Selasa, 02 Oktober 2018

Dimensi Suara Dalam Ruang; Tinjauan Psikologi Arsitektur


Rangkaian suara yang harmonis dapat mempengaruhi kondisi batin pendengarnya. Perhatikan saja pendengar musik yang semula sedih tiba-tiba senang, yang semula marah dapat menjadi tenang. Perubahan emosional tersebut tidak lain disebabkan lantunan musik mempengaruhi kondisi batin pendengarnya. Tidak hanya mempengaruhi kondisi batin, suara juga merupakan determinan terhadap perilaku pendengarnya dikarenakan terdapatnya kait hubungan yang erat antara kondisi batin seseorang dengan perilaku yang ditampakkannya. Munculnya perilaku membutuhkan motif dan daya dorong yang berasal dari kondisi batin, sehingga dengan mempengaruhi kondisi batin pendengarnya, suara turut pula mempengaruhi perilaku pendengarnya. Perlu digaris-bawahi bahwa hubungan kausalitas tersebut tidak bernilai mutlak karena manusia memiliki kemampuan dan kebebasan untuk menampakkan perilaku yang berbeda dengan kondisi batinnya, seperti diri yang sedih ditampakkannya sedang berbahagia. Kemampuan inilah yang menjadikan manusia begitu rumit dan kompleks untuk dipahami.

Keterkaitan suara yang dicerap dengan kondisi batin dan perilaku pendengarnya dapat dengan mudah ditemui dan dipahami pada dunia hiburan malam yang identik dengan suara musik disko. Karakter suara musik disko mempengaruhi kondisi batin pendengarnya agar riang dan menjaga dirinya agar tidak mengantuk yang mendorong munculnya perilaku jingkrak-jingkrak dan goyang tubuh mengikuti irama suara. Suara musik disko tidak diperuntukkan untuk mempengaruhi kondisi batin pendengarnya agar khusyuk dan menampakkan perilaku diam-tenang. Ini menandakan setiap karakter suara memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap kondisi batin pendengarnya yang pada akhirnya akan mendorong memunculkan perilaku yang berbeda pula.

Suara yang bersepadu dengan rangkaian kata memiliki daya yang memungkinkan untuk menjangkau seluruh lapisan dimensi batin pendengarnya, sehingga daya pengaruh yang dimilikinya pun semakin kuat di mana unsur suara menyasar dimensi emosional sementara unsur kata menyasar dimensi terdalam dari kondisi batin pendengar. Hubungan antara suara dan kata dapat dianalogikan sebagai kendaraan dan pengendara, yakni suara merupakan kendaraan bagi kata untuk dapat memasuki dimensi terdalam kondisi batin pendengar. Dari analogi tersebut terbentuk dua prinsip yang mengikat suara dan kata. Pertama, kata sebagai pengendara menentukan kendaraan yang hendak digunakannya untuk dapat memasuki dimensi terdalam kondisi batin pendengar. Dengan demikian, karakter dan substansi kata menentukan karakter suara yang mengiringinya, sehingga kata yang bersumberkan dari Wahyu memiliki ciri khas suara yang patut mengiringinya, yakni suara yang berkesesuaian dengan batas-batas yang telah ditetapkan oleh Islam. Kedua, ketidaksesuaian antara suara dan kata menyebabkan menurunnya daya pengaruh keduanya dalam mempengaruhi kondisi batin pendengar, bahkan dalam beberapa kondisi dapat menyebabkan terjadinya polusi suara yang akan dibahas lebih lanjut pada bagian selanjutnya dari tulisan ini.



Ditinjau dari pendekatan psikologi arsitektur, suara dalam konteks keruangan dapat dipahami sebagai (1) unsur aktif pengisi ruang; dan (2) pembatas imajiner ruang. Yang pertama, suara sebagai unsur aktif dapat dimanfaatkan untuk melakukan kontrol perilaku pengguna ruang agar menggunakan ruang dan menampakkan perilaku yang dinilai benar dengan mempengaruhi kondisi batinnya. Dengan cara pandang ini, unsur suara yang mengisi ruang tidak selalu bernilai negatif karena menyebabkan ketidaknyamanan pengguna dalam berkegiatan di dalam ruang, seperti suara yang berasal dari kendaraan bermotor. Dalam Arsitektur Islam, kontrol ruang dengan memanfaatkan unsur suara menjadi penting karena Arsitektur Islam mensyaratkan kegiatan dan perilaku pengguna di dalam ruang berkesesuaian dengan batas-batas yang telah ditetapkan Islam. Semisal untuk menumbuhkan kondisi khusyuk di ruang Masjid dapat dicapai dengan memanfaatkan unsur suara gemericik air dan dedaunan yang tertiup angin yang dapat menenangkan jiwa pendengarnya.

Yang kedua, suara sebagai pembatas imajiner ruang ialah pelingkupan dan pemberian batas suatu ruang berdasarkan suara yang dilantunkan dari dalamnya dan atau melingkupinya. Dengan cara pandang ini, pengguna dapat mengidentifikasi batas ruang berdasarkan jangkauan suara yang dilantunkan dari suatu ruang-sumber-suara yang melingkupi ruang-ruang di sekitarnya serta memahami karakter ruang berdasarkan karakter dan sumber suara yang melingkupinya. Dengan cara pandang yang sama, Arsitektur Islam memiliki ciri khas dari (1) aspek suara yang dilantunkan; dan (2) aspek ruang yang berkedudukan sebagai sumber suara. Yang pertama, Arsitektur Islam memiliki unsur suara yang khas sebagai unsur aktif pengguna ruang dan pembatas imajiner ruang. Unsur kata yang khas Islam bersumberkan dari tradisi Islam yang meliputi Kalamullah, adzan, perkataan Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, perkataan para ulama dan kata-kata yang memuat pesan serta spiritualitas Islam. Sedangkan unsur suara yang menjadi khas Islam ialah yang diafirmasi oleh Islam karena tidak melampaui batas-batas yang telah ditetapkan Islam.

Di antara batas-batas yang telah ditetapkan Islam dalam melantunkan suara, terutama dalam membaca Kalamullah adalah membacanya dengan tartil, yakni dengan perlahan dan suara yang merdu agar menyentuh hati pelantun dan pendengarnya sebagaimana termaktub di dalam Surah Al-Israa’: 106,

“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian”. (QS 17: 106)
Di dalam Hadits pun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menegaskan batas yang sama untuk memerdukan suara ketika membaca Kalamullah,
“Bukan dari golongan kami siapa yang tidak memerdukan suara ketika membaca Al-Qur’an” (Diriwayatkan Imam Bukhari).
Pada titik batas yang lain, Allah melarang manusia untuk memperindah suaranya dengan karakter suara yang dapat membangkitkan syahwat pendengar, sebagaimana termaktub di dalam Surah Al-Ahzah: 32, karena dapat memberikan pengaruh buruk terhadap kondisi batinnya yang dapat mendorongnya melakukan perbuatan asusila,
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik”. (QS 33: 32)
Walaupun secara tektual ayat di atas merujuk pada diri istri-istri Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, tetapi dalam konteks pembahasan tulisan ini yang menekankan pada pengaruh suara terhadap kondisi batin pendengar, maknanya dapat diberlakukan umum untuk seluruh manusia. Unsur suara dan kata yang bersumberkan dari tradisi Islam dan berkesesuaian dengan batas-batas Islam didasari tujuan yang telah ditetapkan Islam kepada penganutnya dalam melantunkan suara, yakni dalam rangka berdakwah menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru ruang dengan kualitas suara yang harmonis dan kualitas kata yang berkesesuaian dengan fitrah diri manusia.

Yang kedua, Arsitektur Islam memiliki kekhasan dalam aspek ruang-sumber-suara dari lingkup mikro hingga makro yang membedakannya dengan arsitektur selainnya. Dalam lingkup mikro, ruang-sumber-suara dalam Arsitektur Islam ialah ruang Mushola. Lebih spesifik untuk objek hunian, ruang Mushola sebagai ruang-sumber-suara diperkuat daya lingkup dan daya pengaruhnya dengan kehadiran ruang keluarga yang didasari atas peran dan tujuan keluarga dalam pandangan Islam. Sementara dalam lingkup meso dan makro, ruang-sumber-suara diperankan oleh ruang Masjid dengan kapasitas, daya lingkup suara dan daya pengaruh suara yang berbeda didasari skala pelayanan masing-masing ruang Masjid. Keberadaan ruang-sumber-suara berciri khaskan Arsitektur Islam dari lingkup mikro hingga makro yang berperan melantunkan suara berciri khaskan Islam tidak lain bertujuan untuk mempengaruhi kondisi batin pendengar yang berkegiatan di setiap ruang kehidupannya agar senantiasa terhubung dengan Allah, sehingga dapat mendorongnya untuk menampakkan perilaku yang dikehendaki oleh Allah.

Saya hendak menuturkan pengalaman berkaitan dengan unsur suara yang bersumberkan dari Islam sebagai pelingkup ruang dan pengaruhnya terhadap kondisi batin saya sebagai pengguna ruang. Terdapat perbedaan pengalaman meruang dan pengaruh psikologis yang saya rasakan ketika berkegiatan di dalam ruang yang dilingkupi suara yang bersumberkan dari Islam di daerah minoritas Muslim dan di daerah mayoritas Muslim. Di Bali yang merupakan daerah minoritas Muslim di mana saya lahir dan menjalani kehidupan hingga dewasa, persebaran ruang Masjid sebagai ruang-sumber-suara yang tidak merata dan jarak antar ruang Masjid yang terbilang saling berjauhan menyebabkan terbentuknya ruang kosong di antara masjid yang tidak dilingkupi secara aktif oleh suara yang berciri khaskan Islam, terutama suara adzan, sehingga mempengaruhi kesadaran umat Islam terhadap waktu shalat yang mendorong munculnya perilaku menunda-nunda pelaksanaan shalat.

Berkegiatan di dalam ruang yang dilingkupi suara berciri khaskan Islam di lingkungan minoritas Muslim seketika menumbuhkan dan menjaga kesadaran saya sebagai seorang Muslim laiknya siraman air hujan di tengah hari yang terik atau seorang musafir yang telah kehabisan bekal di tengah perjalanan dan dalam kondisi dahaga yang teramat sangat menemukan sumber air yang melimpah. Di lingkungan tempat saya bermukim di Bali terdapat sebuah ruang Masjid yang dikelola dan dihidupi oleh kalangan Nahdiyin dengan tradisinya yang kental berkaitan dengan pelantunan suara, seperti tilawah Qur’an, tarkhim, shalawatan, hadrah, Yasinan dan sebagainya yang berdampak pada peningkatan intensitas suara yang melingkupi ruang permukiman, sehingga meningkat pula daya pengaruh suara berciri khaskan Islam terhadap kondisi batin diri saya sebagai pendengar. Intensitas suara yang tinggi dan berkelanjutan dari ruang Masjid menjadi pengingat dan peneguh identitas saya sebagai seorang Muslim yang mendorong diri saya untuk senantiasa berupaya berperilaku dalam batas-batas yang dikehendaki Allah.

Kondisi yang berbeda saya rasakan di daerah mayoritas Muslim, yakni di kampung ibu saya di Tempeh Lumajang, di kampung istri saya di Kerek Tuban, di Yogyakarta, di daerah Dinoyo Malang dan kini bermukim di Kartasura. Persebaran masjid yang merata dan relatif saling berdekatan di daerah mayoritas Muslim menjadikan hampir seluruh ruang dilingkupi suara yang berciri khaskan Islam. Terlebih intensitas suara yang dilantunkan dari ruang Masjid semakin meningkat pada Kamis malam dan sepanjang Bulan Ramadhan guna menjaga kesadaran pengguna ruang sekaligus pengingat bahwa esok memasuki hari Jumat dan bahwa kini tengah berada di dalam Bulan Ramadhan, sehingga mendorong diri pendengar untuk melangsungkan perilaku yang menjadi tuntutan serta tuntunan sepanjang waktu tersebut. Tidak kalah berkesan pengaruh psikologis yang saya rasakan ketika bermukim hingga bilangan semester di wilayah UIN Malang yang terpaut begitu dekat dengan Masjid At-Tarbiyah UIN Malang di mana intensitas suara yang berciri khaskan Islam berupa shalawat dan dzikir secara berjama’ah meningkat selepas shalat Shubuh hingga matahari terbit yang menjaga kesadaran saya untuk tidak kembali merebahkan diri di pembaringan dan pada Sabtu malam yang menyasar kondisi batin kalangan mahasiswa agar mendatangi ruang Masjid untuk menghindarkan diri dari kegiatan bermalam mingguan.

Dari pengalaman yang saya kisahkan, dapat ditarik dua prinsip yang mengikat unsur suara dalam mempengaruhi kondisi batin pengguna ruang. Prinsip pertama, semakin tinggi intensitas suara yang dilantunkan dari ruang-sumber-suara, maka semakin kuat membentuk suasana dan karakter ruang yang dilingkupinya, sehingga semakin kuat pula daya pengaruh suara dalam mempengaruhi pengguna ruang. Satu fenomena yang menguatkan prinsip pertama tersebut adalah peningkatan intensitas suara yang berciri khaskan Islam sepanjang Bulan Ramadhan yang membentuk suasana dan karakter ruang yang tidak ditemui pada bulan-bulan selainnya, sehingga pengguna ruang merasakan suasana yang berbeda yang mempengaruhi kondisi batinnya untuk meningkatkan intensitas kegiatan ibadah. Begitu Bulan Ramadhan pergi, maka intensitas suara pun menurun yang menimbulkan kesedihan dan kerinduan secara psikologis terhadap suasana Ramadhan.

Prinsip kedua, suara yang harmonis memberikan pengaruh positif terhadap kondisi batin pendengarnya, sedangkan suara yang tidak harmonis yang merupakan polusi suara mengakibatkan dampak buruk bagi pendengarnya, seperti memicu amarah yang mendorong munculnya perilaku pengerusakan terhadap ruang-sumber-suara yang menjadi sumber polusi-suara. Persoalan polusi suara patut mendapatkan perhatian lebih dikarenakan secara sosiologis dapat memicu terjadinya konflik horizontal antara pihak pelantun suara dengan pihak pendengar. Untuk mencegah dan menyelesaikan permasalahan polusi suara, terlebih dahulu harus diketahui indikator suatu suara dinyatakan sebagai polusi serta sebab-sebab terjadinya. Dimulai dari yang pertama, variabel untuk menilai suatu suara dinyatakan sebagai polusi terdiri dari (1) suara itu sendiri; dan (2) kata yang disampaikan melalui suara. Suara dinilai sebagai polusi jika tingkat kekerasannya melebihi ambang batas pendengaran manusia sehingga membahayakan bagi indera pendengaran, dan nada lantunan suara tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku sehingga suara yang diperdengarkan tidak harmonis. Sementara kata dinilai sebagai polusi jika makna yang disampaikan tidak patut untuk ditujukan kepada orang lain seperti celaan, ghibah, provokasi dan semisalnya. Tidak hanya ditujukan kepada manusia, bahkan Islam melarang keras ditujukannya kata yang memuat celaan terhadap tuhan-tuhan yang disembah oleh komunitas manusia lainnya sebagai upaya untuk menghindari terjadinya benturan dan konflik sosial antar umat beragama sebagaimana termaktub dalam Surah Al-An’aam: 108,

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” (QS 6: 108)
Ditinjau dari sebab musababnya, terdapat empat penyebab polusi suara dalam konteks keruangan. Sebab pertama, sebaran ruang-sumber-suara yang berdekatan dalam suatu wilayah menyebabkan antar suara yang dikumandangkan saling berbenturan, sehingga merusak harmonisasi suara dan memunculkan kebisingan. Sebab kedua, kualitas pelantun suara yang rendah menyebabkan suara yang dikumandangkan tidak harmonis. Sebab ketiga, kualitas teknologi pengeras suara yang buruk. Dan sebab keempat, waktu pelantunan suara yang tidak tepat, sehingga mengganggu pendengar. Meninjau Masjid sebagai ruang-sumber-suara, penyebab pertama seringkali terjadi di wilayah mayoritas Muslim di mana jarak antar ruang Masjid cenderung sangat dekat sehingga terjadi benturan suara yang dilantunkan dari dua ruang Masjid atau lebih.

Penyebab kedua dan ketiga lazim terjadi dikarenakan persoalan rendahnya Sumber Daya Manusia yang mengelola ruang Masjid. Penyebab kedua seringkali terjadi karena tidak terdapatnya generasi muda yang mau melantunkan adzan dan menjadi imam shalat, sehingga pengelolaan ruang Masjid cenderung dijalankan oleh generasi sepuh yang dari segi tingkat kekerasan suara dan kualitas suaranya cenderung lebih rendah dibandingkan generasi muda. Sementara penyebab ketiga seringkali terjadi dikarenakan ketiadaan dana untuk menerapkan teknologi pengeras suara yang baik, dan kalaupun suatu masjid memilikinya, seringkali tidak dibarengi dengan kemampuan untuk menggunakan dan merawat teknologi tersebut. Dan penyebab keempat terjadi dikarenakan rendahnya rasa empati terhadap sesama manusia, sehingga suara berciri khas Islam yang dilantunkan tidak mencapai tujuannya, tetapi justru mengganggu pendengar. Dua kasus berdasarkan pengalaman pribadi dapat saya sebutkan untuk menggambarkan penyebab keempat, yakni dilantunkannya suara-suara dari ruang Masjid pada jam 2 dini hari untuk membangunkan umat Islam agar segera bangun dan menunaikan Sahur, dan suara dzikir Jama’ah hingga jam 11 malam hari. Keempat penyebab polusi suara tersebut terikat prinsip bahwasanya jika keempat penyebab polusi suara tersebut ditemukan dalam satu kasus, maka tingkat polusi suara yang terjadi semakin tinggi dan dampaknya semakin merusak.

Berangkat dari penyebab-penyebabnya, syarat-syarat yang harus diperhatikan untuk menuntaskan permasalahan polusi suara sekaligus untuk melingkupi ruang dengan suara berciri khaskan Islam dengan kualitas yang baik terdiri dari syarat (1) dalaman; dan (2) luaran. Pertama, syarat-dalaman terdiri dari unsur (1) pelantun suara; (2) kualitas suara dan kata; dan (3) pendengar suara. Pelantun suara harus memiliki kemampuan melantunkan kata yang jelas dengan balutan suara yang harmonis agar menarik perhatian dan pesan yang disampaikan mampu ditangkap dengan baik oleh pendengar. Syarat tersebut didasari keputusan Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam ketika menunjuk Bilal sebagai muadzin dikarenakan memiliki suara yang merdu dan mampu melantunkan redaksi adzan dengan jelas dan keras, sehingga mampu melantunkan suara dengan jelas dan suara yang dilantunkannya memiliki daya lingkup yang luas untuk dapat dicerap dengan baik oleh umat Islam yang berada jauh dari ruang-sumber-suara.

Kualitas suara yang dikumandangkan selain memenuhi kaidah suara yang harmonis, juga harus memenuhi tingkat kekerasan suara yang nyaman bagi indera pendengaran. Suara yang terlalu keras dapat membahayakan indera pendengaran dan malah berpotensi menjadi penyebab munculnya polusi suara. Sedangkan tingkat kekerasan suara yang terlalu rendah tidak dapat dicerap dengan baik oleh pendengarnya yang berakibat terjadinya distorsi pesan dan memunculkan kesalah-pahaman pihak pendengar. Sementara dari unsur kata yang disampaikan haruslah luhur agar dapat memberikan pengaruh positif terhadap kondisi kejiwaan pendengarnya, dan sebaik-baiknya kata untuk didengarkan manusia ialah yang bersumberkan dari Islam yang merupakan Wahyu Ilahi.

Unsur terakhir dari syarat-dalaman ialah pihak pendengar yang mensyaratkan memiliki indera pendengaran yang sehat untuk dapat mencerap suara yang dilantunkan dan memahami kata yang disampaikan agar bermakna bagi dirinya sehingga dapat memberi pengaruh bagi kondisi batinnya. Perkataan hasil kreasi manusia mensyaratkan pendengarnya untuk memahami makna kata yang disampaikan agar kata tersebut dapat memberi pengaruh. Berbeda dengan Kalamullah yang dapat memberi pengaruh sekalipun pihak pendengarnya tidak memahami arti dan makna kata yang disampaikan, dengan syarat terdapat iman di dalam hatinya atau mendapatkan petunjuk dari Allah untuk mengenali kebenaran. Berbeda kedudukan dengan pendengar pertama, pendengar yang memahami arti dan makna Kalamullah yang disampaikan, selain mempengaruhi kondisi batinnya menjadi tenang dan semakin dekat dengan Allah sehingga tunduk patuh hanya kepada kehendak-Nya, juga mampu mendulang hikmah untuk dipergunakannya menjalani kehidupan di alam dunia.

Dari pembahasan mengenai syarat-dalaman ditetapkan kondisi prasyarat yang harus terpenuhi agar suara berciri khas Islam mampu mempengaruhi kondisi batin pengguna ruang ialah terdapatnya iman di dalam hati pelantun dan pendengar suara dikarenakan pada hakikatnya melantunkan dan mendengarkan suara berciri khas Islam merupakan ibadah yang mensyaratkan dimilikinya iman agar terhitung sebagai amal shalih. Namun demikian, syarat iman tidak menjadikan suara berciri khas Islam bersifat eksklusif hanya untuk pihak pendengar dari kalangan Muslim, tetapi diperuntukkan pula untuk seluruh umat manusia sebagaimana perintah Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam kepada umat Islam untuk memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada non Muslim sebagai wasilah bagi hidayah Allah. Banyak kasus kita temui pendengar dari kalangan non Muslim tergugah jiwanya saat mendengarkan Kalamullah yang kemudian menumbuhkan keimanan di dalam hatinya, sehingga mendorong dirinya untuk memeluk Islam.

Syarat-luaran agar suara berciri khas Islam mampu mempengaruhi kondisi batin pengguna ruang meliputi unsur (1) wujud artefak ruang-sumber-suara; (2) teknologi pengeras suara; dan (3) manajemen suara. Syarat-luaran yang paling dekat dan berkaitan secara langsung dengan bidang arsitektur ialah wujud artefak ruang-sumber-suara meliputi tata ruang, proporsi dan dimensi tinggi ruang-sumber-suara. Ditinjau dari tata ruang-sumber-suara itu sendiri, ruang Mushola dan Masjid dalam lingkup meso maupun makro menuntut perencanaan tata ruang yang memungkinkan suara berciri khaskan Islam dapat dicerap dengan kualitas baik oleh pengguna yang sedang berkegiatan di dalamnya. Tata ruang yang tidak baik dapat menyebabkan terjadinya distorsi suara, semisal suara yang menggema, sehingga kata yang termuat di dalam suara tidak dapat ditangkap dengan jelas oleh pendengar, sehingga menyebabkan kesalahpahaman terhadap pesan yang ditangkap atau bahkan dapat menyebabkan pendengar mengalami ganggugan indera pendengaran.

Ditinjau dari hubungan keruangan antara ruang-sumber-suara dengan ruang-ruang di sekelilingnya, perencanaan ruang Mushola dan Masjid dalam skala meso maupun makro harus memperhatikan aspek (1) daya jangkau suara sejauh lingkup pelayanan ruang-sumber-suara; dan (2) aksesibilitas yang memudahkan pendengar untuk mendatangi dan berkegiatan di dalam ruang-sumber-suara. Aspek pertama memiliki dua prinsip yang harus dipenuhi. Prinsip pertama, semakin luas skala pelayanan ruang Mushola dan Masjid, maka suara yang dilantunkan dari dalamnya menuntut untuk memiliki daya lingkup yang semakin luas pula. Masjid Agung yang berkedudukan sebagai ruang-sumber-suara skala makro yang menempati pusat kota memiliki skala pelayanan yang lebih luas dibandingkan Masjid Permukiman, sehingga suara yang dilantunkan dari Masjid Agung diharuskan mampu melingkupi wilayah yang lebih luas dibandingkan Masjid Permukiman. Begitupula dengan ruang Mushola sebagai ruang-sumber-suara skala mikro dengan skala pelayanan paling sempit memiliki daya lingkup suara yang tidak seluas ruang Masjid.

Prinsip kedua, sebaran dan perletakan ruang-sumber-suara berciri khaskan Islam harus memperhatikan daya lingkup suara dari ruang-sumber-suara sejenis maupun selainnya, seperti ruang ibadah agama lain, ruang hiburan dan lainnya, untuk menghindari terbentuknya polusi suara. Yang perlu menjadi perhatian lebih, terutama pada masa kini dikarenakan seringkali menjadi pemicu terjadinya konflik horizontal antar umat beragama ialah jarak yang saling berdekatan antara Masjid dengan ruang ibadah agama lain yang merupakan ruang-sumber-suara bagi penganutnya masing-masing. Maksud yang dapat saya tangkap dari didekatkannya jarak ruang ibadah dari berbagai agama dalam satu area yang terpusat, sebagaimana di Bali disebut dengan Puja Mandala, adalah untuk meningkatkan intensitas komunikasi sebagai upaya merekatkan dan memperkuat hubungan antar umat beragama. Tetapi pada realitasnya, benturan suara dari dua atau lebih ruang ibadah pada waktu-waktu tertentu, seperti pada hari Ahad pagi di mana ruang Gereja melangsungkan kegiatan ibadah dan ruang Masjid melangsungkan pengajian akbar, membutuhkan sikap toleransi tinggi yang hampir-hampir tidak selalu dapat dipenuhi. Oleh karena itu, strategi perekatan sosial dengan mendekatkan ruang ibadah antar umat beragama tidaklah selalu tepat yang dalam penerapannya dapat digeneralkan tanpa mempertimbangkan kondisi sosial keagamaan setempat, karena berpotensi mengganggu kekhusyukan umat yang sedang beribadah dan memicu terjadinya konflik.

Solusi yang dapat dipertimbangkan dalam skala meso adalah ruang ibadah didekatkan pada kelompok hunian masing-masing umat beragama. Perekatan sosial dicapai melalui kegiatan komunal yang diwadahi di dalam ruang olahraga, ekonomi, dan sosial budaya. Sementara dalam skala makro, ruang ibadah yang berkedudukan di area pusat-kota didasarkan pada aspek keagamaan, kesejarahan, identitas, kondisi sosial, budaya dan politik penghuni kota. Kota Surakarta yang dari segi awal mula keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari sosok seorang ulama bernama Ki Ageng Henis dan pada masa Modern merupakan ruang perjuangan melawan Kolonialisme yang dipelopori oleh Sarekat Dagang Islam dan Sarekat Islam, dapat menjadi dasar yang kokoh untuk menempatkan ruang Masjid di pusat kota Surakarta yang berperan sebagai ruang-sumber-suara sekaligus penanda identitas kota. Begitu pula kota-kota di Bali yang berkaitan sangat erat dengan Hindu dan budaya penganutnya, sehingga dapat dipahami jika ruang ibadah umat Hindu maupun ruang-ruang yang mencerminkan identitas Hindu ditempatkan di pusat kota.
Gambar: Puja Mandala di Nusa Dua dengan 5 ruang ibadah (atas) dan Puja Mandala di Kuta Selatan dengan 3 ruang ibadah (bawah)

Berpindah pada aspek kedua, yakni aksesibilitas, memiliki prinsip bahwa semakin baik kuantitas serta kualitas aksesibilitas, maka akan semakin memudahkan pendengar untuk memasuki dan berkegiatan di dalam ruang-sumber-suara. Dalam kondisi ideal, ruang-sumber-suara memiliki kemudahan akses untuk didatangi dan memiliki kualitas suara yang baik untuk dapat dicerap pendengar, sehingga kondisi batin pendengar yang terpengaruh oleh suara berciri khaskan Islam akan membentuk niat di dalam diri yang direalisasikannya secara lahiriyah dengan mendatangi ruang-sumber-suara. Bagi kebanyakan pendengar, ruang-sumber-suara yang tidak memiliki kemudahan akses, seperti dipisahkan aliran sungai tanpa tersedianya jembatan yang layak guna menyebabkan niat yang terbentuk di dalam diri mendapatkan hambatan dan penghalang untuk direalisasikan. Tetapi bagi segelintir orang, ketidak mudahakan akses bukan merupakan penghambat maupun penghalang bagi dirinya untuk mendatangi ruang-sumber-suara, walaupun membutuhkan daya upaya yang sangat berat. Hal tersebut disebabkan suara yang berciri khaskan Islam mempengaruhi kondisi batin pendengar hingga menyentuh dimensi terdalam dirinya, sebagaimana kondisi yang dialami oleh Bilal bin Rabbah yang tidak menghiraukan segala bentuk siksaan terhadap tubuhnya disebabkan Wahyu yang diperdengarkan oleh Rasul Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam kepadanya telah mempengaruhi kondisi batinnya hingga dimensi terdalam.

Ditinjau dari hubungan secara menyeluruh, ruang-sumber-suara Arsitektur Islam membentuk kesatuan yang bertujuan agar ruang dari skala mikro hingga makro dilingkupi suara yang berciri khaskan Islam sebagai bentuk penjagaan terhadap diri manusia yang berkegiatan di dalam ruang-ruang kehidupannya. Kesatuan yang dimaksud meliputi (1) kesatuan suara yang bersumberkan dari Islam; dan (2) kesatuan ruang yang membentuk jejaring ruang-sumber-suara dalam mempengaruhi kondisi batin pengguna ruang dan pendengar. Kesatuan suara yang berciri khaskan Islam didasarkan atas kesamaan sumber, sebagaimana telah disebutkan pada bagian awal tulisan ini, yang menjadikan benturan suara dari dua atau lebih ruang-sumber-suara Arsitektur Islam tidak menyebabkan terjadinya polusi suara jika seluruh unsur-dalaman terpenuhi. Dalam kondisi demikian, benturan suara justru memperkuat daya pengaruh suara berciri khaskan Islam untuk mempengaruhi kondisi batin pendengar. Pembuktian dari pernyataan tersebut saya alami sendiri secara eksistensial, sebagaimana pengalaman yang telah saya kutip di atas, di mana pengaruh suara berciri khaskan Islam jauh lebih kuat saya rasakan di wilayah mayoritas Muslim akibat benturan suara adzan dari dua ruang-sumber-suara atau lebih dibandingkan pengaruhnya di wilayah minoritas Muslim yang sangat kecil sekali kemungkinan terjadinya benturan suara berciri khaskan Islam dikarenakan jarak yang terbilang berjauhan antar ruang-sumber-suara.

Sementara kesatuan ruang berkaitan dengan lingkup pengaruh ruang-sumber-suara terhadap pengguna maupun pendengar berdasarkan kedudukannya masing-masing yang membentuk sifatnya yang khas. Ruang Mushola mempengaruhi pengguna ruang secara personal sebagai individu maupun sebagai keluarga atau kelompok kecil umat Islam yang merupakan unit terkecil dari Ummah, sehingga menjadikannya sebagai ruang-sumber-suara yang bersifat personal-individual atau komunal-terbatas. Sementara Masjid dalam skala meso mempengaruhi pendengar sebagai individu atau kelompok-kelompok kecil untuk keluar dari ruang-ruang pribadinya dan berkumpul sebagai masyarakat Islam, dan ruang Masjid dalam skala makro menyatukan seluruh diri individu Muslim sebagai Ummah yang menjadikannya sebagai ruang-sumber-suara yang bersifat komunal-luas. Kesatuan ruang yang merupakan integrasi antar ruang-sumber-suara Arsitektur Islam dari skala mikro hingga makro dapat digambarkan dalam bentuk diagram di bawah ini:
Gambar: Kesatuan ruang-sumber-suara Arsitektur Islam
Sumber: Analisa, 2018

Unsur-luaran kedua, yakni teknologi pengeras suara, secara konseptual maupun kesejarahan memiliki kaitan erat dengan dimensi tinggi dan proporsi ruang-sumber-suara. Secara konseptual, semakin tinggi dimensi ruang-sumber-suara, maka semakin memungkinkan untuk memiliki daya lingkup suara yang semakin luas. Selain didasari kebutuhan untuk melantunkan suara sejauh dan sebaik mungkin, ruang-sumber-suara Arsitektur Islam dalam skala meso dan makro memiliki dimensi ruang tertinggi dan proporsi paling dominan di antar ruang-ruang lainnya didasari pula oleh aspek fungsional agar mudah terlihat dari berbagai arah, sehingga memudahkan umat Islam untuk mengenali ruang Masjid dan mendatanginya, serta didasari aspek monumentalitas dikarenakan ruang Masjid secara kewilayahan juga berperan sebagai penanda wilayah (landmark). Sementara dalam skala mikro, dimensi tinggi dan proporsi ruang Mushola ditentukan secara fungsional sesuai dengan kegiatan dan jumlah pengguna yang akan diwadahi.

Ditilik secara kesejarahan, teknologi suara yang diterapkan pada ruang-sumber-suara Arsitektur Islam pada masa awal Peradaban Islam memanfaatkan ketinggian ruang agar suara berciri khaskan Islam memiliki daya lingkup yang luas dengan kualitas suara yang dilantunkan sepenuhnya bergantung pada syarat-dalaman. Dimulai dari Bilal bin Rabbah sebagai muadzin pertama umat Islam, mengumandangkan suara berciri khaskan Islam dari atap rumah seorang penduduk Madinah yang berdekatan dengan Masjid Nabi. Pada masa Umar bin Abdul Aziz, daya lingkup suara berciri khaskan Islam dapat menjangkau wilayah yang semakin luas dengan diperkenalkannya minaret sebagai unsur pembentuk ruang Masjid yang memiliki dimensi ketinggian jauh melebihi atap rumah penduduk yang digunakan oleh Bilal bin Rabbah. Tetapi disebabkan keterbatasan teknologi pada zamannya, muadzin yang berada di atas ketinggian minaret untuk dapat melantunkan suara berciri khaskan Islm dengan kualitas yang baik sepenuhnya masih bergantung pada syarat-dalaman. Pada masa kini setelah ditemukannya perangkat teknologi pengeras suara yang jauh lebih baik dan lebih maju, selain memanfaatkan ketinggian ruang dengan tetap menerapkan unsur minaret, ruang Masjid diperlengkapi dengan teknologi suara elektronik yang memungkinkan daya lingkup suara dan kualitas suara dapat dikontrol sepenuhnya untuk dapat menjangkau wilayah seluas mungkin dan dapat dihasilkan kualitas suara sebaik mungkin.


Gambar: Minaret sebagai teknologi pengeras suara pada ruang Masjid

Unsur terakhir dari syarat-luaran ialah manajemen suara yang terdiri peraturan pelantunan suara dan penggunaan teknologi pengeras suara. Peraturan pelantunan suara berkaitan dengan waktu dilantunkannya suara yang sangat berkaitan dengan aspek empati pelantun suara untuk menghindari terbentuknya polusi suara dan menjaga kenyamanan psikologis pendengar. Harus dipahami bahwa diri manusia tidak setiap saat memiliki kesiapan untuk mencerap suara disebabkan keterbatasannya, seperti rasa lelah yang menuntut kondisi tenang untuk beristirahat. Oleh sebab itu, walaupun suara berciri khaskan Islam memiliki daya pengaruh yang paling baik bagi manusia, tetapi aspek waktu penantunannya tetap harus diperhatikan berdasarkan pola kegiatan manusia pada umumnya, seperti tidak melantunkan suara di atas jam 10 malam atau sebelum jam 4 pagi yang merupakan waktu beristirahat bagi kebanyakan manusia. Dengan mengetahui waktu yang baik dan waktu yang harus dihindari untuk melantunkan suara dikaitkan dengan kesiapan diri manusia sebagai pendengar, maka suara berciri khaskan Islam dapat secara efektif mempengaruhi kondisi batin pendengar.

Selain itu, pelantunan suara berciri khaskan Islam juga harus memperhatikan aspek waktu pelantunan suara dari ruang-ruang lain untuk menghindari terjadinya benturan suara, terutama suara dari ruang ibadah umat non Muslim yang memiliki waktu-waktu tertentu untuk melantunkan suara berciri khaskan agamanya masing-masing. Pengalaman saya hidup dan berkehidupan di wilayah minoritas Muslim, beberapa kali saya mendapati benturan suara antara suara berciri khaskan Hindu yang dilantunkan dari ruang Pura dengan suara tarkhim dari ruang Masjid. Dalam kasus ini, menurut pandangan saya, dikarenakan suara berciri khaskan Hindu merupakan bagian dari peribadatan umat Hindu sedangkan tarkhim berkedudukan sebagai tradisi umat Islam, maka umat Islam sudah seharusnya berempati dengan memundurkan waktu pelantunannya hingga suara dari ruang Pura selesai dilantunkan dengan tujuan selain untuk memberikan kenyamanan bagi pendengar juga untuk menghindari terjadikan konflik di antara kalangan umat beragama.

Pada kasus yang lain, suara yang dilantunkan dari selain ruang ibadah harus menyesuaikan waktu pelantunannya dengan waktu pelantunan suara berciri khaskan Islam dari ruang Mushola maupun Masjid. Dengan demikian, kegaduhan suara yang beriringingan dengan kegiatan jual-beli di pasar yang berdekatan dengan ruang Masjid harus dihentikan pada waktu dilantunkannya suara berciri khaskan Islam agar dapat mempengaruhi kondisi batin pengguna ruang pasar yang akan mendorongnya untuk mendatangi ruang Masjid dengan menutup untuk sementara waktu kedai dagangannya. Begitupula pada kasus ruang Mall yang memiliki fasilitas ruang Mushola atau Masjid. Seluruh kegaduhan suara yang mengiringi kegiatan ekonomi di ruang Mall harus dihentikan sementara waktu pada waktu-waktu dilantunkannya suara berciri khaskan Islam. Tauladan yang baik saya dapati di pusat perbelanjaan Modern Goro Assalam Surakarta yang selalu menyampaikan informasi kepada pengunjung untuk bersegera mengakhiri kegiatan berbelanja dan mendatangi ruang Masjid yang berada di area depan pusat perbelanjaan sebelum dilantunkannya suara adzan ke seluruh pelosok ruang perdagangan.

Gambar: Ruang Masjid di Ambarukmo Plaza Yogyakarta yang tidak memiliki daya pengaruh terhadap kegiatan perdagangan yang diwadahi (atas) dan ruang Masjid di Goro Assalam Surakarta yang memiliki daya pengaruh lebih kuat (bawah).

Peraturan pelantunan suara berciri khaskan Islam dari aspek waktunya didasari Hadits yang meriwayatkan teguran Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam kepada seorang sahabat yang tengah shalat dengan mengeraskan bacaan shalatnya sehingga mengganggu jamaah yang lain. Beliau bersabda,

“Wahai manusia sekalian, sesungguhnya seluruh kalian sedang bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah sebagian kalian mengeraskan suaranya atas orang selainnya”. (Riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
Selain dari aspek waktu, peraturan pelantunan suara berciri khaskan Islam juga berkaitan dengan terpenuhinya syarat-syarat untuk melantunkan suara berciri khaskan Islam dengan kualitas yang baik. Jika dalam skala meso terdapat dua atau lebih ruang Masjid yang saling berdekatan dengan kondisi tidak semua ruang-sumber-suara memenuhi syarat yang telah ditetapkan, maka ruang tersebut hanya diizinkan untuk melantunkan suara ke arah dalam, sementara peran untuk melingkupi ruang secara luas dengan suara berciri khaskan Islam dibebankan kepada ruang Masjid yang memenuhi seluruh syarat dalaman maupun luaran. Jika terjadi perbaikan kualitas, sehingga dua atau lebih ruang Masjid yang berada dalam wilayah yang sama dapat melantunkan suara berciri khaskan Islam dengan baik, maka peran untuk melingkupi ruang secara luas diprioritaskan kepada ruang Masjid yang memiliki daya lingkup paling luas dan kapasitas pengguna paling banyak.

Terakhir, penggunaan teknologi pengeras suara untuk melantunkan suara dengan kualitas yang baik harus didasarkan aspek kualitas teknologi itu sendiri dan aspek kemampuan masyarakat untuk menggunakan serta merawat teknologi yang diterapkan. Seringkali penerapan teknologi tidak didasari kemampuan untuk menggunakan dan merawat, sehingga cara penggunaan yang salah menyebabkan suara yang dilantunkan tidak harmonis dan mempercepat kerusakan teknologi yang digunakan. Akibat tidak dipenuhinya kedua aspek tersebut, tidak sekali dua kali saya menjumpai pada saat Shalat Jumat dan penyelenggaraan pengajian berskala besar, pihak pengelola ruang Masjid merasa kesulitan untuk memperbaiki teknologi pengeras suara yang mengeluarkan suara ‘nging’ hingga menusuk indera pendengaran. Beberapa kali juga saya dapati pihak pengguna teknologi pengeras suara yang tengah menyampaikan pengajaran di mimbar ruang Masjid tidak mengetahui tata perilaku yang tepat untuk menggunakan teknologi tersebut yang berakibat pada sering timbulnya suara ‘nging’, sehingga pesan yang hendak disampaikan tidak dapat dicerap dengan baik.

Hubungan antara sebab-sebab terjadinya polusi suara dengan syarat-dalaman dan syarat luaran yang harus dipenuhi untuk mencapai lantunan kualitas suara yang baik dapat 
 digambarkan dalam diagram di bawah ini:


Gambar: Hubungan antara faktor polusi suara dan syarat lantunan kualitas suara
Sumber: Analisa, 2018

Penetapan seluruh syarat di atas untuk dapat dilingkupinya ruang-ruang kehidupan umat Islam dengan kualitas suara berciri khaskan Islam yang baik dalam kondisi saat ini akan sangat mudah untuk dipahami sebagai upaya menghalangi dakwah dan syiar Islam, terutama manajemen suara yang merupakan bagian dari syarat-luaran. Untuk menghindari prasangka dan kesalahpahaman, seluruh syarat harus disampaikan dengan cara yang paling baik melalui pendekatan persuasif dan personal kepada setiap unsur umat Islam, terutama kalangan pengelola ruang-sumber-suara dengan menekankan pada tujuan yang hendak dicapai, yakni lantunan suara berciri khaskan Islam dengan kualitas yang baik agar mampu mempengaruhi kondisi batin terdalam pihak pendengarnya. Oleh karenanya menjadi tanggungjawab kita semua sebagai umat Islam, terutama kalangan pengkaji dan pengamal Arsitektur Islam untuk memastikan ruang-ruang kehidupan umat Islam dilingkupi suara berciri khaskan Islam dengan kualitas yang baik.

Sebagai penutup, sudah seharusnya suara berciri khaskan Islam sebagai unsur aktif pengisi ruang dan pembatas ruang mendapatkan perhatian yang proporsional dan kedudukan yang signifikan dalam perencanaan dan perancangan Arsitektur Islam yang memiliki kekhasan sumber, aturan dan karakter suara yang dilantunkan. Tujuannya tidak lain sebagai bentuk ikhtiar menyampaikan risalah Islam ke seluruh penjuru ruang dan menjaga kesadaran umat Islam terhadap identitas kediriannya sebagai hamba Allah.

Allahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Ramadhan1437 Hijrah Nabi
Diselesaikan di Jimbaran Bali pada Ramadhan 1437 Hijrah Nabi
Ditinjau kembali dan direvisi di Kartasura pada Muharram 1440 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar