Sabtu, 09 November 2019

Maulidan di Era Revolusi Industri 4.0

Realitas Maulid 

Maulid Nabi merupakan Hari Besar Islam atas kelahiran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang ditetapkan jatuh pada 12 Rabiul Awal setiap tahunnya dalam perhitungan kalender Hijriyah. Beragam cara dilakukan umat Islam untuk menyambut dan mengisi Maulid Nabi yang pada tahun ini jatuh bertepatan pada hari Sabtu, 9 November 2019. Sebagian umat Islam merayakan Maulid Nabi dengan mengadakan pertemuan khusus yang telah mentradisi sejak beratus-ratus tahun silam seperti pembacaan kitab Barzanji, Daiba’, dan menyenandungkan qasidah Burdah, maupun menyelenggarakan pengajian yang bersifat umum dengan tema seputar sejarah kehidupan Nabi untuk mengenal sosok Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan mempelari serta mengambil Hikmah dari kisah hidup beliau. Sementara itu sebagian umat Islam yang lain menyambut kedatangan Maulid Nabi dengan penolakan melalui tulisan maupun pengajian bahwasanya Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah merayakan hari kelahiran beliau apalagi memerintahkan umat Islam untuk merayakannya. Namun demikian, kalangan umat Islam yang menyambut kedatangan Maulid Nabi dengan positif maupun negatif memiliki kesamaan, yakni apa yang dilakukan merupakan ekspresi kecintaannya kepada Kekasih Allah, hanya saja berbeda dalam penilaian dan pengungkapan terkait dengan pemahaman keagamaan masing-masing pihak. 

Bagi saya, Maulid Nabi dan Hari Besar Islam lainnya seperti Tahun Baru Islam tidak lebih sebagai wujud Kebudayaan Islam yang derajatnya tidak mungkin sejajar apalagi melampaui ibadah maghdah. Pernyataan ini dengan jelas menunjukkan posisi saya termasuk bagian dari kalangan yang menerima positif keberadaan Maulid Nabi sebagai peristiwa monumental dalam sejarah kehidupan umat manusia, bahkan alam semesta. Hanya saja saya mempersoalkan, seperti apa seharusnya Maulid Nabi dirayakan pada masa kini agar relevan dengan kondisi zaman? Melalui pertanyaan ini saya hendak membuka pintu diskusi baru terkait perayaan Maulid Nabi untuk tidak lagi memperdebatkan statusnya maupun tata cara pelaksanaannya agar sesuai dengan batas-batas yang ditetapkan Islam, tetapi relevansinya terhadap kondisi kehidupan umat Islam pada masa kini. 

Sebagai bagian dari Kebudayaan Islam, perayaan Maulid Nabi terikat dengan hukum kebudayaan yang bersifat kontekstual karena terikat dimensi ruang dan waktu. Dengan pemahaman ini, Maulid Nabi pada masa awal dirayakannya bisa jadi, bahkan sudah seharusnya berbeda dengan perayaan Maulid Nabi pada masa Revolusi Industri 1.0, apalagi dengan masa Revolusi Industri 4.0 pada masa kini yang tengah membentuk lanskap kehidupan umat Islam jauh berbeda dibandingkan masa-masa sebelumnya. Berangkat dari latarbelakang ini saya berpandangan perayaan Maulid Nabi dengan menyelenggarakan pengajian yang di dalamnya disampaikan sejarah kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam apa adanya berdasarkan periwayatan yang valid tidak lagi memadai menjadi landasan ilmu bagi umat Islam, paling tidak sebagian umat Islam dari kalangan terdidik, untuk berperan aktif membentuk serta menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan kontemporer akibat kehadiran komputer canggih atau Artificial Intellegent, dan lebih jauh lagi untuk merekonstruksi Peradaban Islam masa depan. 

Maulid dan Masa Depan 

Ziauddin Sardar, seorang ahli Futurologi dari kalangan umat Islam yang menelurkan gagasan the Future Madinah sebagai model Peradaban Islam masa depan memiliki pandangan, bahwasanya langkah awal yang harus dilalui umat Islam untuk mewujudkan Peradaban Islam masa depan adalah menafsirkan sejarah kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sesuai dengan tantangan kehidupan yang sedang dihadapi umat Islam pada masa kini sekaligus sesuai dengan agenda masa depan yang sedang diupayakan umat Islam untuk diwujudkan. Sehingga oleh Sardar, Sirah Nabawiyah tidak lagi memadai diceritakan, diajarkan, dan ditulis apa adanya karena menjadikannya tidak relevan dengan konteks ruang dan waktu masa kini akibat perbedaan kondisi kehidupan yang jauh berbeda antara Jazirah Arab pada abad 7 masehi dengan kondisi global pada abad 21 masehi. Dengan menafsirkannya sesuai dengan konteks ruang dan waktu kekinian, menurut Sardar, Sirah Nabawiyah akan mampu menjadi pemandu yang jelas dan terang bagi umat Islam untuk menghadapi berbagai permasalahan kehidupan kontemporer hingga menjadi jalan yang terarah bagi umat Islam untuk mewujudkan Madinah masa depan. 

Meminjam pemikiran Ziauddin Sardar, melalui tulisan ini saya menawarkan gagasan untuk mewarnai perayaan Maulid Nabi pada tahun ini dan tahun-tahun mendatang dengan berupaya menginterpretasikan Sirah Nabawiyah agar menjadi nafas bagi umat Islam untuk hidup dan berkehidupan di dalam ruang Revolusi Industri 4.0. Dengan begitu Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah yang merupakan sifat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam harus dijelaskan penerapannya dalam konteks interaksi antar manusia yang diperantarai Kecerdasan Buatan, maupun antara manusia dengan Kecerdasan Buatan itu sendiri yang sudah menjadi perilaku lazim pada masa kini. Begitupula fase kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang secara sederhana dibedakan menjadi periode Mekah dan Madinah harus pula dijelaskan relevansinya dengan kondisi zaman di mana Kecerdasan Buatan diberikan otoritas untuk memproses data hingga pengambilan keputusan, sehingga tidak dapat dihindari pengaruhnya terhadap pembentukan kondisi kehidupan umat manusia. Belum lagi peristiwa Hijrah yang merupakan tonggak awal bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan generasi pertama umat Islam mencapai kemenangan demi kemenangan yang berujung pada peristiwa Fathu Makkah harus dipahami dalam konteks eksistensi manusia di tengah serbuan mesin yang memiliki tingkat intelegensia tinggi. 

Dengan kerja keilmuan menginterpretasikan Sirah Nabawiyah yang dituangkan dan digaungkan dalam momen Maulidan di era Revolusi Industri 4.0 akan meneguhkan relevansi perayaan Maulid Nabi bagi umat Islam di tengah zaman kontemporer dengan menempatkan sosok Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai uswah hasanah, yakni teladan sekaligus pemandu yang jelas dan terang bagi umat Islam untuk keluar dari kemelut zaman ketidakpastian menuju masa depan Peradaban Islam masa depan di mana manusia hidup di tengah alam bersama teknologi cerdas yang diciptanya untuk kebahagiaan umat manusia seluruhnya. Begitulah sepatutnya kecintaan kepada Nabi dipupuk dan diekspresikan pada masa kini agar Islam senantiasa relevan sepanjang zaman! 

Allahu a’lam bishawab. 
Bertempat di Kartasura pada 12 Rabiul Awal 1441 Hijrah Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar