Jumat, 20 Desember 2019

Model Masjid Tol

Saya menilai tidak tepat pembangunan masjid di rest area tol dengan argumentasi sebagaimana telah saya sampaikan pada bagian sebelumnya dari tulisan ini. Menurut saya, keberadaan mushala dengan kapasitas yang disesuaikan dengan jumlah pengunjung tertinggi dalam setahun, misalkan pada masa mudik lebaran, sudah cukup untuk mewadahi kegiatan ibadah shalat dan beristirahat yang merupakan kebutuhan mendasar pengguna maupun pegawai di rest area tol. Namun demikian, kehadiran masjid tol dimungkinkan jika terpenuhinya syarat modal sosial yang bersifat tetap. Inilah yang hendak saya bincangkan pada bagian kedua tulisan ini dengan menawarkan dua model masjid tol. Perlu dipahami, pendekatan model yang saya gunakan bersifat ideal, karenanya diperlukan kontekstualisasi, penjabaran, dan penyesuaian untuk dapat diterapkan di berbagai tempat dengan kondisi lingkungan yang berbeda-beda. 

Model pertama, pembangunan masjid tol dilengkapi fasilitas asrama yang diperuntukkan untuk tempat bermukim modal sosial masjid dengan kapasitas paling tidak 40 orang menyesuaikan dengan syarat minimal dilaksanakannya peribadatan Shalat Jumat menurut salah satu pendapat dalam Fikih. Mengenai modal sosial masjid tol, pihak pembangun atau pewakaf masjid dapat menjalin kerjasama dengan Ormas Islam, seperti Muhammdiyah, NU, Persis, Al-Irsyad, Hidayatullah, Wahdah Islamiyah, atau yang lainnya. Salah satu mekanisme yang dapat diterapkan ialah mengutus santri yang telah dinyatakan lulus dan siap berdakwah, atau dai yang telah berpengalaman, untuk bermukim di area masjid tol sebagai modal sosial masjid yang bersifat tetap.

Gambar 1: Diagram model pertama masjid tol

Modal sosial yang bermukim di lingkungan masjid tol diberi amanah untuk memakmurkan masjid dengan menyelenggarakan ibadah maghdah dan ibadah ghairu maghdah. Untuk ibadah maghdah, keberadaan modal sosial yang memiliki afiliasi dengan Ormas Islam dapat menjamin keberlangsungan penyelenggaraan ibadah shalat fardhu 5 kali dalam sehari, Shalat Jumat sekali dalam sepekan, bahkan Shalat Tarawih dan i’tikaf pada Bulan Ramadhan, serta penyelenggaraan shalat hari raya. Sementara dalam aspek ibadah ghairu maghdah, keberadaan masjid tol yang secara tidak langsung didukung Ormas Islam dapat direalisasikan dalam bentuk membuka lapangan ekonomi di sekitar masjid yang sesuai dengan kebutuhan pengguna jalan tol untuk meningkatkan kualitas kehidupan keduniaan para santri maupun dai yang berstatus sebagai modal sosial masjid. Contoh saja, masjid tol dilengkapi dengan fasilitas kios yang dimiliki dan dikelola masjid dan digunakan oleh modal sosial masjid dengan sistem bagi hasil keuntungan. Kios-kios tadi dapat gunakan oleh modal sosial masjid untuk menjual makanan, minuman, cindera mata, pelayanan jasa pijat, maupun jasa cuci mobil.

Model kedua, penentuan lokasi rest area tol mempertimbangkan kedekatannya dengan permukiman warga di sisi jalan tol. Model ini menawarkan opsi pembangunan rest area tol sebagai perluasan dari permukiman warga di luar area tol dengan masjid sebagai penghubung antara keduanya. Dilihat dari posisinya yang menghubungkan antara rest area tol dengan permukiman warga, keberadaan masjid tol yang juga difungsikan sebagai pintu sekunder atau pintu darurat tol menguntungkan bagi pihak pengguna tol maupun warga permukiman. Keuntungan pertama, keberadaan rest area merupakan peluang bagi warga permukiman untuk meningkatkan kehidupan ekonominya melalui masjid. Kedua, akses yang menghubungkan rest area tol dengan permukiman warga dapat digunakan untuk mengevakuasi korban kecelakaan lalu lintas, pengguna jalan tol yang mengalami sakit, dan sebagai akses bagi montir untuk memperbaiki kendaraan pengguna tol yang mengalami kerusakan. Dengan model ini, keberadaan rest area tol memberikan pengaruh yang positif bagi masyarakat yang bermukim di sisi jalan tol.

Gambar 2: Diagram model kedua masjid tol

Posisinya yang berada di permukiman warga menjadikan masjid tol memiliki modal sosial yang bersifat tetap, yakni pihak pemakmur masjid dari kalangan warga permukiman yang berperan mengelola masjid, dan pihak yang dimakmurkan oleh masjid meliputi warga permukiman dan pengguna tol. Dengan kepemilikan modal sosial meniscayakan masjid tol merealisasikan perannya secara menyeluruh, meliputi dimensi kehidupan akhirat umat Islam melalui keberlanjutan pelaksanaan ibadah maghdah dan dimensi kehidupan dunia melalui pelaksanaan ibadah ghairu maghdah yang konteks dengan potensi permukiman dan rest area tol. Secara konseptual, realisasi ibadah maghdah untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran modal sosial masjid diimplementasikan dalam dua zonasi. Zonasi pertama yang meliputi rest area tol diperuntukkan bagi pemodal Muslim yang memiliki usaha ekonomi besar, sudah dikenal, dan berskala nasional, seperti 212 Mart untuk mini-market, Hefchhick untuk gerai makanan cepat saji, dan lain sebagainya. Untuk itu, masjid tol berperan mencari dan mengundang pemodal Muslim menanamkan modal di rest area tol melalui masjid, yang dalam pengelolaannya melibatkan masjid melalui mekanisme bagi hasil maupun mekanisme lainnya yang berkesesuaian dengan Islam dan disepakati kedua pihak. Keuntungan usaha yang didapatkan masjid digunakan untuk mengembangkan zonasi kedua yang melingkupi permukiman warga dengan tujuan meningkatkan kualitas kehidupan ekonomi warga setempat.

Di area zonasi kedua, masjid berperan sebagai pihak pembangun sekaligus aktor penggerak. Sebagai pembangun, masjid tol berperan menyediakan fasilitas perdagangan yang dimiliki dan dikelola oleh masjid serta diperuntukkan untuk digunakan warga setempat dengan mekanisme bagi hasil maupun wakaf. Setelahnya, masjid sebagai aktor penggerak berperan untuk mengadakan pelatihan keterampilan, bantunan modal, hingga pendampingan usaha, agar warga sekitar lingkungan masjid memiliki kesiapan menjadi pelaku perdagangan, seperti membuka usaha tempat makan, menjual oleh-oleh khas setempat dan sebagainya, maupun pelaku jasa, seperti persewaan alat tidur untuk istirahat pengguna tol, jasa pijat, dan bengkel mobil. 

Dalam tataran aplikasi, dua model masjid tol terkesan menitikberatkan perbaikan kualitas kehidupan ekonomi umat Islam. Bukan tanpa alasan saya menyampaikan solusi ini karena salah satu masalah utama akibat pembangunan jalan tol adalah kerugian ekonomi yang dialami warga menengah bawah. Tidak sebatas itu, realisasi ibadah ghairu maghdah untuk mencapai tujuan pembangunan masjid tol dalam tulisan ini juga berfokus pada penguatan dan perluasan dimensi sosial umat Islam melalui fasilitas pendukung masjid sebagai ruang perjumpaan dan masjid itu sendiri sebagai pusat berkumpulnya umat Islam. Tentu saja peran masjid tol dalam aspek ibadah ghairu maghdah harus dikembangkan hingga menyentuh seluruh dimensi kehidupan umat Islam yang merupakan modal sosial masjid. 

Dalam tataran filosofis, keberadaan masjid tol melalui dua model yang telah disampaikan bukan saja berperan fungsional, tetapi juga berperan strategis untuk merealisasikan tujuan masjid terkait kehidupan keduniaan dan kehidupan akhirat umat Islam, sehingga dua model masjid tol sekaligus pula merupakan model untuk mengatasi masalah sakralisasi masjid. Dengan demikian, keberadaan masjid di area tol akan turut membentuk citra kawasan tol bukan saja sebatas jalur sirkulasi antar kota dan provinsi, tetapi pada titik-titik rest areanya merupakan ruang pembangunan manusia dan kehidupannya yang bernuansakan Islam. Dalam skala lebih luas, masjid tol turut berperan aktif mewujudkan Peradaban Islam yang berdimensi dunia dan akhirat. Memang begitulah seharusnya sebuah masjid, sebagaimana namanya yang bermakna tempat sujud!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar