Senin, 25 November 2019

Kebutuhan Umat Islam Terhadap Sains

Dari Salah Paham Hingga Anti-Sains

Suatu pagi, istri membuka diskusi perihal sekalangan umat Islam di media sosial yang berpandangan bahwasanya risalah Islam tidak diturunkan untuk sains, walaupun kalangan ini tidak menolak pentingnya memajukan sains. Oleh kalangan ini, sains dipahami sebagai hukum alam dan pemanfaatannya, sementara itu risalah Islam ditujukan agar manusia mengenal Tuhan. Dengan pandangan tersebut kalangan ini menyatakan jika seorang Muslim bisa mengenal Tuhannya, maka tinggal di dalam gua layaknya generasi manusia terdahulu lebih baik daripada hidup di tengah lingkungan dengan peran teknologi canggih seperti pada zaman kini. Dari pernyataan-pernyataannya di media sosial, sebagaimana disampaikan dan ditunjukkan oleh istri, sekalangan umat Islam ini menganut pandangan yang mempertentangkan antara risalah Islam dengan sains tanpa kesan meniadakan salah satunya. 

Saya mendapati di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam yang menganut pandangan seperti di atas merupakan kalangan awam sains, yakni kalangan yang memang tidak mempelajari sains secara khusus dan karenanya bukan merupakan pelaku sains atau tidak tergolong sebagai ilmuwan sains. Dengan statusnya yang demikian, pandangan yang dianut kalangan ini dilandasi kesalahpahaman terhadap sains disebabkan tidak memiliki pemahaman yang cukup dan mendasar terhadap sains. Namun demikian, pandangan seperti di atas bukan tergolong anti-sains karena masih melihat sisi positif dari perkembangan sains, walaupun relasi dan kebermanfaatannya terhadap Islam diafirmasi negatif. Dengan kata lain menurut pandangan ini Islam tidak membutuhkan sains untuk mencapai tujuannya. 

Pandangan yang serupa dengan di atas adalah sekalangan umat Islam yang berpendapat bahwasanya yang terpenting dari Al-Qur’an adalah menghafalnya huruf demi huruf, tanpa pemahaman bahwasanya Al-Qur’an harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, sambil di sisi yang lain kalangan ini kerapkali saya dapati merendahkan sains dengan argumentasi sains tidak dibutuhkan oleh umat Islam untuk kehidupan akhirat dan tidak akan ditanyakan di alam kubur kelak oleh malaikat. Pandangan ini dan pandangan di atas memiliki kesamaan perihal kesalahpahamannya terhadap sains yang menjadikannya salah paham pula terhadap relasi Islam dengan sains. Yang lebih penting lagi untuk disoroti adalah kedua pandangan ini merupakan pintu masuk bagi faham Sekularisme untuk menjangkiti umat Islam dengan memisahkan antara Islam dengan sains. 

Kesalahpahaman terhadap sains yang lebih fatal dibandingkan dua pandangan di atas ialah pandangan anti-sains di kalangan umat Islam, seperti kita temui dalam persoalan bumi datar, perjalanan ke luar angkasa dan pendaratan di Bulan yang dinilai bertentangan dengan Wahyu, padahal telah diafirmasi kebenarannya oleh sains melalui observasi maupun eksperimentasi. Pandangan anti-sains yang dianut oleh umat Islam paling tidak didasari dua latarbelakang. Argumentasi pertama yang secara luas dipegang oleh sekalangan umat Islam penganut anti-sains adalah Wahyu bersifat final dan meliputi seluruh dimensi kehidupan manusia, karenanya umat Islam tidak membutuhkan sains untuk menjalani kehidupan sehari-hari, apalagi untuk mencapai surga yang dijanjikan Tuhan. Pandangan ini didapati dalam persoalan Thibbun Nabawi yang dijadikan sebagai bukti bahwa Islam telah selesai dan sempurna, sehingga umat Islam tidak membutuhkan capaian kedokteran modern. Kasus lainnya didapati pada praktik tahnik yang didukung pemahaman terhadap kesempurnaan tubuh manusia sebagai sebaik-baik ciptaan Tuhan yang mendasari penolakan umat Islam terhadap vaksinasi. Argumentasi ini memiliki kesamaan dengan pandangan yang dianut pihak gereja pada Abad Pertengahan yang menolak observasi dan eksperimentasi sebagai metode sains sebagaimana dilakukan oleh Copernicus, Bruno, dan Galileo dengan pandangan bahwa seluruh permasalahan telah selesai dengan Kitab Suci.

Argumentasi kedua yang mendasari pandangan anti-sains di kalangan umat Islam adalah kecurigaan terhadap capaian sains modern sebagai konspirasi Yahudi yang notabene merupakan musuh umat Islam hingga Hari Kiamat untuk melawan dan menjatuhkan umat Islam. Berdasar pandangan tersebut tidak ada jalan bagi umat Islam selain menolak sains modern yang merupakan capaian musuh Islam, sebagaimana penolakan terhadap vaksinasi oleh sekalangan umat Islam karena dinilai sebagai intrik Yahudi untuk melemahkan generasi penerus umat Islam. Argumentasi ini dapat dilacak kemiripannya dengan pandangan kaum Luddite di awal Revolusi Industri yang mencurigai capaian sains modern karena dipandang bertentangan dengan gaya hidup dan nilai-nilai kehidupan yang telah mapan, seperti penolakan terhadap estetika pabrik karena meyakini keindahan hanya dapat dicapai melalui keterampilan tangan seniman, bukan mesin pabrik.

Belajar dari pengalaman sejarah gereja, pandangan anti-sains dari kalangan agamawan atau kalangan beragama harus mengalami kekalahan karena tidak mampu mengikuti kemajuan zaman yang berakhir dengan tersingkirnya agama dari ruang publik karena tidak mampu beradaptasi dengan cara kehidupan yang baru. Sedangkan kalangan Luddite sedikit lebih cerdik, alih-alih menolak Revolusi Industri justru menikmati capaiannya dalam bentuk lingkungan kehidupan yang lebih mudah dan nyaman bagi manusia. Apakah kalangan serupa dari umat Islam akan berakhir seperti nasib gereja atau ketakberdayaan kaum Luddite? Tentu kita tidak menginginkan nasib demikian menimpa umat Islam.

Meluruskan Salah Paham

Tulisan ini bertujuan untuk meluruskan kesalahpahaman di kalangan umat Islam terhadap sains dan relasinya dengan Islam, dengan berangkat dari pertanyaan, apakah risalah Islam memang tidak diturunkan untuk sains? Menemukan jawaban pertanyaan ini harus diawali dengan menemukan jawaban perihal tujuan risalah Islam diturunkan oleh Tuhan, yakni untuk memberi keselamatan bagi manusia dalam kehidupan di dunia dan terlebih lagi di akhirat. Dalam kehidupan dunia, tujuan Islam adalah untuk membentuk realitas kehidupan seluruh makhluk Tuhan yang berlandaskan dan berkesesuaian dengan risalah Islam. Jawaban ini akan dengan mudah dinilai problematis oleh sekalangan umat Islam yang mereduksi Islam sebatas persoalan kehidupan akhirat dengan merendahkan kehidupan dunia yang dipandang sebagai penjara bagi umat Islam. Sanggahan terhadap pandangan reduktif tersebut adalah jika risalah Islam menghendaki umat Islam menjauhi kehidupan dunia, tentulah menjadi tidak bermakna perjalanan Hijrah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersama generasi pertama umat Islam untuk membentuk masyarakat Islam di Madinah yang berujung dengan kemenangan dakwah Islam pada peristiwa Fathu Mekah.

Setelah mengetahui tujuan risalah Islam, untuk mengetahui relasinya dengan sains, mengharuskan kita mengetahui tujuan dan ruang lingkup sains. Saya mulai dari poin kedua, ruang lingkup atau obyek materi sains meliputi seluruh makhluk Tuhan meliputi sains alam yang mengkaji manusia dari aspek biologis, kimiawi, sekaligus fisiologis; hewan; tumbuhan; hingga mineral, dan sains sosial humaniora yang khusus mengkaji manusia sebagai makhluk berakal beserta budaya yang diciptanya. Dengan ruang lingkup yang luas tersebut, sains memiliki tujuan untuk memahami, memprediksi, dan mengontrol realitas kehidupan. Tujuan terakhir berkaitan dengan ruang lingkup sains yang berorientasi mencipta teknologi, yakni sains terapan atau lebih dikenal dengan ilmu-ilmu teknik. Di sinilah letak kesalahpahaman pandangan yang menyatakan sains tidak lebih sebatas hukum alam dan pemanfaatannya yang menandakan ruang lingkup sains hanya sebatas ilmu-ilmu kealaman.

Relasi Islam dengan sains dibutuhkan umat Islam untuk mewujudkan tujuan Islam dalam ranah kehidupan dunia yang secara konseptual mengharuskan umat Islam melakukan dua langkah terkait pemanfaatan sains untuk mencapai tujuan tersebut. Langkah pertama, untuk memahami risalah Islam yang berkaitan dengan ayat-ayat Kauniyah, mutlak dibutuhkan sains untuk memahami realitas kehidupan makhluk, sehingga pemahaman terhadap Wahyu menjadi tepat sekaligus tidak bertentangan dengan kerja keilmuan sains yang bersandarkan pada observsi dan eksperimentasi. Setelah Wahyu dipahami secara holistik, salah satunya dengan melibatkan sains, langkah selanjutnya yang harus dilakukan umat Islam adalah merubah realitas kehidupan makhluk agar mencapai idealitas Islam dengan melibatkan sains untuk memprediksi dan mengontrol realitas dalam mengamalkan risalah Islam.

Saya jelaskan singkat satu contoh agar lebih mudah dipahami kebutuhan umat Islam terhadap sains untuk mewujudkan keselamatan dalam kehidupan dunia bagi seluruh makhluk Tuhan. Dalam kehidupan ekonomi, risalah Islam menghendaki terwujudnya keadilan bagi seluruh manusia untuk dapat mengakses sumber ekonomi dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Untuk memahami dan mengamalkan risalah Islam tersebut, umat Islam membutuhkan sains ekonomi yang menghubungkan Wahyu dengan realitas kehidupan manusia. Perubahan terhadap realitas kehidupan ekonomi manusia agar sesuai dengan tujuan Islam tidaklah dapat diwujudkan dengan sebatas membaca dan menghafal Al-Qur’an huruf demi huruf karena tidak hanya untuk itu risalah Islam diturunkan Tuhan kepada manusia, dan memang tidak dengan cara itu risalah Islam digunakan untuk merubah realitas dunia. 

Kebutuhan terhadap sains tidak berarti seluruh paradigma sains dapat dipergunakan umat Islam untuk mencapai tujuan Islam karena sains tidak bebas nilai, dan terikat dengan nilai-nilai yang dianut oleh perumusnya. Untuk memahami, memprediksi, dan mengontrol realitas kehidupan makhluk sesuai dengan risalah Islam, yang dibutuhkan oleh umat Islam ialah sains yang berasaskan dan bersumberkan dari Islam karena untuk mewujudkan tujuan Islam dalam kehidupan dunia hanya dapat dicapai melalui jalan Islam dengan mengendarai sains Islam. Tidaklah tujuan Islam di bidang ekonomi dapat dicapai melalui jalan clash of economic class dengan mengendarai kendaraan Marxisme atau melalui jalan laissez faire dengan mengendarai kendaraan Kapitalisme.

Realitas kehidupan dunia yang sesuai, atau paling tidak mendekati idealitas Islam dinyatakan sebagai Peradaban Islam yang merupakan realisasi risalah Islam dalam lingkup kehidupan dunia. Dikarenakan Islam menganut pandangan Tauhid yang tidak memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat, maka membangun Peradaban Islam yang mutlak membutuhkan sains sebagai upaya mewujudkan tujuan Islam merupakan amal shalih yang berpahala, sehingga kerja peradaban yang dilakukan umat Islam di dunia mempengaruhi kualitas kehidupan akhirat yang kelak akan dialaminya. Di sinilah kesalahanpahaman pandangan yang menyatakan tidak adanya relasi antara risalah Islam dengan kemajuan sains, karena perkembangan sains Islam justru akan memudahkan umat Islam untuk memahami, memprediksi, dan mengontrol realitas kehidupan makhluk dalam rangka mewujudkan tujuan Islam. 

Terakhir, pernyataan yang dilontarkan bahwasanya lebih baik mengenal Tuhan tetapi hidup di dalam gua menurut saya sekedar retorika saja yang emosional, tanpa nalar yang benar. Pertanyaannya, apakah memang benar kita mau hidup di dalam gua sebagaimana dahulu nenek moyang kita, yang berarti kita harus meninggalkan seluruh kenyamanan dan kemudahan hidup yang diberikan sains modern? Kalaulah benar, mampukah kita hidup di dalam gua dengan penguasaan pengetahuan yang kita miliki saat ini dan model pengetahuan yang kita gunakan pada zaman kini? Apakah kita menguasai pengetahuan dan memiliki keterampilan membuat api dari batu atau kayu untuk menghangatkan tubuh pada malam hari, tanpa selimut apalagi penghangat elektrik? Bagaimana dengan penguasaan pengetahuan dan keterampilan mendapatkan dan memilih makanan di hutan yang aman bagi tubuh kita dan mengolahnya untuk siap disantap? Bagaimana pula dengan kemampuan mempertahankan diri dari serangan hewan buas, apakah kita memiliki keterampilan untuk itu? 

Deretan pertanyaan di atas saya lontarkan untuk menyatakan bahwa generasi manusia terdahulu yang hidup di dalam gua menguasai pengetahuan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dalam kondisi lingkungan demikian, tidak terkecuali generasi pertama Islam, walaupun pengetahuan yang dimiliki tergolong tacit knowledge, yakni pengetahuan yang tidak terstruktur sebagaimana sains yang kita gunakan untuk bertahan hidup pada zaman kini. Oleh karenanya menjadi tidak relevan memisahkan antara sistem keyakinan dengan sistem pengetahuan karena apapun keyakinan generasi manusia terdahulu, apakah Animisme, Dinamisme, ataukah Tauhid, keyakinan tersebut dijadikan landasan oleh manusia merumuskan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan. Jangan sampai untuk mengenal Tuhan memutuskan tinggal di dalam gua tanpa menguasai sains yang konteks dengan model bermukim di dalam gua, karena Tuhan belum dikenali bisa jadi tubuh kita lebih dahulu menemui ajal. Di sinilah Peradaban Islam sebagai titik ideal kehidupan manusia melenyapkan pandangan dualitas yang gegabah tersebut dengan menyediakan ruang kehidupan yang mendekatkan manusia kepada Tuhannya sekaligus memberi kemudahan dan kenyamanan bagi tubuhnya untuk menjalani kehidupan di dunia. 

Sebagai kesimpulan, untuk merealisasikan tujuan Islam dalam kehidupan dunia yang terhubung dengan kehidupan akhirat, umat Islam membutuhkan sains yang memiliki kemampuan untuk memahami, memprediksi, dan mengontrol realitas sesuai dengan risalah Islam. Menjawab pertanyaan di bagian awal bagian ini, bahwasanya diturunkannya risalah Islam oleh Tuhan kepada manusia membawa konsekuensi bagi umat Islam untuk menguasai sains agar risalah dari Tuhan dapat direalisasikan dalam kehidupan. Oleh karenanya Tuhan menetapkan status manusia sebagai Khalifatullah dan mewajibkan baginya untuk menuntut ilmu sepanjang hidupnya di dunia. Tidaklah pantas bagi umat Islam yang diturunkan kata Iqra’ sebagai Wahyu pertama kepada Rasulullah Shaallallahu Alaihi Wasallam, mengusung pandangan yang memisahkan antara Islam dan sains, apalagi hingga mengidap keyakinan anti-sains. Bagi saya,sekalangan umat Islam yang menganut pandangan tersebut, bukan saja anti Peradaban Islam, tetapi juga bertentangan dengan risalah Islam!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar