Senin, 18 November 2019

Evolusi Lari Dari Penyelamatan Menuju Eksistensi

Lari Sebagai Budaya

Lari, bukan saja pergerakan tubuh manusia secara fisiologis dari satu tempat ke tempat lainnya dengan ritme cepat yang ditopang kemampuan biologis mumpuni, dikarenakan aktivitas lari membutuhkan asupan kalori yang tinggi. Ditinjau dari aspek subyek pelakunya, yakni manusia, lari merupakan bagian dari budaya yang terus menerus mengalami perkembangan, bahkan perubahan seiring laju zaman dengan tata nilai dan cara hidup yang khas, sebagaimana hakikat budaya itu sendiri yang merupakan alat bagi manusia untuk hidup dan berkehidupan di dalam suatu zaman yang meniscayakannya bersifat dinamis karena terikat konteks ruang dan waktu.

Pada masa yang telah jauh berlalu di mana manusia hidup dengan cara berburu hewan liar dan mengumpulkan makanan di hutan, sehingga disebut dengan zaman hunting and food gathering, lari merupakan keterampilan dasar yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup. Dengan kemampuan fisiologisnya, manusia berlari mengejar Mamoth agar berada dalam jarak lempar tombak untuk melumpuhkan hewan besar itu yang berakhir menjadi santapan satu komunitas manusia. Dengan keterampilan berlarinya pula, manusia dapat menyelamatkan diri dari cengkeraman singa, gigitan serigala, bahkan menghindari lesatan senjata tajam dari komunitas manusia lain disebabkan perebutan wilayah atau sumber pangan. Oleh karenanya pada masa ini, berlari merupakan keterampilan bertahan hidup daripada sekedar kemampuan fisiologis. Sehingga berlari bukan saja soal meningkatkan kecepatan gerak tubuh untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, tetapi melibatkan koordinasi tubuh yang kompleks untuk memperhatikan lingkungan sekitar, merasakan permukaan tanah, sambil mengerucutkan fokus untuk melepaskan anak panah. Tanpa keterampilan berlari, sudah jelas manusia tidak akan mampu bertahan hidup di tengah kondisi lingkungan pada zaman ini.

Ketika manusia memasuki Revolusi Pertanian yang oleh Alvin Toffler disebutnya sebagai the First Wave atau gelombang pertama dalam sejarah kehidupan umat manusia karena membentuk cara hidup yang berbeda dengan kondisi kehidupan hunting and food gathering, lari sebagai bagian dari budaya manusia turut mengalami perubahan. Pada masa awal pertanian yang ditandai dengan hadirnya permukiman menetap dalam skala desa akibat perubahan model produksi mengandalkan lahan pertanian, lari dilakukan manusia untuk mengejar hewan ternak yang berontak keluar dari kandangnya, selain tetap dilakukan untuk menyelamatkan diri dari mamoth maupun serangan dari komunitas manusia lain. Tidak berbeda dengan masa sebelumnya, lari dilakukan manusia dengan motif menyelamatkan diri dan pemenuhan kebutuhan biologis, terutama pangan. Hanya saja pada masa pertanian, aktivitas berlari mengalami ekstensifikasi untuk keperluan pemenuhan kebutuhan ekonomi terkait domestifikasi hewan dalam skala luas yang mulai dipraktikkan manusia.

Revolusi Pertanian yang dibarengi dengan perubahan model produksi mendorong terjadinya peningkatan kualitas kehidupan ekonomi yang ditandai dengan bergantinya kondisi lingkungan kehidupan manusia dari desa menjadi negara-kota atau Polis. Dalam kondisi kehidupan perkotaan kuno, lari sebagai budaya manusia memasuki ranah yang berbeda, yakni olahraga. Dimulai pada masa ini manusia berlari tanpa dikejar binatang maupun musuh dari kalangan komunitas manusia lain. Manusia berlari untuk menjaga kondisi tubuhnya secara biologis hingga meningkatkan kemampuan tubuhnya secara fisiologis. Dalam lingkungan sosial, budaya olahraga lari memunculkan golongan baru di masyarakat, yakni atlet lari atau manusia yang memiliki kemampuan berlari di atas rata-rata manusia lainnya. Maka di Yunani Kuno diselenggarakan Olimpiade yang merupakan arena bagi para atlet untuk menunjukkan keterampilan tubuhnya dalam berolahraga, termasuk berlari. Sebagai motif pendorong untuk berlari secepat mungkin, diberikan status sosial terpandang di tengah masyarakat bagi para pemenang. Di masa inilah lari tidak lagi dilandasi motif penyelamatan diri dan pemenuhan kebutuhan ekonomi semata, tetapi berganti menjadi pencapaian status sosial melalui peningkatan kemampuan fisiologis untuk mampu berlari paling cepat dan paling jauh di antara yang lainnya. 

Lari untuk kesehatan tubuh semakin intens dilakukan manusia yang hidup di tengah perkotaan Modern dilatarbelakangi kualitas lingkungan dan gaya hidup yang buruk, sehingga menjadi ancaman bagi fungsi biologis tubuh manusia. Walaupun dilandasi motif yang sama dengan masa sebelumnya, zaman Modern merubah praktik lari untuk kesehatan tidak sekedar menggerakkan tubuh berdasarkan pengalaman. Modernitas melekatkan lari untuk kesehatan dengan ilmu pengetahuan, sehingga mampu diukur waktu, kecepatan, dan ritme lari, begitupula dapat diperhitungkan kalori yang terbakar, otot yang terlibat hingga mencapai exhausted, detak jantung, dan jumlah oksigen yang masuk ke dalam paru. Pelibatan teknologi kesehatan dimaksudkan untuk meminimalkan keterlibatan pengalaman subyektif manusia yang dinilai menyesatkan dalam pandangan faham Modernisme karena dapat menyebabkan kontra produktif pada kesehatan tubuh. Pandangan demikian dianut secara luas oleh masyarakat perkotaan Modern yang melakukan lari sebagai upaya menjaga kesehatan tubuh dengan mengenakan jam atau gadget untuk memantau aktivitasnya berlari. Di sela dirinya melangkahkan kaki, matanya berkoordinasi dengan tangan untuk melihat tampilan biometrik tubuh melalui alat yang dikenakan di pergelangan tangan maupun handphone yang di simpan di saku celana.

 Gambar 1: Lari untuk menjaga kondisi biologis tubuh di tengah lingkungan perkotaan Modern

Sementara itu lari sebagai keterampilan profesional kalangan atlet yang memiliki kemampuan fisiologis di atas manusia rata-rata semakin menonjol di zaman Modern ditandai dengan didirikannya sekolah khusus untuk mendidik calon atlet lari, dibangunnya stadion berskala besar dan megah berbiaya hingga milyar rupiah sebagai arena bagi pelari untuk menunjukkan keterampilan diri, serta disediakannya hadiah dan sorotan media untuk memotivasi para pelari menjadi manusia tercepat di muka bumi. Itu semua melekatkan lari dengan bentuk tubuh atletis, ekonomi berlebih, dan tentu saja popularitas, yang menjadi impian bagi banyak orang untuk mendedikasikan diri menjadi atlet lari. Di sisi yang lain, sosok atlet pada era Modern tidak dapat dipisahkan dari kalangan pemodal besar dengan pandangan serta orientasi hidup serba ekonomi yang menjadikan lari sebagai industri. Dibangunnya fasilitas pendidikan, stadion, diselenggarakannya perhelatan lomba lari hingga skala internasional, berikut media yang memiliki jaringan siaran skala global, tidak lain dimiliki oleh pemodal untuk menghasilkan keuntungan ekonomi. Sehingga dari sudut pandang pemodal yang secara ideologis menganut faham serba ekonomi, atlet dengan keterampilannya berlari dan para pengagum atlet yang bersedia melakukan mobilisasi spasial untuk mendatangi stadion dan membayar tiket masuk, atau sebagian yang lain berlangganan TV kabel untuk melihat idolanya berlari, tak ubahnya seorang karyawan yang bekerja untuk keuntungan pemilik perusahaan.

Gambar 2: Usain Bolt, pelari asal Jamaika yang saat ini merupakan salah satu manusia tercepat di muka bumi dengan rekor dunia 9,58 detik untuk jarak 100 meter, sehingga menjadikannya sebagai pelari dengan popularitas tertinggi


Lari di Zaman Kini

Lari sebagai kebudayaan manusia Modern yang praktiknya dilandasi motif kesehatan, keuntungan ekonomi, dan kedudukan sosial masih terus berlangsung hingga zaman kini yang dikenal dengan era Posmodern. Tentu saja zaman baru membawa perubahan terhadap kebudayaan manusia, termasuk lari. Jika pada masa Modern, melihat para atlet berlari menjadi yang tercepat merupakan rekreasi bagi penonton untuk mengisi waktu libur atau waktu luang disela kesibukan bekerja, pada masa Posmodern berlari itu sendiri merupakan kegiatan yang bersifat rekreatif bertajuk fun-running. Berlari tidak sekedar menggerakan tubuh secara fisiologis untuk kesehatan biologis, karena pada zaman kini tujuan utama berlari ialah menggugah kesenangan pelaku secara emosional dengan menyelenggarakan event lari mengelilingi kota pada malam hari sambil membawa lampu berwarna-warni, atau dilakukan di tengah kota pada pagi hasil sambil menabur bubuk berwarna-warni. Guna memotivasi pelari disediakan photobooth di garis akhir untuk meneguhkan eksistensi diri dengan berfoto dan mengunggahnya ke media sosial. Tidak soal siapa yang berlari paling cepat, karena berpartisipasi yang dibuktikan dengan dokumentasi foto sudah cukup memberikan kesenangan secara psikologis bagi pelaku lari.

Gambar 3: Lari bertajuk fun-running untuk meneguhkan eksistensi diri

Fenomena serupa saya dapati beberapa waktu lalu di linimasa Facebook. Bisa dikatakan banyak dari akun pertemanan saya menampilkan informasi biometrik tubuhnya setelah melakukan aktivitas lari sambil berfoto di titik akhir sebagai peneguhan eksistensi diri. Saya memahami perilaku lari yang berujung pada peneguhan eksistensi diri sebagaimana contoh ini merupakan dorongan psikologis untuk menunjukkan capaian diri kepada masyarakat atas keberhasilannya berlari di tengah lingkungan perkotaan yang memang tidak ramah bagi manusia, baik secara biologis maupun fisiologis. Saya pun melihat perilaku demikian berpotensi menjadikan lari sebagai gerakan kritik masyarakat terhadap lingkungan kehidupan kota yang tidak manusiawi. Di sinilah lari sebagai budaya manusia mendapatkan dimensi baru sebagai aktualisasi dari nalar berfikir kritis yang merupakan ciri khas manusia sebagai makhluk yang berakal. 

Demikianlah evolusi lari sebagai budaya manusia, dari berlari untuk bertahan hidup dan menyelamatkan diri, berakhir dengan berlari untuk kebutuhan eksistensi diri. Evolusi ini menandakan terjadinya perubahan motivasi manusia untuk melakukan aktivitas lari yang awalnya disebabkaan faktor dari luar meliputi serangan hewan buas maupun serangan dari kalangan komunitas manusia lain, berganti faktor dari dalam yang merupakan dorongan psikologis. Perlu digarisbawahi, evolusi yang terus bergulir tetap menyisakan wujud budaya dari masa lalu di tengah kebaruan budaya yang terus dicapai, hanya saja memang yang berasal dari masa lalu tidak lagi dominan membentuk kondisi dan lingkungan zaman. Pada masa kini pun masih terdapat manusia yang berlari untuk menghindari hewan buas maupun serangan musuh atau penjahat, pun masih terdapat kelompok sosial yang memiliki keterampilan berlari sebagai keahlian diri, tetapi mayoritas massa berlari tidak untuk itu. Pada masa kini kerumuman massa berlari untuk eksistensi diri.

Pertanyaanya, sebagai bagian dari budaya manusia yang terus mengalami evolusi seiring pergantian zaman, apakah pada masa depan manusia masih akan berlari? Atau manusia akan berlari dengan dorongan yang sama seperti dahulu nenek moyangnya berlari untuk menghindari serangan hewan buas, hanya saja pada masa depan kita akan berlari karena dikejar oleh mesin cerdas yang ironisnya kitalah penciptanya? Atau bisa jadi lari akan menjadi artefak budaya masa lalu yang sekedar diceritakan dari mulut ke mulut dan dari lembaran ke lembaran kertas untuk menjadi pengingat bagi generasi mendatang, bahwa dahulu nenek moyangnya adalah makhluk yang berlari? Dua pertanyaan ini tidak membutuhkan waktu lama untuk mengetahui jawabannya di tengah arus perubahan zaman yang semakin cepat. Paling lambat 30 tahun ke depan kita akan bersama-sama melihat wujud baru lari sebagai budaya manusia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar