedudukan yang sederajat dengan Peradaban Barat. 

Untuk menjaga otentisitas dan ciri khas Arsitektur Islam, mekanisme meminjam unsur arsitektur dari peradaban atau komunitas manusia lain harus memperhatikan kedudukan setiap unsur pembentuknya. Peminjaman tidak dapat dilakukan pada unsur-tetap karena memuat ciri khas Arsitektur Islam yang bersumberkan dari Wahyu. Peminjaman pada unsur-tetap akan mengakibatkan hilangnya ciri khas yang menjadikan suatu perwujudan arsitektur tidak lagi dapat dikaitkan dengan Islam, sehingga tidak dapat dinilai dan dinyatakan sebagai Arsitektur Islam. Peminjaman hanya dimungkinkan dilakukan pada unsur-dinamik yang merupakan ruang ijtihad bagi manusia Muslim untuk berkreasi dengan menggunakan metode Islamisasi agar unsur-unsur yang dipinjam tetap berada di dalam batas-batas Islam dan dapat terhubung dengan unsur-tetap yang bersumberkan dari Islam, sehingga membentuk kesatuan unsur-unsur pembentuk Arsitektur Islam. Jika peminjaman dilakukan tanpa menggunakan metode Islamisasi, maka unsur arsitektur yang dipinjam dari peradaban lain berada di luar batas-batas yang ditetapkan Islam yang menjadikannya bertentangan dengan unsur-tetap, sehingga tidak dapat dinyatakan sebagai Arsitektur Islam karena salah satu unsur pembentuknya bertentangan dengan Islam. 

Dari pembahasan di atas dapat ditarik syarat-syarat dan kriteria dicapainya keberhasilan dari keterjalinan hubungan komunikasi dua arah antara manusia Muslim dengan peradaban lain. Syarat-syarat yang harus dipenuhi manusia Muslim adalah (1) menempatkan diri sederajat dengan peradaban lain; (2) memahami khazanah arsitektur milik peradaban lain dengan benar dan menyeluruh; (3) meminjam unsur arsitektural dari peradaban lain sesuai dengan kebutuhan manusia Muslim yang telah ditetapkan atau diafirmasi oleh Islam; (4) peminjaman unsur asitektural dilakukan dengan metode Islamisasi; dan (5) peminjaman terbatas pada unsur-dinamik pembentuk Arsitektur Islam. Sementara kriteria keberhasilan yang harus dicapai manusia Muslim dalam menjalin hubungan komunikasi dengan peradaban lain ialah (1) mampu menempatkan unsur arsitektural pinjaman sebagai unsur-dinamik Arsitektur Islam; dan (2) terhubungnya secara struktural unsur-dinamik dengan unsur-tetap yang bersumberkan dari Wahyu dan pembentuk ciri khas Arsitektur Islam. 

Hukum keempat, Arsitektur Islam terikat dengan unsur lain pembentuk Peradaban Islam sebagai kesatuan struktural peradaban. Realitas kehidupan manusia di alam dunia tidak dapat dipisahkan antara satu bagian dengan bagian lainnya sebagaimana pandangan Atomisme yang memecah realitas kehidupan manusia menjadi bidang-bidang kehidupan yang berdiri sendiri. Pandangan Atomisme[11] merupakan ciri khas Peradaban Barat Modern dalam memandang kehidupan manusia dan menjadi dasar dalam penetapan bidang-bidang keilmuan yang mandiri dan terspesialisasi. Dilandasi pandangan Atomisme, arsitektur sebagai bagian dari realitas kehidupan manusia dipisahkan dari bagian realitas lainnya dan arsitektur sebagai ilmu pengetahuan ditetapkan sebagai ilmu terapan yang terpisah dari bidang ilmu lainnya. Dampaknya, penciptaan arsitektur tidak dapat melampaui arsitektur itu sendiri. Slogan seni untuk seni, IPTEK untuk IPTEK, termasuk pula arsitektur untuk arsitektur diperkenalkan dan menjadi dasar dalam pembinaan Peradaban Barat Modern. Dengan pandangan tersebut, kehendak manusia, potensi internal dan eksternal didorong untuk mewujudkan arsitektur yang semakin baik kualitasnya dari aspek teknologi. Akibatnya adalah kerusakan di bidang kemanusiaan karena arsitektur dicipta bukan untuk meningkatkan kualitas diri dan kehidupan manusia serta kerusakan di bidang lingkungan karena dicipta dengan cara-cara yang bersifat eksploitatif terhadap alam. 

Pendekatan Psiko-Kultural menempatkan dan menetapkan Arsitektur Islam sebagai bagian dari Peradaban Islam, sehingga terikat secara struktur dalam arah vertikal dan horizontal. Dalam arah horizontal, Arsitektur Islam sebagai salah satu bagian dari realitas kehidupan manusia Muslim, terikat dengan bagian realitas lainnya seperti kehidupan ekonomi, sosial, politik, pendidikan dan lain sebagainya. Dan dalam arah vertikal, Arsitektur Islam terikat dengan Wahyu meliputi Al-Qur’an, Hadits dan penjelasan keduanya oleh para ulama yang berwibawa. Dengan ikatan struktur demikian, pendekatan Psiko-Kultural menempatkan pewacanaan dan pengkajian Arsitektur Islam sebagai disiplin keilmuan yang bersifat paradigmatik karena terdiri dari dimensi teoritik dengan orientasi perumusan bangunan ilmu dan dimensi praktik dengan orientasi penciptaan teknologi, serta bersifat interdisipliner yang mempertemukan berbagai bidang ilmu, meliputi ilmu Qauliyah dan Kauniyah atau ilmu Naqli dan Aqli, untuk mengkaji kehidupan manusia di bidang lingkungan binaan. Sehingga, berdasarkan struktur yang mengikatnya, pendekatan Psiko-Kultural menetapkan lingkup Arsitektur Islam sebagai ilmu pengetahuan meliputi manusia dan lingkungan binaannya yang dikaji berdasarkan pandangan Islam. 

Pendekatan Psiko-Kultural yang menetapkan Arsitektur Islam bersifat paradigmatik, mengharuskannya dipahami secara menyeluruh meliputi dimensi teoritik dan praktik. Mengakui dan menempatkan Arsitektur Islam sebagai bagian dari ilmu terapan yang hanya menekankan pada dimensi praktik untuk mencipta teknologi, sebagaimana ditetapkan oleh pendekatan Formal dan pendekatan Nilai yang berorientasi pada objek, akan menyebabkan Arsitektur Islam terserap ke dalam dan menjadi bagian dari paradigma arsitektur yang kini sedang dominan, yakni Arsitektur Barat, disebabkan tidak memiliki bangunan teoritiknya sendiri yang khas sebagai dasar yang dibutuhkan untuk mencipta teknologi. Pandangan tersebut mengidap dua kesalahan ditinjau secara filosofis. Kesalahan pertama, penciptaan Arsitektur Islam sebagai teknologi berdasarkan bangunan teoritik milik khazanah arsitektur lain berasaskan pada pandangan bahwasanya bangunan teoritik tersebut bersifat universal, sehingga dapat dipinjam dan dipergunakan begitu saja oleh manusia Muslim tanpa terlebih dahulu dirasa perlu untuk memeriksa dan mengkajinya secara mendalam hingga menyentuh asas-asas keyakinan manusia penciptanya. Pandangan demikian justru menggugurkan legitimasi Arsitektur Islam karena jika telah terdapat khazanah arsitektur selainnya yang bersifat universal untuk seluruh kalangan manusia tanpa sekat agama, ras dan etnis di satu sisi dan secara faktual telah terbukti produktivitasnya dalam aspek keilmuan dan penciptaan teknologi di sisi yang lain, lalu untuk apa lagi diikhtiarkan penciptaan Arsitektur Islam oleh manusia Muslim dan apa urgensinya?! 

Kesalahan kedua, pandangan tersebut menyalahi kaidah Islam bahwasanya ilmu mendahului amal dan ilmu merupakan syarat untuk diterimanya amal[12]. Ilmu dibutuhkan untuk membentuk niat yang benar, yakni ikhlas, dan memberikan arahan terhadap cara-cara pelaksanaan amal yang benar sebagaimana dituntunkan oleh Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, sehingga amal yang dilakukan oleh manusia Muslim dinyatakan sebagai amal shalih. Oleh sebab itu dalam pandangan Islam, kepemilikan ilmu yang benar, yakni yang bersumberkan dan atau diafirmasi oleh Wahyu, merupakan syarat untuk dilakukannya amal yang benar. Begitupula dalam kerja-kreatif-budaya mencipta Arsitektur Islam, kepemilikan ilmu Arsitektur Islam, dalam artian ilmu arsitektur yang benar karena bersumberkan, berpandukan dan terinspirasi dari Wahyu, menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi terlebih dahulu untuk dapat diciptanya teknologi Arsitektur Islam yang benar, dalam artian teknologi arsitektur yang berdasarkan kebutuhan manusia Muslim dan berada dalam batas-batas Islam. 

Kedudukan Arsitektur Islam menurut pendekatan Psiko-Kultural sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat interdisipliner membuka ruang bagi para ahli dari berbagai bidang keilmuan yang berkaitan dengan manusia dan lingkungan binaannya untuk melakukan pengkajian bersama yang dikenal dengan istilah integrasi aksi keilmuan. Jika menengok pada sejarah masa lalu Peradaban Islam, idealnya seorang ahli Arsitektur Islam juga merupakan ahli di berbagai bidang keilmuan lainnya yang saling berkaitan, termasuk bidang ilmu Naqli, yang mencerminkan pandangan Islam terhadap keutuhan realitas kehidupan manusia yang terdiri dari dimensi fisik dan metafisik. Tetapi di zaman kini di mana tradisi keilmuan Islam telah ditinggalkan dan menjadi asing bagi manusia Muslim, sementara tradisi keilmuan Barat Modern sedang mendominasi kerja keilmuan dan pendidikan di bidang arsitektur, maka kualitas manusia Muslim yang memiliki otoritas dalam beberapa bidang keilmuan yang saling berkaitan hampir tidak mungkin lagi untuk dicapai. Hambatan tersebut menjadikan metode yang relevan untuk diterapkan pada masa kini ialah integrasi aksi keilmuan yang melibatkan banyak ahli dari berbagai bidang ilmu untuk mengkaji suatu pokok permasalahan yang berkaitan dengan manusia dan lingkungan binaannya. 

Terdapat dua syarat agar dimungkinkan terwujudnya integrasi aksi keilmuan di bidang Arsitektur Islam. Pertama, terdapat ikatan psikologis antar kalangan ahli sebagai daya dorong untuk menjalin komunikasi, bertemu dan mengkaji suatu permasalahan yang merupakan lingkup Arsitektur Islam. Ikatan psikologis yang menyatukan kalangan ahli dari berbagai bidang ilmu dapat bersifat umum maupun khusus. Ikatan yang bersifat umum ialah ikatan kemanusiaan atau ukhuwah basyariyah[13] tanpa dibatasi identitas agama, etnis dan ras yang meniscayakan para ahli dari kalangan manusia Muslim dapat menjalin kerjasama dengan para ahli dari kalangan non Muslim untuk mengkaji suatu permasalahan yang menjadi perhatian bersama dikarenakan berdampak pada kualitas kehidupan masyarakat luas, seperti persoalan mitigasi bencana, pemerataan pembangunan dan kesejahteraan, ruang kehidupan yang layak huni dan sebagainya. Sementara ikatan yang bersifat khusus adalah ikatan keimanan Islam atau ukhuwah Islamiyah yang mengikat seluruh manusia Muslim sebagai kesatuan Ummah, sehingga meniscayakan berbagai ahli dari kalangan manusia Muslim untuk bekerjasama menyelesaikan suatu permasalahan yang berkaitan dengan pembangunan Peradaban Islam atau kualitas kehidupan masyarakat Muslim seperti pembangunan ruang kehidupan berdasarkan konsep Madiinah yang bertolak dari tiga pusat ruang khas Islam meliputi ruang hunian, masjid dan pendidikan. 

Kedua, terdapat ikatan keilmuan antar kalangan ahli untuk dapat dilangsungkannya kajian secara produktif dan konstruktif, dalam arti setiap ahli yang terlibat memiliki pemahaman terhadap bidang ilmu yang dibutuhkan untuk mengkaji suatu permasalahan Arsitektur Islam. Tanpa ikatan ini, integrasi aksi keilmuan tetap dapat dilakukan berdasarkan ikatan psikologis, tetapi akan terhambat karena antar pihak yang terlibat sama sekali tidak memahami bidang ilmu satu dengan lainnya. Syarat ini menuntut kalangan ahli Arsitektur Islam, selain menguasai bidang ilmu arsitektur yang menjadi wajib baginya, juga diharuskan memahami bidang-bidang ilmu Naqli dan bidang lainnya dari kelompok ilmu Aqli yang berkaitan dengan manusia dan lingkungan binaan agar dapat menjalin kerja keilmuan dengan kalangan ahli ilmu terkait, dan begitupula bagi para ahli dari bidang ilmu lainnya dituntut untuk memahami Arsitektur Islam walaupun sebatas permukaan untuk dapat melangsungkan intergasi aksi keilmuan bersama dengan kalangan ahli Arsitektur Islam. Sebagai contoh, untuk menyelesaikan persoalan lingkungan kumuh bersama dengan para ahli dari beragam bidang ilmu yang dibutuhkan untuk memahami permasalahan, merumuskan solusi dan menyelesaikannya dengan benar, kalangan ahli Arsitektur Islam dituntut memahami ilmu-ilmu Naqli untuk dapat memandang, memahami dan menilai fenomena berdasarkan Islam dan memahami ilmu-ilmu Aqli yang berkaitan dengan persoalan lingkungan kumuh meliputi ilmu ekonomi, sosiologi, antropologi, psikologi, kebijakan publik dan ilmu lainnya sebagai pengikat keilmuan dengan para ahli dari berbagai bidang ilmu tersebut. 

Sebagai kesatuan struktural dari realitas kehidupan manusia, setiap peradaban memiliki unsur dominan yang membentuk ciri khas peradaban tersebut sekaligus merupakan organ vital yang menjamin keberlangsungan hidup suatu peradaban. Dalam Peradaban Islam, organ vital yang menggerakkan unsur pembentuk lainnya, termasuk unsur arsitektur, ialah unsur pendidikan, yang membedakannya dari Peradaban Barat Modern dan Paska Modern dengan ekonomi sebagai unsur dominan. Penetapan pendidikan sebagai unsur dominan Peradaban Islam bukan oleh manusia Muslim secara historis maupun sosiologis yang menyebabkan Peradaban Islam secara terus menerus mengalami pergantian unsur dominan, sebagaimana dialami Peradaban Barat. Unsur dominan Peradaban Islam ditetapkan oleh Allah melalui Wahyu pertama yang diterima Rasulullah Muhammad, yakni Surah Al-‘Alaq: 1, yang secara tradisi bermula sejak masa beliau Shallallahu Alaihi Wasallam hingga kini, 
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. (QS 96: 1) 
Wahyu pertama memuat perintah untuk membaca yang merupakan bagian dari kegiatan pendidikan. Dalam Islam, pendidikan berkaitan erat dengan konsep Ilm, Khalifah, Dakwah dan Ishlah dengan tujuan untuk mengembalikan dan menjaga manusia agar tetap pada fitrah penciptaannya, yakni sebagai hamba sekaligus wakil Allah di muka bumi dan menghantarkan manusia kepada kesempurnaan dirinya, yakni manusia yang bertakwa hingga mencapai tataran Ihsan. Tujuan pendidikan dalam Islam berikut dengan jejaring konsep yang mendukungnya menjadi dasar bagi pendekatan Psiko-Kultural untuk menetapkan tujuan individual penciptaan Arsitektur Islam untuk setiap diri manusia yakni, menciptakan ruang kehidupan dalam bentuk lingkungan binaan sebagai wadah bagi manusia untuk mencapai kesempurnaan dirinya menurut pandangan Islam. 

Hukum kelima, sebagai bagian dari Peradaban Islam, kerja-kreatif-budaya mencipta Arsitektur Islam selalu dilakukan manusia Muslim sebagai kesatuan Ummah. Keterbatasan diri untuk mempertahankan hidup dan melangsungkan kehidupannya di alam dunia, mendorong manusia hidup bersama dengan manusia lainnya secara berkelompok dengan membentuk masyarakat. Sebagai sebuah kumpulan manusia yang diikat oleh ashabiyah[14], masyarakat merupakan institusi bagi manusia untuk secara bersama-sama saling memenuhi kebutuhan hidup dan mempertahankan hidupnya. Sehingga kerja-kreatif-budaya yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan membentuk peradabannya selalu dalam konteks manusia sebagai bagian dari masyarakat dan harus dipahami dalam konteks kemasyarakatan. 

Sebagai makhluk yang berakal, manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan dan memiliki kebebasan memilih untuk hidup seorang diri dan terpisah dari masyarakat. Tetapi dikarenakan keterbatasan dirinya, manusia tidak akan mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya yang berakibat pada keselamatan dan keberlangsungan hidupnya di dunia. Pada kenyataannya, manusia yang memutuskan diri untuk hidup menyendiri pun membentuk sebuah komunitas yang diikat oleh kesamaan tujuan, yakni memisahkan diri dari kehidupan kota dan masyarakat kebanyakan yang lambat laun akan membentuk dan membina peradabannya sendiri yang khas. Oleh karena itu sepanjang sejarah peradaban manusia, tidak terdapat khabar satupun yang menyampaikan perihal kemampuan manusia untuk hidup seorang diri sejak lahir hingga wafatnya dan tidak terdapat satupun peradaban yang dibangun dan dibina oleh manusia seorang diri. 

Dalam pandangan Islam, hidup berkelompok merupakan Sunnatullah[15] yang mengikat seluruh diri manusia tanpa terkecuali. Sehingga hidup memisahkan diri dari masyarakat merupakan perbuatan yang bertentangan dengan Sunnatullah karena akan menyebabkan berbagai kerusakan dan kebinasaan. Di balik Sunnatullah tersebut terdapat tujuan yang ditetapkan oleh Islam bagi manusia dengan hidup bermasyarakat, yakni untuk mempertahankan hidup dan memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya dalam rangka melangsungkan kehidupan di alam dunia. Untuk mencapai tujuan tersebut, unit sosial terkecil pembentuk Ummah dan komunitas sosial terkecil yang diakui Islam ialah keluarga karena dengan berkeluarga, manusia dapat menjaga kelangsungan jenisnya dengan jalan memiliki ketururan yang sah menurut pandangan Islam dan bersama-sama dengan pasangan hidup beserta anak keturunannya dapat saling memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar. Oleh karenanya dalam Arsitektur Islam, hunian yang berfungsi sebagai tempat tinggal sebuah keluarga merupakan unit terkecil pembentuk ruang kehidupan yang berkedudukan sebagai kebutuhan mendasar manusia di bidang lingkungan binaan, sebagaimana kedudukan berkeluarga bagi manusia. 

Dalam lingkup yang lebih luas, kumpulan keluarga membentuk masyarakat Muslim yang mendiami sebuah ruang kehidupan di lokasi tertentu, dan kumpulan masyarakat Muslim membentuk Ummah[16] yang bersifat lintas ruang geografis karena menyatukan seluruh masyarakat Muslim yang mendiami ruang kehidupan terpisah menjadi kesatuan komunitas manusia yang bersifat teologis-sosialistik, yakni sekumpulan manusia yang diikat tali keimanan untuk bersama-sama mencapai keselamatan hidup di dunia dan akhirat yang pada hakikatnya adalah mencapai keridhaan Allah. Seiring perluasan komunitas sosial dari lingkup keluarga menjadi masyarakat dan akhirnya membentuk Ummah, semakin dibutuhkan arsitektur dengan fungsi-fungsi komunal untuk memenuhi kebutuhan bersama sekaligus tetap menjaga ashabiyah yang mengikat seluruh anggota masyarakat. Dalam lingkup masyarakat Muslim, ruang-ruang bersama yang bersifat utama dan mengikat ruang hunian menjadi kesatuan ialah ruang pendidikan dan ruang masjid, sementara ruang-ruang bersama lainnya yang bersifat sekunder meliputi ruang ekonomi, ruang sosial dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan masyarakat Muslim untuk memenuhi kebutuhan hidup dan melangsungkan kehidupannya. Sedangkan dalam lingkup Ummah, ruang bersama yang mengikat keseluruhan manusia Muslim adalah ruang Mekah dan sekitarnya untuk mewadahi peribadatan Haji yang merupakan perkumpulan akbar manusia Muslim dari berbagai etnis dan bangsa. 

Dalam penciptaan Arsitektur Islam melalui kerja-kreatif-budaya, konteks komunalitas atau kemasyarakatan harus diartikan dua hal. Pertama, setiap anggota masyarakat secara bersama-sama memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya di bidang lingkungan binaan. Hal ini mengandaikan bahwa setiap masyarakat memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi untuk tetap hidup selayaknya organisme. Selain kebutuhan yang bersifat umum, dalam artian merupakan kebutuhan yang bersifat mendasar bagi seluruh komunitas manusia, seperti unsur kepemimpinan, setiap masyarakat juga memiliki kebutuhan yang bersifat khusus atau khas yang dibentuk oleh faktor (1) keyakinan yang dianut anggota masyarakat; (2) jenis dan tingkat kekuatan ashabiyah yang mengikat anggota masyarakat; serta (3) tujuan yang hendak dicapai masyarakat. Tidak terkecuali Ummah memiliki pula kebutuhan khusus di bidang lingkungan binaan yang dibentuk asas keyakinan Islam, yakni Tauhid, yang mengikat seluruh anggota Ummah dan menentukan tujuan Ummah untuk manusia Muslim mencapai keselamatan di dunia dan akhirat, yakni ruang Masjid dan ruang Pendidikan yang membedakannya dari masyarakat Barat Modern dan Paska Modern yang memiliki kebutuhan khusus terhadap ruang ekonomi. 

Kedua, setiap anggota masyarakat secara bersama-sama memenuhi kebutuhan hidup sesama anggota masyarakatnya. Sebagai kesatuan Ummah, manusia Muslim tidak saja dituntut melakukan kerja-kreatif-budaya secara komunal untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya, tetapi juga dituntut untuk memperhatikan serta membantu sesama anggota Ummah dalam memenuhi kebutuhannya sebagai individu, di antaranya adalah ruang Hunian yang merupakan kebutuhan mendasar setiap diri manusia di bidang lingkungan binaan. Saling memperhatikan dan membantu sesama anggota Ummah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai individu mendapatkan landasan serta dorongan dari Wahyu, yakni sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berikut, 
“Perumpaan orang-orang Mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota badan merintih kesakitan, maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam’. (Riyawat Imam Muslim) 
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. (Riwayat Imam Ahmad). 
Dalam hadits pertama ditegaskan bahwasanya manusia Muslim dengan sesamanya terikat secara psikologis sebagai kesatuan Ummah yang menumbuhkan sikap empati dan simpati kepada saudara seimannya. Realisasinya terdapat dalam hadits kedua yang memuat dorongan bagi manusia Muslim untuk aktif memberikan manfaat, tidak sekedar mengamati dari kejauhan tanpa berbuat sesuatu yang dapat meringankan kehidupan sesamanya. Bahkan yang menjadi poin penting, hadits kedua bersifat umum bagi manusia Muslim untuk memberikan manfaat kepada seluruh manusia tanpa dibatasi sekat agama, ras dan etnis. Sehingga menjadi tanggungjawab pula bagi manusia Muslim turut membantu manusia lainnya untuk secara bersama-sama memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar di bidang lingkungan binaan. Sedangkan untuk kebutuhan khas masyarakat lain, manusia Muslim tidak turut serta secara aktif dalam pemenuhannya karena berasaskan pada keyakinan yang dianut oleh masyarakat tersebut. Yang diperintahkan oleh Islam kepada manusia Muslim dalam persoalan ini adalah memberi kesempatan dan akses terhadap potensi eksternal untuk masyarakat tersebut memenuhi kebutuhan yang khusus baginya. 

Diperintahkannya manusia Muslim oleh Allah untuk memberikan manfaat kepada seluruh manusia serta melakukan perbaikan dan mengajaknya kembali kepada Allah melalui kerja-kreatif-budaya mencipta Arsitektur Islam yang dilakukannya, memiliki tujuan untuk mewujudkan keadilan dalam bidang lingkungan binaan, yakni kondisi terpenuhinya kebutuhan manusia Muslim sebagai Ummah sekaligus individu di bidang lingkungan binaan serta kebutuhan yang bersifat umum dan mendasar bagi manusia seluruhnya sebagai masyarakat sekaligus individu. Inilah tujuan penciptaan Arsitektur Islam oleh manusia Muslim dalam dimensi sosialnya menurut pendekatan Psiko-Kultural. 

Lima hukum kehidupan dunia yang mengikat Arsitektur Islam sebagai bagian dari Peradaban Islam yang menempatkannya sebagai fenomena keduniaan, secara teologis, merupakan batas tegas yang memisahkan antara wilayah makhluk dengan wilayah Allah[17]. Berdasarkan asas keimanan Islam, yakni Tauhid, kehidupan dunia yang bercirikan kelima hukum di atas tidak berlaku bagi Dzat Allah sebagai Sang Pencipta dan Pemelihara karena Allah tidak terikat dengan dimensi ruang dan waktu; merupakan Dzat Yang Satu yang tidak mengalami perkembangan maupun perubahan; tiada sesuatu pun yang menyamai Allah dan menjadi sekutu bagi-Nya; dan tidak membutuhkan siapapun juga dari kalangan makhluk-Nya karena Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Memiliki atas segala ciptaan-Nya. 

Demikianlah asumsi pertama yang mendasari pendekatan Psiko-Kultural Arsitektur Islam. Dalam gambar 2 di bawah ini akan ditampilkan relasi antara Arsitektur Islam dengan Peradaban Islam, hukum-hukum kehidupan dunia yang mengikatnya serta turunan dari hukum tersebut yang membentuk ciri khas Arsitektur Islam dalam pendekatan Psiko-Kultural: 

Gambar 2: Relasi antara Arsitektur Islam dengan Peradaban Islam, hukum kehidupan dunia yang mengikat dan turunannya. 
Sumber: Analisa, 2018. 

[bersambung pada bagian kedua]

Allahu a’lam bishawab.

Bertempat di Malang pada Muharram 1437 Hijrah Nabi
Diselesaikan di Malang pada Safar 1437 Hijrah Nabi
Dilakukan perbaikan pertama di Kartasura pada Syawal 1437 Hijrah Nabi
Dilakukan perbaikan kedua di Kartasura pada Dzulqa’dah 1439 Hijrah Nabi

Catatan Kaki:

[1] Dalam pendekatan Psiko-Kultural digunakan kosakata ‘mencipta arsitektur’, bukan kosakata merancang atau membangun arsitektur. Secara teologis, kewenangan dan kemampuan untuk mencipta hanya dimiliki oleh Allah sebagai Sang Pencipta. Namun demikian, manusia yang menempati puncak hirarki dari ciptaan Allah, terinspirasi untuk turut mencipta. Tentu terdapat perbedaan yang bersifat asasi antara penciptaan oleh keduanya. Penciptaan yang dilakukan Allah bermakna dari tiada menjadi ada dan tanpa membutuhkan bahan baku. Hasilnya disebut dengan alam yang berstatus sebagai makhluk. Sedangkan penciptaan yang dilakukan manusia bermakna mengolah alam yang hasilnya disebut dengan kebudayaan atau peradaban. Sidi Gazalba menyatakan, hakikat kebudayaan atau peradaban adalah penciptaan, yakni perbuatan mengolah alam. Lihat Sidi Gazalba, Pengantar Kebudajaan Sebagai Ilmu, 1963, Jakarta: Pustaka Antara.

Kosakata ‘mencipta arsitektur’ digunakan dalam pendekatan Psiko-Kultural untuk menegaskan keterhubungan yang tak terpisahkan antara Allah dan manusia; Khalik dan makhluk; alam dan budaya yang membentuk rangkaian kesatuan Tuhan-manusia-alam-budaya (arsitektur), sebagai ikhtiar membentuk persepsi bahwasanya penciptaan Arsitektur Islam melalui kerja-kreatif budaya dan hasilnya sebagai bagian pembentuk Peradaban Islam tidak dapat dipisahkan dari Allah.

Dalam penggunaannya, kosakata ‘mencipta arsitektur’ harus diartikan dalam lingkup yang luas di mana termasuk di dalamnya kegiatan merancang, membangun dan menggunakan arsitektur.

[2] Dalam pandangan-alam Islam, tujuan Allah menciptakan alam ialah untuk digunakan manusia memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidupnya di alam dunia. Tetapi tidak berarti manusia dapat mempergunakan alam sekehendak dirinya karena manusia hanya diberi oleh Allah hak untuk mempergunakan alam yang beriringan dengan kewajiban untuk melestarikan serta menjaga keberlangsungannya, sedangkan hak kepemilikan alam hanya kepada Allah sebagai Yang Maha Memiliki seluruh ciptaan-Nya.

[3] Mengenai pandangan Islam terhadap kehendak dan potensi serta relasi antara keduanya secara konseptual, dapat merujuk pada Jaudat Said, Bertindak Menurut Kehendak Ilahi (terj), 2002, Bandung: Pustaka Hidayah.

[4] Dr. Huri Yasin Husain dengan menggunakan pendekatan kesejarahan melacak asal-usul setiap unsur arsitektural pembentuk Arsitektur Masjid. Merujuk pada karya ilmiah beliau dapat diketahui mekanisme meminjam unsur arsitektur dari peradaban lain oleh manusia Muslim, terkhusus dalam lingkup Arsitektur Masjid. Huri Yasin Husain, Fikih Masjid (terj), 2007, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

[5] G.F. Pijper, Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950, 1984, Jakarta: UI-Press; Yulianto Sumalyo, Arsitektur Mesjid dan Monumen Sejarah Muslim, 2006, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; Pudji Pratitis Wismantara, Eksistensi dan Rekontekstualisasi Arsitektur Masjid Nusantara, 2014, Malang: UIN-Maliki Press.

[6] Mengenai dua strategi yang diterapkan manusia Muslim dalam menjalin hubungan dengan Peradaban Barat Modern, yakni tertutup dan terbuka sepenuhnya, dibahas secara mendalam beserta dampak-dampak yang dialami manusia Muslim dan peradabannya oleh Wan Mohd Nor Wan Daud, Budaya Ilmu Satu Penjelasan, 2007, Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD dan Ziauddin Sardar, Masa Depan Islam (terj), 1987, Bandung: Penerbit Pustaka.

[7] Dampak revolusi teknologi informasi terhadap kehidupan manusia Muslim sebagai kesatuan Ummah dan peradabannya dikaji secara mendalam oleh Ziauddin Sardar. Salah satu kesimpulan dari kajian yang dilakukannya, Sardar menyatakan tidak lagi dimungkinkan bagi manusia Muslim untuk menutup diri sepenuhnya dari Peradaban Barat Modern karena alih-alih akan menghindarkan manusia Muslim dari keburukan-keburukan Peradaban Barat Modern, justru akan menyebabkan ketertinggalan dan kerusakan dalam kehidupannya. Ziauddin Sardar, Tantangan Dunia Islam Abad 21: Menjangkau Informasi (terj), 1993, Bandung: Penerbit Mizan.

[8] Ali A. Allawi, Krisis Peradaban Islam Antara Kebangkitan dan Keruntuhan Total, 2015, Bandung: Penerbit Mizan.

[9] Ziauddin Sardar, Masa Depan Islam (terj), 1987, Bandung: Penerbit Pustaka.

[10] Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud menyebutnya dengan sikap hormat dan kritis sebagai ciri khas Budaya Ilmu Islam yang ditujukan terhadap Peradaban Barat dan khazanah Peradaban Islam masa lalu dengan tujuan untuk mencapai kebenaran dan keadilan. Wan Mohd Nor Wan Daud, Budaya Ilmu Satu Penjelasan, 2007, Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD.

Sementara Ziauddin Sardar membahas strategi serupa dalam konteks IPTEK dengan pembahasan yang bermuatan metodologis untuk menyerap bagian-bagian ilmu pengetahuan dan teknologi Barat yang tidak bertentangan dengan Islam dengan tujuan untuk mewujudkan masa depan Peradaban Islam yang mendekati idealitas Negara Madinah. Ziauddin Sardar, Masa Depan Islam (terj), 1987, Bandung: Penerbit Pustaka.

[11] Pandangan Atomisme terhadap realitas kehidupan manusia, dalam Peradaban Barat Modern, diawali oleh Rene Descartes yang mengajukan metode memilah menjadi bagian-bagian kecil suatu persoalan untuk dikaji dan diselesaikan. Metode tersebut mendasari dilakukannya pembagian ilmu pengetahuan menjadi bidang-bidang ilmu terspesialisasi dengan lingkup kajian yang sempit untuk memudahkan dalam menyelesaikan suatu persoalan. Rene Descartes, Diskursus dan Metode (terj), 2012, Yogyakarta: Ircisod.

[12] Kaidah lengkapnya adalah al-ilmu qabla al-qaul wa al-amal yang merupakan rumusan Imam Bukhari berdasarkan pemahaman beliau terhadap Surah Muhammad: 19,
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. (QS 47: 19)
Kaidah tersebut dikenal luas setelah Imam Bukhari menetapkannya menjadi judul salah satu bab di dalam kitab shahihnya.

[13] Basyar, secara etimologi selain berarti kemanusiaan, juga berarti kulit. Secara konseptual, basyariyah diartikan manusia dengan merujuk pada unsur tubuhnya atau unsur lahirnya. Sehingga yang dimaksud ukhuwah basyariyah adalah ikatan kemanusiaan yang didasari kesadaran sebagai sesama manusia ditinjau dari aspek lahirnya. Dengan ikatan ini, secara lahiriyah manusia dari berbagai latarbelakang agama, ras dan etnis dapat melakukan kerja-kreatif-budaya secara bersama-sama, sedangkan aspek bathin yang mendasarinya meliputi niat, daya dorong dan tujuan-akhir tidak terikat, sehingga saling berbeda dikarenakan perbedaan keyakinan yang dianut.

Contoh praktik ukhuwah Basyariyah adalah terjalinnya integrasi aksi keilmuan antara manusia Muslim dengan kalangan penganut faham Humanis-Sekular untuk memenuhi kebutuhan hunian bagi masyarakat yang kurang mampu dari segi ekonomi. Kedua kalangan dapat mengikat diri untuk bekerjasama sebatas pada aspek lahir, tetapi tidak dapat mengikat pada aspek bathin dikarenakan perbedaan keyakian yang dianut. Bagi manusia Muslim, mewujudkan integrasi aksi keilmuan untuk menyelesaikan persoalan tersebut didasari daya dorong yang bersifat teologis, sedangkan kalangan Humanis-Sekular didasari daya dorong yang bersifat keduniawian semata perihal hak asasi manusia.

[14] Dalam ilmu kemasyarakatan atau dikenal dengan Sosiologi, konsep Ashabiyah dirumuskan oleh Ibnu Khaldun yang diartikan dengan solidaritas sosial. Ashabiyah mengikat individu-individu secara emosional, sehingga menumbuhkan rasa sebagai bagian dari suatu kelompok manusia atau masyarakat dan rasa saling memiliki satu dengan lainnya. Ibnu Khaldun, The Muqaddima: An Introduction to History (terj), 1967, London: Routledge; Ibnu Khaldun, Mukaddimah (terj), 2013, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

[15] Sunnatullah hidup berkelompok, dalam lingkup paling kecil adalah berkeluarga, telah berlaku sejak manusia pertama, yakni Nabi Adam Alaihissallam yang oleh Allah ditetapkan memiliki seorang pasangan hidup dari jenis yang sama dengannya dan dari keduanya, Allah menghadirkan manusia di alam dunia sebagai keturunan Adam hingga menjadi berbangsa dan bersuku-suku, sebagaimana termaktub di dalam Surah An-Nisaa’: 1,
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS 4:1)
[16] Hubungan antara keluarga, masyarakat dan Ummah serta perannya masing-masing dalam membentuk Ummah dijelaskan dalam Ziauddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim, 1989, Bandung: Penerbit Mizan.

[17] Pandangan Tauhid menetapkan keterpisahan ontologis antara Dzat Allah dengan makhluk-Nya yang berarti dua hal. Pertama, Allah tidak menyatu atau menitis ke dalam dzat makhluk. Dan kedua, makhluk tidak dapat bersatu dan menjadi bagian dari Dzat Allah. Namun demikian, keterpisahan ontologis dalam pandangan Tauhid tidak berarti keterpisahan epistemologis dan aksiologis, yang memungkinkan manusia sebagai khalifatullah memenuhi amanah dari Allah untuk merealisasikan kehendak-Nya di dalam kehidupan dunia berdasarkan kebenaran dan nilai-nilai yang ditetapkan dan bersumberkan dari-Nya. Lebih lanjut dapat merujuk pada Ismail Raji Faruqi, Al-Tawhid: Its Implications for Thought and Life, 1992, Virginia: International Institute of Islamic Thought.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar