Selasa, 31 Desember 2019

Menempatkan Ibnu Sina Dengan Benar

Sumber: Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara

Sejak beberapa tahun silam beredar kabar berantai melalui media sosial yang menyatakan bahwasanya Ibnu Sina merupakan penganut Syiah, dan kabar lainnya mendakwa Ibnu Sina telah keluar dari Islam karena menghalalkan khamr bagi dirinya. Atas dasar dua tuduhan tadi, kabar berantai tersebut yang tidak dikenali penulisnya memberi arahan kepada umat Islam untuk menolak peran dan capaian keilmuan Ibnu Sina dalam sejarah Peradaban Islam. Selain itu juga mendorong umat Islam untuk menanggalkan nama Ibnu Sina pada sekolah, rumah sakit, hingga masjid karena tidak mencerminkan Islam dan mewakili umat Islam. Salah satu dari sekian banyak kabar berantai yang beredar terkesan lebih moderat dengan menyatakan pengakuannya terhadap capaian keilmuan Ibnu Sina, terutama di bidang kedokteran, sambil menolak capaiannya di bidang filsafat yang dinilai bertentangan dengan Islam. 

Dalam tulisan ini hendak diluruskan kesalahpahaman maupun ketidaktahuan terhadap dua persoalan yang dinisbatkan kepada Ibnu Sina, yakni (1) beraqidah Syiah Ismailiyah; dan (2) peminum khamr, berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh Dr. Syamsuddin Arif sebagai ahli filsafat Ibnu Sina yang telah diakui otoritasnya di dunia internasional. Untuk mengetahui dengan tepat kedua persoalan tadi, maka harus diketahui sejarah hidup Ibnu Sina yang benar, yakni merujuk pada referensi yang otoritatif. Dr. Syamsuddin Arif pada kesempatan Kelas Sehari bertajuk Ibn Sina: His Life, Thought, and Legacies yang diselenggarakan oleh Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara di Masjid Kampus UGM pada 29 Desember 2019 menjelaskan bahwa referensi yang otoritatif untuk mengetahui sejarah kehidupan Ibnu Sina ialah autobiografi yang ditulis olehnya sendiri dan dikumpulkan oleh murid beliau bernama Al-Juzjani. Naskah ini telah diperiksa, diberi komentar, dan diterjemah dalam Bahasa Inggris oleh William E. Gohlman dengan judul The Life Ibn Sina: A Critical Edition and Annotated Translation yang menampilkan teks berbahasa Arab dan terjemahnya dalam bahasa Inggris.

Jumat, 20 Desember 2019

Model Masjid Tol

Saya menilai tidak tepat pembangunan masjid di rest area tol dengan argumentasi sebagaimana telah saya sampaikan pada bagian sebelumnya dari tulisan ini. Menurut saya, keberadaan mushala dengan kapasitas yang disesuaikan dengan jumlah pengunjung tertinggi dalam setahun, misalkan pada masa mudik lebaran, sudah cukup untuk mewadahi kegiatan ibadah shalat dan beristirahat yang merupakan kebutuhan mendasar pengguna maupun pegawai di rest area tol. Namun demikian, kehadiran masjid tol dimungkinkan jika terpenuhinya syarat modal sosial yang bersifat tetap. Inilah yang hendak saya bincangkan pada bagian kedua tulisan ini dengan menawarkan dua model masjid tol. Perlu dipahami, pendekatan model yang saya gunakan bersifat ideal, karenanya diperlukan kontekstualisasi, penjabaran, dan penyesuaian untuk dapat diterapkan di berbagai tempat dengan kondisi lingkungan yang berbeda-beda. 

Model pertama, pembangunan masjid tol dilengkapi fasilitas asrama yang diperuntukkan untuk tempat bermukim modal sosial masjid dengan kapasitas paling tidak 40 orang menyesuaikan dengan syarat minimal dilaksanakannya peribadatan Shalat Jumat menurut salah satu pendapat dalam Fikih. Mengenai modal sosial masjid tol, pihak pembangun atau pewakaf masjid dapat menjalin kerjasama dengan Ormas Islam, seperti Muhammdiyah, NU, Persis, Al-Irsyad, Hidayatullah, Wahdah Islamiyah, atau yang lainnya. Salah satu mekanisme yang dapat diterapkan ialah mengutus santri yang telah dinyatakan lulus dan siap berdakwah, atau dai yang telah berpengalaman, untuk bermukim di area masjid tol sebagai modal sosial masjid yang bersifat tetap.

Masjid Tol dan Permasalahannya

Pembangunan tol trans Jawa yang menghubungkan sisi Timur hingga sisi Barat Pulau Jawa diiringi dengan pembangunan masjid di rest area tol. Yang menarik dari fenomena pembangunan masjid tol adalah desain arsitekturnya yang atraktif, bahkan akrobatik, dan keluar dari pakem masjid yang dipahami secara persepsional oleh masyarakat Muslim di Indonesia yang pada umumnya mengidentifikasi masjid dengan bentuk denah persegi, atap kubah atau tajug, dan komposisi bentuk visual yang simetris. Melihat dari perspektif ini, fenomena tumbuh suburnya masjid tol dengan karakter visual di luar keumuman bagaikan galeri portfolio high-architecture yang memiliki daya tarik kuat bagi umat Islam untuk datang, beribadah, dan mendokumentasikannya. Dilihat dari perspektif yang lebih fungsional, penonjolan unsur estetika pada masjid tol berfungsi sebagai penanda keberadaan rest area agar mudah dilihat oleh pengguna tol yang berada di dalam kendaraan dengan kecepatan tinggi. Bentukan arsitektur masjid tol yang tidak lazim bertujuan untuk menarik perhatian pengguna tol dari kejauhan di tengah lingkungan jalan tol yang monoton dan datar, agar pengendara memiliki waktu yang cukup untuk mengambil keputusan memasuki jalur rest area ataukah melanjutkan perjalanan.

Gambar: Masjid al-Safar di rest area tol Purbaleunyi

Senin, 02 Desember 2019

Mengendarai Mobil Memasuki Era 4.0

Kedigdayaan Mobil 

Ketika menyampaikan materi bertajuk “Wacana Keilmuan dan Keislaman, Masih Relevankah?” yang diselenggarakan oleh BEM Universitas Muhammadiyah Surakarta di Griya Mahasiswa UMS pada 13 November 2019 silam, seorang peserta diskusi menyampikan pandangannya bahwa dengan sumber daya yang dimiliki, seharusnya Indonesia dapat memproduksi mobil nasional. Di akhir kesempatan, yang bersangkutan menyampaikan pertanyaan, apakah langkah demikian sesuai dengan iklim Revolusi Industri 4.0 yang saat ini sedang menjadi buah bibir di kalangan bangsa Indonesia dari tingkat presiden hingga mahasiswa? Untuk menjawab pertanyaan ini saya menyampaikan dua argumentasi terkait kesejarahan mobil untuk mengetahui konteks ruang dan waktu yang melahirkan mobil dan karakteristik Revolusi Industri 4.0 yang membentuk trend dan kondisi kehidupan manusia untuk mengetahui relevansi mobil di tengah zaman baru.

Ditinjau dari aspek kesejarahannya, produksi mobil pribadi secara massal yang diawali dengan Ford Model T tidak dapat dilepaskan dari kondisi zaman Revolusi Industri 2.0 pada akhir abad 19 di mana produksi pabrik semakin efisien dengan sistem assembly line yang menerapkan teknologi ban berjalan, serta digantikannya mesin-mesin pabrik yang awalnya bertenaga uap menjadi mesin bertenaga listrik. Dua kali Revolusi Industri mendorong terjadinya peningkatan kondisi ekonomi masyarakat akibat perubahan model produksi dari pertanian menjadi industri pabrik. Hukum Malthus pun berkerja, meningkatnya kondisi ekonomi menyebabkan meningkatnya jumlah penduduk. Dampaknya ialah kota-kota tradisional tidak mampu untuk mewadahi pertumbuhan jumlah penduduk yang signifikan, sehingga dilakukan perluasan wilayah kota, selain perubahan infrastruktur kota akibat berubahnya model produksi. Fenomena ini mendominasi dua era Revolusi Industri dengan trend perluasan kota tradisional maupun tumbuhnya kota-kota baru dengan wilayah yang luas untuk menggerakkan ekonomi berbasis industri pabrik yang melibatkan pekerja dalam jumlah besar untuk melakukan produksi massal.