Rabu, 26 Februari 2020

Berislam Secara Fungsional

Akhir-akhir ini -perasaan ini bisa jadi merupakan akumulasi dari bertahun-tahun yang lalu- saya jemu mendapati perdebatan seputar teologi di kalangan umat Islam, terutama di media sosial. Misal saja, beranda media sosial saya hampir tidak pernah sepi dengan perdebatan mengenai “Di mana Allah?” “Apakah Allah beristiwa’ di atas Arsy?” “Bagaimana cara Allah beristiwa’ di atas Arys?” Pun untuk beberapa persoalan fikih, saya juga mengalami rasa jemu terkait perdebatan mengenai persoalan hukum mengenakan cadar dan jilbab bagi Muslimah, dan lafadz salam bagi umat Islam. 

Saya mencoba mengambil waktu jeda sejenak untuk mengenali perasaan saya dan apa yang menyebabkan munculnya perasaan demikian. Saya sampai pada dua kesimpulan. Pertama, perdebatan mengenai topik teologi dan fikih yang menjadi khusus persoalan umat Islam, tidak tepat dan tidak pantas dilakukan dan ditampilkan di ruang media sosial yang bersifat terbuka dan plural, sehingga siapa pun, termasuk non Muslim dapat mengetahui kekisruhan yang terjadi di tengah umat Islam. Sementara bagi umat Islam yang berstatus awam dan mulai mempelajari agamanya, perdebatan masalah teologi dan fikih yang sangat spesifik dan rumit justru menyebabkan kebingungan, alih-alih memberikan pencerahan. Kedua, di tengah kondisi kehidupan umat Islam dan peradabannya pada masa kontemporer yang diliputi berbagai masalah di seluruh dimensi kehidupan, perdebatan seputar teologi dan fikih yang tidak berpijak pada realitas kehidupan umat Islam dan tidak berpengaruh pada peningkatan kualitas kehidupan umat Islam, bagi saya tidaklah tepat untuk tidak mengatakannya tidak memiliki daya guna.

Senin, 24 Februari 2020

Pragmatisme Sains

Sains Sebagai Jalan Kebangkitan

Prof. Abdus Salam, seorang ilmuwan fisika berkebangsaan Pakistan dan peraih penghargaan Nobel fisika pada tahun 1979, mengungkapkan pandangan pragmatisnya terhadap sains dalam kata pengantar buku Islam and Science Religions Orthodoxy and the Battle for Rationality karya Prof. Pervez Hoodbhoy. Buku ini telah diterjemah ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Pustaka berangka tahun terbit 1997. 



Abdus Salam membuka pembahasannya dengan menegaskan bahwasanya hanya terdapat satu jenis sains di dunia pada masa kini, yakni sains yang lingkup problem dan paradigmanya bersifat universal. Tidak lain yang dimaksud oleh Abdus Salam adalah sains berparadigma Positivisme yang pada masa kini merupakan paradigma arus utama dalam pengkajian sains, terutama dalam rumpun ilmu alam. Berdasarkan pernyataannya ini, Abdus Salam menolak penisbatan sains kepada agama dan pengaruh sikap keberagamaan seorang ilmuwan terhadap aktivitas sains yang dilakukannya, sebagaimana merupakan watak paradigma Positivisme yang menyatakan bahwasanya sains bebas nilai dan terpisah dari agam. Dengan pandangan yang dianutnya, Abdus Salam mengambil posisi yang jelas untuk tidak menerima sains Islam, Hindu, Yahudi, Konfusian, maupun sains Kristiani. Baginya, tidak saja secara konseptual epistemologi, secara kebahasaan pun rangkaian istilah tersebut merupakan kesalahan.

Sabtu, 22 Februari 2020

Arsitektur Masjid Yang Tidak Islam

Pada sesi pengantar perkuliahan Arsitektur Masjid semester ini, saya menyampaikan kedudukan arsitektur masjid secara konseptual agar mahasiswa memahami relevansi mempelajari arsitektur masjid dikaitkan dengan identitas dirinya sebagai Muslim dan tujuan pendidikan tinggi yang sedang ditempuhnya untuk menjadi seorang arsitek yang berparadigma Arsitektur Islam. Salah satu pokok fikiran yang saya tekankan ialah tidak ada Arsitektur Islam tanpa arsitektur masjid, sehingga setiap perbincangan dan pengkajian Arsitektur Islam harus melibatkan atau paling tidak mengkaitkan objek arsitektur yang dikaji dengan arsitektur masjid. Pernyataan ini dilandasi pandangan Prof. Tajuddin Rasdi yang menilai bahwasanya arsitektur masjid dari aspek fungsinya merupakan objek arsitektur yang paling penting bagi umat Islam, sehingga menduduki peringkat paling tinggi dalam kehidupan umat Islam. Oleh karena itu Arsitektur Islam sebagai idealitas bagi umat Islam dalam bidang kehidupan arsitekturnya, menjadi tidak dapat dipisahkan dengan arsitektur masjid.

Di akhir sesi perkuliahan, seorang mahasiswa melontarkan pertanyaan terkait pernyataan saya tadi. Ia sampaikan, adakah arsitektur masjid yang tidak merupakan bagian dari Arsitektur Islam? Saya sederhanakan pertanyaan mahasiswa itu dengan kalimat, adakah arsitektur masjid yang tidak Islam?