Rabu, 13 November 2019

Dua Strategi Menjayakan Peradaban Islam

Digerus Zaman

Zaman terus bergerak semakin cepat. Kita hitung saja secara kasar dari masa akhir Renaisans hingga memasuki Revolusi Industri 1.0 dibutuhkan waktu tidak lebih 200 tahun atau 2 abad. Dari Revolusi Industri 1.0 menuju Revolusi Industri 2.0 dibutuhkan waktu setengahnya, yakni tidak lebih dari 100 tahun. Lebih mencengangkan lagi perubahan basis peradaban dari mesin yang menggerakkan Revolusi Industri 1.0 dan 2.0 berganti komputer untuk menggulirkan zaman memasuki fase Revolusi Industri 3.0 yang dikenal dengan Era Informasi hanya membutuhkan waktu tidak sampai 100 tahun. Kini kita tengah berada di sebuah zaman yang merupakan perluasan dari Revolusi Industri 3.0 dengan teknologi komputerisasi yang telah mencapai titik termaju, yakni Kecerdasan Buatan (Artificial Intellegent) yang menendang zaman dengan keras memasuki masa Revolusi Industri 4.0. Saya menggunakan kosakata ‘menendang dengan keras’ untuk memberikan nuansa kecepatan, ketergesa-gesaan, dan keterpaksaan memasuki era baru yang membutuhkan waktu tidak sampai 50 tahun sejak Revolusi Industri 3.0 dicetuskan, sehingga menyebabkan kekagetan, kebingungan, dan kekhawatiran, yang semua itu menimbulkan rasa sakit disekujur tubuh, persis seperti terkena tendangan keras. 

Pertanyaan yang mengusik diri saya sebagai seorang Muslim, dan bisa jadi Muslim yang lainnya pun juga mempertanyakannya adalah, di mana posisi umat Islam di tengah dunia yang terus berubah? Apa peran Islam dalam menuntun pergerakan zaman? Mengapa telah berkali-kali terjadi pergantian zaman, umat Islam belum mampu merekonstruksi kembali peradabannya hingga mencapai kejayaan? Seperti apa kondisi Peradaban Islam pada zaman kini jika memanglah ada suatu peradaban yang layak dinyatakan sebagai Islam? Ataukah Peradaban Islam tinggal nama dari masa lalu yang tidak memiliki wujudnya lagi pada zaman kini?

Saya menanggapi negatif pertanyaan terakhir, karena Peradaban Islam tetap wujud sepanjang manusia Muslim tetap menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim dengan berupaya menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari, walaupun hanya satu aspek saja dari kehidupannya, yakni peribadatan maghdah. Peradaban Islam pada masa kini tidaklah musnah karena masih terdapat manusia yang meyakini kebenaran Islam dan mempraktikkan Islam dalam kehidupannya. Peradaban Islam pada masa kini hanya sedang tertidur atau mengalami stagnansi. Sementara itu kerusakan-kerusakan yang diamalkan oleh umat Islam sebagai hasil dari meniru Peradaban Barat tidaklah dapat dinyatakan sebagai bagian dari Peradaban Islam, sehingga tidaklah tepat jika dikatakan Peradaban Islam tengah mengalami degradasi akibat penetrasi Peradaban Barat. Demikian pandangan Ismail Raji’ Faruqi yang saya yakini kebenarannya. 

Untuk dua pertanyaan pertama, saya pun menanggapai negatif. Umat Islam tidak mengambil posisi di mana pun selain sebagai pengikut akibat silaunya kemajuan yang dihadirkan zaman demi zaman yang terus bergerak. Begitupula Islam tidak digunakan oleh umat Islam untuk menuntun pergerakan zaman, justru Islam telah diperlakukan selayaknya keset untuk sekedar melegitimasi kemajuan zaman yang dipandang berbanding lurus dengan kualitas kehidupan manusia. Saya bisa membayangkan hampir semua umat Islam akan lebih memilih untuk bepergian dari Solo ke Yogyakarta dengan duduk di salah satu gerbong kereta api dibandingkan mengendarai kuda, dan lebih memilih duduk nyaman di dalam kabih pesawat terbang untuk melaksanakan ibadah Haji di Mekah dibandingkan menaiki kapal laut yang membutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya untuk sampai di tujuan Baitullah. Tepat di sinilah inti dari pertanyaan selanjutnya. Sejak Revolusi Industri 1.0 hingga kini umat Islam telah memiliki maupun menggunakan teknologi yang mewakili zaman, tetapi mengapa Peradaban Islam tak kunjung berjaya? 

Dua Strategi

Menurut saya, salah satu faktor yang menghambat dicapainya kejayaan Peradaban Islam ialah persoalan strategi. Oleh karenanya dalam tulisan ini saya akan menawarkan dua strategi bagi umat Islam untuk menjayakan peradabannya. Strategi pertama, sebagaimana dilakukan kalangan Modernis dan Posmodernis dari umat Islam dalam menghadapi tiga Revolusi Industri sebelumnya, strategi yang sama pun dapat digunakan untuk menghadapai Revolusi Industri 4.0, yakni mempergunakan momentum zaman untuk keperluan mencapai kejayaan Peradaban Islam. Hanya saja strategi yang sama ini tidak bisa diterapkan dengan cara yang sama dengan meniru begitu saja Peradaban Barat yang melahirkan rangkaian Revolusi Industri, karena sudah pasti akan mengalami kegagalan yang sama, sebagaimana masa-masa sebelumnya. 

Kegagalan kalangan Modernis dan Posmodernis dalam menghadapai zamannya masing-masing disebabkan faktor salah fokus dan salah sistem pendidikan. Pada Revolusi Industri 1.0 dan 2.0, umat Islam tidak fokus membuat mesin, membangun pabrik dan mengakumulasi modal ekonomi, tetapi malah berfokus merasionalisasi al-Qur’an dan Hadits agar sesuai dengan nalar zaman. Akibat salah fokus umat Islam tidak memiliki sistem pendidikan Islam yang handal untuk memenuhi kebutuhan ahli mesin, ahli industri pabrik, hingga ahli ekonomi untuk merebut dan menguasai zaman. Kesalahan yang sama berulang pada Revolusi Industri 3.0 yang ditinjau secara periodesasi dijuluki zaman Posmodern. Bukannya fokus membangun jaringan informasi berbasis teknologi komputer, umat Islam lagi-lagi berfokus pada kedua sumber Islam untuk dikontekskan dengan kondisi zaman agar sesuai dengan nilai-nilai Pluralisme dan Liberalisme yang merupakan konsekuensi dari terhubungnya jaringan informasi dalam skala global. Akibat kembali salah fokus, umat Islam tidak merancang sistem pendidikan Islam untuk melahirkan ahli ilmu komputer serta ahli kebudayaan kontemporer untuk mengantisipasi sekaligus menuntun umat Islam di tengah perubahan zaman yang terjadi begitu cepat, tetapi malah produktif melahirkan para penjaja agama yang menyebabkan berbagai permasalahan pelik di tubuh umat Islam hingga hari ini. 

Strategi yang sama untuk mencapai kejayaan Peradaban Islam harus diterapkan dalam konteks zaman kini dengan fokus menguasai perkembangan Kecerdasan Buatan yang mengharuskan umat Islam memiliki ketersediaan ahli di bidang ilmu komputer, bioteknologi, nanoteknologi, dan genetika yang didukung dan dipandu ahli kebudayaan kontemporer serta kalangan ahli ilmu-ilmu Syariat untuk mengarahkan laju zaman menuju idealitas Peradaban Islam. Strategi ini mengandaikan umat Islam pada awalnya menjadi penumpang di bus Peradaban Barat yang disetir oleh mereka menuju tujuan mereka. Sampai umat Islam memiliki kesiapan dan kemandirian, di satu titik akan terdapat kesempatan bagi umat Islam untuk merebut kendali dan mengarahkan bus menuju tujuan Islam, baik dengan jalan konfrontasi dengan pihak pemilik, sopir bus, maupun penumpang lainnya, atau dengan jalan alih kepemilikan secara sah yang pintu masuknya ialah penguasaan ekonomi dalam skala global.

Berkebalikan dengan strategi pertama, strategi kedua untuk mencapai kejayaan Peradaban Islam dilakukan dengan cara memisahkan diri dari Peradaban Barat, sehingga tidak berada di atas jalur pergerakan zaman yang kini sedang terus bergulir. Strategi ini tidak bertujuan untuk menguasai zaman dengan menandingi kemajuan Peradaban Barat, tetapi berupaya membangun Peradaban Islam secara mandiri dengan kemampuan dan modal kolektif umat Islam dari posisi mana pun Perdaban Islam kini sedang bertahan, bahkan jika harus memulainya dengan kondisi peradaban yang terbilang tradisional. Secara metodologis, strategi ini berfokus membangun kemandirian umat dari ranah akar rumput dengan perlahan-lahan menstabilkan kondisi seluruh aspek kehidupan umat hingga mencapai idealitas Peradaban Islam. Dapat diandaikan penerapan strategi ini seperti umat Islam yang sejak awal memutuskan untuk melaju ke arah tujuannya sendiri berbekal kendaraan apapun yang dimiliki, tanpa terpengaruh untuk berpindah tujuan dengan berpindah kendaraan, apalagi terpikat dengan kendaraan Peradaban Barat tanpa sama sekali mengetahui dan mengenali arah tujuannya. Tepat di sinilah tantangan strategi kedua untuk umat Islam tidak terpukau dengan kemajuan IPTEK yang sedang dicapai Peradaban Barat dengan Revolusi Industri 4.0-nya.

Dua strategi yang saya tawarkan tentu saja terbuka untuk dipermasalahkan, termasuk diacuhkan. Pun keduanya terbuka untuk diperdebatkan apakah diterapkan secara simultan ataukah dipiliih salah satu yang terbaik di antara keduanya. Berbagai jawaban dapat dilontarkan dan beragam argumentasi dapat disodorkan. Namun demikian untuk memilih strategi mana yang mampu diterapkan umat Islam pada masa kini secara psikologis, jawabannya terdapat pada pertanyaan apakah kita memiliki mental yang cukup tebal untuk tetap memegang pacul sementara di ladang sebelah kebutuhan pangan mulai digarap oleh komputer cerdas? Jika jawaban Anda positif, berarti Anda memilih strategi kedua untuk mencapai kejayaan Peradaban Islam, maka mulailah mengayunkan cangkul untuk memenuhi kebutuhan pangan. Sedangkan jika jawaban Anda negatif, maka buang pacul Anda, tinggalkan sawah, dan mulailah sesegera mungkin memasuki laboratorium sebagai langkah awal menjayakan Peradaban Islam!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar