Kamis, 20 Agustus 2020

Mencari Masjid Pada Masa PJJ

 
Gambar di atas tersebar luas di media sosial sebagai ajakan kepada pihak takmir memasang perangkat Wifi di masjid untuk memudahkan anak-anak yang bermukim di sekitar masjid melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama masa pandemi. Saya amati di beranda Facebook, sebagian pertemanan yang membagikan gambar tadi menunjukkan sikap setuju dengan menuliskan status ajakan agar pihak takmir merealisasikan gagasan tersebut, sedangkan sebagian yang lain menunjukkan kekhawatiran dengan dipasangnya perangkat WiFi di masjid justru akan menyebabkan kalangan pemuda menyalahgunakannya untuk bermain game online, sehingga melalaikan dari aktivitas peribadatan di masjid.

Saya memiliki posisi yang berbeda di antara kedua sikap tadi, yakni tidak begitu saja menyetujuinya dan tidak perlu merasa khawatir jika saja pemasangan Wifi di masjid bukan hanya difahami secara teknis-instrumental sebatas instalasi perangkat, tetapi juga difahami dalam perspektif sosial dan kultural keagamaan. Sebelum membahas persoalan ini, tulisan ini akan terlebih dahulu mengupas peran masjid dalam bidang pendidikan dan akar asal muasalnya, yang ironisnya dari masa ke masa semakin menyempit sebatas pada pengajaran baca dan tulis Al-Qur’an bagi anak usia dini, sedangkan pendidikan selainnya telah diserahkan kepada institusi pendidikan formal sesuai jenjang pendidikan yang telah diatur oleh penyelenggara negara.

Penyempitan peran pendidikan tersebut menjadikan masjid tidak banyak memiliki andil dalam pembentukan intelektualitas jama’ahnya, terlebih dikaitkan dengan keimanan dan aktualisasinya dalam keberIslaman sehari-hari. Termasuk dampak dari penyempitan peran tersebut ialah kegagapan masjid dalam menghadapi permasalahan PJJ. Dalam konteks inilah ajakan di media sosial untuk memasang perangkat Wifi dapat difahami sebagai kegelisahan berbalut harapan umat Islam untuk mencari masjid yang mampu berperan menuntaskan permasalahan dan pemenuhan kebutuhan yang terbilang mendesak untuk ditangani. Pertanyaannya lalu, di manakah masjid tersebut berada? Sudahkan ditemukan?

Sabtu, 13 Juni 2020

Spiritualitas Dalam Arsitektur Islam

Rajutan Arsitektur Islam

Prof. Ali A. Allawi dalam bukunya berjudul The Crisis of Islamic Civilization yang telah diterjemah dalam Bahasa Indonesia dengan judul Krisis Peradaban Islam menganalogikan Peradaban Islam bagaikan rajutan yang terdiri dari sisi dalam dan sisi luar. Sisi dalam yang dimaksud oleh Ali A. Allawi (2005: 14, 21-22) adalah keyakinan, gagasan, dan tata nilai Islam yang membentuk dunia batiniyah Islam, yakni merujuk pada kesadaran moral dan kesadaran spiritual umat Islam. Sementara itu sisi luar Peradaban Islam diidentifikasi Ali A. Allawi (2005: 14, 21-22) meliputi lembaga, hukum, pemerintahan, dan budaya yang membentuk dunia lahiriyah Islam berupa aksi sosial, politik, hingga perwujudan ruang kehidupan umat Islam yang berdimensi fisik.

Dari pandangan di atas yang mengandaikan Peradaban Islam bagaikan sebuah rajutan yang tidak terpisahkan antara sisi dalam dan sisi luarnya, dapat ditarik dua pemahaman. Pertama, sisi dalam Peradaban Islam memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada sisi luarnya dikarenakan sisi dalam merupakan sumber sekaligus landasan dalam penciptaan sisi luar Peradaban Islam. Dengan kata lain tanpa sisi dalamnya, maka sisi luar Peradaban Islam tidak akan wujud. Dan suatu perwujudan sisi luar tidak dapat dinyatakan sebagai Peradaban Islam jika tidak bersumberkan atau dilandasi sisi dalam Peradaban Islam. Kedua, sisi dalam berperan sebagai kekuatan untuk membentuk dan mewarnai sisi luar Peradaban Islam. Dengan penalaran ini, semakin kuat sisi dalam, maka akan semakin kuat membentuk dan mewarnai sisi luar Peradaban Islam. Begitu pula sebaliknya, jika sisi dalam tidak memiliki kekuatan, maka tidak dapat berperan untuk membentuk dan mewarnai sisi luar Peradaban Islam. Kondisi ini disebut oleh Ali A. Allawi (2005: 21-22) sebagai suatu keadaan robeknya rajutan sisi dalam dan sisi luar Peradaban Islam, di mana sisi dalam tidak memiliki kekuatan untuk mempengaruhi bentukan sisi luarnya.

Selasa, 26 Mei 2020

New-Normal (Islamic) Architecture

Pandemi Covid-19 yang diprediksi tidak akan berakhir dalam waktu dekat, bahkan virus Covid-19 dinilai oleh kalangan ahli tidak akan hilang dalam lingkungan hidup manusia, menuntut manusia melakukan perubahan gaya hidup secara fundamental agar tidak terinfeksi virus yang bertolak dari kaidah (1) menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan; dan (2) menjaga jarak fisik (physical distancing). Inilah yang disebut dengan kehidupan normal-baru (new-normal) karena sepanjang dan pasca pandemi Covid-19 kehidupan manusia tidak akan sama dengan masa sebelumnya hingga ditemukan vaksin yang dapat diakses oleh seluruh umat manusia agar memiliki kekebalan tubuh terhadap virus Covid-19. Tentu saja narasi the new-normal masih bersifat hipotesis dan prediktif, serta merupakan salah satu narasi yang logis dan relevan, selain narasi kembalinya kehidupan manusia pasca pandemi seperti sedia kala bagaikan tidak pernah terjadi pandemi sebelumnya jika saja virus Covid-19 dapat benar-benar hilang dari lingkungan hidup manusia. 

Salah satu bidang yang sangat dituntut untuk menyesuaikan dengan narasi kehidupan normal-baru adalah arsitektur dikarenakan lingkup arsitektur yang merupakan lingkungan buatan meliputi ruang kehidupan manusia, selain dikarenakan ketergantungan manusia dengan lingkungan binaan atau lingkungan terbangun dalam kehidupan urban kontemporer akibat dalam kehidupan kesehariannya berjarak dari alam dengan melangsungkan kegiatan di dalam ruang tertutup yang diperlengkapi dengan teknologi untuk memberikan kenyamanan dan keamanan. Kedua hal tersebut; lingkup arsitektur dan ketergantungan manusia pada arsiektur, menjadikan bidang arsitektur memegang peranan penting untuk keberlangsungan kehidupan normal-baru, selain bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. 

Ditinjau dari perspektif Arsitektur Islam, yakni arsitektur yang bersumberkan dari Wahyu, narasi kehidupan normal-baru menekankan pada aspek penjagaan jiwa manusia dilandasi kaidah hifzhul nafs yang merupakan salah satu tujuan ditetapkannya Syariat Islam. Permasalahan ini menuntut kalangan ahli Arsitektur Islam untuk melakukan reorientasi pada dua aspek. Pertama, Arsitektur Islam harus berfokus pada aspek manusia sebagai subyek, tidak lagi pada perwujudan arsitektur sebagai objek dengan berkutat pada unsur arsitektural yang diidentifikasi sebagai khas Islam, seperti kubah, minaret, pelengkung, hingga ornamentasi. Kedua, berfokus pada penjagaan jiwa manusia yang merujuk pada aspek basyar diri manusia, yakni unsur tubuhnya yang bersifat fisik, mendorong orientasi pengkajian dan perancangan Arsitektur Islam untuk bersinergi dengan kalangan ahli dari arsitektur selainnya dalam rangka memberikan perlindungan terhadap diri manusia dari penularan virus Covid-19. Permasalahan ini merupakan kesempatan bagi kalangan ahli Arsitektur Islam dari umat Islam untuk membuktikan bahwasanya Islam bersifat universal, dan arsitektur yang bersumberkan dari Islam memiliki aspek universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia tanpa sekat agama, dengan syarat pewacanaan, pengkajian, dan praktik Arsitektur Islam tidak lagi terbatas berkutat pada aspek-aspek khusus Arsitektur Islam yang menjadi pembeda dengan arsitektur selainnya, seperti persoalan simbolisasi dan identitas. 

Kamis, 07 Mei 2020

Menakar Kualitas Buku

Pergumulan saya sejak kecil dengan buku, dan dimulai sejak kelas menengah atas dengan buku-buku serius, sedikit banyak turut mengasah kepekaan saya dalam menakar kualitas buku. Tidak berarti selama ini penilaian saya terhadap kualitas buku selalu benar, bahkan saya teringat pada masa awal memasuki jenjang perguruan tinggi, penilaian saya dalam menakar kualitas buku lebih sering salah daripada benar. Pengalaman panjang inilah, yang tidak selalu menyenangkan karena buku-buku mahal yang saya beli tidak seluruhnya memiliki kualitas yang baik, menjadi bahan refleksi bagi saya untuk menakar kualitas suatu buku dengan mengenali faktor-faktornya. 

Berikut adalah faktor-faktor berdasarkan pengalaman pribadi yang saya gunakan untuk menakar kualitas suatu buku ketika hendak membeli buku maupun meminjam buku di perpustakaan, sehingga memudahkan saya dalam memilih dan memilah buku di antara sejumlah besar hamburan buru, yang saya bedakan antara faktor-utama dan faktor-pendukung. 

Rabu, 06 Mei 2020

Budaya Literasi Islam

Literasi: Antara Barat dan Islam 

Dalam sejarah Peradaban Barat, kaum literati merujuk pada sekalangan cerdik pandai dan ilmuwan pada masa Renaisans yang secara sosiologis bukan tergolong atau merupakan bagian dari kalangan agamawan, dan secara kultural maupun religi tidak terikat dengan institusi gereja dan tradisi keagamaan yang berlangsung di lingkungan gereja. Kalangan inilah, dikarenakan aktivitas keilmuan yang dilakukannya, terlibat konflik dengan kalangan agamawan disebabkan temuan ilmu pengetahuan yang dicapai oleh kaum literati bertentangan dengan doktrin keagamaan resmi yang diusung institusi gereja. Tiga nama dapat disebutkan yang merupakan bagian dari kaum ini adalah Copernicus, Bruno, dan Leonardo da Vinci yang pertentangannya dengan kalangan agamawan berakhir dengan tekanan, siksaan hingga kematian. 

Dalam melakukan aktivitas keilmuan, kaum literati disokong secara finansial oleh kaum borjuis yang merupakan kalangan pedagang besar lintas negara. Kepentingan kaum borjuis yang dikenal pula sebagai kaum pemodal dalam membiayai penelitian yang dilakukan oleh kalangan cerdik pandai dan ilmuwan literati berkaitan dengan pelayaran antar benua yang dilakukannya dalam rangka mencari bahan mentah, pekerja, maupun pasar bagi produk dagangannya. Kolaborasi kedua kaum inilah; literati dan borjuis mendorong gerak sejarah Peradaban Barat memasuki zaman modern dengan direbutnya otoritas ilmu pengetahuan oleh kaum literati dari institusi gereja, dan direbutnya otoritas politik dan ekonomi oleh kaum borjuis dari tangan seorang raja. 

Senin, 04 Mei 2020

Paradigma Rusydian: Urgensi, Konsepsi dan Metodologi

Ulil Abshar Abdalla dalam artikelnya yang berjudul Jangan Pertentangkan Agama dan Sains mengulas kesepaduan dalam relasi antara agama (Islam) dan ilmu pengetahuan dengan mengutip pandangan Ibnu Rusyd yang disebutnya dengan Paradigma Rusydian untuk menolak klaim bahwasanya pada masa Pandemi Covid-19 saat ini, sains telah mengalahkan agama dikarenakan sains lebih berperan dalam menghadapi permasalahan virus Corona, sementara agama pada beberapa kasus justru menyebabkan tersebarluasnya virus ini ketika diselenggarakan peribadatan dan perkumpulan massal umat beragama, sebagaimana terjadi di Korea Selatan, Malaysia, dan Indonesia.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk mempermasalahkan masing-masing kasus tersebut maupun membela peran agama dalam menghadapi Pandemi Covid-19. Tulisan ini hendak menggarisbawahi dan menjelaskan Paradigma Rusydian dalam konteks relasi antara agama (Islam) dan ilmu pengetahuan, terutama sains modern. Tulisan ini saya mulai dengan pertanyaan, seperti apa relasi antara agama dan ilmu pengetahuan dalam Paradigma Rusydian yang menentukan interaksi antara keduanya? Lalu sejauh mana urgensi diterapkannya Paradigma Rusydian bagi ilmuwan Muslim maupun umat Islam secara umum? 

Selasa, 14 April 2020

Lagu Aisyah: Karya Seni Atau Sampah?


Belakangan ini sedang dibicarakan, diributkan, dan dikaji secara intens di media sosial sebuah lagu berjudul Aisyah Istri Rasulullah. Sebagaimana persoalan yang lain, umat Islam pun berbeda pendapat terkait penilaian lagu ini. Sebagian umat Islam yang pada umumnya merupakan kalangan awam agama atau bukan dari kalangan ahli di bidang agama menilainya dengan positif karena secara emosional dirasakan lagu tersebut dapat membangkitkan dorongan untuk lebih menengenal sosok ibu bagi kaum Muslimin, dan bagi kalangan yang telah menikah dapat membangkitkan perasaan untuk menjalin hubungan yang lebih intim sebagai suami-istri berkaca dari hubungan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan Bunda Aisyah sebagaimana digambarkan dalam lirik lagu tersebut. Sementara sebagian umat Islam yang lain berdasarkan pandangan keagamaan menilai lagu tersebut dengan negatif terkait liriknya yang dinilai tidak berkesesuaian dengan nilai-nilai Islam. Kalangan ulama pun berbeda pendapat menyikapi lagu ini antara ajakan untuk meninggalkan sepenuhnya maupun melakukan penyesuian terhadap bagian lirik yang dinilai negatif, sehingga lagu Aisyah Istri Rasulullah tetap dapat dinikmati umat Islam dengan muatan pesan yang sesuai dengan pandangan Islam.

Rabu, 01 April 2020

Menghadapi Covid-19 Dengan Sains Islam

Enam Tanggapan Muslim

Virus Corona yang dalam dunia medis dikenal dengan Covid-19, hingga hari ini masih menjadi pandemi di hampir seluruh belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia, sejak pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan di negeri Cina daratan. Dapat disaksikan melalui berbagai media sosial, Dunia Barat dan negara-negara di wilayah Timur yang berafiliasi secara ideologis dengan Peradaban Barat Modern, mengandalkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran untuk merawat pasien positif Covid-19 dan kemajuan di bidang virologi untuk mengidentifikasi virus Corona sebagai dasar melakukan eksperimen di laboratorium untuk menemukan vaksinnya. Sementara itu, melalui media sosial pula kita dapat menyaksikan berbagai tanggapan umat Islam di Indonesia terkait pandemi Covid-19. Sejauh ini saya mendapati enam tanggapan umat Islam di lini masa media sosial yang saya gunakan. 

Sabtu, 28 Maret 2020

Orientasi Sains Islam

Tiga Model Sains Barat

Pada masa kini dalam dunia intelektual yang masih saja didominasi Peradaban Barat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diciptanya, kita mendapati tiga model sains yang tengah berkembang dan mempengaruhi aktivitas ilmiah dalam skala global, tidak terkecuali di tengah komunitas umat Islam. Tiga model sains Barat Kontemporer yang saya maksud ialah (1) sains berparadigma Positivisme; (2) sains sosial humaniora berparadigma Relativisme; dan (3) sains alam berparadigma Spiritualisme. Dalam tulisan ini secara singkat saya akan menjelaskan masing-masing orientasi tiga model sains tersebut kemudian membandingkannya dengan Sains Islam dalam aspek yang sama.

Sabtu, 07 Maret 2020

Membidik Harari (Bagian 2-Selesai)

Menguliti Pemikiran Harari

Yuval Noah Harari melalui dua magnum opus-nya berjudul Homo Sapiens dan Homo Deus, dikenal dan tengah menjadi buah bibir di kalangan intelektual hingga pembelajar di Indonesia. Sebagiannya menyambut positif pemikiran Harari, sebagian yang lainnya melakukan penolakan. Penolakan terhadap Harari didasari beragam argumentasi. Sebagiannya didasari latarbelakang Harari sebagai seorang Yahudi, penganut Atheisme, dan pelaku homo seksual, sementara sebagian yang lain melakukan penolakan terhadap karya Harari disebabkan ketidaksetujuan terhadap penafsiran sejarah yang disuguhkan Harari di dalam dua bukunya. Pihak pertama yang menolak Harari menilainya sebagai ilmuwan yang tidak beradab, sehingga gagasannya tidak pantas untuk dipelajari apalagi didiskusikan, sedangkan pihak kedua menilai Harari sebagai sejarahwan yang liar dalam penafsiran yang menjadikan karyanya bernilai janggal.

Saya hendak menyoroti lebih jauh kalangan yang mengapresiasi, bahkan mengamini pandangan Harari. Dua hal yang dinilai menarik dari Harari oleh kalangan ini ialah (1) kapasitasnya sebagai sejarahwan yang mampu menarasikan sejarah panjang umat manusia hingga prediksi masa depan eksistensi manusia dengan bahasa populer, sehingga mudah dipahami oleh kalangan awam sekalipun; dan (2) analisa Harari yang mengungkap kemampuan fundamental Homo Sapiens untuk bertahan hidup, yakni berbahasa yang menjadikan manusia mampu berkomunikasi dengan sesamanya, sehingga meniscayaakan terbentuknya komunitas sebagai wadah bagi manusia untuk bekerjasama dalam rangka mempertahankan hidup dan kehidupannya. Dengan kekuatan komunal ini, Harari menyatakan, memampukan Homo Sapiens mempertahankan eksistensinya dengan cara menyingkirkan sesama manusia dari jenis berbeda yang dianggap sebagai pesaing dalam hal penguasaan ruang kehidupan dan sumber daya makanan.

Senin, 02 Maret 2020

Membidik Harari (Bagian 1)

Memposisikan Harari

Nama Yuval Noah Harari; seorang profesor di bidang sejarah dari Universitas Ibrani Yerusalem, melalui dua karya bukunya berjudul Homo Sapiens dan Homo Deus, selain itu melalui channel Youtube pribadi yang digunakan Harari untuk menyampaikan gagasan dan pandangannya, tengah menjadi buah bibir di kalangan intelektual di Indonesia. Kemunculan Harari tidak saja merupakan sebuah peristiwa intelektual yang sedang riuh dibaca, didiskusikan, maupun didebat pada masa kini. Jika ditelusuri sejarah intelektual Barat sejak masa Modern, setiap kali terjadi krisis peradaban yang menandai peralihan periode dalam Peradaban Barat, selalu muncul tokoh intelektual yang melalui karya-karyanya mengarahkan masyarakat untuk menyambut masa depan sekaligus memberikan gambaran yang mudah ditangkap oleh masyarakat perihal zaman baru yang akan datang. Melihat keberulangan peristiwa yang sama, dalam tulisan ini saya hendak menjelaskan kemunculan Harari sebagai bagian dari fenomena tersebut yang menandai peralihan periode dalam Peradaban Barat.

Gambar: Yuval Noah Harari

Kita sejenak mundur ke belakang untuk membaca fenomena ini. Ketika Modernisme dengan gerak liniernya memasuki fase Revolusi Industri 2.0 yang merubah manajemen pabrik menjadi lebih efisien dalam hal pengaturan peran tenaga kerja terkait proses produksi, muncul seorang intelektual berlatarbelakang keilmuan psikologi bernama Erich Fromm yang dalam serangkaian karya bukunya melihat efisiensi industrialisasi yang sedang dialami masyarakat Barat berpotensi besar, dan memang secara faktual pada zamannya telah membuktikan, terjadinya krisis kemanusiaan. Fromm mengkritik industrialisasi yang menyebabkan terjadinya dehumanisasi, sehingga mendegradasi kualitas kehidupan manusia. Perlu digarisbawahi kritik yang disampaikan Fromm bukan dalam rangka menentang industrialisasi. Melalui karya-karyanya, Fromm memberikan panduan bagi masyarakatnya yang pada masa itu sedang bergeliat memasuki fase Revolusi Industri 2.0 untuk mewujudkan industrialisasi yang manusiawi dengan memperhatikan aspek spiritualitas manusia dalam kegiatan produksi, distribusi, hingga konsumsi.

Rabu, 26 Februari 2020

Berislam Secara Fungsional

Akhir-akhir ini -perasaan ini bisa jadi merupakan akumulasi dari bertahun-tahun yang lalu- saya jemu mendapati perdebatan seputar teologi di kalangan umat Islam, terutama di media sosial. Misal saja, beranda media sosial saya hampir tidak pernah sepi dengan perdebatan mengenai “Di mana Allah?” “Apakah Allah beristiwa’ di atas Arsy?” “Bagaimana cara Allah beristiwa’ di atas Arys?” Pun untuk beberapa persoalan fikih, saya juga mengalami rasa jemu terkait perdebatan mengenai persoalan hukum mengenakan cadar dan jilbab bagi Muslimah, dan lafadz salam bagi umat Islam. 

Saya mencoba mengambil waktu jeda sejenak untuk mengenali perasaan saya dan apa yang menyebabkan munculnya perasaan demikian. Saya sampai pada dua kesimpulan. Pertama, perdebatan mengenai topik teologi dan fikih yang menjadi khusus persoalan umat Islam, tidak tepat dan tidak pantas dilakukan dan ditampilkan di ruang media sosial yang bersifat terbuka dan plural, sehingga siapa pun, termasuk non Muslim dapat mengetahui kekisruhan yang terjadi di tengah umat Islam. Sementara bagi umat Islam yang berstatus awam dan mulai mempelajari agamanya, perdebatan masalah teologi dan fikih yang sangat spesifik dan rumit justru menyebabkan kebingungan, alih-alih memberikan pencerahan. Kedua, di tengah kondisi kehidupan umat Islam dan peradabannya pada masa kontemporer yang diliputi berbagai masalah di seluruh dimensi kehidupan, perdebatan seputar teologi dan fikih yang tidak berpijak pada realitas kehidupan umat Islam dan tidak berpengaruh pada peningkatan kualitas kehidupan umat Islam, bagi saya tidaklah tepat untuk tidak mengatakannya tidak memiliki daya guna.

Senin, 24 Februari 2020

Pragmatisme Sains

Sains Sebagai Jalan Kebangkitan

Prof. Abdus Salam, seorang ilmuwan fisika berkebangsaan Pakistan dan peraih penghargaan Nobel fisika pada tahun 1979, mengungkapkan pandangan pragmatisnya terhadap sains dalam kata pengantar buku Islam and Science Religions Orthodoxy and the Battle for Rationality karya Prof. Pervez Hoodbhoy. Buku ini telah diterjemah ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Pustaka berangka tahun terbit 1997. 



Abdus Salam membuka pembahasannya dengan menegaskan bahwasanya hanya terdapat satu jenis sains di dunia pada masa kini, yakni sains yang lingkup problem dan paradigmanya bersifat universal. Tidak lain yang dimaksud oleh Abdus Salam adalah sains berparadigma Positivisme yang pada masa kini merupakan paradigma arus utama dalam pengkajian sains, terutama dalam rumpun ilmu alam. Berdasarkan pernyataannya ini, Abdus Salam menolak penisbatan sains kepada agama dan pengaruh sikap keberagamaan seorang ilmuwan terhadap aktivitas sains yang dilakukannya, sebagaimana merupakan watak paradigma Positivisme yang menyatakan bahwasanya sains bebas nilai dan terpisah dari agam. Dengan pandangan yang dianutnya, Abdus Salam mengambil posisi yang jelas untuk tidak menerima sains Islam, Hindu, Yahudi, Konfusian, maupun sains Kristiani. Baginya, tidak saja secara konseptual epistemologi, secara kebahasaan pun rangkaian istilah tersebut merupakan kesalahan.

Sabtu, 22 Februari 2020

Arsitektur Masjid Yang Tidak Islam

Pada sesi pengantar perkuliahan Arsitektur Masjid semester ini, saya menyampaikan kedudukan arsitektur masjid secara konseptual agar mahasiswa memahami relevansi mempelajari arsitektur masjid dikaitkan dengan identitas dirinya sebagai Muslim dan tujuan pendidikan tinggi yang sedang ditempuhnya untuk menjadi seorang arsitek yang berparadigma Arsitektur Islam. Salah satu pokok fikiran yang saya tekankan ialah tidak ada Arsitektur Islam tanpa arsitektur masjid, sehingga setiap perbincangan dan pengkajian Arsitektur Islam harus melibatkan atau paling tidak mengkaitkan objek arsitektur yang dikaji dengan arsitektur masjid. Pernyataan ini dilandasi pandangan Prof. Tajuddin Rasdi yang menilai bahwasanya arsitektur masjid dari aspek fungsinya merupakan objek arsitektur yang paling penting bagi umat Islam, sehingga menduduki peringkat paling tinggi dalam kehidupan umat Islam. Oleh karena itu Arsitektur Islam sebagai idealitas bagi umat Islam dalam bidang kehidupan arsitekturnya, menjadi tidak dapat dipisahkan dengan arsitektur masjid.

Di akhir sesi perkuliahan, seorang mahasiswa melontarkan pertanyaan terkait pernyataan saya tadi. Ia sampaikan, adakah arsitektur masjid yang tidak merupakan bagian dari Arsitektur Islam? Saya sederhanakan pertanyaan mahasiswa itu dengan kalimat, adakah arsitektur masjid yang tidak Islam?

Rabu, 29 Januari 2020

Islam Yang Mengubah Realitas Kehidupan

Agenda Deindustrialisasi

Pada hari Sabtu, 25 Januari 2020 yang lalu, kami kedatangan seorang guru, yakni ustadz Arif Wibowo bersama istri dalam rangka menjenguk istri saya yang sejak hari Sabtu, 18 Januari 2020 mengalami patah tulang di bagian lutut kiri. Sebagai seorang guru, ustadz Arif Wibowo senantiasa memberi kami pengajaran, tidak terkecuali pada kesempatan singkat kali ini. Beliau menyampaikan, salah satu agenda yang sudah seharusnya menjadi prioritas bagi umat Islam pada masa kini ialah deindustrialisasi. Hal ini perlu dilakukan karena menurut ustadz Arif, salah satu dampak fatal dari industrialisasi selain masalah lingkungan adalah ketergantungan terhadap kalangan pemodal dalam memenuhi kebutuhan hidup bagi masyarakat yang mayoritasnya berada dalam tingkat ekonomi menengah dan bawah. 

Minggu, 26 Januari 2020

Jalan Baru Toleransi

Tiga Pendekatan Toleransi

Realitas kehidupan manusia yang secara faktual terdiri dari beragam komunitas dengan latarbelakang dan identitas berbeda mutlak membutuhkan sikap toleran untuk menciptakan kondisi kehidupan bersama yang harmonis, aman, dan nyaman. Tanpa sikap toleransi, sudah dipastikan antar komunitas akan terlibat dalam konflik yang berujung pada penghancuran dan peniadaan salah satu komunitas oleh komunitas lain, atau paling tidak penundukan suatu komunitas yang berkedudukan sebagai subordinat oleh komunitas lain yang menempati posisi superordinat.

Pada masa tradisional yang oleh Kuntowijoyo diidentikkan dengan gaya hidup agraris, komunitas manusia cenderung bersifat eksklusif yang tersekat ketat berdasarkan identitas agama, ras, etnis, maupun suku bangsa, sehingga tertutup secara psikologis, sosial, maupun kultural dari komunitas lainnya. Toleransi antar komunitas manusia dengan karakter yang terututp direalisasikan melalui mekanisme asimilasi. Dalam buku Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi, Kuntowijoyo (2017: 269) mengartikan asimiliasi secara konseptual sebagai ideologi budaya golongan mayoritas yang dipaksakan kepada golongan minoritas agar turut mengenakan identitas dan budaya milik golongan mayoritas sebagai syarat diterimanya kehadiran golongan minoritas dalam lingkungan kehidupan yang sama. Dari penjelasan Kuntowijoyo tadi, toleransi melalui mekanisme asimilasi mengandaikan adanya pihak mayoritas sebagai pemilik ruang kehidupan secara sosial dan kultural, serta adanya pihak minoritas yang tidak memiliki modal sosial maupun kultural untuk hidup dan berkehidupan di dalam ruang yang sama dengan golongan mayoritas. Sehingga dalam mekanisme asimilasi, suatu komunitas manusia menempati posisi sebagai mayoritas maupun minoritas ditentukan berdasarkan jumlah individu yang berbanding lurus dengan kekuataan modal sosial dan kultural yang dimiliki.

Kamis, 23 Januari 2020

Budaya-Elit dan Budaya-Massa Dalam Pandangan Kuntowijoyo

Perspektif Ekonomi-Sentris

Dalam literatur antropologi, pengertian budaya-elit dan budaya-massa merujuk pada aspek subjek pelakunya secara sosiologis. Budaya-elit ialah budaya yang dipraktikkan oleh kalangan ekonomi atas dengan ciri khas wujud budaya yang glamour dan mewah, sehingga bersifat eksklusif dan terbatas karena tidak mampu dijangkau oleh masyarakat luas. Sementara budaya-massa ialah praktik budaya oleh masyarakat yang mayoritasnya menduduki peringkat ekonomi menengah dan bawah, sehingga dari aspek kualitas artefaknya menampilan wujud budaya yang lebih rendah dibandingkan budaya-elit. Untuk menempatkan keduanya, antropologi modern menggunakan relasi oposisi biner di mana budaya-elit merupakan superordinat dan budaya-massa menjadi subordinat. Dari perspektif ini, kebernilaian budaya ditentukan berdasarkan nilai ekonomi yang dikandungnya. Budaya-elit yang mahal dinilai lebih baik karenanya menduduki peringkat lebih tinggi dibandingkan budaya-massa yang relatif murah di mana dalam proses produksinya dilandasi logika efisiensi melalui mekanisme pabrikasi. 

Dengan perspektif yang ekonomi-sentris, terbentuk struktur budaya-elit; kalangan atas yang berhadap-hadapan dengan budaya-massa; kalangan menengah dan bawah. Struktur ini tidak bersifat otonom, tetapi relasional dan saling mempengaruhi karena dalam kehidupan sehari-hari kedua subjek budaya saling bersinggungan secara sosial maupun kultural. Pelaku budaya-massa yang terpengaruh budaya-elit akan berupaya melakukan mobilisasi ekonomi secara vertikal agar dapat menjadi bagian dari kalangan atas sebagai syarat untuk dapat mempraktikkan budaya-elit. Ketidakmampuan melakukan mobilisasi vertikal menimbulkan kesenjangan sosial antara kedua kelas budaya yang merupakan potensi terjadinya konflik antar kelas budaya. Permasalahan demikian menandakan bahwa di tengah masyarakat senantiasa terjadi kesenjangan budaya (cultural lag) yang akar persoalannya tidak lain adalah kesenjangan ekonomi.

Rabu, 01 Januari 2020

Ibnu Sina Mengetuk Pintu Ilmu


Sepanjang sejarah Peradaban Islam yang diterangi oleh para ahli ilmu, nama Ibnu Sina merupakan salah satu dari sekian banyak lentera yang dimiliki umat Islam yang dikenal karena capaiannya di bidang filsafat dan kedokteran. Penghormatan dan pengakuan atas perannya yang sangat besar terlihat dari penyematan nama Ibnu Sina pada sekolah, rumah sakit, hingga masjid. Banyak dari kita pun bertanya, bagaimana cara yang dilakukan Ibnu Sina hingga mampu mencapai kedudukan ilmu yang tinggi dan menghasilkan karya keilmuan yang diakui berbilang abad lamanya? Dalam autobiografi yang dikumpulkan oleh seorang muridnya bernama Al-Juzjani dan diterjemah dalam bahasa Inggris oleh William E. Gohlman dengan judul The Life Ibn Sina: A Critical Edition and Annotated Translation kita akan menemukan jawaban atas pertanyaan tadi.

Dalam autobiografinya, Ibnu Sina menuliskan guru-guru pada fase awal pertumbuhan intelektualnya. Yang pertama ialah seorang penjual sayuran yang ahli dalam perhitungan dengan model India, sehingga ayahnya memerintahkan Ibnu Sina untuk belajar berhitung kepada pedagang tersebut. Yang kedua bernama Abu Abdullah al-Natili yang mengklaim dirinya memiliki keahlian di bidang ilmu filsafat. Pada masa lalu, filsafat yang dikenal sebagai the mother of science merupakan nama untuk berbagai cabang ilmu pada masa kini, sehingga Dr. Syamsuddin Arif menggarisbawahi yang dimaksud dengan filsafat pada masa lalu mencakup sains seperti yang kita dapati pada masa kini. Mengetahui kedatangan Abu Abdullah al-Natili ke wilayahnya, ayah Ibnu Sina meminta al-Natili tinggal di rumahnya untuk memberikan pengajaran kepada Ibnu Sina. Selain itu, Ibnu Sina juga menyebutkan seorang guru bernama Ismail yang sering dikunjunginya untuk belajar fikih sebelum kedatangan al-Natili.