Senin, 02 Desember 2019

Mengendarai Mobil Memasuki Era 4.0

Kedigdayaan Mobil 

Ketika menyampaikan materi bertajuk “Wacana Keilmuan dan Keislaman, Masih Relevankah?” yang diselenggarakan oleh BEM Universitas Muhammadiyah Surakarta di Griya Mahasiswa UMS pada 13 November 2019 silam, seorang peserta diskusi menyampikan pandangannya bahwa dengan sumber daya yang dimiliki, seharusnya Indonesia dapat memproduksi mobil nasional. Di akhir kesempatan, yang bersangkutan menyampaikan pertanyaan, apakah langkah demikian sesuai dengan iklim Revolusi Industri 4.0 yang saat ini sedang menjadi buah bibir di kalangan bangsa Indonesia dari tingkat presiden hingga mahasiswa? Untuk menjawab pertanyaan ini saya menyampaikan dua argumentasi terkait kesejarahan mobil untuk mengetahui konteks ruang dan waktu yang melahirkan mobil dan karakteristik Revolusi Industri 4.0 yang membentuk trend dan kondisi kehidupan manusia untuk mengetahui relevansi mobil di tengah zaman baru.

Ditinjau dari aspek kesejarahannya, produksi mobil pribadi secara massal yang diawali dengan Ford Model T tidak dapat dilepaskan dari kondisi zaman Revolusi Industri 2.0 pada akhir abad 19 di mana produksi pabrik semakin efisien dengan sistem assembly line yang menerapkan teknologi ban berjalan, serta digantikannya mesin-mesin pabrik yang awalnya bertenaga uap menjadi mesin bertenaga listrik. Dua kali Revolusi Industri mendorong terjadinya peningkatan kondisi ekonomi masyarakat akibat perubahan model produksi dari pertanian menjadi industri pabrik. Hukum Malthus pun berkerja, meningkatnya kondisi ekonomi menyebabkan meningkatnya jumlah penduduk. Dampaknya ialah kota-kota tradisional tidak mampu untuk mewadahi pertumbuhan jumlah penduduk yang signifikan, sehingga dilakukan perluasan wilayah kota, selain perubahan infrastruktur kota akibat berubahnya model produksi. Fenomena ini mendominasi dua era Revolusi Industri dengan trend perluasan kota tradisional maupun tumbuhnya kota-kota baru dengan wilayah yang luas untuk menggerakkan ekonomi berbasis industri pabrik yang melibatkan pekerja dalam jumlah besar untuk melakukan produksi massal.

Senin, 25 November 2019

Kebutuhan Umat Islam Terhadap Sains

Dari Salah Paham Hingga Anti-Sains

Suatu pagi, istri membuka diskusi perihal sekalangan umat Islam di media sosial yang berpandangan bahwasanya risalah Islam tidak diturunkan untuk sains, walaupun kalangan ini tidak menolak pentingnya memajukan sains. Oleh kalangan ini, sains dipahami sebagai hukum alam dan pemanfaatannya, sementara itu risalah Islam ditujukan agar manusia mengenal Tuhan. Dengan pandangan tersebut kalangan ini menyatakan jika seorang Muslim bisa mengenal Tuhannya, maka tinggal di dalam gua layaknya generasi manusia terdahulu lebih baik daripada hidup di tengah lingkungan dengan peran teknologi canggih seperti pada zaman kini. Dari pernyataan-pernyataannya di media sosial, sebagaimana disampaikan dan ditunjukkan oleh istri, sekalangan umat Islam ini menganut pandangan yang mempertentangkan antara risalah Islam dengan sains tanpa kesan meniadakan salah satunya. 

Saya mendapati di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam yang menganut pandangan seperti di atas merupakan kalangan awam sains, yakni kalangan yang memang tidak mempelajari sains secara khusus dan karenanya bukan merupakan pelaku sains atau tidak tergolong sebagai ilmuwan sains. Dengan statusnya yang demikian, pandangan yang dianut kalangan ini dilandasi kesalahpahaman terhadap sains disebabkan tidak memiliki pemahaman yang cukup dan mendasar terhadap sains. Namun demikian, pandangan seperti di atas bukan tergolong anti-sains karena masih melihat sisi positif dari perkembangan sains, walaupun relasi dan kebermanfaatannya terhadap Islam diafirmasi negatif. Dengan kata lain menurut pandangan ini Islam tidak membutuhkan sains untuk mencapai tujuannya. 

Kamis, 21 November 2019

Minaret, Nasibmu Kini


Dua Pendapat

Perbincangan mengenai minaret sebagai unsur arsitektural yang oleh mayoritas umat Islam diidentikkan dengan masjid, tidak ada habisnya hingga hari ini menyoal asal muasal penerapan minaret pada masjid, masjid pertama yang menerapkan minaret, dan relevansi keberadaan minaret di masjid pada masa kini terkait dengan fungsinya sebagai ruang bagi muadzin untuk mengumandangkan adzan dari ketinggian agar terdengar oleh umat Islam dari kejauhan. Tulisan ini akan mengulas persoalan yang terakhir dengan menimbang dua pendapat berbeda mengenai relevansi keberadaan minaret pada masa kini sebagai unsur arsitektural masjid.

Pendapat pertama menyatakan bahwasanya keberadaan minaret di masjid tidak lagi dibutuhkan pada masa kini karena secara fungsional telah tergantikan dengan teknologi pengeras suara modern, sehingga suara adzan dapat berkumandang dari masjid dengan lingkup yang luas tanpa muadzin harus naik ke atas minaret. Pada masa lalu ketika belum ditemukan teknologi pengeras suara elektronik, keberadaan minaret menjadi penting di masjid untuk melaksanakan perannya mewadahi dan menyelenggarakan peribadatan maghdah. Semakin luas suatu kota, kebutuhan untuk melantangkan suara adzan seluas mungkin pun semakin mendesak yang diupayakan dengan menambah jumlah muadzin, jumlah tingkatan minaret hingga jumlah minaret di masjid, sehingga sebuah minaret dapat mewadahi lebih dari 1 orang muadzin, dan 1 masjid dapat mengumandangkan adzan ke seluruh penjuru kota sejumlah muadzin dan minaret yang dimiliki. 

Senin, 18 November 2019

Evolusi Lari Dari Penyelamatan Menuju Eksistensi

Lari Sebagai Budaya

Lari, bukan saja pergerakan tubuh manusia secara fisiologis dari satu tempat ke tempat lainnya dengan ritme cepat yang ditopang kemampuan biologis mumpuni, dikarenakan aktivitas lari membutuhkan asupan kalori yang tinggi. Ditinjau dari aspek subyek pelakunya, yakni manusia, lari merupakan bagian dari budaya yang terus menerus mengalami perkembangan, bahkan perubahan seiring laju zaman dengan tata nilai dan cara hidup yang khas, sebagaimana hakikat budaya itu sendiri yang merupakan alat bagi manusia untuk hidup dan berkehidupan di dalam suatu zaman yang meniscayakannya bersifat dinamis karena terikat konteks ruang dan waktu.

Pada masa yang telah jauh berlalu di mana manusia hidup dengan cara berburu hewan liar dan mengumpulkan makanan di hutan, sehingga disebut dengan zaman hunting and food gathering, lari merupakan keterampilan dasar yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup. Dengan kemampuan fisiologisnya, manusia berlari mengejar Mamoth agar berada dalam jarak lempar tombak untuk melumpuhkan hewan besar itu yang berakhir menjadi santapan satu komunitas manusia. Dengan keterampilan berlarinya pula, manusia dapat menyelamatkan diri dari cengkeraman singa, gigitan serigala, bahkan menghindari lesatan senjata tajam dari komunitas manusia lain disebabkan perebutan wilayah atau sumber pangan. Oleh karenanya pada masa ini, berlari merupakan keterampilan bertahan hidup daripada sekedar kemampuan fisiologis. Sehingga berlari bukan saja soal meningkatkan kecepatan gerak tubuh untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, tetapi melibatkan koordinasi tubuh yang kompleks untuk memperhatikan lingkungan sekitar, merasakan permukaan tanah, sambil mengerucutkan fokus untuk melepaskan anak panah. Tanpa keterampilan berlari, sudah jelas manusia tidak akan mampu bertahan hidup di tengah kondisi lingkungan pada zaman ini.

Rabu, 13 November 2019

Dua Strategi Menjayakan Peradaban Islam

Digerus Zaman

Zaman terus bergerak semakin cepat. Kita hitung saja secara kasar dari masa akhir Renaisans hingga memasuki Revolusi Industri 1.0 dibutuhkan waktu tidak lebih 200 tahun atau 2 abad. Dari Revolusi Industri 1.0 menuju Revolusi Industri 2.0 dibutuhkan waktu setengahnya, yakni tidak lebih dari 100 tahun. Lebih mencengangkan lagi perubahan basis peradaban dari mesin yang menggerakkan Revolusi Industri 1.0 dan 2.0 berganti komputer untuk menggulirkan zaman memasuki fase Revolusi Industri 3.0 yang dikenal dengan Era Informasi hanya membutuhkan waktu tidak sampai 100 tahun. Kini kita tengah berada di sebuah zaman yang merupakan perluasan dari Revolusi Industri 3.0 dengan teknologi komputerisasi yang telah mencapai titik termaju, yakni Kecerdasan Buatan (Artificial Intellegent) yang menendang zaman dengan keras memasuki masa Revolusi Industri 4.0. Saya menggunakan kosakata ‘menendang dengan keras’ untuk memberikan nuansa kecepatan, ketergesa-gesaan, dan keterpaksaan memasuki era baru yang membutuhkan waktu tidak sampai 50 tahun sejak Revolusi Industri 3.0 dicetuskan, sehingga menyebabkan kekagetan, kebingungan, dan kekhawatiran, yang semua itu menimbulkan rasa sakit disekujur tubuh, persis seperti terkena tendangan keras. 

Pertanyaan yang mengusik diri saya sebagai seorang Muslim, dan bisa jadi Muslim yang lainnya pun juga mempertanyakannya adalah, di mana posisi umat Islam di tengah dunia yang terus berubah? Apa peran Islam dalam menuntun pergerakan zaman? Mengapa telah berkali-kali terjadi pergantian zaman, umat Islam belum mampu merekonstruksi kembali peradabannya hingga mencapai kejayaan? Seperti apa kondisi Peradaban Islam pada zaman kini jika memanglah ada suatu peradaban yang layak dinyatakan sebagai Islam? Ataukah Peradaban Islam tinggal nama dari masa lalu yang tidak memiliki wujudnya lagi pada zaman kini?

Saya menanggapi negatif pertanyaan terakhir, karena Peradaban Islam tetap wujud sepanjang manusia Muslim tetap menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim dengan berupaya menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari, walaupun hanya satu aspek saja dari kehidupannya, yakni peribadatan maghdah. Peradaban Islam pada masa kini tidaklah musnah karena masih terdapat manusia yang meyakini kebenaran Islam dan mempraktikkan Islam dalam kehidupannya. Peradaban Islam pada masa kini hanya sedang tertidur atau mengalami stagnansi. Sementara itu kerusakan-kerusakan yang diamalkan oleh umat Islam sebagai hasil dari meniru Peradaban Barat tidaklah dapat dinyatakan sebagai bagian dari Peradaban Islam, sehingga tidaklah tepat jika dikatakan Peradaban Islam tengah mengalami degradasi akibat penetrasi Peradaban Barat. Demikian pandangan Ismail Raji’ Faruqi yang saya yakini kebenarannya. 

Untuk dua pertanyaan pertama, saya pun menanggapai negatif. Umat Islam tidak mengambil posisi di mana pun selain sebagai pengikut akibat silaunya kemajuan yang dihadirkan zaman demi zaman yang terus bergerak. Begitupula Islam tidak digunakan oleh umat Islam untuk menuntun pergerakan zaman, justru Islam telah diperlakukan selayaknya keset untuk sekedar melegitimasi kemajuan zaman yang dipandang berbanding lurus dengan kualitas kehidupan manusia. Saya bisa membayangkan hampir semua umat Islam akan lebih memilih untuk bepergian dari Solo ke Yogyakarta dengan duduk di salah satu gerbong kereta api dibandingkan mengendarai kuda, dan lebih memilih duduk nyaman di dalam kabih pesawat terbang untuk melaksanakan ibadah Haji di Mekah dibandingkan menaiki kapal laut yang membutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya untuk sampai di tujuan Baitullah. Tepat di sinilah inti dari pertanyaan selanjutnya. Sejak Revolusi Industri 1.0 hingga kini umat Islam telah memiliki maupun menggunakan teknologi yang mewakili zaman, tetapi mengapa Peradaban Islam tak kunjung berjaya? 

Dua Strategi

Menurut saya, salah satu faktor yang menghambat dicapainya kejayaan Peradaban Islam ialah persoalan strategi. Oleh karenanya dalam tulisan ini saya akan menawarkan dua strategi bagi umat Islam untuk menjayakan peradabannya. Strategi pertama, sebagaimana dilakukan kalangan Modernis dan Posmodernis dari umat Islam dalam menghadapi tiga Revolusi Industri sebelumnya, strategi yang sama pun dapat digunakan untuk menghadapai Revolusi Industri 4.0, yakni mempergunakan momentum zaman untuk keperluan mencapai kejayaan Peradaban Islam. Hanya saja strategi yang sama ini tidak bisa diterapkan dengan cara yang sama dengan meniru begitu saja Peradaban Barat yang melahirkan rangkaian Revolusi Industri, karena sudah pasti akan mengalami kegagalan yang sama, sebagaimana masa-masa sebelumnya. 

Kegagalan kalangan Modernis dan Posmodernis dalam menghadapai zamannya masing-masing disebabkan faktor salah fokus dan salah sistem pendidikan. Pada Revolusi Industri 1.0 dan 2.0, umat Islam tidak fokus membuat mesin, membangun pabrik dan mengakumulasi modal ekonomi, tetapi malah berfokus merasionalisasi al-Qur’an dan Hadits agar sesuai dengan nalar zaman. Akibat salah fokus umat Islam tidak memiliki sistem pendidikan Islam yang handal untuk memenuhi kebutuhan ahli mesin, ahli industri pabrik, hingga ahli ekonomi untuk merebut dan menguasai zaman. Kesalahan yang sama berulang pada Revolusi Industri 3.0 yang ditinjau secara periodesasi dijuluki zaman Posmodern. Bukannya fokus membangun jaringan informasi berbasis teknologi komputer, umat Islam lagi-lagi berfokus pada kedua sumber Islam untuk dikontekskan dengan kondisi zaman agar sesuai dengan nilai-nilai Pluralisme dan Liberalisme yang merupakan konsekuensi dari terhubungnya jaringan informasi dalam skala global. Akibat kembali salah fokus, umat Islam tidak merancang sistem pendidikan Islam untuk melahirkan ahli ilmu komputer serta ahli kebudayaan kontemporer untuk mengantisipasi sekaligus menuntun umat Islam di tengah perubahan zaman yang terjadi begitu cepat, tetapi malah produktif melahirkan para penjaja agama yang menyebabkan berbagai permasalahan pelik di tubuh umat Islam hingga hari ini. 

Strategi yang sama untuk mencapai kejayaan Peradaban Islam harus diterapkan dalam konteks zaman kini dengan fokus menguasai perkembangan Kecerdasan Buatan yang mengharuskan umat Islam memiliki ketersediaan ahli di bidang ilmu komputer, bioteknologi, nanoteknologi, dan genetika yang didukung dan dipandu ahli kebudayaan kontemporer serta kalangan ahli ilmu-ilmu Syariat untuk mengarahkan laju zaman menuju idealitas Peradaban Islam. Strategi ini mengandaikan umat Islam pada awalnya menjadi penumpang di bus Peradaban Barat yang disetir oleh mereka menuju tujuan mereka. Sampai umat Islam memiliki kesiapan dan kemandirian, di satu titik akan terdapat kesempatan bagi umat Islam untuk merebut kendali dan mengarahkan bus menuju tujuan Islam, baik dengan jalan konfrontasi dengan pihak pemilik, sopir bus, maupun penumpang lainnya, atau dengan jalan alih kepemilikan secara sah yang pintu masuknya ialah penguasaan ekonomi dalam skala global.

Berkebalikan dengan strategi pertama, strategi kedua untuk mencapai kejayaan Peradaban Islam dilakukan dengan cara memisahkan diri dari Peradaban Barat, sehingga tidak berada di atas jalur pergerakan zaman yang kini sedang terus bergulir. Strategi ini tidak bertujuan untuk menguasai zaman dengan menandingi kemajuan Peradaban Barat, tetapi berupaya membangun Peradaban Islam secara mandiri dengan kemampuan dan modal kolektif umat Islam dari posisi mana pun Perdaban Islam kini sedang bertahan, bahkan jika harus memulainya dengan kondisi peradaban yang terbilang tradisional. Secara metodologis, strategi ini berfokus membangun kemandirian umat dari ranah akar rumput dengan perlahan-lahan menstabilkan kondisi seluruh aspek kehidupan umat hingga mencapai idealitas Peradaban Islam. Dapat diandaikan penerapan strategi ini seperti umat Islam yang sejak awal memutuskan untuk melaju ke arah tujuannya sendiri berbekal kendaraan apapun yang dimiliki, tanpa terpengaruh untuk berpindah tujuan dengan berpindah kendaraan, apalagi terpikat dengan kendaraan Peradaban Barat tanpa sama sekali mengetahui dan mengenali arah tujuannya. Tepat di sinilah tantangan strategi kedua untuk umat Islam tidak terpukau dengan kemajuan IPTEK yang sedang dicapai Peradaban Barat dengan Revolusi Industri 4.0-nya.

Dua strategi yang saya tawarkan tentu saja terbuka untuk dipermasalahkan, termasuk diacuhkan. Pun keduanya terbuka untuk diperdebatkan apakah diterapkan secara simultan ataukah dipiliih salah satu yang terbaik di antara keduanya. Berbagai jawaban dapat dilontarkan dan beragam argumentasi dapat disodorkan. Namun demikian untuk memilih strategi mana yang mampu diterapkan umat Islam pada masa kini secara psikologis, jawabannya terdapat pada pertanyaan apakah kita memiliki mental yang cukup tebal untuk tetap memegang pacul sementara di ladang sebelah kebutuhan pangan mulai digarap oleh komputer cerdas? Jika jawaban Anda positif, berarti Anda memilih strategi kedua untuk mencapai kejayaan Peradaban Islam, maka mulailah mengayunkan cangkul untuk memenuhi kebutuhan pangan. Sedangkan jika jawaban Anda negatif, maka buang pacul Anda, tinggalkan sawah, dan mulailah sesegera mungkin memasuki laboratorium sebagai langkah awal menjayakan Peradaban Islam!

Sabtu, 09 November 2019

Maulidan di Era Revolusi Industri 4.0

Realitas Maulid 

Maulid Nabi merupakan Hari Besar Islam atas kelahiran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang ditetapkan jatuh pada 12 Rabiul Awal setiap tahunnya dalam perhitungan kalender Hijriyah. Beragam cara dilakukan umat Islam untuk menyambut dan mengisi Maulid Nabi yang pada tahun ini jatuh bertepatan pada hari Sabtu, 9 November 2019. Sebagian umat Islam merayakan Maulid Nabi dengan mengadakan pertemuan khusus yang telah mentradisi sejak beratus-ratus tahun silam seperti pembacaan kitab Barzanji, Daiba’, dan menyenandungkan qasidah Burdah, maupun menyelenggarakan pengajian yang bersifat umum dengan tema seputar sejarah kehidupan Nabi untuk mengenal sosok Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan mempelari serta mengambil Hikmah dari kisah hidup beliau. Sementara itu sebagian umat Islam yang lain menyambut kedatangan Maulid Nabi dengan penolakan melalui tulisan maupun pengajian bahwasanya Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah merayakan hari kelahiran beliau apalagi memerintahkan umat Islam untuk merayakannya. Namun demikian, kalangan umat Islam yang menyambut kedatangan Maulid Nabi dengan positif maupun negatif memiliki kesamaan, yakni apa yang dilakukan merupakan ekspresi kecintaannya kepada Kekasih Allah, hanya saja berbeda dalam penilaian dan pengungkapan terkait dengan pemahaman keagamaan masing-masing pihak. 

Bagi saya, Maulid Nabi dan Hari Besar Islam lainnya seperti Tahun Baru Islam tidak lebih sebagai wujud Kebudayaan Islam yang derajatnya tidak mungkin sejajar apalagi melampaui ibadah maghdah. Pernyataan ini dengan jelas menunjukkan posisi saya termasuk bagian dari kalangan yang menerima positif keberadaan Maulid Nabi sebagai peristiwa monumental dalam sejarah kehidupan umat manusia, bahkan alam semesta. Hanya saja saya mempersoalkan, seperti apa seharusnya Maulid Nabi dirayakan pada masa kini agar relevan dengan kondisi zaman? Melalui pertanyaan ini saya hendak membuka pintu diskusi baru terkait perayaan Maulid Nabi untuk tidak lagi memperdebatkan statusnya maupun tata cara pelaksanaannya agar sesuai dengan batas-batas yang ditetapkan Islam, tetapi relevansinya terhadap kondisi kehidupan umat Islam pada masa kini. 

Sebagai bagian dari Kebudayaan Islam, perayaan Maulid Nabi terikat dengan hukum kebudayaan yang bersifat kontekstual karena terikat dimensi ruang dan waktu. Dengan pemahaman ini, Maulid Nabi pada masa awal dirayakannya bisa jadi, bahkan sudah seharusnya berbeda dengan perayaan Maulid Nabi pada masa Revolusi Industri 1.0, apalagi dengan masa Revolusi Industri 4.0 pada masa kini yang tengah membentuk lanskap kehidupan umat Islam jauh berbeda dibandingkan masa-masa sebelumnya. Berangkat dari latarbelakang ini saya berpandangan perayaan Maulid Nabi dengan menyelenggarakan pengajian yang di dalamnya disampaikan sejarah kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam apa adanya berdasarkan periwayatan yang valid tidak lagi memadai menjadi landasan ilmu bagi umat Islam, paling tidak sebagian umat Islam dari kalangan terdidik, untuk berperan aktif membentuk serta menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan kontemporer akibat kehadiran komputer canggih atau Artificial Intellegent, dan lebih jauh lagi untuk merekonstruksi Peradaban Islam masa depan. 

Maulid dan Masa Depan 

Ziauddin Sardar, seorang ahli Futurologi dari kalangan umat Islam yang menelurkan gagasan the Future Madinah sebagai model Peradaban Islam masa depan memiliki pandangan, bahwasanya langkah awal yang harus dilalui umat Islam untuk mewujudkan Peradaban Islam masa depan adalah menafsirkan sejarah kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sesuai dengan tantangan kehidupan yang sedang dihadapi umat Islam pada masa kini sekaligus sesuai dengan agenda masa depan yang sedang diupayakan umat Islam untuk diwujudkan. Sehingga oleh Sardar, Sirah Nabawiyah tidak lagi memadai diceritakan, diajarkan, dan ditulis apa adanya karena menjadikannya tidak relevan dengan konteks ruang dan waktu masa kini akibat perbedaan kondisi kehidupan yang jauh berbeda antara Jazirah Arab pada abad 7 masehi dengan kondisi global pada abad 21 masehi. Dengan menafsirkannya sesuai dengan konteks ruang dan waktu kekinian, menurut Sardar, Sirah Nabawiyah akan mampu menjadi pemandu yang jelas dan terang bagi umat Islam untuk menghadapi berbagai permasalahan kehidupan kontemporer hingga menjadi jalan yang terarah bagi umat Islam untuk mewujudkan Madinah masa depan. 

Meminjam pemikiran Ziauddin Sardar, melalui tulisan ini saya menawarkan gagasan untuk mewarnai perayaan Maulid Nabi pada tahun ini dan tahun-tahun mendatang dengan berupaya menginterpretasikan Sirah Nabawiyah agar menjadi nafas bagi umat Islam untuk hidup dan berkehidupan di dalam ruang Revolusi Industri 4.0. Dengan begitu Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah yang merupakan sifat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam harus dijelaskan penerapannya dalam konteks interaksi antar manusia yang diperantarai Kecerdasan Buatan, maupun antara manusia dengan Kecerdasan Buatan itu sendiri yang sudah menjadi perilaku lazim pada masa kini. Begitupula fase kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang secara sederhana dibedakan menjadi periode Mekah dan Madinah harus pula dijelaskan relevansinya dengan kondisi zaman di mana Kecerdasan Buatan diberikan otoritas untuk memproses data hingga pengambilan keputusan, sehingga tidak dapat dihindari pengaruhnya terhadap pembentukan kondisi kehidupan umat manusia. Belum lagi peristiwa Hijrah yang merupakan tonggak awal bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan generasi pertama umat Islam mencapai kemenangan demi kemenangan yang berujung pada peristiwa Fathu Makkah harus dipahami dalam konteks eksistensi manusia di tengah serbuan mesin yang memiliki tingkat intelegensia tinggi. 

Dengan kerja keilmuan menginterpretasikan Sirah Nabawiyah yang dituangkan dan digaungkan dalam momen Maulidan di era Revolusi Industri 4.0 akan meneguhkan relevansi perayaan Maulid Nabi bagi umat Islam di tengah zaman kontemporer dengan menempatkan sosok Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai uswah hasanah, yakni teladan sekaligus pemandu yang jelas dan terang bagi umat Islam untuk keluar dari kemelut zaman ketidakpastian menuju masa depan Peradaban Islam masa depan di mana manusia hidup di tengah alam bersama teknologi cerdas yang diciptanya untuk kebahagiaan umat manusia seluruhnya. Begitulah sepatutnya kecintaan kepada Nabi dipupuk dan diekspresikan pada masa kini agar Islam senantiasa relevan sepanjang zaman! 

Allahu a’lam bishawab. 
Bertempat di Kartasura pada 12 Rabiul Awal 1441 Hijrah Nabi

Selasa, 29 Oktober 2019

Peradaban, Pangan, dan Masjid

Menakar Krisis Pangan

Pada Seminar Ilmiah Masjid yang diselenggarakan oleh Yayasan Masjid Salman ITB bersama Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) pada 12 Oktober 2019 yang lalu di kompleks Masjid Salman ITB, diangkat tema Meneguhkan Jatidiri Masjid sebagai Pusat Peradaban. Seminar ini menghadirkan 4 pembicara utama, yakni Prof. Hermawan K. Dipojono selaku Ketua Umum AMKI sekaligus Ketua Senat Akademik ITB sebagai pembicara pembuka; Prof. Yazid Bindar yang merupakan Guru Besar di bidang Teknologi Pengolahan Biomassa dan Pangan; Syamril S.T., M,Pd yang berkecimpung dalam Human Capital Strategy Kalla Group; dan Faiz Manshur sekalu Ketua Pengurus Yayasan Odesa Indonesia.

Tulisan ini merupakan elaborasi yang saya lakukan terhadap materi yang disampaikan oleh masing-masing pembicara, sehingga menghasilkan narasi baru. Tentu saja unsur subjektifitas tidak bisa saya hindari karena elaborasi terhadap empat materi melibatkan penafsiran saya dipengaruhi oleh latarbelakang keilmuan yang saya kuasai; kondisi kehidupan saya sehari-hari; pemahaman keagamaan; dan lain sebagainya.

Dari 4 pembicara utama dengan materinya masing-masing yang sekilas tampak tidak saling berkaitan, saya menemukan benang merah yang mengikat keempatnya, yakni peradaban, pangan, dan masjid. Untuk keperluan memproduksi narasi baru sesuai dengan koridor benang merah tersebut, tulisan ini tidak berdasarkan pada urutan materi yang disampaikan, tetapi pada kedudukan dan keterkaitan substansi masing-masing materi.

Dari tiga kata kunci yang mengikat keempat materi, pangan adalah kata kunci paling penting. Faiz Manshur mengatakan pada seminar ini, bahwa pangan adalah salah satu pilar peradaban yang menopang berdirinya suatu peradaban, selain ternak, teknologi, dan literasi. Tanpa pangan tidak akan terbentuk suatu peradaban, karena tanpa pangan sudah dipastikan manusia sebagai subjek peradaban tidak akan mampu mempertahankan hidupnya. Prof. Yazid sepemahaman dengan Faiz Manshur, bahwasanya menurut beliau karbohidrat yang merupakan salah satu dzat penyusun pangan merupakan kebutuhan dasar setiap diri manusia untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan jasmaninya, selain kebutuhan terhadap udara bersih dan air bersih.

Prof. Yazid pada seminar ini menyampaikan salah satu masalah umat manusia pada masa depan karena berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia, yang berarti juga merupakan masalah bagi umat Islam, ialah persoalan pangan. Prof. Yazid menyampaikan bahwa pada tahun 2045 diprediksi bumi akan dihuni 9 milyar manusia yang dampaknya adalah terjadinya krisis pangan akibat tidak tersedianya karbohidrat dalam jumlah yang cukup untuk seluruh umat manusia. Menurut Prof. Yazid, terjadinya krisis pangan didasari prinsip bahwasanya pertumbuhan jumlah penduduk selalu berkorelasi positif terhadap meningkatnya kebutuhan pangan. Sementara itu, masih merujuk kepada Prof. Yazid, penambahan jumlah pangan pada masa depan untuk memenuhi kebutuhan 9 milyar manusia tidak mudah untuk dilakukan karena pendekatan ekstensifikasi dengan menambah jumlah lahan produktif tidak lagi mudah direalisasikan di tengah arus modernisasi yang terus berjalan, dan di sisi yang lain pendekatan intensifikasi terkendala ketersediaan nitrogen di tanah. Dengan kata lain, krisis pangan diprediksi terjadi pada tahun 2045 dikarenakan pertumbuhan jumlah penduduk tidak mampu dibarengi dengan peningkatan jumlah produksi pangan. 

Prof. Yazid yang merupakan pakar di bidang pangan menawarkan dua solusi untuk menanggapi permasalahan pangan. Solusi pertama adalah dengan merubah budaya makan manusia, terutama bangsa Indonesia, dengan membudayakan makan karbohidrat dari sumber selain beras. Kedua, Prof. Yazid pada akhir pemaparan materi menyatakan, bahwa permasalahan pangan sudah seharusnya menjadi perhatian umat Islam dengan masjidnya untuk turut berperan serta memenuhi kebutuhan pangan yang menjadi kebutuhan dasar bagi manusia untuk mempertahankan kehidupan dan membangun peradabannya.

Jaringan Masjid Untuk Pangan

Berangkat dari solusi kedua yang disampaikan oleh Prof. Yazid muncullah pertanyaan, seperti apa peran konkret masjid untuk turut serta memenuhi kebutuhan pangan? Memandang lebih jauh lagi, seperti apa upaya yang harus dilakukan masjid untuk menghindarkan umat manusia dari terjadinya krisis pangan pada masa depan? Permasalahan yang berat dan memiliki cakupan yang luas tidak dapat hanya ditangani satu tipe masjid, walaupun merupakan masjid jami’ yang memiliki cakupan pelayanan skala kota.

Untuk menyelesaikan permasalahan pangan melalui masjid dibutuhkan jejaring masjid dari tingkat kota, kampus, hingga permukiman. Strategi jejaring masjid didasari pernyataan Faiz Manshur bahwasanya untuk memenuhi kebutuhan pangan merupakan tanggungjawab setiap individu untuk menanam, bukan hanya tanggungjawab petani, sementara individu yang lain sebatas sebagai konsumen pangan. Dengan penalaran demikian jejaring masjid untuk menyelesaikan permasalahan pangan bermakna setiap masjid dengan lingkup pelayanannya masing-masing memiliki tanggungjawab untuk turut serta mengambil peran memenuhi kebutuhan pangan.

Dimulai dari peran masjid kampus. Merujuk pada materi yang disampaikan oleh Syamril, masjid kampus memiliki dua peran, yakni (1) mempersiapkan sumber daya manusia Muslim yang qualified untuk menghadapi berbagai permasalahan yang sedang dihadapi umat manusia pada zaman kini; dan (2) berorientasi pembinaan masyarakat dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia Muslim dan mengamalkan ilmu yang telah dirumuskan dan disampaikan di perguruan tinggi maupun di masjid kampus. Dalam konteks permasalahan pangan, peran masjid kampus yang memiliki kedekatan spasial maupun fungsional dengan kampus berperan menyediakan sumber daya manusia, kerangka teoritik, dan teknologi yang dibutuhkan untuk bersama-sama dengan masyarakat memenuhi kebutuhan pangan.

Masjid permukiman yang langsung bersentuhan dengan realitas pangan di tengah masyarakat, berperan sebagai basis pemenuhan kebutuhan dan ketahanan pangan masyarakat dengan bimbingan dari masjid kampus. Dengan kata lain, masjid permukiman merupakan ruang pertemuan antara pelaku pangan di lapangan meliputi petani dan konsumen, dengan kalangan ilmuwan dan teknolog yang bergabung di dalam masjid kampus. Melalui masjid permukiman, sumber daya manusia Muslim yang telah dipersiapkan di masjid kampus beramal dengan bekal kerangka teoritik dan teknologi yang telah dimiliki dan dikuasai untuk membersamai masyarakat menyelesaikan permasalahan pangan.

Yang perlu dicatat adalah, persoalan pangan bukan sekedar pemenuhan terhadap jumlah pangan, tetapi juga pemberdayan dan kesejahteraan pelaku pangan, terutama kalangan petani. Untuk itu masjid kampus harus pula memberikan dukungan, bimbingan, dan perlindungan kepada petani, sementara masjid permukiman harus mampu menjadi rumah bersama bagi kalangan petani.

Terakhir, masjid jami’ dalam menghadapi permasalahan pangan memiliki peran strategis sebagai koordinator seluruh pihak yang terlibat. Konkretnya, masjid jami’ yang memiliki skala pelayanan kota memiliki peran menjalin hubungan dengan pihak pemerintah sebagai regulator untuk bersinergi menyelesaikan permasalahan pangan bersama umat Islam; memenuhi kebutuhan pendanaan program pangan melalui Baitul Maal untuk disalurkan kepada masjid kampus dan masjid permukiman; dan mengawasi program-program yang dilaksanakan dari tingkat masjid kampus hingga masjid permukiman dalam rangka menyelesaikan permasalahan pangan. Dalam hal pemberdayaan dan kesejahteraan pelaku pangan, masjid jami’ harus mendorong pihak pemerintah untuk menerbitkan peraturan yang berpihak kepada kalangan petani dan mengawal agaar peraturan tersebut diimplementasikan secara benar.

Dengan jejaring masjid jami’, masjid kampus, dan masjid permukiman, serta sinergi dengan pihak pemerintah, sudah seharusnya umat Islam optimis akan mampu menyelesaikan permasalah pangan, sehingga pada tahun 2045 nanti manusia terhindarkan dari bencana krisis pangan. Optimisme ini beralasan, merujuk pada materi yang disampaikan oleh Syamril,  karena masa depan ialah zaman spiritualitas, sehingga masjid yang merupakan pusat spiritualitas Islam memiliki potensi sekaligus kesempatan yang lebar untuk berperan menyelesaikan berbagai permasalahan umat manusia.

Tentu saja optimisme semacam ini hanya bisa dibangun, menurut Prof. Hermawan, jika umat Islam berani untuk berimajinasi terkait masa depan yang hendak diwujudkannya. Berimajinasilah pada masa depan manusia akan berkecupukan pangan dan seluruh pelaku pangan mencapai kesejahteraan sepenuhnya sebagai manusia. Kemudian dari masjid kita wujudkan imajinasi itu untuk membangun peradaban Islam!