Kamis, 21 November 2019

Minaret, Nasibmu Kini


Dua Pendapat

Perbincangan mengenai minaret sebagai unsur arsitektural yang oleh mayoritas umat Islam diidentikkan dengan masjid, tidak ada habisnya hingga hari ini menyoal asal muasal penerapan minaret pada masjid, masjid pertama yang menerapkan minaret, dan relevansi keberadaan minaret di masjid pada masa kini terkait dengan fungsinya sebagai ruang bagi muadzin untuk mengumandangkan adzan dari ketinggian agar terdengar oleh umat Islam dari kejauhan. Tulisan ini akan mengulas persoalan yang terakhir dengan menimbang dua pendapat berbeda mengenai relevansi keberadaan minaret pada masa kini sebagai unsur arsitektural masjid.

Pendapat pertama menyatakan bahwasanya keberadaan minaret di masjid tidak lagi dibutuhkan pada masa kini karena secara fungsional telah tergantikan dengan teknologi pengeras suara modern, sehingga suara adzan dapat berkumandang dari masjid dengan lingkup yang luas tanpa muadzin harus naik ke atas minaret. Pada masa lalu ketika belum ditemukan teknologi pengeras suara elektronik, keberadaan minaret menjadi penting di masjid untuk melaksanakan perannya mewadahi dan menyelenggarakan peribadatan maghdah. Semakin luas suatu kota, kebutuhan untuk melantangkan suara adzan seluas mungkin pun semakin mendesak yang diupayakan dengan menambah jumlah muadzin, jumlah tingkatan minaret hingga jumlah minaret di masjid, sehingga sebuah minaret dapat mewadahi lebih dari 1 orang muadzin, dan 1 masjid dapat mengumandangkan adzan ke seluruh penjuru kota sejumlah muadzin dan minaret yang dimiliki. 

Ketiadaan kebutuhan secara fungsional terhadap keberadaan minaret di masjid, dikuatkan dengan argumentasi bahwasanya pembangunan minaret tanpa didasari kebutuhan fungsional merupakan sikap berlebih-lebihan kalau tidak dikatakan pemborosan. Terlebih saat ini kondisi kehidupan ekonomi umat Islam di Indonesia tidaklah merata di mana mayoritasnya merupakan kalangan ekonomi menengah dan menengah bawah, sehingga sumber daya finansial umat Islam yang diperuntukkan untuk membangun minaret yang dalam banyak kasus hampir setengah dari biaya keseluruhan pembangunan masjid, lebih tepat jika dialokasikan untuk menyelenggarakan program pemberdayaan umat.

Di sisi yang lain terdapat pendapat kedua yang menyatakan, walaupun secara fungsional keberadaan minaret di masjid tidak lagi dibutuhkan karena telah tergantikan teknologi maju, tetapi secara simbolik tetap dibutuhkan sebagai penanda keberadaan masjid untuk memudahkan umat Islam mengetahui posisi masjid di lingkungan kehidupannya. Pandangan ini dilandasi argumentasi persepsional bahwasanya minaret dalam memori kolektif umat Islam telah diidentikkan dengan masjid, sehingga keberadaannya di masjid merupakan penanda dari kehadiran masjid di tengah komunitas umat Islam. Selain itu untuk menyanggah pendapat pertama terkait aspek ekonomi pembangunan minaret, pendapat kedua melontarkan fenomena difungsikannya minaret masjid sebagai pemancar jaringan komunikasi nirkabel melalui mekanisme sewa kepada operator jaringan selular, sehingga keberadaan minaret pada masa kini memiliki potensi nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan masjid untuk melangsungkan perannya memberdayakan umat Islam. 

Minaret dan Peradaban

Di antara kedua pendapat di atas, saya memiliki pendapat sendiri yang bisa saja dikatakan sebagai pendapat ketiga atau sintesa dari kedua pendapat sebelumnya. Saya berpendapat secara fungsional minaret memang tidak lagi dibutuhkan, tetapi tidak berarti keberadaan minaret di masjid menjadi tidak relevan pada masa kini karena dimensi arsitektur tidak hanya meliputi aspek fungsionalitas. Tidak lebih penting dari fungsi adalah aspek identitas dan bahasa atau makna yang menurut saya merupakan fungsi simbolik dari suatu unsur arsitektur, tidak terkecuali minaret. Saya sepakat keberadaan minaret sebagai penanda posisi masjid untuk memudahkan umat Islam mengetahui kehadiran masjid di tengah lingkungan kehidupannya. Namun demikian, saya pun tidak bisa menyepakati jika minaret sebagai penanda masjid diterapkan untuk seluruh tipe masjid tanpa memperhatikan konteks keruangan dan kondisi kehidupan umat Islam di lingkungan sekitar masjid.

Minaret sebagai penanda masjid utamanya diterapkan di masjid jami’ yang memiliki peran dalam skala kota. Minaret masjid jami’ yang menjulang tinggi di tengah kota akan membentuk garis langit kota mengimbangi ketinggian gedung-gedung berfungsi ekonomi dan politik, sehingga terbuka kemungkinan terbentuknya identitas kota yang mencitrakan Islam dan terbentuknya lingkungan kehidupan kota yang bernuansakan Islam. Inilah ciri khas kota Islam sejak zaman dahulu dengan minaret masjid jami’ sebagai unsur arsitektural tertinggi pembentuk ruang kota. Selain itu tentu kita sebagai umat Islam tidak bisa menerima jika di suatu kota di mana umat Islam merupakan warga mayoritas dan dari aspek kesejarahan kota lekat dengan perjuangan Islam terdapat simbol-simbol umat lain yang menjulang tinggi membentuk garis langit kota dan menjadi ikon kota. 

Mengingat perannya dalam skala kota dan berlokasi di pusat kota yang erat dengan kegiatan ekonomi, saya pun sepakat bahwasanya keberadaan minaret di masjid jami’ dapat dimanfaatkan sebagai pemancar komunikasi atau fasilitas lainnya yang bernilai ekonomi untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat Islam pada khususnya, dengan catatan fasilitas tersebut dimiliki oleh umat Islam dan dikelola oleh masjid. Misal, keberadaan pemancar komunikasi di minaret merupakan fasilitas pendukung untuk menyebarluaskan siaran televisi, radio, atau semisalnya yang berpusat dan diproduksi oleh umat Islam di masjid jami’. Dengan begitu, potensi nilai ekonomi minaret di masjid jami’ ditujukan untuk mewujudkan kemandirian umat Islam di bidang ekonomi, bukan justru dimanfaatkan oleh pihak lain untuk kepentingan ekonomi segelintir orang atau golongan tertentu yang tidak berdampak langsung terhadap perbaikan dan peningkatan kualitas kehidupan umat Islam. 

Keberadaan minaret berikut fasilitas pendukungnya di masjid jami’ dimungkinkan dari segi ketersediaan sumber daya finansial karena dalam pembangunannya di Indonesia melibatkan pihak pemerintah, pengusaha Muslim, ormas Islam, hingga keterlibatan dari negara Muslim lain. Sedangkan keberadaan minaret di masjid permukiman atau masjid kaum menurut istilah yang digunakan oleh Syaikh Yusuf Qaradhawi, pada masa kini tidak relevan lagi dari aspek fungsional sebab teknologi pengeras suara modern yang sederhana dan terjangkau secara finansial sudah dapat digunakan untuk melantangkan suara adzan sejauh lingkup area permukiman, dan juga tidak relevan dari aspek ketersediaan finansial dikarenakan pada umumnya pembangunan masjid permukiman diprakarsai dan mengandalkan sumber pendanaan secara swadaya warga permukiman. Walaupun terdapat masjid permukiman yang dibangun oleh ormas Islam, alokasi dana untuk pembangunan minaret lebih urgen ditujukan untuk memberdayakan warga permukiman di sekitar masjid mengingat peran masjid permukiman yang langsung bersentuhan dengan realitas kehidupan keseharian umat Islam.

Keberadaan minaret di masjid permukiman dapat dipertimbangkan jika terdapat kebutuhan. Salah satu konteks yang menuntut keberadaan minaret di masjid permukiman ialah lingkungan minoritas Muslim di mana sebaran antar masjid terbilang jauh dengan keberadaan masjid tidak di seluruh area permukiman yang dihuni oleh umat Islam, sementara pembangunan masjid jami’ yang memiliki skala pelayanan kota di lingkungan minoritas Muslim tidaklah selalu mudah direalisasikan. Di tengah kondisi lingkungan demikian, keberadaan minaret di masjid permukiman berperan sebagai penanda untuk memudahkan umat Islam, terlebih kalangan pendatang atau wisatawan, untuk mengetahui posisi masjid dari kejauhan, dan secara simbolik bermakna keberadaan komunitas Muslim di lingkungan minoritas yang jumlahnya tidak banyak dan kondisi kehidupannya tidak selalu mudah, menjadikan keberadaan masjid dengan minaretnya merupakan bukti atas komitmen dan hasil perjuangannya berislam dalam lingkup kesatuan sosial Ummah.

Konteks lain yang menuntut keberadaan minaret ialah di masjid kampus yang berada di lingkungan perguruan tinggi selain Islam. Satu contoh saja pembangunan minaret di Masjid Kampus UGM yang dengan ketinggiannya dapat dilihat dari seluruh sisi lingkungan kampus yang sangat luas sebagai simbol yang bermakna keterlibatan aktif civitas akademika Muslim dalam dialektika IPTEKS yang bergulir di lingkungan kampus sekaligus sebagai pengingat bagi civitas akademika Muslim yang sedang berkegiatan keilmuan di ruang kelas dan laboratorium untuk senantiasa mengarah pada kiblat kaum Muslimin, yakni mengkaitkan kerja keilmuan yang dilakukannya dengan iman Tauhid yang bersemayam di dalam hatinya. Sehingga keberadaan minaret masjid kampus di lingkungan perguruan tinggi selain Islam dapat dipahami sebagai strategi sekaligus upaya secara arsitektural untuk menghadapi tantangan Sekularisme dan Liberalisme dalam pengkajian IPTEKS.

Demikianlah pendapat saya untuk mempertahankan keberadaan minaret sebagai unsur arsitektural masjid, baik dalam lingkup masjid jami’, masjid permukiman, maupun masjid kampus. Minaret tidak bisa dan tidak patut dihilangkan begitu saja dari masjid karena merupakan tradisi umat Islam yang bermula sejak masa Umawiyah. Dalam skala peradaban, tradisi dibutuhkan umat Islam untuk menghadapai tantangan zaman kini, terlebih kita sedang hidup di tengah zaman yang terus menggerus identitas menuju universalitas atau keterpecahbelahan, sekaligus sebagai tali pengikat dan penghubung dengan masa lalu dan generasi pendahulu dalam rangka melangkah maju menatap zaman mendatang. Tanpa keduanya; tradisi dan identitas, umat Islam tidak akan memiliki kehormatan diri yang memampukannya berdiri dan menatap zaman dengan tegap, karenanya akan dengan mudah mengidap inferiority complex. Dengan mempertimbangkan hal-hal inilah seharusnya ditetapkan keputusan mengenai nasib minaret di masjid pada kini dan abad mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar