Selasa, 02 Oktober 2018

Dimensi Suara Dalam Ruang; Tinjauan Psikologi Arsitektur


Rangkaian suara yang harmonis dapat mempengaruhi kondisi batin pendengarnya. Perhatikan saja pendengar musik yang semula sedih tiba-tiba senang, yang semula marah dapat menjadi tenang. Perubahan emosional tersebut tidak lain disebabkan lantunan musik mempengaruhi kondisi batin pendengarnya. Tidak hanya mempengaruhi kondisi batin, suara juga merupakan determinan terhadap perilaku pendengarnya dikarenakan terdapatnya kait hubungan yang erat antara kondisi batin seseorang dengan perilaku yang ditampakkannya. Munculnya perilaku membutuhkan motif dan daya dorong yang berasal dari kondisi batin, sehingga dengan mempengaruhi kondisi batin pendengarnya, suara turut pula mempengaruhi perilaku pendengarnya. Perlu digaris-bawahi bahwa hubungan kausalitas tersebut tidak bernilai mutlak karena manusia memiliki kemampuan dan kebebasan untuk menampakkan perilaku yang berbeda dengan kondisi batinnya, seperti diri yang sedih ditampakkannya sedang berbahagia. Kemampuan inilah yang menjadikan manusia begitu rumit dan kompleks untuk dipahami.

Keterkaitan suara yang dicerap dengan kondisi batin dan perilaku pendengarnya dapat dengan mudah ditemui dan dipahami pada dunia hiburan malam yang identik dengan suara musik disko. Karakter suara musik disko mempengaruhi kondisi batin pendengarnya agar riang dan menjaga dirinya agar tidak mengantuk yang mendorong munculnya perilaku jingkrak-jingkrak dan goyang tubuh mengikuti irama suara. Suara musik disko tidak diperuntukkan untuk mempengaruhi kondisi batin pendengarnya agar khusyuk dan menampakkan perilaku diam-tenang. Ini menandakan setiap karakter suara memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap kondisi batin pendengarnya yang pada akhirnya akan mendorong memunculkan perilaku yang berbeda pula.

Suara yang bersepadu dengan rangkaian kata memiliki daya yang memungkinkan untuk menjangkau seluruh lapisan dimensi batin pendengarnya, sehingga daya pengaruh yang dimilikinya pun semakin kuat di mana unsur suara menyasar dimensi emosional sementara unsur kata menyasar dimensi terdalam dari kondisi batin pendengar. Hubungan antara suara dan kata dapat dianalogikan sebagai kendaraan dan pengendara, yakni suara merupakan kendaraan bagi kata untuk dapat memasuki dimensi terdalam kondisi batin pendengar. Dari analogi tersebut terbentuk dua prinsip yang mengikat suara dan kata. Pertama, kata sebagai pengendara menentukan kendaraan yang hendak digunakannya untuk dapat memasuki dimensi terdalam kondisi batin pendengar. Dengan demikian, karakter dan substansi kata menentukan karakter suara yang mengiringinya, sehingga kata yang bersumberkan dari Wahyu memiliki ciri khas suara yang patut mengiringinya, yakni suara yang berkesesuaian dengan batas-batas yang telah ditetapkan oleh Islam. Kedua, ketidaksesuaian antara suara dan kata menyebabkan menurunnya daya pengaruh keduanya dalam mempengaruhi kondisi batin pendengar, bahkan dalam beberapa kondisi dapat menyebabkan terjadinya polusi suara yang akan dibahas lebih lanjut pada bagian selanjutnya dari tulisan ini.