Rabu, 29 Januari 2020

Islam Yang Mengubah Realitas Kehidupan

Agenda Deindustrialisasi

Pada hari Sabtu, 25 Januari 2020 yang lalu, kami kedatangan seorang guru, yakni ustadz Arif Wibowo bersama istri dalam rangka menjenguk istri saya yang sejak hari Sabtu, 18 Januari 2020 mengalami patah tulang di bagian lutut kiri. Sebagai seorang guru, ustadz Arif Wibowo senantiasa memberi kami pengajaran, tidak terkecuali pada kesempatan singkat kali ini. Beliau menyampaikan, salah satu agenda yang sudah seharusnya menjadi prioritas bagi umat Islam pada masa kini ialah deindustrialisasi. Hal ini perlu dilakukan karena menurut ustadz Arif, salah satu dampak fatal dari industrialisasi selain masalah lingkungan adalah ketergantungan terhadap kalangan pemodal dalam memenuhi kebutuhan hidup bagi masyarakat yang mayoritasnya berada dalam tingkat ekonomi menengah dan bawah. 

Minggu, 26 Januari 2020

Jalan Baru Toleransi

Tiga Pendekatan Toleransi

Realitas kehidupan manusia yang secara faktual terdiri dari beragam komunitas dengan latarbelakang dan identitas berbeda mutlak membutuhkan sikap toleran untuk menciptakan kondisi kehidupan bersama yang harmonis, aman, dan nyaman. Tanpa sikap toleransi, sudah dipastikan antar komunitas akan terlibat dalam konflik yang berujung pada penghancuran dan peniadaan salah satu komunitas oleh komunitas lain, atau paling tidak penundukan suatu komunitas yang berkedudukan sebagai subordinat oleh komunitas lain yang menempati posisi superordinat.

Pada masa tradisional yang oleh Kuntowijoyo diidentikkan dengan gaya hidup agraris, komunitas manusia cenderung bersifat eksklusif yang tersekat ketat berdasarkan identitas agama, ras, etnis, maupun suku bangsa, sehingga tertutup secara psikologis, sosial, maupun kultural dari komunitas lainnya. Toleransi antar komunitas manusia dengan karakter yang terututp direalisasikan melalui mekanisme asimilasi. Dalam buku Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi, Kuntowijoyo (2017: 269) mengartikan asimiliasi secara konseptual sebagai ideologi budaya golongan mayoritas yang dipaksakan kepada golongan minoritas agar turut mengenakan identitas dan budaya milik golongan mayoritas sebagai syarat diterimanya kehadiran golongan minoritas dalam lingkungan kehidupan yang sama. Dari penjelasan Kuntowijoyo tadi, toleransi melalui mekanisme asimilasi mengandaikan adanya pihak mayoritas sebagai pemilik ruang kehidupan secara sosial dan kultural, serta adanya pihak minoritas yang tidak memiliki modal sosial maupun kultural untuk hidup dan berkehidupan di dalam ruang yang sama dengan golongan mayoritas. Sehingga dalam mekanisme asimilasi, suatu komunitas manusia menempati posisi sebagai mayoritas maupun minoritas ditentukan berdasarkan jumlah individu yang berbanding lurus dengan kekuataan modal sosial dan kultural yang dimiliki.

Kamis, 23 Januari 2020

Budaya-Elit dan Budaya-Massa Dalam Pandangan Kuntowijoyo

Perspektif Ekonomi-Sentris

Dalam literatur antropologi, pengertian budaya-elit dan budaya-massa merujuk pada aspek subjek pelakunya secara sosiologis. Budaya-elit ialah budaya yang dipraktikkan oleh kalangan ekonomi atas dengan ciri khas wujud budaya yang glamour dan mewah, sehingga bersifat eksklusif dan terbatas karena tidak mampu dijangkau oleh masyarakat luas. Sementara budaya-massa ialah praktik budaya oleh masyarakat yang mayoritasnya menduduki peringkat ekonomi menengah dan bawah, sehingga dari aspek kualitas artefaknya menampilan wujud budaya yang lebih rendah dibandingkan budaya-elit. Untuk menempatkan keduanya, antropologi modern menggunakan relasi oposisi biner di mana budaya-elit merupakan superordinat dan budaya-massa menjadi subordinat. Dari perspektif ini, kebernilaian budaya ditentukan berdasarkan nilai ekonomi yang dikandungnya. Budaya-elit yang mahal dinilai lebih baik karenanya menduduki peringkat lebih tinggi dibandingkan budaya-massa yang relatif murah di mana dalam proses produksinya dilandasi logika efisiensi melalui mekanisme pabrikasi. 

Dengan perspektif yang ekonomi-sentris, terbentuk struktur budaya-elit; kalangan atas yang berhadap-hadapan dengan budaya-massa; kalangan menengah dan bawah. Struktur ini tidak bersifat otonom, tetapi relasional dan saling mempengaruhi karena dalam kehidupan sehari-hari kedua subjek budaya saling bersinggungan secara sosial maupun kultural. Pelaku budaya-massa yang terpengaruh budaya-elit akan berupaya melakukan mobilisasi ekonomi secara vertikal agar dapat menjadi bagian dari kalangan atas sebagai syarat untuk dapat mempraktikkan budaya-elit. Ketidakmampuan melakukan mobilisasi vertikal menimbulkan kesenjangan sosial antara kedua kelas budaya yang merupakan potensi terjadinya konflik antar kelas budaya. Permasalahan demikian menandakan bahwa di tengah masyarakat senantiasa terjadi kesenjangan budaya (cultural lag) yang akar persoalannya tidak lain adalah kesenjangan ekonomi.

Rabu, 01 Januari 2020

Ibnu Sina Mengetuk Pintu Ilmu


Sepanjang sejarah Peradaban Islam yang diterangi oleh para ahli ilmu, nama Ibnu Sina merupakan salah satu dari sekian banyak lentera yang dimiliki umat Islam yang dikenal karena capaiannya di bidang filsafat dan kedokteran. Penghormatan dan pengakuan atas perannya yang sangat besar terlihat dari penyematan nama Ibnu Sina pada sekolah, rumah sakit, hingga masjid. Banyak dari kita pun bertanya, bagaimana cara yang dilakukan Ibnu Sina hingga mampu mencapai kedudukan ilmu yang tinggi dan menghasilkan karya keilmuan yang diakui berbilang abad lamanya? Dalam autobiografi yang dikumpulkan oleh seorang muridnya bernama Al-Juzjani dan diterjemah dalam bahasa Inggris oleh William E. Gohlman dengan judul The Life Ibn Sina: A Critical Edition and Annotated Translation kita akan menemukan jawaban atas pertanyaan tadi.

Dalam autobiografinya, Ibnu Sina menuliskan guru-guru pada fase awal pertumbuhan intelektualnya. Yang pertama ialah seorang penjual sayuran yang ahli dalam perhitungan dengan model India, sehingga ayahnya memerintahkan Ibnu Sina untuk belajar berhitung kepada pedagang tersebut. Yang kedua bernama Abu Abdullah al-Natili yang mengklaim dirinya memiliki keahlian di bidang ilmu filsafat. Pada masa lalu, filsafat yang dikenal sebagai the mother of science merupakan nama untuk berbagai cabang ilmu pada masa kini, sehingga Dr. Syamsuddin Arif menggarisbawahi yang dimaksud dengan filsafat pada masa lalu mencakup sains seperti yang kita dapati pada masa kini. Mengetahui kedatangan Abu Abdullah al-Natili ke wilayahnya, ayah Ibnu Sina meminta al-Natili tinggal di rumahnya untuk memberikan pengajaran kepada Ibnu Sina. Selain itu, Ibnu Sina juga menyebutkan seorang guru bernama Ismail yang sering dikunjunginya untuk belajar fikih sebelum kedatangan al-Natili.