Kamis, 23 Januari 2020

Budaya-Elit dan Budaya-Massa Dalam Pandangan Kuntowijoyo

Perspektif Ekonomi-Sentris

Dalam literatur antropologi, pengertian budaya-elit dan budaya-massa merujuk pada aspek subjek pelakunya secara sosiologis. Budaya-elit ialah budaya yang dipraktikkan oleh kalangan ekonomi atas dengan ciri khas wujud budaya yang glamour dan mewah, sehingga bersifat eksklusif dan terbatas karena tidak mampu dijangkau oleh masyarakat luas. Sementara budaya-massa ialah praktik budaya oleh masyarakat yang mayoritasnya menduduki peringkat ekonomi menengah dan bawah, sehingga dari aspek kualitas artefaknya menampilan wujud budaya yang lebih rendah dibandingkan budaya-elit. Untuk menempatkan keduanya, antropologi modern menggunakan relasi oposisi biner di mana budaya-elit merupakan superordinat dan budaya-massa menjadi subordinat. Dari perspektif ini, kebernilaian budaya ditentukan berdasarkan nilai ekonomi yang dikandungnya. Budaya-elit yang mahal dinilai lebih baik karenanya menduduki peringkat lebih tinggi dibandingkan budaya-massa yang relatif murah di mana dalam proses produksinya dilandasi logika efisiensi melalui mekanisme pabrikasi. 

Dengan perspektif yang ekonomi-sentris, terbentuk struktur budaya-elit; kalangan atas yang berhadap-hadapan dengan budaya-massa; kalangan menengah dan bawah. Struktur ini tidak bersifat otonom, tetapi relasional dan saling mempengaruhi karena dalam kehidupan sehari-hari kedua subjek budaya saling bersinggungan secara sosial maupun kultural. Pelaku budaya-massa yang terpengaruh budaya-elit akan berupaya melakukan mobilisasi ekonomi secara vertikal agar dapat menjadi bagian dari kalangan atas sebagai syarat untuk dapat mempraktikkan budaya-elit. Ketidakmampuan melakukan mobilisasi vertikal menimbulkan kesenjangan sosial antara kedua kelas budaya yang merupakan potensi terjadinya konflik antar kelas budaya. Permasalahan demikian menandakan bahwa di tengah masyarakat senantiasa terjadi kesenjangan budaya (cultural lag) yang akar persoalannya tidak lain adalah kesenjangan ekonomi.

Mudah sekali menemukan kasusnya dalam kehidupan sehari-hari di mana mayoritas pengguna jalan menggunakan kendaraan bermotor produksi massal, sebut saja di antaranya bermerk Toyota, dan hanya pengguna jalan dalam jumlah yang sangat kecil sekali yang menggunakan kendaraan bermotor tergolong supercar dengan spesifikasi dan harga yang jauh di atas kendaraan produksi massal. Dalam aspek arsitektur, kesenjangan budaya juga terbilang mudah diidentifikasi, terlebih di tengah lingkungan perkotaan modern di mana kalangan atas memiliki hunian dengan luasan dalam satuan hektar dan kualitas bangunan hingga perabot berlapis emas, sedangkan kalangan menengah dan bawah bermukim dalam hunian yang luasannya berkisar puluhan meter persegi dengan wujud arsitektur yang serupa karena merupkan hasil produksi massal yang dilandasi logika efisiensi.

Dalam kehidupan sehari-hari pelaku budaya-elit juga terpengaruh budaya-massal. Dengan mudah kita mendapati kalangan atas yang gandrung menonton sinetron dan gemar mendendangkan musik pop yang diidentikkan dengan kelas ekonomi menengah dan bawah karena tergolong budaya-massal. Keterpengaruhan ini tidak disebabkan faktor ekonomi, tetapi semata-mata merupakan persoalan selera disebabkan begitu derasnya arus budaya-massal hingga menembus lingkup spasial-kultural kalangan atas. Dengan demikian tontonan sinetron dan musik pop tidak meleburkan dua kalangan menjadi satu kelas budaya yang sama karena keterpengaruhan hanya pada unsur budaya tertentu saja yang tidak bersifat struktural hingga mampu merubah corak keseluruhan wujud budaya. Sehingga diterimanya unsur budaya-massal tertentu oleh kalangan atas bukanlah solusi untuk mengatasi permasalahan kesenjangn sosial dengan kalangan menengah dan bawah, dan bukan pula solusi untuk mengelola terjadinya konflik antar dua kelas budaya yang berbeda.

Pandangan Kuntowijoyo 

Dalam esai Budaya Elit dan Budaya Massa yang merupakan bagian dari buku berjudul Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas berangka tahun terbit 2019, Kuntowijoyo mengajukan pandangan yang berbeda terkait budaya-elit dan budaya-massa dengan tidak memandangnya dari perspektif ekonomi-sentris. Kuntowijoyo (2019; 6) mengartikan budaya-elit dengan karakter (1) pelaku sebagai subjek; (2) pelaku tidak mengalami alienasi; dan (3) pelaku mengalami pencerdasan. Sedangkan budaya-massa diartikan oleh Kuntowijoyo (2019, 7) dengan karakter sebaliknya, yakni (1) objektivasi; (2) alienasi; dan (3) pembodohan. 

Dari karakter dan penjelasan yang disampaikannya dapat ditangkap maksud Kuntowijoyo bahwasanya budaya-elit adalah budaya yang dicipta, dipilih dan dipraktikkan pelakunya dengan kesadaran diri secara penuh, yang dampak mempraktikkan budaya-elit bagi pelakunya ialah mendapatkan keutuhan diri dan kebijaksanaan. Singkatnya dalam pandangan Kuntowijoyo, budaya-elit adalah budaya yang memanusiakan manusia. Jika dikaitkan dengan etika profetik yang juga dirumuskan oleh Kuntiwojoyo, budaya-elit ialah budaya yang memanusiakan manusia (humanisasi); membebaskan manusia (liberasi); dan mendekatkan manusia kepada Tuhan (transendensi). Berkebalikan dengan budaya-elit, budaya massa menurut Kuntowijoyo ialah budaya yang dimiliki dan dipraktikkan atas desakan dan kontrol dari pihak lain yang dalam masyarakat industri, desakan dan kontrol tersebut berasal dari penguasa ekonomi untuk tujuan yang bersifat ekonomi, sehingga pelaku budaya-massa merupakan objek yang tidak memiliki kekuasaan untuk mencipta dan memilih budayanya yang menjadikan pelaku budaya-massa teralienasi dari dirinya sendiri karena budaya yang dipraktikkannya tidak mencerminkan identitas dirinya yang sebenar. Dengan begitu, budaya-massa menyebabkan pembodohan karena tidak meningkatkan kualitas diri pelaku dan justru mengaburkan pandangan pelaku dalam memahami realitas kehidupan. Inilah budaya yang bertentangan dengan etika profetik menurut Kuntowijoyo karena menjerat manusia dalam struktur budaya yang merusak kemanusiaannya.

Dari penjelasan ini diketahui pandangan Kuntowijoyo terhadap budaya-elit dan budaya-massa berdasarkan perspektif profetik yang menilai budaya berdasarkan orientasi kemanusiaan yang bersifat spiritual. Jika memenuhi orientasi tersebut, maka tergolong budaya-elit. Tetapi jika bertentangan dengan timbangan ini, maka tergolong budaya-massa yang merupakan subordinat dari budaya-elit dikarenakan berdampak buruk terhadap manusia dan kehidupannya. Pandangan Kuntowijoyo ini berbeda secara diametral dengan literatur antroplogi maupun sosiologi modern yang memang disiapkan untuk membentuk masyarakat industri yang berorientasi ekonomi, sehingga bernuansa ekonomi-sentris dalam muatan budayanya, motif praktik budaya, hingga pemisahan kelas subjek budaya berdasarkan tingkat kepemilikan ekonomi. Sementara dalam pandangan Kuntowijoyo, pemisahan kelas subjek budaya berdasarkan pada kualitas pelaku dari aspek kepenuhan diri, kesadaran, dan kebijaksanaannya. Motif praktik budaya dilakukan untuk mencapai kualitas ini, begitupula mobilisasi vertikal dilakukan atau diupayakan untuk mewujudkan kualitas manusia yang baik. Dengan demikian dalam pandangan Kuntowijoyo, subjek budaya-elit ialah kalangan alim, ahli hikmah, cerdik pandai, intelektual, pembelajar, dan setiap diri manusia yang berkesadaran kritis sebagai modal baginya untuk mencapai kepenuhan diri dan kebijaksanaan. Inilah kalangan elit dalam pandangan Kuntowijoyo.

Pemahaman budaya-elit dan budaya-massa yang disampaikan oleh Kuntowijoyo memiliki implikasi dua hal. Pertama, walaupun istilah dan penjelasan yang disampaikannya dilatarbelakangi zaman industri, karena bagaimana pun budaya-massa tidak dapat dilepaskan dari massifikasi melalui pabrikasi, Kuntowijoyo (2019; 5) juga menggunakannya untuk menjelaskan fenomena budaya pada masa pra-industri, yakni kalangan bawah yang mengenakan simbol-simbol kalangan raja maupun bangsawan yang disebutnya dengan gejala elitisasi, seperti digunakannya tipe rumah Joglo yang merupakan budaya-elit oleh masyarakat kebanyakan. Penjelasan ini menempatkan kategorisasi sekaligus klasifikasi budaya-elit dan budaya-massa terdapat pada setiap zaman merujuk pada kualitas muatan budaya dan kualitas subjek pelakunya. Kedua, pemahaman Kuntowijoyo terhadap budaya-elit dan budaya-massa menempatkannya sebagai kategori sekaligus klasifikasi yang bersifat lintas kelas ekonomi. Seseorang maupun sekelompok orang dengan tingkat ekonomi atas, dinyatakan sebagai kelompok massa dan budaya yang dipraktikkannya dikategorikan budaya-massa jika memiliki karakter objektivasi, alienasi, dan pembodohan. Begitupula sebaliknya, seseorang maupun sekelompok orang dengan tingkat ekonomi bawah, budaya yang dipraktikkannya dikategorikan budaya-elit jika memanusiakan pelakunya.

Pandangan Kuntowijoyo terkait budaya-elit dan budaya-massa secara metodologis merupakan proses Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Istilah yang digunakan dalam diskursus antropologi dan sosiologi modern yang telah mapan diterima dan digunakan oleh Kuntowijoyo, yakni budaya-elit dan budaya-massa, namun demikian penafsiran maupun muatan konseptualnya diberikan pemahaman baru. Dikaitkan dengan etika profetik, Islamisasi konsep budaya-elit dan budaya-massa berlandaskan pada penggalan pertama Surah Ali-Imran ayat 110 yang seringkali dikutip oleh Kuntowijoyo dikarenakan merupakan salah satu landasan pemikiran profetik yang digagasnya,
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”
Sementara penggolongan subjek budaya-elit, walaupun tidak secara eksplisit disebutkan oleh Kuntowijoyo, kuat dilandasi penggalan Surah Al-Mujadilah ayat 11 berikut yang menunjukkan semangat Islam yang membentuk struktur sosial umat Islam berdasarkan keimanan, tingkat keilmuan, dan amal yang dikerjakan,
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”
Demikianlah cara pandang yang berbeda akan menghasilhan pemahaman yang berbeda terkait realitas kehidupan manusia secara khusus, dan alam secara umum, serta abstraksinya dalam ranah konseptual dan teoritik. Kuntowijoyo sebagai seorang cendikiawan Muslim, dengan perspektif Islamnya memberikan pemahaman yang khas terhadap konsep budaya-elit dan budaya-massa yang bebas dari motif pembentukan masyarakat industri yang didasari motif kepentingan ekonomi semata. Dalam struktur yang lebih luas, pandangan Kuntowijoyo terkait konsep budaya-elit dan budaya-massa merupakan komponen penyusun dari struktur paradigma Ilmu Sosial Profetik yang oleh Kuntowijoyo ditujukan untuk mentransformasi manusia dan kehidupannya agar mencapai tujuan profetik dengan berlandaskan etika profetik. Sementara dalam lingkup konseptual, pandangan Kuntowijoyo ini merupakan hasil dari upaya Islamisasi Ilmu yang dilakukannya, yakni konsep-konsep dari khazanah ilmu Barat dipinjam dan disesuaikan muatannya agar berkesesuaian dengan Islam. Dengan begitu, hasil dari Islamisasi Ilmu berupa konsep budaya-elit dan budaya-massa yang telah disesuaikan dengan Islam, dapat menjadi khazanah pemikiran dalam bidang Antropologi Islam maupun Sosiologi Islam sebagai alternatif, kalau tidak dikatakan sebagai pengganti konsep serupa dalam khazanah Antropologi dan Sosiologi Barat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar