Rabu, 29 Januari 2020

Islam Yang Mengubah Realitas Kehidupan

Agenda Deindustrialisasi

Pada hari Sabtu, 25 Januari 2020 yang lalu, kami kedatangan seorang guru, yakni ustadz Arif Wibowo bersama istri dalam rangka menjenguk istri saya yang sejak hari Sabtu, 18 Januari 2020 mengalami patah tulang di bagian lutut kiri. Sebagai seorang guru, ustadz Arif Wibowo senantiasa memberi kami pengajaran, tidak terkecuali pada kesempatan singkat kali ini. Beliau menyampaikan, salah satu agenda yang sudah seharusnya menjadi prioritas bagi umat Islam pada masa kini ialah deindustrialisasi. Hal ini perlu dilakukan karena menurut ustadz Arif, salah satu dampak fatal dari industrialisasi selain masalah lingkungan adalah ketergantungan terhadap kalangan pemodal dalam memenuhi kebutuhan hidup bagi masyarakat yang mayoritasnya berada dalam tingkat ekonomi menengah dan bawah. 



Secara spesifik ustadz Arif menyoroti masalah ketergantungan akibat industrialisasi dalam lingkup keluarga. Pada masa sebelum industrialisasi, unit keluarga memiliki kemandirian dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, salah satunya ialah kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan dengan kepemilikan sumberdaya teknologi dan pengetahuan yang dikuasai dan diwariskan dalam lingkup komunitas. Tidak saja sebagai produsen, keluarga Muslim yang mayoritasnya petani juga berperan sebagai distributor dengan menjual kelebihan panen kepada pihak lain yang membutuhkan. Peran ganda sebagai produsen sekaligus distributor secara alami membentuk pola pembagian kerja dalam lingkup keluarga. Suami bertanggungjawab sebagai produsen di sawah maupun ladang yang pada waktu-waktu tertentu, seperti masa tanam dan panen dibantu oleh istri, sedangkan istri bertanggungjawab sebagai distributor di pasar. Ustadz Arif menekankan, pola pembagian kerja yang terjadi secara alami dan telah mentradisi bukanlah bentuk eksploitasi kerja berdasar gender, sebagaimana akan mudah dipahami demikian pada masa kini, karena kedua pihak saling sepakat bekerjasama dengan berbagi peran untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 

Industrialisasi telah merenggut kemandirian unit keluarga dengan menjadikan anggota keluarga sebagai pekerja pabrik yang pendapatan ekonominya dihitung berdasarkan jam kerja dan jumlah produksi. Dengan pola kerja seperti ini, unit keluarga memiliki ketergantungan dengan pihak pemodal melalui manajemen pabrik untuk keberlangsungan kehidupan ekonominya. Rentetan dampaknya bagi unit keluarga ialah renggangnya hubungan antara suami dan istri sebab pola kerja tidak lagi terjadi secara alami, tetapi ditentukan oleh pihak pemodal demi keuntungan ekonomi dengan watak patriarki yang menekankan pada kemampuan kerja pihah suami. Konsekuensi dari dampak yang pertama adalah keluarga yang berada dalam tekanan iklim industri sangat rentan dengan perceraian akibat pendapatan ekonomi yang rendah dan tingkat stres yang tinggi. Di sinilah agenda deindustrialisasi ditujukan untuk mengembalikan kemandirian keluarga dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. 

Menyelami Realitas 

Agenda deindustrialisasi mengharuskan umat Islam untuk mengenali industrialisasi dengan berbagai permasalahannya dan bersentuhan secara langsung dengan realitas industri beserta pelakunya dalam rangka melakukan perubahan. Agenda ini sekaligus untuk menguji sekaligus membenarkan klaim bahwasanya Islam merupakan agama sekaligus peradaban. Sebagai peradaban, Islam mengharuskan penganutnya menyelami realitas kehidupan untuk merubahnya agar berkesesuaian dengan cita-cita Islam. Ustadz Arif menggarisbawahi, umat Islam harus memahami bahwasanya realitas bersifat cair merupakan campuran antara hitam dan putih, sehingga ketika menyelami realitas industri untuk melakukan perubahan mau tidak mau umat Islam akan bersentuhan dengan bagian-bagian hitam pembentuk realitas industri. Watak realitas yang demikian, ditegaskan oleh ustadz Arif, mengharuskan umat Islam untuk memiliki keberanian menyelami realitas, menghadapinya, dan melakukan perubahan terhadapnya dikarenakan realitas tidak akan berubah hanya dengan mengutuk dan melontarkan dalil demi dalil sambil menjaga jarak dari realitas akibat menjaga diri agar tetap bersih dari bersentuhan dengan bagian-bagian hitam realitas industri.

Untuk mewujudkan Islam sebagai peradaban yang berarti menuntut umat Islam menyelami realitas kehidupan untuk memahami dan merubahnya sesuai cita-cita Islam, ustadz Arif menekankan dua hal. Pertama, umat Islam harus terbuka terhadap capaian-capaian peradaban dari komunitas manusia lainnya untuk dipelajari dan meminjam hal-hal baik yang dapat digunakan dalam membina Peradaban Islam. Keterbukaan ini menuntut umat Islam untuk menanggalkan cara berpikir ideologis yang memposisikan umat Islam berhadap-hadapan dengan umat lain, sehingga alih-alih memahami dan merubah realitas, umat Islam akan sibuk membangun stigma terhadap umat lain yang diidentifikasi sebagai musuh. Ustadz Arif menjelaskan, jalan yang dapat ditempuh umat Islam untuk memiliki keterbukaan sikap ialah dengan menjalin dialog ilmiah dengan komunitas manusia, baik secara langsung maupun secara tidak langsung dengan mempelajari karya-karya intelektual dan artefak yang dihasilkan, terutama di bidang pendampingan masyarakat yang menjadi progam utama dalam agenda deindustrialisasi. 

Kedua, dalam kondisi zaman kini di mana umat manusia dalam skala global tengah menghadapi permasalahan yang pelik dan bersifat multidimensional akibat industrialisasi, pembinaan Peradaban Islam oleh umat Islam dapat dilakukan dengan menerapkan metode objektifikasi, yakni bekerjasama dengan komunitas manusia lain untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahan bersama. Dengan menerapkan objektifikasi, umat Islam akan terhindar dari kesibukan akibat konflik dengan umat lain, sehingga dapat fokus beramal untuk membina Peradaban Islam dengan menyelesaikan berbagai permasalahan yang sedang dialami umat Islam. Terkait agenda deindustrialisasi, ustadz Arif menyampaikan agar umat Islam mulai menjalin komunikasi dalam rangka merintis aksi bersama dengan kalangan Feminis generasi keempat yang telah lebih dahulu melakukan pendampingan kepada masyarakat untuk mewujudkan kembali kemandirian unit keluarga. Kesamaan agenda dan kepentingan deindustrialisasi inilah yang memungkinkan dan menjadi pijakan bersama bagi umat Islam dan umat lain untuk bersinergi menyelesaikan masalah bersama.

Demikiankan pengajaran ustadz Arif kepada kami dalam kesempatan kali ini, bahwasanya pembinaan Peradaban Islam seharusnya dilakukan dengan menyelami realitas untuk menyelesaikan masalah yang nyata dihadapi umat Islam pada masa kini. Salah satunya ialah masalah industrialisasi yang dihadapi dengan agenda deindustrialisasi. Untuk direalisasikannya agenda tersebut menuntut umat Islam bersikap terbuka terhadap capaian umat lain, termasuk bersikap terbuka untuk menjalin kerjasama dengan umat lain dalam rangka menyelesaikan masalah bersama. Jika metode ini terus dilakukan dengan konsisten, secara perlahan akan terjadi perubahan kualitas kehidupan umat Islam di berbagai bidang, dan berarti secara perlahan pula akan terwujud Peradaban Islam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar