Minggu, 26 Januari 2020

Jalan Baru Toleransi

Tiga Pendekatan Toleransi

Realitas kehidupan manusia yang secara faktual terdiri dari beragam komunitas dengan latarbelakang dan identitas berbeda mutlak membutuhkan sikap toleran untuk menciptakan kondisi kehidupan bersama yang harmonis, aman, dan nyaman. Tanpa sikap toleransi, sudah dipastikan antar komunitas akan terlibat dalam konflik yang berujung pada penghancuran dan peniadaan salah satu komunitas oleh komunitas lain, atau paling tidak penundukan suatu komunitas yang berkedudukan sebagai subordinat oleh komunitas lain yang menempati posisi superordinat.

Pada masa tradisional yang oleh Kuntowijoyo diidentikkan dengan gaya hidup agraris, komunitas manusia cenderung bersifat eksklusif yang tersekat ketat berdasarkan identitas agama, ras, etnis, maupun suku bangsa, sehingga tertutup secara psikologis, sosial, maupun kultural dari komunitas lainnya. Toleransi antar komunitas manusia dengan karakter yang terututp direalisasikan melalui mekanisme asimilasi. Dalam buku Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi, Kuntowijoyo (2017: 269) mengartikan asimiliasi secara konseptual sebagai ideologi budaya golongan mayoritas yang dipaksakan kepada golongan minoritas agar turut mengenakan identitas dan budaya milik golongan mayoritas sebagai syarat diterimanya kehadiran golongan minoritas dalam lingkungan kehidupan yang sama. Dari penjelasan Kuntowijoyo tadi, toleransi melalui mekanisme asimilasi mengandaikan adanya pihak mayoritas sebagai pemilik ruang kehidupan secara sosial dan kultural, serta adanya pihak minoritas yang tidak memiliki modal sosial maupun kultural untuk hidup dan berkehidupan di dalam ruang yang sama dengan golongan mayoritas. Sehingga dalam mekanisme asimilasi, suatu komunitas manusia menempati posisi sebagai mayoritas maupun minoritas ditentukan berdasarkan jumlah individu yang berbanding lurus dengan kekuataan modal sosial dan kultural yang dimiliki.

Selain asimilasi, Kuntowijoyo (2017: 269) juga menyebutkan dua mekanisme toleransi lainnya yang kerapkali dilakukan antar komunitas manusia, yakni (1) amalgamasi; dan (2) pluralisme kultural. Amalgamasi ialah ideologi budaya yang dianut golongan minoritas yang menghendaki tidak terjadinya dominasi kultural oleh golongan mayoritas melalui peleburan budaya bersama. Sementara pluralisme kultural juga merupakan ideologi budaya golongan minoritas, hanya saja berbeda dengan amalgamasi, dalam pluralisme kultural golongan minoritas menghendaki diakui dan dipertahankan identitas budayanya yang khas dengan menghindari terjadinya pemaksaan maupun peleburan budaya dengan golongan mayoritas.

Dari tiga mekanisme toleransi yang disebutkan Kuntowijoyo, asimilasi memiliki kesamaan dengan amalgamasi di mana toleransi dicapai melalui peleburan budaya. Asimilasi meleburkan budaya minoritas ke dalam budaya mayoritas, sementara amalgamasi meleburkan budaya mayoritas dan minoritas sehingga mewujud budaya baru milik bersama. Yang berbeda dengan keduanya ialah mekanisme pluralisme kultural yang menghendaki dipertahankannya ciri khas budaya masing-masing komunitas manusia berikut dengan identitas yang dimiliki. Di sinilah hambatan dilakukannya pluralisme kultural di lingkungan komunitas manusia yang bersifat eksklusif, menutup diri, dan berorientasi ke dalam, karena pluralisme kultural menghendaki keterbukaan untuk saling mengakui keberadaan dan budaya masing-masing komunitas.

Praktik asimilasi tidak terkecuali dilakukan oleh umat Islam untuk dapat diterima kehadirannya oleh komunitas non Muslim yang telah lebih dahulu mendiami suatu wilayah. Di Bali, umat Islam yang datang berabad-abad lalu turut mempraktikkan budaya Bali agar kehadirannya dapat diterima oleh masyarakat Hindu-Bali sebagai mayoritas, seperti menggunakan nama khas Bali, menuturkan bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari, mengenakan pakaian adat Bali, hingga menerapkan arsitektur tradisional Bali dalam lingkup permukiman dan hunian. Dengan asimilasi, umat Islam memiliki kesamaan budaya dari aspek perwujudan fisiknya dengan masyarakat Hindu-Bali sebagai modal kultural untuk berbaur dan menjadi satu kesatuan sosial dengan warga asli setempat. Dalam tahapan selanjutnya setelah terjadinya pembaruan kultural dan sosial melalui mekanisme asimilasi, amalgamasi dilakukan secara kolektif oleh umat Islam dan masyarakat Hindu Bali yang salah satu wujudnya menghasilkan pura langgar, yakni tempat peribadatan yang digunakan secara bersama-sama oleh dua umat beragama yang berbeda identitas. Selain itu, pengucapan salam khas berbagai agama dalam satu rangkaian dan doa bersama antar umat beragama yang mencampuradukkan doa khas masing-masing umat beragama yang kini marak dipertontonkan tergolong pula hasil dari mekanisme amalgamasi.

Jika pada masa tradisional dengan karakter komunitas manusia yang tertutup lebih dominan dipraktikkan mekanisme asimilasi dan amalgamasi untuk mewujudkan toleransi, maka pada zaman kini yang ditandai dengan keterbukaan antar komunitas manusia mulai lazim dipraktikkan meknisme pluralisme kultural, termasuk oleh umat Islam. Kini marak kita dapati pengakuan ciri khas budaya dan identitas masing-masing umat beragama dilakukan dengan cara turut melibatkan diri dalam aktivitas peribadatan suatu umat beragama di ruang peribadatannya, seperti terlibatnya umat Islam dalam rangkaian ibadah Natal di gereja untuk menjaga keamanan hingga membaca shalawatan, atau sebatas berdiri di luar pagar gereja untuk menyalami umat Kristen yang sedang merayakan hari besar keagamaannya. Cara-cara ini dipandang mampu merekatkan relasi sosial antara umat Islam dengan umat Kristen dengan mengakui kekhasan masing-masing umat beragama.

Gambar: Tari sufi di Gereja Katolik Malang merupakan praktik toleransi pendekatan pluralisme kultural
Sumber: bbc.com, diakses 26 Januari 2020

Toleransi memanglah mendesak direalisasikan di tengah bangsa Indonesia yang plural, karena tanpa toleransi persatuan bangsa Indonesia mustahil untuk diwujudkan. Terlebih pada masa kini dalam iklim global yang sarat dengan permasalahan rasialisme maupun terorisme sudah seharusnya menjadikan toleransi sebagai salah satu agenda utama yang harus direalisasikan. Namun demikian, toleransi melalui mekanisme asimilasi maupun amalgamasi, walaupun berdaya guna secara pragmatis pada masa tradisional yang telah berlalu, tidak lagi kontekstual dilakukan pada zaman kini di mana teknologi informasi telah memaksa komunitas manusia untuk bersikap terbuka terhadap ragam budaya dan kemajuan, sehingga hampir tidak lagi dimungkinkan untuk mempertahankan eksklusifitas komunitas maupun superioritas budaya untuk dipaksakan kepada pihak komunitas manusia lain. Di sisi lain sebagai konsekuensi dari teknologi informasi yang menyebabkan terjadinya tarikan globalisasi untuk meleburkan identitas budaya komunitas manusia ke dalam identitas budaya tunggal menjadikan pluralisme kultural mendapatkan hambatan eksternal yang sangat kuat untuk direalisasikan karena globalisasi mendorong umat manusia pada kutub universalitas yang homogen.

Melihatnya dari perspektif kondisi kehidupan masa kini di mana tengah terjadi krisis multidimensi pada kehidupan manusia, tiga pendekatan toleransi menjadi tidak relevan dan signifikan untuk dilakukan karena tujuan toleransi yang hendak direalisasikan sebatas pada dimensi sosial dengan merekatkan relasi sosial antar komunitas manusia dari latarbelakang etnis, ras, agama, maupun suku bangsa yang berbeda, sehingga dapat dikatakan paradigma tiga pendekatan toleransi tadi ialah toleransi untuk toleransi itu sendiri yang tidak memiliki saluran maupun tujuan lain terhadap perbaikan di bidang ekonomi, politik, lingkungan, pendidikan, pangan, dan lain sebagainya. Selain itu, praktik asimilasi, amalgamasi, dan pluralisme kultural menyebabkan permasalahan bagi umat Islam secara teologis dan sosiologis. Secara teologis, praktik tiga pendekatan toleransi oleh umat Islam sangat riskan untuk memasuki medan tasyabbuh yang dilarang dalam Islam maupun persoalan-persoalan yang bertentangan dengan asas-asas keyakinan Islam. Sementara secara sosiologis yang tidak dapat dilepaskan dari dampak teologis sebelumnya, orientasi umat Islam untuk merekatkan relasi sosial dengan umat agama lain dengan mempraktikkan tiga pendekatan toleransi menyebabkan krisis ukhuwah Islamiyah di internal umat Islam.

Berdasarkan latarbelakang di atas, pada masa kini dengan berbagai permasalahan kehidupan yang sedang menjerat berbagai komunitas manusia dibutuhkan pendekatan toleransi yang melampaui asimilasi, amalgamasi, dan pluralisme kultural yang secara konseptual maupun praktikal memiliki keterbatasan dan secara faktual telah menyebabkan berbagai dampak negatif bagi umat Islam berupa keterkikisan identitas dan budayanya yang berasaskan Tauhid. Zaman baru membutuhkan pendekatan baru untuk toleransi, yakni toleransi yang berdaya guna luas hingga mencakup ranah perbaikan kehidupan manusia yang bersifat multidimensi sekaligus tolensi yang sejalan dengan asas dan visi Islam.

Objektifikasi sebagai Model Toleransi

Kuntowijoyo dalam berbagai karya tulisnya, terutama dalam buku berjudul Islam Sebagai Ilmu menawarkan metode objektifikasi yang dapat dikembangkan dan dipraktikkan sebagai pendekatan baru toleransi yang melampaui tiga pendekatan sebelumnya. Metode objektifikasi yang ditawarkan Kuntowijoyo (2006: 61) berangkat dari pemahamannya terhadap Surah Al-Anbiya: 107 bahwasanya Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam tanpa membedakan identitas agama, budaya, ras, etnik, maupun suku bangsa,
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”
Landasan kedua yang digunakan Kuntowijoyo untuk metode objektifikasi adalah Surah Al-Maidah: 8 yang dipahaminya sebagai perintah bagi umat Islam untuk berperilaku adil kepada seluruh manusia tanpa memandang latarbelakang status, golongan, maupun kelas,
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”
Dua ayat Al-Qur’an di atas menjadi landasan bagi Kuntowijoyo untuk merumuskan metode objektifikasi dengan tujuan agar umat Islam dapat mengaktualisasikan Islam dalam lingkungan kehidupan yang plural. Tujuan objektifikasi tadi secara tegas termuat dalam definisi yang oleh Kuntowijoyo (2006: 61) diartikan sebagai penerjemahan nilai-nilai internal ke dalam kategori objektif. Lebih spesifik dalam konteks Islam, Kuntowijoyo (2006: 62) mengartikan objektifikasi sebagai konkretisasi dari keyakinan internal umat Islam. Sementara tolak ukur telah dicaapainya tujuan objektifikasi menurut Kuntowijoyo (2006: 61) ialah jika aktualisasi nilai-nilai Islam dipandang dan dirasakan komunitas umat non Islam sebagai perbuatan yang objektif tanpa bias keagamaan, walaupun bagi umat Islam sebagai subyek perbuatan tersebut dilakukan atas motif dan dorongan keagamaan yang merupakan bagian dari amal shalih. Begitupula objektifikasi juga berlaku bagi umat agama lain berupa aktualisasi nilai-nilai agama selain Islam yang diobjektifkan oleh penganutnya, sehingga dialami oleh umat Islam sebagai perbuatan yang wajar meskipun umat agama bersangkutan mendasari perbuatannya dengan motif keagamaan.

Kuntowijoyo (2006: 63) membedakan antara objektifikasi dengan eksternalisasi, walaupun keduanya berangkat dari landasan yang sama, yakni internalisasi nilai. Sementara eksternalisasi ialah aktualisasi nilai-nilai Islam di kalangan umat Islam, seperti zakat, objektifikasi merupakan metode aktualisasi nilai-nilai Islam di lingkungan sosial yang plural. Dari penjelasan ini, Kuntowijoyo (2006: 61-62) menyatakan, dengan metode objektifikasi, umat Islam akan turut terlibat secara aktif untuk menyelesaikan berbagai permasalahan kemasyarakatan, sekaligus praktiknya oleh kalangan beragama di Indonesia akan menghindarkan terjadinya dominasi dan subordinasi nilai dan budaya suatu komunitas agama terhadap komunitas agama lainnya, sebagaimana terjadi dalam praktik asimilasi dan amalgamasi. Secara sekilas, objektifikasi memiliki kemiripan dengan pluralisme kultural. Perbedaannya, pluralisme kultural berhenti pada perekatan sosial melalui pengakuan ciri khas masing-masing komunitas dengan memberinya ruang untuk mengaktualisasikan nilai dan budayanya, sedangkan objektifikasi yang digagas Kuntowijoyo menggeser perekatan sosial melalui keterlibatan antar umat beragama dalam agenda yang bersifat objektif untuk menyelesaikan permasalahan bersama.

Dengan metode objektifikasi, perekatan sosial antara umat Islam dengan umat agama lain dapat diwujudkan dalam rangka menyelesaikan permasalahan bangsa Indonesia hingga permasalahan yang sedang dialami umat manusia dalam lingkup dunia internasional, meliputi pengentasan kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan untuk mewujudkan masyarakat yang demokratis, perlawanan terhadap penyakit sosial seperti obat terlarang, perzinahan, mabuk-mabukan, dan kekerasan, maupun pengawasan terhadap kinerja birokasi pemerintahan. Di wilayah yang riskan terkena bencana banjir akibat berkurangnya ruang terbuka hijau sebagai wilayah serapan air, antar umat beragama dapat merealisasikan agenda objektifikasi dengan menyediakan 50%-70% ruang terbuka hijau di ruang peribadatan masing-masing. Begitpula untuk persoalan sampah dan aliran sungai yang turut pula menyebabkan terjadinya banjir dapat diatasi dengan keterlibatan antar umat beragama untuk mengelola sampah dan menjaga kebersihan aliran air. Di wilayah minoritas Muslim, seperti di Bali, objektifikasi dapat dilakukan oleh umat Islam sebagai mekanisme toleransi terhadap masyarakat Hindu Bali dengan bersama-sama terlibat dalam permasalahan reklamasi teluk Benoa, kapitalisasi ruang wisata di area Kuta, Legian, Nusa Dua, Jimbaran, dan area lainnya oleh pemodal asing, eksploitasi pekerja di sektor wisata, dan berbagai permasalahan lainnya yang sedang menjerat masyarakat Bali.

Objektifikasi sebagai pendekatan toleransi, tidak akan menjadikan toleransi untuk toleransi, dan tidak akan menjadikan toleransi bersifat artifisial hanya berhenti pada ranah simbolik menggunakan wujud budaya yang sama maupun sekedar pemanis bibir untuk menyenangkan salah satu komunitas umat beragama. Objektifikasi mendorong umat beragama, termasuk umat Islam, untuk mewujudkan toleransi yang substantif melalui gerakan bersama untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi umat manusia. Dengan pendekatan obektifikasi, setiap umat beragama akan memiliki ruang privasi untuk menjaga identitas dan budaya khasnya masing-masing, sekaligus memiliki ruang sosial untuk mengobjektifkan nilai-nilai keyakinannya, serta memiliki ruang teologis untuk menjaga otentisitas aqidahnya dari paksaan pihak lain atas nama kepentingan toleransi. Lebih penting lagi objektifikasi menghindarkan umat Islam dari pendekatan toleransi yang seringkali menjebak umat Islam untuk menyelisihi nilai-nilai dan ajaran agamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar