Selasa, 29 Oktober 2019

Peradaban, Pangan, dan Masjid

Menakar Krisis Pangan

Pada Seminar Ilmiah Masjid yang diselenggarakan oleh Yayasan Masjid Salman ITB bersama Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) pada 12 Oktober 2019 yang lalu di kompleks Masjid Salman ITB, diangkat tema Meneguhkan Jatidiri Masjid sebagai Pusat Peradaban. Seminar ini menghadirkan 4 pembicara utama, yakni Prof. Hermawan K. Dipojono selaku Ketua Umum AMKI sekaligus Ketua Senat Akademik ITB sebagai pembicara pembuka; Prof. Yazid Bindar yang merupakan Guru Besar di bidang Teknologi Pengolahan Biomassa dan Pangan; Syamril S.T., M,Pd yang berkecimpung dalam Human Capital Strategy Kalla Group; dan Faiz Manshur sekalu Ketua Pengurus Yayasan Odesa Indonesia.

Tulisan ini merupakan elaborasi yang saya lakukan terhadap materi yang disampaikan oleh masing-masing pembicara, sehingga menghasilkan narasi baru. Tentu saja unsur subjektifitas tidak bisa saya hindari karena elaborasi terhadap empat materi melibatkan penafsiran saya dipengaruhi oleh latarbelakang keilmuan yang saya kuasai; kondisi kehidupan saya sehari-hari; pemahaman keagamaan; dan lain sebagainya.

Dari 4 pembicara utama dengan materinya masing-masing yang sekilas tampak tidak saling berkaitan, saya menemukan benang merah yang mengikat keempatnya, yakni peradaban, pangan, dan masjid. Untuk keperluan memproduksi narasi baru sesuai dengan koridor benang merah tersebut, tulisan ini tidak berdasarkan pada urutan materi yang disampaikan, tetapi pada kedudukan dan keterkaitan substansi masing-masing materi.

Dari tiga kata kunci yang mengikat keempat materi, pangan adalah kata kunci paling penting. Faiz Manshur mengatakan pada seminar ini, bahwa pangan adalah salah satu pilar peradaban yang menopang berdirinya suatu peradaban, selain ternak, teknologi, dan literasi. Tanpa pangan tidak akan terbentuk suatu peradaban, karena tanpa pangan sudah dipastikan manusia sebagai subjek peradaban tidak akan mampu mempertahankan hidupnya. Prof. Yazid sepemahaman dengan Faiz Manshur, bahwasanya menurut beliau karbohidrat yang merupakan salah satu dzat penyusun pangan merupakan kebutuhan dasar setiap diri manusia untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan jasmaninya, selain kebutuhan terhadap udara bersih dan air bersih.

Prof. Yazid pada seminar ini menyampaikan salah satu masalah umat manusia pada masa depan karena berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia, yang berarti juga merupakan masalah bagi umat Islam, ialah persoalan pangan. Prof. Yazid menyampaikan bahwa pada tahun 2045 diprediksi bumi akan dihuni 9 milyar manusia yang dampaknya adalah terjadinya krisis pangan akibat tidak tersedianya karbohidrat dalam jumlah yang cukup untuk seluruh umat manusia. Menurut Prof. Yazid, terjadinya krisis pangan didasari prinsip bahwasanya pertumbuhan jumlah penduduk selalu berkorelasi positif terhadap meningkatnya kebutuhan pangan. Sementara itu, masih merujuk kepada Prof. Yazid, penambahan jumlah pangan pada masa depan untuk memenuhi kebutuhan 9 milyar manusia tidak mudah untuk dilakukan karena pendekatan ekstensifikasi dengan menambah jumlah lahan produktif tidak lagi mudah direalisasikan di tengah arus modernisasi yang terus berjalan, dan di sisi yang lain pendekatan intensifikasi terkendala ketersediaan nitrogen di tanah. Dengan kata lain, krisis pangan diprediksi terjadi pada tahun 2045 dikarenakan pertumbuhan jumlah penduduk tidak mampu dibarengi dengan peningkatan jumlah produksi pangan. 

Prof. Yazid yang merupakan pakar di bidang pangan menawarkan dua solusi untuk menanggapi permasalahan pangan. Solusi pertama adalah dengan merubah budaya makan manusia, terutama bangsa Indonesia, dengan membudayakan makan karbohidrat dari sumber selain beras. Kedua, Prof. Yazid pada akhir pemaparan materi menyatakan, bahwa permasalahan pangan sudah seharusnya menjadi perhatian umat Islam dengan masjidnya untuk turut berperan serta memenuhi kebutuhan pangan yang menjadi kebutuhan dasar bagi manusia untuk mempertahankan kehidupan dan membangun peradabannya.

Jaringan Masjid Untuk Pangan

Berangkat dari solusi kedua yang disampaikan oleh Prof. Yazid muncullah pertanyaan, seperti apa peran konkret masjid untuk turut serta memenuhi kebutuhan pangan? Memandang lebih jauh lagi, seperti apa upaya yang harus dilakukan masjid untuk menghindarkan umat manusia dari terjadinya krisis pangan pada masa depan? Permasalahan yang berat dan memiliki cakupan yang luas tidak dapat hanya ditangani satu tipe masjid, walaupun merupakan masjid jami’ yang memiliki cakupan pelayanan skala kota.

Untuk menyelesaikan permasalahan pangan melalui masjid dibutuhkan jejaring masjid dari tingkat kota, kampus, hingga permukiman. Strategi jejaring masjid didasari pernyataan Faiz Manshur bahwasanya untuk memenuhi kebutuhan pangan merupakan tanggungjawab setiap individu untuk menanam, bukan hanya tanggungjawab petani, sementara individu yang lain sebatas sebagai konsumen pangan. Dengan penalaran demikian jejaring masjid untuk menyelesaikan permasalahan pangan bermakna setiap masjid dengan lingkup pelayanannya masing-masing memiliki tanggungjawab untuk turut serta mengambil peran memenuhi kebutuhan pangan.

Dimulai dari peran masjid kampus. Merujuk pada materi yang disampaikan oleh Syamril, masjid kampus memiliki dua peran, yakni (1) mempersiapkan sumber daya manusia Muslim yang qualified untuk menghadapi berbagai permasalahan yang sedang dihadapi umat manusia pada zaman kini; dan (2) berorientasi pembinaan masyarakat dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia Muslim dan mengamalkan ilmu yang telah dirumuskan dan disampaikan di perguruan tinggi maupun di masjid kampus. Dalam konteks permasalahan pangan, peran masjid kampus yang memiliki kedekatan spasial maupun fungsional dengan kampus berperan menyediakan sumber daya manusia, kerangka teoritik, dan teknologi yang dibutuhkan untuk bersama-sama dengan masyarakat memenuhi kebutuhan pangan.

Masjid permukiman yang langsung bersentuhan dengan realitas pangan di tengah masyarakat, berperan sebagai basis pemenuhan kebutuhan dan ketahanan pangan masyarakat dengan bimbingan dari masjid kampus. Dengan kata lain, masjid permukiman merupakan ruang pertemuan antara pelaku pangan di lapangan meliputi petani dan konsumen, dengan kalangan ilmuwan dan teknolog yang bergabung di dalam masjid kampus. Melalui masjid permukiman, sumber daya manusia Muslim yang telah dipersiapkan di masjid kampus beramal dengan bekal kerangka teoritik dan teknologi yang telah dimiliki dan dikuasai untuk membersamai masyarakat menyelesaikan permasalahan pangan.

Yang perlu dicatat adalah, persoalan pangan bukan sekedar pemenuhan terhadap jumlah pangan, tetapi juga pemberdayan dan kesejahteraan pelaku pangan, terutama kalangan petani. Untuk itu masjid kampus harus pula memberikan dukungan, bimbingan, dan perlindungan kepada petani, sementara masjid permukiman harus mampu menjadi rumah bersama bagi kalangan petani.

Terakhir, masjid jami’ dalam menghadapi permasalahan pangan memiliki peran strategis sebagai koordinator seluruh pihak yang terlibat. Konkretnya, masjid jami’ yang memiliki skala pelayanan kota memiliki peran menjalin hubungan dengan pihak pemerintah sebagai regulator untuk bersinergi menyelesaikan permasalahan pangan bersama umat Islam; memenuhi kebutuhan pendanaan program pangan melalui Baitul Maal untuk disalurkan kepada masjid kampus dan masjid permukiman; dan mengawasi program-program yang dilaksanakan dari tingkat masjid kampus hingga masjid permukiman dalam rangka menyelesaikan permasalahan pangan. Dalam hal pemberdayaan dan kesejahteraan pelaku pangan, masjid jami’ harus mendorong pihak pemerintah untuk menerbitkan peraturan yang berpihak kepada kalangan petani dan mengawal agaar peraturan tersebut diimplementasikan secara benar.

Dengan jejaring masjid jami’, masjid kampus, dan masjid permukiman, serta sinergi dengan pihak pemerintah, sudah seharusnya umat Islam optimis akan mampu menyelesaikan permasalah pangan, sehingga pada tahun 2045 nanti manusia terhindarkan dari bencana krisis pangan. Optimisme ini beralasan, merujuk pada materi yang disampaikan oleh Syamril,  karena masa depan ialah zaman spiritualitas, sehingga masjid yang merupakan pusat spiritualitas Islam memiliki potensi sekaligus kesempatan yang lebar untuk berperan menyelesaikan berbagai permasalahan umat manusia.

Tentu saja optimisme semacam ini hanya bisa dibangun, menurut Prof. Hermawan, jika umat Islam berani untuk berimajinasi terkait masa depan yang hendak diwujudkannya. Berimajinasilah pada masa depan manusia akan berkecupukan pangan dan seluruh pelaku pangan mencapai kesejahteraan sepenuhnya sebagai manusia. Kemudian dari masjid kita wujudkan imajinasi itu untuk membangun peradaban Islam!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar