Jumat, 20 Desember 2019

Masjid Tol dan Permasalahannya

Pembangunan tol trans Jawa yang menghubungkan sisi Timur hingga sisi Barat Pulau Jawa diiringi dengan pembangunan masjid di rest area tol. Yang menarik dari fenomena pembangunan masjid tol adalah desain arsitekturnya yang atraktif, bahkan akrobatik, dan keluar dari pakem masjid yang dipahami secara persepsional oleh masyarakat Muslim di Indonesia yang pada umumnya mengidentifikasi masjid dengan bentuk denah persegi, atap kubah atau tajug, dan komposisi bentuk visual yang simetris. Melihat dari perspektif ini, fenomena tumbuh suburnya masjid tol dengan karakter visual di luar keumuman bagaikan galeri portfolio high-architecture yang memiliki daya tarik kuat bagi umat Islam untuk datang, beribadah, dan mendokumentasikannya. Dilihat dari perspektif yang lebih fungsional, penonjolan unsur estetika pada masjid tol berfungsi sebagai penanda keberadaan rest area agar mudah dilihat oleh pengguna tol yang berada di dalam kendaraan dengan kecepatan tinggi. Bentukan arsitektur masjid tol yang tidak lazim bertujuan untuk menarik perhatian pengguna tol dari kejauhan di tengah lingkungan jalan tol yang monoton dan datar, agar pengendara memiliki waktu yang cukup untuk mengambil keputusan memasuki jalur rest area ataukah melanjutkan perjalanan.

Gambar: Masjid al-Safar di rest area tol Purbaleunyi

Tulisan ini tidak mempersoalkan bentukan visual arsitektur masjid tol, walaupun terbuka celah untuk mengkajinya dari aspek bentuk yang mempengaruhi fungsionalitas ruang, identitas, dan makna arsitekturnya. Tulisan ini hendak menyoroti aspek fungsi masjid tol yang oleh Sidi Gazalba ditetapkan sebagai unsur utama masjid karena aspek fungsi merupakan syarat sah yang erat berkaitan dengan tujuan masjid, sementara aspek bentukan arsitekturnya merupakan unsur sekunder masjid yang bersifat kontekstual. Meninjau dari aspek fungsinya, latarbelakang dibangunnya masjid tol adalah sebagai fasilitas peribadatan yang diperuntukkan bagi pengguna tol dan pekerja di rest area tol untuk melaksanakan ibadah shalat yang menjadi kewajibannya sebagai seorang Muslim kepada Allah. Tepat di sinilah permasalahan masjid tol ditinjau dari aspek fungsinya merujuk kepada Sidi Gazalba. Pertanyannya adalah apakah masjid hanya diperuntukkan untuk mewadahi ibadah shalat yang merupakan ibadah maghdah? Jika memang demikian, mengapa tidak dibangun mushala saja yang memiliki kapasitas sesuai dengan perhitungan tertinggi pengguna tol? Tidakkah cukup keberadaan mushala di rest area tol, dan bukan masjid? Tiga pertanyaan ini dapat ditarik lebih mendasar lagi dalam pertanyaan, apa perbedaan fundamental antara masjid dan mushala dari aspek fungsinya jika keduanya diperuntukkan untuk mewadahi ibadah shalat? 

Untuk mengurai permasalahan ini saya berpegang pada pandangan Sidi Gazalba yang menetapkan fungsi masjid terdiri dari ibadah maghdah dan ibadah ghairu maghdah. Dengan kata lain, menurut Sidi Gazalba, masjid tidak hanya berperan untuk mewadahi ibadah shalat saja yang merupakan ibadah maghdah, tetapi juga ibadah ghairu maghdah yang merupakan ibadah dalam lingkup luas meliputi seluruh aspek kehidupan umat Islam. Gazalba mendasari pandangannya tersebut dengan tiga argumentasi. Pertama, fungsi masjid sebagai pusat kehidupan umat Islam sebagai kesatuan komunitas yang disebut dengan Ummah berdasarkan pada tujuan masjid, sementara tujuan masjid berdasarkan tujuan diturunkannya risalah Islam oleh Allah kepada seluruh umat manusia. Dengan nalar tersebut, untuk mengetahui fungsi masjid, terlebih dahulu harus diketahui tujuan masjid yang juga merupakan tujuan risalah Islam. Gazalba menyatakan, tujuan risalah Islam yang juga merupakan tujuan masjid adalah untuk mewujudkan keselamatan dalam kehidupan di dunia dan kelak di akhirat bagi umat Islam. Untuk mencapai tujuannya itulah masjid berperan mewadahi dua aspek fungsi, yakni fungsi ibadah maghdah yang utamanya berorientasi akhirat, dan fungsi ibadah ghairu maghdah yang utamanya berorientasi keduniaan.

Kedua, fungsi masjid yang meliputi ibadah maghdah dan ibadah ghairu maghdah termuat dalam makna masjid yang secara tekstual berarti tempat sujud. Menurut Gazalba, sujud yang dimaksud dalam makna masjid meliputi sujud lahiriyah yang merupakan salah satu rukun shalat sebagai bagian dari ibadah maghdah, dan sujud batiniyah yang merujuk pada ibadah ghairu maghdah, karena pada hakikatnya seluruh perbuatan yang dilakukan umat Islam, walaupun untuk kepentingan dunia merupakan peribadatan kepada Allah. Ketiga, Gazalba menegaskan, istilah masjid dengan makna yang terkandung di dalamnya untuk menyebut tempat peribadatan umat Islam ditetapkan oleh Allah, bukan oleh Rasulullah Muhammad apalagi oleh umat Islam yang derajatnya lebih rendah dibandingkan beliau Shallallahu Alaihi Wasallam, sehingga merupakan ketetapan dari Allah bahwasanya masjid diperuntukkan untuk mewadahi ibadah maghdah dan ibadah ghairu maghdah. Dari argumentasi Gazalba dapat ditarik garis pemisah yang tegas antara masjid dan mushala dari aspek fungsinya yang hanya diperuntukkan untuk mewadahi ibadah shalat, sebagaimana penamaan mushala yang berarti tempat shalat. 

Menyoroti lebih lanjut tujuan masjid berkaitan dengan kehidupan keduniaan umat Islam, secara tegas dinyatakan oleh Gazalba bahwa kehadiran masjid berperan untuk mensejahterakan dan memakmurkaan kehidupan umat Islam melalui penyelenggaraan ibadah ghairu maghdah di masjid maupun di luar masjid yang diselenggarakan, dikelola, didampingi, dan/atau diawasi oleh masjid. Konsekuensi dari tujuan ini ialah masjid harus memiliki dan didukung oleh modal sosial. Merujuk kepada Moch. Fachruroji dan Bachrun A. Rifa’i dalam bukunya yang berjudul Manajemen Masjid: Mengoptimalkan Fungsi Sosial-Ekonomi Masjid, modal sosial masjid untuk mencapai tujuan masjid terdiri dari pihak pemakmur masjid dan pihak yang dimakmurkan masjid yang antara kedua pihak tersebut dijembatani aspek manajemen masjid. Pihak pemakmur masjid ialah umat Islam yang diamanahi untuk mengelola masjid, sedangkan pihak yang dimakmurkan masjid ialah umat Islam secara khusus, dan seluruh makhluk secara umum yang berada di lingkungan sekitar masjid. Karenanya dalam timbangan Gazalba dengan memperhatikan syariat Islam dan kesejarahan umat Islam, yakni Masjid Nabawi pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan generasi awal umat Islam, salah satu tolak ukur keberhasilan suatu masjid mencapai tujuannya adalah jika kehadiran masjid berdampak terhadap peningkatan kualitas kehidupan keduniaan umat Islam, meliputi kehidupan ekonomi, sosial, pendidikan, seni budaya, hingga politik.

Dari kacamata Gazalba yang dijelaskan olehnya dalam buku berjudul Mesjid: Pusat Peribadatan dan Kebudayaan Islam berangkat tahun 1959, ia mendapati fenomena yang disebutnya dengan istilah sakralisasi masjid yang merupakan reduksi peran masjid sebatas tempat untuk melaksanakan peribadatan maghdah. Fenomena ini hingga di penghujung akhir tahun 2019 masih dialami umat Islam, dan belum berhasil diatasi sejak 60 tahun lalu dijelaskan oleh Gazalba. Fenomena sakralisasi masjid yang telah terjadi dalam waktu yang teramat panjang membentuk persepsi kolektif umat Islam, terutama di Indonesia, bahwasanya masjid hanya diperuntukkan untuk melaksanakan ibadah maghdah. Dari aspek arsitektural, persepsi tadi mempengaruhi perkembangan tata ruang masjid dengan meluasnya ruang utama masjid untuk melaksanakan ibadah shalat, dan menyempitnya, bahkan menghilangnya ruang serambi masjid yang bersifat multi-fungsi untuk mewadahi beragam kegiatan umat Islam dalam koridor ibadah ghairu maghdah. Dampak dari fenomena sakralisasi masjid terhadap kehidupan keduniaan umat Islam ialah tidak adanya korelasi kehadiran dan pertumbuhan jumlah masjid terhadap peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan umat Islam yang hidup dan berkehidupan di sekitar masjid. 

Dengan cara berfikir Gazalba, mari kita tinjau masjid tol dari aspek fungsinya. Apakah kehadiran masjid didukung oleh modal sosial? Siapakah pihak yang memiliki peran untuk memakmurkan dan siapakah pihak yang dimakmurkan masjid yang berada di sekitar lingkungan masjid? Lebih menukik lagi, apakah kehadiran masjid di rest area tol berpengaruh terhadap peningkatan kualitas kehidupan keduniaan umat Islam? Kita akan kebingungan untuk menjawab rangkaian pertanyaan ini karena secara faktual masjid tol tidak memiliki modal sosial disebabkan konteks lingkungannya yang berada di jalur sirkulasi antar kota dan antar provinsi dengan tingkat mobilisasi yang tinggi, sehingga tingkat pergantian jama’ah terbilang cepat dan tidak berstatus mukim. Karenanya masjid tol tidak memiliki modal sosial yang bersifat tetap, itu pun jika lalu lalang orang dengan kecepatan yang tinggi dapat dikatakan sebagai modal sosial masjid. 

Menutup bagian ini, saya secara singkat hendak menanggapi penyamaan antara masjid kantor dan masjid kampus dengan masjid tol yang digunakan sebagai argumentasi untuk membenarkan pembangunan masjid di rest area tol. Kembali menggunakan cara berfikir yang disampaikan Sidi Gazalba, Moch. Fachruroji dan Bachrun A. Rifa’i, masjid kantor maupun masjid kampus memiliki modal sosial yang bersifat tetap, walaupun tidak bersifat mukim, meliputi pegawai kantor yang beragama Islam untuk masjid kantor dan civitas akademika yang beragama Islam untuk masjid kampus, dikarenakan dua civitas tersebut memiliki aktivitas yang rutin berlangsung dalam durasi waktu panjang di lingkungan sekitar masjid, sehingga dalam aktivitas kesehariannya bersentuhan dengan masjid kantor maupun masjid kampus secara fungsional maupun strategis. Dengan dimilikinya modal sosial yang bersifat tetap, meniscayakan masjid kantor maupun masjid kampus merealisasikan perannya dalam lingkup kehidupan keduniaan umat Islam melalui penyelenggaraan ibadah ghairu maghdah, seperti keberadaan BMT atau koperasi di masjid kantor yang diperuntukkan untuk pegawai kantor dan dijadikannya masjid kampus sebagai pusat studi ilmu keislaman bagi jama’ah kampus.

Lalu bagaimana dengan masjid tol? Dari pembahasan ini saya menyimpulkan, masjid tol berdasarkan karakter perilaku dan kebutuhan penggunanya, menjadikan keberadaannya tidak tepat karena ketiadaan modal sosial yang bersifat tetap menyebabkan masjid tidak mampu merealisasikan perannya secara menyeluruh, terutama peran masjid tol dalam dimensi kehidupan keduniaan umat Islam. Inilah permasalahan pertama masjid tol. Sementara permasalahan kedua terkait sempitnya fungsi masjid tol sebatas untuk mewadahi ibadah maghdah. Saya khawatir, jangan-jangan fenomena masjid tol turut memperkuat dan melanggengkan fenomena sakralisasi masjid. Jika memang demikian yang terjadi, pantas saja hingga masa kini kita belum mampu menuntaskan permasalahan pelik ini karena pembangunan masjid-masjid baru pun ternyata mandul sebagai pusat peribadatan sekaligus pusat kebudayaan Islam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar