Senin, 02 Desember 2019

Mengendarai Mobil Memasuki Era 4.0

Kedigdayaan Mobil 

Ketika menyampaikan materi bertajuk “Wacana Keilmuan dan Keislaman, Masih Relevankah?” yang diselenggarakan oleh BEM Universitas Muhammadiyah Surakarta di Griya Mahasiswa UMS pada 13 November 2019 silam, seorang peserta diskusi menyampikan pandangannya bahwa dengan sumber daya yang dimiliki, seharusnya Indonesia dapat memproduksi mobil nasional. Di akhir kesempatan, yang bersangkutan menyampaikan pertanyaan, apakah langkah demikian sesuai dengan iklim Revolusi Industri 4.0 yang saat ini sedang menjadi buah bibir di kalangan bangsa Indonesia dari tingkat presiden hingga mahasiswa? Untuk menjawab pertanyaan ini saya menyampaikan dua argumentasi terkait kesejarahan mobil untuk mengetahui konteks ruang dan waktu yang melahirkan mobil dan karakteristik Revolusi Industri 4.0 yang membentuk trend dan kondisi kehidupan manusia untuk mengetahui relevansi mobil di tengah zaman baru.

Ditinjau dari aspek kesejarahannya, produksi mobil pribadi secara massal yang diawali dengan Ford Model T tidak dapat dilepaskan dari kondisi zaman Revolusi Industri 2.0 pada akhir abad 19 di mana produksi pabrik semakin efisien dengan sistem assembly line yang menerapkan teknologi ban berjalan, serta digantikannya mesin-mesin pabrik yang awalnya bertenaga uap menjadi mesin bertenaga listrik. Dua kali Revolusi Industri mendorong terjadinya peningkatan kondisi ekonomi masyarakat akibat perubahan model produksi dari pertanian menjadi industri pabrik. Hukum Malthus pun berkerja, meningkatnya kondisi ekonomi menyebabkan meningkatnya jumlah penduduk. Dampaknya ialah kota-kota tradisional tidak mampu untuk mewadahi pertumbuhan jumlah penduduk yang signifikan, sehingga dilakukan perluasan wilayah kota, selain perubahan infrastruktur kota akibat berubahnya model produksi. Fenomena ini mendominasi dua era Revolusi Industri dengan trend perluasan kota tradisional maupun tumbuhnya kota-kota baru dengan wilayah yang luas untuk menggerakkan ekonomi berbasis industri pabrik yang melibatkan pekerja dalam jumlah besar untuk melakukan produksi massal.

Dampak yang mengikuti dari perluasan wilayah kota ialah mobilisasi spasial yang semakin jauh untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, katakanlah dari rumah ke pabrik untuk bekerja. Permasalahan ini menuntut moda transportasi yang memungkinkan masyarakat dapat melakukan mobilisasi spasial dalam waktu singkat yang merupakan ciri khas kehidupan modern dengan faham serba ekonomi sebagai landasan tujuan hidup dan sistem nilai masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari faham tersebut termuat dalam perkataan “time is money” yang telah menjadi mantra bagi masyarakat modern untuk mengontrol perilakunya agar mencapai angka pertumbuhan ekonomi. Dari perkataan ini secara implisit menyatakan bahwa masyarakat modern menuntut ketepatan waktu dalam mobilisasi spasial, karena kelambanan berarti kerugian secara ekonomi, sehingga dibutuhkan moda transportasi baru untuk menggantikan moda transportasi tradisional seperti kuda, unta, maupun keledai yang tidak lagi relevan digunakan di dalam kondisi kehidupan modern. Jawabannya adalah mobil yang merupakan moda transportasi berpenggerak mesin dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan moda transportasi sebelumnya, walaupun kehadiraan mobil tidak serta merta ditinggalkannya moda transportasi tradisional, sebagaimana pada masa kini kita masih mendapati dan sesekali menaiki becak dan dokar untuk melakukan mobilisasi spasial dalam jarak dekat.

Gambar 1: Produksi massal mobil pribadi pada awal abad 20 masehi

Diproduksinya secara massal mobil pribadi dilandasi faham serba ekonomi yang membentuk gaya hidup individualistik, yakni orientasi kehidupan yang serba individual, terutama dalam persoalan ekonomi, dengan hak kepemilikan pribadi sebagai salah satu pondasinya. Meningkatnya kehidupan ekonomi akibat model produksi industri pabrik, mendorong tumbuhnya permintaan yang tinggi terhadap mobil pribadi di kalangan masyarakat ekonomi baru, meliputi pemilik pabrik dan profesi kelas menengah yang berkaitan dengan industri pabrik seperti ahli manajemen, akuntan, ahli hukum, hingga ahli rekayasa pabrik. Sementara masyarakat dengan tingkat ekonomi bawah yang ditempati kalangan buruh pabrik tidak mampu menjangkau harga mobil pribadi, selain memang tidak membutuhkan mobil untuk melakukan mobilisasi spasial dalam kehidupan sehari-hari karena tata kota industri menempatkan permukiman buruh berdekatan dengan area pabrik, dan disediakannya transportasi publik berupa kereta api maupun trem untuk dipergunakan kalangan ekonomi bawah melakukan mobilisasi spasial dalam jarak jauh sekaligus digunakan untuk mengirim bahan mentah ke pabrik dan mengirim hasil produksi pabrik ke pasar hingga ke wilayah jajahan.

Jadi, produksi mobil pribadi memang dibutuhkan secara fungsional pada zamannya untuk melakukan mobilisasi spasial bagi kalangan ekonomi mampu diakibatkan perluasan wilayah kota sebagai ruang kehidupan berdimensi serba ekonomi. Pertanyaannya adalah, jika kehadiran mobil pribadi sangat erat dengan kondisi kehidupan manusia pada dua era Revolusi Industri yang pertama, apakah masih relevan dilanggengkan hingga hari ini untuk memasuki era Revolusi Industri 4.0, mengingat kondisi zaman yang berbeda membentuk kondisi kehidupan manusia yang berbeda pula, selain kehadiran mobil turut menyebabkan masalah-masalah baru dalam kehidupan manusias?

Mobil, Masalah, dan Solusinya

Diproduksinya secara massal mobil pribadi menimbulkan berbagai masalah yang bermula dari diversifikasi produksi mobil agar terjangkau oleh masyarakat dari seluruh tingkatan ekonomi. Hasilnya ialah di jalanan perkotaan modern pada hari ini kita dengan mudah menyaksikan mobil mewah yang dimiliki kalangan ekonomi atas hingga mobil angkut bak terbuka milik kalangan menengah bawah yang digunakan pemiliknya untuk mendapatkan penghasilan ekonomi dengan menawarkan jasa angkut barang. Dengan diversifikasi produksi, jumlah mobil pribadi dengan cepat mengalami peningkatan yang signifikan, sementara penambahan luas infrastruktur jalan tidak dapat mengimbangi pertumbuhan jumlah mobil. Dampaknya adalah kemacetan yang tidak dapat dipisahkan dari realitas kehidupan kota modern.

Kemacetan sebagai masalah perkotaan modern yang sangat pelik mempengaruhi psikologis warga kota menjadi cenderung emosional dan cemas karena tuntutan untuk melakukan mobilisasi spasial tepat waktu tidak mudah dilakukan di lingkungan kota yang padat. Meningkatnya jumlah mobil pribadi di jalan turut pula menyebabkan masalah lingkungan akibat polusi dari sisa pembakaran mesin mobil berbahan bakar fosil yang mempengaruhi kondisi kesehatan warga kota, di antaranya meningkatnya radikal bebas sebagai salah satu penyebab penyakit kanker. Rentetan dampak yang merugikan bagi manusia dari aspek kesehatan, psikologis, dan ekonomi, belum lagi aspek keamanan karena kondisi jalan yang padat oleh mobil pribadi meningkatkan potensi terjadinya kecelakaan, mendasari upaya mengalihkan penggunaan mobil pribadi dengan menggunakan transportasi publik, seperti bis, trem, MRT, dan semisalnya yang pada masa sebelumnya diperuntukkan bagi kalangan masyarakat ekonomi bawah. Inilah salah satu hambatan merubah gaya hidup masyarakat kalangan ekonomi atas untuk menggunakan transportasi publik bersama dengan masyarakat lain yang berbeda tingkatan ekonomi. 

Memasuki era Revolusi Industri 3.0 yang dimulai sejak ditemukannya komputer pada tahun 1980-an, secara perlahan trend kehidupan kota mulai mengalami titik balik dimulai tumbuhnya kesadaran lingkungan dan kesehatan yang dalam kehidupan sehari-hari ditunjukkan dengan mengendarai sepeda maupun kembali mengoptimalkan kemampuan fisiologis manusia untuk berjalan kaki dalam melakukan mobilisasi spasial. Selain itu di kalangan masyarakat ekonomi atas yang notabene berpendidikan tinggi, kesadaran baru turut melenyapkan hambatan untuk mempergunakan transportasi publik. Cara-cara ini dinilai merupakan solusi terhadap kondisi lingkungan kota yang semakin buruk akibat polusi dan kondisi kesehatan masyarakat kota yang semakin ringkih salah satunya akibat minimnya gerak tubuh dalam aktivitas keseharian. Perubahan trend kehidupan kota mendorong perubahan tata rancang kota untuk meningkatkan kualitas transportasi publik, mewadahi pejalan kaki dengan jalur pedestrian yang memadai berikut fasilitas pendukungnya, dan hadirnya jalur khusus sepeda untuk mewadahi kalangan pesepeda. Kita mengenal tata rancang kota demikian dengan istilah accesable city atau walkable city.

Tumbuhnya kesadaran lingkungan yang turut pula merubah arah tata rancang kota dengan meningkatkan luasan ruang terbuka hijau hingga gagasan tata rancang kota terkini yang disebut dengan forest in the city, semakin meningkatkan kenyamanan warga kota untuk bersepeda maupun berjalan kaki dalam melakukan mobilisasi spasial. Sementara itu optimalisasi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi digital dalam kehidupan memunculkan fenomena mobile office di mana masyarakat dapat bekerja dari rumahnya tanpa perlu setiap hari melakukan mobilisasi spasial ke kantor, sehingga turut meminimalkan penggunaan mobil pribadi. Trend ini yang dimulai sejak Revolusi Industri 3.0 memang tidak melenyapkan seketika mobil pribadi dan menghentikan produksi massalnya karena mobil bukan sekedar artefak yang bernilai fungsional, tetapi juga bernilai simbolik sebagai penanda status ekonomi dan sosial pemiliknya. Namun demikian perlu dicatat, dimulai sejak era Revolusi Industri 3.0 perhatian lebih ditujukan untuk mengadakan transportasi publik yang memadai dan mengembangkan teknologi mobil bertenaga energi hijau, seperti energi listrik, untuk menanggapi masalah lingkungan yang disebabkan generasi mobil terdahulu.

Gambar 2: Mobil bertenaga listrik untuk menanggulangi masalah polusi akibat generasi mobil terdahulu yang menggunakan bahan bakar fosil

Jika pemerintah Indonesia hendak membangun industri mobil, maka langkah paling relevan untuk jangka menengah terbilang 10 hingga 30 tahun ke depan ialah melakukan riset mobil pribadi bertenaga energi hijau yang sejak awal disiapkan untuk produksi massal, bukan lagi sekedar prototipe, sembari terus mengupayakan perubahan budaya mobilisasi spasial menggunakan transportasi publik dan terus meningkatkan fasilitas kota bagi pesepeda dan pejalan kaki. Solusi ini berangkat dari trend kehidupan Revolusi Industri 3.0 yang tidak seluruhnya relevan dengan era Revolusi Industri 4.0 yang saat Anda membaca tulisan ini sedang membentuk kondisi lingkungan hidup yang baru bagi manusia. 

Masa Depan Mobil

Kita hidup di ambang pintu memasuki zaman baru yang dikenal dengan era Revolusi Industri 4.0. Sebagai titik terjauh dari revolusi sebelumnya, era yang akan datang bertumpu pada kemajuan di bidang ilmu komputer, biologi, dan genetika yang mendorong dengan pesat perkembangan bioteknologi, nanoteknologi, dan kecerdasan buatan (artificial intellegent). Dengan karakter ini, Yuval Noah Harari dalam bukunya yang fenomenal berjudul Homo Deus memprediksi kemungkinan masa depan manusia di antara Tekno-Humanisme atau Dataisme. Sebelum memprediksi masa depan mobil sebagai perangkat mobilisasi spasial peninggalan zaman modern menurut pandangan Harari, terlebih dahulu kita akan mereka-reka masa depan mobil berdasarkan prediksi masa depan dari waktu yang lebih awal.

Kita mengenal tiga tokoh, yakni Alvin Toffler, Arnold Toynbee, dan Mark Slouka yang telah memprediksi masa depan manusia dan kondisi kehidupannya sejak tahun 1980 dan 1990. Toffler yang dikenal sebagai seorang ahli dan perintis Futurologi melalui karyanya yang telah menjadi klasik berjudul The Third Wave memprediksi pada masa depan kehidupan manusia akan cenderung kembali menganut model masyarakat tradisional dengan anggota terbilang kecil yang disatukan dengan relasi sosial kekerabatan atau hubungan dekat. Toffler mengkonstruk prediksinya sebagai solusi terhadap model masyarakat modern yang memiliki lingkup luas sebagai akibat meningkatnya jumlah penduduk dan meluasnya wilayah kota, yang menyebabkan munculnya masalah anonimitas di tengah masyarakat yang terpengaruh kuat faham individualisme. Berbeda dengan Toffler, Toynbee yang merupakan Guru Besar di bidang filsafat sejarah, dalam transkrip wawacaranya bersama Wakaizumi yang telah dibukukan, memprediksi masa depan manusia akan menjadi sebuah masyarakat tunggal di bawah pemerintahan global.

Perbedaan pandangan di antara Toffler dan Toynbee disatukan oleh kesamaan pendapat keduanya mengenai masa depan lingkungan kota yang pada masa mendatang akan mengecil dari aspek luasan wilayahnya, sehingga memudahkan mobilisasi spasial dalam rangka melakukan rekonstruksi kehidupan sosial masyarakat kota. Menurut Toffler maupun Toynbee, dengan menyempitnya wilayah kota akan meningkatkan komunikasi tatap wajah antar penghuni kota, sehingga membuka kesempatan untuk terbentuknya masyarakat kota yang personal dengan relasi sosial yang konkret. Selain itu, keduanya juga memprediksi pada masa mendatang kota akan menjadi lingkungan hidup yang mandiri di mana seluruh kebutuhan warga kota dapat dipenuhi sendiri oleh penghuninya, sehingga pada masa depan hampir tidak lagi dibutuhkan mobilisasi spasial antar kota dengan intensitas yang tinggi. Dalam kondisi kehidupan seperti penggambaran Toffler dan Toynbee, mobil pribadi sebagai perangkat mobilisasi spasial tidak lagi menjadi kebutuhan komunal dan bisa jadi hanya digunakan oleh segelintir orang untuk kebutuhan pelayanan

Prediksi masa depan yang terbilang ekstrim disampaikan oleh Mark Slouka yang merupakan Sosiolog dari Amerika Serikat. Slouka menggambarkan masa depan sebagai suatu zaman di mana teknologi komputer diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan manusia yang diikuti dengan menghilangnya kota menyisakan bilik-bilik hunian yang terhubung secara daring dalam skala global. Slouka membayangkan suatu kondisi kehidupan di mana manusia tidak lagi keluar hunian karena seluruh kebutuhannya dapat dipenuhi dari hunian melalui layar yang terhubung dengan hunian-hunian lainnya dalam lingkup global. Jika merujuk pada prediksi Slouka, masa depan bukanlah masanya mobilisasi spasial, tetapi mobilisasi data, sehingga keberadaan mobil pribadi tidak lagi dibutuhkan karena pada masa depan manusia hampir tidak perlu melakukan mobilisasi spasial.

Jika pemerintah Indonesia hendak membangun industri mobil pribadi, jawaban yang diperoleh berdasarkan prediksi Toffler, Toynbee, dan Slouka adalah negatif, meskipun mobil yang diproduksi bertenaga energi hijau, karena pada masa depan mobil pribadi sebagai perangkat mobilisasi spasial tidak lagi dibutuhkan manusia akibat berubahnya kondisi lingkungan kota yang semakin menyempit bahkan menghilang. Alih-alih membangun industri pabrik mobil, jika berpegang pada prediksi tiga ahli tadi, jauh lebih realistis dalam jangka panjang bagi pemerintah Indonesia untuk membangun industri komputer. Kalaupun tetap membangun industri mobil pribadi, usianya akan terbilang pendek jika memperhatikan percepatan perubahan zaman saat ini yang semakin mendekati salah satu dari prediksi Toffler, Toynbee, maupun Slouka.

Lalu seperti apa prediksi Harari terkait masa depan manusia dan mobil sebagai perangkat mobilisasi spasialnya? Dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kemajuan IPTEK pada masa kini, Harari meyakini masa depan manusia di antara dua jalan, yakni Tekno-Humanisme atau Dataisme. Dengan Tekno-Humanisme, manusia dapat meningkatkan kemampuan biologis dan fisiologis tubuh dengan implan teknologi biologi. Inilah evolusi manusia tahap lanjut menurut Harari di mana manusia mendobrak batasan tubuhnya yang memungkinkan manusia berjalan dalam jarak yang sangat jauh tanpa mengalami kelelahan, mampu berlari dengan cepat tanpa mengalami nafas tersengal-sengal, dan mampu menaiki lantai demi lantai bangunan dengan kemampun memanjat yang handal. Dalam kondisi kehidupan seperti ini, mobil tidak lagi dibutuhkan dan dengan segera akan menjadi cerita sejarah yang diajarkan di ruang-ruang kelas.

Sementara Dataisme merupakan kondisi kehidupan di mana kecerdasan buatan mengambil alih hampir seluruh peran manusia. Dalam kondisi kehidupan yang dibentuk dan dikondisikan oleh mesin cerdas, dan proses ini telah berlangsung pada masa kini, mobil sebagai perangkat mobilisasi spasial akan bertransformasi dengan pelibatan kecerdasan buatan secara aktif. Langkah awal adalah automatisasi mobil yang disetir dan dikontrol oleh kecerdasan buatan. Cara ini dinilai merupakan solusi untuk mengurai kemacetan kota dan menekan terjadinya kecelakaan hingga angka nol. Bayangkan sebuah mobil bertenaga energi hijau yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan, atau berimajinasilah lebih berani sebuah mobil dengan energi karbondioksida yang melepaskan gas buang oksigen layaknya proses fotosintesis. Inilah masa depan mobil yang sangat mungkin diwujudkan melalui jalan Dataisme.

Gambar 3: Teknologi kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh Google untuk automatisasi mobil sebagai perangkat mobilisasi spasial

Menggarisbawahi pernyataan Harari bahwasanya prediksi yang disampaikannya sebatas kemungkinan-kemungkinan yang bersifat terbuka. Kita andaikan saja dua prediksi yang disampaikan Harari akan membentuk masa depan dengan takaran yang berbeda. Jika Tekno-Humanisme dominan membentuk kondisi kehidupan manusia pada masa depan, mobil dengan bayangan yang sempurna bisa jadi hanya dimiliki oleh segelintir kalangan ekonomi atas sebagai artefak bernilai simbolik untuk menunjukkan status sosial dan ekonomi, sementara bioteknologi telah terbilang murah sehingga dapat diakses manusia dari berbagai tingkat ekonomi untuk meningkatkan kemampuan tubuhnya. Sedangkan jika Dataisme dominan membentuk masa depan manusia, mobil dengan bayangan yang sempurna akan menjadi kebutuhan seluruh lapisan ekonomi masyarakat, sementara bioteknologi sebagai langkah evolusi tahap lanjut bagi manusia hanya mampu diakses oleh segelintir kalangan ekonomi atas.

Memperhatikan trend masa kini, kecenderungan perubahan zaman, dan prediksi masa depan oleh kalangan ahli, opsi untuk membangun industri mobil pribadi bertenaga energi fosil, katakanlah ESEMKA, adalah pilihan yang salah kalau tidak dikatakan bodoh karena menandakan buta terhadap gerak zaman. Namun demikian terbuka peluang untuk membangun industri mobil yang berorientasi masa depan, selain industri kecerdasan buatan dan industri bioteknologi. Itupun jika pemerintah Indonesia memang selaras antara perkataan dan tindakannya untuk mempersiapkan bangsa ini menghadapi Revolusi Industri 4.0, bukan sekedar euforia gagah-gagahan, apalagi sekedar memupuk suara untuk kepentingan membangun dinasti kekuasaan! Inilah jawaban saya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar