Selasa, 04 Desember 2018

Menafsir Arsitektur Masjid Raya Al-Muttaqun; Mendulang Makna Menangkap Pesan

Arsitektur yang baik ialah arsitektur yang mampu memenuhi kebutuhan tubuh dan jiwa manusia. Arsitektur yang hanya memenuhi kebutuhan tubuh atau jiwa saja, tidaklah dapat dikatakan baik karena hanya mewadahi setengah diri manusia yang memiliki tubuh dan jiwa di mana keduanya rupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sepanjang manusia menjalani hidup dan berkehidupan di alam dunia. Arsitektur yang hanya mewadahi tubuh, akan menyebabkan krisis pada jiwa manusia karena tidak mampu memenuhi apa-apa yang menjadi kebutuhan bagi jiwa. Sebaliknya, arsitektur yang hanya mewadahi jiwa, akan menyebabkan marabahaya bagi tubuh manusia karena tidak mampu memberi perlindungan. 

Pertanyaannya, arsitektur seperti apa yang mampu memenuhi kebutuhan tubuh dan jiwa manusia? Jawaban atas pertanyaan ini merupakan syarat-syarat arsitektur yang ideal atau arsitektur yang dapat dikatakan baik. Untuk memenuhi kebutuhan tubuh manusia, arsitektur harus mampu melindungi tubuh dari berbagai kondisi yang dapat menyebabkan kematian bagi manusia, seperti bencana alam, serangan binatang buas maupun serangan dari sesama manusia; memberi keamanan agar tubuh tidak terluka; memenuhi tuntutan kenyamanan bagi tubuh dari aspek ergonomik, suhu ruangan, pencahayaan, dan akustik; dan mudah digunakan sehingga tubuh manusia tidak dituntut bekerja maksimal sepanjang berkegiatan di dalam suatu objek arsitektur. Sementara untuk memenuhi kebutuhan jiwa manusia, arsitektur diharuskan tampil dalam perwujudan yang indah untuk memuaskan jiwa manusia yang menyukai segala sesuatu yang indah; mencerminkan identitas pemilik dan/atau pengguna, sehingga pemilik dan/atau pengguna merasa memiliki suatu objek arsitektur; menjaga kehormatan pemilik dan/atau pengguna; dan memuat pesan-pesan yang bermakna bagi pemilik dan/atau pengguna.

Sebagai akibat dari gencarnya arus Modernisasi, arsitektur sebatas berupaya memenuhi kebutuhan tubuh manusia disebabkan penolakan Modernisme terhadap unsur jiwa yang tidak dapat dibuktikan keberadaannya secara empirik, yang berarti penolakan pula terhadap kebutuhan jiwa. Tidak terkecuali arsitektur masjid tidak lepas dari pengaruh Modernisasi yang menjadikannya tampil dalam perwujudan kosong dari pesan-pesan yang bermakna bagi umat Islam. Oleh karenanya pada zaman kini begitu mudah menemukan arsitektur masjid yang melindungi, memberi keamanan, kenyamanan dan kemudahan bagi tubuh manusia. Dapat dikatakan mudah pula menemukan arsitektur masjid yang indah, mencerminkan identitas tradisi Islam dengan kubah, pelengkung, ornamen intricate, dan menjaga kehormatan umat Islam dengan perwujudannya yang monumental. Tetapi tidak mudah menemukan arsitektur masjid yang memuaskan jiwa ruhani manusia Muslim melalui makna bermuatan spiritualitas, nilai-nilai Islam dan tradisi Islam yang merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap jiwa manusia Muslim.

Dari sedikit arsitektur masjid yang dapat memuaskan jiwa ruhani karena perwujudan artefaknya dapat saya maknai senafas dengan Islam adalah Masjid Raya Al-Muttaqun yang lokasinya berada tepat di sebelah Selatan Candi Prambanan yang dikenal luas hingga mancanegara sebagai salah satu ikon Indonesia. Tulisan ini memuat hasil tafsiran saya terhadap arsitektur Masjid Raya Al-Muttaqun berdasarkan pengalaman saya berkegiatan di dalamnya yang baru terbilang sekali saat menunaikan Shalat Jumat. Pengalaman meruang yang masih minim tentu saja mempengaruhi kualitas penafsiran saya, selain sifatnya yang subjektif karena tanpa melibatkan pihak perancang dan pengelola masjid sebagai pemegang otoritas tafsir. Walaupun demikian, tulisan ini berupaya menjadi pembuka pintu tafsir bagi pengguna lain untuk memaknai arsitektur Masjid Raya Al-Muttaqun agar dapat mencapai kepuasan jiwa ruhani sebagaimana saya mengalaminya yang akan mendorong terbentuknya kualitas tafsir inter-subjektif untuk memperkuat penafsiran saya.
Gambar 1: Tampak depan (atas) dan maket Masjid Raya Al-Muttaqun (bawah)

Penafsiran saya terhadap arsitektur Masjid Raya Al-Muttaqun terkait dengan aspek arsitektural dalam lingkup meso meliputi lokasi dan posisi masjid dalam konteks lingkungannya, serta unsur arsitektural pembentuk fasad dan ruang utama masjid yang digunakan untuk mewadahi kegiatan ibadah shalat yang merupakan lingkup mikro. Penafsiran terhadap perwujudan artefak Masjid Raya Al-Muttaqun saya mulai dari ruang shalat yang berkedudukan sebagai jantung dari sebuah masjid. Makna yang dapat saja raih di ruang shalat, saya dapati juga pada unsur-unsur arsitektur pembentuk fasad karena fasad sebagai selubung merupakan cerminan dari organ-dalam arsitektur, yakni ruang-ruang pembentuknya. Semantara itu, makna yang termuat di dalam lingkup mikro, bermuara atau tersimpul pada aspek posisi Masjid Raya Al-Muttaqun sebagaimana pesan yang tersimpan di dalam hati berupaya disampaikan keluar melalui tutur kata dan gerak tubuh agar diketahui oleh selainnya.
Gambar 2: Mihrab dan mimbar Masjid Raya Al-Muttaqun
Sumber: Dokumentasi pribadi, 2018

Makna utama yang termuat dalam perwujudan artefak Masjid Raya Al-Muttaqun terdapat pada aspek orientasi ruang shalat yang menghadap ke arah kiblat yang merupakan hakikat sebuah masjid. Arah kiblat ditandai dengan keberadaan mihrab untuk memudahkan jama’ah mengetahui arah kiblat ketika beribadah di dalam masjid. Tidak seperti lazimnya mihrab yang berbentuk persegi, lengkung kubah atau kombinasi keduanya, mihrab di Masjid Raya Al-Muttaqun menggunakan bentuk Gegunungan yang merupakan bagian dari khazanah pewayangan. Bentuk mihrab demikian bermakna keberakaran umat Islam pada tradisi kesetempatan, tetapi bukan sembarang tradisi. Tradisi yang menjadi akar bagi umat Islam yang menghubungkannya dengan ruang yang ‘di sini’ dan waktu yang telah lalu ialah tradisi yang bermuatan ruh Islam. Di antara tradisi yang dimaksud adalah khazanah pewayangan dengan Gegunungan yang menjadi salah satu bagiannya di mana pada masa lalu digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk memperkenalkan dan mengajak masyarakat Jawa memeluk Islam. Pewayangan yang telah dikenal luas pada masa lalu karena telah mentradisi di kalangan masyarakat Hindu, diserap dan disesuaikan oleh Sunan Kalijaga agar sesuai dengan semangat dan nilai-nilai Islam, sehingga isinya identik dengan Islam untuk dapat digunakan sebagai media dakwah Islam. Begitupula dengan mihrab sebagai unsur arsitektur yang diserap umat Islam dari gereja milik umat Nashrani di wilayah Mesir dan disesuaikan agar menjadi identik dengan kebutuhan peribadatan shalat umat Islam di masjid. 

Secara filosofis Gegunungan memuat makna sangkan paraning dumadi atau asal muasal dan tujuan kehidupan. Dikaitkan dengan mihrab yang menjadi penanda arah kiblat, serta ditegaskan dengan ornamen kaligrafi bertuliskan kalimat Tauhid di dalam mihrab, Gegunungan yang digunakan sebagai bentuk mihrab di Masjid Raya Al-Muttaqun menyimpan makna bahwa asal muasal dan tujuan kehidupan seorang Muslim adalah Allah melalui jalan yang telah ditauladankan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Tiada jalan lain menuju Allah selain jalan yang telah ditempuh dan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Makna lain dari Gegunungan dalam pewayangan ialah sebagai penanda awal dan berakhirnya pagelaran. Sebuah pagelaran bersifat fana yang memiliki awal dan akhir, sebagaimana dunia yang memiliki awal dan akhir penciptaan oleh Allah sebagai Dzat Yang Maha Awal dan Maha Akhir. Oleh karenanya, hidup seorang Muslim harus senantiasa menghadapkan dan menyerahkan diri kepada Allah dengan bersujud menghadap ke arah kiblat karena dirinya yang bersifat fana harus senantiasa terikat dengan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang Kekal, sebagaimana termuat dalam makna simbolik Gegunungan yang berbentuk segi lima sebagai simbol Rukun Islam dan jumlah shalat dalam sehari semalam yang wajib ditunaikan setiap Muslim sebagai bukti penyerahan dirinya kepada Allah yang disimbolisasikan dengan bentuk Gegunungan meruncing ke arah atas. 

Seperti pada umumnya masjid, Masjid Raya Al-Muttaqun pun memiliki mimbar. Berbeda dengan kelaziman, mimbar di Masjid Raya Al-Muttaqun tidak terdapat di dalam atau di depan mihrab. Mimbar masjid terdapat di bagian tengah-kanan dinding kiblat yang seakan-akan muncul dari dinding dan dengan sistem kantilever yang menopangnya seakan-akan melayang. Mimbar model demikian tepat sebagai solusi atas masalah yang acap kali ditemui di masjid, dan tidak kalah pentingnya adalah memuat makna yang mendalam bagi umat Islam. Masalah yang diselesaikan adalah tidak memutus shaf shalat bagian depan. Dalam kesejarahannya, arsitektur masjid yang terus mengalami perluasan ruang shalat untuk dapat mewadahi jumlah umat Islam yang terus bertambah, menghendaki dibuatnya mimbar yang tinggi hingga hampir menyentuh atap masjid dengan tujuan agar khatib atau mimbar dapat dilihat oleh jamah’ah hingga bagian paling belakang shaf shalat. Tuntutan visual terhadap mimbar dan khatib menjadikan mimbar tambil dalam ukurannya yang besar dan tinggi agar mudah dilihat, sehingga memutus 2 hingga 3 shaf shalat terdepan, bahkan bisa lebih dari jumlah tersebut. 

Selain merupakan solusi untuk tetap menjaga kebersambungan shaf shalat, di sisi lain model mimbar yang terdapat di Masjid Raya Al-Muttaqun memiliki kekurangan pada aspek aksesnya karena untuk naik ke atas mimbar, khatib harus menaiki anak tangga dengan jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan mimbar pada umumnya, sehingga tidak mudah digunakan oleh khatib yang telah lanjut usia. Namun demikian dilihat dari sisi yang positif, model mimbar di Masjid Raya Al-Muttaqun seakan-akan mendorong para pemuda Muslim, dengan tubuh yang masih sehat dan kuat, untuk naik menyampaikan nasihat dan pengajaran kepada kaum Muslimin, sebagaimana bentuknya menyiratkan kekinian, inovasi dan lepas dari bayang-bayang romantisme masa lalu. Tak pernah ditemui model mimbar serupa pada masa-masa sebelumnya yang menjadikannya sebagai model mimbar khas zaman kini. Dari mimbar dan oleh pemuda Muslim, seakan hendak mendorong umat Islam untuk melangkah maju mengarungi dan mengatasi rintangan zaman agar bangkit sebagai peradaban yang pernah besar, yakni dengan cara menjaga tradisi dan menyesuaikannya dengan semangat zaman kini.

Unsur mihrab yang bermakna keberakaran pada tradisi serta orientasi penyerahan diri kepada Allah, dan unsur mimbar yang bermakna kemajuan, diperkuat dengan makna yang termuat di dalam unsur ornamen. Ornamen yang terdapat di ruang utama Masjid Raya Al-Muttaqun terdiri dari dua bentuk. Bentuk pertama ialah ornamen intricate dengan bentuk geometri berterusan yang terdapat pada bidang kaca serta railing balkon dan railing lantai dua. Ornamen intricate yang berasal dari wilayah Timur Tengah pada masa akhir Umawiyah mengindikasikan agar yang ‘di sini’ terhubung dengan yang ‘di sana’ dan yang kini terhubung dengan yang lampau. Maknanya adalah, umat Islam sebagai kesatuan sosial-teologis yang bersifat lintas ruang dan waktu memiliki kesatuan peradaban yang harus dilestarikan hingga masa kini, tidak terkecuali umat Islam pada masa kini yang berada ‘di sini’ memiliki kewajiban untuk melestarikan tradisi dari generasi terdahulu karena di dalam tradisi termuat spiritualitas Islam, sebagaimana penjelasan Ismail Raji’ Faruqi bahwa intricate merupakan simbolisasi Tauhid. Perletakannya di bidang kaca dan railing pun dapat ditafsirkan terkait makna spiritual ornamen intricate bahwa Tauhid ialah kaca bagi umat Islam untuk memandang ke arah luar dan penjaga dirinya dari kebinasaan.

Gambar 3: Ornamen intricate dan kaligrafi di ruang utama Masjid Raya Al-Muttaqun
Sumber: Dokumentasi pribadi, 2018

Bentuk kedua, ornamen kaligrafi bertuliskan nama-nama Sunan penyebar dan pendakwah Islam di tanah Jawa yang terpampang mengelilingi dinding area jama’ah shalat, kecuali di dinding kiblat. Bentuk ornamen tersebut merupakan perpaduan dari tulisan Arab yang merupakan tradisi ‘dari sana’ dan nama-nama ulama yang dituliskan yang merujuk pada tradisi ‘di sini’. Ornamen bentuk kedua ini menandakan selain Tauhid yang disimbolkan dari keberadaan unsur mihrab sebagai penanda arah kiblat, yang mampu menyatukan dan merangkul seluruh umat Islam ialah kalangan ulama yang ikhlas mendakwahkan Islam. Perletakannya bermakna bahwa ulama senantiasa membersamai umat Islam di berbagai sisi agar pandangan dan gerak umat Islam semata tertuju pada arah kiblat sebagai simbolisasi dari penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.

Kesatuan tradisi, kemajuan melalui kontekstualisasi tradisi, kesatuan unsur Ummah, dan Tauhid ialah makna utama yang termuat di dalam ruang shalat dan memancar pada unsur-unsur pembentuk fasad Masjid Raya Al-Muttaqun. Unsur pelengkung tapal kuda yang merupakan ciri khas arsitektur Andalusia, bentuk minaret dan ornamen dental di bagian atap yang merupakan ciri khas arsitektur Mesir, dan ornamen intricate yang digunakan secara masif bermakna kesatuan tradisi. Setiap jenisnya memiliki konteks ruang dan waktu yang berbeda, tetapi keseluruhannya merupakan khazanah tradisi umat Islam. Sementara bentuk atap Masjid Raya Al-Muttaqun menandakan kemajuan. Bentuk atap tajug tumpang tiga yang merupakan tradisi masjid tradisional di Jawa dikontekstualisasikan agar sesuai dengan semangat zaman kini, sehingga dilihat secara menyeluruh memiliki kemiripan dengan yang lampu, tetapi diperhatikan dengan seksama akan didapati perbedaannya. Sebagai pamungkas sekaligus pengikat dari makna-makna yang termuat di fasad, komposisi massa Masjid Raya Al-Muttaqun menggunakan model closed-end dengan bentuk atap meruncing ke atas dan dilengkapi ornamen kaligrafi lafadz Allah di bagian atas atap utama yang menaungi ruang shalat yang menandakan titik akhir dan klimaks. Komposisi massa demikian bermakna segala yang ada di alam dunia memiliki akhir dan pada hakikatnya sedang kembali kepada Allah sebagai Sang Pencipta dan Pemilik Segala.
Gambar 4: Unsur arsitektural pembentuk fasad Masjid Raya Al-Muttaqun
Sumber: Dokumentasi pribadi, 2018

Sebagai muara makna yang terjalin, posisi Masjid Raya Al-Muttaqun yang berhadap-hadapan dengan Candi Prambanan bermakna bahwa umat Islam sudah seharusnya dapat bersikap terbuka untuk menjalin dialog lintas peradaban dengan pandangan tegap tanpa rendah diri jika saja umat Islam mengenali khazanah tradisinya sendiri yang begitu kaya, beragam dan pernah menjadi penanda kemajuan zaman lampau; berorientasi masa depan sambil terus menjaga keberlangsungan tradisi dengan melakukan kontekstualisasi agar sesuai dengan semangat dan kebutuhan zaman kini; bersatu sebagai Ummah yang dipimpin oleh kalangan ulama; dan menghadapkan dan menyerahkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah. Syarat keempat mendapatkan penegasannya pada aspek orientasi bukaan di ruang utama Masjid Raya Al-Muttaqun yang menghadap ke arah Candi Prambanan, menandakan hanya dari ruang shalat yang merupakan ruang memupuk iman dan pembuktian takwa, umat Islam akan dapat memandang dengan jelas area candi dari ketinggian yang bermakna umat Islam dengan keimanan dan khazanah peradaban yang dimilikinya, tidak merasa rendah diri di hadapan umat lain dan peradabannya. 

Gambar 5: Orientasi bukaan ruang shalat ke arah Candi Prambanan
Sumber: Dokumentasi pribadi, 2018

Empat syarat agar umat Islam tidak rendah diri di depan umat dan peradaban lain dapat dirangkum menjadi dua syarat, yakni (1) mengenali khazanah Peradaban Islam yang merupakan rangkuman syarat pertama dan kedua; dan (2) mengakui bahwasanya hanya Allah satu-satunya sesembahan yang benar, sehingga meyakini satu-satunya kebenaran adalah Islam yang merupakan asas Ummah yang merupakan rangkuman syarat ketiga dan keempat. Kedua syarat ini jika dipahami dengan benar akan membentuk kebanggaan diri umat Islam sekaligus membentuk sikap terbuka terhadap umat dan peradaban lain yang berasaskan Tauhid. Kebanggaan diri yang berjalin kelindan dengan keimanan terus menerus dipupuk oleh keberlanjutan hingga kini fungsi masjid sebagai ruang sujud sejak pertama kali didirikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di Quba dan dilanjutkan di tanah Madinah pada abad 7 masehi lampau yang ditandai dengan kumandang adzan 5 kali dalam sehari untuk memanggil umat Islam berkegiatan di dalamnya. Posisi Masjid Raya Al-Muttaqun yang berhadap-hadapan dengan Candi Prambanan menyimpan isyarat bagi umat Islam untuk selalu dalam kondisi sadar menjaga keberlanjutan fungsi masjid agar tidak membeku menjadi museum dan objek wisata dengan menanggalkan fungsi utamanya.

Demikianlah makna yang dapat saya dulang dan pesan yang dapat saya tangkap dengan menafsir unsur-unsur arsitektural Masjid Raya Al-Muttaqun. Sebagai kesimpulan dari tulisan ini, struktur makna yang terbentuk dan termuat di dalam unsur-unsur pembentuk arsitektur Masjid Raya Al-Muttaqun dapat dilihat dalam gambar 6 di bawah ini:

Gambar 6: Struktur makna arsitektur Masjid Raya Al-Muttaqun
Sumber: Analisa, 2018

Menurut saya, Masjid Raya Al-Muttaqun merupakan model masjid ideal dari aspek maknanya karena bermuatan spiritualitas, nilai-nilai dan tradisi Islam yang merupakan solusi terhadap persoalan Modernitas yang menyebabkan kekeringan jiwa ruhani di kalangan umat Islam. Selain itu, idealitas arsitektur Masjid Raya Al-Muttaqun dari aspek unsur pembentuk artefaknya dikarenakan mampu menghubungkan kembali lintasan waktu masa lalu dengan masa kini dan masa depan yang sempat diputus oleh umat Islam karena dianggapnya masa lalu tak lagi relevan menjawab tantangan hidup masa kini; menghubungkan tempat jauh ‘di sana’ yang merupakan ruang kelahiran Islam dan Peradaban Islam dengan ruang kehidupan ‘di sini’ yang kini tengah dipersoalkan oleh dua kalangan umat Islam di mana salah satunya menghendaki yang ‘di sini’ lebur menjadi bagian dari yang ‘di sana’, dan salah satunya yang lain menghendaki yang ‘di sini’ terputus dengan yang ‘di sana’; dan menegaskan jalinan antara Allah, utusan-Nya, wali-Nya dan umat-Nya. Inilah arsitektur masjid yang dari aspek maknanya menjaga kehormatan Islam, umat Islam dan peradaban Islam. Tentu saja kalau kita bersedia membuka fikir dan hati untuk mengizinkan Masjid Raya Al-Muttaqun menyampaikan pesan-pesannya!

Allahu a’lam bishawab.

Bertempat di Yogyakarta pada Safar 1440 Hijrah Nabi
Diselesaikan di Kartasura pada Rabiul Awal 1440 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar